Menyusuri Sungai Belayan di Pedalaman Kalimantan

10/09/2013 07:07:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Jingga baru saja menghilang dari langit, yang tersisa sekarang hanya rona pekat malam. Jauh ke angkasa, temaram bintang semakin menerangi tempat kami duduk melewati senja. Sesekali saya memicingkan mata, melihat reflkesi dari kirana yang menerangi rumah ditepian sungai.  


tabang_nelayan_perahu cadik_desa ritan baru_ritan_muara muntai_rumah panggung_muara pela_kota bangun_jembatan kutai kartanegara_kerbau rawa_sungai belayan_kalimantan timur_sungai mahakam_burung kuntul_sungai terpanjang_ranting burung_borneo_kalimantan
Seorang nelayan mencari ikan di Muara Pela, Kota Bangun. Di sini pula Pesut terancam punah, ironis saat satwa langka ini makin hari keberadaannya semakin sedikit dihabitatnya. 

“Mas, ayo mas mandi. Sebentar lagi kita menyeberang ke Ritan Baru, ada tarian Datun Sun Bulak malam ini di balai desa”. Bang Fai mengingatkan saya untuk bersegera membuang daki-daki yang melekat ditubuh. Saya mengiyakan sembari menyudahi kelakar diatas rakit bersama dua orang teman baru dari Tenggarong, Oji dan Febri. 

Di atas rakit ini aktivitas kami berpusat, mandi, makan, tidur dan berkisah tentang apapun yang menarik. Pondasinya beralaskan sungai yang mengalir, supaya tak hanyut rakit ini ditambatkan ke pohon di tepian sungai. Rakit ini dijadikan singasana bagi sebagian warga yang hidup disepanjang aliran Sungai Belayan yang kami lewati sejak dari Kota Bangun.

Kota Bangun menjadi permulaan bagi saya dan teman-teman dari Tenggarong menggunakan transportasi air  menuju Desa Ritan Baru.  Tadi malam saya mendarat hampir tengah malam di Balikpapan, melanjutkan perjalanan tiga jam lamanya ke Tenggarong, disambung dengan tranportasi darat dua jam ke Kota Bangun. Lalu selepas tengah hari melanjutkan perjalanan ke Desa Ritan Baru, di Kecamatan Tabang menggunakan long boat, kapal kayu sepanjang lebih kurang sepuluh meter.

Dari dermaga sederhana di Kota Bangun Pak Caling sang juru mudi kapal kayu merapatkan long boat-nya. Setelah mendapati posisi yang baik, kami dipersilahkan untuk memasuki long boat. Di bagian belakang long boat dipasangi mesin yang akan membantu badan perahu membelah riak-riak sungai yang akan dilewati. Sementara untuk melindungi para penumpang dari hujan dan terik, atap pun dipasang. Tak terkecuali, pemutar musik dengan speaker yang tidak kalah melengking dari mesin turut menghibur kami menyusuri sungai ini.

Beranjak dari Kota Bangun yang damai, langit dihiasi bulir awan putih bak kapas. Sepuluh menit berlalu kami mendapati jembatan dengan warna mencolok yang menarik perhatian, warnanya kuning menyala, mengingatkan saya akan jembatan Sultanah Latifah yang membelah Sungai Siak di Riau. 

Kami terus menyusuri perairan, kemudian memasuki Muara Pela. Pak Caling lincah bermanuver, long boat yang dinahkodainya melaju cepat meskipun banyak tumbuhan dikiri kanan rawa menyulitkan pergerakan kami. Sesekali kami berpapasan dengan warga lokal yang mencari ikan di muara menggunakan rakit sederhana. Selain menjadi ladang ikan bagi warga lokal, muara yang kami lewati ini menjadi habitat bagi Pesut Kalimantan. 

“Mas, kalau sedang beruntung kita bisa melihat gerombolan Pesut diperairan ini. Hampir mirip lumba-lumba, tapi hidup di sungai.” Ujar Pak Tri saat kami melewati Muara Pela. Pesut, Orcaella brevirostris habitanya tersebar dibeberapa lokasi seperti Muara Pela yang sedang kami lewati, Muara Kaman, Danau Semayang dan beberapa titik di aliran Sungai Mahakam. Populasi Pesut diperkirakan berada dalam kondisi terancam. Jika tak ada penanganan yang serius, mungkin pesut Mahakam hanya ada dalam cerita tanpa kita bisa melihatnya di alam nyata. 

Dari Muara Pela, kapal kami melaju ke hulu melewati beberapa Desa yang berderet ditepian Sungai Belayan. Rumah-rumah bermaterial kayu dibangun lebih tinggi dari permukaan air sungai, agar tetap terhubung dari satu rumah kerumah lainnya penduduk mendirikan jalan dari kayu. Berbeda dengan kita warga yang hidup diperkotaan, disini halaman rumah warga adalah aliran sungai. 

Disini sungai menjadi sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat, bagi anak-anak sungai dimanfaatkan sebagai lapangan kebahagian. Selama perjalanan melewati beberapa desa, anak-anak riang meloncat kedalam sungai, naik untuk kemudian meloncat lagi. Disini hal yang mahal didalam hidup, kebahagian, didapat dengan cara sederhana. Tak jarang saya melambai saat melewati gerombolan anak yang melahap habis hari mereka dengan bermain di aliran sungai, lambaian tangan saya berbalas dengan cekikan ketawa mereka yang terdengar sayup dilahap mesin long boat.


tabang_nelayan_perahu cadik_desa ritan baru_ritan_muara muntai_rumah panggung_muara pela_kota bangun_jembatan kutai kartanegara_kerbau rawa_sungai belayan_kalimantan timur_sungai mahakam_burung kuntul_sungai terpanjang_ranting burung_borneo_kalimantan
Membelah Sungai Belayan menuju Desa Tabang. meskipun matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, kami tetap memacu perahu kami hingga tujuan karena malam ini hentakan-hentakan tari Datun Sun Bulak akan ditampilkan di balai desa.

Long boat semakin laju menuju Ritan Baru, sesekali kami berpapasan dengan kapal kayu yang membawa penumpang dan barang kebutuhan masyarakat. Kapal ini melayani jalur Tabang - Muara Bangun dan menjadi transportasi andalan bagi masyarakat yang tinggal di Tabang. Selain kapal untuk tranportasi jarak jauh, transportasi utama untuk menghubungkan warga desa dengan desa lainnya adalah perahu kayu yang ditempeli mesin. Setidaknya setiap rumah memiliki perahu sederhana yang bisa memudahkan mobilitas warga ditepian sungai. 

Matahari semakin condong ke barat, namun long boat kami belum juga bersandar di Ritan Baru. "Sejam lagi mungkin kita tiba di Ritan Baru" ujar Pak Tri, saat kami berhenti sejenak untuk mengabadikan sinar jingga yang kian merona. [Yunaidi Joepoet]

0 komentar: