Kelana Membelah Rimba Jawa Bersama Indonesia Offroad Expedition (IOX)

12/02/2016 07:22:00 PM Yunaidi Joepoet 5 Comments


"Ngooooong...ngooooong...ngooooooooooooong," lengkingan keras tak henti memekakkan telinga. Seorang pria bertubuh tambun memberikan aba-aba, dengan tangan yang sudah bercampur lumpur ia mengisyaratkan cara terbaik untuk bisa terlepas dari jebakan ini. Jalan yang lebih layak disebut parit itu memang menjebak siapa saja yang mengangkanginya. Salah mengambil langkah maka buntunya akan terjerambab, tersungkur, bahkan terbalik. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Jawa adalah pulau dengan topografi yang beragam, dari pesisir hingga pegunungan. Hamparan padang jagung sejauh mata memandang di perbatasan Tulungagung dan Blitar ini akan berakhir di tubir pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)

Lalu lengkingan itu mulai meraung kembali, menggetarkan dahan-dahan pohon pinus yang basah. Suaranya menggema melewati lembah, menembus kabut yang perlahan turun menjilat belantara.

            "Ngooooong....ngooooong....ngooooong," deru panjang itu pun meredup. Lalu "braaaaaak," seketika suasana yang tadinya riuh berganti hening.

            Tidak ada yang bisa saya perbuat selain menatap nanar sosok jingga yang kegagahannya pudar. Lelaki berkepala plontos menaiki tubuhnya yang benderang, tali-temali pun diikatkan. Beberapa orang di tepi parit telah bersiap mengikuti aba-aba. Mereka bahu-membahu menyadarkan kembali si jantan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sosok itu kembali tegak.

            Di balik ruang kendali, sosok lelaki bertubuh kecil dengan rambut panjang penuh uban terkekeh setelah kendaraanya menyelesaikan ujian pertama menuju puncak Gunung Popok. Menunggangi Toyota Fortuner dengan bendera Belanda di kibarkan di belakang mobil, Herman Harsoyo bersama pendampingnya Eru dan Frederik Marinus Krijgsman, jurnalis asing yang sudah berkeliling dunia untuk mengabadikan kegiatan otomotif ekstrem berada di dalam satu mobil. Meraka sudah lama malang-melintang sebagai satu tim off-road, bahkan sejak penyelenggaraan pertama kegiatan ini. 

Saya sedang mengikuti Indonesia Off-road Expedition (IOX) 2016. Inilah perjalanan menyusuri belantara Jawa hingga Bali sejauh 1.977 kilometer ini diikuti oleh 115 mobil selama 16 hari. Syamsir Alam yang bertindak sebagai leader dalam perjalanan ini akan membawa peserta menjelajah Magelang – Selman – Klaten – Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek – Tulungagung – Blitar – Malang – Lumajang – Jember – Banyuwangi – Bali. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Mengendarai mobil berpenggerak empat roda sejauh lebih 1.900 kilometer tak hanya sekedar mengandalkan nyali. Butuh kemampuan dan teknik yang mumpuni dalam melibas setiap trek, seperti saat melewati trek nan memukau di sisa aliran lahar Gunung Merapi ini. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
Saya menumpang mobil jip yang baru disiapkan secara mendadak beberapa minggu sebelum perjalanan. Pada hari pertama, mobil ini harus melipir tak masuk ke dalam jalur sebagaimana mestinya. Setelah dilepas dari titik awal di Keraton Yogyakarta oleh Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso, kami tertinggal rombongan yang melaju dengan semangat menggebu-gebu. Mobil buatan Amerika ini belum dibekali road book dan GPS yang lupa untuk diisi data rute oleh navigator. Alhasil, kami berinisiatif menggunakan aplikasi penunjuk arah yang terinstal di gawai. Aplikasi ini membuat kami terlempar jauh dari rute yang seharusnya, kami malah melewati jalur umum yang biasanya digunakan para wisatawan. "Ya sudah, hari ini kita menikmati kopi dulu dibanding menikmati trek," ujar Elung, pengemudi sekaligus pemilik mobil yang saya tumpangi. "Masih ada 15 hari perjalanan lagi yang akan ditempuh," tambahnya. 

            Kami menyelesaikan perjalanan hari pertama dalam waktu singkat dan hambar. Akhir dari perjalanan hari ini adalah pelataran padang rumput yang akan dijadikan tempat bermalam. Letaknya masih di dalam komplek Candi Borobudur, salah satu candi Buddha tertua yang menjadi kebanggaan Indonesia. Beberapa mobil logistik milik tim off-road sudah tiba terlebih dahulu di tempat ini.

            Kami membongkar semua peralatan untuk memasak dan bermalam. Bagasi mobil belakang laksana dapur berjalan. Saya memanjat pohon untuk mengikat tali penopang utama fly sheet lebar yang mampu memayungi hingga delapan velbed. Semuanya dilakukan secara mandiri. Setiap anggota yang ikut di dalam satu mobil bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan timnya. Dalam IOX tak boleh jadi orang cengeng. "Peserta adalah panitia. Panitia adalah peserta," ujar Dandosi Matram, pria jangkung berkacamata ini. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Mobil dan velbed menjadi rumah yang nyaman selama 16 hari perjalanan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Kami berbincang hangat sembari menunggu senja. Bersama pecinta off-road lainnya seperti Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram mencetuskan ide gila yang diberi nama Indonesia Off-road Expedition. Menempuh perjalanan panjang selama 16 hari menyusuri jalur menantang di berbagai pelosok daerah di Indonesia menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. "Kali pertama penyelenggaraan IOX kami menjelajah Sumatra," ujarnya. "Ini Pak Frans yang membuat jalur bikin kita menggerutu. Ini orang agak kurang waras juga. Jalur dengan kemiringan hampir 90 derajat menyurutkan nyali peserta. Ini beneran mau dinaiki?" ceritanya bersemangat. Frans menghampiri kami. Lelaki asal Pekanbaru yang menunggangi mobil buatan Inggris tahun 1956, Land Rover dengan enam roda menanggapinya dengan rendah hati. "Hanya beberapa mobil yang melewati tebing itu menggunakan winch. Saat mendaki, mobil itu seperti ember yang ditarik dengan katrol untuk menimba air," pungkasnya. 

Pada hari kedua perjalanan IOX 2016, semua peserta melewati single trek. Seluruh mobil berpenggerak empat roda akan melewati jalan yang sama dari titik awal di Candi Borobudur menuju Umbulharjo di lereng Gunung Merapi. Sebelum memasuki jalur aliran lahar Merapi, seluruh mobil peserta berhenti. "Ayo, semua peserta berkumpul. Kali ini kita melakukan penanaman bibit pohon dulu," seru Syamsir.

            IOX memang berbeda dengan kegiatan off-road kebanyakan. Tak sekedar euforia perjalanan belaka, kegiatan seperti penanaman pohon, menyinggahi desa kecil dan panti asuhan untuk memberikan donasi, melibatkan perkumpulan kesenian lokal untuk menampilkan seni dan tradisi mereka di setiap garis awal dan akhir rute, serta mengabarkan kepada masyarakat tentang destinasi yang dilintasi adalah cara sederhana agar kegiatan IOX ini lebih berwawasan dan bermanfaat.  

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Meski larut dalam semangat untuk menaklukan setiap trek yang menantang tak membuat para peserta IOX lupa untuk beribadah. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            "Mundur dulu, Cek," aba-aba seorang navigator memaksa pengemudi tersebut memasukkan gigi mundur. Ban kirinya hampir saja terjerembab di jalur Jurang Jero di lereng Gunung Merapi. Al Aththur Muchtar, atau orang akrab menyapanya Bucek. Saya bertemu secara langsung dengannya pertama kali saat upaya pemecahan rekor MURI untuk penerbangan paralayang terbanyak di Bukit Timbis, Bali tahun 2010. Ia bersama Andika Monoarfa, mantan bos maskapai Merpati gagal mengudara akibat angin yang berhempus kencang, upaya pemecahan rekor MURI itupun gagal. Tak banyak yang berubah dari pria ini. Pamornya sebagai seorang lelaki petualang tak redup. Bucek adalah co-leader dari kegiatan IOX bersama Syamsir Alam yang bertindak sebagai leader. Tanpa menggunakan winch, ia sukses melibas jalur penuh batu yang membuat mobil miring hingga 30 derajat. 

            Mahardika Nasution, navigator yang baru pertama kali mengikuti IOX ini mengulur sling dari winch. Saya memperhatikan geraknya dari bibir jurang. Di kejauhan, pohon pinus yang meranggas menjadi bukti keganasan Gunung Merapi. Gunung ini merupakan salah satu gunung paling aktif di Pulau Jawa. Penduduk desa berbondong-bondong menunggu aksi mobil ini melibas setiap tanjakan. Usai menambatkan sling ditempat yang tepat, Mahardika Nasution memberi aba-aba ke Frans. Aksi duet driver dan co-driver dari tanah Melayu ini selalu ditunggu-tunggu dalam setiap handicap. "Eeeengggggggg....kriiiiiiikkk," suara putaran mesin bercampur dengan putaran winch. Kombinasi dari putaran ban dan bantuan tenaga dari winch akan memudahkan para peserta menyelesaikan setiap handicap. Terbukti, dengan mudah mobil dengan enam roda ini menyelesaikan trek Jurang Jero di lereng Merapi ini.

            Matahari tepat di atas ubun-ubun setelah kami menyelesaikan tanjakan yang melelahkan. "Yuk, kita makan siang dulu disini sebelum melanjutkan perjalanan," ujar Herman Harsoyo. Makan siang kali ini kami lakukan di tengah hutan Gunung Merapi.
"Ada yang mau ikan sarden sama telur?" ujar Elung. Siang itu, Elung bertindak sebagai koki. "Lah bawa telur, Lung?" tanya Herman Harsoyo yang raut wajahnya berubah menjadi serius setelah mendengar Elung menawarkan telur.

            Telur menjadi benda yang dilarang untuk dibawa saat ekspedisi IOX. Meskipun tak ada yang bisa menjelaskan alasannya secara ilmiah kejadian mistis yang menimpa beberapa peserta tahun lalu karena membawa telur. "Tapi ya sudah karena terlanjur dibawa kita habiskan saja disini," sarannya. Kami melahap habis telur yang akhirnya digoreng menjadi dadar. "Ya semoga tidak apes seperti tahun lalu," ujar kami sembari mengelus perut yang sudah penuh terisi nasi.

            Perjalanan berlanjut melewati padang rumput nan indah. Beberapa kali laju mobil yang saya tumpangi melambat menghindari bongkahan batu besar dan pohon pinus yang kerontang. Tak banyak orang yang melewati tempat ini jika melihat kondisi jalanan yang masih penuh semak. Keindahannya tersembunyi di balik pamor Gunung Merapi yang semakin terkenal dengan wisata jip di Kaliurang.

            Saya turun dari mobil lalu berjalan dengan hati-hati melewati jalan selebar dua meter yang ukurannya hanya pas untuk satu mobil. Di sisi kiri adalah tebing, sementara di kanan adalah jurang berkedalaman hingga 20 meter. Salah mengambil keputusan, jurang penuh batu menanti para pengemudi untuk terjerembab. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Tidur beralas tikar dan beratap langit. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Saya masih menunggu beberapa mobil lagi yang melintas untuk mengambil beberapa bingkai foto. Pengemudi harus menempatkan roda kirinya di pinggir tebing. "Stop...stop...stop. Jangan dipaksakan," teriak navigator. Mobil yang dikemudikan Saifudin Aswari Rivai dari Lahat ini sudah oleng ke kanan. Salah sedikit, mobil ini akan terjun bebas ke jurang. Laju mobil bergerak mundur, lalu mengambil jalur yang lebih aman. Bebatuan tempat pijakan ban sisi kanan sudah rapuh. Tapi syukurlah, semua kendaraan lewat dengan aman.


            Kami memutuskan untuk tidak masuk ke jalur menuju Basecamp 3 di Gunung Popol. Wakino, warga Kampung Ringin berbaik hati memberikan tumpangan untuk bermalam. Rumah pendoponya sangat nyaman. Tepat dibawah pohon mangga yang terletak di pekarangan rumah terdapat beranda bambu untuk bersantai. Kampung yang terletak di kaki Gunung Popok ini sungguh sepi. Selepas magrib saya mengambil senter, mencari teman saya Andi Ceger yang belum kunjung datang.

Saya menembus gelap malam menuju hutan pinus. Tak tahu berapa jauh jarak yang akan ditempuh untuk tiba di Basecamp 3. Tapi selepas tanjakan yang terdapat sebuah pondok kecil, saya mengurungkan niat. Saya tak melihat apapun di hadapan saya. Suasana sungguh gelap dan pekat. Bulu kuduk saya merinding hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Kampung Ringin. Belakangan saya ketahui, gunung ini jarang dilewati oleh penduduk kampung. “Itu gunung dedemit, Mas,” ujar salah seorang penduduk kampung.

            Saya akhirnya bersua dengan Andi Ceger pada pagi hari, pria yang saya cari tadi malam. "Syukurlah masih hidup, lo Ceger!" saya berteriak. "Gue mau turun tadi malam udah gelap banget. Akhirnya gue numpang tidur aja di atas," ujarnya sembari terkekeh. "Gue turun dulu ya. Mau ganti baju," Andi Ceger berlalu. Kami berjanji untuk bersua di balik gunung ini.

             Sepuluh tahun lalu sebenarnya jalur ini kerap dilewati oleh truk yang membawa kayu milik Perhutani. Selang satu dekade, jalur yang tak pernah lagi digunakan ini menghubungkan dua kabupaten yakni Sukoharjo dan Wonogiri.

            Saya tertatih-tatih penuh dahaga tanpa air dalam perjalanan menembus Gunung Popok. Saya hanya ingin tiba dengan cepat di perkampungan terdekat untuk meminta segelas air putih. Tapi harapan saya pupus saat menjumpai pondok kayu milik petani yang terletak di ujung jalan setapak. "Hanya ada kopi hitam, Mas," ujarnya. Saya sudah kepalang haus, dengan cepat saya menenggak kopi hitam. Airnya yang panas membuat lidah saya melepus. Sial!
           
            Waduk Gajah Mungkur masih berjarak lima kilometer lagi dari tempat ini. Saya sudah lelah berjalan kaki. Saya percaya bahwa dalam setiap perjalanan pasti selalu ada orang yang baik. Marsudi, petani yang mengendarai motor Astrea tua adalah jawabannya. Marsudi bersedia mengantarkan saya menuju Waduk Gajah Mungkur. Dia membelokkan arah, motor tuanya menderu saat melewati tanjakan "Kita mampir dulu ke Bukit Gantole ya, Mas," ujarnya. "Dari atas bukit ini, Mas bisa memandang waduk secara keseluruhan," tambahnya. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Kabut pagi menyelimuti perbukitan yang mengelilingi Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Waduk yang airnya berhulu dari Bengawan Solo merupakan sumber kehidupan bagi warga Wonogiri. Memandang waduk ini dari Bukit Gantole adalah kenikmatan dalam sebuah keindahan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Saya antusias untuk menaiki anak tangga ke atas bangunan yang biasa dijadikan tempat lepas landas paralayang dan gantole. Beberapa muda-muda sibuk berswafoto. Saya mengabadikan beberapa bingkai foto Waduk Gajah Mungkur dari ketinggian. Air dari waduk ini bersumber dari Bengawan Solo. Selain digunakan sebagai irigasi, pembangkit tenaga listrik, juga sumber air minum, waduk ini menjadi salah satu destinasi primadona di Kabupaten Wonogiri. 

