Bertaruh Nyawa di Bukit Samba, Ende - Flores

8/14/2014 06:53:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Di utara Kota Ende, puluhan orang berjibaku dengan maut. Memecah batu yang bisa saja membunuh mereka, namun resiko ini dihiraukan demi menghidupi keluarga. Terletak delapan kilometer arah utara Ende menuju Nuabosi. Inilah catatan saya saat mengunjungi para penambang batu dan pasir di Bukit Samba, Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ende, Flores, Soekarno, People of Flores, Orang Flores, Pulau Ende, Kelimutu, Budaya Ende, Budaya Flores, Life in Flores Island, Bukit Samba, Mining, Traditional Mining, Sand Mining, Tambang Pasir, Penambangan Tradisional, Patung Soekarno, Mata Pencaharian, Masyarakat Indonesia, Flores, Flores Island, Kelimutu, Danau Kelimutu, Kelimutu Lake, Savu Sea, Sawu Sea, Laut Sawu, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Yoris warga Desa Samba beristirahat sejenak sebelum melanjutkan aktivitas penambangan pasir dan batu di Bukit Samba, Ende, Flores, NTT. Meski dilarang pemerintah, penambang batu dan pasir menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian warga Desa Samba.
Saya menginjakkan kaki di Kota Ende setelah perjalanan udara Jakarta - Kupang - Ende. Selalu ada yang mengesankan dari pulau ini. Juga dengan kota yang saya kunjungi ini, Ende. Sebuah kota yang sempat menjadi tanah pengasingan presiden pertama negeri ini, Ir. Soekarno.

Laut Sawu di bagian selatan dan Laut Flores di bagian utara mengapit Kabupaten Ende. Kotanya sendiri dikelilingi perbukitan menjulang. Dari tepian lautnya, saya memandang perbukitan. Saat sore, di bibir pantai saya melepas pantai ke arah matahari tenggelam. Melihat Pulau Ende nun jauh diseberang terlihat samar, sementara para nelayan baru mulai beranjak ke laut luas mencari tangkapan.

Saya mengawali pagi bersama kawan-kawan dari Taman Nasional Kelimutu. Hari ini tujuan kami tentunya tak ke Danau Kelimutu tempat dimana kawan-kawan saya bekerja. Tapi sebuah perbukitan di utara Kota Ende menjadi tujuan. Kami melaju menyusuri jalanan yang masih sepi. Melawati perkampungan penduduk lalu sebuah kuburan yang cantik dipandang berlatar kota dan lautan.

Deru mesin kendaraan yang saya tumpangi mulai meraung melewati jalanan dari Kota Ende menuju Nuabosi. Semakin lama posisi kami semakin tinggi. Hingga pada akhirnya saya bisa memandang kota ini dari ketinggian dengan latar laut nan luas.

Tak banyak lalu lalang kendaraan melewati jalanan kecil ini. Mungkin tak ada perkampungan yang cukup ramai atau sebuah jalan ini mungkin tak berujung di jalan lintas kabupaten.

***
Ende, Flores, Soekarno, People of Flores, Orang Flores, Pulau Ende, Kelimutu, Budaya Ende, Budaya Flores, Life in Flores Island, Bukit Samba, Mining, Traditional Mining, Sand Mining, Tambang Pasir, Penambangan Tradisional, Patung Soekarno, Mata Pencaharian, Masyarakat Indonesia, Flores, Flores Island, Kelimutu, Danau Kelimutu, Kelimutu Lake, Savu Sea, Sawu Sea, Laut Sawu, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Seorang penambang berjalan dengan latar tumpukan batu yang siap dipecah menjadi ukuran yang lebih kecil di Bukit Samba.
Kawan, sekarang di depan saya bukit tandus membentang. Batu-batu sebesar rumah menghiasi tepian jalan, juga tumpukan bongkahan batu, kerikil, serta pasir yang sudah menggunung. Inilah Bukit Samba yang menjadi ladang pencarian utama masyarakat di sekitar tempat ini.

Tak tahu pasti kapan bukit ini untuk pertama kali ditambang oleh masyarakat. Namun per saya dengan Simon mungkin bisa menjadi pencerah, bahwa penambangan di bukit ini sudah dilakukan sejak lama. Simon, pria berumur 55 tahun sudah mulai menambang sejak tahun 70-an.

Simon, potret salah satu penambang dari sekian banyak penambang yang menggantungkan diri dari Bukit Samba. Dari perbukita ini, Simon menghidupi kelima anaknya, satu diantara mereka berhasil menjadi sarjana. Sebuah perjuangan dan kerja keras yang mempertaruhkan nyawa demi orang tercinta.

Sama halnya dengan Simon, salah seorang penambang di Bukit Samba ini, Yohanes Rami sudah menambang sejak 20 tahun yang lalu. Hari iu bersama istrinya Katarina, Yohanes memecah bongkahan batu menjadi ukuran yang lebih kecil. Proses panjang untuk menghasilkan lembaran rupiah.

Ende, Flores, Soekarno, People of Flores, Orang Flores, Pulau Ende, Kelimutu, Budaya Ende, Budaya Flores, Life in Flores Island, Bukit Samba, Mining, Traditional Mining, Sand Mining, Tambang Pasir, Penambangan Tradisional, Patung Soekarno, Mata Pencaharian, Masyarakat Indonesia, Flores, Flores Island, Kelimutu, Danau Kelimutu, Kelimutu Lake, Savu Sea, Sawu Sea, Laut Sawu, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Tak hanya para pria, para wanita pun turut membanting tulang di Bukit Samba.
Ende, Flores, Soekarno, People of Flores, Orang Flores, Pulau Ende, Kelimutu, Budaya Ende, Budaya Flores, Life in Flores Island, Bukit Samba, Mining, Traditional Mining, Sand Mining, Tambang Pasir, Penambangan Tradisional, Patung Soekarno, Mata Pencaharian, Masyarakat Indonesia, Flores, Flores Island, Kelimutu, Danau Kelimutu, Kelimutu Lake, Savu Sea, Sawu Sea, Laut Sawu, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Dengan peralatan sederhana, para penambang membelah gunung demi lembaran rupiah untuk menyambung hidup.


Bongkahan batu ini tak langsung bisa dijual. Awalnya para penambang harus menggali tanah guna memudahkan mereka untuk memahat batu. Setelah batu dipahat dan didapatkan bongkahan, barulah proses penghancuran batu menjadi serpihan yang lebih kecil dilakukan,

"Tak…tak…tak," bunyi martil bertemu pahat sontak terdengar. Ini menjadi dendangan yang wajar saat berkunjung ke bukit ini. 

Proses penghancuran ini memakan waktu yang cukup lama. Semua dilakukan dengan cara manual. Tak ada mesin yang membantu pekerjaan mereka. Satu-satunya peralatan odern dalam penambangan disini adalah alat angkut yang akan membawa hasil jerih payah mereka untuk dijual kepada kaum berduit.

Untuk kerja keras ini, para penambang mendapat lembaran rupiah bervariasi. Hasil tambang berupsa sirtu dijual seharga Rp 500.000/truk. Batu kerikil dijual denga harga Rp 300.000-500.000/truk. Sedangkan pasir dijual dengan harga Rp 100.000/truk.

Mekipun kehadiran mereka dianggap ilegal oleh aturan daerah yang melarang penambangan batu tanpa izin. Namun tak ada pilihan lain bagi mereka. Beberapa kali penambang di Bukit Samba ini tersandung masalah dengan pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan alam dan sumber daya Kabupaten Ende. Namun ketiadaan solusi menjadikan mereka terus melakukan kegiatan ini.

Saya menemui Yoris saat rehatnya. Baju hitam yang digunakan terlihat basah oleh keringat. Yoris baru beberapa tahun lalu kembali ke Ende setelah menjadi tenaga kerja Indonesia di Negeri Jiran. Yoris disana menjadi buruh bangunan. Namun, anak istri yang ditinggalkan di Ende memaksa Yoris untuk pulang dan menyandarkan hidup di Bukit Samba.

Truk pengangkut hasil tambang masyarakat bersiap membawa sirtu, kerikil, dan pasir sebagai bahan bangunan rumah warga.
Ende, Flores, Soekarno, People of Flores, Orang Flores, Pulau Ende, Kelimutu, Budaya Ende, Budaya Flores, Life in Flores Island, Bukit Samba, Mining, Traditional Mining, Sand Mining, Tambang Pasir, Penambangan Tradisional, Patung Soekarno, Mata Pencaharian, Masyarakat Indonesia, Flores, Flores Island, Kelimutu, Danau Kelimutu, Kelimutu Lake, Savu Sea, Sawu Sea, Laut Sawu, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Laut Sawu yang mengelilingi Kota Ende dilihat dari Bukit Samba yang kian tandus.
Datang ke Bukit Samba adalah datang menghadapi kenyataan. Kenyataan dimana sebagian rakyat Indonesia masih berjuang keras untuk menghidupi perekonomian keluarga dengan cara yang benar-benar keras. Kesenjangan ekonomi perkotaan dan pedesaan, pembangungan yang kurang merata, dan tetunya lapangan pekerjaan yang tidak menyebar membuat orang-orang di desa ini harus membanting tulang.

Dari sebuah perbukitan kecil di Ende, saya menyadari begitu banyak hal-hal berharga yang bisa kita temukan di perjalanan. Tentang kerja keras dan semangat hidup tanpa keluh-kesah. Dan satu kunci dari semua hal tersebut adalah rasa bersyukur untuk segala sesuatu yang kita miliki.

0 komentar: