Pink Beach

12/14/2012 11:27:00 AM Yunaidi Joepoet 1 Comments

Kapal berenti tak jauh dari bibir Pantai, orang mengenalnya dengan sebutan Pantai Merah tapi dalam brosur-brosur wisata tertulis Pink Beach. Letaknya di kawasan Taman Nasional Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat. Pesona Pink Beach saya ketahui dari seorang teman yang mengunjungi komodo dua tahun lalu. Dengan antusias dia bercerita tentang terumbu karang indah, pesona bawah laut yang luar biasa, beraneka ragam ikan hidup mendiami bawah lautnya, oh iya tak lupa pula dia berjemur menghitamkan kulitnya. Sekelumit cerita tentang Pink Beach tak seketika membangkitkan gairah saya untuk mengunjunginya, toh rata-rata pantai di Indonesia memang begitu adanya.

Pink beach, Soft Coral, blue Dot Sting Ray, Clown Fish, Labuan Bajo, Flores, Komodo, Rinca, Manggarai, Manta Point, 5.jpg
Bawah laut Pink Beach yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai jenis ikan. 


Kapal melepas jangkar, agak jauh dari tempat terumbu karang. Memang benar, di salah satu sudur pantai di pasang tanda melarang melepas jangkar. Hal ini untuk mengantisipasi patahnya karang akibat terkena jangkar kapal. Ini menjadi masalah utama di Pink Beach. Banyak kapal yang datang, namun ketersedian moring tidak mampu mencukupi kapasitas kapal yang sandar. Moring yang terbatas inilah yang dijadikan alasan mau tidak mau awak kapal melepas jangkar kelaut.

Saya melihat-lihat ke sisi bawah kapal, memastikan dalamnya berapa meter. "Bapak, ini laut punya kedalaman berapa bapak ?" Pak Sergios bercakap hanya dua hingga tiga meter, ini artinya saya tenggelam jika dibandingkan dengan tinggi badan. Safety First, saya memutuskan untuk mengambil pelampung. Terlihat tidak laki memang, berenang di pantai seindah ini menggunakan pelampung. Dan yang paling memalukan bukan soal berenang pakai pelampung, vins atau kaki katak yang tersedia untuk ukuran saya berwarna pink. Sempurna sudah dengan warna pantainya, Pink Beach, Pink Vins and Pink Boy.

Kawan, saya lahir di pegunungan di sebuah kampung kecil di pedalaman Sumatra Barat. Nenek saya berjualan makanan ringan, kakek saya agen komoditi mereka berdua membesarkan saya. Saya kecil jauh dari orang tua, bertemupun mungkin dalam hitungan bulan. Tak ada yang  mau mengajarkan saya berenang apalagi berkuda dan berperang sesuai ajaran Nabi Muhammad. Saya kecil menyeburkan diri di tempat dangkal jika teman-teman mulai berenang ditempat dalam. Kebetulan, setiap sore arena bermain kami adalah sungai. 4 Kilometer jaraknya dari rumah kami tinggal. Airnya mengalir dari hutan-hutan di Gunung Tandikek dan Gunung Singgalang, alirannya membelah Malalak, Tandikek, Gunung Tigo, Nago Baliah, Lubuak Napa, Sungai Sariak dan bermuara di Samudra Hindia. Tak salah jika saya berenang menggunakan pelampung, saya bisa mengapung dan berenang tapi tidak bisa berlama-lama. Saya padahal kurus, tapi berat jika masuk di air. Gaya andalan saya berenang adalah gaya batu, menyebur dan tenggelam.

Pink beach, Soft Coral, blue Dot Sting Ray, Clown Fish, Labuan Bajo, Flores, Komodo, Rinca, Manggarai, Manta Point
Terumbu karang dari genus Acropora menghiasi perairan di Pink Beach. Berbagai jenis terumbu karang hidup dengan nyaman dibawah laut Pink Beach.


Saya berenang menjauh dari kapal yang membawa kami berkeliling di perairan Komodo. Saya melimpir ke arah pantai, melewati berbagi jenis terumbu karang yang ada. Banyak sekali ada Scorpionfish, Blur Ribbon Eels, Crocodile Fish, Nudibranchs dan saya tidak bisa sebutkan satu persatu jenis lainnya. Yang paling menarik adalah soft coral, bergoyang-goyang terkena arus laut. Kadang dari bailik coral tiba-tiba muncul ikan bermulut mewek. Wajah ikan itu lucu tetapi jika diperhatikan kadang-kadang menyeramkan. Matanya membelalak besar, warnanya biru. Panjangnya hanya sekitar 30an senti, tak sebesar Mola-Mola diperairan Bali. Tapi saya senang berenang dengan ikan ini.

Di Pink Beach ini terumbu karang hidup bahkan hingga ketepi pantai. Air disini jernih, pantainya putih, jika dilihat dari kejauhan warnanya biru jernih. Mencapai pantai saya hanya duduk berjemur. Mengambil segenggam pasir yang dari kejauhan terlihat merah. Butiran-butiran merah yang terkandung di pasir menjadikan pantai ini terlihat merah dari kejauhan.

Saya kembali memasang Vins dan Google, berenang menyusuri taman bawah laut. Kali ini saya sedikit leyeh-leyeh. Bergerak ke arah kiri menjauh dari kapal. Perairan komodo memang menjadi habitatnya binatang laut yang bervariasi, dan akhirnya saya menjumpai Bluespotted Stingray. Salah satu jenis ikan berbahaya dan mematikan diperairan. Ekornya ditumbuhi duri-duri serta alat penyengat seperti pisau dibagian ekor. Karena kedangkalan ilmu saya mengenai ikan, saya malah berenang mengejar ikan lucu.

Bluespotted Stingray, Pink beach, Soft Coral, blue Dot Sting Ray, Clown Fish, Labuan Bajo, Flores, Komodo, Rinca, Manggarai, Manta Point
Bluespotted Stingray salah satu jenis ikan yang berbahaya.



Saya berusaha berenang mengejar Bluespotted Stingray, namun usaha itu tidak berbuah hasil. Ikan ini bersembunyi dibawah terumbu karang, pemalu. Saya kembali ke arah kapal. Berteriak kepada Pak Sergios kalau saya menemui Mantai di laut Pink Beach. Meski tidak pergi ke Manta Point yang menjadi spot terbaik untuk menyaksikan Manta. Saya baru mengetahui setelah tiba di Jakarta, saat seorang kawan memberi tahu kalau ini bukan Manta tetapi Bluespotted Stingray dengan ekor berbahaya.

Tiba dikapal saya menyiram diri dengan air tawar yang tersedia di kapa. Rata-rata kapal yang digunakan untuk menegelilingi Komodo didesain sedemikian rupa untuk kenyamanan para penumpangnya. Tersedia kamar tidur untuk yang ingin berkeliling Komodo beberapa hari, air tawar, serta meja makan dan kursi untuk bersantai. Kapal saya terlalu besar untuk ukuran dua orang tamu yang mengelilingi Komodo. Banyak juga pejalan yang berlayar dari Lombok menuju Komodo. Diatas laut selama beberapa hari, tentunya jika mengambil jenis perjalanan ini akan memberikan banyak pengalaman lebih bagi para pejalan.

Dari Pink Beach kapal kami beranjak menuju Pulau Rinca, diperjalanan menuju Pulau Rinca kami menyantap makan siang. Diatas laut Komodo, saya mengucap pisah ke hamparan pasir merahmu.

1 komentar: