Orang dan Kehidupan Manggarai, Flores

3/22/2013 02:14:00 AM Yunaidi Joepoet 1 Comments

Dari tepian laut Labuan Bajo hingga dataran tinggi Manggarai yang membelah flores. Dari nelayan hingga pengerajin tato, dari penjual hasil tanaman hingga ke pemetik kopi. Inilah orang-orang Manggarai yang saya dokumentasikan dalam perjalanan saya di daratan Flores, Nusa Tenggara Timur. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari sebuah perjalanan, belajar menjaga warisan budaya dalam pergolakan modernisasi yang tak terbantahkan hingga aksi nyata sang plasticman untuk membersihkan Labuan Bajo. Selamat menikmati foto orang Manggarai dan kehidupannya. Mari ke Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tabik


Bapak Isidorus, seorang tetua di kampung adat Warebo duduk didepan Mbaru Tembong, rumah utama di Waerebo. Desa Waerebo mendapat pengharagaan dari UNESCO atas pelestarian Mbaru Niang, rumah tradisional yang dihuni oleh beberapa keluarga. Penghargaan ini membuktikan bahwa masyarakat Waerebo memiliki kearifan lokal yang tak tergerus oleh perkembangan zaman.


Bapak Suaib (40) seorang nelayan warga Kampung Ujung, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan ikan yang baru dibelinya dari Pasar Labuan Bajo (19/01/2013). Musim barat yang berlangsung dari Desember hingga Maret membuat nelayan mengurungkan niatnya untuk melaut. Gelombang yang tinggi membahayakan para nelayan yang hanya menggunakan perahu ketinting kecil, tak terkecuali Bapak Suaib seorang nelayan yang akhirnya memutuskan untuk membeli ikan untuk dikonsumsi.

Bapak Haji Ambon warga Kampung Ujung, Labuan Bajo beristirahat sejenak disela-sela kegiatannya membangun pondasi rumah ditepian laut Labuan Bajo.

Engkos, pemuda dari Ruteng memperlihatkan batik hasil karyanya ditepian laut Labuan Bajo. Engkos bersama 51 warga dari 4 desa di Labuan Bajo mengikuti pelatihan pembuatan batik yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Setelah mendapatkan pelatihan batik, Engkos berencana untuk mengembangkan batik dengan motif Khas Manggarai.

Siswi SMP Waenakeng menggunakan pakaian Manggarai sesaat sebelum mereka menarikan tarian Petani di Desa Daleng, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat.

Seorang penjual menawarkan dagangannya di Pasar Lembor, dua jam perjalanan dari Kota Labuan Bajo. Mayoritas masyarakat di Lembor hidup dari hasil pertanian.
Bapak Rofinus memetik kopi diperkebunan kopi milikinya di Desa Waerebo, Manggarai. Kopi dan cengkeh menjadi pemasukan utama bagi masyarakat Waerebo. Hasil kopi dan cengkeh dijual ke Pasar Satar Mase, berjarak tiga jam berjalan kaki dari Desa Waerebo.


Papa Djoe (Stefan Rafael) atau The Plasticman, pendiri The Plasticman Institute atau masyarakat lokal Labuan Bajo mengenalnya dengan Bank Sampah berpose dengan latar belakang pepohonan di Desa Waenakeng, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. The Plasticman Institute adalah sebuah organisasi lokal yang berfokus untuk membersihkan kota dan laut Labuan Bajo dari sampah-sampah. Papa Djoe dengan Plasticman Institutenya juga berhasil mengkonversi sampah menjadi bahan bakar solar.

1 komentar: