Every Childs is Artist : Yang Kecil yang Berbahagia

1/16/2011 04:58:00 PM Yunaidi Joepoet 3 Comments



"Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up." (Pablo Picasso)

     Sebuah quote dari pablo Picasso tersebut mungkin ada benarnya juga. Bagi saya anak-anak adalah seniman nyata. Seniman alami dengan pancaran-pancaran bakat alami-nya. Kemampuan alam yang nyata dari dunia anak-anak. Jujur dan tanpa paksaaan.
 
   Dunia anak-anak adalah dunia tanpa beban, dunia yang dijalankan dengan lapang dan mengalir begitu saja. Saya jadi ingat saat anak-anak dulu, saya tumbuh di desa kecil di Ranah Minang. Saya tumbuh dengan kakek dan nenek di dalam lingkungan adat Minangkabau. Subuh sekali saya bangun untuk membantu membereskan warung nenek untuk berjualan lontong dan bubur kacang hijau. kebetulan rumah kakek dan nenek saya di depan salah satu sekolah menengah. Dari kelas 2 SD hingga kelas 6 SD sayalah yang bertugas untuk membereskan kedai kecil nenek. Rutinitas ini sungguh menyenangkan, setelah saya membereskan warung nenek saya bergegas untuk mandi ke Batang Aia (Sungai) yang berjarak sekitar 2 KM dari rumah nenek. Ke sekolah pun saya bergegas dengan berjalan kaki. 

    Banyak kegiatan yang saya lakukan, sepulang sekolah biasanya saya dan teman-teman saya waktu kecil pergi mencari kelapa yang jatuh dari batang-nya. Kelapa ini kami jual ke toke di desa untuk menambah uang jajan harian. Dunia bermain saya waktu kecil tidak lepas dari kegiatan di alam. Karena hidup didesa kami tidak terlalu mengenal teknologi. Saya hanya tau televisi dan mainan yang kami sebut gembot (Gamewatch) yang kami beli di pasar yang berlansung setiap hari senin.

    Meski kecil saya tumbuh di desa, tapi saya baru sadar. Tidak ada yang bisa mengalahkan bahagianya hidup masa kecil dan tumbuh menjadi remaja di desa. Saya banyak belajar dari sebuah kesederhanaan masyarakat desa. Kakek saya banyak mengajarkan saya norma sopan santun, ilmu agama dan pelajaran hidup yang tidak saya terima di sekolah formal. Saya ingat sekali, nenek saya berdiri dipintu rumah membawa ikat pinggang agar saya pergi ke surau (mushalla) untuk menuntut ilmu agama. Jika saya bohong, almarhum kakek saya sudah siap sedia dengan kumpulan lidinya menghujam kaki-kaki saya yang semakin hari semakin hitam saja akibat berpanas-panasan. Mungkin bagi anak-anak sekarang yang tumbuh dalam lingkungan yang semakin maju, hal itu sangat menyakitkan. Namun bagi saya itu salah satu masa terindah dalam masa kecil saya. Tumbuh dengan sebuah rasa tanggung jawab namun tetap diberikan kelapangan dan kebebasan untuk menikmati masa kecil sebagaimana mestinya.

   Terlepas dari itu semua, 3 foto dibawah ini saya ambil beberapa waktu lalu disebuah kolong jembatan yang membelah Sungai Siak di Kota Pekanbaru. Foto ini salah satu koleksi foto anak-anak yang saya sukai. Secara pribadi, awalnya saya hanya melihat beton yang dijadikan pondasi jembatan yang terkenal dengan sebutan jembatan Leighton ini hanyalah sebuah pondasi dasar untuk jembatan yang menampung puluhan ribu kendaraan yang lalu lalang setiap harinya. Tapi dimata para bocah kecil ini, pondasi jembatan ini dijadikan sebagai sarana menikmati dunia masa kecil yang begitu indah. Mungkin jauh dibawah standar jika dibandingkan dengan taman bermain dunia fantasi yang megah berdiri di ibukota sana. Mungkin juga jauh dari kemajuan teknologi yang dinikmati anak-anak berduit. Tapi untuk kebahagian dan kebebasan menikmati masa-masa kecil dengan taman-taman alami yang ada disekitar ini menjadi sebuah tempat yang sangat istimewa. Raut-raut wajah mereka begitu bahagia meluncuri beton yang memiliki sudut miring sekitar 45",  bagaikan sedang duduk di atas roller coaster yang melaju diwahan permainan anak-anak berduit. Mereka berteriak riang meskipun ini bukanlah wahana yang ada di taman bermain sesungguhnya.

   Setidaknya, ada pelajaran yang berharga yang saya dapat dari cerita singkat saya menikmati permainan bocal kecil dibawah kolong jembatan ini. Pandanglah sesuatu tersebut dari sisi baiknya, dunia itu terlalu indah jika hanya dipandang dari sisi buruknya. Anak-anak itu punya pola pikir yang jauh lebih positif dibandingkan kita para manusia yang semakin hari semakin dimakan umur.




3 komentar:

  1. kalau sudah sedewasa ini, rasanya masa-masa "menyebalkan" waktu kecil mau diulang lagi, dan jadi bahan senyum-senyum yang indah...

    Kalau dulu saya pikir saya anak tiri ibu saya, dipukul lidi karena pulang terlalu sore, kini saya jadi tertawa. Ibu saya pun terbahak-bahak mengingatnya....

    hehehehe

    BalasHapus
  2. ya memang seperti itu, apalagi anak cewek. Maunya pengen kabur, atau ngangap dirinya anak angkat lah apalah itulah. :)

    tapi sepertinya masa-masa seperti dulu. Zaman sekarang sulit diimplikasikan. Anak-anak sekarang lebih senang bermain dengan perkembangan teknologi zaman yang makin mumpuni :)
    hehe

    BalasHapus
  3. Masa kanak-kanak yg terlalu indah utk dilupakan....meskipun masa kecil saya yg hidup serba kekurangan ( era 80-an ), tapi... kalau bisa ingin rasanya kembali ke masa itu. he..he..he.

    Salam ransel.

    BalasHapus