Tetirah dalam Birai Kristal Samsung Galaxy J5

9/17/2015 10:09:00 PM Yunaidi Joepoet 1 Comments

"Aku tinggalkan Tangier, kampung halamanku, pada Kamis 2 Rajab 725 Hijriah (14 Juni 1325 M). Saat itu usiaku baru 21 tahun 4 bulan. Tujuanku adalah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah,"
~ Ibnu Battuta dalam buku Rihla

Inilah awal dari penjelajah besar yang menapaki jalan panjang sejauh 117 ribu kilometer. Selama hampir 30 tahun, pria bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Battutah tersebut melintasi tiga benua dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia Tengah, singgah di Pulau Sumatra, dan Tiongkok. Bahkan seorang sejarawan bernama Brockelmann pun menyebut kehebatan Ibnu Battuta dalam mengembara hanya bisa ditandingi oleh Marcopolo, seorang penjelajah Eropa yang melanglang buana dalam rentang waktu 1254-1324 M.

Buku untuk menulis catatan perjalan dan pensil menjadi barang yang wajib dibawa oleh para penjelajah zaman dahulu. Saat sekarang, kamera dan juga gawai seperti Samsung Galaxy J5 menjadi teman perjalanan nan ringkas dan banyak manfaatnya. © Yunaidi Joepoet

Meskipun tujuannya sangat berbeda dengan Marcopolo ataupun Colombus dalam pengembaraan, Ibnu Battuta tetap menjadi panutan bagi para pengembara hingga saat ini. Didasari oleh menunaikan ibadah kepercayaan yang dianutnya, perjalanan Ibnu Battuta tak berhenti sampai disitu saja. Jalur darat dan laut ditempuh oleh pengembara muslim tersebut. juga tak lupa dalam setiap persinggahannya di suatu tempat, Battuta secara rajin mencatat informasi yang terkait dengan penduduk, pemerintah, ulama dan juga suka duka saat perjalanannya.

Setelah berpuluh tahun pengembaraan, Ibnu Battuta pada akhirnya kembali ke tanah kelahirannya, Maroko. Perjalanannya tentu kembali menekankan kepada para pengembara zaman modern, bahwa sebenarnya keindahan perjalanan yang sesungguhnya tentu saat kita kembali dengan selamat ke rumah. Satu kata kunci yan paling penting dari setiap perjalanan yaitu pulanglah dengan selamat, karena rumah dan segala kehangatan isinya tentu sudah menumpuk kadar rindunya.

Di Kota Fez, Maroko pada 1355 M, Ibnu Battuta menutup kisah perjalanan dalam bukunya yang ditulis ulang dengan gurih oleh Mohad Ibnu Juza dengan sepenggal kalimat "Akhirnya aku sampai juga di Kota Fez."

Ibnu Battuta tentu satu dari ribuan para pengembara yang tersohor dengan kisah-kisah yang penuh heroik. Saya masih ingat cerita pendakian ke puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest oleh Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay. Kisah-kisah mereka telah membuka mata kita tentang dunia yang semakin kecil untuk dijelajahi. Sebagai pengagum cerita petualangan liar, kisah dari Cory Richards, fotografer sekaligus atlet panjang gunung yang juga orang pertama mendaki 14 puncak gunung berketinggian di atas 8.000 meter saat musim semi tentu telah memunculkan semangat-semangat baru bagi anak muda seperti saya.

Banyak lagi kisah-kisah menarik dari para penjelajah yang tentu membuka mata kita bahwa perjalanan sebenarnya saat ini tak hanya sekedar datang mengunjungi suatu tempat tetapi lebih untuk mendapatkan esensi dari perjalanan itu sendiri. Suatu hari di bulan Juni, saat hari terakhir usia saya yang ke-21, hujan lebat dan petir bersahutan mengiringi langkah saya menuju puncak api tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 meter. Beberapa meter dari jalur yang saya lewati, petir menyambar pohon. Saya hampir mati, tapi dari pendakian ini saya sadar bahwa hidup benar-benar berharga.

Perjalanan di zaman sekarang tentu sangatlah berbeda dengan perjalanan zaman dahulu yang belum sepenuhnya menggunakan teknologi. Konsep dunia saat inipun dibuat semakin sempit, beberapa ahli mengumpamakan dunia ini laksana peta pada selembar kertas. Transportasi udara, perkembangan cara berkomunikasi, dan juga cara-cara manusia berinteraksi telah mengaburkan jarak dan batas yang sebelumnya memisahkan manusia begitu jauh. Dahulu mungkin orang perlu berjalan kaki dari Jakarta menuju Yogyakarta, atau untuk mendapatkan rempah, para pedagang Eropa harus berlayar berbulan-bulan lamanya menuju Banda di Maluku. Peralatan dan bekal yang digunakannya pun tentu sangat sederhana, termasuk dalam upaya pendokumentasian perjalanan.

Saya masih ingat saat membaca buku karya Alfred Russel Wallace atau Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn. Wallace butuh waktu berjam atau mungkin berhari lamanya guna menghasilkan sketsa bird of paradise seperti yang tertera dalam injil atau kita di Indonesia mengenalnya dengan burung cenderawasih. Juga Junghuhn yang harus duduk lama saat melukis dataran tinggi Dieng di Wonosobo. Dibandingkan dengan sekarang tentu menghasilkan visual bisa dalam waktu sedetik dengan hasil foto yang berkesan.

Perjalanan saya saat menyusuri hamparan sabana nan luas difoto oleh J. Prahara. Perjalanan mengajarkan kita banyak hal dalam memandang sesuatu. Perjalanan juga hendaknya mampu memberikan kesan bagi pelaku pejalan ataupun orang yang mendengar kisah perjalanan. Perkembangan teknologi menghadirkan gaya baru dalam berjalan, termasuk dalam pendokumentasian perjalanan itu sendiri.

Mungkin cara berjalan kita memang sudah berubah dengan perkembangan tekhnologi, namun disatu sisi, ada beberapa hal dalam perjalanan yang memang harus seperti dulu adanya. Seperti apa yang Battuta, Marcopolo, Edmund, Wallace, dan Junghuhn lakukan. Perjalanan pada dasarnya adalah semangat untuk mencari, menemukan, mengolah, dan mengambil intisari untuk diri si pejalan ataupun untuk para pembaca kisah-kisa perjalanan tersebut.

Saya sangat yakin bahwa riset sebelum pengembaraan dimulai memang sudah menjadi dasar para penjelajah sedari dulu. Kalau tanpa diawali dengan riset, tak mungkin pendakian pertama kali oleh Dr. Hendrik Albert Lorentz ke Puncak Cartenzs di Papua berhasil pada tahun 1909. Dengan cerdik, Hendrik mengajak orang Dayak dalam upayanya mencapai puncak bersalju tertinggi di Oceania. Orang Dayak sangat piawai untuk mengidentifikasi sumber air sungai dari pegunungan hutan hujan, atau bersumber dari gunung salju. Inilah untuk kali pertama manusia menginjakkan kaki di satu dari dua puncak gunung bersalju di planet bumi yang berada di sekitar garis khatulistiwa.

Riset menjadi faktor penting dalam setiap tetirah. Celakalah perjalanan tanpa sebuah perencanaan yang matang. Beberapa bulan lalu, atlit pendaki gunung paling tersohor gagal mencapai puncak Hkakabo Razi karena salah perhitungan. Bagi saya pribadi, sebagai fotografer, pejalan dan blogger tentu riset sebelum perjalanan adalah salah satu bagian terpenting dari alur perjalanan yang saya lakukan. Riset kadang memakan waktu lebih lama dari perjalanan itu sendiri. Perkembangan teknologi membuat kita sekarang tak harus duduk berlama-lama di perpustakaan atau keluar masuk toko buku laksana perjalanan pada era sebelum dan beberapa tahun setelah perang dunia. Dengan perkembangan teknologi saat ini, hanya sebuah perangkat yang ada di genggaman, maka dengan mudah bisa membantu kita meriset dan menyusun rencana perjalanan.

Sebagai pejalan tentu kehadiran gawai dengan teknologi mumpuni tak bisa dipungkiri manfaatnya. Kehadiran teknologi yang mumpuni setidaknya bisa memudahkan kehidupan manusia, tujuan mulia diciptakannya teknologi. Cara yang termudah adalah dengan berselancar di dunia maya untuk mencari beragam informasi sebelum perjalanan dimulai. Banyak referensi yang bisa digunakan, mungkin berupa teks, berlangganan majalah, membeli buku melalui aplikasi, termasuk melihat dan mencari referensi video dan foto sebelum perjalanan dimulai.

Dengan teknologi Super Amoled pada Samsung Galaxy J5 warna yang dihasilkan lebih kaya, hemat daya dan tentu juga nyaman dimata. © Yunaidi Joepoet

Dengan tampilan yang memukau serta layar 5 inci berteknologi Super Amoled pada Samsung Galaxy J5, warna yang dihasilkan lebih kaya, hemat daya dan tentu juga nyaman dimata. © Yunaidi Joepoet

Secara pribadi, kegiatan ini sangat menyenangkan bagi saya. Intensitas waktu berselancar dan melihat layar memaksa kita untuk mencari perangkat yang nyaman. Beberapa kali saya membaca salah satu hal yang mumpuni saat kita berselancar dan tetap nyaman di mata adalah dengan memilih perangkat yang sudah menggunakan teknologi Super Amoled. Active matrix organic light emitting diode (AMOLED) merupakan tampilan teknologi baru yang digunakan pada layar perangkat selular. Salah satu perangkat selular yang mengimplementasikan teknologi ini ke layar mereka adalah produk anyar dari Samsung, yakni Samsung Galaxy J5 dan Samsung Galaxy J7. Sebagai blogger dan visual story teller, kehadiran gawai ini mampu memudahkan hidup saya dalam membaca, meriset, hingga menangkap visual berupa foto dan video.

Saat berselancar tentu yang mata butuhkan adalah kenyamanan. Dengan teknologi Super Amoled yang ditanamkan pada perangkat Galaxy J5 dan J7, warna yang dihasilkan lebih kaya dan tentu juga nyaman dimata. Menyaksikan tampilan antar lintas media pun tak membuat mata sakit, misalnya berganti dari teks lalu beralih ke foto, dan melihat tayangan video. Dengan teknologi Super Amoled, para pengguna bisa mendapatkan response time layar hingga 1.000 kali lebih cepat dari LCD biasa, sehingga gambar pada layar tidak cepat kabur.

Dengan ukuran layar 5 inch pada Samsung Galaxy J5, dan teknologi Super Amoled. Membaca, meriset foto, dan menyaksikan video tekno akan jadi hal yang menyenangkan saat kita melakukan persiapan sebelum perjalanan.

Untuk menjawab kebutuhan para pengguna yang haus akan informasi, maka aplikasi S Lime buatan Samsung Mobile Indonesia akan menjawabnya. S Lime adalah aplikasi berupa katalog yang memudahkan saya dan juga para pengguna lainnya untuk memilih, mengunduh dan membaca koran serta tabloid pilihan kapanpun dan dimanapun. Ada sekitar 32 koran, majalah, dan tabloid yang bisa dibaca dengan gratis. Jika dihitung-hitung kalau melakukan pembelian, maka S Lime akan memberikan nilai manfaat hingga lebih dari Rp 10.000.000,-

Tentu dengan kehadiran S Lime sebagai ruang referensi untuk mencari informasi sebelum penjelajahan adalah sangat tepat dan bermanfaat. Pengguna yang gemar membaca beragam isu tentu dimudahkan oleh kehadiran aplikasi ini. Apalagi tiga harian nasional terbesar, Kompas, Media Indonesia, dan Seputar Indonesia bisa diunduh gratis. Tak perlu khawatir, membaca di Samsung Galaxy J5 dan Samsung Galaxy J7 bukan lagi membosankan karena teknologi layar Super Amoled yang digunakan.

Aplikasi S Lime buatan Samsung Mobile Indonesia memastikan para pengguna Samsung Galaxy J5 bisa membaca berbagai macam koran dan majalah secara gratis. Tentu ini akan sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan juga ide dalam merencanakan perjalanan. © Yunaidi Joepoet

Layar Super Amoled yang nyaman dimata, tentu membuat pengguna tidak merasa lelah saat membaca koran yang dapat didownload secara gratis melalui aplikasi S Lime. Warna yang presisi dan penggunaan daya yang hemat, menjadi kelebihan Samsung Galaxy J5. Sangat cocok bagi mereka yang ingin satu perangkat dengan beragam kegunaan. © Yunaidi Joepoet

Dengan teknologi Super Amoled yang disematkan, tentu ini menjadi salah satu bentuk kepedulian Samsung dalam menyikapi isu penghematan energi. Konsumsi baterai akan lebih sedikit karena hanya pixel yang menyalalah yang hanya akan mengkonsumsi daya, layar redup (seperti teks dan latar belakang hitam) mengkonsumsi hampir tidak ada daya, sedangkan saat memutar video akan mengkonsumsi daya jauh lebih sedikit dibanding layar LCD.

Tentu dengan penerapan teknologi layar yang hemat daya ini akan berpengaruh terhadap daya tahan baterai. Saya pribadi, merasakan manfaat besar dari teknologi ini. Apalagi untuk orang yang sering membaca, mengamati foto dari berbagai kantor berita, hingga melihat tayangan multimedia terbaru di beberapa situs berita namun tetap mobile. Teknologi ini setidaknya mengurangi intensitas kita menggunakan listrik yang hingga saat ini masih bersumber dari pembakaran energi fosil yang tidak ramah lingkungan.

Sebagai fotografer yang senang mengambil foto dan video, teknologi Super Amoled membantu saya dalam pengambilan foto pada siang hari nan terik. Pada Samsung Galaxy J5 dan J7, tersedia pengaturan outdoor mode untuk pengambilan foto dan video di luar ruangan. Pada pengaturan ini, layar akan tampak lebih cerah, dan tentu ini akan memanjakan mata saat berburu foto di pantai atau dibawah terik matahari, juga dalam beragam kondisi yang seimbang.

Teknologi Super Amoled pada perangkat ini menampilkan kualitas layar dengan kontras yang pas untuk digunakan baik di dalam ataupun di luar ruangan. Kadang, kendala utama saya saat memotret dibawah sinar matahari yang sangat terik adalah ketidakmampuan layar untuk berinteraksi secara pintar dengan kondisi luar ruang. Ini mungkin bisa menjawab kekhawatiran saya selama ini, sebuah perangkat yang dengan pintar mampu menjawab apa yang dibutuhkan dalam pemotretan saat dalam perjalanan di bawah sinar matahari nan terik dengan cahaya yang kontras.

Konsumsi baterai akan lebih sedikit karena hanya pixel yang menyalalah yang hanya akan mengkonsumsi daya, layar redup (seperti teks dan latar belakang hitam) mengkonsumsi hampir tidak ada daya, sedangkan saat memutar video akan mengkonsumsi daya jauh lebih sedikit dibanding layar LCD. © Yunaidi Joepoet
Salah satu tantangan dari gawai dalam mengambil foto adalah saat menantang sinar matahari juga saat bergerak cepat. Foto ini saya ambil saat dalam commuter line waktu melintasi Monumen Nasional dengan posisi matahari menantang. Saya sangat terkesan dengan kemampuan Samsung Galaxy J5 dalam menangkap obyek secara cepat, juga teknologi view finder melalui layar Super Amoled yang ditanamkan pada gawai ini sangat membantu kita mengabadikan momen dengan cepat meskipun dalam kondisi yang sulit. © Yunaidi Joepoet

Foto ini diambil saat cuaca sangat kontras di kawasan Kota Tua, Jakarta. Dengan mode Pro pada Samsung Galaxy J5, saya bisa dengan leluasa mengatur exposure pada gawai. Layar Super Amoled langsung memperlihatkan area shadow dan highlight pada obyek yang akan saya ambil, sehingga detail pada foto tetap bisa ditonjolkan secara baik. © Yunaidi Joepoet

