Pulau Banyak : Toleransi di Tepian Samudra

Dikejauhan burung camar meliuk hening melintasi laut sementara perahu kayu melengking menuju hilir. Lambungnya membelah muara menyisakan sebaran gelombang air. Di kiri muara, bangunan yang dulunya berfungsi sebagai kilang penampung minyak dan pelabuhan feri kini terendam air. Beberapa bangunan disekitarnya terbengkalai, lapuk dan ditinggalkan membisu begitu saja. Di tengah muara, bangkai kapal kayu menghitam hangus. Beberapa bulan yang lalu kapal ini kandas, bahan bakarnya tumpah, dengan cepat api melahap sekujur kapal, beruntung semua penumpang bisa menyelamatkan diri. Tak jauh dari kapal pertama yang karam, sebuah kapal kayu juga bernasib naas. Air laut surut, kapal ini salah mengambil lintasan kemudian kandas, malang bagian bawah lambung kapal ini robek dan memberikan celah air mengisi lambung kemudian menenggelamkannya.
 
Seorang nelayan di Pulau Banyak dan pemandangan matahari tenggelam.
 Berdiri bak kondektur kopaja, saya memegangi atap perahu dalam pelayaran menuju Pulau Banyak. Sementara penumpang lain yang akan berdagang di Pulau Balai lebih memilih duduk diantara tumpukan barang. Berbagai macam barang dagangan dibawa, mulai dari sayuran, kebutuhan rumah tangga, perkakas dan pakaian.

    Bang Buyung bertindak sebagai tekong - juru mudi perahu - masih enggan untuk lepas dari muara menuju laut. Hal ini cukup beralasan, gundukan pasir di tepian muara yang dijadikan patokan batas pasang belum digenangi air. Tapi apa daya, jika menunggu pasang sempurna, maka kapal akan telat tiba di Pulau Balai sementara pasar akan dimulai ba'da Ashar.

    Perahu bermanuver mencari celah muara yang agak dalam menuju laut, deru mesinnya merongrong kuat. Pegangan penumpang semakin erat saat lambung perahu menyentuh dasar muara, kemudian perahu sulit untuk beranjak, perahu kami pun oleng dihantam ombak. " Pindah...capek pindah ka sinan!" (Pindah, cepat pindah kesana) teriak tekong. Beberapa penumpang berhambur ke bagian kanan untuk menyeimbangkan perahu. Tekong mulai kebingunan, kami tidak bisa berbuat banyak.

    "Byurrr....." tiba-tiba seorang penumpang pria menyeburkan diri ke laut. Sambil berteriak penumpang itu berusaha untuk mencari muara yang cukup dalam supaya perahu kami bisa lepas ke laut. Seperti Jack dengan gagahnya  menyelamatkan Rose di film Titanic, penumpang tersebut memapah perahu kami yang sekarat dihantam gelombang. Penumpang lain tak henti-hentinya mengucapkan Asma Allah. Hampir sepuluh menit bertarung, akhirnya kami pun lepas dari muara. Kami bersyukur, daftar perahu tenggelam di muara ini tidak bertambah. Perahu pun melaju menuju Pulau Balai di gugusan Kepulauan Banyak.

***

    Memakan waktu tempuh empat jam lamanya dari pelabuhan jembatan tinggi Aceh Singkil, perahu akhirnya merapat di dermaga Pulau Balai. Saya meloncat dari perahu setelah membayar ongkos dua puluh lima ribu rupiah. Dermaga Pulau Balai tak terlalu besar, setiap hari Senin pasar tradisional digelar, tempat ini akan dipenuhi para pedagang yang datang dari Singkil. Lapak barang dagangan di bentang, penduduk sekitar : Desa Pulau Balai, Desa Pulau Baguk dan Desa Teluk Nibung datang berbondong-bondong. Dari Desa Teluk Nibung, saat sore mereka menuju pasar dengan perahu dan pulang sebelum senja. Pasar seperti ini akan digelar pula keesokan harinya di Desa Haloban, Pulau Tuanku. Dengan pedagang yang sama namun pembeli berbeda. Pembelinya datang dari Desa Ujung Sialit, Desa Hasantola dan Desa Suka Makmur. Hanya dua hari orang pulau, sebutan untuk penduduk Pulau Banyak, bisa merasakan keramaian sekaligus membeli berbagai macam kebutuhan dari perlengkapan rumah tangga hingga alat bersolek bagi perempuan pulau.


Suasana di Pulau Balai.

    Pulau Banyak masuk kedalam daerah administratif Kabupaten Aceh Singkil. Letaknya 26 Mil Laut dari pusat kabupaten. Jika dari Banda Aceh, jaraknya masih 18 jam perjalanan darat ditambah empat jam perjalanan laut. Letaknya di tepi Samudra Hindia, dan menjadi salah satu gugusan pulau indah yang ada di bagian barat Swarnadwipa, Pulau Sumatra. Dua pulau besar mengapit Pulau Banyak, Pulau Simeulue di utara dan Pulau Nias di selatan. Menuju pulau ini dapat menggunakan kapal feri dan perahu kayu. Feri KMP Teluk Singkil hanya berlayar sekali dalam seminggu, hari Senin. Sedangkan perahu tradisional berlayar tiap hari dari pelabuhan tradisional jembatan tinggi di Aceh Singkil.

    Sebelum tahun 2011, Pulau Banyak masuk kedalam Kecamatan Pulau Banyak. Namun pemekaran kecematan membuat pulau ini harus terpisah menjadi dua daerah administratif yakni Kecamatan Pulau Banyak dengan pusat di Desa Pulau Balai dan Kecamatan Pulau Banyak Barat dengan pusat administratif di Desa Haloban. Menurut penduduk lokal ada lebih kurang 99 pulau, inilah yang mendasari penamaan kawasan ini menjadi Pulau Banyak.

    Ini penjelajahan saya yang kedua di Pulau Banyak. Kali pertama saya menghabiskan waktu di Pulau Palambak Besar, pulau yang bisa dikelilingi dalam waktu tiga jam saja berjalan kaki. Saya menginap di Lyla Bungalow, pemiliknya Bang Erwin penduduk Desa Pulau Balai. Kini bungalow tersebut menjadi satu-satunya bungalow di Pulau Palambak Besar. Dulu ada beberapa bungalow yang dibangun oleh pemerintan daerah. Namun minimnya pengelolaan terhadap bungalow, membuat bangunan tersebut lapuk dan hancur.

    Kali kedua, saya memilih tinggal di  Desa Pulau Balai, pusat Kecamatan Pulau Banyak. Dari dermaga pasar, saya berjalan melewati jalan desa. Di persimpangan dekat Lae Kombih saya mengambil jalan ke kiri menuju penginapan yang letaknya tak jauh dari laut. Losmen Putri, bertarif rp 60.000/malam, pemiliknya Pak Maisal. Malam pertama kedatangan saya di pulau ini di habiskan dengan berbagi cerita hingga larut.

***

    Pagi hari, sinar matahari belum terlalu hangat.  Pak Maisal pemilik penginapan mengabarkan perahu kayu bermesin 11 PK miliknya tidak bisa digunakan. Angan saya untuk berkeliling Pulau Banyak hampir pupus. Tak mau saya kecewa, Pak Maisal mencoba menghubungi seseorang dari telfon genggamnya, hasilnya menggembirakan ada seorang nelayan bersedia mengantar saya berkeliling Pulau Banyak.  Kami pun berjanji untuk bertemu di dermaga feri pukul sembilan.


Perairan di Pulau Lampudong, pesona bahari di Pulau Banyak.

    Tergopoh-gopoh saya berjalan ke arah dermaga feri tak jauh dari penginapan. Di tengah laut seorang nelayan dipayungi kain merah menyala mendekat ke dermaga. Pak Salamat, begitu warga pulau memanggil nelayan yang sudah berumur setengah abad ini. Saya mempercayakan sepenuhnya perjalanan antar pulau ini kepada Bapak Salamat. Pengalaman melautnya lebih tua dibandingkan umur saya. 

    Kami mulai menyisiri laut, dari dermaga kami melewati pinggiran Pulau Baguk, pulau kecil yang ada di seberang Pulau Balai. Jika malam pulau ini hampa penghuni, yang ada hanya lampu suar berkedip sesuai ritme. Pulau Baguk berpasir putih, daratannya di tutupi pohon kelapa. Laut yang mengitari Pulau Baguk sangat jernih, meski minim terumbu karang, laut Pulau Baguk tetap menarik dijadikan tempat untuk snorkeling.

    Dari Pulau Baguk kami melaju ke arah barat. Jika melaut ke arah selatan, beberapa Pulau kecil siap menyambut. Sebutlah Pulau Tapus-Tapus, Pulau Panjang, Pulau Rangit, Pulau Palambak Kecil dan Pulau Palambak Besar. Pulau ini menawarkan hal yang dengan Pulau Baguk, pantai berpasir putih, laut jernih, tanpa penghuni dan beberapa batang pohon kelapa tanpa nyiur. Pengunjung bisa gila, berteriak sekuat tenaga, berlari kemudian menyeburkan diri kedalam laut. Private Island, begitu para pejalan yang haus tempat sepi me-labeli-nya.

    Perjalanan ke Pulau Biawak berjalan baik pada awalnya. Perahu kami melaju beratapkan langit biru cerah, bulir-bulir awan menggantung bak kapas. Sementara di bawah kami ribuan ikan berenang menyusuri laut jernih. Semua penggambaran seakan sirna setelah sejam perjalanan, perahu kami rusak di bagian kipas penggerak. Besi yang menjadi sambungan mesin dan kipas penggerak lepas.  Kami tidak bisa berpindah,  saya menawarkan pilihan untuk mendayung perahu kembali menuju Pulau Balai. Namun Pak Salamat menolak, "Kapan tibanya kito di Pulau Balai".

    Kami berusaha menghubungi tetangga Pak Salamat di Pulau Balai, Dio. Warga Pulau Nias yang datang ke Pulau Banyak untuk membeli perahu.  Kami menunggu hampir sejam lamanya diatas laut.  Dio dengan perahu bermesinnya tiba membawa besi sambungan untuk kipas penggerak.  Saya merasa tersanjung atas kebaikan warga Pulau. Bapak Salamat berujar bahwa dia baru mengenal Dio beberapa hari yang lalu. Namun singkatnya waktu perkenalan tak mengurangi niat baik seseorang untuk saling menolong. Hal yang jarang kita jumpai di perkotaan, mungkin.

    Masyarakat Pulau Banyak maju dalam hal toleransi dan kerukunan beragama. Pulau Banyak bukan daerah yang dikuasai oleh suku tertentu. Beragam suku mendiami Pulau Banyak. Ada beberapa suku yang menghuni daratannya : Suku Aceh, Suku Minang, Suku Batak serta Suku Nias namun meraka hidup dalam  harmonisasi.

    Pak Darni misalnya, nelayan di Pulau Balai. Lahir di Nias, besar di Pulau Balai namun orang tua nya keturunan Minang. Begitu pula hal nya dengan Bang Buyung, juri mudi perahu yang lahir di Pulau Balai namun darahnya mengalir Suku Minang. Jodoh mempertemukan Bang Buyung dengan perempuan Suku Nias, merekapun membangun bahtera rumah tangga. Rata-rata penduduk Pulau Banyak adalah pendatang. Akulturasi di Pulau Banyak melahirkan tatanan hidup yang seimbang. Keberagaman suku yang mendiami beberapa pulau bukan menjadi momok pertikaian. Malah sebaliknya, damai senantiasa melindungi kehidupan orang pulau.

    Perahu mulai membelah laut, kami mulai kembali penjelajahan. Tujuan kami adalah Pulau Biawak, pulau kecil tanpa penghuni. Pasirnya putih berkilau. Lautnya jernih mencolok, gradasi warna dari tepi hingga ke tengah laut terlihat indah, pohon kelapa condong ke arah laut. 

 Kami menambatkan perahu di batang pohon kelapa yang rebah kelaut. Seorang pria dari kejauhan terlihat mengupas kelapa. Saya berkenalan dengannya, Bapak Manzili Zega warga Desa Pulau Balai keturunan Nias ini datang sekali dalam seminggu ke Pulau Biawak. Kelapa yang lepas dari tandan kemudian dikumpulkan, kulitnya dikupas, lalu kelapa bulatan ini dijual di Pulau Balai. Aktivitas ini menjadi pemasukan sampingan selain kegiatan melaut yang dilakukan Bapak Zega dan mayoritas warga Pulau Banyak lainnya.

    Laut menjadi sumber pendapatan utama warga Pulau Banyak. Hampir 95% penduduknya hidup dari melaut. Hasilnya tidak menentu, tergantung musim dan peruntungan. Jika cuaca bagus dan nasib baik, nelayan bisa mengantongi rupiah hingga ratusan ribu. Namun jika cuaca buruk ditambah nasib kurang baik, hanya rugi yang mereka dapatkan.  Selain itu ada pula yang lebih berbahaya, penyelam kompresor. Menangkap ikan hingga kelaut dalam hanya mengandalkan udara dari selang yang terhubung dengan kompresor. Meskipun menyelam dengan kompresor sangat membahayakan, namun hal tersebut harus dilakukan, demi makan anak istri dan keluarga.

    Selain melaut, di Pulau Balai misalnya warga desa membuat keramba ikan. Ikan janang, lobster, dan kepiting dibudidayakan. Hasil panennya lebih dari cukup untuk mencukupi biaya hidup keluarga beberapa waktu kedepan. Lobster dan kepiting bisa laku terjual Rp 100.000 perkilonya, jika si empunya cerdik untuk mengakali waktu panen maka keuntungan berlipat bisa didapat. Februari, biasanya kapal asing dari Singapura datang memborong lobster dan kepiting penduduk, harganya pun naik hingga Rp 200.000 per kilo.


Pulau Sikandang dan penurunan struktur bumi akibat gempa.

    Dari Pulau Biawak kami memacu perahu melewati Pulau Asok, Pulau Lambodong dan Pulau Pabisi melintasi perairan tenang tak bergelombang. Lautnya jernih, dibawah kami terumbu karang menghiasi laut. Daerah antara Pulau Biawak hingga Pulau Tuanku menjadi kawasan terbaik di Pulau Banyak untuk melihat terumbu karang, snorkeling maupun kayaking. 

    Di tempat ini pula Pulau Gosong menjadi saksi turunnya permukaan daratan di Pulau Banyak. Letak Pulau Banyak yang dilalui Sesar Sumatra menjadikan kawasan ini rawan terhadap pergerakan geologi. Setelah gempa Nias maret 2005, permukaan daratan di Pulau Banyak mengalami penurunan hingga satu meter. Beberapa pulau nyaris tenggelam, tanaman yang menutupi pulau daunnya meranggas karena akarnya tergenang laut.

    Dari Pulau Gosong kami menuju Desa Haloban di Pulau Tuanku. Perjalanan memakan waktu sejam lamanya. Pulau Tuanku menjadi Pulau terbesar di gugusan Pulau Banyak. Di pulau ini berdiri pula Gunung Tiusa dengan ketinggian 313 mdpl, puncaknya menjadi titik tertinggi di Pulau Banyak. Dari Puncak Gunung Tiusa terlihat jelas semua pulau yang ada di Pulau Banyak. Dibandingkan dengan Pulau Balai, di Pulau Tuanku menawarkan lebih banyak pengalaman bertualang.

    Misalnya Jungle Treking ditemani penduduk lokal Desa Haloban. Penjelajahan hutan dimulai dari Desa Haloban membelah hutan kemudian melewati Sungai Asantola yang berujung di Pantai Pasir Panjang. Tak jauh dari pantai ini, terdapat pula gua yang dipenuhi kelelawar. Jika beruntung pengunjung bisa menemui buaya di perairan antara Desa Haloban dan Desa Ujung Sialit. Bulan lalu, penduduk Desa Haloban menangkap seekor buaya laut.

    Daerah Ujung Lolok di bagian selatan Pulau Tuanku pun tak kalah menarik. Ombaknya menggulung tinggi sangat cocok dijadikan tempat berselancar. Surfer mancanegara datang berombongan untuk memuaskan hasratnya menjajal gelombang laut Samudra Hindia. Pulau Banyak menjadi destinasi untuk berselancar di barat Sumatra, ombaknya sebanding dengan Pantai Krui di Lampung, Pulau Asu di Nias atau Desa Naibos di Pulau Simeulue meskipun begitu ketinggian ombak Ujung Lolok belum setinggi ombak di Pulau Mentawai.

    Pulau Bangkaru menjadi pulau terbarat di gugusan Pulau Banyak. Letaknya langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Di Pulau ini pula terdapat  penangkaran penyu di kelola oleh Yayasan Pulau Banyak. Pengunjung bisa melihat penyu menetas dimalam hari dan tinggal di beberapa hari di Pulau Bangkaru.

    Dari Desa Haloban, muncung perahu kami arahkan menuju Pulau Tailana. Dari atas perahu, saya bisa menyaksikan koral indah yang menutupi dasar lautnya. Pulau Tailana menjadi salah satu primadona di Pulau Banyak, lautnya sangat cocok untuk melakukan snorkeling.  Di awal tahun 90-an, koral di Pulau Tailana lebih mempesona, ikan beraneka ragam menghiasi lautnya. Namun aktivitas pemboman yang dilakukan para nelayan yang datang dari luar Pulau Banyak membuat koral di Pulau Tailana mengalami kerusakan.

    Belakangan, kesadaran penduduk akan pentingnya menjaga kelestarian ikan dan terumbu karang, menghasilkan dampak positif bagi kelangsungan hidup ikan dan terumbu karang di Pulau Banyak. Pemboman serta pukat harimau adalah hal haram dan tidak boleh dilakukan sama sekali di Pulau Banyak. Nelayan dan masyarakat bahu membahu menjaga kawasannya. Pulau Tailana dan terumbu karang yang menghiasi perairan  Pulau Banyak bisa berbangga diri. Setidaknya beberapa tahun kedepan, terumbu karang dan ikan yang beraneka ragam bisa mengangkat pulau ini menjadi destinasi bahari utama di Pulau Sumatra selain Pulau Weh yang sudah lebih dahulu mendunia.

    Selepas Pulau Tailana, kami singgah ke Pulau Orongan. Pantainya berpasir putih, gradasi airnya mulai dari bening, coklat, tosca hingga biru gelap. Saya berjalan dari tepian pantai hingga ke jantung pulau. Daratan pulau tergenang air, menyisakan rawa berwarna coklat, pohon kelapa tinggi menjulang nyiurnya seakan menyentuh kaki langit. Di kejauhan, beberapa pohon kelapa sudah mati. Saya melewati rawa-rawa, sesekali kaki saya terbenam lumpur rawa. Kesenangan itu mencapai puncaknya saat saya menyeburkan diri dilaut jernihnya.


Gradasi laut di kawasan Pulau Banyak, Aceh Singkil.

    Di seberang Pulau Orongan, pasir putih Pulau Sikandang terlihat jelas. Disini terdapat bungalow sederhana, namun saat kami menyentuh Pulau Sikandang bungalow tersebut tak ada tamu sekaligus tak ada penunggu. Bangunan dari kayu tersebut di tinggalkan membisu begitu saja ditemani nyanyian laut. Dari bungalow saya berjalan menyisiri pantai, Pak Salamat menunggu di bungalow. Perjalanan menyisiri pantai ditemani kicauan burung bersuara merdu dari dalam hutan Pulau Sikandang. Saya berhenti setalah berjalan cukup jauh, melingkahi beberapa batang pohon tumbang dan saat melihat kebelakang pemandangan hanya barisan batang-batang kelapa yang hampir rebah ke dalam laut.

***

    Dua hari sebelum saya meninggalkan Pulau Banyak, bersama penduduk Pulau Balai, Bang Amir Husein kami menikmati senja di tepi pantai. Di barat, matahari dengan bulatan penuh lambat laun tenggelam di kejauan laut. Langit mulai bergelora, awan-awan membentuk pola beraneka ragam. Ditemani api unggun kami bercerita hingga malam.
   
    Senja terakhir di Pulau Banyak saya habiskan di atas laut bersama nelayan lokal. Saya melingkari leher dengan Kain Ulos pemberian seorang kawan untuk menghindari angin laut. Pulau Banyak malam itu dipayungi ribuan bintang, perahu kami melaju pelan membelah laut. Lewat senja perahu kami menyentuh dermaga di Pulau Balai. Saya berjalan menyisiri pantai kembali menuju penginapan kemudian mengemasi perlengkapan ke dalam ransel. Esok hari kapal berangkat sebelum tengah hari menuju Aceh Singkil, tiba waktunya bagi saya untuk mengucapkan sampai jumpa untuk pulau ini.

Senja di perairan Pulau Banyak.

    Pulau Banyak tak habis pesona. Perpaduan keindahan alam serta kebaikan masyarakatnya menjadi modal pulau ini untuk menggaet turis-turis yang haus akan pesona bahari. Tak menutup kemungkinan pulau ini bisa menjadi destinasi wajib bagi para turis yang bertandang ke Sumatra. Tinggal sekarang bagaimana pemerintah dan penduduk lokal bahu-membahu menjadikan Pulau Banyak sebagai kawasan yang wajib disinggahi turis namun tetap dengan nuansa keramahan lokal.

2 komentar: