Senandung Aceh di Pulo Breueh

Matahari belum terlalu hangat pagi itu, tetapi di jalanan terlihat pelajar berkerudung  beriringan menuju barat ke arah barisan bukit-bukit menjulang tinggi -bukit barisan- terbentang dari ujung utara Swarnadwipa sebutan lain Pulau Sumatra hingga ke selatan. Becak-becak motor pun lalu lalang membelah jalanan kota dengan penumpang berpakaian putih merah. Para pelajar dengan senyum cerah nampak semangat mengejar ilmu ke bangku sekolah sebagai bekal untuk masa depan kelak.

Matahari perlahan menghilang di balik barisan Bukit Barisan. Semantara warga Aceh mesih terlihat enggan beranjak dari Ulhe Lhe. Ulhe lhe menjadi salah satu tempat yang dikujungi oleh Warga Aceh saat sore hari.

Saat remaja-remaja berpakaian sekolah berangkat menuntut ilmu, saya masih melonjorkan kaki seraya merentangkan tangan melepas lelahdi barisan ke dua bus ekonomi jurusan Pekanbaru - Aceh. Sudah dua malam satu hari saya menumpang bus lintas sumatra ini. Perjalanan panjang ini untuk mengantisipasi biaya yang terlalu besar jika saya menggunakan tranportasi udara. Maklumlah menjadi pejalan yang independen berminggu-minggu dengan dana yang pas-pas an membuat saya harus sedikit cerdik mengeluarkan setiap sen-sen rupiah. Toh moda transportasi bukanlah yang terpenting dalam sebuah perjalanan. Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana saya memetik pelajaran dari setiap perjalanan yang saya lakukan. Bertemu dengan orang-orang baru, bertukar pandangan, belajar suatu khasanah budaya Indonesia yang kaya hingga menambah ikatan tali persaudaraan. Masalah destinasi pantai yang indah, gedung tua, laut yang biru ataupun langit yang mempesona bagi saya hanyalah hadiah dari sebuah perjalanan. Bukankah begitu ?

Terminal bus Banda Aceh pagi itu ramai sekali dengan tukang becak motor, persis di pintu bus sudah mengantri puluhan tukang becak motor. Saya kelagapan, ini kali pertama saya ke Banda Aceh dan langsung ditodong oleh tawaran becak motor.  Hal yang utama untuk menangkisnya adalah berterima kasih dan mengatakan kepada tukang becak motor kalau ada keluarga saya yang akan menjemput dan timpali dengan senyum dan lihatlah itu senjata yang sangat Ampuh !. Ini menjadi pelajaran pertama bagi saya, bersikap ramahlah terhadap orang lain dan orang lain akan membalas keramahan anda. Saya yakin itu. Saya berjalan menuju kabin bus tempat penyimpanan barang. Ransel saya ditumpuk dibawah karung-karung yang isinya entah apa serta kardus-kardus yang diikat kuat dengan tali rafia. Saya mengambil ransel dan mengucap terima kasih kepada kondektur. Perjalanan di Aceh dimulai untuk menyingkap tanah yang bagi sebagian orang dulunya di cap sebagai negeri seram penuh konflik dan negeri yang porak poranda akibat bencana tsunami. Namun saya yakin dibalik kengerian dan duka Aceh di masa lalu terbelit secercah senyum damai dan secercah harapan di negeri Cut Nyak Dien ini, toh bukankah R.A Kartini bilang "Habis Gelap Maka Terbitlah Terang".

Ini hari kedua saya tidak mandi. Rekor saya tidak pernah mandi yakni 5 hari, saya motoran dari Pekanbaru menuju Sumatra Utara dan bekeliling mulai dari Medan, Berastagi, Danau Toba, Menuju Sidikalang, Sibolga kembali ke Medan. Kilometer motor saya memecahkan rekor 2470 Kilometer. Kali ini di Banda Aceh saya tidak mau menjadi pejalan yang hemat sabun. Dan hari pertama di Aceh saya harus bersih-bersih dahulu. Toilet terminal menjadi tempat ideal untuk mandi, saya menitipkan ransel ke penjaja makanan kecil dekat toilet terminal. kemudian mengambil beberapa peralatan mandi dan baju ganti. Toilet terminal banda aceh jauh berbeda dengan toilet terminal kebanyakan. Disini lumayan bersih, air nya pun tidak terlalu keruh dan saya cap masih manusiawi lah untuk mengguyur tubuh yang belum ditimpali air dua hari. Saya menghabiskan hampir setengah jam di toilet. Dan lihatlah, saya keluar sudah berubah menjadi lelaki pejalan yang wangi dan kembali prima. Ternyata mandi bisa menghilangkan capek dan pegal juga ya. Saya berkenalan dengan Bapak Masril, tukang becak yang tinggal di dekat pelabuhan Malahayati, sekitar 30 kilometer dari Terminal Bus. Dan akhirnya saya meminta jasa beliau untuk mengantarkan menuju pelabuhan Lampulo.


Kapan nelayan membongkar ikan di Pelabuhan Lampulo. Lampulo merupakan pelabuhan dan sentra Ikan di Banda Aceh.
Perjalanan menuju Pelabuhan Lampulo tidak terlalu lama, sekitar setengah jam dari terminal bus. Pelabuhan Lampulo sendiri merupakan pelabuhan tradisional dan dimata masyarakat Aceh pelabuhan ini terkenal dengan pelabuhan sentra ikan. Sewaktu bencana tsunami 2004, daerah Lampulo hancur luluh lantak tak bersisa. Pernah melihat foto kapal di atas rumah ? Tepat sekali, disinilah tempat foto kapal diatas rumah tersebut berada. Hingga sekarang pun kapal tersebut masih berdiri membisu diatas puing-puing rumah sebagai saksi ganasnya bencana tsunami yang menghantam Aceh. Saya kembali terbayang bencana tsunami yang begitu besar, ratusan ribu nyawa melayang dihantam ombak yang berkekuatan dahsyat, puluhan ribu anak menjadi yatim piatu dan jutaan orang tidak tahu dimana harus berlindung saat kegelapan datang, malam-malam dingin yang mencekam dan saat tetesan-tetesan hujan menguyur tanah rencong ini. Pilu sekali, bulu saya bergidik saat saya merenungi kejadian itu di pelabuhan Lampulo tentang ganasnya bencana tsunami tahun 2004 silam. Tapi pilu yang lalu biarkanlah menjadi kenangan, kehidupan Aceh harus tetap bergulir bukan ? Jika memikirkan masa lalu saja lalu kapan kita memikirkan masa depan ?

Hampir 2 jam saya masih duduk di kedai kopi lampulo, menunggu keberangkatan kapal Jasa Bunda menuju Pulo Aceh. Sebuah gugusan pulau paling barat di Indonesia. Jangan bayangkan saya menunggu kapal ferry bermuatan besar yang bisa menampung puluhan kendaraan bermotor di lambung kapal, atau sebuah kapal pesiar dengan peralatan navigasi lengkap. Lupakanlah kapal dengan teknologi dan kemewahan tersebut. Kapal Jasa Bunda jauh dari itu, badan kapal dibuat dari kayu, berbahan bakar solar dengan mesin mobil yang dimodifikasi sebagai penggerak kapal. Kecepatannya sangat lamban, tidak ada pelampung jika kapal dihantam gelombang.

"Berpeganglah pada kayu dan berdoa kepada tuhan jika kapal ini karam" seloroh Pak Ikhsan nahkoda kapal saat saya menanyakan kemungkinan kapal ini dihantam gelombang besar. Selera humor kemudi kapal ini menarik juga untuk menghilangkan ketakutan saya. 

Kapal tuk-tuk yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Saya menumpang kapal nelayan menuji Mercusuar atau warga Pulo Ace menamakannya dengan Lampu. Mercusuar dengan tinggi 80 meter itu dinamakan dengan Willems Toren.
Tepat pukul 2 siang, kapal meninggalkan pelabuhan lampulo. Kapal kali ini penuh dengan muatan barang yang di beli di Banda Aceh. Muali dari bahan bakar bensin, barang dagangan, kebutuhan harian hingga kotak pendingin ikan yang dibawa kembali dari pelabuhan Lampulo ke Desa Gugup. Saya berkenalan dengan beberapa penumpang. Bapak Tengku Izi duduk disamping saya, disebelah kirinya bersandar istri dan kedua anaknya. Bapak Izi sengaja pergi ke Banda Aceh membelikan sepeda untuk anaknya yang pertama berumur  6 tahun. Beliau tinggal di Desa Gugup, salah satu desa yang ada di Pulo Breueh. Selain Bapak Izi, ada beberapa penumpang lainnya yang turut berlayar menuju Pulo Breueh. Ada yang duduk di geladak kapal ada juga yang menutup badan dengan sarung untuk menahan laju angin dan gerimis yang mulai menetes ditengah laut luas. Saya memilih duduk di dekat nahkoda sambil bercerita tentang Pulo Breueh. Beliau menanyakan tujuan saya datang ke Pulo Breueh. Saya jawab singkat, " Indonesia ini luas Pak, kalau bukan saya, bapak dan warga Indonesia siapa lagi yang mau menikmati Indonesia ?"

Pukul 5 sore kapal Jasa Bunda bersandar di Desa Gugup, dermaganya masih terbengkalai. Beton-beton pembatas laut dan daratan masih dalam tahap pengerjaan. Saya melompati dermaga seraya memangkul ransel dengan berat hampir 24 KG setengah berat badan saya. Saya mencari rumah Bang Muslim dan Bang Muhippudin atas bantuan seorang kawan baru, saya bertemu dengan Pak Rizal di pelabuhan lampulo. Beliau menanyakan tujuan saya, karena jarang orang dengan tas ransel berbobot besar menyeberang ke Pulo Breueh. Dari Pak Rizal saya berkenalan dengan Mukim Pulau Breueh, semacam kepala desa atau orang yang dituakan di Pulau. Namanya Pek Yan, berumur sekitar 50 tahun, dan ternyata beliau yang punya kapal Jasa Bunda. Pek Yan sebagai mukim menyarankan saya untuk mencari Bang Muslim dan Bang Muhippudin seketika sampai di Pulau Breueh. Dan saya yakin yakin bahwa tuhan bersama para petualang kapanpun dan dimanapun dan yakinlah orang baik itu ada dimana-mana. Ini buktinya, saya sudah bersandar di dinding rumah Bang Udin, panggilan akrab Muhippudin. Beliau mengizinkan saya untuk tinggal dirumahnya.

Di Pulau Breueh saya menghabiskan waktu 6 hari, Pulo Breueh yang berarti beras ini saya banyak belajar kehidupan, mengenal beberapa budaya, pola kehidupan masyarakat, tradisi serta khasanah hidup masyarakat di Pulau terbarat Indonesia.

Pulau Breueh adalah bagian dari gugusan Pulo Aceh (Pulau Aceh) yang terletak diutara dan jika dilihat dari peta merupakan gugusan Pulau terbarat di Indonesia. Gugusan Pulo Aceh terdiri dari beberapa Pulau, yakni Pulau Breuh, Pulau Nasi, Pulau Keureusik, Pulau Batee dan Pulau Bunta. Dari gugusan pulau tersebut, Pulau Breueh lah yang penduduknya bisa dikatakan banyak. Hampir 5000 jiwa berdiam di Pulau ini. Satu sama lain saling kenal, semua orang berjalan saling tegur sapa. Dan kehidupan disini sangat ramah sekali. Bagi saya seorang pendatang, mengunjungi Pulau Breueh seperti mengunjungi kampung halaman. Hommy sekali. Pulau Nasi terletak diseberang Pulau Breueh, jika dilihat dari tepian laut Desa Gugup hanya terlihat beberapa atap rumah penduduk saja. Disana belum terlalu ramai dihuni oleh penduduk. Sedangkan Pulau Keureusik, dulunya ada satu desa disana. Namun Tsunami datang menenggelamkan desa tersebut. Penduduk yang masih bertahan hidup pindah ke Pulau Breueh dan membuat desa kecil dengan nama Desa Keureusik, sama dengan Pulau yang mereka tempati dulu siberang arus Keureusik sana.

Dermaga di Maulingge, Desa Terbarat di Indonesia yang terletak di Pulau Breueh. Masyarakat di Maulingge hidup sebagai Nelayan dan berladang. Listrik di Maulinggi sama seperti di Desa Gugup hanya hidup saat malam hari.

Masyarakat Pulau Breueh hidup dari melaut dan berladang. Mereka melaut jauh hingga ke samudra, menembus ganasnya gelombang-gelombang laut Indonesia. Hasil dari melaut dijual kepada toke ikan yang ada di Desa Gugup, sebagian lagi untuk dikonsumsi sehari-hari. Jika hasil tangkapan yang dikonsumsi berlebih, maka ikan hasil tangkapan dijemur untuk kemudian diasinkan.  Ikan asinan ini akan bertahan hingga waktu lama. Selain melaut, berladang dijadikan profesi utama bagi sebagian masyarakat Pulo Breueh. Tanah Pulo Breueh yang berkontur perbukitan menjadi tempat yang baik untuk bertanam cabe, umbi-umbian, pisang, buah mangga serta sayur mayur lainnya. Penduduk bertanam di daerah perbukitan dekat Gunung Ceumoh. Satu-satunya Gunung yang ada di Pulau Breueh.

Setelah 5 hari di Pulau Breueh, saya ikut Bang Muslim ke Gunung Ceumoh. Tetangga Bang Muslim, Bapak Muhammad Yusuf yang tinggal beberapa jarak rumah dari rumah Bang Muslim minta tolong untuk mengantarkan Sapi beliau ke Ladangnya di dekat Pantai Baloh sekitar 4 Kilometer dari Desa Gugup. Saya kebagian tugas untuk menarik tali sapi, Pak Muhammad Yusuf bertindak sebagai algojo pemukul sapi sedangkan Bang Muslim berusaha untuk menahan kepala sapi. Anak Pak Muhammad Yusuf yang masih berusia 7 tahun tertawa girang saat saya terlihat begitu kelagapan menangani satu sapi untuk dinaikkan ke mobil bak terbuka punya Bang Muslim. Butuh waktu memindahkan sapi betina ini, tapi usaha kami tidak sia-sia. Sapi ini berhasil naik, dan salam pembukanya adalah membuang kotoran. Sial, baju saya terkena cimpratan cairan kotorannya.

Perjalanan menuju ladang Pak Yusuf, menyenangkan sekali. Keluar dari Desa Gugup disebalah kanan ada Sekolah Dasar dengan latar perbukitan tinggi, jalanan masih beraspal. Tepat diseberangnya ada lapangan besar menyatu dengan Pantai Lambaro. Pohon-pohon pinus berbarisan menutupi pasir-pasir kuning pantai ini. Pantai Lambaro ini tidak jauh dari Desa Gugup. Kemarin sore saya ikut berenang dengan 2 pemuda kenalan saya. Saya hanya berenang ditepi-tepi saja. Sedangkan teman baru saya, menyelam dengan peralatan snorkling sambil membawa alat panah ikan. Lautnya biru, pasirnya kekuning-kuningan. Tekstur pantainya berbentuk huruf U melingkar dengan pemandangan lautan lepas. Saya melempar batu kearah lautan lepas, mungkin diujung sana Negara Bangladesh atau India atau mungkin Mesir atau negara Somalia di benua Afrika nun jauh disana. Entahlah...

Pantai Lambaro, yang terletak di Desa Gugup. Struktur pantai yang datar dengan laut biru dan pasir kekuning-kuningan. Di Pantai Lambari kita bisa melihat sunrise dan sunset dengan suasana laut yang indah.

Oh iya saya masih bercerita tentang Pantai Lambaro, sebenarnya pantai ini cukup unik. Disini kita bisa menyaksikan Sunrise dan Sunset dari satu tempat. Pemisahnya hanya jalanan yang masih belum diaspal menuju Desa Serapong. Jika melihat matahari terbit di Timur, maka pemandangannya adalah Laut Desa Gugup yang nantinya matahari akan keluar dari balik bukit kecil, kilauan-kilauan matahari akan memantul dari riak-riak air laut dan kapal-kapal tok tok yang bersandar dipinggiran pantai. Sedangkan matahari tenggelam di Barat, pemandangannya kita bisa melihat samudra luas dengan frame perbukitan berbentuk huruf U yang mengelilingi Pantai Lambaro. Saya punya teman baru saat menyaksikan sunset disini, jumlahnya tidak satu. Tetapi puluhan teman baru, mereka senantiasa mengisi sore hari di Pantai ini sambil menikmati langit-langit yang bergelora seraya mengunyah rumput-rumput yang tumbuh di pasir Pantai Lambaro. Sapi-sapi ini mungkin sudah bosan menikmati sunset yang selalu membahana di Pantai Lambaro ini, bedanya mereka hari itu punya teman baru. Pemuda tanggung yang berteriak seperti orang bodoh mencaci maki dirinya yang tidak bisa merangkul wanita pujaan seraya menyaksikan sunset seperti dalam foto liburan orang kebanyakan.

Saya masih berdiri di bak mobil Bang Muslim, angin menerpa wajah saya. Disebelah saya berdiri gagah sapi yang dengan susah payah kami naiki ke mobil. Hidungnya diikati tali. Tali tersebut kemudian diikatkan lagi ke sandaran bak mobil. Selama perjalanan saya bertugas memegangi tali tersebut. Perjalanan mulai menanjak menembus bukit-bukit yang masih hijau, dari kejauhan pohon-pohon tinggi besar menjulang. Sepanjang perjalanan, hanya deru mesin mobil kami yang membelah sunyinya hutan Pulau Breueh. Melawati jalan tanah, Bang Muslim membelokkan kendaraanya menyusuri hutan lebat. Saya berpegangan semakin kuat, mobil bak ini berguncang hebat. Teman saya masih kocar kacir menahan guncangan mobil, untung saja hidungnya diikat tali. Kalau tidak mungkin sapi ini sudah melompat modyar. Kami melewati sungai kecil dangkal, lebarnya sekitar 3 meter. Setelah melawati beberapa pagar ladang, kamipun sampai di ladang Pak Yusuf. Ladang Pak Yusuf luasnya 2,5 hektar, sekelilingnya dipagari kayu-kayu besar. Hal ini berguna untuk menjaga agar tanaman-tanaman ini tidak dirusak oleh Babi Hutan.

Saya harus melompati pagar setinggi 1 meter, tidak ada semacam pintu masuk. Pak Yusuf dan Bang Muslim berjalan duluan, saya berjalan di belakang menjauh meninggalkan si Sapi. Dia tidak ikut masuk, hanya diluar saja mencari santapan siang yang melimpah. Rumput-rumput lezat yang menghijaukan mata si sapi. Saya tertinggal jauh di belakang Pak Yusuf, sedangkan Bang Muslim sudah menghilang di balik rindangnya daun-daun pisang. Dari kejauhan saya melihat gubuk kayu, saya berjalan mendekat gubuk tersebut. Anjing menyalak, ini seperti sambutan selamat datang. Di teras gubuk sudah ada Pak Yusuf dan Bang Muslim duduk terengah-engah. Ada juga istri Pak Yusuf dan saudara perempuannya yang dari pagi tadi sudah tiba diladang untuk memanen jagung. Sedangkan anak pertama dan anak kedua Pak Yusuf menunggu panci didalamnya berisi jagung yang rebus.  Sedangkan anak bungsu Pak Yusuf mesih terlelap di ayunan kain yang diikatkan ke dinding gubuk.

Pak Muhammad Yusuf, dengan latar pohon pisang di ladangnya di Gunung Ceumoh Pulu Breueh.
Saya masih sibuk memandang kiri kanan ladang Pak Yusuf. Hanya ada bunyi jangkrik dan bunyi pecahan ombak laut yang samar-samar. Disekitar gubuk ini tumbuh berbagai macam tanaman, umbi, pisang, jagunf, cabe rawit, sawah tadah hujan dan tumbuhan merambat lainnya. Pak Yusuf bercerita tentang usaha yang beliau lakukan tentang pembukaan lahan di salah satu jantung hutan Pulau Breueh ini. Menembas pohon-pohon tinggi, membersihkan tunggul dari pohon tersebut hingga menggemburkan tanah agar bisa ditanami berbagai macam tumbuhan. Butuh usaha keras ujar Pak Yusuf.

"Pembukaan lahan ini butuh tenaga besar dek. Saya berbulan-bulan kerja". Ucap Pak Yusuf.

Buah dari kerja keras tersebut, setiap musim panen sudah bisa dinikmati oleh Pak Yusuf. Hasil panen dari ladangnya bisa mencukupi kebutuhan hidup untuk keluarganya. Hasil tersebut juga sebagian bisa ditabung untuk bekal anak-anak Pak Yusuf untuk melanjutkan pendidikan kelak. Hasil dari optimisme dan jerih payah ini, bukan semata-mata langsung didapat begitu saja. Kemauan dan semangat adalah proses dari semuanya. Membuka hutan di Pulau Breueh ini bukan perkara mudah.

Tempo hari ada rumor bahwa membayangkan Aceh saja orang sudah malas, apalagi berkunjung ke Pulo Breueh. Tempo hari sebelum keberangkatan saya ke Aceh. Saya bertemu dengan beberapa orang teman yang masih menganggap Aceh seperti restricted area untuk dikunjungi. Aceh dalam percakapan tidak terlepas dari 3 hal yang ditakuti. Pertama Aceh dianggap sebagai ladang dan sentra penghasil salah satu jenis narkoba, kedua Aceh masih dianggap daerah yang penuh konflik dan berbahaya bagi para pendatang untuk masuk kesana dan ketiga Aceh daerah rawan tsunami dan berbaha untuk dikunjungi karena sewaktu-waktu tsunami bisa saja datang dan memakan korban ratusan ribu jiwa seperti tahun 2004 yang lalu. Saya sempat miris dengan perlakuan ini. Dan ini jugalah yang menjadi keinginan saya untuk pergi ke Aceh. Saya ingin membuktikan secara khusus bahwa Aceh bukan lagi sebagai daerah penghasil narkoba, Aceh bukan lagi tempat seram untuk dikunjungi dan Aceh bukanlah tempat berbahaya.

Saya merasakan Aceh yang didalam pikiran orang-orang masih sebagai daerah berbahaya secara pribadi sudah terbantah. Saya merasakan setiap kebaikan dari masyarakat Aceh. Masyarakat yang bersahabat dengan setiap orang-orang baru, pintu rumah terbuka bagi para pejalan. Senyum Aceh bertebaran mulai dari terminal, jalan, pelabuhan, pasar hingga perkotaan. Peumulia Jamee Adat Geutanyo, seperti itulah mungkin orang Aceh digambarkan melalui slogannya. Memuliakan tamu adalah adat kita.

Mesjid Baiturrahman - Banda Aceh masih berdiri megah meskipun Mesjid ini dihantam gelombang Tsunami. Mesjid yang menjadi ikon Kota Banda Aceh ini menjadi Islamic Centre nya Kota di ujung barat Indonesia.

Bagaimana tidak, sudah beberapa hari ini saya seperti berada ditengah-tengah keluarga sendiri. Berteman dengan orang-orang baru dan disuguhi kopi pagi hari di rumah Bang Muslim. Dan mendengarkan lagu Aceh malam hari sebelum tidur dirumah Bang Muhippudin. Kali ini tepat di jantung hutan Pulau Breueh, saya mencicipi Kopi Hangat dan setongkol jagung rebus seraya menunggu turunnya kabut asap dari Gunung Ceumoh. Kami melanjutkan cerita tentang Pulau Breueh, dan nanti malam ada acara adat untuk memperingat hari keagamaan. Saya sudah menyatakan kesediaan saya untuk ikut dengan Bang Muslim. Pukul 8 acaranya di mulai dan saya disarankan untuk menunggu di kedai Kopi sebelah pembangkit listrik. Hari pun semaki sore, kami menyudahi cerita kami dari jantung Hutan Pulau Breueh dan beranjak pulang menuju Desa Gugup.

Malam hari tiba. Seperti saran Bang Muslim, saya mencicipi secangkir kopi saring diwarung sebelah pembangkit listrik tenaga diesel. Bunyinya sangat memekakan telinga, namun tanpa alat ini Pulau Breueh sama dengan hutan belantara tanpa penerangan dan dapat dibayangkan jika hidup tanpa listrik. Kita akan berjalan mundur hingga beberapa abad yang lalu saat belum ditemukannya listrik. Dan ditengah kegelapan senja tanpa listrik kita bisa membayangkan harimau atau singa bisa saja menggigit dari samping.  Namun listrik di Pulau Breueh belum sepenuhnya melayani kehidupan masyarakat 24 jam sehari, listik disini hanya hidup dari pukul 6 hingga pukul 11 malam. 5 Jam sehari, dan 19 jam tanpa listrik. Tidak bisa menghidupkan televisi disiang hari atau menggunakan peralatan listrik lainnya. Kehidupan baru dimulai setelah pukul enam. Saat dendang lagu Aceh mulai diputar di beberapa warung di Desa Gugup.

Seraya menunggu kopi saya siap, saya bercerita dengan beberapa warga Desa Gugup. Ada yang berasal dari Bieruen, Lhoksemauwe dan beberapa daerah lainnya di Pulau Breueh. Mereka bukan orang asli di Pulau Breueh. Kebanyakan yang tinggal di Pulau Breueh adalah pendatang dari daerah lain di Aceh, namun mereka sudah menetap dalam waktu yang begitu lama. Seraya menyurupu kopi saya yang sudah datang, kami bercerita banyak tentang Pulau Breueh ini. Mulau dari mitos dahulu kala hingga tatanan hidup masyarakatnya. Saya menyimak dengan seksama penjelasan dari warga yang antusias untuk menceritakan pengalamannya di Pulau ini.

Lewat pukul 8, Bang Muslim datang ke kedai kopi dan menganjurkan saya untuk menumpang sepeda motor dengan Bang Udin saja kalau mau ke Desa Tenom tempat diadakaanya peringatan hari keagamaan tersebut.

Puluhan orang mulai berdatangan mengisi tempat acara yang diadakan di lapangan, saya mengambil posisi paling belakang. Moderatornya berbicara dalam Bahasa Aceh yang sulit saya mengerti, namun Bang Muhippudin dengan baik hati menjelaskan apa yang disampaikan moderatornya. Usai moderator bicara, acara selanjutnya dilanjutkan dengan membaca ayat suci Al- Quran kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama oleh Tengku Salatullah dari Mountasik, sebuah daerah yang berjarak satu jam dari Kota Banda Aceh.

Acara peringatan ini selesai pukul sebelas malam, saya dan Bang Muhippudin yang akrab disapa Udin pulang menembus gelap malam jalanan berkerikil. Lampu motor Bang Udin tidak terlalu terang untuk menerangi jalan kami malam ini. Tapi sepertinya Bang Udin sudah hapal diluar kepala setiap jengkal jalanan desa ini. Saya hanya berharap kami bisa sampai dengan selamat di rumah tanpa harus terperosok di dalam parit. Dan untunglah kami tiba dengan sehat walafiat di rumah. Hanya kesunyian dan gelap gulita saat kami membuka pintu rumah. Maklum saja sekarang sudah jam 11.20 malam, lampu penerangan listrik tenaga dieselnya sudah dimatikan. Saya mengambil senter kecil dari saku celana. Menerangi sudut ruangan rumah Bang Udin mencari matras untuk tempat saya bersandar malam ini.

Ini menjadi malam terakhir saya di Pulau Breueh, besok pagi saya akan berangkat menuju Lampulo dari Desa Gugup dengan Kapal Motor Terima Kasih yang dihibahkan oleh organisasi non profit setelah bencana tsunami melanda Aceh. 


Samudra Indonesia terbentang luas, daratan yang ditumbuhi pepohonan adalah Pulo Breueh. Di Pulau ini ada Desa Maulingge yang menjadi Desa terbarat di Indonesia.

Pagi sekali saya sudah bangun untuk mengemasi barang-barang saya kedalam ransel. Meskipun badan masih capek dan pegal, saya tetap semangat melanjutkan jengkal demi jengkal perjalanan di Aceh ini. Pukul 7 matahari sudah keluar dari peraduan, saya berjalan menyandang ransel menuju dermaga kecil di pinggiran Desa Gugup. Bersama saya menanti puluhan penumpang lain menuju Lampulo. Tepat pukul 7.30 kapal motor terima kasih berjalan menjauh meninggalkan Desa Gugup. Tadi sebelum berangkat saya sudah bertemu dengan Bang Muslim dan Bang Muhippudin untuk mengucapkan rasa terima kasih atas kebaikan dan keramah tamahannya. Saya memiliki keluarga baru di Pulau Breueh.

Ini lah inti sebuah perjalanan, menambah keluarga baru, mengenal khasanah hidup dari suatu tempat yang dikunjungi, nilai-nilai sosial dan belajar tentang moral kehidupan. Saya terpaku menatap riak-riak laut yang pecah saat dihantam lambung kapal yang terbuat dari kayu. Apa lagi yang akan saya temui di perjalanan ini ?

Foto Gallery

Mercusuar Willems Torren di Utara Pulau Breueh terlihat menjulang menatap Samudra.
Warga di Gunung Ceumoh memetik Cabe Rawit dibantu anaknya yang masih Balita. Hasil panen cabe rawit ini dijual ke Banda Aceh.
Kapal tuk-tuk bersandar di tepian laut Desa Maulingge. Nelayan tidak melaut karena cuaca saat itu kurang begitu Baik. Desa Maulingge merupakan desa di barat Indonesia dengan kehidupan mayarakat yang bergantung kepada hasil alam.
Beberapa masyarakat masih terlihat di tepi Pantai Ulhe Lhe saat matahari mulai berwarna Jingga.

17 komentar:

  1. wah, pemandangannya bener2 indah banget. Nice posting bang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih :)
      Aceh benar-benar bagus. Harus kesini suatu saat.

      Hapus
  2. Cakep sekali yud...wah kmaren gak sempet mempir ksana hikssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas, ayo barengan kesini :)

      Hapus
  3. cerita yang sangat menarik mas.. menghanyutkan dan inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih Mas Otong Marutong.
      Saya sangat senang, catatan perjalanan ini bisa dinikmati :)

      Hapus
  4. Laporan perjalanannya lengkap dikasih poto-potonya ya.. jadi ikut menikmati.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya.
      salam hangat :)

      Hapus
  5. keren bro,, baca blog mu ni serasa keliling indonesia. btw, congrtas for the win of Neurobion Blog Competition..!!

    ditunggu traktirannya :D

    BalasHapus
  6. suka banget blognya. INFORMATIF!

    bravo!

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah, pulau breuh kini sudah lebih baik bang. meulingge sudah ada dermaga yang lebih layak. mercusuar sudah di rehab. pokoknya semakin kece badai deh. ditunggu di pulau breuh lagi ya bang :)

    BalasHapus
  8. info dunk ada gak paket wisata ke pulo batee, gak masalah klo harus camping

    BalasHapus
  9. info dunk untuk paket wisata pulo batee gak masalah kalau harus camping

    BalasHapus
  10. Boleh minta rincian biaya selama disana? Untuk biaya homestay, makanan dan rental motor (transportasi) apakah penduduk setempat sudah mempunyai tarif tertentu? Terima kasih sebelumnya.. :-)

    BalasHapus