History of Medan and Al - Ma'shun Mosque : Menilik masa lalu Kota Medan dari balik jendela Mesjid Al- Ma'shun

8/24/2010 08:56:00 PM Yunaidi Joepoet 9 Comments

Siluet seorang jemaah yang sedang khusuk terlihat dari balik jendela, lantunan ayat suci mengalir dari gerakan bibirnya yang penuh dengan penyerahan diri. Tampak juga beberapa jemaah lainya sedang memanjatkan doa kepada Allah SWT. Di balik batas yang diberikan antara jemaah laki-laki dan perempuan beberapa wanita terlihat suci sekali dibalik Mukena Putih yang menutup aurat mereka. Semuanya penuh dengan kekhusyuk’an dan penyerahan diri saat saya memasuki kaki ke rumah Allah Mesjid Al- Ma’shun Medan – Sumatera Utara.


refleksi mesjid al-ma'shun diambil dari kolam yang berada disekitar mesjid. Mesjid Al- Ma'shun beridir megah di tengah kota Medan yang menjadi saksi sejarah kedigjayaan Sultan Deli.



         Siang itu udara Kota Medan tidak terlalu panas dan tidak terlalu mendung, wajar-wajar jika ingin menikmati suasana Kota Medan. Setelah hampir seminggu saya berkeliling Sumatera Utara dan hari ke-7 saya pilih untuk menikmati kota yang terkenal dengan Bika Ambon yang tersohor jauh ke pelosok negeri.  Kota Medan berdasarkan data yang dimiliki merupakan kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Bangunan tinggi menjulang seakan-akan ingin mencokol langit. Disana-sini modernisasi terlihat jelas, pusat perbelanjaan tumbuh pesat dikota ini begitu pun geliat bisnis dan perdagangan. Memang kota ini bukanah kota yang baru lahir kemarin sore. Lama sudah perjalanan yang ditempuh kota ini menuju sebuah kota metropolitan yang makmur secara ekonomi.

Sejarah mencatat kota medan pada mulanya adalah sebuah kampung bernama Kampung Medan Putri yang didirikan Guru Patimpus sekitar tahun 1590-an. Guru Patimpus adalah seorang putra Karo bermarga Sembiring Pelawi dan beristrikan seorang putri Datuk Pulo Brayan. Dalam bahasa Karo, kata "Guru" berarti "Tabib" ataupun "Orang Pintar", kemudian kata "Pa" merupakan sebutan untuk seorang Bapak berdasarkan sifat atau keadaan seseorang, sedangkan kata "Timpus" berarti bundelan, bungkus atau balut.

Dengan demikian, maka nama Guru Patimpus bermakna sebagai seorang Tabib yang memiliki kebiasaan membungkus sesuatu dalam kain yang diselempangkan di badan untuk membawa barang bawaannya. Hal ini dapat diperhatikan pada Monumen Guru Patimpus yang didirikan di sekitar Balai Kota Medan. Disebabkan letaknya yang berada di Tanah Deli, Kampung Medan juga sering dikenal sebagai Medan Deli. Lokasi asli Kampung Medan adalah sebuah tempat di mana Sungai Deli bertemu dengan Sungai Babura. Terdapat berbagai kerancuan dari berbagai sumber literatur mengenai asal-usul kata "Medan" itu sendiri.

Dari catatan penulis-penulis Portugis yang berasal dari awal abad ke-16, disebutkan Kota Medan berasal dari nama "Medina", sedangkan sumber lainnya menyatakan Medan berasal dari bahasa India "Meiden". Yang lebih kacau lagi ada sebagian masyarakat menyatakan Medan merupakan tempat atau area bertemunya berbagai suku sehingga disebut sebagai medan pertemuan. Adapula yang mengatakan ketika para saudagar Arab yang kebetulan melihat tanah Medan sekarang, mengatakan Median yang berarti datar atau rata dan memang pada kenyataannya Medan memiliki kontur tanah yang rata mulai dari pantai Belawan hingga daerah Pancur Batu.

Dalam salah satu Kamus Karo-Indonesia yang ditulis Darwin Prinst SH: 2002, Kata "Medan" berarti "menjadi sehat" ataupun "lebih baik". Hal ini memang berdasarkan pada kenyataan Guru Patimpus benar adanya adalah seorang tabib yang dalam hal ini memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional Karo pada masanya. Medan pertama kali ditempati suku Karo. Hanya setelah penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda, mengirimkan panglimanya, Gocah Pahlawan Bergelar Laksamana Khoja Bintan untuk menjadi wakil Kerajaan Aceh di Tanah Deli, barulah Kerajaan Deli mulai berkembang. Perkembangan ini ikut mendorong pertumbuhan dari segi penduduk maupun kebudayaan Medan. Di masa pemerintahan Sultan Deli kedua, Tuanku Panglima Parunggit (1669-1698), terjadi perang kavaleri dan sejak itu Medan menjadi pembayar upeti kepada Sultan Deli.

Dari sejarah dan sering dengan perjalanan waktu itu pulalah Medan sekarang menjadi sebuah kota yang sangat berkembang dan menjadi salah satu pusat bisnis dan perekonomian di Pulau Sumatra.

mesjid al-ma'shun dengan frame gerbang masuk ke mesjid ini. mesjid ini terlihat megah dengan arsitektur corak perpaduan arab, iran dan mesir. luangkanlah waktu untuk mengunjungi keindahan kota medan dan sejarah sultan deli nya yang tersohor

Salah satu daya tarik Medan adalah bangunan-bangunan bersejarahnya. Salah satunya adalah bangunan religi peninggalan Kesultanan Deli, yakni Mesjid Raya Al-Mahsun. Kesultanan Deli sendiri mulai mencapai kejayaannnya pada tahun 1861, setelah resmi merdeka dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Siak Sri Indrapura –meski masih dalam bayang-bayang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Mesjid ini mulai dibangun pada 21 Agustus 1906. Namun baru rampung dan sekaligus dibuka pada 10 September 1909. Penguasa di Kesultanan Deli saat itu adalah Sultan Maimun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX. Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Bagi orang Medan dan sekitarnya, selain Mesjid Al-Mahsun, mesjid ini juga dikenal sebagai Mesjid Deli.

Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. Nah, di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.


lorong-lorong mesjid al-ma'shun dengan ukiran khasnya menambah keagungan suasana di mesjid peninggalan sultan deli. siang hari selepas zuhur lorong-lorong di mesjid ini dimanfaatkan oleh warga untuk melepas penat

Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan disain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh. Di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab-nya cukup indah, terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing.


kubah bagian dalam mesjid al-ma'shun begitu mempesona

Gerbang mesjid ini bergaya India, dengan bentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab. JA Tingdeman, seoarang arsitek berkebangsaan Belanda-lah yang membuat rancang-bangun mesjid ini. Biaya pembangunan masjid, yang diperkirakan mencapai satu juta gulden ditanggung sendiri oleh Sultan. Namun konon, Tjong A Fie, salah satu tokoh paling berpengaruh di Medan, yang juga terkenal dengan kekayaan, kedermawanan dan akulturasinya juga punya kontribusi mendukung pembangunan mesjid ini.

Tidaklah salah Mesjid ini membawa kembali kenangan masa silam kerelung-relung ingatan kita. Masih banyak lagi bangunan-bangunan yang bersejarah tegap berdiri menceritakan kokohnya Kota Medan di waktu silam hingga sekarang. Maka tidaklah salah, Medan bias dijadikan sebagai Kota Wisata yang tidak hanya berwisata dari segi menikmati pusat perbelanjaan tetapi juga bisa menggali khasanah budaya masa lalu yang semakin lekang dan pudar ditengah perkembangan Kota ini. Itulah yang saya dapatkan dari perjalanan singkat ke Kota ini.

Berharap suatu saat saya bisa kembali menikmati kota ini dengan sepeda motor dari Pekanbaru – Medan. Menikmati sisa-sisa kejayaan Sultan Deli ditengah Panorama alam sekeliling Medan yang tiada dua, dengan limpahan air Danau Toba yang mengelilingi Samosir yang terdiam elok. Medan sacara Khusus dan Sumatera Utara secara umum merupakan bukti bahwa alam dan kekayaan sejarah kita tiada duanya. Tinggal lah sekarang bagaimana saya dan anda atau lebih bersatunya saya sebut saja KITA sebagai BANGSA INDONESIA mencintai dan menghargai semua ini dengan sepenuh hati kita sebagai warga yang mencintai bangsa ini.
referensi bahan penulisan : www.waspada.co.id

9 komentar:

  1. aku suka bg

    BalasHapus
  2. berkunjung lagi untuk lihat foto...yang bagus-bagus.....berkunjung keblogku ya...coz lagi belajr motret nich...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung dan commentnya :)

      Hapus
  3. :matabelo:

    kubah sama lorongnya asik banget di liat bang :D

    :thumbup

    BalasHapus
  4. datang mengunjungi saudara perguruan di dunia persilatan.... hehehehe

    BalasHapus
  5. peng apresiasian sebuah foto pada blog, MANTAP suhu juned ! :D
    salut saya :)

    BalasHapus
  6. medan menjadi alah satu ikon dari sumaera utara apalagi masjid rayanya

    BalasHapus