Nasu Sia, Pembuatan Garam Tradisional di Maliana, Timor Leste

7/17/2014 01:10:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Pembuatan garam tradisional di Kampung Sulilarang, Desa Aidabalaten, Subdistrik Atabae, Distrik Maliana, Timor Leste sudah berlangsung turun-temurun. Modernisasi tak menyurutkan semangat penduduk untuk memproduksi garam secara tradisional. Pembuatan garam atau dalam bahasa lokal dikenal dengan Nasu Sia dilakukan dalam beberapa proses. 


Pembuatan Garam Tradisional, Petani Garam, Salt Maker, Salt Making, Pembuatan Garam, Garam Tradisional, Traditional Salt Maker, Timor Leste, Dili, Bobonaro, Aimara, Aileu, Seloi Lake, Los Palos, Atambua, Cristo Rei, National Geographic Traveler, Tibar Beach, Fatucama, Timor Leste Image, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer
Di Desa Sulilarang, warga mengeruk tanah kering untuk diolah menjadi garam. Tradisi pembuatan garam secara tradisional ini sudah semenjak lama. 

Ini hari ke empat saya di Timor Leste. Perjalanan hari ini cukup panjang. Tujuan saya ke Bobonaro. Hari yang berat tapi cukup menyenangkan melakukan pekerjaan di Timor Leste. Meskipun agak sedikit kesal dengan fixer lokal yang telat 5 jam dari jadwal yang sudah disepakati.

Saya meninggalkan kawasan Mandarin di Kota Dili. Perjalanan saya menyisir pesisir Kota Dili, melewati jalan lintas Indonesia – Timor Leste. Jalanan di perlintasan antar negara ini cukup baik. Beberapa titik, malah sedang dilakukan perbaikan jalan. 

Topografi khas Timor langsung menyeruak saat kendaraan yang saya tumpangi melaju menuju barat. Pantai berpasir putih dikelilingi hamparan laut nan jernih menjadi pemandangan yang lumparah selama di perjalanan. Namun di tengah perjalanan, satu tempat kering tempat berdiri gubuk-gubuk kayu menarik minat saya untuk singgah.

Inilah Kampung Sulilarang di Desa Aidabalaten, Subdistrik Atabae, Maliana. Rumah-rumah sederhana menjadi pemandangan jamak yang saya saksikan disekitar tempat ini. Tak terlalu jauh, hamparan laut memagari tanah-tanah tandus disini. 

Saya bertemu dengan Joanico Tavarez, salah seorang pengerajin garam yang sudah menekuni pekerjaan ini sejak lama. Mujur bagi saya bapak berperawakan besar ini mau bercerita mengenai proses pembuatan garam. “Pembuatan garam ini karena tanah di Kampung Sulilarang ini mengandung unsur garam. Hal ini bisa dilihat saat air laut surut, butiran-butiran putih di permukaan tanah bisa terlihat di area pembuatan garam ini,” tuturnya dalam bahasa Tetun, bahasa sehari-hari masyarakat Timor.

Proses pembuatan garam disini dilakukan pada saat air laut surut dan tanah mengering. Para penduduk sekitar mengeruk tanah-tanah hingga membentuk gundukan. Tujuan pengerukan ini adalah mendapatkan lapisan atas tanah yang mengandung garam. Sedangkan gundukan tersebut dibuat agar tanah yang tadinya basah, cepat mengerik. 

Pembuatan Garam Tradisional, Petani Garam, Salt Maker, Salt Making, Pembuatan Garam, Garam Tradisional, Traditional Salt Maker, Timor Leste, Dili, Bobonaro, Aimara, Aileu, Seloi Lake, Los Palos, Atambua, Cristo Rei, National Geographic Traveler, Tibar Beach, Fatucama, Timor Leste Image, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer
Tanah-tanah dikeruk lalu dibiarkan terpanggang oleh matahari. Setelah kering, barulah tanah ini dibawa menggunakan keranjang ke tempat pembuatan garam.
Pembuatan Garam Tradisional, Petani Garam, Salt Maker, Salt Making, Pembuatan Garam, Garam Tradisional, Traditional Salt Maker, Timor Leste, Dili, Bobonaro, Aimara, Aileu, Seloi Lake, Los Palos, Atambua, Cristo Rei, National Geographic Traveler, Tibar Beach, Fatucama, Timor Leste Image, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer
Membawa tanah-tanah yang sudah mengering ke tempat pembuatan garam.
Gundukan tanah yang sudah mengering kemudian dibawa menggunakan keranjang yang dibuat dari daun lontar. Pembuatan keranjang ini dilakukan sendiri oleh para wanita di kampung. Kemudian tanah-tanah dibawa menuju tempat penyaringan (taikan). 

Taikan terbuat dari susunan kayu yang setiap tingkatan kayu dilapisi dengan anyaman daun nira. Penggunaan daun nira ini untuk menahan agar tanah yang dituangkan ke dalam taikan tidak jatuh berceceran. Penggunaan daun nira sebagai penahan tanah saat penyaringan sudah dilakukan semenjak dahulu dan masih bertahan hingga saat ini. 

Proses penyaringan dilakukan dengan menyiram air ke gundukan tanah di dalam taikan.  Air untuk menyiram tanah diambil dari lubang yang digali dengan kedalaman satu hingga dua meter. Penyiraman tanah dilakukan untuk mendapat saringan air yang bersih dan mengandung garam. 

Saringan air ini kemudian ditampung di dalam wadah. Dahulu antara taikan dan wadah penampung, di pasangi bambu untuk meneruskan air dari taikan ke wadah penampung. Namun saat ini penggunaan bambu sudah digantikan dengan plastik. 

Setelah melakukan penyaringan, didapatlah air yang akan di masak mendidih di dalam tasu, yakni wadah tempat memasak air. Proses memasak air tersebut berlangsung satu hari di ai matan atau tungku. Sekeliling pondok tempat memasak air ditutupi dengan niliana yakni daun nira yang sudah dianyam, gunanya adalah untuk melindungi pondok tempat memasak dari hembusan angin. 

Pembuatan Garam Tradisional, Petani Garam, Salt Maker, Salt Making, Pembuatan Garam, Garam Tradisional, Traditional Salt Maker, Timor Leste, Dili, Bobonaro, Aimara, Aileu, Seloi Lake, Los Palos, Atambua, Cristo Rei, National Geographic Traveler, Tibar Beach, Fatucama, Timor Leste Image, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer
Menyiram air ke tanah untuk mendapatkan saringan air yang akan dimasak.
Tavarez memasak air selama satu hari, lalu didapatlah butiran garam yang bote, wadah garam yang dianyam dari daun lontar. Garam produksi kampung ini sudah mengadung yodium. Sebelum pelatihan yang dilakukan salah satu lembaga di bawah naungan United Nations, garam dikampung ini belum mengandung yodium. 

Bagi saya pribadi, sangat menarik untuk melihat produksi garam di kampung ini. Penggunaan peralatan yang masih tradisional dengan cara yang konvensional turut menjadi pelajaran saat saya singgah melihat proses pembuatan ini. 

Rata-rata masing-masing petani bisa menghasilkan 20 Kg garam per hari. Hasil produksi garam dijual dipinggi jalan, ada juga yang dijual ke pasar terdekat. Harga perkarung yang ditawarkan para petani garam adalah USD 10. 

Pembuatan Garam Tradisional, Petani Garam, Salt Maker, Salt Making, Pembuatan Garam, Garam Tradisional, Traditional Salt Maker, Timor Leste, Dili, Bobonaro, Aimara, Aileu, Seloi Lake, Los Palos, Atambua, Cristo Rei, National Geographic Traveler, Tibar Beach, Fatucama, Timor Leste Image, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer
Garam-garam yang siap dijual dengan latar belakang ladang garam di Desa Sulilarang.
Bagi sebagian petani garam, mereka khawatir pembuatan garam dengan cara tradisional ini tidak akan mampu bertahan lama dengan perkembangan zaman. Terlebih lagi banyak generasi muda yang tidak tertarik lagi untuk belajar membuat garam dengan cara tradisional. 

Hal yang menjadi tantangan bagi penduduk lokal adalah kemampuan produksi yang tidak bisa maksimal jika masih menggunakan cara tradisional. Maka dari itu kordinator dari para petani garam di Desa Sulilarang, Paul Ximenes berencana untuk mengajukan bantuan kepada pemerintah agar para petani garam ini dibekali pelatihan memproduksi garam. Sehingga garam-garam di desa ini bisa diproduksi secara maksimal namun tidak mengkesampikan tradisi pembuatan garam secara tradisional yang sudah berlangsung turun-temurun.

0 komentar: