Tari Lengger Dieng Wonosobo : National Geographic Traveler Indonesia Oktober 2015

9/30/2015 09:06:00 PM Yunaidi Joepoet 17 Comments

Hujan tak kunjung turun setelah beberapa bulan lamanya menyisakan tanah kering yang meniupkan debu ke udara di antara hawa dingin dataran tinggi Dieng, yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Musim kemarau kali ini menyisakan kesedihan, kentang dan beberapa sayuran yang ditanam para petani gagal panen akibat bun upas (embun es). Para petani buntung berselimut lara. Namun, pelipur sederhana mereka bukanlah rupiah, melainkan rentak kaki para penari yang selaras dengan bunyi gamelan.



  Lahan-lahan pertanian di tubir bukit kosong melompong tanpa ada satu pun petani yang menggarap tanah. Syahdu suara sinden mendayu hingga ke ujung dataran tinggi. Di Dieng, esok setelah hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia adalah hari untuk merayakan kebahagiaan, yang juga berarti waktunya melupakan kesedihan untuk sementara waktu. Beragam pertunjukan kesenian tradisional disajikan kepada para warga yang datang memenuhi kawasan Candi Arjuna nan damai.

  Tari lengger menjadi pamungkas hari itu. Sedari kemarin, Mujiono bersama kerabat di Paguyuban Kesenian Tari Topeng Sri Widodo, Dieng, sudah dibikin sibuk untuk pementasan. Dimulai dari membersihkan puluhan topeng dan gamelan, juga membuat lemari baru tempat topeng-topeng yang digunakan dalam pertunjukan lengger disemayamkan. Sesajen pun disiapkan sebelum pertunjukan. Dari dulu hingga saat ini, tak banyak yang berubah dalam setiap penampilan tari lengger.

  Malam sebelum pertunjukan, Mujiono yang ditahbiskan sebagai pemimpin, dukun, penari, dan pelestari tari lengger berkisah mengenai asal mula tari lengger. Tari ini berawal dari cerita Dewi Galuh Condro Kirono, putri dari Prabu Lembu Ami Joyo yang meninggalkan Kerajaan Jenggolo Manik akibat selir raja yang tak suka dengan perjodohan sang putri dengan Raden Panji Asmoro Bangun. Dalam pelariannya, Dewi Galuh Condro Kirono menyamar sebagai penari lengger. Namun, pada suatu kesempatan pertunjukan tari lengger untuk menghibur para penggawa praja, topeng yang digunakan sang putri tak mampu menghambat perjumpaannya dengan Raden Panji Asmoro Bangun, sang calon suami.

  Sebagai bentuk ekstistensi tarian tradisional yang sudah berusia sepuh, tari lengger setidaknya masih mampu memberikan pertunjukan yang menghibur para pemirsa setianya.

  Seperti para pelestari tari tradisional di seluruh Nusantara, Mujiono serta para penari dan seluruh tenaga yang terlibat dalam tari lengger mengemban beban yang tak bisa dikatakan ringan, di tengah gempuran seni dan budaya asing yang kian vulgar serta lebih mudah diterima oleh generasi kekinian.







Seri foto ini bisa dibaca lengkap di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Oktober 2015. Semoga kesenian tradisional seperti Tari Lengger dari daerah Dieng ini bisa terus dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa Tengah yang juga menjadi kekayaan budaya Indonesia. Terima kasih untuk Paguyuban Kesenian Tari Lengger Sri Widodo yang sudah mengizinkan saya mengabadikan aktivitas pertunjukannya. Semoga bermanfaat, sahabat pembaca.

17 komentar:

  1. Dieng, tanah para dewa yang masih saya impikan untuk didatangi.. tulisannya emang jos, cara bercerita yang harus aku pelajari...

    BalasHapus
  2. itu foto wanita yang kesurupan yah?

    BalasHapus
  3. keren ini mas..dl saya pernah liat tarian seperti ini wakt masih KKN di wanayasa banjarnegara, deket bgt tuh sama dieng

    BalasHapus
  4. Keren kang, keren pisan. Menginspirasi

    BalasHapus
  5. Ya Allah... tulisan abang rupanya yang tentang penari yang di muat di NGT bulan ini.. klo gitu, saya pantengin blog ini aja aah :D

    BalasHapus
  6. Indonesia memang kaya dengan budaya daerah. Semoga kesenian tari lengger ini tetap lestari dan bisa menjadi penghibur bagi warga dieng

    BalasHapus
  7. wah, pernah mau mampir ke Dieng tapi nggak jadi, kayaknya seru nih bisa lihat tari Lengger

    BalasHapus
  8. Menarik! Ini setiap 18 Agustus kah?

    BalasHapus
  9. wah keceh dah indonesia.....

    BalasHapus
  10. Asyik ya menulis budaya begini harus intens mengenal mereka untuk mendapatkan sisi humanis dan cerita yang hidup... TOP

    BalasHapus
  11. Sama topeng malangan bagusan mana ya? :d hehe

    BalasHapus
  12. Eow ada yaw,,, Tari Lengger dari Dieng,,, tak kira di Dieng adanya tempat - tempat yang bagus dengan tiap tahunnya di gelar Festival Dieng Culture pemotongan rambut gimbal saja,,, Tentu Dieng memiliki pemandangan yang yahud

    BalasHapus
  13. dieng desa diatas awan beuhhh mantab

    BalasHapus
  14. Wah ini adalah budaya bangsa yang wajib dilesatirkan :3

    BalasHapus