Pulau Banyak Pesona Bahari di Selatan Aceh (Bagian II)

10/23/2012 02:10:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

bagian I  : http://www.ranselkosong.com/2012/10/pulau-banyak-pesona-bahari-di-selatan.html

Perahu mulai membelah laut, kami mulai kembali penjelajahan. Tujuan kami adalah Pulau Biawak, pulau kecil tanpa penghuni. Pasirnya putih berkilau. Lautnya jernih mencolok, gradasi warna dari tepi hingga ke tengah laut terlihat indah, pohon kelapa condong ke arah laut.

Pulau Banyak, Banyak Island, Kepulaua Banyak, Banyak Archipelago, Best Spot for Diving in Aceh, Surfing in Aceh, Pulau Balai, Pulau Palambak, Pulau Tailana, Tailana Islanda, Palambak Island, Bangkaru Island
Pak Salamat, seorang nelayan di Pulau Banyak (kiri), Suasana senja di Pulau Balai (kanan)

 Kami menambatkan perahu di batang pohon kelapa yang rebah kelaut. Seorang pria dari kejauhan terlihat mengupas kelapa. Saya berkenalan dengannya, Bapak Manzili Zega warga Desa Pulau Balai keturunan Nias ini datang sekali dalam seminggu ke Pulau Biawak. Kelapa yang lepas dari tandan kemudian dikumpulkan, kulitnya dikupas, lalu kelapa bulatan ini dijual di Pulau Balai. Aktivitas ini menjadi pemasukan sampingan selain kegiatan melaut yang dilakukan Bapak Zega dan mayoritas warga Pulau Banyak lainnya.

    Laut menjadi sumber pendapatan utama warga Pulau Banyak. Hampir 95% penduduknya hidup dari melaut. Hasilnya tidak menentu, tergantung musim dan peruntungan. Jika cuaca bagus dan nasib baik, nelayan bisa mengantongi rupiah hingga ratusan ribu. Namun jika cuaca buruk ditambah nasib kurang baik, hanya rugi yang mereka dapatkan.  Selain itu ada pula yang lebih berbahaya, penyelam kompresor. Menangkap ikan hingga kelaut dalam hanya mengandalkan udara dari selang yang terhubung dengan kompresor. Meskipun menyelam dengan kompresor sangat membahayakan, namun hal tersebut harus dilakukan, demi makan anak istri dan keluarga.

    Selain melaut, di Pulau Balai misalnya warga desa membuat keramba ikan. Ikan janang, lobster, dan kepiting dibudidayakan. Hasil panennya lebih dari cukup untuk mencukupi biaya hidup keluarga beberapa waktu kedepan. Lobster dan kepiting bisa laku terjual Rp 100.000 perkilonya, jika si empunya cerdik untuk mengakali waktu panen maka keuntungan berlipat bisa didapat. Februari, biasanya kapal asing dari Singapura datang memborong lobster dan kepiting penduduk, harganya pun naik hingga Rp 200.000 per kilo.

    Dari Pulau Biawak kami memacu perahu melewati Pulau Asok, Pulau Lambodong dan Pulau Pabisi melintasi perairan tenang tak bergelombang. Lautnya jernih, dibawah kami terumbu karang menghiasi laut. Daerah antara Pulau Biawak hingga Pulau Tuanku menjadi kawasan terbaik di Pulau Banyak untuk melihat terumbu karang, snorkeling maupun kayaking. 

    Di tempat ini pula Pulau Gosong menjadi saksi turunnya permukaan daratan di Pulau Banyak. Letak Pulau Banyak yang dilalui Sesar Sumatra menjadikan kawasan ini rawan terhadap pergerakan geologi. Setelah gempa Nias maret 2005, permukaan daratan di Pulau Banyak mengalami penurunan hingga satu meter. Beberapa pulau nyaris tenggelam, tanaman yang menutupi pulau daunnya meranggas karena akarnya tergenang laut.

    Dari Pulau Gosong kami menuju Desa Haloban di Pulau Tuanku. Perjalanan memakan waktu sejam lamanya. Pulau Tuanku menjadi Pulau terbesar di gugusan Pulau Banyak. Di pulau ini berdiri pula Gunung Tiusa dengan ketinggian 313 mdpl, puncaknya menjadi titik tertinggi di Pulau Banyak. Dari Puncak Gunung Tiusa terlihat jelas semua pulau yang ada di Pulau Banyak. Dibandingkan dengan Pulau Balai, di Pulau Tuanku menawarkan lebih banyak pengalaman bertualang.

    Misalnya Jungle Treking ditemani penduduk lokal Desa Haloban. Penjelajahan hutan dimulai dari Desa Haloban membelah hutan kemudian melewati Sungai Asantola yang berujung di Pantai Pasir Panjang. Tak jauh dari pantai ini, terdapat pula gua yang dipenuhi kelelawar. Jika beruntung pengunjung bisa menemui buaya di perairan antara Desa Haloban dan Desa Ujung Sialit. Bulan lalu, penduduk Desa Haloban menangkap seekor buaya laut.

    Daerah Ujung Lolok di bagian selatan Pulau Tuanku pun tak kalah menarik. Ombaknya menggulung tinggi sangat cocok dijadikan tempat berselancar. Surfer mancanegara datang berombongan untuk memuaskan hasratnya menjajal gelombang laut Samudra Hindia. Pulau Banyak menjadi destinasi untuk berselancar di barat Sumatra, ombaknya sebanding dengan Pantai Krui di Lampung, Pulau Asu di Nias atau Desa Naibos di Pulau Simeulue meskipun begitu ketinggian ombak Ujung Lolok belum setinggi ombak di Pulau Mentawai.

    Pulau Bangkaru menjadi pulau terbarat di gugusan Pulau Banyak. Letaknya langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Di Pulau ini pula terdapat  penangkaran penyu di kelola oleh Yayasan Pulau Banyak. Pengunjung bisa melihat penyu menetas dimalam hari dan tinggal di beberapa hari di Pulau Bangkaru.

    Dari Desa Haloban, muncung perahu kami arahkan menuju Pulau Tailana. Dari atas perahu, saya bisa menyaksikan koral indah yang menutupi dasar lautnya. Pulau Tailana menjadi salah satu primadona di Pulau Banyak, lautnya sangat cocok untuk melakukan snorkeling.  Di awal tahun 90-an, koral di Pulau Tailana lebih mempesona, ikan beraneka ragam menghiasi lautnya. Namun aktivitas pemboman yang dilakukan para nelayan yang datang dari luar Pulau Banyak membuat koral di Pulau Tailana mengalami kerusakan.

    Belakangan, kesadaran penduduk akan pentingnya menjaga kelestarian ikan dan terumbu karang, menghasilkan dampak positif bagi kelangsungan hidup ikan dan terumbu karang di Pulau Banyak. Pemboman serta pukat harimau adalah hal haram dan tidak boleh dilakukan sama sekali di Pulau Banyak. Nelayan dan masyarakat bahu membahu menjaga kawasannya. Pulau Tailana dan terumbu karang yang menghiasi perairan  Pulau Banyak bisa berbangga diri. Setidaknya beberapa tahun kedepan, terumbu karang dan ikan yang beraneka ragam bisa mengangkat pulau ini menjadi destinasi bahari utama di Pulau Sumatra selain Pulau Weh yang sudah lebih dahulu mendunia.

    Selepas Pulau Tailana, kami singgah ke Pulau Orongan. Pantainya berpasir putih, gradasi airnya mulai dari bening, coklat, tosca hingga biru gelap. Saya berjalan dari tepian pantai hingga ke jantung pulau. Daratan pulau tergenang air, menyisakan rawa berwarna coklat, pohon kelapa tinggi menjulang nyiurnya seakan menyentuh kaki langit. Di kejauhan, beberapa pohon kelapa sudah mati. Saya melewati rawa-rawa, sesekali kaki saya terbenam lumpur rawa. Kesenangan itu mencapai puncaknya saat saya menyeburkan diri dilaut jernihnya.

    Di seberang Pulau Orongan, pasir putih Pulau Sikandang terlihat jelas. Disini terdapat bungalow sederhana, namun saat kami menyentuh Pulau Sikandang bungalow tersebut tak ada tamu sekaligus tak ada penunggu. Bangunan dari kayu tersebut di tinggalkan membisu begitu saja ditemani nyanyian laut. Dari bungalow saya berjalan menyisiri pantai, Pak Salamat menunggu di bungalow. Perjalanan menyisiri pantai ditemani kicauan burung bersuara merdu dari dalam hutan Pulau Sikandang. Saya berhenti setalah berjalan cukup jauh, melingkahi beberapa batang pohon tumbang dan saat melihat kebelakang pemandangan hanya barisan batang-batang kelapa yang hampir rebah ke dalam laut.

***

    Dua hari sebelum saya meninggalkan Pulau Banyak, bersama penduduk Pulau Balai, Bang Amir Husein kami menikmati senja di tepi pantai. Di barat, matahari dengan bulatan penuh lambat laun tenggelam di kejauan laut. Langit mulai bergelora, awan-awan membentuk pola beraneka ragam. Ditemani api unggun kami bercerita hingga malam.
   
    Senja terakhir di Pulau Banyak saya habiskan di atas laut bersama nelayan lokal. Saya melingkari leher dengan Kain Ulos pemberian seorang kawan untuk menghindari angin laut. Pulau Banyak malam itu dipayungi ribuan bintang, perahu kami melaju pelan membelah laut. Lewat senja perahu kami menyentuh dermaga di Pulau Balai. Saya berjalan menyisiri pantai kembali menuju penginapan kemudian mengemasi perlengkapan ke dalam ransel. Esok hari kapal berangkat sebelum tengah hari menuju Aceh Singkil, tiba waktunya bagi saya untuk mengucapkan sampai jumpa untuk pulau ini.

    Pulau Banyak tak habis pesona. Perpaduan keindahan alam serta kebaikan masyarakatnya menjadi modal pulau ini untuk menggaet turis-turis yang haus akan pesona bahari. Tak menutup kemungkinan pulau ini bisa menjadi destinasi wajib bagi para turis yang bertandang ke Sumatra. Tinggal sekarang bagaimana pemerintah dan penduduk lokal bahu-membahu menjadikan Pulau Banyak sebagai kawasan yang wajib disinggahi turis namun tetap dengan nuansa keramahan lokal.

0 komentar: