Weh Island See You Again : Kota Sabang Ditinggal Pulang

3/03/2012 03:46:00 PM Yunaidi Joepoet 3 Comments

Gaung kapal feri BRR berbunyi nyaring, kapal bergerak menjauh dari Pelabuhan Balohan yang ada di Pulau Weh. Pelabuhan Balohan adalah pintu masuk dari dan ke Pulau Weh serta Kota Sabang serta beberapa bibir pantai seperti Gapang, Iboih dan Sumur Tiga. Pelayaran pendek ini ditempuh dalam waktu lebih kurang 2 jam dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. begitupun pelayaran sebaliknya. Saya duduk dibarisan belakang, hanya terpisah beberapa meter dari toko kecil yang menjual berbagai macam makanan dan minuman sembari memutar musik remix yang memekakkan telinga. Lalu lalang penumpang masih menjadi pemandangan beberapa saat setelah kapal tarik jangkar dari pelabuhan.


Pagi hari adalah saat terbaik melakukan aktivitas snorkling di Pantai Iboih. Jika cukup nyali, dari Pantai Iboih kita bisa berenang menyeberang ke Pulau Rubiah. Pulau dengan terumbu karang dan ikan yang sangat indah ini memberikan pesona tersendiri.

Saya hanya terpaku diam melepas pandang ke laut luas, mengucap salam perpisahan dan berjanji untuk kembali lagi ke Iboih di Pulau Weh. Laut siang itu membiru, langit pun tidak mau kalah. Awan menggantung dilangit-langit, seperti bulir-bulir kapas dari kajauhan. Di sebelah saya seorang pria duduk menunduk, matanya tertutup sayup. Di telinganya terpasang headset, saya rasa beliau mendengaran lagu yang sedang booming mungkin "bang Thoyib" atau mungkin tembang-tembang dari Kangen Band. Di kiri saya hanya lorong kosong selebar satu meter tempat lalu lalang para penumpang. Menatap ke depan ada sebuah televisi berukuran menengah yang memutar pertandingan bola ulangan. Dikiri kanan televisi, pelampung berwarna jingga terlihat menyala mengisi lemari-lemari yang dibiarkan terbuka. Siang itu, barisan bangku yang terbuat dari bahan plastik dengan ketebalan beberapa senti terisi penuh. Akibatnya sebagian penumpang harus memilih berdiri di pinggir jendela kapal. Hembusan angin mengibas-ngibaskan helaian rambut penumpang diikuti deru mesin kapal yang bertarif Rp 18.500,- ini melamun laut menuju daratan Pulau Sumatra.

Terpaut beberapa bangku dari tempat saya duduk, seorang gadis berambut pirang sebahu masih sibuk dengan telfon genggamnya. Dikiri gadis itu, wanita paruh baya menyandarkan kepalanya ke kursi depan. Sedangkan didepannya laki-laki paruh baya masih sibuk mengarahkan moncong kamera digital merekam frame-frame keindahan laut Aceh sebagai kenangan liburan mereka. Saya melepas pandangan dari gadis tersebut, kemudian menghidupkan telfon genggam untuk mengirim pesan singkat kepada seorang kawan di Banda Aceh. Lepas itu, kami beradu pandang dia hanya tersenyum singkat dan saya pun balik membalas.

Di Iboih kami pertama kali bertemu saat menunggu angkutan ke Balohan, Sybille seorang gadis Jerman yang ikut liburan dengan orang tuanya ke Indonesia. Kami seumuran, dan dia sedang menyelesaikan kuliah jurusan Medicine di Universitas Rostock. Dari Iboih kami berempat menumpangi sebuah sedan Lancer. Sopirnya teman saya saat bermain bola sore hari di depan Rubiah Tirta Diver Iboih. Untuk menghemat biaya trasnportasi dari Iboih ke Balohan, salah satu cara yang dilakukan adalah sharing cost angkutan. Saya membayar Rp 40.000 untuk biaya dari Iboih ke Pelabuhan Balohan.

Pada awalnya saya membayar Rp 50.000, bagi saya itu cukup mahal untuk jarak tempuh 30 kilometer. Tak lama berselang, sopir yang mengantarkan kami mengejar saya sebelum masuk ke loket antrian karcis feri penyebarangan dan mengembalikan duit lembaran bernilai Rp 10.000. "Harga pertemanan, kalau kesini kontak saya lagi". Saya belum sempat ucap apa-apa, sopir tersebut berjalan menjauh sembari melempar jempol dan senyum khasnya. "Makasih bang, saya kabarkan kalau balik ke sini lagi".

***

Kapal masih berjalan menderu, lantainya yang dipolesi semen itu bergetar. Kapal BRR ini menjadi salah satu penyambung kehidupan di Pulau Weh, menghidupi roda perekonomian di Kota Sabang. Perut kapal ini bisa menampung beberapa kendaraan yang membawa kebutuhan sehari-hari untuk penduduk Kota Sabang yang dibawa dari Banda Aceh. Kapal ini sendiri merupakan sumbangsih dari Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi pasca Tsunami yang melanda Aceh dan menewaskan sedikitnya 200.000 jiwa tahun tahun 2004 silam.

Lambung kapal BRR kuat melibas gelombang-gelombang laut Selat Benggala yang memisahkan Pulau Weh dengan daratan Pulau Sumatra. Dahulunya Pulau Sumatra dan Pulau Weh menyatu dalam satu daratan, tapi apa daya letusan gunung  berapi yang meletus di zaman Pleistosen membuat keduanya bercerai.

Weh sendiri dalam bahasa Aceh diartikan sebagai pindah atau pisah. Sebutan untuk Pulau yang sudah terpisah dari dataran Sumatra. Sedangkan kata Sabang berasal dari bahasa Shabag, dalam bahasa arab yang berarti Gunung Meletus. Nama ini sendiri diberikan oleh pedagang arab yang menginjakkan kakinya di Pulau Weh ratusan tahun silam.

Pemandangan Pelabuhan Sabang saat ini. Pada abad ke 19, pelabuhan Sabang menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Selat Malaka.

Sejarah Pulau Weh dan Kota Sabang terus bergelut. Di abad ke 19, Kolonial Belanda yang kala itu menjajah Indonesia membangun sebuah pelabuhan yang diberi nama Kolen Statiun di Pulau Weh. Pelabuhan yang dibangun pemerintah kolonial tersebut terus bergairah dan enam tahun setelah pembangunan pelabuhan tersebut, pemerintah kolonial mendirikan perusahaan dagang Firma Delange yang memiliki wewenang untuk memperluas dan memajukan pelabuhan Kolen Statiun tersebut dengan bantuang Sabang Heaven.

Era kejayaan pelabuhan Sabang di mulai tahun 1895, saat itu Sabang menjadi salah satu pelabuhan bebas  dengan label nama Vrij Haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station atau sebutan kerennya Sabang Maatschaappij. Era kejayaan Sabang bertahan sesaat sebelum perang dunia kedua. Saat perang dunia kedua, Sabang mati sudah. Tahun 1942 Kota Sabang berhasil dikuasai Jepang setelah dibombardir pesawat sekutu. Sabang pun melempen sebagai pelabuhan internasional.

Era jaya Sabang sebagai pelabuhan internasional pun jatuh hingga pada akhirnya tahun 2000 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan keputusan untuk menetapkan Sabang sebagai pelabuhan bebas. Sabang pun kembali bergejolak, banyak kapal asing yang singgah di Pelabuhan Sabang. Di Sabang pun semenjak diberlakukannya pelabuhan bebas, saya dengan mudah bisa melihat mobil mewah serta motor harley davidson berlalu lalang di jalanan Kota Sabang. Tentunya saat sore hari, dimana aktivitas kota baru hidup saat sore.

Ini menjadi salah satu keunikan pula dari Kota Sabang. Sabang baru akan terlihat ramai saat sore hingga malam hari. Penduduk Kota Sabang sendiri siang hari memilih untuk beristirahat, ini seperti menjadi kebiasaan sejak masa pelabuhan bebas zaman kolonial dulu. Banyak pekerja yang bekerka di pelabuhan saat malam. Ketika kapal-kapal asing bersandar dan melakukan bongkar muat hingga pagi hari. Sehingga waktu siang, adalah waktu yang tepat untuk beristirahat sebelum kembali bekerja di pelabuhan saat malam tiba.

Namun kebiasaan itu, masih berlanjut hingga sekarang. Saya merasa terkena imbasnya saat motor yang saya sewa di Iboih mendadak kehabisan bahan bakar di dekat Pantai Gajah di Kota Sabang. Alhasil saya harus menggiring motor itu beberapa ratus meter setelah melewati beberapa warung yang masih tutup. Akhirnya saya ketemu warung yang baru buka dan persis di pinggir laut menghadap ke Selat Malaka. Pemandangan siang itu laut biru dengan latar kapal-kapal bercerobong besar jauh ditengah laut. Saya pun tidak lagi mengutuk Sabang yang tertidur di siang hari setelah menyaksikan pemandangan sederhana di laut luas tadi.


***

Deru mesin kapal semakin bergetar kuat, kursi-kursi tempat saya berdiri bergetar berat. Saya rasa kapal menekan rem-nya supaya laju nya sedikit melambat. Tapi apa kapal punya rem ? entahlah, saya lupa menanyakan ke Nahkodanya. Semua penumpang sudah bersiap meninggalkan kursinya, saya juga berusaha memanggul kembali ransel saya.

Puluhan orang masih berdesakan menunggu antrian melewati tangga menuju dasar lambung kapal menuju pintu keluar. Deru kendaraan yang mengisi lambung kapal semakin membuat suasana siang itu terlihat sibuk. Saya berjalan melewati beberapa penumpang lain menuju pintu keluar pelabuhan. Di sudut bangunan saya bersandar, melepas kenangan tentang Pulau Weh yang masih terlihat dari tempat saya duduk.

Sampai ketemu Weh !

3 komentar:

  1. Yud, di paragraf 1 kalimat ketiga itu salah ketik bukan? Seharusnya pelabuhan Ulee Lheue kan.. bukan Eleu leu

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas ari atas koreksi-nya :)
      sudah di perbaiki. tetap kangen Aceh dan segala hal tentangnya.
      hehe

      Hapus
  2. Ahhhh membaca cerita ini mengingatkanku kembali akan petualangan liar di pulau indah itu, tentang kak Oma yang baik hati, tentang travelmate ku dari spain yang badannya gede2, tentang main bola di depan tirta diver, tentang gila nya saya menyeberang ke rubiah tanpa pelampung dan sendirian. Pulau yang selalu ingin saya datangi. Makasih sharingnya yud, penyusunan kata nya sungguh indah sekali...Salut

    BalasHapus