Terpikat Raja Ampat

9/10/2014 04:47:00 PM Yunaidi Joepoet 2 Comments


Tempat burung surga bersenandung, ikan menari, dan laut berwarna-warni.

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Wisatawan menggunakan kayak menjelajah perairan Raja Ampat (kiri), pemandangan ikonik Raja Ampat dari puncak Wayag (kanan).

Alfred Russel Wallace menyadari kapal yang ditumpanginya tidak berlayar sesuai yang diharapkan. Gurulampoko yang bertindak sebagai juru mudi dan pemandu dalam perjalanan dari Seram menuju Misool berusaha meyakinkan bahwa kapal bisa menyeberang ke Silinta. Namun hembusan angin kencang disertai gelombang laut tinggi mengaduk-aduk lambung kapal. Kapal terbawa arus kembali menuju barat, bukannya bergerak ke arah timur. Para awak kapal berusaha sekeras tenaga untuk menjaga laju kapal, namun sayang angin jua yang menjadi kendala untuk melepas jangkar di Pulau Misool.

Sirna sudah niat Wallace menemui Charles Allen, seorang rekan yang kehabisan bekal makanan di Pulau Misool. Kapal yang ditumpangi Wallace sekarang mengarahkan moncong ke arah utara menuju Waigeo, hembusan angin kencang, gelombang laut tinggi, serta arus yang tidak bersahabat menjadi teman perjalanan Wallace. Namun setelah menempuh perjalanan laut yang berbahaya, Wallace meraih mujur, kapal yang dikemudikan Gurulampoko berlabuh juga di Waigeo (dalam catatannya Wallace menyebutnya: Waigiou).
 Wallace menghabiskan waktu di Waigeo pada Juni – September 1860. Pulau ini adalah salah satu pulau besar meneliti aneka ragam flora dan fauna di wilayah Kepala Burung. Penelitian Wallace di Kepulauan Nusantara diyakini sebagai dasar teori Evolusi Charles Darwin. Surat yang tersohor dengan sebutan Letter from Ternate (surat asli berjudul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinetely from the Original Type) mengemukakan tentang bagaimana sebuah spesies berubah bentuk dari pendahulunya sehingga menjadi lebih kuat dan sempurna. 
Wallace mungkin satu dari beberapa orang ilmuwan yang menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium penelitiannya. Penjelajahannya di Raja Ampat tertulis dalam buku The Malay Archipelago yang banyak dijadikan acuan bagi para ilmuwan dan pejalan untuk mengenal Kepulauan Nusantara lebih dekat. Sebelum meninggalkan kawasan Raja Ampat, Wallace merinci bawaannya: 73 spesies burung, 12 diantaranya jenis baru serta 24 spesimen cenderawasih merah.
Beratus tahun setelah penjelajahan Wallace, Max Ammer mendatangi kawasan ini. Niatnya, mirip-mirip, dan mungkin lebih ‘gila’: mencari jip-jip terlantar dan bangkai pesawat yang tenggelam sisa Perang Dunia II di Raja Ampat. Tahun 1998, delapan tahun setelah kedatangannya di Raja Ampat, Max bertindak sebagai pemandu ahli ikan, Gerry Allen. Rimba laut Raja Ampat membuat sang ahli berdecak kagum "Inilah surga penyelaman dan laboratorium eksplorasi biota laut."

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Kami memilih Desa Arborek sebagai titik penyelaman pertama di hari kedua. Pagi yang cerah berpadu laut jernih serta arus yang tenang.
Perjalanan kami dimulai dari Sorong. Kota di ujung pulau berbentuk kepala burung ini adalah gerbang utama menuju Raja Ampat. Sorong mulai ramai semenjak perusahaan minyak Belanda Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij memulai kegiatannya pada tahun 1935. Belakangan, letaknya yang strategis membuat Sorong menjadi kota utama dalam arus perdagangan di barat Pulau Papua.
Di pelabuhan rakyat tak jauh dari kantor navigasi kelautan Kota Sorong, dua speed boat bermesin dengan daya 200 PK sudah menunggu kami. Rasanya, dengan perahu ini perjalanan laut tak akan memakan waktu lama. Bagi pejalan solo atau backpacker yang ingin bertulang di rimba laut Raja Ampat sebenarnya tak terlalu sulit karena transportasi umum berupa feri dan speed boat melayani rute Sorong - Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat.
Speed boat kami mulai melaju membelah selat Dampier yang memisahkan daratan Papua dengan Kepulauan Raja Ampat. Gelombang pagi itu cukup bersahabat untuk menemani perjalanan kami.
"Raja Ampat ya begini-begini saja di atasnya. Tunggu sampai kita turun ke laut nanti" ujar Nicholas Saputra diantara deru mesin kapal. Nico yang gemar bertualang ke penjuru Nusantara mengiming-imingi suguhan bawah laut keindahan terumbu karang dan ikan yang beraneka warna. Sontak ucapannya membangkitkan imajinasi saya tentang ikan-ikan yang menari gemulai diantara terumbu nan berkilau bak pelangi.
Kami melewati Pulau Kri dan Pulau Mansuar yang dipisahkan oleh Tanjung Kri. Hutan lebat nan hijau memayungi seluruh daratan, ditepian pulaunya pasir-pasir berkilau diterpa sinar matahari. Satu dua rumah mengisi bibir pantainya.  Beberapa eco lodge tampak kosong, mungkin musim ramai kunjungan wisatawan sudah berlalu. Atau mungkin jarang yang berkunjung karena biaya yang mahal ? Sepertinya begitu. Tapi satu yang saya percaya, bahwa tidak ada biaya yang murah menuju surga bukan ?
"Nah itu, yang ada umbul-umbul" Michael Sjukrie, penyelam kawakan dari Jakarta, menunjuk sebuah dermaga ecolodge tempat tinggal kami selama sepekan ke depan. Lima belas menit kemudian kapal kami merapat di dermaga. Kami memindahkan seluruh barang bawaan. Teman seperjalanan sudah duluan menuju dermaga tapi saya urung meninggalkan kapal. Saya menundukkan kepala, lalu menyentuh air laut. Mungkin  agak sedikit berlebihan, saya memercikkan air laut ke wajah berusaha meyakinkan kalau saya di Raja Ampat.
Mengapa saya masih belum percaya tiba di destinasi impian itu? Inilah sekelumit cerita. Saya tengah merayakan pergantian umur ke-22 di pos III, tak jauh dari puncak Gunung Kerinci. Dalam pendakian menuju pos itu, saya nyaris mati tersambar petir. Jaraknya hanya 15 meter dari tempat saya berteduh. Dini hari menjadi saat mengharukan bagi saya, tak ada lilin ulang tahun, kue, atau ucapan dari kekasih. Hanya ada secangkir kopi untuk bertiga, sahabat pendakian, dan lantunan doa. Sebagai seorang pejalan, memasukkan kata Raja Ampat dalam harapan tempat yang harus dikunjungi sebelum mati adalah sebuah keharusan. Begitu pula doa saya dini hari itu, Azim, sahabat saya, berseloroh, “Doanya yang banyak, mumpung kita diketinggian. Jadi, Tuhan dengar doanya lebih cepat.”
“Zim, kau benar kawan!” saya berguman dalam hati kemudian berlalu menuju penginapan kami di Raja Ampat.

“Selamat datang di Pulau Mansuar. Silakan Mas, ini handuk dan jusnya,” staf di penginapan kami menawarkan keramahan. Di pulau ini, aura keramahan dan ketenangan adalah sajian mutlak. Lupakan ingar-bingar perkotaan yang sesak, tak ada polusi udara dan suara yang membisingkan telinga. Di balik pohon mangrove dan kelapa yang menaungi tepian lautnya, hanya ada ketenangan. Di daratan, sumber suara hanya tiga: manusia yang berbicara, deburan ombak yang pecah di pantai, serta gesekan pohon yang digoyangkan angin.

Kami meregangkan badan sembari bersantai di tepian laut. Beberapa meter dari tempat saya duduk, kegaduhan mulai terlihat. Kawanan ikan berenang ke sana-kemari. Di pulau ini, ingar-bingar baru terasa saat kita berada di bawah laut. Bayangkan saja tempat ini adalah rumah bagi 1.300 spesies ikan dan 75% jenis terumbu karang dunia terhampar di kedalaman lautnya. Hanya di sini keramaian ikan yang melesat di belantara terumbu tersaji indah, kegaduhan yang berkesan.

Di kejauhan, Pulau Waigeo, tempat Wallace meneliti keanekaragaman hayati terlihat jelas. Di situlah Wallace menemukan cenderawasih yang menghebohkan dunia barat kala itu. Burung surga itu mampu memikat siapa saja karena rupanya yang menawan.

Sore ini tim kami akan melakukan penyelaman pertama “Kita dive check dulu ya. Tak jauh-jauh, kita nyelam-nya di dermaga saja.” Ken, divemaster asal Manado yang akan memandu penyelaman memberikan arahan. 

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Cahyo Alkantana, seorang petualang, bersiap lepas landas menggunakan paramotor di Pulau Mansuar.

Saya tidak bergabung dengan penyelaman pertama. Bersama Cahyo Alkantana, seorang petualang dan videografer bawah air, kami beranjak ke perkampungan penduduk di dekat penginapan. Tujuannya, mencari pantai yang bentangannya lumayan panjang sehingga paramotor (paralayang yang ditambahkan mesin) dapat mengudara.

Warga Desa Kurkapa berbondong-bondong melihat kami yang bersusah mayah merentangkan parasut. Setelah tali-temali kusut sudah terjalin benar, sekarang saatnya menunggu angin dari arah berlawanan yang akan membantu parasut mengembang di udara.

“Yud, beri kode ya kalau parasutnya sudah sempurna untuk take off,” Cahyo memberi instruksi lewat radio komunikasi.

“Siap, Mas!” Saya menimpali sembari mengacungkan jempol.

Mesin paramotornya sudah menderu, tapi angin belum cukup kuat menerbangkan parasut. Saya melihat penanda angin yang kami pasang di tepian pantai. Tak seperti menunggu angin biasanya, kali ini menunggu angin datang berembus terasa membosankan. Seharusnya di pantai angin bertiup kencang, tapi tak berlaku di tepian Pulau Mansuar.

Angin yang kami tunggu setelah sekian lama akhirnya datang juga, parasut sudah terbentang sempurna.

Ready, Pak Cahyo.” Saya berteriak melalui radio.

Cahyo pun menggas paramotornya. Lalu, ia berlari menyisir pantai.

Sayang, aksi Cahyo harus pupus. Parasut yang sudah terbentang tersangkut di daun kelapa. Niat untuk terbang sore itu gugur sudah. Kami menarik parasut lalu melipatnya. Dengan raut kecewa, kami kembali ke penginapan.


Perayaan Natal akan berlangsung dalam hitungan hari, dermaga di Desa Arborek dipasangi umbul-umbul serta hiasan yang dibuat dari daun kelapa. Laut di sekitar dermaga Arborek sangat tenang. “Ini laut atau danau sih?” sebut Vitra Widinanda, yang mengurusi urusan pemasaran dan komunikasi majalah ini. Ia yang menjadi rekan perjalanan saya dan sekaligus pengatur acara. Kami memutuskan berkeliling di Desa Arborek, sementara rekan lain telah ‘lenyap’ di kedalaman laut.
Pagi itu, penduduk dari Pulau Waigeo di seberang Arborek bersiap pulang menuju ke desa mereka. Semalam ada kebaktian di Gereja Eben Haezer, satu-satunya gereja yang ada di Arborek. Perahu kayu sepanjang sepuluh meter itu penuh dengan penumpang. Penduduk desa beramai-ramai melepas kepulangan mereka. “Wuuuuu… wuuu… wuu!” Teriakan itu sontak menarik minat saya untuk ikut berteriak dan melambai-lambaikan tangan. Penduduk desa tertawa, saya balik tertawa, hasilnya kami berteriak sembari tertawa melepas kepulangan mereka.

Penduduk Arborek sebagian hidup sebagai pengerajin. Hasil kreasi mereka berupa topi dengan motif baw–sebutan warga untuk manta–menjadi daya tarik dari kerajinan tangan karya penduduk desa. Arborek pun merupakan satu dari beberapa desa wisata yang ada di Raja Ampat.

Sebagian besar masyarakat yang hidup di kawasan Raja Ampat masih menjalankan tradisi-tradisi yang erat kaitannya dengan kelestarian alam. Salah satunya adalah sasi, sebuah tradisi yang melarang warganya untuk menangkap ikan dan aneka hewan laut dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Tujuannya, tentu sudah jelas, upaya pelestarian terhadap kekayaan laut mereka. Dan yang terpenting, bahwa tradisi juga bisa diselaraskan dengan upaya konservasi. 

Usai dari Arborek kami menuju titik selam: Manta Point. Di sini lah tempat favorit bagi para penyelam untuk melihat atraksi ikan-ikan manta dengan sayap hingga tiga meter panjangnya. Kapal kami melepas sauh di perairan dangkal tak jauh dari Manta Point. Setiap orang mulai memasang perlengkapan selam dan memastikan semua bekerja dengan baik.

Kami mulai turun perlahan-lahan menuju dasar laut, beberapa penyelam sudah lebih dulu tiba di cleaning station-nya pari manta di kedalaman 15 meter. Namun bagi penyelam, tempat ini menjadi panggung untuk melihat tarian ikan yang dalam penerawangan saya mirip tokoh hantu dalam film horor. Bagaimana tidak, warnanya kelam di bagian atas tapi putih di bagian bawah. Mulutnya menganga lebar dengan sayap panjang, belum lagi ekornya yang tidak sebanding dengan ukuran badannya.  

Pada penyelaman ini, kami berjumpa tiga manta. Masing-masing berputar mengitari batu karang berukuran kurang lebih dua meter yang ada di permukaan laut. Satu manta dengan lebar sekitar tiga meter berhenti tepat di muka saya. “Hei Bung, jangan melongo saja!” saya seakan mendengar teriakan manta, tubuh saya kaku melihat kepakan sayap manta yang berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah. Benar-benar gila bagi saya yang baru pertama kali melihat manta secara langsung.

Hari ketiga di Raja Ampat, saya seharusnya melakukan pengamatan burung, mengintip aksi si cenderawasih di Pulau Waigeo. Namun kegiatan itu urung saya lakukan, kemudian memilih untuk ikut penyelaman. Titik selam pertama pagi itu adalah Cape Kri. Letaknya tak jauh dari penginapan kami. Ken menjadi yang pertama turun, lalu kami menyusulnya. Di sini kami menemui kawanan ikan barakuda, hiu sirip putih, napoleon, dan lainnya.

Tak jauh dari Cape Kri, kumpulan karang yang tak terlalu luas muncul dari permukaan laut. Inilah titik penyelaman berikutnya, Mike’s Point. Berbeda dengan Cape Kri yang tenang, tempat selam ini arusnya cukup keras.

“Yud, hati-hati arus laut lumayan kuat. Jangan sampai terseret ke karang,” Ken mengingatkan. Saya memberi isyarat dengan telunjuk dan jempol yang dibentuk menyerupai huruf O sebagai pertanda.

Saya melakukan back roll entry dan “Byuuurrr,” Benar saja, arus cukup kuat membawa tubuh saya hanyut ke arah karang, dengan cepat saya berusaha mengendalikan keseimbangan. Saya mengambil jeda, membersihkan lalu memasangkan mask, kemudian mengenakan regulator.

Saya mengurangi udara di BCD secara perlahan-lahan. Tubuh saya mulai tenggelam ke dalam rimba laut Raja Ampat. Inilah titik penyelaman yang membuat saya terkesima, taman bawah laut yang dipenuhi karang lunak ini semakin sempurna dengan hadirnya aneka rupa ikan.

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Warna-warni terumbu karang di titik penyelaman Cape Kri. Ini hanyalah sebagian dari banyak jenis terumbu karang yang dapat ditemukan di perairan ini.
Saya mengikuti penyelam lain, sebelum laju terhenti oleh kehadiran seekor penyu sisik. Di sini pula kami bertemu hiu, ukurannya tidak terlalu besar. Tapi lebih dari cukup untuk menambah pengalaman kami melihat berbagai macam biota yang hidup di perairan ini. Kami mengakhiri penyelaman di Kuburan Reef, saat petang sudah datang. Di tempat ini kami menemui kelinci laut dan kuda laut kerdil.

Suasana makan malam sama hebohnya dengan malam sebelumnya. Namun, kali ini saya adalah pendosa yang harus di sidang atas ‘kejahatan’ yang tidak saya ketahui. Ceritanya begini. Nicholas Saputra mendapati saya menabrak seekor kuda laut kerdil yang ukurannya sangat kecil “Yud, lu harus tanggung jawab. Nyerocos ke sana-kemari. Lu sadar gak, kalau lu udah nabrak pigmy sea horse lagi menyeberang. Sudah renta pula,” Nico menghakimi saya.  

Hujatan demi hujatan dalam suasana bercanda saya terima dengan lapang dada. Rekan perjalanan lainnya, mulai dari Zamroni, Indra, Husni, hingga Ucu rekan turut menimpali. Saya tidak punya kekuatan untuk membela diri. Saya membatin, di perairan dangkal Raja Ampat nan kaya, sulit sekali bagi saya melihat satwa laut sekecil itu.

Raja Ampat memiliki lebih kurang 2.500 pulau dan gugusan karang. Selama pelawatan di Raja Ampat, saya bahkan tak sampai mengunjungi 1% kawasan ini. Terlalu luas dan beraneka ragam biota yang bisa ditemukan di tanah ini. Daerah ini pun dideklarasikan sebagai kawasan perlindungan hiu dan manta, tak main-main luasnya mencapai 46.000 km persegi. Ini bisa menjadi awal untuk mengurangi pembunuhan hiu secara masal yang ditangkap dari perairan Raja Ampat.

Penetapan kawasan pelestarian ini setidaknya membawa angin segar bagi saya yang terpukau oleh hiu sirip putih yang bebas berenang di dermaga Wayag. Hari terakhir dalam perjalanan ke Raja Ampat, kami sempatkan menuju puncak Wayag. Dibutuhkan waktu lebih dari tiga jam menggunakan kapal cepat untuk mencapai gugusan karst yang memukau ini. Jika menggunakan kapal kayu, mungkin akan memakan waktu lebih lama.

Wayag, cenderawasih, serta kekayaan perairan dangkal Raja Ampat telah menjadi daya pikat utama dari tempat ini. Namun upaya pelestarian kawasan yang berkelanjutan adalah hal terpenting dari sekedar menjual keindahan lanskap dan pemandangan bawah laut semata. Dan, saya pun terpikat pada nirwana di timur Indonesia ini. Paling penting, doa saya terkabul! 

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Inilah pemandangan ikonik yang mengangkat pamor Raja Ampat di mata dunia selain bawah lautnya yang kaya oleh ikan dan terumbu karang. Wayag nan indah dipenuhi pulau-pulau karst dikelilingi laut jernih.

2 komentar:

  1. Gatewee is Social Network about traveling that you can use to share about tour & travel experiences. Also that is related with it like culinary, panorama, hotel, etc.

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda yang mengenai "Terpikat Raja Ampat".
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata yang bisa anda kunjungi di Pariwisata Indonesia

    BalasHapus