Tsunami Aceh : National Geographic Indonesia Desember 2014

11/30/2014 07:23:00 PM Yunaidi Joepoet 1 Comments

Mendung bergelayut di atas langit saat saya menumpang mobil bak terbuka menuju Calang. Beberapi kali mobil milik Palang Merah Indonesia ini berjalan lambat menghindari tumpukan tanah longsor yang memutus jalur utama Banda Aceh - Meulaboh. Beberapa hari lalu, jalur ini tak bisa dilewati. Namun saya beruntung, kemarin jalur ini sudah kembali dibuka untuk kendaraan roda empat.


Tujuan utama saya adalah Calang. Bersama kawan dari Palang Merah Indonesia Pusat, saya berkesempatan untuk menghadiri peringatan 10 tahun Tsunami di Banda Aceh. Namun, tujuan utama kami tak hanya mengenang tsunami tapi melihat upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat guna menghadapi bencana yang tidak tahun kapan tibanya.

    Calang adalah satu dari sekian banyak daerah di Aceh yang mengalami kerusakan parah. Kota di pesisir barat Pulau Sumatra ini langsung berhadapan dengan pusat gempa yang menyebabkan tsunami dengan korban jiwa sebanyak 221.005 pada akhir Desember 2004. Salah satu bencana dengan korban jiwa terbesar dalam sejarah Indonesia.

    Tsunami memporak-porandakan puluhan ribu rumah di pesisir barat Sumatra, ribuan orang menjadi yatim piatu, terpisah dari sanak keluarga, dan menimbulkan luka yang teramat dalam bagi Aceh. Namun dibalik itu semua, hikmah tsunami telah menimbulkan kesadaran bagi banyak orang dibelahan bumi ini akan suatu bencana yang berbahaya dan paling rawan terjadi terutama di negara yang sering mengalami aktivitas tektonik.

    Bersama kawan-kawan dari Palang Merah Indonesia Calang, kami mengunjungi Krueng Sayeung yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Di tempat ini, sungai mengalir dengan jerni, tempat ikan hidup, juga berbagai macam kepiting, udang dan hewan air lainnya. Namun tsunami 2004 menghancurkan tempat ini, menjadikannya rawa kerontang menyisakan pohon-pohon menjulang yang sudah mati.

    Krueng Sayeung, satu dari banyak tempat yang patut kita jadikan pelajaran bagaimana sebuah bencana tidak membuat masyarakat menyerah begitu saja untuk merawat alam guna menghadapi masa depan yang tidak diketahui ujungnya. Disini, siaga bencana berbasis masyarakat disingkat dengan SIBAT bentukan Palang Merah Indonesia mengambil peran besar dalam mereboisasi kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan bibir pantai. Puluhan ribu batang bakau ditanam untuk menahan laju abrasi.

    Saya memanjat pohon yang sudah mati,juga lapuk di tempat ini untuk menghasilkan visual dalam penugasan untuk National Gegraphic Indonesia. Meskipun kamera saya terjebur kedalam rawa, namun ini sudah menjadi resiko pekerjaan yang memang akan demikian adanya.

    Liputan ini menjadi penugasan saya berturut-turut sejak Oktober (pangan organik), November (kalender tanam terpadu), dan Desember (tsunami) untuk majalah ini dengan penulis Titania Febrianti yang juga editor teks di National Geographic Magazine Indonesia.

    Secara khusus untuk liputan tsunami ini, saya senang sekali bisa bekerja dengan Arif Ariadi dari BRR Institute. Arif Ariadi dan saya menjadi dua fotografer yang mengisi foto dalam memenuhi kebutuhan visual untuk feature Tsunami Aceh di majalah National Geographic Indonesia edisi Desember 2014. Selamat membaca sahabat.



1 komentar:

  1. Waduuuu!!!, kaget sekaligus merasa terhormat berhasil menemukan laman ini dengan konten yang sangat menarik. Terimakasih dan hormat saya untuk anda, Yunaidi Joepoet a.k.a. Yudhi :))

    BalasHapus