            Pantai Karanggongso berombak tenang dan bebas dari amukan gelombang besar Samudra Hindia. Selain menjadi nelayan, penduduk disini juga memiliki keramba lobster dan kerapu. Saya berjumpa dengan Isa Anshari yang memiliki warung di Pantai Karanggongso. "Saya asli Banjarmasin. Tapi tahun 1993 pindah ke sini setelah bertemu perempuan di Surabaya yang sekarang menjadi istri saya," kisahnya. Isa memiliki berapa tambak lobster dan kerapu di Teluk Prigi. Kerapu dan lobster akan di jual ke Surabaya dan Malang. Harganya pun bervariasi, dari 150 ribu hingga 700 ribu rupiah per kilogram.  

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Riva, nelayan di Pantai Karanggongso membawa rajut penuh ikan karang hasil tangkapannya di wilayah Teluk Prigi. Pantai berlokasi sekitar 50 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Trenggalek. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Mobil yang saya tumpangi kondisinya tak kunjung membaik, saya bersedih karena tidak bisa memasuki trek yang menantang. Namun disisi lain saya bersyukur, karena kerusakan ini membuat kami boleh untuk melambung, istilah yang digunakan para off-roader untuk memilih jalan mulus menuju titik perhentian berikutnya. "Sayang sih sebenarnya tidak bisa masuk ke dalam trek. Tapi kita bisa melipir, Mas Elung," saya memohon ke Elung. Kami berencana untuk pergi ke Kedung Tumpang. 

            Pantai Kedung Tumpang adalah kolam yang tercipta karena proses alami. Beberapa cerukan di batu karang terisi air saat laut pasang. Terdapat beberapa kolam alami yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Saya datang saat siang hari nan panas. Matahari terasa hanya beberapa jengkal saja di atas kepala. Tapi bongkahan batu karang nan besar menjadi benteng pelindung yang mampu menghalangi sengatan matahari.

            Kedung Tumpang hanyalah satu dari sekian potensi wisata pantai yang ada di selatan Pulau Jawa. Tempat saya bermalam hari itu, Pantai Sine yang damai juga menjelma menjadi tempat terindah untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Pantai yang terletak di Tulungagung ini jarang dijamah para wisatawan. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Kolam renang alami berbatasan langsung dengan hamparan Samudra Hindia di Kedung Tumpang, Tulungagung. Tiga pantai lainnya, yakni Molang, Lumbuk, dan Glogok masih tampak alami karena jarang dijamah para wisatawan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)




            "Salah satu hal yang membuat kami sulit untuk mengembangkan pantai-pantai tersebut untuk menjadi destinasi pariwisata karena beberapa akses jalannya dimiliki oleh Perhutani. Perlu ada kerjasama antara pemerintah dengan pihak Perhutani," ujar Syahri Mulyo. Saya menghabiskan waktu sore bersama Bupati Tulungagung ini sembari dihempas semilir angin di Pantai Sine. Pria berkulit coklat ini meyenangi olahraga motorcross. "Tadi saya menunggangi motor masuk lewat jalur dari dari Prigi ke Sini," ujarnya. "Tapi tiba lebih dahulu disini. Mas nya gak ikut masuk jalur?" tanya Syahri. Saya menggeleng, "Mobil kami tak terlalu sehat untuk melibas jalur dari Prigi ke Pantai Sine, Pak. Mungkin besok kami perbaiki dulu kendaraan di Malang," ucap saya.


            Mencintai Indonesia pada dasarnya tidak sekedar hapal Pancasila dan Indonesia Raya. Banyak hal yang bisa saya dapat dan kenal dari perjalanan ini, pun demikian dengan ratusan peserta lainnya. Semua orang aktif mengabarkan kepada lingkungan terdekatnya tentang apa hal yang menarik dan berkesan saat perjalanan. Setiap saat, ratusan foto di unggah dan disebarkan.

Kegiatan inipun mendapat sambuatan positif dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Sejalan dengan misi IOX, Kementerian Pariwisata bergandengan tangan untuk mengenalkan lebih dekat keindahan alam, budaya, makanan, hingga hal menarik dari tempat yang dilalui—Yogyakarta dan Bali merupakan dua destinasi wisata unggulan Indonesia. Bukan hanya Yogyakarta dan Bali saja yang akan diperkenalkan, namun kota-kota yang disinggahi di 15 pos pun mendapatkan kesempatan untuk diekspos ke ranah internasional. Bentuk dukungan itu semakin nyata ketika Noviendi Makalam, Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Pariwisata menyambut rombongan saat singgah di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Selama ini off road mendapat cap kegiatan yang merusak alam,” ujar Dandosi Matram. “Kami jauh dari cap tersebut. Jauh sebelum kegiatan ini dilaksanakan kami sudah mewanti-wanti kepada seluruh peserta. Membuang sampah dan menebang pohon adalah haram hukumnya,” tambahnya. Setiap mobil peserta wajib menggunakan kantong sampah, tidak boleh membakar api unggun saat malam hari, tidak boleh menginjak tanah diluar jalur yang sudah ditentukan, serta tak boleh menebang pohon.

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Fred yang tak pernah absen dalam setiap penyelenggaraan IOX. (Yunaidi Joepoet/Nationa Geographic Traveler Indonesia)


Hari ke tujuh, saya berpindah tumpangan. Frans berbaik hati menumpangi saya dimobilnya. Mobil buatan Inggris berpenggerak enam roda ini  bersiap melibas jalur dari Pantai Sine menuju Malang. Saya bersama Pitak Bhradprueng, direktur GP Channel yang juga merangkap sebagai videografer dari Thailand berbaik hati berbagi kursi. Pria kelahiran Chon Buri, tiga tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini masih kuat berlari mengambil gambar terbaik. Saya lebih cocok untuk memanggilnya sebagai kakek, tapi dia dengan sopan menolak. “Semangat saya tak setua umur saya,” ungkapnya. Saya terpukul, sebagai anak muda saya melempas kapsul waktu 40 tahun yang akan datang. Jika diberi umur panjang, apakah saya bisa seperti Pitak?



Perjalanan hari ini tak terlalu berat, hanya melewati jalan yang biasa digunakan oleh penduduk untuk membawa hasil panen jagung mereka. Hari itu matahari bersemangat membakar kulit. Tak ada yang bisa kami jadikan payung untuk berlindung dari sengatan matahari selain kolong dan masuk ke dalam mobil. Pun air sungai terasa hangat saat saya melepas sepatu yang sudah penuh lumpur guna menyeberang. Hari ke tujuh kami seperti ikan asin, kelam dan lusuh.

            Kabar berembus dari sesama peserta bahwa jalur dari Malang menuju Banyuwangi akan menguras banyak tenaga. Akan banyak jalur berlumpur di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Akan banyak peluh dan keringat juga air mata yang menetes di jalur yang akan datang. Namun sayang, keikutsertaan saya harus berakhir di Malang. Saya harus kembali ke Jakarta.
           
            Sebuah pesan singkat masuk "Mobil yang kami tumpangi terbakar di jalur menuju Bromo," tulis Faisal Anwari Lubis. "Saya hampir terjebak di dalam mobil," tambahnya. Saya mengusap dada. Mobil yang saya tumpangi tak habisnya menderita. "Mungkin karena telur," gurau kami. Perjalanan telah usai, tapi kami seperti disatukan menjadi saudara baru.[]

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Bakda subuh, penduduk berjalan meniti sisa debur ombak yang menghempas Pantai Sine, di kejauhan perahu nelayan melepas sauh. Di Pantai Sine, Tulungagung matahari terbit dan tenggelamnya sama- sama memberikan kesan nan damai. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)

Tulisan ini pernah diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi April 2016. Saya mengikuti perjalanan Indonesia Off-road Expedition 2016 melintasi daratan Pulau Jawa. Untuk berlangganan majalah National Geographic Traveler Indonesia bisa dikunjungi di link berikut ini.

5 komentar:

  1. Ah perjalanan yang sungguh membuat siapapun yang membacanya iri berat... Perjalanan yang sangat mengesankan dengan orang2 yang luar biasa.

    BalasHapus
  2. keren bangett..

    kalo sewa mobil offroad kyk gitu habis berapa ya??

    BalasHapus
  3. kalau udah kayak gini, akan terasa serunya hidup, tidak datar, tidak ngebosanin. perjalanannya mantapp tenan!!

    BalasHapus