Pulau Banyak Pesona Bahari di Selatan Aceh (Bagian I)

10/23/2012 02:06:00 PM Yunaidi Joepoet 1 Comments

Dikejauhan burung camar meliuk hening melintasi laut sementara perahu kayu melengking menuju hilir. Lambungnya membelah muara menyisakan sebaran gelombang air. Di kiri muara, bangunan yang dulunya berfungsi sebagai kilang penampung minyak dan pelabuhan feri kini terendam air. Beberapa bangunan disekitarnya terbengkalai, lapuk dan ditinggalkan membisu begitu saja. Di tengah muara, bangkai kapal kayu menghitam hangus. Beberapa bulan yang lalu kapal ini kandas, bahan bakarnya tumpah, dengan cepat api melahap sekujur kapal, beruntung semua penumpang bisa menyelamatkan diri. Tak jauh dari kapal pertama yang karam, sebuah kapal kayu juga bernasib naas. Air laut surut, kapal ini salah mengambil lintasan kemudian kandas, malang bagian bawah lambung kapal ini robek dan memberikan celah air mengisi lambung kemudian menenggelamkannya.

Pulau Banyak, Banyak Island, Kepulaua Banyak, Banyak Archipelago, Best Spot for Diving in Aceh, Surfing in Aceh, Pulau Balai, Pulau Palambak, Pulau Tailana, Tailana Islanda, Palambak Island, Bangkaru Island
Hamparan pasir putih di Pulau Biawak, salah satu Pulau yang ada di Pulau Banyak.


Berdiri bak kondektur kopaja, saya memegangi atap perahu dalam pelayaran menuju Pulau Banyak. Sementara penumpang lain yang akan berdagang di Pulau Balai lebih memilih duduk diantara tumpukan barang. Berbagai macam barang dagangan dibawa, mulai dari sayuran, kebutuhan rumah tangga, perkakas dan pakaian.

    Bang Buyung bertindak sebagai tekong - juru mudi perahu - masih enggan untuk lepas dari muara menuju laut. Hal ini cukup beralasan, gundukan pasir di tepian muara yang dijadikan patokan batas pasang belum digenangi air. Tapi apa daya, jika menunggu pasang sempurna, maka kapal akan telat tiba di Pulau Balai sementara pasar akan dimulai ba'da Ashar.

    Perahu bermanuver mencari celah muara yang agak dalam menuju laut, deru mesinnya merongrong kuat. Pegangan penumpang semakin erat saat lambung perahu menyentuh dasar muara, kemudian perahu sulit untuk beranjak, perahu kami pun oleng dihantam ombak. " Pindah...capek pindah ka sinan!" (Pindah, cepat pindah kesana) teriak tekong. Beberapa penumpang berhambur ke bagian kanan untuk menyeimbangkan perahu. Tekong mulai kebingunan, kami tidak bisa berbuat banyak.

    "Byurrr....." tiba-tiba seorang penumpang pria menyeburkan diri ke laut. Sambil berteriak penumpang itu berusaha untuk mencari muara yang cukup dalam supaya perahu kami bisa lepas ke laut. Seperti Jack dengan gagahnya  menyelamatkan Rose di film Titanic, penumpang tersebut memapah perahu kami yang sekarat dihantam gelombang. Penumpang lain tak henti-hentinya mengucapkan Asma Allah. Hampir sepuluh menit bertarung, akhirnya kami pun lepas dari muara. Kami bersyukur, daftar perahu tenggelam di muara ini tidak bertambah. Perahu pun melaju menuju Pulau Balai di gugusan Kepulauan Banyak.

***

    Memakan waktu tempuh empat jam lamanya dari pelabuhan jembatan tinggi Aceh Singkil, perahu akhirnya merapat di dermaga Pulau Balai. Saya meloncat dari perahu setelah membayar ongkos dua puluh lima ribu rupiah. Dermaga Pulau Balai tak terlalu besar, setiap hari Senin pasar tradisional digelar, tempat ini akan dipenuhi para pedagang yang datang dari Singkil. Lapak barang dagangan di bentang, penduduk sekitar : Desa Pulau Balai, Desa Pulau Baguk dan Desa Teluk Nibung datang berbondong-bondong. Dari Desa Teluk Nibung, saat sore mereka menuju pasar dengan perahu dan pulang sebelum senja. Pasar seperti ini akan digelar pula keesokan harinya di Desa Haloban, Pulau Tuanku. Dengan pedagang yang sama namun pembeli berbeda. Pembelinya datang dari Desa Ujung Sialit, Desa Hasantola dan Desa Suka Makmur. Hanya dua hari orang pulau, sebutan untuk penduduk Pulau Banyak, bisa merasakan keramaian sekaligus membeli berbagai macam kebutuhan dari perlengkapan rumah tangga hingga alat bersolek bagi perempuan pulau.

    Pulau Banyak masuk kedalam daerah administratif Kabupaten Aceh Singkil. Letaknya 26 Mil Laut dari pusat kabupaten. Jika dari Banda Aceh, jaraknya masih 18 jam perjalanan darat ditambah empat jam perjalanan laut. Letaknya di tepi Samudra Hindia, dan menjadi salah satu gugusan pulau indah yang ada di bagian barat Swarnadwipa, Pulau Sumatra. Dua pulau besar mengapit Pulau Banyak, Pulau Simeulue di utara dan Pulau Nias di selatan. Menuju pulau ini dapat menggunakan kapal feri dan perahu kayu. Feri KMP Teluk Singkil hanya berlayar sekali dalam seminggu, hari Senin. Sedangkan perahu tradisional berlayar tiap hari dari pelabuhan tradisional jembatan tinggi di Aceh Singkil.

    Sebelum tahun 2011, Pulau Banyak masuk kedalam Kecamatan Pulau Banyak. Namun pemekaran kecematan membuat pulau ini harus terpisah menjadi dua daerah administratif yakni Kecamatan Pulau Banyak dengan pusat di Desa Pulau Balai dan Kecamatan Pulau Banyak Barat dengan pusat administratif di Desa Haloban. Menurut penduduk lokal ada lebih kurang 99 pulau, inilah yang mendasari penamaan kawasan ini menjadi Pulau Banyak.

    Ini penjelajahan saya yang kedua di Pulau Banyak. Kali pertama saya menghabiskan waktu di Pulau Palambak Besar, pulau yang bisa dikelilingi dalam waktu tiga jam saja berjalan kaki. Saya menginap di Lyla Bungalow, pemiliknya Bang Erwin penduduk Desa Pulau Balai. Kini bungalow tersebut menjadi satu-satunya bungalow di Pulau Palambak Besar. Dulu ada beberapa bungalow yang dibangun oleh pemerintan daerah. Namun minimnya pengelolaan terhadap bungalow, membuat bangunan tersebut lapuk dan hancur.

    Kali kedua, saya memilih tinggal di  Desa Pulau Balai, pusat Kecamatan Pulau Banyak. Dari dermaga pasar, saya berjalan melewati jalan desa. Di persimpangan dekat Lae Kombih saya mengambil jalan ke kiri menuju penginapan yang letaknya tak jauh dari laut. Losmen Putri, bertarif rp 60.000/malam, pemiliknya Pak Maisal. Malam pertama kedatangan saya di pulau ini di habiskan dengan berbagi cerita hingga larut.

***

    Pagi hari, sinar matahari belum terlalu hangat.  Pak Maisal pemilik penginapan mengabarkan perahu kayu bermesin 11 PK miliknya tidak bisa digunakan. Angan saya untuk berkeliling Pulau Banyak hampir pupus. Tak mau saya kecewa, Pak Maisal mencoba menghubungi seseorang dari telfon genggamnya, hasilnya menggembirakan ada seorang nelayan bersedia mengantar saya berkeliling Pulau Banyak.  Kami pun berjanji untuk bertemu di dermaga feri pukul sembilan.

    Tergopoh-gopoh saya berjalan ke arah dermaga feri tak jauh dari penginapan. Di tengah laut seorang nelayan dipayungi kain merah menyala mendekat ke dermaga. Pak Salamat, begitu warga pulau memanggil nelayan yang sudah berumur setengah abad ini. Saya mempercayakan sepenuhnya perjalanan antar pulau ini kepada Bapak Salamat. Pengalaman melautnya lebih tua dibandingkan umur saya. 

    Kami mulai menyisiri laut, dari dermaga kami melewati pinggiran Pulau Baguk, pulau kecil yang ada di seberang Pulau Balai. Jika malam pulau ini hampa penghuni, yang ada hanya lampu suar berkedip sesuai ritme. Pulau Baguk berpasir putih, daratannya di tutupi pohon kelapa. Laut yang mengitari Pulau Baguk sangat jernih, meski minim terumbu karang, laut Pulau Baguk tetap menarik dijadikan tempat untuk snorkeling.

    Dari Pulau Baguk kami melaju ke arah barat. Jika melaut ke arah selatan, beberapa Pulau kecil siap menyambut. Sebutlah Pulau Tapus-Tapus, Pulau Panjang, Pulau Rangit, Pulau Palambak Kecil dan Pulau Palambak Besar. Pulau ini menawarkan hal yang dengan Pulau Baguk, pantai berpasir putih, laut jernih, tanpa penghuni dan beberapa batang pohon kelapa tanpa nyiur. Pengunjung bisa gila, berteriak sekuat tenaga, berlari kemudian menyeburkan diri kedalam laut. Private Island, begitu para pejalan yang haus tempat sepi me-labeli-nya.

    Perjalanan ke Pulau Biawak berjalan baik pada awalnya. Perahu kami melaju beratapkan langit biru cerah, bulir-bulir awan menggantung bak kapas. Sementara di bawah kami ribuan ikan berenang menyusuri laut jernih. Semua penggambaran seakan sirna setelah sejam perjalanan, perahu kami rusak di bagian kipas penggerak. Besi yang menjadi sambungan mesin dan kipas penggerak lepas.  Kami tidak bisa berpindah,  saya menawarkan pilihan untuk mendayung perahu kembali menuju Pulau Balai. Namun Pak Salamat menolak, "Kapan tibanya kito di Pulau Balai".

    Kami berusaha menghubungi tetangga Pak Salamat di Pulau Balai, Dio. Warga Pulau Nias yang datang ke Pulau Banyak untuk membeli perahu.  Kami menunggu hampir sejam lamanya diatas laut.  Dio dengan perahu bermesinnya tiba membawa besi sambungan untuk kipas penggerak.  Saya merasa tersanjung atas kebaikan warga Pulau. Bapak Salamat berujar bahwa dia baru mengenal Dio beberapa hari yang lalu. Namun singkatnya waktu perkenalan tak mengurangi niat baik seseorang untuk saling menolong. Hal yang jarang kita jumpai di perkotaan, mungkin.

    Masyarakat Pulau Banyak maju dalam hal toleransi dan kerukunan beragama. Pulau Banyak bukan daerah yang dikuasai oleh suku tertentu. Beragam suku mendiami Pulau Banyak. Ada beberapa suku yang menghuni daratannya : Suku Aceh, Suku Minang, Suku Batak serta Suku Nias namun meraka hidup dalam  harmonisasi.

    Pak Darni misalnya, nelayan di Pulau Balai. Lahir di Nias, besar di Pulau Balai namun orang tua nya keturunan Minang. Begitu pula hal nya dengan Bang Buyung, juri mudi perahu yang lahir di Pulau Balai namun darahnya mengalir Suku Minang. Jodoh mempertemukan Bang Buyung dengan perempuan Suku Nias, merekapun membangun bahtera rumah tangga. Rata-rata penduduk Pulau Banyak adalah pendatang. Akulturasi di Pulau Banyak melahirkan tatanan hidup yang seimbang. Keberagaman suku yang mendiami beberapa pulau bukan menjadi momok pertikaian. Malah sebaliknya, damai senantiasa melindungi kehidupan orang pulau.(bersambung ke bagian II)

bagian II : http://www.ranselkosong.com/2012/10/pulau-banyak-pesona-bahari-di-selatan_23.html

1 komentar: