Pendakian Gunung Kerinci 3.805 M, Berteman Maut Menuju Puncak Api Tertinggi

9/25/2015 08:01:00 PM Yunaidi Joepoet 84 Comments

Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun demikian dengan tas ransel berukuran 85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian yang saya panggul layaknya memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "Duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang saya lewati. Sekarang saya berteman dengan maut, seorang diri di tengah rimba yang semakin suram.


Gunung Kerinci, Danau Kerinci, Danau Gunung Tujuh, Danau Kaca, Danau Kaco, Kersik Tua, Kayu Aro, Desa Pelompek, Tea Plantation, Kebun Teh Kayu Aro, Sungai Penuh, Puncak Indrapura, Orang Pendek, Mount Kerinci, Bukit Barisan; Mount; Hill; Gunung Kerinci; Gunung Tujuh; Mount Kerinci; highest volcano in indonesia; foto gunung; mountain photo; above the clound; kersik tuo; jambi; sumatra; kerinci seblat; taman nasional; layer; morning; sunrise; indonesia; landscape indonesia; travel photo; mounteiner; adventure; aerial photography; city; gunung kerinci; pendakian gunung; gunung tujuh; pegunungan bukit barisan; Indonesia Mountain; Ring of Fire; Cincin Api; Mount; Gunung Indonesia; Mountain in Indonesia; Active Volcano; Eruption; Climber
Pemandangan dari atas puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter dengan latar Danau Gunung Tujuh dan barisan Pegunungan Bukit Barisan. © Yunaidi Joepoet


Ini hari terakhir saya diumur 21, saat saya merasa maut hanya berjarak beberapa depa dari tempat saya berjalan merangkak, hari yang paling menakutkan selama saya terlahir di dunia. Akankah nafas saya berakhir beberapa jam saja sebelum pertambahan umur? Di tempat ini, jalan menuju puncak Gunung Kerinci, titik gunung api tertinggi di Indonesia, saya sadar bahwa hanya tekad, semangat, motivasi dan kepercayaan terhadap diri sendiri serta Sang Pencipta yang mampu memupuskan ketakutan untuk menggapai impian dan sesuatu yang kita percayai bahwa kita bisa melakukannya.

Saya bukan pendaki profesional, bukan pula anggota dari kelompok pecinta alam, juga tak lahir dari keluarga berlimpah materi. Saya hanya pemuda dari desa kecil di pedalaman Sumatra Barat yang berteman dengan alam, sungai, sawah, dan kerbau sedari bocah. Menginjak kaki di perguruan tinggi, saya semakin senang membaca kisah-kisah petualangan. Meskipun fisik saya tak begitu bagus untuk menjadi petualang seperti Edmund Hillary ataupun Colombus, namun tak ada salahnya membaca kisah-kisah mereka. Untuk sebuah perjalananpun kerja serabutan dan menulis serta memotret saya jalankan untuk mendanai pundi-pundi untuk perjalanan berikutnya.




Wawan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet


Saya menyenangi kisah-kisah petualangan yang ditulis oleh Norman Edwin dan juga Soe Hok Gie. Meskipun keduanya bernasib sama, menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung, setidaknya dari kisah mereka saya percaya orang-orang baik dan jatuh cinta akan gunung berpulang di tempat yang dicintainya pula. Gunung adalah salah satu tempat paling baik di muka bumi, beberapa kelompok masyarakat dan kepercayaan di berbagai penjuru dunia mengkultuskan gunung sebagai tempat suci. Lihatlah Gunung Kailash setinggi 6.638, tempat suci empat agama. Pemeluk Buddha Tibet menyebutnya Kang Ripnpoche, Permata yang Mulia. Tapi di gunung ini, tempat petir dan maut berjarak hanya beberapa depa, saya tak berharap nasib saya sama seperti Soe Hok Gie ataupun Norman Edwin.


***

Hamparan kebun teh menjadi sajian utama saat saya keluar dari penginapan pagi itu. Tadi malam setelah menempuh perjalanan panjang dari Pekanbaru, saya bersama seorang kawan yang sudah mendaki Pegunungan Himalaya, Micah Hanson tiba di Kersik Tuo. Desa kecil ini ibarat nirwana, yang kurang hanya aliran sungai. Namun tanpa sungaipun saya tetap merasa kedamaian yang nyata, apa yang surga janjikan kepada umat manusia.


Hamparan kebun teh tua yan juga hampara kebun teh terluas di dengan dengan latar Desa Kersik Tuo di kanan dan Gunung Kerinci di kejauhan. © Yunaidi Joepoet


Begini, penginapan saya terletak di tepi jalan lintas Padang-Sungai Penuh. Beberapa pendaki dari dalam ataupun luar negeri biasanya menginap disini sebelum memulai pendakian, namanya Homestay Paiman. Namun tak jauh dari Homestay Paiman, seorang pemuda Kersik Tuo membuka rumahnya secara sukarela untuk diinapi oleh para pendaki. Untuk mendaki Gunung Kerinci, beberapa pendaki lebih memilih untuk masuk dari Padang dibanding Jambi, alasannya karena jalur yang lebih pendek, pemandangan nan menawan, dan juga langsung tiba di desa terakhir sebelum pintu pendakian ke Gunung Kerinci. Di seberang penginapan saya, hamparan kebun teh yang sungguh sangat luas terhampar bak permadani. Saya berjalan ke bukit kecil yang tak jauh dari penginapan, sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan kebun teh dengan latar Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter menyangga langit.

Kabut pagi menyeruak saat sinar matahari menghangatkan Kersik Tuo yang terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Desa ini berhawa sejuk, atau lebih tepatnya dingin bagi saya yang terbiasa hidup di suhu 33' celcius setiap harinya. Aktivitas warga desa belum berjalan seutuhnya meskipun jarum jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul tujuh. Mayoritas warga desa ini hidup sebagai petani dan juga pekerja di perkebunan teh yang dimiliki oleh PTP Nusantara VI. Lahan kebun teh di Kersik Tuo yang jadi bagian dari Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki luas 2.500 hektare dan menghasilkan daun teh berkualitas juara sejak zaman Belanda masih menduduki Indonesia. Teh terbaik yang dihasilkan dikirim ke Belanda untuk diseduh sebagai minuman sang Ratu Belanda. Perkebunan teh tua ini merupakan perkebunan teh terluas di dunia dalam satu hamparan.

Memenuhi impian dan janji saya untuk mendaki gunung api tertinggi di Indonesia, saya menginjakkan kaki kembali di Kersik Tuo ini. Beberapa waktu lalu, bersama dua orang kawan, saya mendaki Danau Gunung Tujuh yang dikelilingi oleh tujuh puncak gunung. Kami terengah-engah menembus kegelapan malam saat berjalan dari pintu pendakian menuju tempat berkemah di tepi danau. Butuh waktu lima jam bagi kami malam itu untuk tiba di tepi Danau Gunung Tujuh.

Meskipun tak berpengalaman dalam mendaki gunung di atas ketinggian 3.500 meter, namun melihat Kerinci saat perjumpaan kami pertama kali telah menautkan batin saya dengan gunung ini. Kepundannya yang rusak akibat letusan membangkitkan mimpi-mimpi saya sebagai anak muda untuk berlutut di puncaknya. Tapi apa mungkin dengan fisik yang tak perkasa saya bisa mendakinya? Setidaknya, motivasi ini semakin kuat saat saya berjanji untuk bisa melakukannya. Saya orang yang tak suka perayaan, tapi menginjak umur yang ke-22, saya bulatkan tekad untuk mendekatkan diri dengan alam, ibu dari segala kehidupan. Juga Azim, teman pendakian saya ke Gunung Tujuh. Kami sama-sama berjanji untuk mendakinya untuk merayakan apa yang kami yakini sebagai titik terbaik untuk merencakan kehidupan masa depan. Saya memasuki umur baru, Azim dan dua temannya merayakan kelulusan, Micah menggapai puncak api tertinggi di Indonesia sesuai dengan apa yang direncanakannya saat kami bertemu pertama kali di Pekanbaru.

***

"Gimana, kito menginap dulu di pintu rimba?" tanya Azim ke Wawan.
"Bolehlah. Sudah terlalu malam kalau dipaksakan naik ke Shelter II jam segini," Wawan mengiyakan ide Azim untuk mendirikan tenda di Pintu Rimba.

Simpang Tugu Macan dengan latar perkebunan teh dan Gunung Kerinci saat pagi hari. Dari tugu ini, perjalanan harus dilanjutkan menuju Pos Pendakian. Gunung Kerinci merupakan habitat harimau sumatra yang populasinya semakin terancam. © Yunaidi Joepoet


Kami membuka tenda di kiri jalur. Tempat ini lumayan untuk menampung dua tenda. Malam pertama pendakian, kami berjalan tak terlalu jauh, hanya melewati perkebunan penduduk hingga ke pintu rimba. Malam itu, dendeng yang kami beli di warung dicampur mie rebus menjadi penyumpal perut yang mulai keroncongan. Selanjutnya kopi dan teh hangat menemani obrolan kami malam itu, bercerita tentang apa saja yang membuat suasana hangat hingga perbincangan pun ditutup saat rasa kantuk telah tiba.

Malam pertama pendakian ke Gunung Kerinci berjalan lancar. Pukul lima subuh, senandung burung membangunkan kami. Udara sejuk menyambut wajah saya saat membuka tenda, penuh dengan oksigen nan segar saat menghirup udara pagi di bawah pohon nan rimbun. Meskipun tenda sebelah terdengar kisruh, "Oi, siapa yang kentut nih. Busuk!." Saya bersoloroh, "Panggilan alam datang lebih awal ya kalau di gunung, hahaha."

Hari ini target kami adalah tiba di Shelter 3, tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum menuju puncak Gunung Kerinci. Bagi para pendaki, selain Shelter 2 untuk mendirikan tenda, Shelter 3 menjadi salah satu tempat yang sering dijadikan titik berkemah sebelum mendaki menuju puncak Gunung Kerinci. Tepat pukul delapan pagi, kami berdoa dan meminta izin kepada Penguasa alam semesta agar dilindungi dalam pendakian ini.

Kami sekarang meninggalkan ketinggian 1.692 meter, Pos Pintu Rimba. Dari Pintu Rimba, jalan setapak berpayung pepohonan nan rimbun kami lalui dengan nyaman. Jalan landai dengan kontur tanah lembab menemani perjalanan menuju Pos I. Beberapa kali kami berselisih dengan para pemburu burung yang menggunakan senapan. "Sudah tau dilarang menembak, masih saja menembak," ujar Azim sewot saat kami berselisih dengan pemburu yang berusaha menyembunyikan senapan anginnya.

Perburuan burung dan perambahan hutan memang menjadi masalah di kawasan yang masuk ke area Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman nasional seluas 1.386.000 hektar ini adalah rumah bagi 4.000 spesies tumbuhan, termasuk bunga Rafflesia arnoldi dan Titan arum. Disini hidup pula harimau sumatra yang populasinya kian terancam, Badak Sumatra, Gajah, Macan Dahan, Tapir Melayu, Siamang, Beruang Madu, dan sekitar 370 spesies burung berbulu indah dan bersuara merdu. Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kerinci Seblat dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Pos Batu Lumut (kiri). Gunung Kerinci yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat adalah rumah baru sekitar 371 spesies burung. © Yunaidi Joepoet
Cantigi diketinggian 3.600 meter (kiri). Jalur pendakian dari Shelter 3 menuju puncak Indrapura, Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet

Saya merasa beruntung sedang berusaha mewujudkan impian dan angan saya menjelajah tempat ini. Perjalanan kami terhenti di Pos II Batu Lumut, kami beristirahat sejenak. Saya memanfaatkan waktu untuk mengisi botol air minum sembari melipir ke tubir tebing yang berbatasan langsung dengan jurang yang dalam. Suara siamang saling bersahutan saat saya melipir ke tubir jurang. Pos ini menjadi tempat perlintasan Harimau Sumatra yang semaki sulit saja ditemui karena habitat hidupnya yag semakin berkurang.

Dari Pos II menuju Pos III, jalanan mulai menanjak. Perjalanan menuju Pos III ini kami tempuh dalam waktu satu jam. Wawan dan Micah berjalan kencang. Wawan tak membawa barang banyak, hanya tas berukuran 40 liter. Micah Hanson, pria bergelar PhD dari Nortwestern University di Amerika Serikat ini tentu dengan mudah melahap setiap tanjakan mengingat tubuhnya yang hampir setinggi dua meter. Saya terengah-engah memanggul barang bawaan dalam pendakian kali ini. Sementara Azim yang berbadan gempal tertinggal di belakang. Kami berjarak satu sama lain. "Jalur pendakian Gunung Kerinci cuma satu jalur. Tinggal ikuti saja jalur jalan setapak," tutur Azim yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Kerinci.

Kami kembali bertemu di Pos III, di tempat ini sebuah pondok sederhana biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat. Selang beberapa menit kami melanjutkan perjalanan ke Shelter I dengan ketinggian 2.512 meter. Tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi sajian utama untuk kami lewati. Pegal di pundak pun lutut semakin terasa. Dari Pos III menuju Shelter 1, perjalanan kami tempuh sekitar satu jam. Setibanya di Shelter 1, gerimis mulai datang.

Memandangi juram nan dalam saat pendakian di Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet
Dari Shelter 1, kami berusaha memacu langkah dengan cepat. Dalam perjalanan, gerimis sudah mulai berganti dengan butiran hujan. Saya mengeluarkan beberapa perlengkapan untuk menghadapi hujan saat pendakian. Penutup tas ransel dipasangkan, ponco juga sudah disiapkan untuk menghadapi hujan lebat yang segera datang. Kali ini saya tertinggal jauh dari Micah dan Wawan, pun begitu dengan Azim yang berjalan beberapa belas menit di belakang sayang.

Hujan turun semakin beringas. Butiran-butiran sebesar kelereng terasa sakit saat mengenai tubuh saya yang sudah berpenutup ponco. Saya tetap berjalan mengikuti jalanaan setapak ditengah hujan yang kita lebat. Tujuan saya hanya satu, terus melewati jalur setapak dan tetap bergerak. Jika berdiam diri, saya takut gejala dingin menyerang tubuh. Ini sangat berbahaya saat pendakian jika saya mengalami hipotermia.

Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun tas ransel berukuran 85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian saya panggul dengan rasa berat seperti memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang saya lewati.

Saya ketakutan, tubuh saya bergetar. Untuk pertama kalinya saya merasakan ketakutan yang luar biasa dahsyatnya. Tangisan saya pecah diantara deru hujan yang terasa mencekam saat saya melewati hutan yang semakin suram. Petir saling bersahutan dan letupannya hanya berjarak beberapa meter saja dari jalur yang saya lewati. Ini pertama kali dalam hidup, saya merasakan maut begitu dekat. Maut hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya berjalan.

Saya yakin ini pula yang dirasakan para pendaki dan sherpa di Everest saat mendengar avalans bergemuruh menimpa mereka. Bunyinya yang laksana letusan bom atom telah membuat bulu kuduk merinding. Setidaknya saya dan pendaki-pendaki lainnya pernah merasakan rasa takut, mencekam, dan 'gila'-nya kita tau hanya dua kemungkinan yang sedang akan terjadi dalam hidup kita saat pendakian gunung: hidup atau mati.

Saya ingin menyerah, tak ingin melanjutkan perjalanan. Mungkin berdiam diri lalu berbalik arah bagi sebagian orang adalah cara terbaik. Tapi ini tak ada di rencana saya, berdiam diri dan menyerah. Kekuatan saya waktu itu adalah saya sangat percaya saya akan baik-baik saja. Menyusuri jalur ini adalah kenikmatan dalam kesengsaraan. Nikmat bahwa saya bisa mewujudkan impian untuk mendaki gunung yang banyak diidolakan para pendaki di Nusantara, sengsara karena saya terlalu mem-push diri saya. Karena saya yakin, kita harus berusaha untuk menekan batas-batas yang selama ini kita yakini itulah batas yang bisa kita lakukan. Namun, walaupun saya berusaha mem-push diri saya sebegitu keras, saya yakin saya melakukanya dengan toleransi keselamatan. Saya tetap berjalan merskipun dalam hujan lebat serta angin kencang beserta petir, karena saya yakin titik toleransi dalam keselamatan saya masih pada lampu hijau. Penting sekali bagi kita untuk mengetahui hingga titik mana kita boleh mem-push kemampuan. Dalam beberapa pendakian yang berakibat fatal, seringkali orang terlalu menyia-nyiakan keselamatan karena berusaha mem-push diri mereka diluar ambang kemampuan.

 Saya tetap melahap tanjakan demi tanjakan meskipun dalam hujan. Hampir setengah jam perjalanan dirundung hujan lebat, akhirnya butiran air berganti gerimis. Saya tiba di Shelter II dalam kondisi basah kuyup dan kedinginan. Pun begitu dengan teman pendakian saya yang lain.

Perjalanan yang paling menguras tenaga setelah diterpa hujan lebat dan petir yakni melewati celah sempit dari Shelter 2 menuju Shelter 3. © Yunaidi Joepoet

"Wawan, gimana perjalanan naiknya?" tanya saya saat kami sudah berkumpul semua di Shelter II. "Ngeri. Petirnya dekat sekali. Hujannya pun sungguh lebat."

"Wah parah memang. Jalannnya sudah kayak sungai," timpal Azim. Sementara itu Micah berusaha mengeringkan pakaiannya. "Kita berhenti dulu disini. Bisa rebus air dulu untuk seduh kopi," tambah Azim.

Kami beristirahat sembari membuat kopi dan teh hangat. Kabut semakin pekat saja menutup pemandangan. Perlahan-lahan menutupi lembah disisi kiri Shelter 2. Jarak pandang semakin pendek saja.

Kami merasakan dingin mulai menusuk tulang. Semua pakaian yang kami kenakan sudah basah kuyup. Awalnya kami kira akan baik-baik saja ternyata semakin membuat badan kami menggigil. Saya mengganti pakaian, pun begitu dengan teman-teman saya. "Bagaimana masih kuat untuk terus berjalan ke Shelter 3?" tanya Wawan. "Kalau aku sih masih kuat. Lebih baik kita lanjut ke Shelter 3, nenda disana." jawab Azim.

Bagi saya yang pertama kali mendaki gunung ini, "Dari sini ke Shelter 3 berapa lama?"

"Kalau jalan santai mungkin kita bisa sampai paling telat setengah tujuh lah. Masih cukup waktu untuk mendirikan tenda," ujar Azim.