Sama halnya dengan para penjelajah yang sudah berkeliling dunia sebelum saya. Catatan dan kisahnya tentu dapat kita baca dalam literatur berupa buku, foto dan film. Begitu pula dengan perjalanan yang saya dan mungkin sahabat lakukan. Tak sah rasanya jika perjalanan hanya dinikmati oleh diri sendiri. Sebagai seorang travel fotografer dan blogger, berbagi adalah salah satu cara untuk menyebarkan semangat menjelajah, menginspirasi orang-orang untuk mengenal lebih dekat lingkungan sekitarnya. Lewat media sosial, blog, ataupun mengirim ke media tentu adalah salah satu cara untuk menyebarluaskan semangat tersebut.

Meskipun kualitas foto yang dihasilkan oleh Samsung Galaxy J5 sudah mumpuni, namun untuk pengiriman foto untuk kebutuhan media sosial, blog, ataupun situs berjejaring setidaknya harus melewati proses editing dasar, seperti penyesuaian warna, croping, resize atau sekedar melakukan olah minor. Kecerahan pada layar Super Amoled pada Samsung Galaxy J5 tentu akan sangat membantu para fotografer dan pejalan dalam proses pratayang hasil foto dan video yang dihasilkan. Warna yang dihasilkan pada layar ini akan memudahkan pejalan dan fotografer dalam mengolah visualnya. Ibaratnya, warna yang dihasilkan membuat siapa saja jatuh cinta.

Dengan sistem operasi Android Lolipop 5.1.1 yang terbaru, pengguna Galaxy J5 bisa dimudahkan saat pengeditan foto dan video dengan mengunduh aplikasi pengolah foto yang sangat mumpuni digunakan di layar berteknologi Super Amoled ini.

Dengan sistem operasi Android Lolipop 5.1.1 yang terbaru, pengguna Galaxy J5 bisa dimudahkan saat pengeditan foto dan video dengan mengunduh aplikasi pengolah foto yang sangat mumpuni digunakan di layar berteknologi Super Amoled ini. Inilah saatnya untuk #tunJukkanmomenmu bersama Samsung Galaxy J5. © Yunaidi Joepoet

Keuntungan inilah yang mungkin akan memudahkan para pengembara zaman sekarang untuk mempersiapkan perjalanan, mengadikan setiap kenangan yang berharga, hingga menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia apa yang didapat dalam setiap perjalanan menggunakan Samsung Galaxy J5 dan Samsung Galaxy J7.

Mungkin para pengembara zaman dulu butuh waktu berbulan-bulan untuk menyebarkan dan memberi tahu dunia tentang pengalamannya menapaki tempat-tempat yang belum terjamah. Namun dengan kemudahan teknologi dan kemajuan layar selular dengan teknologi Super Amoled yang ada pada Samsung Galaxy J5 & Samsung Galaxy J7, maka dalam sedetik kisah tersebut sudah bisa menyebar dan membekas dalam hati dan pikiran para pembacanya, namun tetap dengan hasil foto dan video yang sangat memuaskan.

Jadi, sudah siapkah untuk #tunJukkanmomenmu dengan Samsung Galaxy J5 dan Samsung Galaxy J7 para sahabat pengembara dalam tetirah yang akan dilakukan? Sebarkanlah semangat ini lewat birai kristal Super Amoled Samsung Galaxy J5 dan Samsung Galaxy J7. Selamat mengembara, sahabat!

***

Tulisan ini didukung penuh oleh produsen gawai yang paham akan kebutuhan saat bertualang. Semua foto adalah karya Yunaidi Joepoet.

http://www.samsung.com/id/consumer/mobile-devices/smartphones/galaxy-j/SM-J500GZKDXID

Informasi lebih lanjut soal Samsung Galaxy J5 bisa disimak di laman resmi mereka, twitter @samsung_id , instagram @samsung_id dan juga facebook Samsung Mobile Indonesia


1 komentar:

  1. hp nya keren. cameranya bagus. dan fiturnya jg lengkap

    BalasHapus