Petani Batur Antara Gunung dan Danau : The Batur Land in Bali

2/07/2012 01:55:00 PM Yunaidi Joepoet 2 Comments

Langit membiru saat kami beranjak pergi meninggalkan penginapan di tepian Danau Batur. Mas Adi memacu kendaraan berpenggerak 1500 cc melewati jalanan aspal yang dipagari bongkahan batu sisa lahar yang sudah membeku. Memandang jauh kekanan saya bisa melihat Puncak Gunung Batur yang terlihat menggosong, sedangkan melihat ke kiri hamparan perkebunan penduduk yang ditumbuhi berbagai macam sayuran dengan latar jauh Danau Batur dan perbukitan yang mengelilinginya. Saya meminta Mas Adi untuk memijak pedal rem supaya laju kendaraan berhenti. Sekitar 5 menit berjalanan dari perhentia kendaraan, kaki saya sudah menginjak tanah lembek di tepian danau. Dengan hati-hati saya berjalan menyusuri tepian menuju seorang petani berumur sedang yang sibuk memilah-milah bambu. Kami berkenalan, bercerita tentang Danau Batur dan kegiatan yang dilakukan petani tersebut. Wayan, orang Kintamani yang menjadi penutup obrolan saya di tepian Batur sebelum melepas kaki dari Batur menuju ke selatan kembali ke Denpasar.

Wayan (16), seorang petani di tepian Danau Batur, Kintamani memancangi bilah bambu sebagai pelindung tanaman di perkebunan cabai yang dimilikinya dengan latar belakang Gunung Batur dengan hamparan Danau Batur. Cabai hasil tanaman Wayan sekali tiga bulan dipanen, kemudian dijual di pasar. Di sekeliling Danau Batur kita bisa melihat hamparan perkebunan penduduk, menjadi suatu keharusan jika berkunjung ke Pulau Dewata untuk singgah di Daerah ini.

2 komentar:

  1. Aku suka Bali, tapi saya paling senang di Jakarta ;-).
    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Gildo Kaldorana :)
      Indonesia menarik untuk di jelajahi.
      Salam kenal

      Hapus