Desa Maulingge di Ujung Barat Indonesia

5/02/2012 02:26:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Dari Sabang sampai Merauku, dari Mianggas hingga Rote. Mungkin diantara kita sudah mengenal jelas kalimat itu. Ya di barat Indonesia, Sabang menjadi penjaga batas wilayah Indonesia. Sedangkan di timur, Merauke yang menjadi panser negeri ini berhadapan langsung dengan Papua Nugini. Di utara jauh melewati Kepulauan Sangihe Talaut, Pulau Mianggas yang menjadi tepian tanah air berdiri kokoh menjaga Negara ini. Sedangkan di selatan Indonesia, Pulau Rote semakin elok dengan pesonanya.

Perahu di tambatkan, riak laut menggoyangkan lambung kapal sementara debur ombak terhenti di pasir putih Maulingge. Saya meniti dermaga kayu yang oleng, di kejauhan anak kecil berlari menyusuri bibir pantai. Ibu-ibu bercengkrama di pondok kayu. Maulingge sore itu bergeliat, meski awan hitam menggelantung di tapal batas desa terbarat di Indonesia.
Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!
(Sukarno, 24 September 1955)

Saya beruntung pernah mengunjungi salah satu sisi paling terluar di Indonesia jauh di bagian barat. Bukan Sabang, tetapi Desa kecil yang penuh pesona di batas tanah air. Desa Maulingge yang terletak di Aceh Besar. Jika ditilik lagi di Peta, ini adalah desa terbarat di Indonesia. Mohon koreksi jika saya salah, tetapi saya mengambil garis di peta dan Pulau inilah di barat Indonesia yang berpenghuni dan Desa Maulingge di barat Pulau ini adalah Desa Terbarat di Pulau ini.

Saya berjalan kaki dari Lhe Blah setelah singgah di salah satu peninggalan Belanda. Sebuah mercusuar tua yang menjadi saksi di tepian tanah air. Dari peninggalan Belanda itu saya harus berjalan lagi melewati jalan setapak yang masih dikelilingi hutan. Beberapa kali teman saya Bang Muslim warga Desa Gugup membuat suara membalas panggilan dari para petani yang memiliki ladang di Pulau Breueh.

Setelah berjalan lebih setengah jam, dari perbukitan mulai terlihat beberapa rumah yang mengisi petakan tanah di pinggiran pantai Desa Maulingge. Tidak begitu banyak rumah, jaraknya pun renggang sekali. Saya rasa hanya ada lebih kurang dua puluh rumah. Rumah-rumah yang rata-rata terbuat dari kayu tersebut terkurung di dalam teluk yang sangat indah. Lautnya berwarna tosca, tepat dibelakangnya perbukitan tinggi mengelilingi laut-laut hijau tosca yang terbungkus dalam pesonanya. Saya semakin berjalan cepat, tak peduli lagi kaki saya yang semakin perih menginjak tanah berbatu. Sedari awal saya memutuskan tidak menggunakan alas kaki dari Desa Gugup, karena saya pergi dengan kapal kayu nelayan.

Memasuki Desa Maulingge tidak banyak orang yang lalu lalang. Sepi sekali, saya merasa seperti berada di kota mati. Hanya ada beberapa rumah dan balai desa yang dijadikan tempat pertemuan warga jika ingin mengadakan suatu rapat. Tak jauh dari balai desa, sebuah kedai kecil berdiri kokoh. Saya dan Bang Muslim akhirnya mengarahkan kaki menuju kedai kecil ini.

Pengunjung kedai siang itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang saja. Saya memesan mie instan dan secangkir kopi aceh. Tak dinyana, Aceh memang terkenal dengan kualitas kopi nya yang memanjakan lidah. Di beberapa tempat seperti di Dataran Tinggi Gayo, kopi-kopi aceh dengan kualitas internasional dihasilkan. Pecintanya tidak hanya lokal, jauh hingga ke ujung belahan bumi kopi aceh di ekspor untuk memenuhi permintaan para pecinta kopi. Di warung yang terbuat dari kayu itu, sang pemilik memutar radio lokal, saya bercinta dengan secangkir kopi sembari bercerita dengan penduduk lokal.

Lepas mengganjal perut, saya berjalan menuju pantai. Tak jauh dari warung tadi, sebuah dermaga berdiri. Beberapa kapal masih tertambak di dermaga. Jalan menuju dermaga masih berupa kayu-kayu. Saat ombak menghantam tiang-tiang kayu dermaga, kayu lintasannya bergoyang. Saya sedikit gamang melewati jembatan ini. Di ujung lintasan kayu, dermaganya sudah di semen dan sangat kokoh. Dari dermaga, saya melihat Desa Maulingge dengan latar belakang perbukitan. Di dermaga beberapa penduduk Maulingge duduk sembari menunggu umpan kailnya dimakan ikan.

Penduduk Desa Maulingge hidup dari melaut, hasil tangkapan ikan melaut dijual ke Lampulo, sebuah pelabuhan ikan di Banda Aceh. Sedangkan ibu rumah tangga hidup dari berladang di Pulau Breueh, berbagai macam umbi-umbian dan lada ditanami di pulau yang masuk kedalam gugusan Pulau Aceh ini. Hidup di Desa Maulingge menjadikan penduduk desa menggantungkan nasib terhadap alam. Jika gelombang sedang besar, jarang sekali nelayan pergi melaut. Laut Hindia terlalu ganas untuk di arungi, ombak berketinggian beberapa meter bisa saja melamun kapal kayu nelayan.

Pelabuhan di Desa Maulingge pun masih terbengkala. Ada wacana yang saya dengar dari penduduk lokal bahwa Desa Maulingge akan dijadikan tempat kilang minyak salah satu perusahaan minyak. Pelabuhan pun didirikan. Semoga saja nantinya pelabuhan ini akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Desa Maulingge.

Setelah bercerita beberapa saat dengan warga lokal, saya berjalan kembali menuju pantai Maulingge.
Pantai nya berpasir lembut. Beberapa potongan akar pohon besar tertancap di pasirnya. Anak-anak kecil bermain bola di pinggiran pantai sementara ibu-ibu bercengkrama di bawah pondok-pondok yang beratapkan rumbia. Deburan ombak seakan-akan turut menyemarakkan suasana kala itu. Saya menulis nama saya di pantai, kemudian menunggu ombak yang lumayan besar menghapus nama saya. Hilang, kemudia saya tulis lagi dan hilang kemudian saya tulis lagi.

Tak lama saya bermain, awan hitam sudah menggantung tinggi. Ini akan menjadi bencana jika hujan deras dan badai menghantam kami di tengah laut. Kami kembali ke Desa Gugup setelah melewati gulungan ombak satu setengah meter diantara hujan deras. Ini menjadi pengalaman pertama saya terkena gelombang besar dan hujan lebat ditengah lautan. Bukan apa-apa, saya khawatir kapal kayu kecil yang kami tumpang terbelah karna kerasnya gelombang laut. Tapi syukurlah, kekhawatiran saya tidak berbuah petaka. Kami selamat hingga Desa Gugup meskipun kami pulang setelah matahari menghilang dari ujung barat.

Maulingge memang membisu di sudut barat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa Maulingge hening tanpa hiruk pikuk lalu lalang kendaraan, tanpa debu-debu jalanan yang berterbangan dan tanpa kejamnya denyut-denyut kemajuan zaman yang memakan setiap relung kebahagian masyarakat. Maulingge hening dengan laut nya yang jernih, menawarkan pesona-pesona jingga saat senja menghilang di balik bukit yang mengelilingi teluknya. Masyarakatnya hidup ramah dalam balutan deburan ombak, dan anak-anak pun riang menatap bintang menggantungkan cita-cita jauh tinggi kelak untuk menjaga negara Indonesia di tapal batas. Maulingge ku sayang !

Note :  Perjalanan ke Desa Maulingge saya lakukan pada bulan Maret tahun 2011. Gelombang kuat membuat saya batal menginjakkan kaki di Pulau Rondo, salah satu pulau terluar di Indonesia. Saya menghabiskan waktu hampir seminggu lamanya di Desa Gugup, Pulau Breueh. Beberapa mil laut menyeberang dari Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh.

0 komentar: