Berau, Senandung Alam Tanah Borneo

9/08/2014 05:45:00 PM Yunaidi Joepoet 1 Comments


Ayo, lompati Derawan, Kakaban, dan Maratua! Ikuti langkah saya menyusuri keindahan yang tak terduga di ujung tenggara Berau.


Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Saat laut surut, Pantai Teluk Sumbang nan datar menyisakan hamparan pasir putih serta akar-akar yang dipayungi pohon rindang (kiri). Sibung Lepa (80), warga Dayak Kenyah Badeng menjaga tradisi telinga panjang (kanan).
 “Bapak Bupati yang menghormati saya, Bapak Camat yang menghormati saya, dan para tamu yang menghormati saya…” Jasmin menirukan pidato sang kepala desa. Prosesi penyambutan itu belum berhenti menggelitik. Spanduk sambutan yang bertuliskan “Selamat datang Bapak Bupati dan gerombolan” memecahkan hening pagi dengan tawa bahak kami. Guyon kami tak henti, dari landasan pacu pesawat, soal bupati yang jago memanjat pohon, hingga pidato absurd kepala desa yang sangat fasih ditirukan oleh Jasmin.

Sekali lagi kenalkan, namanya Jasmin. Dialah teman baru saya. Namun jangan tertipu, saya berani bersumpah rupanya tidak secantik para personel girlband JKT48 dan yang terpenting teman baru saya ini lelaki sejati. Perawakannya tinggi besar, rambutnya botak, dari kejauhan terlihat seram namun jika berbicara tak akan lepas dari canda tawa. Kata orang-orang, biar tampang sangar tetapi hatinya selembut mawar.

Saya dan Jasmin membuka pagi di warung kopi milik Hj. Saodah. Sebenarnya kami sudah berada di warung ini sedari gelap masih menyergap langit desa. Fajar menjelang, kami pun asyik mendengarkan ayam berkokok. Akhirnya persis satu meter di depan saya seekor sapi mengais makanan di tong sampah. Mentari menyambut pagi, anak-anak berseragam mulai meniggalkan rumah mereka menuju sekolah.

Inilah Desa Bidukbiduk di Kecamatan Labuan Kelambu. Tempat ini menjadi petualangan saya dalam beberapa hari. Letaknya, di pantai timur Pulau Kalimantan dan berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi. Di sini, pasokan listrik tidak akan menjamin penerangan akan menyala semalam suntuk. Ah, bukan masalah. Saya akan dapat keramahan warga desa dan kehidupan yang hangat, jauh dari ingar-bingar kota.

Butuh waktu enam jam perjalanan darat menuju Desa Bidukbiduk dari Tanjung Redeb, ibu kota Berau, Kalimantan Timur. Bagi pejalan, tentunya nama Berau sudah tidak asing lagi dengan pesona baharinya. Pulau-pulau seperti Derawan, Kakaban, Maratua, dan Sangalaki kaya akan biota laut dan lanskapnya. Hal inilah yang memikat para pejalan untuk datang berkunjung. Namun tak banyak yang tahu, selain pulau-pulau tersebut masih ada hal alami dan menarik dari Berau. Inilah nirwana tersembunyi di kaki langit Borneo.

Perahu yang saya tumpangi menjauh meninggalkan dermaga desa. Lengkingan mesinnya membuat marah burung-burung yang bernyanyi di balik pepohonan pagi itu, juga kera-kera berloncatan saat perahu kami menyibak air nan tenang di Teluk Labuan Cermin. Jelas satwa itu merasa terusik dengan kehadiran kami.  
Saya dan beberapa orang teman bergerak menuju tempat yang mebuat kita berdecak. Masyarakat lokal menamainya Danau Labuan Cermin. Saya terkecoh menganggap tempat ini sebuah danau yang sebenarnya merupakan teluk, sama seperti halnya saat saya bertanya kepada warga Tengarong, mereka menyebut sungai dengan sebutan laut.

 
Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Melewati pagi nan hangat di Teluk Labuan Cermin. Mentari memunculkan kabut-kabut dari hutan yang mengelilingi teluk. Di tempat ini alam memeluk siapa saja untuk berdiskusi.
Teluk Lebuan Cermin dikelilingi belantara tropis. Pohon ulin, bengkirai, meranti, dan berbagai jenis pohon khas Kalimantan berdiri kokoh memayungi tepiannya. Pagi ini kami sengaja mengulang kunjungan ke sini, menikmatan kabut pagi yang menguap dari permukaan danau. Lalu menyaksikan pohon-pohon yang bernapas mengeluarkan uap-uap segar. Melihat ke bawah, terlihat jelas ikan-ikan berenang bebas di dalam teluk. Airnya jernih laksana cermin.

Saya melompat ke dermaga apung yang sengaja dibuat sebagai tempat berlabuh perahu. Tak jauh dari tempat ini, dua pohon besar condong ke arah teluk. Di sinilah tempat terbaik untuk melepas pandang ke sekitar area teluk. Meresapi wangi alam yang sebentar lagi melayang bersama hangat surya. Ini kali kedua kelakuan saya seperti bocah, duduk mengangkangi batang pohon sembari melihat dasar teluk yang persis di bawah saya.

Kemarin sore saya dan kawan sudah membenamkan diri di dalam air Teluk Labuan Cermin yang bening. Kami juga sengaja membawa perlengkapan selam dari Berau untuk menikmati dunia bawah air tempat ini. Menyelam di tempat seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Sungguh, sebuah pengalaman tak terlupakan.  

“Wah di dalam menarik, ini saya sudah beberapa kali menyelam disini tapi gak puas-puas,” ungkap Arief salah seorang teman dari Berau Coal Diving Club. Apa yang diungkapkan Arief memang benar, bukan terumbu karang berwarna-warni yang bisa dinikmati dari aktivitas penyelaman disini, tapi sensasi menyelam di air dua rasalah yang membuatnya istimewa. Air asin bersumber dari air laut yang mungkin masuk dari celah daratan saat pasang surut, sementara air tawar berasal dari mata air yang ada di sekeliling teluk serta Danau Labuan Kelambu yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat ini.  


Lihatlah, di depan saya tebing curam setinggi 20 meter. Di tengah tebing, air mengucur deras. Orang lokal menyebut tempat ini dengan nama Air Terjun Bidadari. Tak ada bidadari hari itu, kecuali saya dan teman-teman. Kami bersenang-senang,  awalnya sekedar berenang, tapi ide untuk terjun bebas memompa adrenalin untuk melakukan sesuatu yang menantang.

Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Fiona Callaghan menyisir tebing Air Terjun Bidadari untuk menuju titik loncat yang menantang. Pantai hanya berjarak 100 meter dari air terjun ini.
Teman perjalanan saya, Fiona Callaghan, menjadi bintang siang itu. Tanpa ragu, dara ini meniti tepian tebing sembari memegangi akar pepohonan. Ini akan menjadi momen yang menarik, menyaksikannya meloncat dari ketinggian. Hasrat petualangan Fiona membuat kami para lelaki berdecak. “Oaaaa…” teriakanya kemudian menghilang beberapa detik sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan air. “That’s was so fun...” suaranya memecah keheningan kami. Kami semua terkekeh, lalu ikut terjun satu persatu.

Air terjun ini mengalir ke Pantai Teluk Sumbang. Alirannya membelah pasir putih, menyisakan semacam sungai kecil yang menghilir hingga laut. Saya mengunjungi pantai ini saat surut, dan beruntung bisa berjalan hingga ke tengah.

Mayoritas penduduk yang mendiami Desa Teluk Sumbang adalah orang Banjar yang menghuni bagian pesisir dan Dayak Basab yang tinggal lebih ke arah perbukitan. Bagi saya ini sudah cukup memberikan gambaran tentang mata pencaharian masyarakat. Orang Banjar hidup sebagai nelayan, dan orang Dayak Basab bekerja sebagai petani.

Bersama beberapa kawan, saya mengarahkan langkah menuju perkampungan Dayak Basab. Dari bibir pantai, kami berjalan kaki setengah jam untuk tiba di tempat tujuan. Sebuah perkampungan yang tak terlalu luas, hanya ada beberapa rumah yang mengelilingi lapangan hijau nan luas. Di perkampungan Dayak Basab ini, rumah ditinggikan satu hingga dua meter dari permukaan tanah, dibawah rumah dijadikan kandang untuk hewan ternak.


Jembatan kayu sepanjang 100 meter membentang di atas Teluk Labuan Kelambu. Beberapa pondasi sudah mulai miring dan lapuk dimakan usia. Gemuruh kayu menggema saat kendaraan melintas di atas badan jembatan. Namun itu tak membuat ciut nyali warga desa untuk melintas menuju seberang.

Dari atas jembatan, saya melepas pandang ke arah laut melihat puluhan kapal melepas sauh. “Gelombang lagi tinggi mas, melautnya ditunda dulu,” ujar Hamid seorang nelayan yang mengurungkan niatnya mencari ikan. Masalah cuaca menjadi salah satu kendala bagi warga yang hidup di pesisir dalam mencari nafkah.  

Mayoritas warga Desa Bidukbiduk berprofesi sebagai nelayan. Untuk mengisi waktu senggang saat tidak melaut, beberapa kelompok nelayan memperbaiki jaring yang rusak, memoles lambung kapal, dan tentu saja bercengkrama dengan keluarga.

Saya menemui Said Abu dan anaknya Supri, orang Mandar yang sudah lama tinggal di Desa Bidukbiduk. Suku Mandar mahsyur sebagai penjelajah laut nan ulung. Namun kali ini saya tidak menemuinya sebagai pelaut, tapi sebagai pembuat kapal tradisional.

Abu telah menekuni pekerjaan sebagai pembuat kapal sejak 40 tahun silam. Keahlian membuat kapal tradisional ini didapati secara turun-temurun. Kapal yang dibuatnya diperuntukkan sebagai kapal penangkap ikan, namun ada juga yang digunakan untuk berlayar. “Semuanya tergantung pesanan, Mas. Kalau ada gambar kita bisa bikinkan tapi tetap pengerjaannya secara tradisional,” ujar Abu saat saya tanyai tentang siapa yang memesan kapal darinya. “Kapal ini sudah sebulan saya kerjakan, mungkin tiga bulan lagi selesai,” Abu menjelaskan lama pengerjaan untuk satu kapal hingga bisa dibawa melaut.

Saya memperhatikan tangan-tangan telaten Abu dan Supri memahat kayu kapal. Orang-orang Mandar di Desa Bidukbiduk, ataupun orang Dayak di Teluk Sumbang adalah satu dari beberapa suku yang mendiamin pesisir Berau. Hidup selaras dengan alam dan tetap menjaga tradisi adalah salah satu pelajaran yang bisa saya dapati selama perjalanan ke desa ini. 

Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menjelang senja, sekelompok pemuda menjaring ikan di Teluk Sulaiman, tak jauh dari Pos TNI AL. Di seberangnya, kawasan mangrove Sigending menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Tanpa diminta dan tanpa imbalan materi, masih banyak masyarakat kita yang menjadi tradisi dan nilai-nilai luhur mereka. Keramahan, toleransi, dan konsistensi menjaga alam dan warisan leluhur setidaknya mengajarkan kita bahwa seharusnya kita belajar dari mereka yang tidak mengeluh dan menyesali hal-hal buruk tentang manusia dan kehidupannya. Nah, inilah saatnya kita kemasi bekal, datangi, dan lindungi surga yang masih tersisa di kaki langit Kalimantan ini. Setuju, kawan?