Micah memilih untuk mengikuti kami saja. Wawan pun mengambil pertimbangan jika memikirkan waktu untuk menuju puncak,"Jika kita mendirikan tenda disini. Lama perjalanan menuju puncak mungkin bisa dua setengah jam. Kalau di Shelter 3 mungkin hanya sejam setengah sudah tiba kalau berjalan santai. Kita lanjut saja bagaimana?"

Kesepakatan pun didapat. Kita melanjutkan perjalanan dari Shelter 2 menuju Shelter 3, sesuai dengan rencana semula di Pintu Rimba. Perjalanan paling sengsara adalah dari Shelter 2 menuju Shelter 3. Jalur yang berupa celah parit sangat sempit membuat ransel kami beberapa kali tersangkut. Beberapa kali pula saya memanjat parit karena tidak muat untuk dilewati.

Tanah yang licin setelah hujan juga menjadi kendala kami saat melewati jalur ini. Pada ketinggian ini, vegetasi Gunung Kerinci berupa pohon-pohon yang mayoritas ditemukan pada gunung lain di Sumatra dan Indonesia pada umumnya.

Inilah tempat kami mendirikan tenda yang saya foto pada hari berikutnya. Saat terkena hujan disertai petir mahadahsyat, saya menyimpan rapat kamera dan baru mengeluarkannya saat pendakian Shelter 2 menuju Shelter 3. Lihatlah, jemuran darurat tempat kami menjemur pakaian. Juga payung warna pink milik Wawan. Micah tegak pinggang di kejauhan. Momen ini saya abadikan sebelum berkemas sebelum perjalanan turun. Semua peralatan pendakian yang basah kami jemur. © Yunaidi Joepoet

Kami tiba di Shelter 3 lebih cepat dari perkiraan. Gerak kami diburu oleh senja yang segera tiba. "Kita disini saja mendirikan tendanya. Lebih dekat ke sumber air," ujar Azim.

"Ayolah kita segerakan mendirikan tendanya. Takutnya nanti gelap. Lebih susah lagi kita," timpal Wawan.

Kami bergegas dalam kedinginan yang sangat. Hujan dari Shelter 1 menuju Shelter 2 menyisakan rasa dingin pada tubuh yang belum juga menghangat. "Grrr...rrr...rrr," suara gemetar dari mulut sembari tubuh digoyangkan, juga tangan yang diusap-usap menjadi aktivitas yang menyelingi kegiatan pendirian tenda.

Sungguh, saya merasa sangat kedinginan kali ini. Usai tenda didirikan dengan sempurna saya bersalin baju. Dilapisi baju 4 lapis dan celana 2 lapis tak mampu menghalangi dingin yang saya derita. Dinginnya sudah menusuk ke tulang. Jemari saya merasa sakit luar biasa. "Zim, numpang menghangatkan tangan ya di tendamu," saya memohon izin ke Azim untuk "membakar" tangan saya di atas api.

Segelas teh hangat dan mie instan sedikit memulihkan rasa dingin saya senja itu. Usai makan malam, masing-masing kami beristirahat. Saya satu tenda dengan Micah. Sepertinya tenda yang saya bawa terlalu pendek baginya.

Semakin malam, tubuh saya semakin bergetar karena rasa dingin yang semakin menjadi. Saya sudah melapisi tubuh, menutupi kaki, kuping telinga dan menyelinap dalam sleeping bag. Tapi itu belum juga membantu. "Kamu tak apa-apa?" ujar Micah menanyai saya.

"Micah, saya rasa saya bisa mati kedinginan. Dinginnya sampai ketulang," ucap saya pada Micah.

"Kau jangan bicara seperti itu. Sebentar, aku membawa jaket tebal di dalam ransel. Aku pakai saat pendakian di Himalaya," ujar Micah sembari sembari membongkar ransel seukuran lemari.

"Pakailah jaket ini. Ini sarung tanganku cukup untuk kembali menghangatkan tubuhmu," dia menawarkan saya jaket dan sarung tangan. "Tinggal beberapa jam lagi kau memasuki umur baru. Jadi, lebih baik kau bertahan. Aku tak ingin tidur disebelah orang yang sekarat," candanya.

Panorama Pegunungan Bukit Barisan. Lembayung pertama yang saya lihat pada umur 22 tahun. © Yunaidi Joepoet

Jaket dan sarung tangannya cukup membantu kembali menghangatkan tubuh saya yang sudah lemah. Perlahan saya bisa memejamkan mata dan beristirahat setelah perjalanan panjang melewati berbagai tanjakan dan hujan disertai gemuruh petir.

Ini malam terakhir saya tidur di umur 21. Malam diketinggian 3.320 meter sungguh jauh berbeda dengan malam-malam yang saya lalui sebelumnya. Tak ada kasur yang nyamar, hanya ada matras kusam  sebagai alas tidur. Sebelum tidur, tentu banyak harapan dan doa saya ucapkan dalam hati. Kadang di gunung kita bisa menjadi sangat melankolis. Saya tak tau apa pendaki-pendaki lain juga mengalami hal demikian. Saya terlelap tanpa melihat jarum jam.

Dini hari menjadi saat mengharukan, tak ada lilin ulang tahun, kue, ataupun ucapan selamat dari sang kekasih. Hanya ada secangkir kopi untuk diminum bersama, sahabat pendakian, dan lantunan doa dengan berbagai macam pengharapan. "Doanya yang banyak, mumpung di ketinggian. Jadi Tuhan dengar doanya lebih cepat," seloroh Azim saat saya berusaha memejamkan mata.

Setelah melewati kejadian yang berat di hari terakhir umur ke-21. Saya memulai hari baru dengan impian, doa dan harapan yang lebih besar. Mimpi adalah salah satu senjata terkuat untuk meyakinkan diri kita bahwa kita mampu untuk berbuat, bermanfaat, dan menginspirasi lingkungan-lingkungan terdekat. Dari pendakian ini, banyak pelajaran yang saya dapat. Saya percaya bahwa upaya mewujudkan impian dan cita-cita itu lebih indah dan nikmat dibanding impian dan cita-cita itu sendiri. Saya sangat percaya bahwa proses itu lebih penting dari hasil akhir. Setidaknya upaya-upaya yang saya lakukan baik sebelum dan saat pendakian adalah kisah kecil namun memberikan semangat dan pelajaran yang besar bagi diri saya sendiri. Kita kadang harus yakin dan mem-push diri kita untuk menggapai impian tersebut. Walaupun dimata orang impian saya memang sederhana, bersujud di puncak api tertinggi saat pergantian umur. Namun tak ada ukuran besar atau kecil sebuah mimpi, yang ada adalah seberapa keras usaha kita mewujudkannya. Mungkin ini pula yang dilakukan oleh orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun jatuh beribu-ribu kali dalam usahanya, namun kata menyerah bukanlah akhir dari semuanya.


Matahari baru saja beranjak naik saat halimun menyeruak di atas Pegunungan Bukit Barisan. Dari jalur menuju puncak Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh terlihat merekah diantara lanskap. © Yunaidi Joepoet

Sekarang saya sudah lewat setengah perjalanan untuk mewujudkan impian pendakian. Pagi tiba dengan sangat cepat, berbanding terbalik dengan langkah saya menuju puncak Gunung Kerinci. Terlalu berat mendaki dalam suasana yang teramat dingin seperti ini. Gelap ini hanya berteman dengan sinar senter yang menerangi ayun langkah saya. Sudah terlalu lambat untuk menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci sebelum matahari terbit.

Di tengah perjalanan, semburat matahari telah memunculkan sinarnya. Rona biru yang merekah telah membelah Gunung Tujuh di seberang Gunung Kerinci. Kabutnya tak habis memayungi pegunungan Bukit Barisan. Sungguh, pagi pertama di umur saya yang ke-22 ibarat melihat sepenggal nirwana di dunia. Aduhai, nikmat Tuhan mana lagi yang tak saya dapati di ketinggian ini?

Saya terus berjalan merangkak di jalur yang menanjak curam. Untuk sekali tanah yang lembab membuat langkah saya cukup mudah. Saya tiba di Tugu Yudha saat hari sudah mulai terang. Tugu ini terletak di ketinggian 3.685 meter yang dibuat untuk mengenang pendakian yang hiland di Gunung Kerinci. "Hingga sekarang, Yudha tak pernah ketemu," ujar Azim. Saat saya tiba di Tugu Yudha. Kami berdoa singkat untuk para pendaki yang bersemayam di gunung ini.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan ke puncak. Si Micah sudah tiba di puncak," ujarnya sambil menunjuk micah yang terlihat sangat kecil di atas sana. Dari Tugu Yuddha, satu tanjakan vertikal lagi harus diselesaikan. Terang begini, jalur sudah terlihat jelas, membuat kita semakin berat melangkahkan kaki.

"Ayolah! Saya pasti bisa," semangat saya dalam hati.

Masa-masa yang saya nantikan pun tiba. Puncak Gunung Kerinci hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempat saya berdiri. Saya semakin bersemangat untuk menggapainya.

"Terima kasih Tuhan!," dalam kegembiran yang tak berlebihan saya lirih. Saya langsung bersujud di tanah tertinggi di Pulau Sumatra ini. Rasa syukur ini tiada habisnya saat mencapai puncak. Tak jauh dari tempat saya bersujud, lubang kawah yang dalamnya beberapa ratus meter menganga lebar.

Saya bersujud syukur sesaat menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan mewujudkan mimpi dan mengenal lebih dekat salah satu karya ciptaan-Mu.

Micah Hanson, kawan kami yang menamatkan pascadoktoral-nya di Northwestern University, mewisuda Azim yang sedeang merayakan kelulusan. © Yunaidi Joepoet

Jauh diseberang, Danau Gunung Tujuh terlihat sangat indah. Juga hamparan kebun teh nan luas terlihat samar dari atas. Awan putih nan bersih berarak-arakan menutupi barisan pegunungan Bukit Barisan. Saya memandang kesekeliling, sungguh sangat luas dan indah. Hari pertama dalam umur baru yang sangat berkesan.

Micah mengambil beberapa foto diri saya. Azim pun tak mau kalah, dia bersalin pakaian dengan baju wisuda kebanggaannya. Kami merayakan semuanya dengan suka cita.

Namun dari pendakian ini kami merasa sangat kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan Sang Maha Kuasa. Sungguh, rasa gamang berdiri di tubir kawah yang menganga besar telah menyadarkan saya bahwa inilah hidup. Tak ada yang perlu dibanggakan dengan ketinggian apapun bentuk ketinggian tersebut. Kita hanya butiran debu dibandingkan apa yang ada pada alam semesta. Namun bukan berarti butiran debu tak boleh bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan semua impian.

Dari puncak Gunung Kerinci, saya meninggalkan pesan. Semoga kita bisa berpelukan kembali dengan kisah-kisah yang penuh kenangan pula. Terima kasih telah mengizinkan saya menunaikan ibadah impian saya, 3.805 meter di atas permukaan laut.


Micah berdiri di puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter yang juga tepat di tubir kawah Gunung Kerinci nan menganga besar. Di kejauhan, tepian barat Pulau Sumatra terlihat samar dibalik awan.  © Yunaidi Joepoet

***

Informasi Pendakian Gunung Kerinci
+ Untuk menuju Gunung Kerinci. Tersedia penerbangan dari Jakarta - Jambi dan Jakarta - Padang. Saran saya, ambillah penerbangan Jakarta - Padang untuk waktu tempuh yang singkat.
+ Angkutan umum berupa travel tersedia dari Padang ke Sungai Penuh dengan  tarif berkisar antara Rp 90.000 - Rp 120.000 tergantung musim keberangkatan. Lama perjalanan sekitar 7 jam. Mintalah turun di Kersik Tuo, desa terakhir sebelum pendakian. 

+ Beberapa penginapan tersedia di Kersik Tuo, salah satunya Homestay Paiman. Tarif penginapan sekitar Rp 80.000/malam. 

+ Di Kersik Tuo terdapat beberapa toko dan tempat makanan. Jadi jangan khawatir untuk perbekalan pendakian. Namun jika berangkat dalam rombongan besar, lebih baik membeli perbekalan di Padang.

+ Dari Desa Kersik Tuo menuju Pos Pendakian cukup memakan waktu jika berjalan kaki. Mintalah penduduk lokal untuk mengantarkan hingga Pintu Rimba, selain menghemat waktu juga menghemat tenaga juga ikut memberdayakan perekonomian lokal.

+ Untuk pendakian yang membutuhkan porter, tersedia pula porter dengan tarif bervariasi. Namun tarif normalnya berkisar Rp 250.000/hari. Selain di Homestay Paiman yang menyediakan porter, sekretatriat pendakian yang letaknya tak jauh dari Homestay Paiman juga menyediakan porter pendakian.

+ Hujan hampir turun setiap hari meskipun musim panas. Sebaiknya persiapkan peralatan pendakian yang cukup.

+ Jalur pendakian Gunung Kerinci mayoritasnya adalah pendakian menanjak saat naik dan curam saat turun. Persiapan fisik adalah salah satu cara untuk mengurangi kejadian yang tak diinginkan. Para pendaki luar biasanya menggunakan hiking stick untuk memudahkan saat turun.

+ Karena Gunung Kerinci merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Kerinci dan juga Situs Warisan Dunia UNESCO, maka wajib bagi setiap pendaki untuk menjaga kelestariannya. Hindarkan sifat dan perilaku yang tidak terpuji seperti membuang sampah sembarangan dan mencoret-coret serta merusak alam. Pendaki yang baik selalu bersikap terpuji terhadap segala sesuatu ciptaan Tuhan.

+ Diluar tiket pesawat, biaya yang dihabiskan untuk mendaki Gunung Kerinci berkisar antara Rp 750.000 - Rp 1.500.000 tergantung gaya perjalanan dan lama waktu perjalanan.

Itenerary pendakian ke Gunung Kerinci (per hari) didasarkan pengalaman:
> Jakarta - Padang - lalu dilanjutkan naik travel malam dari Padang menuju Sungai Penuh.
> Mintalah turun di Kersik Tuo kepada supir travel. Biasanya travel melintasi Desa Kersik Tuo saat subuh. Aktivitas hari kedua bisa berkeliling kebun teh dan menyiapkan perbekalan pendakian. 
> Menginap semalam di penginapan ataupun rumah penduduk di Desa Kersik Tuo. 
> Bangunlah lebih awal, lalu mulai bergerak menuju Pos Pendakian untuk melapor. Lalu dilanjutkan treking menuju Shelter 3. Lama pendakian berkisar antara 9-11 jam untuk tiba di Shelter 3 dari Pintu Rimba.

> Pendakian menuju puncak Gunung Kerinci berkisar antara 1-2 jam tergantung kecepatan. Lalu sarapan pagi dan dilanjutkan perjalan turun kembali ke Desa Kersik Tuo. Malam hari bisa menginap kembali di Desa Kersik Tuo, atau bisa langsung mengambil travel kembali ke Padang. Namun harus dipesan terlebih dahulu
> Bisa mengunjungi pabrik pengolahan teh di Kayu Aro atau mengunjungi Kota Sungai Penuh, Ibukota Kabupaten Kerinci. Lalu mengunjungi Danau Kerinci. Jadi perjalanan akan komplit dari Gunung hingga Danau. Dan malamnya mengambil travel jurusan padang.

84 komentar:

  1. Wah isi artikelnya menarik mas ,thanks infonya mas .

    saya ijin menawarkan jasa tour dan travel mas.

    kami menawarkan jasa di bidang tour dan travel yang berfokus pada pelayanan wisata laut khusunya snorkling dan diving di berbagai pulau wisata.

    Jasa tour dan travel ini berlaku bagi penduduk yang tinggal di daerah Kalimantan khusunya Samarinda.

    Untuk lebih lanjut anda dapat mengunjungi Website kami di http://twktour.com/

    BalasHapus
  2. wah bagus banget alamnya. keren banget. pengen sesekali bisa ikutan jelajah

    BalasHapus
  3. Ketika sy mmbaca cerita ini, sy seakan terjun kedalamnya dan ingin ikut berpetualang kmbali melihat keindahan sang pencipta.
    Aahh sayang,,, ksempatan itu mungkin susah terulang kmbali krna skrg kondisinya sdh berbeda dan saya tdk single lgi, dan sbntr lgi akan mnjdi seorang ibu :)

    Senang brknalan dgn Joepoet saat kita ke pendakian marapi sumbar brsama backpacker pku. Mungkin joepoet lupa siapa saya, tp sy slalu ingat trnyata drimu seorang fotografer hebat yg sy kira wktu itu hanya mhsswa biasa :D

    Semoga kelak sy pnya anak laki2 yg pnya tekad kuat, berbakat, pendaki hebat kayak om joepoet, haha. Amin

    BalasHapus
  4. Truly inspiring and empowering. As a young generation, it open minds to another different kind of journey to overcome. Salute for your bravery and determination! Hopefully able to do the same for the 22nd birthday :)

    BalasHapus
  5. batu lumut tersebut sepertinya pernah dialiri sungai. foto nya keren

    BalasHapus
  6. artikelnya menarik, penuh dengan petualangan nih salam kenal ya mas, shakehand :)

    BalasHapus
  7. belum pernah kesampen nih kesini, padahal udah berapa kali ngerencanain sama temen2 hadeuuuuhh :(
    #lcurcol hhe

    BalasHapus
  8. Baca aja udah ikut merasakan lelahnya hehe
    tapi itu fotonya keren-keren banget. apalagi yang pas udah di puncaknya, masyaAllah luar biasa. Indonesia memang indah :)

    BalasHapus
  9. dari dulu pengen banget bisa naik gunung. tapi sampai saat ini masih belum bisa kesampaian

    BalasHapus
  10. Wah :D bener-bener keren banget ini artikel, Ga cman artikel, tapi juga foto-fotonya Keren banget :D hehe

    BalasHapus
  11. keren-keren banget ya fotonya :D .. jadi pengen ke sana nih..

    BalasHapus
  12. pengalaman yg seru. dan ceritanya mengalir..... satu hal yg gue suka adalah.. kata2 motivasi yg kamu tulis: "saya sadar bahwa hanya tekad, semangat, motivasi dan kepercayaan terhadap diri sendiri serta Sang Pencipta yang mampu memupuskan ketakutan untuk menggapai impian dan sesuatu yang kita percayai bahwa kita bisa melakukannya."

    Bravo.....

    BalasHapus
  13. WOW... keren banget pemandangannya

    BalasHapus
  14. serem sekali ya, ketika petir menyambar hanya beberapa meter dari tempat kita...
    waduh kalau sy bisa diem sebentar dan pasti takut untuk melanjutkan perjalanan untuk mendaki...

    BalasHapus
  15. Gunung yang ingin sekali didatangi puncaknya. Tempat campnya. Lalu menikmati perjalanannya dan mengambil hikmah perjalanannya.

    Mantap..

    BalasHapus
  16. Keren petualangannya. Terima kasih sudah mau berbagi pengalaman melalui tulisan.

    BalasHapus
  17. Iya bang,,, gunung dari dulu tempat yang banyak orang suka, ntah kenapa walau susah - susah naik puncak, tapi tetep banyak yang suka,,,, Dari foto - fotonya saya jadi ngiler untuk ingin mendaki lagi, hehehe

    BalasHapus
  18. Mantab banget mas sharingnya, adventure gila mas! emang bener setau saya gunung Kerinci emang punya jalur trekking yg cukup sulit, sayang saya belom punya kesempatan untuk mengagumi gunung itu lebih dekat. Tahun depan mungkin saya jelajah tempat itu, thanks mas infonya jd punya gambaran

    BalasHapus
  19. Keeereeen Abis Mas... sungguh pengalaman yang menarik mas... wisata alam yang menakjubkan...
    Lanjutkan Mas... terimakasih sudah berbagi...
    Salam Sahabat
    Villa Istana Bunga

    BalasHapus
  20. Kerenn artikelnya... Saya kembali merasakan ketika menuju puncak Gunung Kerinci beberapa tahun lalu...

    BalasHapus
  21. Artikel nya kereen saya baca nya sambil membayangkan saya lah yg naik ke gunung kerinci... Hehehe

    BalasHapus
  22. sangat menarik dan informatif artikelnya, maksimal berapa hari mas pendakian ke kerinci? terhitung dari kota Padang sampai ke kota Padang lagi? biar bisa disesuaikan dengan libur kantor. Terimakasih banayk.

    BalasHapus
  23. Terima kasih kerana berkongsi. Gambar-gambarnya menarik, penceritaannya mengkhayalkan. :)

    BalasHapus
  24. Fotonya sumpahhh bagus bangetsssss... pemandangannya juga kereeeennn

    BalasHapus
  25. berbagi pengalamannya sangat membantu sekali, terutama buat saya pribadi yg punya impian ke puncak gunung kerinci jg.
    kerinci izin kan aku menemui dan menyaksikan keindahan mu secara nyata... amiiiin.

    BalasHapus
  26. berbagi pengalamannya sangat membantu sekali, terutama buat saya pribadi yg punya impian ke puncak gunung kerinci jg.
    kerinci izin kan aku menemui dan menyaksikan keindahan mu secara nyata... amiiiin.

    BalasHapus
  27. Petualangan yang sangat berkesan...
    Keren....

    BalasHapus
  28. Bang, boleh minta kontak nya nggak ? Kirim ke email ya
    Riskiokta11 @gmail.com

    BalasHapus
  29. Subhanallah Keren bener pemandanganNya , Alur Cerita nya Kena Banget ,Kapan sya bisa kesana dan merasakan sendiri apa yang tlah Diceritakan Oleh Mas. :')

    BalasHapus
  30. sangat bermanfaat kami akan mendaki pada
    tanggal 20 april.
    mohon diberi pencerahan

    BalasHapus
  31. kisah pendaki yg luar biasa.. jg dengan foto2nya. infonya pasti akan sangat membantu pendaki yg akan kesana. thx. krn usia pengen sekali saja mendaki gn kerinci meski jd pndakian terakhirku. salut bt panjengan mas. salam.

    BalasHapus
  32. kisah pendakian yg luar biasa. jg dg foto2nya.. info2 nya pasti akan sangat mmbantu pendaki2 yg ingin kesana. salut n trimakasih bt panjenengan. pengen suatu saat aku bs kesana sebelum usia bertambah tua.. salam

    BalasHapus
  33. sumpah asliiii, kereeenn abis :-)
    kemaren rencana ke kerinci g jadi, ya smoga segera keampaian naik kerincinya deh :-)

    BalasHapus
  34. Gila, keren-keren benar fotonya
    Membuat semakin kepingin menjajal gunung Rinjani nih

    BalasHapus
  35. setiap pendakian selalu ada cerita yang seru, nice post mas bro

    BalasHapus
  36. jadi pengen coba mendaki nih, tapi stamina kurang :(

    BalasHapus
  37. keren2 fotonya mas.....
    terus berkarya yah mas....

    BalasHapus
  38. Keren2 abis fotonya mas.... mantaap

    BalasHapus
  39. jadi kepengen ksanah euy....

    BalasHapus
  40. Mendaki itu gk perlu keberanian aj tpi kekompakan dan kebersamaan

    BalasHapus
  41. bener-bener serem itu diatas orang wisuda, tapi amazing banget bisa diatas gunung kayak gitu

    BalasHapus
  42. Perjalanan yang menantang namun penuh dengan keindahan...

    BalasHapus
  43. Barang kali ada yang mau naik kerinci. Saya dari lampung pengen cari barengan naiknya pada lebaran ke 10 berangkat dari lampung.. salam kenal dari lampung luuur. bisa ngobrol via email efendioke40@gmail.com

    BalasHapus
  44. mantap,..pengalamannya bagus banget, serasa terbawa suasana saat membacanya, dan photo-photonya juga bagus (landscapenya dapet) juga hasilnya memuaskan. yang terakhir ada tips bagi calon pendaki ke kerinci (ini yg saya sangat berterima kasih banget buat mas, soalnya, kalo ga ada kendala dalam waktu dekat kami mau kesana)

    BalasHapus
  45. Makasih infonya bang
    Keren banget saya tertarik banget kesana
    Boleh minta no hp base campnya ga bang
    Salam rimba dari Jon jateng

    BalasHapus
  46. Makasih infonya bang
    Keren banget saya tertarik banget kesana
    Boleh minta no hp base campnya ga bang
    Salam rimba dari Jon jateng

    BalasHapus
  47. Keren.. inshaallah agustus nanti mau mendaki gunung kerinci. Mungkin bisa sharing pengalaman nya bro, butuh cerita detail soal perjalanan. Kita sama sama dari pekanbaru.

    BalasHapus
  48. Membaca artikel ini, serasa saya ikut dalam perjalanan tersebut. Saya juga bukanlah pendaki professional, saya hanya mendaki gunung-gunung dengan ketinggian kurang dari 2.500m, tapi tawaran dari teman-teman diakhir Juli ini sepertinya sayang untuk dilewatkan. Semoga kami berhasil!!

    BalasHapus
  49. pengen banggeett tpi kapan ya semoga trcapai suatu saat nnti ..

    BalasHapus
  50. Love all of your story,,... keep moving,.. salam rimba

    BalasHapus
  51. perjalanan seru bersama.. semoga waktu membawa kita kembali mendaki bersama.. salam dari kerinci yud....

    BalasHapus
  52. semoga waktu mempertemukan kita mendaki bersama dan bernostalgila pendakian 4 tahun lalu.... salam dari kerinci....

    BalasHapus
  53. Wihhh.. tulisan dan fotonya bagus-bagus Mas. Sharingnya mantap, seperti novel. 17 Agustus nanti saya akan ke sana, dan lanjut ke Danau itu. Ini bakal jadi pengalaman pertama saya naik gunung. Rencana pake porter sih. Tapi baca kisah ini, takjub sekaligus degdegan juga. Ini mas gak pake porter ya?

    BalasHapus
  54. saya juga sangat tertarik dengan ceritannya.daan saya juga punya impian..agar pada suatau saat nanti saya juga bisa ke gunung kerinci..karna gunung di sumbar sudah pernah saya daki....hanya gunung kerinci yg kepingin saaya daki..apalagi di usia yg sudah berkepala empat.....apakah masih mungkin untuk nanjak ke kerinci...semoga impian saya ini bisa terwujud...

    BalasHapus
  55. Terimakasih utk artikel nya yg sangat banguss serasa ikut mendaki saat itu,, semoga saya bisa ada kesempatan untuk merasakan indah nya ciptaan Tuhan dari atas tanah tertinggi di Sumatera seperti yang brother rasakan

    BalasHapus
  56. Terima kasih atas artikel nya mas, semoga saya ada kesempatan bisa ikut merasakan indah nya salah satu ciptaan Tuhan, dari atas tanah tertinggi di pulau sumatera

    BalasHapus
  57. Terimakasih utk artikel nya yg sangat banguss serasa ikut mendaki saat itu,, semoga saya bisa ada kesempatan untuk merasakan indah nya ciptaan Tuhan dari atas tanah tertinggi di Sumatera seperti yang brother rasakan

    BalasHapus
  58. euuuh mantap esensi dari setiap pendakian. menemukan pemandanga alam yang masih asri. keren mas udah akrab banget dengan maut ya kalau jadi pendaki mah hehehe

    BalasHapus
  59. waduh kangen naik gunung lagi nih

    BalasHapus
  60. foto-fotonya bagus amat mas, pantas dapat penghargaan blog foto terbaik...keren!

    BalasHapus
  61. Dahsyat kang, pengalamannya luar biasa. Melihat medan perjalannya begitu indah tapi juga mengerikan.

    Gak kebayang betapa beratnya perjuangan menaklukkan puncak Kerinci.

    BalasHapus
  62. mantablah, g rugi dengan perjalanan ke puncaknya yang berliku-liku setelah sampai atas welcome pemandangan indah :D

    BalasHapus
  63. thanks storynya keren.. kebetulan lagi mau ke kerinci.. sangat berguna bangett nih

    BalasHapus
  64. pemandangannya seperti diluar negeri, kereenn banget.. kebetulan mau ada acara adventure lagi sama teman. nambah petualangan kalau kyk gitu pemandangannya pasti kgk nolak di ajak kesini.

    yes terims infonya bro.

    BalasHapus
  65. Ruarrr biasa. Mau tanya apa naik ke atas tanpa porter?

    BalasHapus
  66. Lagi tertarik nyari tau tentang kerinci, pas buka blog ini jdi makin mau jadiin kerinci destination pasca graduation 🎓. Thanks for wonderful inspiration, so inspiring me brooooo 😍😍

    BalasHapus
  67. Alamnya bagus ya. Katanya kerinci ini terkenal dengan kopinya?

    BalasHapus
  68. keren banget gan pendakiannya, angat menginspirasi.
    saya belum pernah sampai setinggi 3000 an mdpl.
    kebayang deh perjuangannya.

    BalasHapus
  69. Keren keren. Jadi pengen daki ke sana juga

    BalasHapus
  70. Kerennn sekaliii saya sangatt sukaaa artikel nyaa Pengalamann pribadi sang penulis sangat berkesan dan Menarik pembaca ingin merasakan berpetualang di alam bebas , doakan saya menyusul kak semoga bisaa mendaki gunung kerincii akhir pekan ini aaminnn 😁🙏🏻

    BalasHapus
  71. Bang bro saya mau sharing boleh?

    BalasHapus
  72. Bang bro saya mau sharing boleh?

    BalasHapus
  73. keren ceritanya mas. mudah2an bisa menyusul.

    BalasHapus
  74. Gimana ya supaya fisik bisa kuat mendaki gunung yang tingginya hampir 4rb meter, sedangkan ane naik bukit aja udah ngos-ngosan.

    BalasHapus
  75. Catatan pendakian yang apa adanya,,,,siip. Itulah yang saya rasakan waktu beberapa pendakian yang pernah saya lakukan...mantap euii..

    BalasHapus
  76. ceritanya agak nyeremin, apalagi yang bagian petir nyamber2.

    BalasHapus
  77. bagus nian cuy, membahas salah satu gung tertinggi di indonesia,lokasinya jg di daerah saya.
    jangan lupa mampir jg cuy ke blog saya: catatanpertambangan.blogspot.com

    BalasHapus
  78. saya puter-puter di web ini liat foto2 perjalanannya pada bagus2, baca artikelnya mah ntar ajalah balik lagi kalo mata udah nggak ngantuk. hheheu

    BalasHapus
  79. mas membantu saya sekali blognya untuk mengerjakan tugas :D kisahnya juga bagus

    BalasHapus
  80. thanks atas informasi nya mas, mungkin informasi yang saya dapat dari artikel mas, bisa jadi pedoman bagi saya untuk mendaki di gunung kerinci di bulan 6 ini. thanks thanks thanks.

    BalasHapus