I Wayan Muditadnana : A Potrait of Bali Lontar Writer in Tenganan

7/17/2011 12:37:00 PM Yunaidi Joepoet 6 Comments

I Wayan Muditadnana, Lontar Legend. Now he based in Tenganan Village, Karangasem, Bali - Indonesia. I met him in October 2010. photo yunaidi jeopoet/ranselkosong

Hyāng Buddha tanpāhi Çiva rajādeva
Rwāneka dhātu vinuvus vara Buddha Visvā,
Bhimukti rakva ring apan kenā parvvanosĕn,
Mangka ng Jinatvā kalavan Çivatatva tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Sepenggal bait yang ada dalam Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, terdengar nyaring saat I Wayan Muditadnana membacanya dengan nada khas. Sayup-sayup matanya berusaha menelaah kalimat-kalaimat yang ditulis dalam huruf Sansekerta diatas lembaran-lembaran daun lontar yang sudah sedikit lusuh. Kuku-kukunya yang panjang berusaha mengikuti bait demi bait saduran kitab sutasoma yang ditulis kembali pada daun lontar. I Wayan Muditadnana, berumur 79 tahun saat saya bertemu dengan beliau di bulan Oktober, 2010. Wajahnya sudah mulai sayu, sedikit kendor dibagian kulit muka dan tangan namun senyumnya namun senyumnya tidak menisyaratkan usia beliau yang semakin tua dimakan waktu. Saya bertemu dengan beliau di Desa Tenganan, sebuah desa Baliage atau Bali Tua di timur Pulau bali tepatnya di Kabupaten Karangasem. Sebuah desa indah dicekungan bukit-bukit, desa yang masih melestarikan aturan-aturan adat dari nenek moyang mereka hingga sekarang. Bahkan salah satu upacara adat dari Desa Tenganan yang terkenal Perang Pandan mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Setiap tahun ribuan orang datang untuk menyaksikan perang pandan ini. Teman saya bilang peserta perang pandan nya sih tidak terlalu banyak, malahan kalah banyak sama moncong-moncong lensa para fotografer yang datang dari berbagai penjuru bumi. Oh iya, jika Pekalongan terkenal dengan Batik-nya atau Tanah Papua terkenal dengan Koteka-nya ternyata Desa Tenganan juga terkenal dengan Tenun Ikat Ganda hasil karya seni dengan motif yang sangat indah, masyarakat Tenganan menamakannya Tenun Geringsing.
Saya menjadi finalis program petualangan aku cinta indonesia detikcom, sebuah acara yang sangat luar biasa untuk menyebarkan semangat cinta Indonesia pada kaum muda dan masyarakat Indonesia. Bali menjadi tujuan eksplorasi saya bersama dengan Mbak Dwi Wisuda Saptarini, ibu muda penggila olahraga diving. Kami berdua berkesempatan mengunjungi Desa Tenganan setelah sehari sebelumnya menikmati kekayaan bawah laut di Tulamben. Kami mengelilingi Desa Tenganan dengan komandoi oleh Jaringan Ekowisata Desa ( JED ) sebuah layanan tour ekowisata yang melayani wisatawan untuk mengelilingi Sibetan, Tenganan, Pelada dan Ceningan. Basisnya di Bali dan menurut saya ini merupakan salah satu layanan tur ekowisata yang baik di Pulau Dewata ini.

***

Siang itu Desa Tenganan terlihat hiruk pikuk, tua muda sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dari pintu masuk saya merasakan suasana langsung mundur beberapa ratus tahun silam, dari gerbang kecil dengan lebar sekitar satu setangah meter saya merasa dunia seperti kembali lagi kemasa kehidupan Bali pada zaman dimana belum ada modernitas. Bayangkan, diluar pagar puluhan kendaraan bermotor parkir dengan jalanan beraspal luas kontras didalam Desa Tengganan, tidak ada lagi jalanan beraspal yang ada hanya jalanan berbatu dikelilingi dengan bangunan-banugnan tua yang masih kokoh hingga saat ini. Meskipun tidak dipungkiri modernitas mulai menyentuh kehidupan di Desa ini tetapi masyarakatnya hingga sekarang masih bisa menjaga tradisi yang sudah diturunkan dari nenek moyang mereka.

Dari pintu gerbang kami melangkahkan kaki melewati jalan desa. Dari kejauhan terlihat sebagian lelaki sibuk memasak makanan di dekat anjungan pertama tidak jauh dari pintu gerbang masuk ke Desa Tenganan. Dari jauh beberapa gadis Desa Tenganan terlihat ayu berjalan menuju balai desa seraya memanggul beberapa makanan ditahankan dipinggang berbalut tenunan gringsing. Saya menyusuri jalan desa yang jauh dari modernitas. Jalan di dalam Desa Tenganan ini hanya berupa tanah yang ditumbuhi rerumputan serta ada beberapa ruas jalan yang sudah diberi batu dan disusun serapi mungkin. Kiri kanan jalan desa ini dihiasi oleh bangunan-bangunan tua, temboknya sudah mulai mengelupas namun masih berdiri kokoh. Dari kejauhan balai desa terlihat ramai oleh penduduk desa. Pak Wayan, pemandu kami dari Jaringan Ekowisata Desa menjelaskan bahwa hari ini ada upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tenganan. Sebagai warga asli Desa Tenganan, beliau pun minta waktu untuk menghadiri upacara adat. Kamipun berjalan mengelilingi Desa Tenganan tanpa Pak Wayan si pemandu sahabat kami.

Kami menyusuri lorong demi lorong jalanan desa, asri sekali tanpa hingar bingar kendaraan. Anak-anak kecil bermain riang melewati tembok-tembok tua dipayungi oleh birunya langit bali. Semakin siang jalan desa semakin sepi. Karena aktivitas masyarakat desa sekarang terpusat di Balai Desa. Ramai sekali terlihat dari kejauhan.

" Mbak Rin, saya sepertinya pengen lihat deh. Ramai sekali disana, ada beberapa gadis desa cantik sepertinya. Kalau lucky kali aja ada makanan gratis untuk kita. Babi panggang mungkin atau arak Bali. Jalan kesana gimana ?" pinta saya sederhana kepada partner saya yang memang kelihatan lelah.
" Lu, aja yang kesana yud. Gue tunggu sini yak."
" Lah gak pengen lihat upacaranya mbak ?"
" Pengen sih, tapi lu aja kali ya gue tunggu disini aja." 

Oke kali ini mungkin rayuan saya tidak mempan untuk ngajakin partner saya menuju balai desa. Toh saya akhirnya harus menyaksikan upacara adat di Balai Desa sendirian menggunakan sarong Bali sebagai rasa hormat atas adat Bali biar sopan gitu. 

Tidak banyak yang saya mengerti dari alur upacara adatnya, karena saya tidak mengikuti prosesinya dari awal. Yang saya dapati saat saya sampai di Balai Desa, semua masyarakat desa sedang mencicipi makanannya. Diselingi dengan gurauan-gurauan yang tidak saya mengerti dalam Bahasa Bali. Susah sekali mengerti Bahasa Bali. Saya tetap setia menanti dibawah pohon rindang berteman seekor ayam jago yang masih terkurung di kandang.

***
 Saya kembali menemui Mbak Rini saat beberapa warga sudah beranjak pergi meninggalkan balai desa. Sepertinya acara adatnya sudah selesai, sekarang kami menunggu Pak Wayan datang dan menunggu kemanakah kami akan dibawa selanjutnya. Nasib wisata pakai tur, dibawa kesana-kemari. Pak Wayan beranjak keluar dari Balai Adat, disebelah kanannya ada lelaki tua memakai Udeng penutup kepala kas Pulau Dewata. Kami berkenalan.

"I Wayan Muditadnana" dengan senyum yang khas.

Ditimpali Pak Wayan, "Beliau penulis lontar di desa ini. Karya beliau sudah mendunia, kita bisa mampir dirumah beliau untuk melihat beberapa tulisan lontar yang beliau kerjakan".

Kami pun melangkah melewati jalanan desa menuju rumah Pak Wayan Muditadnana. Saya melihat papan nama yang semakin hari semakin rapus saja. Bagian kaki-kaki papan nama tersebut elah mulai rapuh. Atapnya pun sudah mulai memudar, 3 baris pertama saya sama sekali tidak mengerti tulisan apa. Perkiraan saya 3 baris pertama papan nama tersebut ditulis menggunakan hurus sansekerta ? Mungkin, tapi entahlah. Baris selanjutnya terpampang jelas menggunakan bahasa inggris dan kali ini saya tentu saja mengerti "Special Balinesse Letter Writer I Wayan Muditadnana". Dapat dipastikan dari papan namanya, ya itu mungkin rumah Pak I Wayan Muditadnana. Kamipun mengarah ke rumah Pak Wayan Muditadnana.

Seperti rumah yang ada di desa Tenganan kebanyakan, rumah Pak Wayan terlihat asri. Saya masih tegak pinggang diluar. Saya memandang ke sudut dinding rumah Pak Wayan. Ada beberapa penghargaan yang diterima Pak Wayan Muditadnana dari hasil karya dan ketekunan beliau dalam menghasilkan tulisan di atas daun lontar. Saya yakin sudah tidak banyak orang yang menggeluti kegiatan yang sangat mulia dan mungkin hampir punah ini. Saya masih enggan masuk sebelum dipersilahkan masuk. Begitu juga dengan Mbak Rini, kami masih sama-sama tegak pinggang memandangi dinding rumah Pak Wayan. "Ayo Mas, Mbak silahkan masuk" ujar Pak Wayan ramah.

Kami segera bergegas masuk ke rumah Pak Wayan, sebenarnya tidak bisa dikatakan masuk ke rumah. Hanya di beranda saja tetapi tempat ini sudah menjadi surga bagi pak wayan untuk menulis didaun lontar. Beranda Pak Wayan Muditadnana seperti rumah panggung, tingginya sekitar 1 meter dari tanah dan kami harus naik anak tangga menuju beranda rumahnya yang nyaman ini. Lantainya dibuat dari ubin-ubin tua yang hampir sama dengan ubin sekolah saya dulu. Di dekat pintu masuk ke dalam kamar Pak Wayan Muditadnana berdiri mati sebuah gamelan tua. Di dindingnya terpajang foto Pak Wayan saat menerima penghargaan dari Gubernur Bali atas karya lontar beliau. "Saya memainkannya kalau tidak ada kerjaan. Nanti juga boleh saya mainkan untuk kalian" Pak Wayan Muditadnana menimpali lamunan saya yang sedari tadi masih memandang barang-barang yang ada disekeliling beranda ini.

Saya memperkenalkan diri kepada Pak Wayan Muditadnana begitu juga Mbak Rini. Pak Wayan Muditadnana duduk disebelah saya, saya masih terlihat canggung. Bukan apa-apa, saya masih terpana dengan beberapa piagam penghargaan yang diterima beliau. Obrolan kami berlanjut ke perbincangan tentang Desa Tenganan dan masa kecil beliau yang dihabiskan di desa ini.

"Saya lahir dan besar di sini. Tidak mau pindah dari desa ini, meskipun beberapa universitas di luar negeri meminta saya untuk menjadi pengajar. Bagi saya, kalau mereka mau belajar menulis lontar. Belajarlah kesini datang ke Desa Tenganan, temui saya dan dengan senang hati saya berbagi ilmu tentang penulisan lontar ini" dengan tutur Bahasa Indonesia plus cengkok khas Bali. Giimana' Bli' !
   
Cerita kami berlanjut tentang piagam-piagam menggantung yang diterima Pak Wayan  di dindingnya.  Pak Wayan memang layak mendapatkan piagam tersebut, bagaimana tidak. Untuk bidang kesastraan mungkin beliau salah satu putra terbaik yang dimiliki Bali. Pak Wayan fasih dalam menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan tua di Indonesia. Dari perbincangan kami, Pak Wayan Muditadnana juga mahir dalam bahasa sansekerta, bahasa kawi dan bahasa bali kuno. Selain itu beliau juga fasih dalam bermain gamelan. Orang Bali itu Nyeni Sekali, mungkin itu yang bisa saya simpulkan dari Bali. Coba pergi ke Ubud sana, Desa Terbaik di Asia Tenggara. Jalanan diisi oleh karya seni berkualitas, mulai dari lukisan, patung, pahat serta karya-karya seni lain. Tiap malam di beberapa pura diadakan pertunjukkan khas kesenian Bali. Itu masih satu desa, bayangkan dengan Desa lainnya yang ada di Bali. Nyeni Abisss...

Saya kembali lagi ke topik utama tentang lontar. Seraya berbicara banyak hal tentang penulisan lontar, Pak Wayan pun mempraktekan penulisan pada daun lontar. Jari-jari tanganya terlihat telaten mengukir huruf-huruf sansekerta di lembaran daun lontar. Ayunan tangan Pak Wayan Muditadnana menulis sama indahnya sperti lentikan jari-jari penari Bali yang saya lihat dalam pertujukan tarian di Ubud beberapa hari yang lalu. Sekali lagi saya berteriak, Bali itu Nyeni Abisss.

Daun lontar sebenarnya adalah salah satu jenis dari daun tumbuhan bergenre Palem. Penulisan daun lontar banyak di Pakai oleh beberapa daerah di Asia seperti India, Philipina dan Indonesia sendiri. Secara spesifik, di Indonesia penulisan di atas Daun Lontar banyak dilakukan di Pulau Bali terutama untuk menulis aturan adat, naskah kuno dan beberapa naskah sastra lainnya.

Sebenarnya proses pembuatan lontar (manuskrip naskah yang ditulis diatas diatas daun siwalan) tidaklah sederhana. Butuh proses dan melewati beberapa tahap dalam pembuatannya. Utamanya untuk mendapatkan media untuk penulisan lontar, engerajin lontar biasanya mengambil daun dari pohon siwalan. Daun yang sudah diambil kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran penulisan media lontar yang diharapkan. Setelah dilakukan proses pemotongan maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah menjemur daun-daun tersebut dibawah sinar matahari. Daun siwalan yang pada awalnya berwarna hijau, terkena sinar matahari akan berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Penjemuran sendiri memakan waktu beberapa hari tergantung kondisi terik matahari.

Setelah daun-daun berwarna kekuning-kuningan maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah merendam lontar yang sudah berwarna kuning tersebut di dalam air. Hal ini dilakukan sebelum proses penggosokan dengan sabut kelapa untuk mendapatkan dasar lontar yang licin dan bagus untuk dijadikan media penulisan. Prosesnya belum berhenti sampai disitu saja. Daun yang sudah dilicinkan dengan sabut kelapa kemudian di jemur ulang kembali dibawah terik matahari. Usai dijemur daun-daun kembali melakukan proses perendaman, namun kali ini proses perendaman dicampur dengan berbagai macam bahan tradisional yang berguna untuk memberikan kualitas terbaik bagi lontar. Proses perebusan ini kemudian diikuti dengan penjemuran kembali dibawah terik matahari. Setelah mencapai kadar lontar yang sesuai dengan yang diinginkan barulah kemudian daun lontar kering tersebut dikumpulkan kedalam satu ikatan daun. Di Bali daun lontar ini dijepit dengan penjepit pamlagbagan. Sebuah penjepit dari kayu, proses penjepitan ini berlangsung selama lebih kurang 5-6 bulan dengan jangka waktu 2 minggu sekali daun lontar tersebut dibersihkan.

Setiap daun yang akan ditulisi naskah, diberi garis dengan pensil. Hal ini sebagai garis bantu agar nantinya pada saat penulisan naskah tidak naik turun, sehingga mengurangi kerapian naskah lontar tadi. Setelah penggarisnya,barulah proses penulisan lontar dilakukan. Bisa menggunakan pensil dulu, kemudian di lanjutkan dengan pisau untuk mengukir tulisan yang sudah ditulis tadi. Naskah lontar yang sudah ditulis kemudian disatukan kemudian dijepit dengan takepan.

Untuk menulis satu naskah bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan. " Makan waktu untuk menulisnya, harus sabar" ujar Pak Wayan Muditadnana. Biasanya Pak Wayan menulis lontar saat pagi hingga menjelang siang. Karna untuk menulis naskah lontar ini dibutuhkan juga kesabaran, ketekunan dan ketelitian agar naskah yang dihasilkan bisa bagus.

"Susah untuk menulis di atas daun lontar ini, saya belajar bahasa Kawi, Sansekerta dulu waktu muda. Anak sekarang belum apa-apa sudah katakan sulit. Bagaimana penulisan lontar kalau tidak ada lagi yang mau belajar menulis lontar ?"

Pak Wayan gelisah atas ketidak mauan sebagian generasi muda untuk belajar melestarikan budaya Bali. Terutama penulisan Bahasa Sansekerta, Kawi dan penulisan daun lontar. Memang tidak ada sesuatu yang instan dalam berkesenian, terutama menyangkut seni leluhur. Penulisan daun lontar butuh semangat, kerja keras, ketekunan dan kemauan untuk mencintai budaya leluhur yang harus dilestarikan untuk anak cucu kita kelak.

Pak Wayan, mungkin salah satu potrait seniman, pelestari budaya atau mungkin pembawa kekayaan masa lalu untuk tetap dinikmati di masa sekarang. Dari tangan-tangan orang seperti beliau manuskrip beberapa naskah kuno di konversikan ke dalam daun lontar. Mungkin kelak, suatu hari naskah dan daun lontar ini menjadi kebanggan bagi kita generasi baru untuk tetap menjaga dan mencintai budaya dan kesenian Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi coba ?

Di akhir pertemuan kami, Pak Wayan memainkan gamelan dengan mahir. Sejenak saya menikmati permainan gamelan beliau yang berdurasi hampir 4 Menit. Merdu sekali irama-irama pukulan gamelannya, burung tergantung didalam kandang pun tidak mau kalah. Senandung kicauan burung pacu berpacu mengiringi gamelan Pak Wayan. Pesona Bali dari Desa Tengganan siang itu menyentuh hati. Ini Indonesia, dengan segala pesona dan keelokannya.

Kami pun mengucap salam perpisahan dan berterima kasih atas kebaikan hati Pak Wayan untuk berbagi kisah tentang Daun Lontar.

Setiap lembaran daun lontar diberi garis menggunakan alat yang disebut panyipatan. Tali-tali kecil direntangkan pada dua paku bambu. Lalu dibawahnya ditaruh lempir-lempir lontar. Tali-tali ini lalu diberi tinta dan ditarik. Rentangan tali yang ditarik tadi lalu mental dan mencipratkan tinta ke lempiran lontar sehingga terbentuk garis-garis. Namun sekarang proses pembuatan garis pada lempir-lempir lontar dilakukan dengan pensil.
Daun lontar yang sudah ditulis.
I Wayan Muditadnana, selain menulis lontar dan menguasai beberapa bahasa yakni Sansekerta, Kawi dan Bahasa Bali Kuno. Beliau juga fasih memainkan gamelan.

Ketakutan terbesar I Wayan Muditadnana adalah putusnya mata rantai penulis naskah daun lontar. Generasi muda sekarang sudah jarang yang memiliki keinginan untuk belajar penulisan di atas daun lontar. Selain perkembangan zaman yang semakin maju, banyak generasi muda beranggapan mempelajari penulisan diatas daun lontar sangat sulit untuk dilakukan karena harus menguasai keterampilan bahasa dan tulisan kuno.

6 komentar:

  1. Nice article with amazing Photo, keep sharing masBro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Om Tekno :)
      I'm glad you visited my blog.
      Salam

      Hapus
  2. beh, mantep ni. Di jurusanku juga ada pelajaran tentang ini mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak, lah iya ? Kuliah dijurusan seni pastinya ya.

      Hapus
  3. Keren banget bang, ini kawan lama dari malang.

    BalasHapus