Awan Kelabu di Danau Gunung Tujuh

5/22/2012 01:19:00 AM Yunaidi Joepoet 6 Comments

Awan kelabu menggantung pekat menutup barisan perbukitan yang mengelilingi Kota Sungai Penuh.  Udara siang itu panas menguap, ini berbeda dengan udara Sungai Penuh biasanya yang berhawa sejuk. Biasanya udara seperti ini pertanda butiran air hujan tidak lama lagi akan turun. Benar saja, baru saja kami melewati Semurup setelah membeli perbekalan untuk pendakian ke Danau Gunung Tujuh hujan-pun mengguyur deras.

Pak Asril (54) nelayan lokal yang telah menggantungkan hidupnya lebih dari 40 tahun lamanya dari hasil ikan di Danau Gunung Tujuh. Sekali seminggu warga Desa Pelompek ini turun untuk menjual hasil ikan tangkapannya ke pasar tradisional. Saat kami berjalan turun Pak Asril menunggu dua orang temannya yang turun menjual ikan ke pasar. Dalam perjalanan turun, kami berselisih jalan dengan dua orang teman Pak Asril.
Danau Gunung Tujuh masuk ke dalam area Taman Nasional Kerinci Seblat. Dengan ketinggian 1996 mdpl, danau ini menjadi salah satu danau tertinggi di Indonesia. Danau ini di kelilingi oleh tujuh gunung yakni Gunung Hulu Tebo, Gunung Hulu Sangir, Gunung Madura Besi, Gunung Lumut, Gunung Selasih, Gunung Jar Panggang, dan Gunung Tujuh.

Kami memacu kendaraan menuju Desa Pelompek meskipun hujan mengguyur. Namun setelah melewati pasar Siulak Deras, hujan berganti dengan butiran gerimis.  Tapi jalanan mulai menanjak. Laju kendaraan kami melenguh menuju Kayu Aro. Kayu Aro merupakan dearah perkebunan penghasil teh terbaik yang ada di Kerinci. Jika hari cerah, pemandangan Kayu Aro bak permadani. Hamparan kebun teh menghijau dengan latar belakang Gunung Kerinci - gunung api tertinggi - di Indonesia. Tapi sayang, sore itu kami hanya bisa melihat hamparan perkebunan teh berselimut kabut.

Pukul lima sore kami memasuki Desa Palompek setelah menempuh perjalanan satu setengah jam dari Kota Sungai Penuh. Saya membelokkan kendaraan menuju pintu gerbang pendakian Danau Gunung Tujuh. Tiba di pintu pendakian kami kembali menyusun perbekalan ke dalam ransel. Saya membawa perbekalan makanan, Azim dan Mario membawa perlengkapan tenda dan sleeping bag.

Meskipun hanya Danau, tapi jangan kira seperti danau biasa yang bisa dicapai dengan memarkirkan kendaraan di tepian danau. Menuju Danau Gunung Tujuh dibutuhkan usaha keras, jalanan menanjak tajam melewati barisan pohon-pohon berketinggian puluhan meter. Ditambah lagi jarak tempuh dari pintu pendakian hingga ke bibir danau yang memakan waktu lebih kurang tiga hingga empat jam. Beberapa pendaki ada yang mendaki di pagi hari kemudian kembali turun sore hari tapi ini membutuhkan tenaga ekstra. Kami tidak mau memeras tenaga lebih. Kami memilih mendaki saat malam hari, kemudian mendirikan tenda di tepian danau sebagai tempat bermalam.

Lepas pintu rimba hari sudah gelap. Suara jangkrik bersahutan, bunyinya membuat nyali saya ciut ditambah lagi dengan gesekan dahan-dahan pohon membuat suasana semakin seram. Tiba-tiba saya teringat tentang cerita orang pendek yang hidup berkeliaran di Danau Gunung Tujuh. Orang pendek merupakan makluk yang ditakuti oleh penduduk setempat. Tingginya sekitar delapan puluh senti telapak kakinya terbalik dan gerakannya sangat lincah tapi hingga sekarang belum ada sebuah rekaman visual pun yang menampakkan wujud asli dari orang pendek. Hanya cerita dari mulut ke mulut saja yang menyebar. Mengingat orang pendek bagi saya sama seramnya dengan mengingat Sibunian yang menculik manusia di Gunung Singgalang.

Kami terus berjalan melibas tanjakan licin. Sendal jepit yang saya pakai sebagai alas kaki terpaksa saya buka, sudah beberapa kali saya tersungkur saat menginjak tanah licin. Mau tidak mau sayapun mendaki tanpa alas kaki.

Kami berjalan pelan melewati tanjakan-tanjakan menuju puncak. Jalan menuju ke Danau Gunung Tujuh berupa akar-akar pohon melintang seperti anak tangga. Sesekali kami harus melangkahi pohon rebah yang melintang di tengah jalan. Berjalan di malam hari ditemani gerimis memang sedikit berat. Setiap berjalan lima puluh meter kamipun berhenti. Tidak mudah mendaki Gunung Tujuh saat hujan di malam hari.

"Sudah dekat zim ?" tutur saya kepada Azim.
"Habis pohon ini yud. Nanti satu pohon besar yang satu itu, diatas itu puncak dari puncak turun lagi sekitar tiga ratus meter ke bibir danau tempat kita mendirikan tenda." omongan Azim seperti angin segar bagi saya untuk terus melangkah naik ke puncak.

Puncak yang saya nantikan belum juga tiba, saya sadar ini hanya iming-iming Azim agar saya dan Mario tetap bersemangat menuju puncak. "Lelaki pemberi harapan palsu kau Zim" teriak saya.

Pukul sepuluh malam akhirnya kami pun menginjakkan kaki di puncak. Dari puncak kami harus berjalan lagi menuruni jalanan menukik licin menuju bibir danau. Jarak dari puncak ke bibir danau lebih kurang 300 meter. Meskipun jaraknya singkat namun untuk menuju Danau Gunung Tujuh harus ekstra sabar dan memeras tenaga. Setelah perjalanan menuju puncak menanjak sekarang bagian menukik. Sewaktu perjalanan menuju puncak lutut saya sudah perih dan semakin parah saat melewati turunan menuju bibir danau tempat kami mendirikan tenda.

Saya berjalan ke arah bukit, menyusuri semak dan memegang erat sebatang pohon besar di tepian Danau Gunung Tujuh. Tepat di bawah kaki saya berdiri, air danau terlihat membiru. Sembari mengambil beberapa bingkai gambar dalam view finder kamera, saya berharap tidak tergelincir jatuh.

Setelah berjalan hampir setengah jam, kamipun akhirnya tiba di Batu Besar. Beberapa buah tenda mengisi area sempit di tepi danau ini. Ternyata pendaki lain sudah duluan tiba dan mendirikan tenda di bibir danau. Batu Besar berada tepat di tepi Danau Gunung Tujuh. Tempat ini sering dijadikan tempat mendirikan tenda bagi para pendaki. Tanpa pikir panjang kamipun mendirikan tenda di tepian Danau. Tenda kami berdiri sempurna sebelum tengah malam. Setelah mengeluarkan peralatan yang kami bawa dan menyusunnya di sudut tenda sekarang waktunya untuk mengganjal perut. Lambung kami sudah keroncongan sedari pendakian tadi.  Kami merebus air hangat untuk seduhan kopi serta mie instan. 

Diluar angin bertiup menerpa tenda kami, suara riak danau terdengar samar sedangkan dikejauhan suara gemuruh air terjun terdengar keras. Udara di dalam tenda dinginnya menusuk tulang, tapi cerita kami begitu hangat. Kami berguyon tentang wanita-wanita yang beruntung jika memiliki pacar seorang pendaki gunung. Bagaimana tidak, pendaki gunung itu adalah mereka yang sabar, tangguh dan yang paling penting pintar memasak.

Udara pagi itu tak banyak perubahan, dinginnya tetap sama seperti tadi malam. Saya merangkak keluar tenda, tepat di depan tenda hamparan Danau Gunung Tujuh terlihat cantik saat matahari mulai terbit dari balik gunung. Saya menuju batu besar yang ada di danau setelah membasahi muka dengan air danau. Sembari menikmati matahari terbit saya bermain-main dengan uap udara pagi. Saya membuat gumpalan asap dari lepasan nafas saya, wusss.

Tak berapa lama, dari kejauhan seorang nelayan terlihat bersampan melewati tepian-tepian danau. Kami mencoba untuk melambaikan tangan dan berteriak supaya nelayan tersebut datang ke tempat kami mendirikan tenda. Benar saja, lambaian tangan kami berhasil membuat nelayan tersebut mendayung sampannya ke arah kami.

Setelah bercerita singkat, saya dan Mario menumpangi perahu kayu Pak Asril (55) untuk berkeliling danau sedangkan Azim memilih untuk tinggal di tenda. Pak Asril adalah salah satu nelayan yang menjadikan Danau Gunung Tujuh sebagai sumber mata pencahrian. Dalam satu minggu Pak Asril menghabiskan waktu lima hari di Danau Gunung Tujuh. Beliau mendirikan pondok sederhana di tepian Danau Gunung Tujuh. Setiap hari Pak Asril memeriksa lukah - jaring ikan dari bambu - yang di tanam di dasar danau.  Lukah tersebut di beri tali plastik, di ujung tali diikatkan botol mineral kosong agar ujung tali tersebut tetap terapung dipermukaan.  Pada akhir pekan Pak Asril turun gunung menjual hasil ikannya ke Pasar Siulak Deras dan Semurup.

Cara tersingkat untuk mengelilingi Danau Gunung Tujuh adalah dengan menumpang perahu nelayan. Pagi sekali, nelayan di Danau Gunung Tujuh biasanya memeriksa Lukah (perangkap ikan) yang disebar di beberapa titik danau. Menyenangkan sekali ikut nelayan lokal memeriksa perangkap ikan mereka.

Kami berusaha mendayung perahu kayu ini sekuat tenaga dari Batu Besar menuju Pasir Putih di bagian utara danau. Melewati danau saya agak sedikit gamang, kami tidak menggunakan pelampung ditambah lagi kondisi perahu yang memprihatinkan. Bisa saja perahu ini terbalik dan kami akan terjun bebas menuju dasar danau berwarna hijau ini.

Setelah mengayuh perahu lebih dari satu jam sepertinya kekhawatiran saya akan musibah perahu terbalik sirna. Kami tiba di Pasir Putih, di tepian ada pondok nelayan yang tidak dihuni lagi. Saya melepas pakaian dan menyeburkan diri diantara rumput-rumput yang menutupi pinggiran danau. Suara siamang saling bersahutan, saya pun membalas dengan teriakan "Auuuu uuk uuk uuuuk" meniru suara mereka. Pak Asril pun terpingkal karena suara saya tidak seperti suara siamang melainkan seperti lolongan anjing.

Puas menikmati Pasir Putih kami kembali mendayung perahu kayu ini kembali menuju tenda. Perjalanan kembali ke tenda tidak terlalu lama. Saya mengambil beberapa foto saat Pak Asril mendayung perahu dengan latar belakang Gunung Tujuh.

Sesampainya di tenda, Azim sudah menyiapkan makanan. Kami pun melahap dengan nikmat. Usai makan, kami sudah tidak sabar untuk menyeburkan diri ke dalam danau. Batu besar yang ada di bibir danau menjadi titik loncatan. "Byurrrrr..." kami berteriak girang kemudian berenang kembali menuju tepian. Begitu seterusnya hingga tengah hari.

Kami menyudahi loncatan, saat mendung sudah mulai memayungi sekeliling danau. Kami segera bergegas untuk mengemasi barang-barang bawaan. Azim dan Mario dengan sigap melipat tenda, saya kebagian membereskan perbekalan yang harus dibawa kembali. Kemudian sampah plastik kami bakar, beberapa botol minuman kami bawa kembali turun agar tidak ada sampah yang kami tinggalkan.

Pukul satu siang setelah berpamitan dengan Pak Asril, kamipun bergerak meninggalkan tepian danau. Tapi sial bagi saya, sendal jepit satu-satu nya yang saya miliki hilang. Asumsi saya, pendaki lain membawanya turun saat berkemas tadi. Kebetulan sendal jepit itu saya taruh di luar tenda. Saya pun mencari akal untuk membuat alas kaki pengganti. Botol minuman bekas pun menjadi alternatif. Saya mengikatkan botol minuman tersebut dengan seutas tali plastik di kaki setelah membungkusnya dengan kantong plastik. Cukup ampuh sebagai alas kaki hingga saya tiba di pintu gerbang pendakian.

Perjalanan kami turun dari Danau Gunung Tujuh di temani rintik-rintik hujan. Jalanan semakin licin, tapi kami masih bisa berjalan cepat menuruni jalanan kembali menuju gerbang masuk Danau Gunung Tujuh.  Diperjalanan turun kami bertemu dengan kelompok pendaki lainnya. Sebelum senja kami pun menginjakkan kaki di gerbang. Saya merebahkan diri sambil memijit lutut. Dua orang teman saya pun melakukan hal serupa. Dari mulai perjalanan pergi hingga pulang, kami selalu ditemani dengan rintik hujan. Sial sekali nasib kami mendaki di musim hujan.

Sambil melunjurkan kaki, kami berseloroh untuk melakukan panggilan darurat. Tapi bukan panggilan darurat untuk dikirimkan ambulans, melainkan dikirimkan ahli therapy urat wanita yang cantik. Kami berharap mereka menyembuhkan kaki kami yang sudah berat untuk pulang kembali menuju Sungai Penuh. Tapi mau tidak mau kami harus mengucap salam perpisahan ke Danau Gunung Tujuh. Sampai jumpa lagi di lain waktu.

Azim tergopoh menuruni jalan setapak Gunung Tujuh, perjalanan turun kami dari Danau Gunung Tujuh ditemani hujan yang tak hentinya mengguyur hingga tiba di pintu pendakian. Seni menghilangkan lelah adalah sedikit mengumpat dan perbanyak menikmati setiap langkah perjalanan. Sepanjang perjalanan turun kami bersenda gurau, kadang-kadang kami mendendangkan lagu "alay" kemudian berhenti mendadak jika ada pohon kayu besar yang rubuh sebagai tempat beristirahat.

Saya terperangah saat sendal jepit yang saya punya sebagai alas kaki satu-satunya hilang. Kuat dugaan saya, sendal jepit terbawa oleh pendaki lain yang duluan turun. Kebetulan tenda mereka tepat disebelah tenda kami. Saya hampir saja putus asa, namun dua botol kemasan plastik air mineral membangkitkan semangat saya untuk tetap kuat meski sudah ditinggal pergi sendal jepit. Setalah dilapisi plastik, saya mengikatkan botol plastik dengan tali. Syukurlah, alas kaki darurat ini berhasil mengurangi perih telapak kaki saya. Namun tanah yang dingin menjadi momok utama, setibanya di pintu pendakian kaki saya sudah pucat pasi.

6 komentar:

  1. Amazing Yud..
    Next, kemana nh? ikutan lah yud.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih bang :)
      ayo rencana pertengahan bulan ini naik Gunung Merapi sama Gunung Kerinci.
      Akhir bulan pesta Toba, awal bulan Juli di Bagan Siapiapi.
      Gimana ? :)

      Hapus
  2. liat foto kaki...kwkkkkkkkkkkkkkkkk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha kaki tanpa alas mbak sendalnya udah kabur duluan :)

      Hapus
  3. keren..ini di daerah mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. di daerah Kabupaten Kerinci - Provinsi Jambi :)
      ayo kesini :)
      btw, terima kasih sudah berkunjung

      Hapus