Bunga Rampai Kehidupan dan Kematian : Journey of Life

5/17/2011 01:40:00 AM Yunaidi Joepoet 2 Comments

Grave in the hill, Samosir Island - North Sumatra, Indonesia. yunaidi joepoet/ ranselkosong

        Tempat terindah dan terakhir bagi manusia adalah kuburan. Di kuburan semuanya berakir, kehidupan setelah menikmati lembaran-lembaran kehidupan. Mulai dari pertemuan antara tetesan-tetesan sperma dari bapak yang membuahi sel telur ibu, di lanjutkan dengan pembentukan janin, hingga usia kandungan yang sudah mencukupi, lahirnya seorang bayi melalui fase-fase menelungkup, duduk, merangkak, berdiri hingga berjalan. Setelah bisa berjalan maka kehidupan mulai memasuki fase-fase bayi kemudian semakin besar menjadi balita, dari balita mendapatkan cap sebagai anak-anak. Tumbuh berkembang menjadi seorang remaja yang masih mencari jati hidup. Melewati proses-proses menuju kedewasaan. Dan tak terasa tibalah masa uzur menunggu tahun-tahun sebelum menuju tempat terakhir di dunia yakni kuburan. Namun fase hidup itu tidak bisa seutuhnya diprediksi. Sudah menjadi rahasia tuhan untuk memutuskan kapan hidup kita berakhir. Ada yang masih dalam kandungan sudah meninggal, ataupun masih menikmati masa-masa remaja bahkan ada yang sudah berumur ratusan tahun berulah datang ajal menjemput. Entahlah, tidak ada yang tahu kapan saat terakhir kita menghirup partikel-partikel O2. 

         Kematian kadang-kadang diratapi sebagai duka mendalam bagi keluarga yang ditingalkan. Bayangkan saja, misalnya orang yang sudah hidup begitu lama dengan kita. Hadir disetiap detik detik, dikala senang dan bahagia. Tiba-tiba terbujur kaku tidak berdaya, berbaring tanpa detak jantung tanpa gemuruh nadi-nadi, kaku dengan mata tertutup dan tangan terlipat dipadu dengan pembungkus kain putih atau batik sederhana. Saat itu kita membayangkan masa-masa indah yang dilalui bersama dengan orang yang telah berakhir masa ujian hidup di dunianya. Teringat setiap moment berharga yang dilewati bersama. Mungkin itulah yang menjadi muasal, tangisan dan linangan air mata jatuh saat melihat mayat yang sudah membujur kaku. Saya masih teringat dengan seorang teman saya yang meninggal dalam tabrakan maut beberapa tahun yang lalu. Kami sesama almamater di salah satu sekolah menengah atas. Beberapa bulan lagi kami menghadapi ujian kelulusan. Tapi siapa yang tahu, sore hari kemarin almarhum masih berolahraga dengan kami. Malamnya kami kaget, almarhum koma akibat tabrakan maut. Melewati semalam koma di ruang ICU besok harinya kami semua mendapat kabar bahwa almarhum sudah mendahului kami. Melewati masa-masa kehidupan di alam lain, entah seperti apa alam tersebut. Pacar almarhum histeris, bagaimana tidak. Benih-benih cinta yang dipupuk dari hal-hal kecil, melekat di hati melewati masa-masa indah bersama. Saling berbagi dalam hal suka maupun duka, menjadikan sang pria sebagai pangeran perkasa layaknya dalam epos ramayana. Namun kini sang pangeran sudah terbujur tak berdaya melangkahi kehidupan di dunia baru.

           Kematian memang dianggap sebagai perpisahan, perpisahan dari dunia fana ini menempuh dunia yang tidak diketahui seperti apa. Dulu waktu kecil, saya hidup desa pinggiran di Pariaman - sebuah kota di bibir barat pulau Sumatra -. Sepulang sekolah hampir sebagian uang jajan saya disisihkan untuk membeli komik bergampar hitam putih dengan kertas lusuh hasil daur ulang. Komik yang saya beli kebanyakan tentang cerita petruk, gareng dan semar. Tapi ada satu komik yang begitu membekas tentang dunia setelah kehidupan. Judulnya berat untuk anak ingusan seperti saya " Hari Penghabisan Dunia Fana ". Saya beli seharga Rp 500. Cukup mahal untuk zaman sebelum reformasi. Komik tersebut bercerita tentang tanda-tanda hari akhir, berbagai macam scene gambar. Di halaman-halam terakhir, gambarnya seperti lukisan-lukisan alam mimpi. Sungai-sungai mengalir indah, tanaman yang tumbuh mekar, matahari yang bersinar, gadis-gadis berpakaian seksi dan gunung tinggi menjulang. Seperti itukah dunia setelah kehidupan di bumi ini ? Saya tidak tahu pasti, wallahualam

            Kematian sebenarnya bisa dijadikan juga momentum untuk instropeksi diri atas perbuatan-perbuatan yang sudah dilakukan selama kaki menginjak bumi. Apa banyak positif atau kebanyakan negatifnya ? hanya diri kita sendiri yang tahu. Kematian selalu berhubungan dengan ruang gelap sempit berukuran 1x2 meter. Menjorok kelapisan perut bumi sedalam hampir 2 meter. Ini akan menjadi tempat peristirahatan manusia yang terakhir. Namun tidak semuanya juga yang berakhir di liang sempit tenggelam dalam lapisan bumi. Di Trunyan, Kintamani - Bali. Mayat-mayat hanya diletakkan diatas perut bumi ditutupi dengan bilah-bilah batang bambu. Di Samosir, Sumatra Utara kuburan-kuburan bisa ditemui disetiap sepuluh meter dengan macam ragam bentuk. Atau jauh di benua hitam Negeri Firaun, mayat-mayat diawetkan dan bertahan hingga ribuan tahun yang lalu. Semua tergantung pemikiran masyarakat masing-masing. Banyak cara mengenang orang-orang yang telah hilang dari kehudupan.
      
        Tradisi dan cara mengenang orang yang sudah mendahului pun berbagai macam rupa. Di beberapa tempat di Indonesia, sebelum puasa biasanya keluarga melakukan ziarah kubur mengunjungi makam-makam. Membawa bunga rampai yang dibuat dari berbagai macam rupa bunga dengan air di kendi yang nantinya digunakan untuk menyiram makam, membakar kemenyan di kuburan seraya memanjatkan doa-doa dan masih banyak lagi hal-hal lain yang dilakukan untuk mengenang para pendahulu.

        Terlebih dari apapun itu, jika disadari lagi memang perjalan sesungguhnya adalah perjalan hidup. Mencari setiap butir untaian-untaian makna. Menjalani hidup suatu pilihan menjalani konsekuensi menghadapi sebuah dunia yang bagi sebagian orang dianggap hanya sementara dan bagi sebagian orang lainnya dianggap sebuah dunia nyata. Melihat hidup dan tujuannya bisa menjadi perkara yang berbeda-beda jika dilihat dari berbagai macam kacamata. Namun menurut saya, hal terpenting yang dilakukan dalam perjalan menjelajah dunia fana ini adalah menempatkan posisi kita seberapa bergunakah kehidupan dan kehadiran kita di dunia untuk kehidupan orang lain. Kebahagian hidup yang utama adalah saat kita berbagi kebahagian dengan orang lain. Semua orang pun tahu itu.
A seller Bunga Rampai arrange merchandise while waiting for buyers who come on pilgrimage in the Senapelan Tombs, Pekanbaru, Indonesia. Bunga Rampai will be mixed with water to the grave pilgrimage before Ramadhan.

2 komentar:

  1. hidup itu penuh dengan kenangan baik dalam suka maupun dalam duka. tetapi saat kita berpulang kepada-Nya, yang paling merasakan kehilangan adalah orang yang begitu dekat dengan kita serta selalu bersama dengan kita menjalani hari-harinya. setiap kehidupan selalu diakhiri dengan kematian, jadi jangan ditangisi kematian itu karena itu merupakan siklus kehidupan yang akan selalu dilalui oleh setiap manusia. Salam kenal, gan.

    BalasHapus
  2. Kematian adalah pintu menuju kehidupan yang kekal dan abadi ---> Akhirat
    Salam Bertuah ! :)

    BalasHapus