Festival Teater Tradisional Nusantara di Gedung Kesenian Jakarta

7/02/2014 02:14:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Seketika cahaya yang menerangi ruangan di Gedung Kesenian Jakarta meredup. Kegelapan menyeruak, kecuali panggung yang tirai merahnya mulai terbuka secara perlahan. Dibaliknya, aneka properti sudah diatur sedemikian rupa. Laksana kompleks perkampungan kecil, ada rumah dengan kursi kayu di depannya. Ada pula jemuran kain yang posisinya persih disebelah sumur yang perlu ditimba untuk mengambil airnya. 

Perlahan, pemain berdandan ala lelaki tua melintasi rumah dengan besikal tua. Kayuhnya terhenti tepat di dekat pendopo kecil, dimana para pemain musik sudah duduk menunggu. Gerak-geriknya menarik perhatian puluhan penonton yang datang saat itu. Inilah pertunjukan dari Gorontalo. Mengambil judul "Kasimu Motoro", lelaki tua ini mengajak para penonton masuk kedalam cerita melalui lisan terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan lakon dari para pemain. 

Kelompok teater tradisional dari Provinsi Jawa Tengah menampilkan cerita berjudul "Obahing Ledek Kasaputing Ratri". Festival teater tradisional ini diikuti 34 provinsi di Indonesia. Beragam cerita rakyat diangkat untuk dipentaskan dalam acara yang berlangsung dari 14-17 Juni 2014 di Gedung Kesenian Jakarta.
Seorang pemain teater tradisional dari Provinsi Jawa Barat melagakan cerita "Pancawani". Kritik terhadap pembangunan lahan hijau dan areal pertanian menjadi gedung-gedung bertingkat kentara dalam pertunjukan mereka.
Pesan sosial begitu terasa dalam teater ini. Setidaknya saya sudah lama tidak menyaksikan bagaimana perjudian menjadi masalah utama di masyarakat ekonomi menengah kebawah. Judi menjadi momok yang berbahaya. Penyakit masyarakat dan kriminalitas bisa muncul dari kegiatan ini. Kasimu Motoro berusaha menyampaikan betapa carut marutnya sebuah keluarga kecil akibat perjudian. Tragis, inilah yang menjadi akhir cerita. Buah hati mereka pun meregang nyawa, jasadnya dimasak oleh sang ibu untuk memenuhi permintaan suami yang doyan berjudi sementara ia tidak pernah memberi nafkah untuk sang istri. 

Saya menemui berbagai macam pertunjukan yang tak hanya menarik tapi juga memberikan pesan moral yang sudah lama tidak bisa kita dapatkan di televisi. Cerita rakyat dari daerah masing-masing diangkat dengan sangat baik oleh para pemain untuk dihadirkan kepada para penonton yang hadir dalam Festival Teater Tradisional di Gedung Kesenian Jakarta. 

Banyak dari kita mungkin sudah lupa bagaimana teater dipentaskan, atau jangan-jangan belum ada yang menyaksikan pertunjukan ini? Mungkin saja itu bisa terjadi mengingat bagaimana arus teknologi dan modernisasi merubah gaya hidup kita. Kita merasa malu untuk menyaksikan budaya asli negeri sendiri. 

Saya menemui kenyataan yang diluar dugaan. Festival Teater Tradisional di Gedung Kesenian Jakarta ini cukup mampu menarik minat generasi muda untuk datang. Tak hanya sampai disitu, sebagian pemainnya juga masih dibawah 30 tahun. Ini bisa menjadi angin segar bagi ruh teater tradisional kedepan. Setidaknya upaya penyelamatan budaya sudah dilakukan sedari dini dan dimulai oleh masyarakatnya sendiri. 

Berikut beberapa foto yang saya ambil saat Festival Nasional Teater Tradisional yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta dari tanggal 14-17 Juni 2014 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jendelan Kebudayaan. 



Pemain teater tradisional dari Jawa Tengah memainkan cerita berjudul "Obehing Ledek Kasaputing Ratri". Cerita ini berlatar belakang keluarga seorang pemain tayub.

"Kasimu Motoro" merupakan judul yang dibawakan oleh kelompok teater dari Provinsi Gorontalo. Suami yang suka berjudi menjadi tema utama cerita ini. Akhir dari cerita ini cukup tragis, dimana sang bauh hati mereka berakhir di piring makan si suami.

Pembawaan yang menawan dari pemain teater tradisonal yang mengangkat cerita "Kasimu Motoro". Teater tradisional tak kehilangan tajinya, selain cerita yang mengangkat budaya lokal, pesan moral turut diselipkan dalam pertunjukan nan memukau ini. 

Selalu ada yang bisa dibawa pulang. Menonton teater tradisional bukan hanya sekedar menikmati tutur khas lokal, tetapi pesan moral juga mampu disampaikan dalam dialog-dialog nan lugas.

Kritik terhadap rusaknya lingkungan juga ditampilkan dengan sangat baik. Teater tradisional dari Provinsi Jawa Barat ini membawakan pertunjukan yang menarik mengambil tajuk "Pancawani".

Pertunjukan "Boyo Pogut Podoyo" dari Provinsi Sulawesi Tengah mampu mengocok perut penonton.

Kisah Cinta Tanjong Martha dan Alfonso, dipertunjukkan oleh kelompok teater tradisional dari Provinsi Maluku.

Penampilan teater dari Provinsi Maluku.

Tangisan Marta pecah saat Fons mengabarkan berita kepulangannya kembali ke Batavia disaksikan oleh orang tua Martha.

Pendalaman peran yang mampu menghadirkan suasana tegang bagi penonton.

Penampilan memukau dari kelompok teater Provinsi Aceh.

Provinsi Papua Barat menampilkan "Sasimbiori". Teater tradisional dari barat Papua ini menjadi penutup Festival Teater Tradisional Nusantara di Gedung Kesenian Jakarta.

Semoga festival teater tradisional nusantara ini masih bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya. 

Semua foto diambil saat pertunjukan Festival Teater Tradisional Nusantara di Gedung Kesenian Jakarta . Menggunakan peralatan fotografi Canon 7D. Semoga bisa dinikmati.  

0 komentar: