Mutiara Indonesia di Pantai Sumur Tiga

4/09/2012 08:39:00 PM Yunaidi Joepoet 3 Comments

Nyiur semakin melambai, ombak pun semakin berkejaran. Beberapa kepiting kecil berlari melewati celah bebatuan yang ada di bibir pantai. Saya terbawa suasana, saya merebahkan diri di pantai dengan pasir putih lembut bak mutiara ini. Kemudian menengadah ke langit yang siang itu berwarna biru tua, beberapa bulir awan pun masih menggantung sambil berarak lambat. Sumur Tiga mungkin menjadi salah satu mutiara wisata Indonesia di bagian barat, bersanding dengan kekayaan bawah laut Pulau Rubiah pantai ini menjadi daya tarik di pulau barat Indonesia, Pulau Weh.


Pantai berpasir putih di pagari pohon kelapa tinggi menjulang. Lautnya bergradasi, dari biru muda di pinggiran hingga biru pekat jauh ketengah. Sumur Tiga, siap menggoyang jika kita ke Sabang.

“Love the sea? I dote upon it – from the beach.”
Douglas Jerrold

Pagi ini snorkling lebih cepat berakhir dibanding hari sebelumnya. Biasanya saya masih berenang bersama ikan-ikan kecil di tepian laut Iboih. Tapi belum lagi jam melewati angka sembilan saya sudah mengibas-ngibaskan rambut yang semakin kesat setelah berlama-lama di air laut jernih. Biasanya saya akan menggantungkan badan yang masih basah di atas hammock sembari menunggu kering akibat terpaan angin. Tak kama berselang saya akan mandi di kamar mandi yang hanya ditutupi selembar kain tanpa pintu.

Usai mandi, saya bergegas menuju Kampung untuk mengganjal perut. Hari ini menu sarapan ikan goreng cabe dicampur sayur. Seporsi Rp 10.000, lebih murah jika saya makan di sekitar kawasan bungalow yang mematok harga rata-rata diatas Rp 15.000. Selepas sarapan, menggunakan motor sewa saya berangkat menuju Kota Sabang. Untuk sepeda motor, satu hari sewa tarif yang dikenakan Rp 70.000. Motor menjadi salah satu transportasi termurah dan termudah jika ingin berkeliling Pulau Weh. Transportasi umum disini bisa dikatakan mendekati titik nihil. Jika pun ada hanya mobil sewaan yang harganya lumayan selangit.

Dari Iboih menuju Kota Sabang jalanan sangat mulus. Setelah tsunami melanda Aceh banyak organisasi lokal ataupun asing bahu membahu membangun Aceh yang terpuruk akibat bencana. Jalanan sangat mulus hingga ke Kota Sabang. Dikiri kanan jalan pepohonan besar masih menghiasi daratan di Pulau Weh ini. Dari Iboih saya melewati Gapang, Pria Laot dan berbelok ke kiri di pertigaan Cot Damar. Dari Cot Damar saya lurus saja hingga menyentuh Kota Sabang. Melewati pelabuhan dan merengsek di kesepian kota sabang.

" Engg eng engggg....." deru mesin motor yang saya sewa meloncat-loncat. Semakin digas lajunya semakin pelan, tak berapa lama akhirnya deru mesin nya pun mati. Saya kelimpungan, masalah apa yang menimpa saya. Ternyata bahan bakarnya sudah sekarat hingga tetes terakhir. Walhasil, saya harus menggiring motor sialan ini melewati jalanan lengang Kota Sabang. Perlu sedikit waktu untuk menemukan warung yang buka di siang hari. Sabang di siang hari seperti kota mati, tak banyak aktivitas yang berjalan. Ini kontras saat sore hingga malam hari ketika denyut nadi Sabang kencang berdetak.

Setelah mendapatkan bahan bakar, saya kembali memacu sepeda motor melewati Pantai Kasih. Tujuan utama saya adalah menuju Pantai Sumur Tiga. Letak Pantai Sumur Tiga sendiri lebih kurang sepuluh menit dari Kota Sabang. Dari pertigaan dekat stadion saya mengambil jalan ke kanan. Melewati perumahan penduduk sampailah di Pantai Sumur Tiga. Dari pinggir jalan warna biru laut sudah terlihat. Pohon kelapa yang mengelilingi Pantai Sumur Tiga semakin menambah semarak suasana Pantai Sumur Tiga. Beberapa bangunan berdiri di sekitar pantai.

Saya memarkirkan kendaraan di sebuah bangunan berwarna kuning yang dijadikan tempat peristirahatan para wisatawan jika mengunjungi Pantai Sumur Tiga. Pada musim ramai kunjungan, seperti musim liburan sekolah atau masa lebaran Pantai Sumur Tiga menjadi kawasan yang lumayan ramai dikunjungi. Tetapi saat musim sepi seperti saat saya datang, saya hanya berteman dengan pasir putih dan nyanyian nyiur. Pantai ini sepi dari hiruk pikuk pengunjung baik yang ingin berenang atau sekedar mengambil foto dengan latar pantai sebagai penghias halaman jejaring sosial mereka.

Nyiur semakin melambai, ombak pun semakin berkejaran. Beberapa kepiting kecil berlari melewati celah bebatuan yang ada di bibir pantai. Saya terbawa suasana, saya merebahkan diri di pantai dengan pasir putih lembut bak mutiara ini. Kemudian menengadah ke langit yang siang itu berwarna biru tua, beberapa bulir awan pun masih menggantung sambil berarak lambat. Sumur Tiga mungkin menjadi salah satu primadona Indonesia di bagian barat, bersanding dengan kekayaan bawah laut Pulau Rubiah pantai ini menjadi daya tarik di pulau barat Indonesia, Pulau Weh.

Tak dinyana, Indonesia yang memiliki garis pantai dengan panjang 81.290 km ini menjadi surganya bagi pecinta bahari. Mungkin jika Douglas Jerrold bakalan melimpir girang berlari-lari sana-sini jika beliau sedang berada di bibir pantai. Bagaimana tidak, quote beliau diatas menancapkan prasasti cinta dia atas pantai-pantai. Indonesia ? Pasti ! Jika dibandingkan dengan garis bumi yang hanya seluas 12.756,2 km maka butuh puluhan tahun mungkin jika kita berjalan menyisir pantai di Indonesia. Gila bukan ?

Membayangkan luasnya saja sudah malas apalagi berjalan menyisir pantainya. Saya tidak ingin berlama-lama dalam kegalauan memikirkan kekayaan Indonesia. Di pantai ini saya menikmati saja goresan-goresan batu yang berseliweran mengisi tepian laut biru muda. Di kejauhan beberapa wisatawan asing sedang berjemur di atas kayu yang diapungkan di ban. Sebenarnya rutinitas yang tak boleh tinggal adalah berendam dan berenang diantara ikan-ikan yang hidup damai di bawah laut Pantai Sumur Tiga. Tapi sayang beribu sayang, baju ganti lupa terbawa. Saya pun hanya duduk menikmati pesona pinggiran pantai ini. Menunggu datangnya sore.

Saya tidak terlalu berlama-lama hingga menunggu matahari lepas dari sisi berlawanan. Memang Pantai Sumur Tiga bukanlah tempat terbaik untuk melihat sunset, Pantai Sumur Tiga terletak di timur Pulau Weh dan lebih tepat jika kita bangun pagi untuk melihat sunrise.

Saat sore menjelang, saya meninggalkan Pantai Sumur Tiga. Kembali ke Sabang dan menghabiskan sore di Kota Sabang. Menyaksikan keramaian Kota Sabang yang mulai terbangun menyambut malam. Melepas lelah memandang ke pelabuhan Kota Sabang, sembari mengingat nostalgia Sabang dahulu kala.*

beberapa foto di Pantai Sumur Tiga :

Pohon kelapa menjulang di Pantai Sumur Tiga.


Pasir putih, pengen rebahan toh ?

3 komentar:

  1. wow.. pantai sumur tiga, kmrn sampe di sini ujan hebat. tak sempat foto2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas sudah berkunjung :)
      semoga nanti mas nya bisa balik lagi kesana, amin :)

      Hapus
  2. Dari uraian kata-kata dan penampakan gambarnya memang benar-benar menakjubkan hati situasi Sabang dan sekitarnya. Selain Pantai Sumur Tiga, pantai apa lagi mas yang WOW? Pengen banget saya berkunjung kesana tapi masih nyusun strategi. :)

    BalasHapus