Gunung Batur, Kirana Taman Bumi Di Tanah Dewata

5/02/2014 02:01:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments


Jarum jam menunjukkan pukul 2.10 WITA, terlalu dini bagi saya untuk memulai perjalanan menuju Pura Jati. Di luar penginapan, hawa dingin menyelimuti kawasan kaldera seluas 16 kilometer persegi. “Mas, mau berangkat sekarang toh?” tutur Chakim, rekan perjalanan yang akan mengantarkan saya menuju titik awal pendakian. “Ayo pak, berangkat sekarang. Biar bisa santai dulu di pintu pendakian,” timpal saya.

Pendaki melewati punggungan Gunung Batur dengan latar Kaldera Batur yang menghitam. Gunung berketinggian 1.717 mdpl ini menjadi salah satu titik pendakian yang menawarkan hal berbeda dari Pulau Bali. Jalur yang tak terlalu sulit untuk didaki bahkan untuk pendaki pemula serta lanjut usia sekalipun. 
Kedatangan saya di pintu pendakian ini masih terlalu pagi. Hanya ada beberapa pemandu pendakian yang tergabung dalam P3B (Perhimpunan Pramuwisata Pendakian Gunung Batur) bercengkerama di pos retribusi dan warung-warung. Saya menemui Ketut Kade, pria dari Songan Banjar kenalan saya kemarin sore di tepi Danau Batur. Darinya pula saya dikenalkan dengan Wayan Yoga, yang akrab disapa Edi, teman pendakian menuju puncak Gunung Batur ini.

Setiap pendaki, baik solo maupun berkelompok, diwajibkan menggunakan pemandu dan berlaku bagi para pendaki lokal maupun mancanegara. Geliat wisata pendakian ke Gunung Batur mampu membangkitkan perekonomian lokal, sekitar 150 pemandu siap menemani pendaki untuk menjelajah kaldera seluas 16 kilometer persegi ini.

Dari titik awal pendakian, Saya dan Edi mulai menyusuri jalanan berpasir mengarah ke perkebunan warga. Jalanan datar ini bertahan hingga kami mengambil jalur ke kiri menuju Pura Pasar Agung. Tempat ini biasanya digunakan oleh masyarakat lokal untuk bersembahyang. Bulan November tahun lalu dilangsungkan upacara Pakelem. Mereka memulai ritual dari Pura Pasar Agung, lalu melarung hewan hidup berupa ayam, kambing, dan kerbau. Bagi masyarakat, gunung api bukanlah ancaman, melainkan layaknya teman yang hidup berdampingan secara baik. Di Batur adalah salah satu contoh dari sekian banyak tradisi yang memuliakan gunung api.

Setelah perjalanan selama dua jam, kami menginjakkan kaki di puncak Gunung Batur. Menyaksikan matahari terbit adalah satu dari sekian banyak pesona kawasan ini. Saya melepas pandang ke kirana di tepian Danau Batur. Redup cahaya bulan menerangi barisan perbukitan yang mengelilingi danau yang terhampar gelap di kejauhan. Masih ribuan detik lagi menunggu matahari agar sempurna memancarkan sinarnya.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di puncak, menikmati pergantian warna alam serta kabut-kabut yang perlahan menipis. Saat cuaca cerah, pemandangan Gunung Abang, Gunung Agung, Danau Batur, dan hamparan perbukitan nan cantik adalah bayaran dari pendakian ke puncak berketinggian 1.715 mdpl ini.

Ke Gunung Batur ini kurang cukup rasanya jika belum melewati kalderanya. Bentang alam yang tersaji saat ini merupakan hasil dari letusan Gunung Batur Purba yang diperkirakan terjadi sekitar 29.000 tahun silam. Terdapat pula Desa Trunyan yang kaya akan tradisi dan budaya di tepian Danau Batur.

Pada 2012 silam, UNESCO menetapkan batur sebagai taman bumi pertama di Indonesia. Hal ini menguatkan posisi Batur sebagai kawasan yang memiliki peninggalan geologi dan budaya yang terintegrasi dan bisa dimanfaatkan untuk konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Kami pun mengambil jalur berbeda saat turun melewati jalan setapak di punggungan kawah. “Agak sedikit lama turun dari sini, tapi dapat pemandangan kaldera bagus bro,” Edi meyakinkan saya. “Tancap bro, yang penting nyampe bawah,” tukas saya.

Gejolak muda kami bangkit untuk berlari menuruni punggungan kawah dan perbukitan kerontang menuju kaldera yang sudah menghitam. Inilah cara kami menikmati satu-satunya  taman bumi di bumi pertiwi ini.

0 komentar: