Desa Waerebo, Menjaga Mbaru Niang

Langit jingga baru saja berganti kelam, ronanya hilang seiring datangnya malam. Dari kejauhan bayang bukit menjulang di Pulau Mulas masih setia menemani ombak yang memecah batuan di tepi laut Dintor. Tadi sore saya tiba disini setelah menepuh perjalanan menggunakan ojek tiga jam lamanya dari Ruteng. Jalanan licin, hujan mengguyur kota sedari pagi dan mencapai puncaknya saat siang. Pak Alex warga Desa Cancar berumur 44 tahun, tukang ojek yang saya tumpangi mengendarai motor pelan-pelan, menuruni gunung, melewati jalanan ditengah sawah hingga akhirnya tiba di Dintor.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang di Desa Waerebo saat matahari baru saja beranjak naik. Dikelilingi oleh barisan pegunungan.

    Saya masih duduk dikursi kayu sebuah penginapan milik Pak Martinus Anggo. Saya bermalam di sini, Dintor, sebuah kampung kecil di Desa Satar Lenda. Penginapannya terletak di tengah sawah, tepat didepan kamar, petak sawah baru panen menjadi halamannya sementara dibelakang kamar mengalir sungai kecil yang menjadi sumber air bagi penduduk. Satar Lenda belum pula dialiri listrik PLN, bagi penduduk yang memiliki uang lebih mereka membeli generator untuk penerangan, adapula yang membeli secara patungan dan hasilnya dinikmati secara bersama. Beruntung di penginapan tersedia generator meskipun hanya hidup beberapa jam saja. Walhasil diantara kegelapan malam Satar Lenda, saya masih bisa menikmati penerangan sebelum kantuk mulai mendera.

    Adalah Kampung Waerebo yang akan menjadi persinggahan saya untuk mengenal dan mempelajari budaya lokal negeri ini. Setelah penerbangan panjang dari  Jakarta menuju Labuan Bajo di Pulau Flores, perjalanan dilanjutkan dengan otokol menuju Ruteng lalu ojek untuk tiba di Dintor. Perjalanan belumlah sampai di Waerebo, besok pagi saya akan berjalanan kaki lebih kurang empat jam dari Denge menuju Waerebo, kampung dimana Mbaru Niang masih dipertahankan demi menjaga keberlangsungan peradaban. Sebuah konsistensi menjaga warisan leluhur, Mbaru Niang, mengantarkan nama Indonesia, tanah air kita mendapat penghargaan Award of Excellence, sebuah penghargaan tertinggi di kancah dunia dalam Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage oleh UNESCO.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Matahari terbenam di Dintor dengan latar Nusa Mulas.
***

    Pagi itu Jum'at 23 November 2012, Kasih (19) memacu sepeda motor menuju kampung Denge, di sadel belakang saya duduk dengan was-was. Jalanan Desa Satar Lenda belumlah bagus, dibeberapa bagian lubang menganga. Bahu kanan jalan berbatasan langsung dengan jurang dalam, sementara dikiri petak sawah dibiarkan terbengkalai pertanda musim tanam belum dimulai, tampak pula gerombolan kerbau setia bercengkrama dengan rumput yang makin menutupi petakan sawah. Namun Kasih sepertinya tidak mengerti saya begitu sengsara menumpangi motor ini, terlebih saat roda sepeda motor menghantam bebatuan. Beberapa kali saya mengaduh namun kecepatan motor masih saja dipacu, deru mesinnya bersemangat mengimbangi kicauan Kasih soal perjalanan yang akan kami lewati menuju Waerebo.

    Sepeda motor kami berhenti di Denge, kampung terakhir yang bisa ditempuh dengan kendaraan. Di kampung ini terdapat Sekolah Dasar Katolik Denge yang didirikan tahun 1929 saat Belanda masih menjajah Indonesia. Di sekolah inilah anak-anak dari Waerebo, Denge, Kombo dan kampung sekitar menimba ilmu. Bangunannya terdiri dari dua bagian, paling depan bangunan berdinding bata sedangkan bagian belakang bangunan tua dari kayu mesih setia melindungi murid dari sengatan matahari ataupun tetasan hujan.
    
     Pagi itu para siswi menggunakan sapu lidi sibuk membersihkan pekarangan, Elizabeth (9) murid yang duduk di kelas 3 mendapat bagian untuk membersihkan selokan sementara siswa lainnya mencabut rumput. Hari Jum'at dan Sabtu menjadi hari gotong royong para murid untuk membersihkan sekolah. Kasih menunjuk bangunan tua saat kami berhenti di sekolah "Ini bangunan tua, sudah tua sekali mas. Sejak zaman Belanda, saya dulu bersekolah disini Mas. Di Jakarta mungkin tidak ada lagi yang seperti ini."
    Kasih bercerita kegiatan yang dilakukan saat hari Sabtu tiba bersama kawan-kawannya, Kasih menebang pohon dibelakang sekolah lalu membuat kebun. Kebun itu bertahan hingga beberapa tahun lamanya. "Kebunnya sudah tidak terawat. Murid sekarang jarang mau berkebun. Itu kebun kami dulu mas. Kami tanam kentang, bawang dan sayuran. Tunggul kayu disana, saya yang potong mas. Pohonnya sebesar mas punya badan".
    
       Kasih terus saja bercerita semasa dia mengenyam bangku sekolah dasar di Denge. Kasih kecil harus meninggalkan Waerebo yang berjarak 9 Kilometer dari Denge, berpisah dengan orang tua serta adik-adiknya demi menimba ilmu. Di Waerebo tidak ada sekolah, jadi semua anak Waerebo yang akan menempuh pendidikan mau tidak mau harus meninggalkan Waerebo. Ada dua kemungkinan saat itu terjadi, pertama si anak harus berpisah dengan orang tua, atau orang tua entah bapak atau ibu mereka harus berpisah untuk ikut menjaga si anak saat bersekolah. Kasih memilih berpisah dengan orang tua dan tinggal dengan kerabatnya di Kampung Kombo, sebuah kampung di dekat Denge yang mayoritas warganya adalah keturunan Waerebo. Setelah tamat sekolah dasar, pendidikannya dilanjutkan di Dintor kemudian mengambil jurusan tata boga di salah satu sekolah kejuruan di Ruteng. Tamat sekolah Kasih merantau ke Makasar, hingga akhirnya kembali pulang ke Waerebo sebelum perayaan tahun baru dalam kalender masyarakat Waerebo.
   
Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Tetua adat di Desa Waerebo dengan latar Mbaru Niang.

      Tak terasa perjalanan kami sudah jauh meninggalkan sekolah di Kampung Denge. Kami melewati ladang penduduk, yang paling mencolok adalah batang cengkeh dan damar, dahannya memayungi jalan setapak. Aroma wangi cengkeh semakin menyemangati saya untuk berjalan melahap jalan setapak yang semakin menanjak. Penduduk di Denge mayoritasnya adalah petani, hasil cengkeh menjadi salah satu sumber penghidupan, selain cengkeh ada pula damar serta petak-petak sawah yang akan ditanami secara bergiliran. Petak sawah tidak bisa ditanami sepanjang tahun, air irigasi tidak mampu mencukupi pengairan sawah secara bersamaan. Mau tidak mau, air irigasi harus dibagi. Jika caturwulan ini pengairan hanya untuk pemilik sawah di daerah Dintor, maka caturwulan depan pengairan akan mengaliri sawah penduduk di Denge. Tidak ada kecemburuan, semuanya dengan lapang dada menerima giliran air supaya benih padi bisa disemai, tumbuh dan dipanen serta hasilnya bisa menyambung hidup masyarakat.
    
    Lepas dari ladang penduduk, kami berjalan melintasi sungai Waelomba. Batu-batu besar mengisi separuh aliran sungai. Kami meloncat hati-hati dari satu tumpukan batu ke batu lainnya. Dahulu Waelomba airnya mengalir deras, sulit untuk dilewati apalagi jika musim hujan datang. Namun sekarang aliran airnya sudah tak sederas dulu, kerusakan hutan menjadi penyebab utama berkurangnya debit air sungai ini.
    
    Tempo hari, pembalak liar dari luar desa datang menggunduli hutan di hulu Sungai Waelomba namun usaha mereka tak berjalan lama. Penduduk Waerebo berang, mengancam akan melaporkan pembalak ke Polisi Hutan. Ussaha penduduk berhasil mengusir pembalak. Bagi penduduk Waerebo, hutan adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Hutan juga memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat Waerebo. Beruntung lewat keputusan pemerintah, sekarang hutan ini dikonsesi menjadi kawasan Hutan Lindung Todo Repok luasnya mencakup hingga 10.500 Ha. Setidaknya sudah ada payung hukum yang melindungi hutan ini dari tangan-tangan serakah manusia, tentunya ini angin segar bagi masyarakat di Waerebo maupun masyarakat yang menikmati sumber air Sungai Waelomba.
    
    Perjalanan semakin berat, kami melewati jalanan setapak menyisiri punggungan tebing. Tak jarang kami berjalan dengan batas jurang di tepi jalan, jika hujan turun jalanan menjadi licin dan tebing-tebing di sisi jalan setapak sangat rentan longsor. Meskipun begitu, ini salah satu akses utama bagi masyarakat Waerebo berhubungan dengan dunia luar. Kami melewati Puncak Pocoroko, dari sini saya bisa melihat Selat Sumba. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit, kemudian kebun kopi milik masyarakat Waerebo. Di kejauahan atap Mbaru Niang berbentuk kerucut sudah terlihat. Saya semakin bersemangat menuruni bukit menuju kampung Waerebo.
***
    Terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai. Kampung Waerebo dikelilingi gunung, mencapainya butuh perjuangan waktu dan tenaga. Tak ada sinyal telfon, penerangan hanya ada dimalam hari yang bersumber dari generator. Tak ada kendaraan bermesin yang bisa mencapai Kampung Waerebo, mencapai Kampung Waerebo hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 9 KM dari Desa Denge.

    Setelah berjalam hampir empat jam akhirnya saya melewati Bok, pintu masuk kampung Waerebo yang masih dihiasi anyaman. Minggu lalu, masyarakat Waerebo berpesta menyambut Penti, tahun baru masyarakat Waerebo yang diadakan pada tanggal 15-16 bulan November setiap tahunnya. Acaranya berlangsung meriah, turut pula ditampilkan Caci, tari perang khas Manggarai yang menyimbolkan sosok kepahlawanan dan keperkasaan. Pada acara Penti Semua keturunan dari Waerebo pun hadir, inilah saat dimana warga berpesta, mengingat leluhur dan berkumpul kembali sebagai penjaga warisan Waerebo.

    Kasih mengajak saya menuju Mbaru Tembong, rumah utama di Kampung Waerebo. Mbaru Tembong menjadi induk dari enam Mbaru Niang di Warebo. Saya melepas sepatu, kemudian dengan ramah dipersilahkan masuk kedalam Mbaru Tembong. Didalam, sudah duduk dua orang tetua Kampung Waerebo, Bapak Biatus dan Rafael. Kamipun dipersilahkan duduk diatas tikar pandan yang sudah disediakan.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang dan mendengarkan lantunan lagu pengantar tidur di Mbaru Tembong disuguhi Sopi berkualitas tinggi.


     Menggunakan bahasa lokal, Kasih melakukan Pa'u Wae Lu'u sebagai ungkapan duka cita atas leluhur yang sudah mendahului kita kemudian Kasih meminta izin dan menrangkan kepada tetua kampung bahwa saya akan tinggal di Kampung Waerebo untuk beberapa waktu kedepan. Bapak Biatus memberikan sinyal positif, saya diizinkan untuk tinggal di Kampung Waerebo. Kami bercerita dalam bahasa Indonesia, kadang dibeberapa potong percakapan Kasih menjadi penerjemah kami.

    Perbincangan hangat ini membawa saya bernostalgia ke masa silam. Diskusi hangat yang kami lakukan bersama keluarga, Kakek saya bercerita mengenai budaya alam Minangkabau. Saya cucu tertua dari garis keturunan Matrilineal, sistem keturunan yang dipakai oleh Suku Minangkabau. Ibu saya, anak tertua dari delapan bersaudara, Ibu bersuku Sikumbang, garis suku inilah yang menjadikan saya lahir dengan darah Sikumbang. Dulu, hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah mendengar tambo Minangkabau, Kato Nan Ampek serta Kato Pusako yang masih saya ingat hingga sekarang. Pelajaran hidup dan berbudaya ini sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan. Ajaran yang tertuang, menjadikan alam sebagai sumber ilmu yang paling nyata, dalam kato pusako adat Minangkabau pun disebutkan "Alam Takambang, Jadikan Guru".

    Alam mengajarkan kita banyak hal, dari alam semua berasal. Begitu pula Masyarakat Waerebo yang menggantungkan hidup dari alam. Alam bagi masyarakat Waerebo sudah menjadi sahabat, guru dan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Dari alam semua kehidupan masyarakat Waerebo berasal. Proses menjaga dan melestarikan alam telah mengantarkan masyarakat disini menjadi masyarakat yang tidak lupa akan kodratnya sebagai manusia.

    Disini masih berdiri kokoh Mbaru Niang, rumah berbentuk kerucut. Jumlahnya ada 7, enam rumah ditempati oleh warga Waerebo sedangkan satu rumah diperuntukkan bagi para tamu yang ingin bermalam di Waerebo.

    Dari tujuh rumah, ada satu rumah yang dijadikan tempat tinggal tetua adat keturunan langsung dari para leluhur masyarakat Waerebo. Rumah ini dinamai Mbaru Tembong, bisa menampung 8 keluarga. Masing-masing biliknya dibatasi oleh papan. Sementara Mbaru Niang bisa menampung hingga 7 keluarga. Kesemua keluarga hidup rukun berdampingan, tak ada perselisihan, semuanya bersatu dalam keselarasan hidup keturunan Waerebo.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bekerja hingga senja.

    Di dalam Mbaru Niang saya dibuat kagum oleh arsitektur rumah ini. Rumah dibuat agak tinggi dari tanah, sekitar satu meter diatas permukaan tanah. Didepan pintu masuk Mbaru Niang, terdapat gundukan batu. Sebelum berangkat atau pulang dari ladang, warga biasanya bercengkrama di atas batu. Anak-anak berkejaran  di atas halaman yang ditumbuhi rumput. Aktivitas ini akan terhenti saat gelap mulai datang.

    Mbaru Niang tempat tinggal masyarakat Waerebo memiliki lima lantai dimana masing-masing lantainya mempunyai fungsi yang berbeda. Lantai pertama adalah Tenda,  tempat istirahat, tempat tamu serta tempat melakukan aktivitas memasak. Di lantai ini pula terdapat bilik-bilik yang ditempati masing-masing keluarga, bagian ini dinamai Nolang. Lutur menjadi tempat tamu, pemisahan ini menunjukan adanya budaya saling menghormati antara tamu dan keluarga yang tinggal di Mbaru Niang. Meskipun ada pemisahan, para tamu dan keluarga yang tinggal masih tidur selantai, hal ini menunjukkan persamaan derajat antara tamu dan keluarga di Mbaru Niang.

    Penduduk Waerebo menamai Lobo (Loteng) untuk lantai kedua. Dilantai inilah keluarga yang tinggal di dalam Mbaru Niang menyimpan makanan serta kebutuhan sehari-hari. Lantai ketiga adalah Lentar, dilantai ini disimpan berbagai macam benih untuk berladang. Lantai selanjutnya adalah Lempa Rae, dijadikan tempat untuk menyimpan makanan cadangan sebagai antisipasi apabila terjadi bencana atau kekeringan. Sedangkan lantai paling atas Hekang Kode dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan sesajian kepada leluhur.

    Dinding Mbaru Niang dibuat dari kayu yang diambil dari hutan. Proses penebangan kayu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada prosesi adat yang harus dilewati sebelum dilakukan penebangan. Atapnya dibuat dari ijuk yang ditempatkan diatas bambu utuh. Lantainya pun dibuat dari kayu. Didalam Mbaru Niang, digantung Langkar sebagai sesajen untuk leluhur dan tuhan. Langkar berbentuk petak, dihiasi bulu ayam.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Dapur di Mbaru Niang

    Proses memasak dilakukan di hapo (dapur), masing-masing keluarga mempunyai (likang) tersendiri namun letaknya masih satu tempat dengan keluarga lainnya. Jika ada rezeki berlebih, tak jarang penghuni Mbaru Niang berbagi makanan dengan penghuni lainnya. Pola hidup yang sangat jarang kita temui di kota-kota besar.
***

    Saya dan Kasih berpamitan meninggalkan Mbaru Tembong, kami mengayun langkah ke Mbaru Niang Tirta Gena Maro. Tempat ini disediakan khusus bagi para tamu untuk tinggal dan bermalam.
    Di dapur, Mama Tin dan Mama Nina menyiapkan masakan untuk saya santap. Menu sore ini ada sayur labu, mie instan dan nasi putih. Untuk pelepas haus, mama menyiapkan kopi untuk kami. Perkembangan Waerebo menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Flores turut serta mengangkat perekonomian masyarakat. Untuk menata wisata adat Waerebo, masyarakat membentuk perangkat yang bertanggung jawab untuk mengelola pariwisata Waerebo.

    Mama Tin dan Mama Nina mendapat pekerjaan sebagai juru masak bagi para wisatawan, ada beberapa kelompok juru masak yang bergantian menyediakan makanan. Tamu membayar sejumlah biaya tertentu untuk makan dan menginap di Mbaru Niang. Hasilnya tentu saja akan menambah pemasukan bagi masyarakat Waerebo, selain itu uang yang dibayarkan sebagian disisihkan untuk biaya perawatan Mbaru Niang. Dengan hal ini ada proses wisata berkelanjutan yang dilakukan oleh masyarakat Waerebo, setidaknya uang yang dikeluarkan oleh wisatawan ada dampaknya bagi masyarakat dan proses perawatan Mbaru Niang, warisan leluhur Waerebo.

    Matahari baru saja terbit, Kasih membangunkan saya untuk bersegara ke tempat pemandian warga. Di Waerebo, masyarakat mandi di air pancuran yang jaraknya lebih kurang 200 meter dari kampung. Pemandian antara laki-laki dan perempuan dipisahkan. Tempat mandi selain digunakan untuk kegiatan mandi dan mencuci, juga sebagai sarana berinteraksi  bagi masyarakat. Proses komunikasi antar satu anggota masyarakat dengan anggota lainnya bahkan dijaga meskipun hingga ke pemandian. Kondisi inilah yang menjadikan masyarakat Waerebo tak terusik pengaruh paham individual, ada proses komunikasi dan kebersamaan yang tetap dijaga hingga sekarang.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menjemur kopi yang dipetik dari kebun tak jauh dari Waerebo.

    Bapak Yosef Katu generasi ke-18 Waerebo mengundang kami untuk singgah di Mbaru Niangnya. Secangkir kopi hangat pun disajikan. Pak Yos bercerita mengenai Waerebo dan proses pembangunan ulang sebagian rumah di kampung Waerebo. Pembangunan ulang Mbaru Niang tak lepas dari peran serta masyarakat Waerebo yang didukung penuh oleh para donatur yang menyumbangkan materi untuk pembangunan kembali Mbaru Niang.

    Peran aktif masyarakat dan donatur dalam menjaga warisan Mbaru Niang memberikan banyak manfaat bagi masayarakat Waerebo sendiri. Salah satunya adalah kesempatan bagi generasi baru Waerebo untuk mempelajari proses pembangunan Mbaru Niang.
    "Rumah pertama, kami generasi muda hanya duduk saja melihat proses yang dilakukan tetua dalam membangun Mbaru Niang. Rumah kedua, tetua memberikan kami kesempatan untuk membangun mbaru Niang bersama mereka. Rumah ketiga, kami dipercayakan penuh oleh tetua untuk membangun Mbaru Niang, sedangkan tetua hanya duduk melihat pekerjaan yang kami lakukan". Pak Yos bertutur tentang proses pembangunan ulang Mbaru Niang.

    Pembangunan Mbaru Niang ini tentu saja berhasil dijadikan sebagai sarana transformasi ilmu dari generasi tua ke generasi muda "Jika mendengar cerita saja tanpa praktek, mungkin akan sulit untuk dilakukan. Beruntung atas bantuan para donatur dan masyarakat Waerebo yang bahu-membahu membangun ulang Mbaru Niang kami semua mendapat ilmu yang akan kami wariskan ke anak cucu kami kelak.".

    Waerebo sudah berhasil mentransformasi ilmu pembangunan Mbaru Niang. Hal ini tak lepas dari kemauan keras masyarakat Waerebo untuk menjaga warisan leluhur. Generasi muda punya kemauan besar untuk belajar, sedangkan generasi tua dengan kerendahan hati mewariskan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari generasi sebelumnya. Perasaan untuk saling menjaga inilah yang harus kita tumbuhkan sebagai generasi Indonesia, bangsa besar yang berbudaya.

    Mbaru Niang dan seperti rumah-rumah adat lainnya di Indonesia bukan hanya sebagai tempat tinggal.  Banyak hal yang tercermin dari rumah adat itu sendiri, salah satunya adalah kebudayaan masayarakatnya. Bagaimana lingkungan masyarakat tersebut, sistem kepercayaannya, serta cara hidup komunitas masyarakat setempat. Menjaga rumah adat sama halnya dengan menjaga kebudayaan. Kemajuan peradaban tercermin dari seberapa besar kemauan masyarakat menjada kebudayaan mereka. Inilah yang dilakukan masyarakat Waerebo, menjaga kebudayaan agar peradaban tetap berjalan.
***

    Saya ikut Bapak Rofinus ke kebun untuk memetik kopi. Dari kampung kami mendaki bukit, melewati jalan setapak menuju hutan. Membawa keranjang, saya membantu Bapak Rofinus memetik biji kopi. Biji kopi ini nantinya akan dijual kepasar di Dintor. Sementara itu, istri Bapak Rofinus menenun dirumah.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bapak Rofinus memetik kopi dikebun kopi miliknya.


    Rata-rata warga Waerebo hidup dari menjual kopi, kain tenun, serta dari pengelolaan ekowisata Kampung Waerebo. Wisatawan yang mayoritas berasal dari Eropa menjadikan Waerebo sebagai daerah kunjungan, bukan hanya bersenang-senang tetapi juga mempelajari bagaimana sekolompok masyarakat masih bisa mempertahankan pola hidup dan warisan leluhurnya saat modernisasi menyentuh segala aspek kehidupan.

    Tak salah kiranya UNESO memberikan penghargaan tertinggi untuk Mbaru Niang di Waerebo. Bagi masyarakat Waerebo penghargaan tersebut hanyalah bonus dan sebagai bentuk apresiasi, yang terpenting bagi mereka adalah berusaha mempertahan tatanan hidup, ada istiadat, serta warisan leluhur untuk dijaga agar tidak punah sehingga bisa diwariskan ke anak cucu mereka.  Disinilah peradaban bertahan, saat masyarakatnya menjaga kebudayaan. Waerebo mungkin hanyalah kampung kecil nan jauh di atas gunug, tetapi dari kampung kecil tersebut kita belajar banyak hal besar dalam kehidupan. []

0 komentar:

Post a Comment