Pantai Gapang dan Secangkir Kopi

12/31/2011 02:56:00 PM Yunaidi Joepoet 11 Comments

Bang Gonat membersihkan 'toggle' yang sudah berlumut. Saya memperhatikan setiap gerakan tangan Bang Gonat dengan teliti membersihkan 'toggle'-nya agar para pengunjung yang menyewa peralatan Bang Gonat untuk snorkelling merasa nyaman saat menikmati keindahan bawah laut Pantai Gapang di Pulau Weh. Kami bercerita, mulai dari perantauan Bang Gonat ke Bandung, kembali ke Sabang dan membuka usaha penyewaan alat snorkelling hingga masalah krusial untuk lelaki yakni mencari istri dan berkeluarga. Secangkir kopi dan tepat dibawah pohon rindang ditemani deburan ombak berlaut jernih menjadi latar kami menghabiskan siang di tepian Sabang.

***

Kami berkejar-kejaran, saya menggoreskan 'Yudi' nama saya sendiri. Adik baru saya tertawa, saya mengeluarkan kamera dan kami membuat foto kenangan di Pantai Gapang. Setelah itu saya menghadiahi sebuah gambar sebagai pengganti permen di pasir, si manusia busa dengan gigi khas dua biji, 'spongebob' untuk menghibur dua adik kecil di tepian Pantai Gapang.

Tadi malam tidur saya tidak nyenyak, ombak menggoyangkan 'bungalow' murah tempat saya menginap. Dua kaki pondasi 'bungalow' yang saya tempati menjorok ke laut, ini memang sedikit menakutkan. Hampir tiap jam saya terbangun, mengambil lampu penerangan dan menyorotkan lampu ke bawah melihat debit air laut apa semakin naik atau semakin surut. Hasilnya sama, ba'da magrib hingga dini hari bukannya malah surut debit air tetap tinggi melumat sebagian kaki 'bungalow'  dan mengguncang 'bungalow' yang keseluruhan materialnya terbuat dari kayu.

Lepas pukul empat subuh saya baru mulai tidur tenang, pasang tidak terlalu deras menggetarkan penginapan lagi. Pukul setengah delapan saya terjaga, Mishu bocah kecil berumur 7 tahu sudah berjingkrak-jingkrak tepat di depan pintu penginapan saya. Mishu dan Mamanya yang berumur 30 tahunan tetangga saya di 'bungalow'. Kita bertemu di Feri penyeberangan dari Banda Aceh ke pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Dari Balohan kita 'sharing cost' untuk transportasi becak motor ke Iboih tempat saya menghabiskan waktu seminggu. Kami kadang menghabiskan pagi di beranda 'bungalow' bercerita tentang apa saja sambil menikmati jernihnya laut Iboih sebelum turun laut untuk 'snorkelling'.

Pagi itu saya lebih duluan menyudahi rutinitas pagi dari pada hari biasanya, hari ini saya berencana mengunjungi Pantai Gapang. Pantai dengan jarak tempuh lebih kurang 4 kilometer dari Iboih. Cuaca sangat mendukung, matahari terik dan langit membiru. Dari perbukitan menuju ke arah kampung, saya bisa melihat laut Iboih membening, di kejauhan Kota Sabang samar-samar terlihat. Tidak terlalu ramai, melewati dermaga dekat pintu masuk ke Iboih saya menyempatkan diri untuk bersantai dengan beberapa teman baru warga Iboih. Malam pertama kedatangan saya kesini kami berpesta, merayakan ulang tahun Nola di cafe sebelah Rubiah Tirta Dive.

" Izin cari makan dulu di kampung bang, lapar. Mau ke Gapang" tutup saya menyudahi.

Melawati gerbang Iboih, di sebelah kanan ada jajaran warung yang menjual berbagai macam aneka souvenir selain itu ada juga warung makan dan penyewaan peralatan snorkelling  juga mengisi bangunan-bangunan sepanjang 50 meter ini. Di sebelah kiri selepas gerbang masuk ke Iboih, laut Iboih beriak-riak. Tepat di tepian, beberapa kapal kayu penduduk bersandar sambil menunggu para wisatawan untuk menyewa kapal ini menuju Pulau Rubiah diseberang Pantai Iboih. Pohon besar menaungi pos berukuran 2x2 meter tempat para penduduk dan pemilik perahu untuk bersantai. Saya mengarahkan langkah ke warung nasi yang menjual makanan untuk mengganjal perut.

" Saya pakai ikan goreng ya kak, banyakin cabenya. Oh iya pesan teh manis hangat kak " warung nasi ini menjadi salah satu langganan untuk sarapan pagi. Harganya paling murah diantara warung makan yang ada di Iboih, kakak yang punya juga baik.

Selepas sarapan, saya mulai beranjak menuju Pantai Gapang. Berjalan kaki  lebih kurang sekitar 4 kilometer, tidak terlalu jauh jika dihitung mungkin pulang pergi hanya memakan jarak tempuh sekitar 9 kilometer. Lepas dari kampung jalanan menanjak, lumayan membuat perut berguncang setelah menyantap sepiring penuh nasi.

Lepas tanjakan, jalan bercabang dua. Jika ingin ke arah kanan, maka Tugu Kilometer 0 akan menjadi penghujung dari jalan ini. Titik terbarat secara simbolis dari Indonesia, tapi sebenarnya titik terbarat itu Pulau Rondo yang terletak diseberang Pulo Ace. Minggu lalu saya hampir saja mati di perjalanan pulang dari Pulo Rondo, dengan kapal 'tuk-tuk' punya nelayan, kami di hantam gelombang besar dan hujan di tengah laut luas. Bagi saya orang gunung yang tidak terlalu mahir berenang, ini pengalaman sungguh saat luar biasa. Nanti saya ceritakan tentang Pulau Rondo dan Desa terbarat di Indonesia kawan.

Saya memilih jalan lurus, menurun menuju Gapang ke arah Kota Sabang. Siang hari semakin terik, tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang semenjak dari kampung tadi. Hanya satu dua pengendara sepeda motor berboncengan melaju kencang. Saya melewati perkebunan warga, melewati rumah-rumah yang berjarak beberapa puluh meter dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Jalan disini sangat mulus, selepas Tsunami hampir semua wajah Pulau Weh berubah. Banyak organisasi asing melakukan program pembangunan Aceh. Tak terkecuali juga jalan ke Iboih yang melewati Pantai Gapang, dahulu sebelum Tsunami jalan dari Balohan ke Iboih tidak sebaik ini. Beberapa malam yang lalu saya bercerita hingga larut di tepian laut Iboih dengan penduduk lokal, dulu tahun 90-an dari Sabang ke Iboih bisa memakan waktu seharian. Jalan sangat buruk untuk dilalui kendaraan. Tapi kondisi sekarang sudah berubah pesat, jalan disini beraspal mulus.

Melewati Sekolah Dasar di sebelah kanan jalan tepat di seberang lapangan bola, jejeran rumah-rumah mulai terlihat berbaris. Saya masih berjalan terongoh-ongoh setelah beristirahat di bawah pohon di tikungan jalan. Mungkin sudah dua pertiga perjalanan dari Iboih ke Gapang.

Jalanan masih menurun, terik matahari semakin membakar kulit. Dari jalan saya melihat ke arah kiri dan lautan-pun terlihat jelas, di tepian lautan jajaran pohon bakau ditanam berjajar. Bakau menjadi salah satu pilar terdepan di bibir pantai untuk menahan laju abrasi. Setelah tsunami, beberapa kawasann peisisr Aceh mulai di tanami pohon bakau. Selain untuk mencegah laju abrasi, pohon bagi dimaksudkan juga sebagai rob untuk gelombang laut. Sedikit banyak ini akan mengamankan para penduduk yang hidup di sekitar kawasan pantai jika ada gelombang besar.

***

Beberapa kapal bersandar di dermaga Pantai Iboih, di salah satu buku panduan perjalanan tersohor. Pulau Weh dengan destinasi Iboih dan Pulau Rubiah menjadi salah satu dari 5 tempat yang harus di kunjungi jika ke Indonesia. Tak berlebihan, Pulau Rubiah menjadi salah satu tempat dengan biota laut terkaya di Indonesia. "Rubiah is great place for dive" tutur teman saya Frans pria tua berkebangsaan Prancis yang sekarang menetap di Vietnam.

Saya berjalan melewati pagar salah satu penginapan yang menjadi idola wisatawan asing jika menginap di Gapang. Melewati pagar, tiba di di belakang rumah penduduk. Siang itu Gapang tidak ramai, hanya terlihat dua adik kecil warga asli gapang sedang bermain pasir dan sekelompok wisatawan asing yang baru menyudahi penyelamannya. Saya masih berdiri, melihat ke laut meskipun tidak bisa melihat bebas. Di pohon nangka, tali di ikatkan ke dua batang pohon sebagai tempat menjemur pelampung yang sudah semakin pudar. Seorang lelaki sibuk mengibas-ibaskan pelampung.

" Assalamualaikum Bang, bersihin pelampung ya bang " saya berusaha untuk membuka percakapan.

" Waalaikumsalam, iya dek. Habis dicuci harus dijemur sedang terik biar cepat kering " balas lelaki paruh baya tersebut sambil tetap mengibaskan beberapa sisa pelampung lagi.

Saya masih tetap berdiri menunggu semua pelampung di jemur. Sesudah pelampung habis dijemur kami mulai membuka cerita. Saya memperkenalkan diri "Yudi, saya dari Pekanbaru bang. Tidur di Iboih, tadi jalan kaki kesini. Jauh juga ternyata ya bang, panas lagi. Tapi saya senang".

" Ial Gonat, abang tinggal disini. Lagi bersihkan pelampung sama alat 'snorkelling' untuk disewakan ni. Sendirian ?" sambung Bang Ial.


" Untuk saat ini sendirian bang, tapi mungkin nanti ketemu kawan di jalan" imbuh saya menimpali pertanyaan Bang Ial.

Syahrial, dipanggil Ial tapi menimpali dirinya dengan embel-embel Gonat. Lelaki paruh baya berperawakan tinggi sedang berkulit gelap manis ini menjadi teman saya menikmati Gapang siang itu. Siang itu dengan memakai celana pantai dan baju kaos tanpa lengan dia menunjukkan kepada saya asal nama Gonat. Ternyata Gonat itu adalah produsen baju kaos yang dipakai Bang Ial, kaos ini salah satu kaos favorit yang dimilikinya.

" Ini yud, Gonat. Abang dikasih sama surfer dari Australia, dulu pernah berkunjung kesini. Ini baju favorit abang. Gonat itu enak aja mendengarnya, makanya abang tambahkan nama Gonat " bang Ial menjelaskan pertanyaan saya tentang gonat.

Bang Ial memesan kopi berlabel Ulhe Kareng yang sudah dikemas secara profesional. Jika di Banda Aceh, Ulhe Kareng adalah tempat yang harus dikunjungi jika kita berkunjung. Tempat kopi ini adalah satu pesohor kopi di Kota Serambi Mekah ini. Malam sepulahng dari Pulo Aceh, saya dan teman saya yang tinggal di Banda Aceh Mas Ari dan Bang Citra Rahman menyempatkan diri menikmati secangkir kopi Aceh. Tempat kami di belakang, bersama beberapa anak muda lainnya. Sedangkan di bagian depan wajah-wajah tua dan serius mengisi barisan kursi-kursi di Kedai Kopi ini. Saya dengar, ternyata di kedai kopi posisi dan jabatan seseorang menentukan tempat duduknya. Jika barisan terdepan tentu taulah siapa yang diduduk. Sebuah diskriminasi terhadap posisi duduk, karena kami hanya mendapat tempat di barisan terbelakang.

Kopi hangat tersaji di wadah gelas kuning, klasik sekali gelas ini. Sudah lama saya tidak melihat gelas seperti ini. Kami bercerita tentang Pantai Gapang dan keindahan laut yang tersembunyi di bawah riak-riak airnya. Bang Ial dengan bersemangat melihatkan rekaman kamera tahan airnya, saya melihat dengan persis penyu berukuran hampir setengah meter berenang melewati terumbu karang. Dalam rekaman video, Bang Ial berusaha mengikuti penyu menuju arah laut luar. Hingga disana saja, rekaman video nya habis.

" Di banding Pulau Rubiah, Gapang memang kalah. Rubiah itu bawah laut nya bagus " ungkap Bang Ial saat saya berusaha menanyakan lebih indah mana bawah laut Rubiah atau Gapang.

Bang Ial menyuruh saya untuk menyeburkan diri, tapi saya tidak mengikuti beliau. Saya tidak bawa baju dalam ganti, tidak enak jika harus menjemur pakaian dalam dulu dan memilih hanya memakai celana jeans menunggu pakaian dalam kering. Saya lebih memilih menikmati deburan ombak-ombak pantai di antara rindangnya pepohonan disini.

Tidak memilih berenang dan hanya menikmati deburan pantai saya berusaha untuk membuka karet-karet 'toogle' yang sudah mulai menguning. Warna aslinya bening, dan mungkin karena faktor pemakaian dan usia juga warna karetnya sudah berubah mennguning serta mengeras. Ada sepuluhan 'toggle' yang akan dibersihkan, tugas saya membuka karet dan Bang Ial membersihkan kaca-kaca 'toggle' dengan sikat gigi di dalam air tawar. Hampir setengah jam kami melakukan pekerjaan ini dan akhirnya selesai juga.

***

Langit cerah, riak laut masih mengalun terpecah tumpukan batu. Saya dan Bang Gonat bersantai menikmati sisa siang hari, di kejauhan laut dua orang turis asing mengepak-ngepakan fins sambil membenamkan wajahnya melihat pesona bawah laut Gapang.

Saya duduk di atas batu berlubang, ombak menjilat-jilat mata kaki saya. Di bukit tempat saya duduk sebuah bungalow berdiri menghadap laut, di luar nya beberapa helai baju tergantung dan hammock masih melintang di terasnya. Tepat diubun-ubun pepohonan rindang menahan laju arah matahari untuk mengenai langsung kulit kepala.

Semakin siang, warna laut semakin jernih. Tapi apa daya, saya tidak punya banyak nyali untuk menyeburkan diri ke Laut Gapang meskipun hati berkehendak lain. Saya hanya memilih duduk menikmati setiap hembusan angin dan deburan-deburan ombak. Salah satu acara untuk me-meditasi-kan diri di tepian laut.

Hampir sejam saya hanya duduk diam. Matahari mulai condong ke timur, langitnya yang tadi biru mulai berganti sedikit kelabu. Awan pekat sepertinya akan menurunkan butiran-butiran air di Gapang. Saya bergegas beranjak melewati tepian-tepian Pantai Gapang setelah berpamitan kembali ke Iboih dengan Bang Ial Gonat.

 Menyusuri bibir Pantai Gapang, saya melewati penginapan dengan tampilan yang menawan. Saya taksir mungkin rate permalamnya ratusan ribu. Beberapa kali lipat mungkin dari bungalow saya yang bertarif empat puluh ribu permalam. Kaki saya berhenti di dermaga yang sudah tak terawat, beberapa semen lantai nya sudah pecah berantakan. Saya duduk bersandar di salah satu tembok bangunan di bibir dermaga. Melepas pandangan, dengan bayang-bayang awan gelap di ujung langit.

Kembali ke Iboih berjalan kaki lebih kurang 4 kilometer lagi bukan perkara penuh semangat, saya sudah lelah. Tetapi apa daya, mau tak mau saya harus kembali ke Iboih segera, sebelum hujan tiba. Meninggalkan Gapang, salah satu garis pantai yang baik di Pulau Sabang.*(c)2011 - yunaidi joepoet


Pantai Gapang, menjadi salah satu pantai yang baik untuk dikunjungi jika berpelesir ke Pulau Weh. Selain Gapang, beberapa pantai lainnya yang wajib dikunjungi adalah Pantai Sumur Tiga dan Iboih serta Pulau Rubiah.
Awan pekat mulai memayungi kawasan Gapang, saya beranjak sebelum awan ini menjelama menjadi butiran-butiran air. Dermaga ini menjadi akhir pelesiran saya di Gapang. Kembali ke Iboih dan berjalan beberapa kilometer lagi.

11 komentar:

  1. Yud keren sangat lah ini..saya serasa masih menikmati indahnya pulau Weh ini lagi, satu yang kak oma pemilik penginapan tanyakan kesaya " temen adek itu wartawan? dia bawa kamera gede, terus malam2 takut tidur di bungalow yang sekarang adek tidurin" he he...keep sharing mas Ajo..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya kak oma nanyain saya mulu, padahal cuma bawa kamera doang :)
      tapi kak oma baik sekali, senang bisa stay disana dan berharap bisa ketemu kak oma dalam waktu dekat.
      terima kasih mas tekno :)

      Hapus
  2. indah sangat ciptaan tuhan ni..
    sayang saya belum pernah kesana :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo kesana :)
      Aceh menarik sekali untuk dikunjungi Bang :)

      Hapus
  3. another great post by yudi. like it.

    meditasi di tepi laut? ternyata saya ga sendirian! hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kin sudah suka dengan postingan saya.
      salah satu hal terbaik yang dilakukan di laut ya itu, melihat buih-buih laut terombang ambing dibawa ombak. cara lain melepas stress :D
      hehe

      Hapus
  4. Pengen nangis ... what a beautiful landscape :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ndak usah nangis :) datang kesana aja.
      terima kasih sudah baca blog dan berkomentar ya mbak :)

      Hapus
  5. Entah kenapa, saya suka dengan caption dan foto paling atas.
    Sweet :)
    keep traveling and sharing..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung, aduh saya jadi geer ini :)
      kamu juga ya, keep traveling and sharing.

      Hapus
  6. wow,, last time I met you may be around the end of 2008, glad to see you again, even if only via the internet.. I do not really know you, but the photographs of your trip, is enough to make me to know you more.. hopefully in the near future we can meet and share stories and experiences, and of course with a cup of coffee, hehee.. nice job brad..


    dion -light studio-

    BalasHapus