Pelet Gadis Bali

10/25/2010 07:13:00 AM Yunaidi Joepoet 0 Comments


tarian kecak yang di tampilkan di Uluwatu - Bali
Awalnya saya tidak begitu percaya tentang kedipan-kedipan dalam tarian yang dilakukan oleh gadis Bali yang konon bisa meluluhkan hati pria. Saya anggap itu sebagai guyonan saja. "Mana mungkin satu kedipan bisa meluluhkan hati saya" saya berujar kepada Mas Adi yang menjadi driver untuk tim Bali. Bantahan saya ditanggapi dingin oleh Mas Adi.

Memang saya tidak terlalu tertarik melihat wanita. Bukan berarti saya "homo", saya lelaki tulen dan saya berani untuk membuktikanya. Saya tidak terlalu tertarik wanita karena berbagai pertimbangan. Bahkan sebelum saya berangkat ke Bali pun saya sudah diwanti-wanti oleh ibu saya. "Tahan nafas kalau liat yang terbuka-buka, kalau perlu kamu beli kacamata hitam. Nanti kalau sudah nikah kamu bisa dapat lebih dari itu dan kenikmatan yang tiada tara" celoteh ibu saya. Nah pertimbangan itulah yang saya anut selama di Bali pada perencanaan sebelum berangkat agar saya tidak terjebak dalam hal-hal yang bisa membuat lutut saya gemetaran.

Namun dalam perjalanan, semua paham yang saya anut pudar ditengah arus. Gadis Bali memusnahkan paham yang saya. Saya tertarik dengan wanita (bedakan tertarik dengn nafsuan) ! . Bukan wanita ditepi pantai yang menjajal "sumur-sumur" mereka. Tapi ini wanita ayu penari kecak di Uluwatu. Tahu begini saya tidak mau ikut melihat tari kecak di Uluwatu.

Melihat tarian kecak bukan kali pertama bagi saya. Sebelumnya saya melihat kecak di Ubud. Biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Berbeda di Uluwatu, tempat pertunjukan tarian kecaknya berada tepat ditebing laut dengan latar belakang sunset yang menawan. Ini sangat istimewa menurut saya. Pemain-pemain kecak disini sangat total, terutama yang menjadi tokoh utama pemeran Rama, Sita, Rahwana, Hanoman dan beberapa pemeran lainya.

Pertunjukan kecak di Uluwatu ditonton ratusan orang dan saya berada diantara mereka. Saya duduk menyaksikan adegan demi adegan berlalu. Semakin gelap adegan yang terjadi semakin seru. Lenggak-lenggok penari kecak membuat mata saya tidak berkedip. Saya ikuti dengan penuh penghayatan hingga kedipan wanita penari kecak itu menggetarkan telinga saya. Oh Tuhan saya terkena pelet.

"Lu ngak apa Yud ?" ujar pasangan saya Mbak Rini.
"Aman mbak, tapi habis ini kita ke belakang panggung ya" ucap saya.

Mbak Rini pun mengiyakan ajakan saya. Asik saya bisa menemui wanita penari kecak tersebut setelah kecak selesai, guman saya dalam hati. Saya pun kembali fokus menikmati tarian kecak yang semakin bergairah.Tidak berapa lama, tarian kecak pun selesai dan kamipun menuju para pemain kecak sekedar bertanya-tanya tentang tarian kecak.  Ini kesempatan untuk mendapatkan alamat email penari kecak tersebut. Sayapun menyusup dari balik kerumunan penonton yang masih berdiri disekitar arena tari kecak untuk menemui penari kecak yang telah memelet saya.

Sulit juga menembus barikade penonton yang berfoto dengan para pemain-pemain kecak. Namun saya dengan semangat dan tekat yang bulat akhirnya bisa juga menghampiri penari kecak tersebut. "Mita....kamu?" ujarnya manja. "Yudi...." saya menjawab tidak kalah gagahnya dengan Rama sang pangeran dalam epos ramayana. Meskipun menjawab dengan gagah,namun penyakit utama saya kalau bertemu wanita adalah kaku. Dan untuk penyakit satu ini saya bingung bagaimana cara penyembuhanya. Saya hanya bisa mengucapkan kalimat " Boleh foto bareng ?". Sial saya kena pelet wanita Bali ini hanya untuk berfoto bersamanya.

bersama penari kecak, Mita
Usai berfoto saya langsung buru-buru meninggalkan arena tari kecak tersebut. Saya lupa menanyakan emailnya. Tapi syukurlah peletnya hanya mempan untuk membuat saya tertarik berfoto dengan dia. Kalau kekuatan peletnya lebih dari itu, saya mungkin sudah jadi orang Bali.






perjalanan ini di didukung penuh oleh :

0 komentar: