The Famous Kecak Dance in Bali

Tarian kecak tidak diiringi oleh alat musik, tetapi tarian ini diiringi suara sekitar 50 orang pria. Ia berasal dari jenis tari sakral "Sang Hyan". Pada tari Syang Hyang orang yang kemasukan roh halus bisa berkomunikasi dengan dewa atau leluhur.Di Uluwatu tarian ini diadakan setiap sore.

Sekitar 50 orang pria melakukan ritual sebelum tari kecak dimainkan di Uluwatu. Dalam perkembanganya tari kecak dikombinasikan dengan epos Ramayana.
Uluwatu yang terletak di desa Pecatu, ujung barat daya pulau Bali, memiliki objek wisata yang amat sangat terkenal. Pura yang terletak di tebing Uluwatu merupakan salah satu pura besar (pura Sad Kahyangan) terpenting di Bali. Ombak di laut Pecatu pun sangat indah dan sering menjadi tempat diselenggarakannya event surfing internasional. Tapi selain itu semua, Uluwatu juga dikenal dengan tarian kecak dan apinya yang dipentaskan satu kali sehari pada saat menjelang matahari tenggelam.
Alasan nomor tiga itulah yang bagi sebagian orang menjadi alasan utama mengunjungi Uluwatu. Kunjungan ke pura pun pada akhirnya disesuaikan dengan waktu pertunjukan tari kecaknya.

Tari kecak merupakan tarian tradisional Bali yang dalam pementasannya tidak menggunakan instrumen musik sama sekali. Hanya repetitif suara yang dihasilkan dari mulut para penari yang mengiringi sepanjang pementasan. Tari kecak yang dipentaskan di Uluwatu pun telah dibuat lebih menarik dengan memasukkan unsur cerita Ramayana. Bagaikan opera tradisional khas Bali dengan latar belakang alam yang sangat indah, membawa alunan cerita itu kian dramatis.

Demi mendapatkan posisi tempat duduk yang strategis, para penonton pun rela datang lebih cepat. Dengan tiket masuk yang dijual seharga Rp 75.000,- per orang, penonton bebas memilih di mana ia akan duduk. Jika cuaca cerah, sunset indah pun akan terbentuk sempurna mengiringi kekhitmatan tarian tersebut. Tapi hari itu, Sabtu, 16 Oktober 2010, kami belum beruntung. Cuaca pada saat itu mendung. Awan hitam menyelimuti langit dan menutup sinar matahari. Meski demikian, keagungan tarian kecak tetap terasa dan pertunjukan api yang memang bagian dalam kisah Ramayana, mampu menimbulkan decak kagum di hati penontonnya.

Tari kecak benar-benar memiliki daya tarik tersendiri.
Tersebut dalam kisah Ramayana yang dibawakan, Sitta istri Rama diculik oleh Rahwana. Dan Rama pun dibantu Hanoman, berusaha melepaskan Sitta dari cengkraman Rahwana. Namun dalam usahanya menolong Sitta, Hanoman tertangkap dan hendak dibakar. Karena kesaktian Hanoman, maka ia dapat memadamkan api dan lolos dari usaha pembunuhan tersebut. Di situ lah letak pertunjukan apinya.
Pertunjukan yang berlangsung kurang lebih 1,5 jam itu, diselingi humor dan interaksi antara para pemain dengan penonton yang hadir untuk meramaikan suasana. Gelak tawa dan tepukan penonton pun membanjiri pementasan. Dan di akhir pementasan itu, kami semua diberi kesempatan untuk berfoto bersama para pemain.

Hanoman (Kera Putih) dalam tarian kecak epos Ramayana tertangkap dan dibakar.
 Sungguh sebuah pertunjukan yang tak terlupakan. Keindahan tarian tradisional Bali dibawakan dengan elok oleh sang penari, dengan latar belakang keindahan alam, membawa kenangan tersendiri di hati para penonton yang datang. Usaha untuk menampilkan suguhan yang memuaskan menjadi alasan berkembangnya pariwisata di Uluwatu pada khususnya.



perjalanan tim bali ( dwi wisuda saptarini & yunaidi joepoet ) ini di didukung penuh oleh :