Embara di Bumi Sakura, Hiruk Pikuk Nan Damai

8/10/2014 09:26:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Inilah negeri dimana para Oiran dan Sakura didambakan para pencari ketenangan. Jutaan orang berbondong-bondong tiap tahunnya. Mendaki gunung suci bersalju lalu berjalan di antara bangunan pencakar yang rentan dihoyak gempa. Inilah daratan yang dikelilingi lautan. Orang-orang menyebutnya negeri matahari terbit. Membentang dari barat Samudra Pasifik dibawah Siberia hingga ke selatan yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Dengan pulau sebanyak 6.852 maka tak salah negara ini menjadi salah satu negara kepulauan terbesat di planet bumi.



Bagi para pejalan seperti saya, memasukkan Jepang kedalam destinasi yang wajib dikunjungi tentunya akan penuh dengan tantangan. Bagaimana tidak, meskipun beberapa penerbangan berbiaya murah melayani rute penerbangan dari Indonesia ke Jepang, serta pemberlakukan bebas visa bagi WNI yang akan memasuki Jepang beberapa waktu silam. Namun semuanya tak semudah itu. Jepang adalah salah satu negara paling berhasil dimuka bumi. Sempat porak-poranda dihantam bom atom saat perang dunia, negara ini bangkit dan mampu menjadi salah satu penguasa ekonomi dunia.



Inilah salah satu permasalahan dari negeri impian untuk saya kunjungi ini. Kemajuannya dalam bidang teknologi dan perekonomian tentunya berbanding lurus dengan biaya hidup perjalanan selama disana. Saya mengambil contoh negara tetangga kita. Negara kecil di utara Pulau Batam yang berhasil menasbihkan diri sebagai negara termahal di dunia, Singapura. Tentu ini tak lain dan tak bukan akibat perekonomian negara ini sudah sangat maju.



Begitu pula dengan Jepang. Bagi saya seorang pejalan tentunya butuh keberanian untuk menghadapi tantangan berupa dana terbatas untuk tetap mengeksplorasi keindahan negeri Sakura dari hiruk pikuk kotanya hingga pedesaan yang memukau. Hanya ada dua pilihan, in or out? Dan saya mampu meyakinkan diri saya. Im in! and this is time for Japan!



Sebuah destinasi di Jepang sudah saya pilih. Tokyo dan sekitarnya!



Sebuah kota metropolitan dengan hutan beton pencakar langit yang tersebar di berbagai penjuru kota menjadi pintu masuk saya. Inilah rumah modern tempat teknologi dikembangkan. Mengakali ongkos transportasi, pilhan terbaik bagi saya adalah mencari penerbangan promo yang disediakan oleh berbagai macam maskapai. Juga mencoba mencari kemungkinan untuk terbang langsung dari Jakarta ke Tokyo tapi dengan mencari penerbangan promo ke Kuala Lumpur ataupun Changi lalu dilanjut ke Bandara Narita, Tokyo.



Tak masalah untuk menunggu lama di kedua bandara ini, selain fasilitas yang menarik tentu banyak hal yang bisa dilakukan. Dan yang paling penting saya bisa menghemat banyak uang untuk biaya transportasi yang mungkin bisa saya gunakan selama menjelajah negeri sakura.



***

Tak berkah rasanya jika saya tidak memasukkan Sensouji dalam daftar kunjungan. Inilah kuil yang tentunya memberikan tawaran berbeda dari Kota Tokyo. Dibangun tahun 628, kuil ini memiliki arsitektur yang unik dengan lokasi di tepi Sungai Sumida. Kaminari-Mon akan menyambut para pengunjung yang datang. Juga lampion yang bersanding dengan patung Raijin dan Fuujin.  Berdoa di kuil untuk keberkahan dan kemudahan perjalanan selama di Jepang tentu akan membuka petualangan di negeri ini.



Saya tentunya sangat senang menjajal wisata berbentuk apapun. Mendaki gunung, menyusuri lorong kota, menyelam, ataupun mencoba atraksi yang menantang. Namun jika di Tokyo, salah satu hal yang tak mungkin saya lewatkan adalah menyaksikan Tokyo dari ketinggian. Butuh keberanian, terutama jika para pengunjung mengalami trauma ketinggian. Namun ini harus diputuskan, hilangkan trauma! Dan inilah saatnya memanjat di Tokyo Tower demi mendapat rasa bagaimana majunya negeri ini.



Bagi saya sendiri, Tokyo Tower merupakan pelajaran yang diberikan Jepang kepada para pengunjung. Bagaimana negeri ini mampu bangkit setelah perang. Inilah Nippon Denpato berketinggian 333 meter. Simbol kebangkitan negeri matahari terbit.



            Tokyo Tower dan Kuil Sensouji setidaknya sudah memberikan saya waktu yang cukup untuk memutuskan inilah saatnya menggapai yang lebih tinggi. Apalagi kalau bukan Fuji-san setinggi 3.776 meter. Butuh dana, waktu, dan tentunya kemauan keras untuk mengakrabi gunung ini. Kesalahan kecil saat mendaki tentu akan berakibat fatal. Saya yakin semuanya harus direncanakan dengan sempurna. Kadang dalam perjalanan seperti ini, kebimbangan tentu akan mendera.



            "Untuk apa mendaki gunung bikin badan sakit-sakit. Sudah sampai di puncak, kemudian turun lag. Ngapain coba?" tentu pertanyaan ini selalu muncul. Belum lagi mungkin diperjalanan akan ada terkilir, kedinginan, seorang diri tanpa teman, juga soal keamanan saya saat mendaki. Tapi tentunya jika dijawab dengan alasan yang cukup kuat dan masih ada pertanyaan in or out? Maka dengan yakin hati saya menjawab in!



            Bagaimana tidak. Saya meyakinkan diri menempatkan diri bukan sebagi orang asing saat mengakrabi Fuji-san. Saya akan berusaha menjadikan diri ini melebur degan dinginnya hawa di kaki gunung serta hangatnya senyumwarga lokal. Jalur dari Yokoshida tentu menjadi salah satu jalur yang masuk dalam perencanaan saya. Ini menjadi pendakian gunung yang menarik bagi saya diluar negeri, karena dimulai saat dinihari.



            Meskipun jalur pendakiannya sudah sangat baik, namun bagi pendaki pemula ini lumayan sedikit berat untuk treking. Namun pengalaman mengesankan ini akan saya rasakan saat tiba di puncak. Mendaki puncak suci di negeri matahari.



            Tak luput dari lawatan adalah Gunung Takao yang sudah menjadi destinasi ziarah sejak 12 abad yang lali. Ini akan menjadi lorong waktu untuk masuk ke dalam Old Japan. Tak terlalu sulit untuk mencapai tempat ini, hanya membutuhkan waktu satu jam dari stasium Shinjoku.



            Disinilah saya akan menemukan spritual Jepang yang masih terjaga. Berjalan bersama para pertapa Budha menuju Kuil Yakuo-in. Pagi yang cerah, di atas ketinggian 599 meter, pemandangan Kota Tokyo dan Gunung Fuji akan mencerahkan. Tentu ini akan menjadi wisata alam dan spiritual yang menarik yang berbeda dari Tokyo yang supersibuk.



***



Begini, saya memutuskan untuk merangkak naik dari Tokyo dan memilih sebuah negeri di utara. Ini tentunya akan memberikan sudut baru dari perjalanan impian. Inilah hal yang tak biasa dilakukan oleh pejalan Indonesia saat diluar negeri. Saya berjudi dengan waktu dan duit yang terbatas. Dari Stasiun Tokyo saya mengambil kereta Shinkasen menuju Morioka tempat impian yang akan menawarkan sensasi petualangan yang berbeda, Kitakami.



Inilah daerah dengan iklim panas dan dingin yang kontras di wilayah pegunungan. Di pegunungan Geto, salju menjadi landasan pacu yang tepat untuk bermain ski (snowboard). Oh iya, di kawasan Koiwai Shizukuishi ada pula festival salju. Saya ingin menyantap makanan di kamakura, warung yang dibangun dari salju. Bisa dibayangkan sensasinya?



Satu yang tak akan lewat di daftar rencana perjalanan saat mengeksplorasi kota di utara Tokyo ini ini adalah berendam air panas di Osawa Onsen. Ini salah satu kegiatan menarik, menghangatkan diri di alam terbuka.



***



Tokyo dalam pikiran orang tentu sebuah kota modern yang sangat maju. Itu benar. Namun saya memasukkan destinasi wisata alam nan berbeda dari sebuah kota metropolitan. Juga tentu hal-hal yang berkaitan dengan seni akan sangat menarik disambangi. Termasuk melihat hiburan dari seorang Hoiran yang cakap dalam hal chado (upacara meminum teh), ikebana (seni merangkai bunga), dan tentunya merangkai bunga. Tak lupa pula kepintaran dan kecantikan menjadi daya utama dari seorang oiran.


            Jadi, inilah saatnya menjajal sisi lain kota nan penuh hiruk pikuk ini namun penuh dengan kedamaian alam dan melebur menjadi masyarakat lokal. Jadi, in or out untuk melihat Tokyo yang berbeda? Im in! Inilah cara baru melihat Tokyo dari sisi alam dan budayanya yang tak biasa bukan hanya sekedar kemajuan teknologi dan pembangunannya.

note: tulisan ini diikut sertakan dalam ajang in our out, tentang pengambilan keputusan rencana perjalanan idaman ke Tokyo.

   

0 komentar: