Pertunjukan Matah Ati Memikat Hati Melalui Seni

9/18/2012 09:03:00 AM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Sore baru saja datang, dari penginapan bertarif terjangkau di daerah Kemleyan, Solo - Surakarta saya beranjak melewati gang sempit bercat putih. Dari pintu keluar penginapan saya melangkah ke kanan lurus ke arah jalan raya. Di ujung gang saya mengambil jalan kembali ke arah kanan. Lurus saja hingga tiba di Ngarsopuro, sebuah kawasan yang ramai saat akhir pekan oleh pedagang dan para pengunjung baik warga lokal Solo maupun wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Hari ini tidak weekend, namun pedagang yang menjual beraneka souvenir dan kerajinan khas Kota Solo mengisi hampir seluruh badan jalan di Ngarsopuro. Saya melewati tepi trotoar, menikmati beberapa karya seni yang terpajang di sisi jalan. Tujuan akhir saya yakni Omah Sinten, untuk menukarkan voucher Matah Ati yang sedari lama sudah ditangan. Menunggu senja saya menghabiskan waktu berkeliling Mangkunegaran, melihat wong cilik Solo berlatih tari di pelataran Pura Mangkunegaraan. Setidaknya kegiatan itu lebih bermakna sambil menunggu Pertunjukan Seni yang mungkin akan memikat hati saya malam ini.

Di akhir pertunjukan, semua pemeran yang melakoni Matah Ati membawa foto (Alm) GPH Herwasto Kusumo. Matah Ati sukses membius penonton lewat tampilan yang bisa dikatakan tak ada cacat-nya. Dialog cerdas, adegan tari yang menggugah emosi, penari dengan keterampilan mumpuni dibalut sempurna dengan tata artistik yang mewah. Setidaknya Matah Ati mengangkat citra Kota Solo sebagai kota seni.

 "Tiji Tibeh,
Mati Siji, Mati Kabeh - Mukti Siji, Mukti Kabeh"
Matah Ati 2012

Jarum jam baru berhenti dipukul 5.40, namun para penonton Matah ati sudah menunggu sembari duduk di trotoar pertigaan Ngasopuro dan masuk Pemedan Pura Mangkunegaran. Saya ikut masuk kedalam barisan pengantri, tak ingin ketinggalan tempat duduk. Petugas jaga bilang, pintu baru akan dibuka pukul 6.30, dan berarti saya harus menunggu lebih dari sejam lagi. Tak masalah, toh ribuan penonton juga melakukan hal yang sama.

Pintu dibuka, barisan penonton mengular hingga jauh. Baru kali pertama saya menykasikan pertunjukan (selain konser musik dan pertandingan olahraga) dengan antrian masuk sepanjang ini. Pemeriksaan untuk Matah Ati tak terlalu ketat, sebelumnya saya was-was untuk tidak bisa membawa masuk peralatan kamera karena terkait aturan tertulis pertunjukan yang melarang penggunaan kamera dan prekam video masuk. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku. Satu hal yang jadi masalah kecil tidak dipisahkannya pintu masuk bagi kaum lansia, panitia hanya memisahkan pintu masuk berdasarkan kelas tiket. Tentu saja VVIP dan VIP mendapat pintu masuk yang lebih layak. Sedangkan dipintu masuk tiket kelas 1 dan kelar festival, kaum lansia harus rela berdesak-desakan dengan penonton lain. Saya menempati kursi duduk saya, tak ada nomor kursi bagi pemegang tiket kelas 1. Karna datang lebih awal, posisi duduk yang saya dapatkan lumayan bagus untuk mengambil beberapa foto.

Pertunjukan Matah Ati digelar tepat jam 7.45, diawali dengan pemain gamelan yang masuk lebih dahulu kemudian barulah Matah Ati dibuka. Berlatar era pertengahan abad ke-18, Matah Ati bercerita tentang cinta dan kekaguman Rubiyah, seorang gadis dari Desa Matah yang menerima lamaran seorang ksatria yang dengan gagah berani melawan VOC, penjajah kala itu yang sudah berbuat semena-mena terhadap rakyat. Raden Mas Said dengan sebutan Pangeran Sumbernyowo, seorang ksatria dari Surakarta-lah yang menumbuhkan kekaguman Rubiah dan menjadikan cinta dihati Rubiyah.  Pertemuan Rubiyah dengan Raden Mas Said berawal saat Raden Mas Said berjalan ke Desa Matah, desa dimana Rubiyah tinggal. Dalam perjalanannya, Raden Mas Said akhirnya menjadikan Rubiyah sebagai pendamping hidupnya. Tak hanya dalam hal rumah tangga, Rubiyah yang kemudian diberi nama Bandoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati pun menjadi seorang pemimpin peperangan, memimpin kaumnya melawan penjajah kala itu. Dari sepasang sejoli ini pulalah kemudian turun generasi penguasa Istana Mangkunegaran.

Pembukaan Matah Ati dimulai dengan cerita mengenai kesetaraan antara laki-laki da perempuan dalam memerangi ketidakadilan yang telah dilakukan oleh para penjajah. Dalam adegan ini point utama penceritaan adalah peran perempuan jawa yang sudah mengambil tempat dalam perlawanan. Adegan selanjutnya adalah Adegan Dupa, dimana seorang Rubiyah (diperankan oleh Rambat Yulianingsih) penari gemulai sedang bermimpi menjadi seorang putri Ningrat. Adegan dilanjutkan dengan Dolanan, dengan latar Desa Matah tempat dimana Rubiyah tumbuh besar. Menceritakan keriangan anak-anak desa penuh dengan tawa, bermain dan menyanyikan tembang dolanan.

Artistik yang memukau dan alur cerita yang sangat baik, pertunjukan Matah Ati berhasil mengangkat citra seni panggung ketempat yang lebih tinggi. Solo sebagai tuan rumah juga harus turut berbangga karna kota ini dipilih sebagai tempat pertunjukan Matah Ati. Bisa dikatakan Matah Ati kembali kepelukan rumahnya, Mangkunegaran.

Adegan berganti, dari panggung tiga tingkat dengan kemeringan 15' ini muncullah penari Matah ati. Tata lampu yang menawan, kostum dan properti yang digunakan mampu menggugah para penonton untuk berimajinasi kembali ke pertengahan abad 18. Arak-arakan Raden Mas Said dan para punggawa menuju Desa Matah dihadirkan dengan apik oleh sang sutradara. Arak-arakan ini yang telah menggentarkan hati Raden Mas Said saat melihat Rubiyah di Desa Matah. Tata lampu kemudian berubah setelah adegan arak-arakan Raden Mas Said meninggalkan panggung. Kali ini hanya penerangan ungu dengan spot light mengarah kepada Rubiyah dan Ayahnda berlatar ranting kayu. Adegan ini merupakan nasihat bagi Rubiyah dari Ayahnda soal menjauhkan angan-angan untuk memiliki bangsawan ksatria, karena Rubiyah hanya orang desa. Tata panggung kembali gelap, siluet Fajar Satriadi yang memerankan tokoh Raden Mas Said bersanding dengan siluet keris. Di adegan pertapaan ini Raden Mas Said memohon kekuatan kepada Tuhan menyoal seorang wanita yang mempunyai figur yang menggairahkan.

Puluhan penari kembali masuk panggung menggunakan kostum laksana pertengahan abad 18. Tata cahaya kembali redup, namun bias cahaya cukup mampu menerangi kerumunan penari yang akan melakukan adegan Tiji Tibeh. Raden Mas Said mengajak para prajuritnya untuk melakukan sumpah pamoring kawula - Tiji Tibeh, Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh - (Mati Satu Mati Semua, Mulia Satu Mulia Semua). Adegan dilanjutkan dengan peperangan melawan Belanda yang dipimpin sendiri oleh Raden Mas Said, namun karena keterbatasan jumlah, Raden Mas Said pun mengambil keputusan untuk mundur. Saat inilah para laskar perempuan yang menyamar sebagai petani mengambil peran sejajar dengan para lelaki dalam hal penumpasa keangkaramurkaan. Adegan peperangan disajikan secara menawan diikuti dengan latar musik yang menggugah semangat.

Adegan dilanjutkan dengan pacut besar, menonton wayang hingga adegan saat Rubiyah kasmaran. Dilanjutkan dengan adegan pedesaan yang memberi waktu bagi penonton untuk menarik nafas. Di adegan pedesaan dihadirkan dialog cerdas, mulai dari isu kekinian, masalah korupsi, terorisme dan menyentil pemerintahan. Dialog-dialog yang dihadirkan dalam bahasa jawa dicampur dengan guyon berbahasa asing turut memberikan warna dalam pertunjukan Matah Ati. Setidaknya Matah Ati tidak hanya monoton sebatas tarian, tetapi juga dialog-dialog cerdas namun tidak basi.

Klimaks adegan terasa saat perang besar, lagi-lagi Matah Ati mempersiapkan segala sesuatunya secara matang. Api keluar dari sekeliling panggung, melihatkan gejolak peperangan antara pasukan Raden Mas Said melawan penjaha. Adegan tersebut menyisakan tubuh-tubuh prajurit yang tewas akibat peperangan. Tata cahaya juga menambah kobaran semangat penonton yang dilecut oleh musik bernuansa patriots.

Dengan penari yang memang menguasai panggung secara utuh, pertunjukan Matah Ati memberikan kesan yang dalam tentang perlawanan yang dilakukan oleh Raden Mas Said dan Matah Ati terhadap Belanda.

Setelah perang besar, adegan berikutnya adalah pesta agung untuk merayakan kemenangan dalam medan perang. Bersamaan pula diadakan pesta pernikahan antara Raden Mas Said dan Rubiyah. Properti serta kostum penari yang mendukung menjadikan adegan Pesta Agung ini menjadi langkah penutup pertunjukan Matah Ati yang megah sebelum adegan percintaan. Musik jawa mengalun mengiringi langkah pasangan Raden Mas Said dan Matah Ati.

Pertunjukan Matah Ati usai setelah adegan percintaan. Kemudian lampu panggung padam, dari sisi kiri penonton arak-arakan membawa perlengkapan khas kerajaan memasuki panggung. Closing ceremony membawa foto (Alm) GPH Herwasto Kusumo ke dalam panggung. Semua pemeran Matah Ati mengisi setiap baris panggung yang miring tersebut. Kemudian MC mengucapkan banyak terima kasih atas atensi penonton atas pertunjukan Matah ati. Tepuk tangan tak hentin-hentinya meriuhkan pertunjukan luar ruangan tersebut.

Saya tak ketinggalan keempatan untuk memberikan penghargaan bagi seluruh penari dan pihak yang telah menghadirkan seni yang mewah di Kota Solo. Setidaknya bagi saya Matah Ati ini menjadi sangat menarik karna perpaduan tradisi dan modern bisa tersaji apik dan mengundang decak kagum serta apresiasi terhadap seni itu sendiri. Mungkin banyak diantara penonton yang hadir malam itu, datang dari luar Solo dan Matah Ati sekaligus Solo memberikan kenangan bagi para penonton. Bagaimana tidak, persis seminggu sebelum pertunjukan terjadi penembakan di Kota Solom, teror lagi. Bahkan dalam kata sambutannya sang sutradara Atilah Soeryadjaya miris dengan cap media luar yang menulis Solo is haven for terorist.

Matah Ati mungkin memang memikat hati, semoga tradisi dan potensi Indonesia dalam bidang seni dan tradisi semakin membuka mata kita, bahwa kita hidup di negeri yang kaya. Tabik!

Pasukan Belanda menyerang pasukan Raden Mas Said, namun kalahnya jumlah pasukan Raden Mas Said menjadikannya mundur dari medan peperangan. Namunlaskar perempuan dengan melakukan penyamaran sebagai petani, mereka membantu Raden Mas Said dalam perang melawan Belanda.

Pada adegan 9, Raden Mas Said dan Para Puggawa berjalan di keramaian pergelaran wayang di Desa Matah. Disinilah mulanya Raden Mas Said melihat cahaya dari pengasihan seorang gadis.

Pernikahan agung Raden Mas Said dengan Matah Ait pada adegan 16.

0 komentar: