Pendakian Gunung Singgalang : The Misty of Telaga Dewi

2/06/2012 12:55:00 PM Yunaidi Joepoet 10 Comments

Kabut senja turun semakin pekat, angin bercampur gerimis menerbangkan tenda yang baru kami bentangkan di atas permukaan tanah basah. Saya menarik salah satu sudut tenda agar tidak tebang menjauh, teman saya Yandi hanya duduk terengah bersandar di akar pohon besar melihat kami berusaha untuk mendirikan tenda di tepian Telaga Dewi yang berselubung kabut, menyimpan legenda tentang Sibunian makluk penculik manusia penunggu Gunung Singgalang.

***
Kabut menutup hampir seluruh permukaan Telaga Dewi di Gunung Singgalang.

Gerimis menyambut kedatangan kami di Koto Baru, sebuah desa yang terletak di perlintasan jalan Padang Panjang - Bukittinggi.  Waktu di jam tangan saya masih menujukan pukul 03.50 subuh. Tadi malam kami menaiki bus dari Pekanbaru jurusan Pariaman yang melewati Koto Baru guna mencapai titik awal pendakian Gunung Singgalang, salah satu gunung yang ada di Sumatra Barat berketinggian 2877 Mdpl.  Kami berencana mengabiskan semalam di Telaga Dewi Gunung Singgalang meresapi kabut-kabut alam diantara hembusan angin gunung yang membawa kedamaian.

Menanti pagi, kami memilih membentangkan matras di teras Mesjid Jami' Darussalam tidak jauh dari gerbang menuju Desa Pandai Sikek. Cuaca sangat dingin bercampur gerimis, khas daerah dataran tinggi. Saya melipat badan dan menyembunyikan tangan diantara kedua paha menahan dinginnya cuaca hingga pagi datang.

Pagi pun datang, beberapa murid sekolah dasar berlari melewati pekarangan mesjid. Suara gaduh mereka membangunkan kami yang terlelap dari subuh di teras Mesjid. Kami bergegas berkemas membereskan semua perbekalan kemudian mengganti pakaian dan sarapan pagi di Pasar Koto Baru. Setelah mengisi lambung dengan asupan energi, kami mulai beranjak menuju Desa Pandai Sikek melewati gerbang  masuk dengan ciri khas atap yang bergonjong duo seperti atap rumah adat Minangkabau. 

Pukul sepuluh pagi kami tiba di menara pemancar milik beberapa stasiun televisi. Menara pemancar ini menjadi titik awal memasuki jalur pendakian ke Gunung Singgalang yang bisa dikatakan tidak memberikan bonus jalur pendakian sama sekali. Selama saya mendaki gunung, jalur gunung ini menjadi jalur tersulit dan menguras tenaga.

Kami memasuki jalur yang di penuhi oleh pimpiang, mirip dengan tumbuhan ilalang namun memiliki batang keras seukuran jempol.  Saya terperosok saat kaki saya menginjak tumpukan pimpiang  yang sudah lapuk. Beberapa kali saya harus menundukkan badan melewati jalur ini, seperti melewati terowongan yang dipayungi tumbuhan. Tak jarang carrier saya tertahan oleh batang pimpiang yang melintang. Pendakian berjalan lambat, melewati tanjakan-tanjakan tajam mengharuskan kami untuk menghela nafas sejenak.

Lewat pukul lima sore, kami baru menginjakkan kaki di cadas. Area bertanah kuning yang ditumbuhi tumbuhan berukuran rendah. Jalur dari cadas menuju Telaga Dewi tempat kami mendirikan tenda menanjak keras, hujan sedari pagi membuat jalur menjadi licin. Di pinggang jalur cadas berdiri membisu tugu berwarna kuning untuk mengenang dua pendaki yang hilang di Gunung Singgalang tahun 1988. Tugu Galapagos, para pendaki menamakannya. Di tugu itu tergores kalimat " Terbanglah engkau wahai sang elang, walau tinggi ke angkasa ikuti angin takdir...suatu saat mungkin kami akan bersamamu". Saya menarik nafas dan berdoa sejenak untuk kedua pendaki yang hilang ini, dan berharap pendakian Gunung Singgalang kali ini berjalan dengan baik.

Hampir gelap, kami melewati hutan lumut. Pekat kabut semakin berpacu dengan temaram senja. Saya dan Arka berjalan menjauh meninggalkan dua orang teman yang sudah mulai berjalan terseok semenjak dari cadas. Kami memutuskan untuk menunggu dibawah pohon besar yang dipenuhi lumut.

" Uuuuuuuuuu...uuuu..uuu". Arka mencoba membuat suara gaduh untuk mengetahui seberapa jauh jarak kami dengan kedua teman kami dibelakang. Dulu waktu masih tinggal di salah satu desa di Pariaman, saya sering masuk hutan dengan beberapa pemuda. Komunikasi kami tidak menggunakan nama, tapi menggunakan suara auman. Mitos nya jika kami memanggil nama saat berjalan di hutan, yang menyahut mungkin bisa saja warga lain selain kami.

" Ouuu...ouuu....". Teman kami menyahut, tak lama mereka muncul dari balik pepohonan yang ditumbuhi lumut. Dari hutan lumut, tidak diperlukan waktu lama untuk tiba di Telaga Dewi.

Mengingat hari semakin gelap kami memutuskan untuk mendirikan tenda berjarak 15 meter dari bibir telaga. Tidak ada orang yang mendirikan tenda di area tersebut. Sewaktu datang Isal melihat ada sekelompok pendaki di seberang telaga, kami berusaha untuk melihat tapi kabut lebih dahulu menutupi arah pandang kami.

Angin kencang bercampur kabut menerbangkan butiran-butiran air membuat kami mengeluarkan tenaga ekstra untuk membentangkan tenda. Saat kondisi kami sudah mulai pucat menahan dingin. Kami masih berusaha mencari akal supaya tenda ini tidak terbawa angin yang semakin kuat berhembus. Ujung-ujung tenda kami ikatkan lagi ke akar-akar yang menjalar di tanah, berharap tali plastik yang diikatkan ini menambah daya tahan tenda terhadap terpaan angin. Kami tidak angin saat tengah malam disibukkan lagi memperbaiki tenda yang terbang di tiup angin.

Malam tiba, kami hanya menghabiskannya di dalam tenda. Kondisi diluar tidak memungkinkan untuk menikmati telaga. Yang ada hanya suara hembusan angin, gesekan pepohonan dan cerita kami untuk mengiringi malam di tepian telaga. 

Lepas bercerita kami teringat tentang Sibunian penunggu Gunung Singgalang. Menurut Pak Lo, salah seorang warga Desa Pandai Sikek kalau Gunung Singgalang dan Tandikek ini menjadi gunung dengan prediket hunian para Sibunian. Mitosnya Sibunian ini menculik manusia untuk ikut ke alamnya.

Menurut legenda di Tandikek yang saya dengar dari Ibrahim (95) dan Bustami (48) warga Mudiak Padang sebutan lain untuk Tandikek mengatakan bahwa Sibunian merupakan orang halus. Konon dulu sewaktu Islam belum menyentuh tanah Sumatra Barat. Hidup seorang raja Hindu bernama Kalik Kalik Jantan yang beristri Anduang Sangkua. Pasangan Raja Hindu yang berkuasa di Tandikek ini memiliki seorang putri bernama Puti Sari Bana.

Syahdan, Puti Sari Bana pergi ke sebuah telaga bernama Talago Tanang. Telaga yang terletak di daerah Tandikek. Permukaan telaga ini terlihat tenang namun di dasar telaga air berpusar kuat. Puti Sari Bana menyeburkan diri ke telaga, saat itu pula tubuh Puti Sari Bana dihisap ke dalam telaga dan tubuhnya di temukan di Gunung Panggilun Padang yang saat itu masih bernama Sikilir-kilir. Orang Gunung Panggilun yang menemukan Puti Sari Bana sontak kaget melihat seorang putri cantik di daerah mereka yang berjarak puluhan kilo dari tempat asal sang putri. Atas petunjuk Puti Sari Bana, orang Padang mengantarkan Puti ke Tandikek dan membuat janji agar Puti Sari Bana tidak boleh dikawinkan. Orang Tandikek menyutujuinya agar Puti Sari Bana tidak dikawinkan. Namun suatu ketika, Puti Sari Bana dilamar oleh salah seorang pria Tandikek dan terjadilah perkawinan diantara mereka. Waktu berselang, dikabarkan bahwa orang Padang akan menuju ke Tandikek untuk melihat Puti Sari Bana. Orang Tandikek yang mengetahui sontak merasa telah melanggar perjanjian, karena telah mengawinkan Puti Sari Bana dengan seorang lelaki Tandikek. Orang Tandikek pun menyembunyikan Puti Sari Bana beserta suaminya di Gunung Tigo tidak jauh dari Tandikek. Setelah disembunyikan Puti Sari Bana dan suaminya tidak pernah lagi kembali ke Tandikek, menurut warga Tandikek mereka berkembang dan beranak pinak dengan ilmu hitam yang mereka miliki. Keturunan mereka inilah yang dianggap orang Tandikek menjadi Sibunian yang menyebar hingga ke Puncak Singgalang hingga ke Pasaman.

Saya merasa nyali saya ikut ciut, mengingat kembali para sibunian yang membawa manusia ke dunia mereka. Dunia yang berjalan sangat cepat dari putaran waktu di bumi, terasing dalam kungkungan dunia yang entah bagaimana. Hari mereka berjalan cepat, saya mendengar cerita dari Bustami tentang orang yang dibawa sibunian ke alam mereka. " Sebulan di dunia sibunian, mungkin satu atau dua hari dunia kita". Ungkap Bustami menceritakan tentang pemuda bernama Bansai (22) yang jasadnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa namun setelah dua hari dikubur, Bansai kembali pulang kerumah dan membuat geger warga di kampung. Berdasarkan terawangan orang pandai (orang dengan kemampuan khusus dalam dunia ghaib), bahwasannya Bansai dibawa oleh sibunian sewaktu Bansai memasuki hutan di kawasan Gunung Tandikek. Hanya jasad Bansai saja yang sudah tiada, namun ruh-nya masih kekal.

Saya berusaha untuk menepis pikiran-pikiran aneh saya tentang sibunian sebelum lampu penerangan tenda kami dimatikan. Berharap malam ini kami melewati malam di tepian telaga tanpa kejadian aneh. Saya mengubur dalam-dalam mitos tentang sibunian, mengganti dengan pikiran tentang keindahan telaga dewi andai malam cerah. Melewati malam dengan pantulan cahaya rembulan ditemani ribuan bintang. Menghabiskan sisa malam di tepi api unggun, bercerita tentang makna kehidupan. Bersenda gurau sembari melantunkan lagu memuja keindahan alam. Sederhana saja tentang memaknai dan menikmati gunung. Namun itu hanya pikiran saya saja untuk menghilangi bayang-bayang sibunian. Kenyataanya diluar angin tetap berhembus kencang menerjang tenda kami. Suara angin mengantarkan tidur kami malam itu.

Keesokan harinya kami terbangun, cuaca diluar tetap sama. Angin disertai kabut tetap mengurung kami di tepian telaga berketinggian 2762 Mdpl. Pagi itu saya mendapat jatah untuk menyajikan makanan untuk teman-teman, mengisi perut sebelum kembali turun. Tepat tengah hari, perjalanan awal turun Gunung Singgalang ditemani gerimis berkabut . Bersamaan dengan itu kami mengubur pikiran-pikiran tadi malam tentang penunggu telaga, jamaah berpakaian putih yang berjalan beriringan di Telaga Kumbang yang merupakan satu diantara dua telaga di Gunung Singgalang, serta mitos-mitos tentang makluk halus pencuri manusia untuk dibawa ke alamnya.

Di perjalanan turun kami berselisih dengan beberapa rombongan pendaki yang sudah berjalan sedari malam. Berkenalan dan memberi senyuman sesama pendaki. Di ketinggian 2300 Mdpl, hujan mengguyur lebat. Jalur untuk turun dialiri air, kami seperti berjalan turun melewati aliran sungai kecil. Hujan menemani kami hingga tiba di pos pemancar. 

Saya terpaku mengenang Gunung Singgalang diantara kabut-kabut pekat yang meneyelimuti puncaknya. Kelak kita akan bertemu di pendakian berikutnya, meresapi setiap butiran-butiran kabutmu dalam senandung misteri telagamu.  Melewati akar-akar kayu penyangga tubuhmu, menghisap setiap tetesan air yang jatuh dari  lembaran daun pohon yang menjadi rambut penyilimut kulitmu. Dalam balutan harmoni alam, Gunung Singgalang. *

10 komentar:

  1. salam kenal mas... paling suka dengan foto ini dan cerita petualangannya...

    BalasHapus
  2. Membuat saya terbawa kedalam Cerita..

    BalasHapus
  3. Ridho ikhsan20 Juni 2012 11.21

    Selalu salut... Bangga aku bisa kenalnbocah gila ini.... Amazing..

    BalasHapus
  4. Gunung singgalang indah, benar-benar cantik.Namun perjalanan kami ke sana awal bulan ini sama halnya dengan cerita di atas. Melewati perjalanan licin dengan tumbuhan pimpiang, guyuran hujan serta pekat kabutnya. Tapi tetap saja, perjalanan ke Gunung Singgalang menyisakan banyak kenangan dan semoga selalu terjaga dari sampah para pendaki yang menikmati indahnya sumatera.

    BalasHapus
  5. sebaik2 nya waktu buat nanjak ke gunung2 di sumbar pak adalah pertengahan april - juni
    insyaallah cerah. .

    BalasHapus
  6. ditelaga dewi ada ikannya gk?

    BalasHapus
  7. ditelaga dewi ada ikannya gk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada setau saya. Ikan nila pernah dilepas bibitnya disana...

      Hapus
  8. salam kenal mas....memang gunung singgalang gunung yg paling sulit treknya..tapi di snalh letak ke unikan nya...apalagi cuaca nya yg ekstrem...saya terakir kemarennanjak ke singgalang pada bulan oktober 2016...kami cuma berenam di sana dan dari jam 7 malam sampai jam 6 pagi cuaca sangat buruk hujan..tambah badai angin yg sangat kencang..membuat frem tenakami patah ..semua..rencana nya 2 malam di atas sana karena tenda pada rusak semua..terpaksa paginya jam 10 kami turun kembali..tapi itu sungguh pengalaman yg tak bisa di lupakan ...

    BalasHapus