Gunung Marapi dan Singgalang : Menapaki Atap Ranah Minang

2/10/2014 05:56:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments


  
Kabut bersemayam di rimba Singgalang. Sementara abu menyembur di kawah Marapi. Inilah puncak yang menaungi peradaban Minangkabau. 

 Sebuah desa kecil berdiri di Kecamatan Padang Sago, Pariaman, Sumatra Barat. Aliran Sungai Nago Baliah membelah hamparan sawah. Sekawanan kerbau beriringan di tepiannya. Di sanalah saya dilahirkan. 

  Sungai, sawah, dan gerombolan kerbau adalah pengantar senja bagi saya dan teman-teman semasa kecil. Apabila mengikuti lekukan aliran sungai, mata kami tertambat di tiga puncak gunung yang sangat ingin kami daki: Marapi, Singgalang, dan Tandikek. 

  Betapa ketiga gunung ini telah menemani perjalanan peradaban urang awak. Bahkan di dalam tambo (sastra sejarah Minangkabau) pun disebutkan, “Dari mano asa niniak kito, dari puncak Gunuang Marapi” (dari mana asal nenek moyang kita, dari puncak Gunung Marapi).  

  Bersama kawan, saya memulai pendakian dari Koto Baru. Mayoritas penduduk di kaki Gunung Marapi dan Singgalang berprofesi sebagai petani. Di sini pula tenun Pandai Sikek yang menjadi kebanggaan Sumatra Barat dibuat. 

  Marapi memiliki ketinggian 2.891 meter sedangkan Singgalang 2.877 meter. Kedua gunung ini menjadi primadona bagi para pendaki di Ranah Minang. Pada ketinggian di atas 2.500 meter, topografi Marapi berupa cadas sementara Singgalang berupa tanah yang ditutupi hutan lumut. 

  Sebagian masyarakat lokal memercayai adanya sibunian, sejenis makhluk halus yang menculik manusia, mereka bersemayam di dua gunung ini. Namun, terlepas dari adanya kepercayaan tersebut, mendaki kedua gunung ini akan memberikan kita banyak pelajaran. 

  Pendakian bukanlah sebuah bentuk penaklukan terhadap alam ataupun jumlah gunung, melainkan menaklukkan ego diri. Mengakrabi alam akan membuka mata kita tentang kehidupan. Dari alam pula kita bisa belajar banyak hal. Seperti kata pepatah, alam takambang jadikanlah guru.[]








Note : tulisan dan foto ini dimuat pada rubrik Portofolio Majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Januari 2014. 

0 komentar: