Galangan Kapal Tradisional di Bagansiapiapi : Indonesia Traditional Shipyard

7/27/2010 09:08:00 PM Yunaidi Joepoet 7 Comments

Jika Kalimantan mempunyai Singkawang dengan nuansa Kota Pecinaan yang kental, Sumatera memiliki Bagansiapi api yang memiliki nuansa perkotaan yang membuat setiap pengunjung yang datang ke kota ini serasa berada didaratan China. Dengan bangunan tua peninggalan para tetua yang menemukan kota bagan, gemercit bunyi burung walet serta masyarakat keturunan Tionghoa yang berlalu lalang menambah suasana bahwa kita memang sedang berada didataran China. Ya, Bagansiapai api begitulah orang kebanyakan menyebut kota yang terletak di Timur Pulau Sumatera ini, kota tua nan indah ini terletak di pinggiran Selat Malaka yang memisahkan dataran Indonesia dengan dataran besar Asia. Untuk menempuh kota ini kita bisa menempuh perjalanan darat dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam dari Ibukota Provinsi Riau yakni Pekanbaru. Untuk transportasi menuju kotanya sendiri tersedia mulai dari Travel, Bus serta Mobil Sewaan.

refleksi kantor bupati bagan siapiapi dan bangunan yang ada di kota Bagansiapiapi

Kota Bagansiapi api, konon dahulunya ditemukan pertama kali pada abad ke-18 oleh Marga Ang yang merantau meninggalkan Pulau Hokkian (Fujian) menuju Sumatera dengan harapan agar bisa menemukan kehidupan baru yang lebih mapan. Namun didalam perjalanan menuju Sumatera (dikenal juga dengan Pulau Andalas) kapal mereka mendapat musibah ditengah laut dihantam gelombang besar serta badai, saat itulah penumpang kapal yang berjumlah 18 orang berdoa kepada dewa yang ada dikapal untuk diberi keselamatan. Selang beberapa saat terlihatlah lentera dari kejauhan didaratan. Ke-18 orang Marga Ang tersebut pun mendekat menuju daratan. Dan atas sejarah inilah Kota yang dikenal dengan Bagansiapi api sekarang bermula.

Melihat perkembangan Kota Bagansipai api, hal yang tidak boleh dilupakan adalah kelenteng Ing Hok King, kelenteng yang dibangun pada tahun 1879 ini atau sekarang kelenteng ini sudah berusia sekitar 131 tahun merupakan saksi sejarah perkembangan Kota Bagansiapi api dari masa ke masa. Kelenteng yang dibangun oleh etnis Tionghoa ini merupakan salah satu kelenteng yang paling banyak dikunjungi jika hari besar perayaan umat Tiong Hoa tba, seperti saat Perayaan Cap Go Meh, Tahun Baru Imlek ataupun Bakar Tongkang. Kelenteng yang megah ini terletak tidak jauh dari Kantor Bupati Bagansiap api.

Saya mencoba menikmati sebuah kota indah ini meski hanya dalam waktu yang singkat namun sangat berkesan. Ada berbagai hal yang tidak bisa saya lupakan dari kota yang selalu berdendang oleh Kicauan Burung Walet disetiap sudut Ibukota. Setelah prolog singkat diatas saya akan mencoba membagi perjalanan mengunjungi sebuah Galangan Kapal tradisonal yang berada di Kota Bagansiapi api. Kota yang masyur dengan sebutan Kota Pengahasil Ikan.

2 buah kapal yang sedang dalam tahap pengerjaan

“ Ada Gula, tentu ada semut ”. Sebuah peribahasa singkat yang kalau kita artikan bahwa dimana ada gula disana juga ada semut. Gula sebagai makanan semut, tentunya membuat semut berbondong-bondong untuk datang. Mencicipi gula, mengambil sari dula untuk dibawa ke ratunya. Begitulah juga kiranya kita umpamakan Kota Bagansiapi api, ada ikan ada nelayan. Ya, kota Bagansiapi api terkenal dengan Kota Penghasil Ikan terbesar kedua setelah Norewegia nan jauh di Benua lain disana. Maka tidak lah salah Kota dengan brandmark penghasil ikan kedua terbesar di Dunia ini memiliki geliat ekonomi yang tidak jauh dari yang namanya kehidupan Melaut. “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” begitulah salah satu lagu yang sering didendangkan saat zaman kita dulu masih kanak-kanak. Nenek moyang kita orang Indonesia memang terkenal dengan kelihaianya melaut dan menangkap ikan di Perairan Indonesia yang 25% kehidupan ikan di dunia ini ada di Laut Indonesia. Bisa kita bayangkan betapa kayanya alam bahari kita Indonesia.

Bicara melaut, tentu tidak bisa dilepaskan dengan namanya kapal. Kapal adalah transportasi utama yang digunakan para nelayan untuk melakukan tangkapan di perairan lepas. Banyak jenis kapal yang dugunakan nelayan. Ada yang dibuat degan cara modern dan adapula kapal yang masih dibuat menggunakan cara yang masih “kuno”. Salah satu cara pembuatan kapal yang masih “kuno” tersebut saya temukan di tepian Sungai Rokan di pesisir timur Pulau Sumatera, tepatnya di Kota Bagansiapi api ini.

suasana galangan kapal dengan hamparan kayu yang siap digunakan untuk bahan pembuatan kapal

Pagi itu galangan kapal tradisional terlihat sepi. Setelah memarkirkan motor saya didepan galangan kapal saya berjalan memasuki galangan kapal. Karena tidak memungkinkan bagi saya untuk masuk kegalangan kapal menggunakan motor. Persis ditempat motor saya terparkir jalanan tak jauh berbeda dengan pemandian kerbau, sangat sulit untuk dilewati. Galangan kapal nya sendiri terletak di ujung jalan ditepian sungai Rokan yang mengalir elok melewati Kota ini.

ekspresi para pekerja galangan kapal saat menyaksikan tinju saat beristirahat siang

Saya berjalan memasuki areal galangan kapal. Dipintu masuk berdiri sebatang pohon sawit serta seekor anjing yang masih tertidur lelap. Padahal dijam tangan saya sudah menunjukan pukul 8.40 pagi dasar pemalas. Persis setelah memasuki galangan, pemandangan balok kayu yang berserakan akan menjadi pemandangan. Tersungging pula 2 buah bangunan yang terbuat dari kayu. Kedua bangunan tersebut masih non permanen. Didirikan dengan kontruksi kayu dengan dinding dari seng-seng dan papan-papan penuh coretan. Satu bangunan yang terlihat menjulang dijadikan sebagai tempat peternakan walet oleh pemiliknya dan satu lagi dijadikan tempat tinggal para pekerja galangan kapal. Untuk tempat para pekerja, bangunanya dibagi dengan sekat-sekat dan dibuat bertingkat. Lantai bawahnya dijadikan sebagai gudang perkakas, dapur untuk memasak, tempat beristirahat sementara dan lantai kedua dijadikan sebagai tempat tidur kala bulan mulai terlihat jauh di ujung kepala. Bangunan inilah yang menjadi saksi para pekerja membuat sebuah kapal dengan cara tradisonal yang mampu bertahan hingga 40 tahun lamanya. Sebuah umur kapal yang sangat lama menurut saya.

suasana diatas kapal yang sedang dalam tahap pengerjaan

Saya berkenalan dengan beberapa pekerja kapal yang sedang istirahat sambil menyaksikan acara tinju yang digelar disalah satu TV Swasta nasional. Semua pekerja terlihat gagah dengan badan tegapnya sambil berteriak dengan memegang secangkir kopi saat melihat kedua petinju saling menyerang. Ya inilah saat nya mereka melepas penas kerja keras di pembuatan kapal tradisional ini.Saya pun menanyakan tentang tidak adanya aktifitas hari ini kepada para pekerja. Hanya jawaban sederhana yakni kemungkinan faktor acara tradisional Bakar Tongkang lah yang membuat galangan kapal tidak seperti hari biasa. Ya, padi hari itu di Kota Bagansiapi api sedang diadakan sebuah acara tradisional Bakar Tongkang yang sangat menarik untuk dinikmati. Namun kondisi galangan kapal tidak sepenuhnya berhenti bekerja, masih ada beberapa orang yang masi bekerja melakukan pemotongan kayu atau hanya sekedar mengecek lambung kapal apakah sudah dalam keadaan siap untuk diturunkan dari galangan kapal.

seorang pekerja galangan kapal memotong kayu untuk kemudian digunakan pada bagian yang diperlukan pada kapal

Beranjak dari tempat para pekerja yang sedang beristirahat sayapun menuju sebuah kapal yang sedang dalam tahap pengerjaan. Balok kayu-kayu berserakan didasar kapal yang baru siap pengerjaan sampai tahap lambung. Masih banyak lagi komponen dari kapal kayu ini yang harus dikerjakan. Secara umum pembuatan kapal tradisional di Galangan kapal ini dilakukan dengan cara memilah – milah pekerjaan. Ada yang bertugas sebaga perancang, pengukur kayu, pemotong kayu, ada yang bertugas melengkungkan kayu agar sesuai dengan posisinya, ada yang bertugas sebagai pemasang kayu pada tempat yang telah ditentukan, bagian pelicin badan kapal, bagian pengecatan dan bagian finishing semuanya dipilah –pilah. Maka tidak lah salah pekerja bisa mencapai 50 orang untuk membuat satu kapal dengan tenggat waktu pembuatan 8 hingga 12 bulan dengan dana hingga 250 juta. Ya memang mahal, terlebih lagi bahan kayu berjenis Kulin sudah sulit untuk didapat tutur salah seorang pekerja kepada saya.

Saya pun mencoba menaiki kapal yang masih belum siap, tinggi besar dengan lambung ternganga. “ Ini masih dikerjakan hingga 4 bulan lagi mas” tutur salah seorang pekerja yang bertugas sebagai pelicin lambung kapal agar kapal tidak bocor. Saya pun mengambil beberapa gambar tentang pembuatan kapal tradisional ini. Ada beberapa foto juga yang saya ambil tentang para pekerja yang melakukan pemotongan kayu.


Mata hari semakin tinggi menuju ubun-ubun. Panas semakin terasa digalangan kapal ini, saya pun segera beranjak meninggalkan galangan kapal tradisional ini setelah berpamitan dengan para pekerja kapal. Akhirnya saya sampai juga digalangan kapal tradisonal yang sudah berumur ratusan tahun ini.

7 komentar:

  1. wau...enaknya jalan-jaln terus..yang aku kagum hasil fotonya...keren banget...ak jg lg belajar fotografi yg bagus tp susah...coz kameranya cm digital yg kecil...salut deh...sumatera memang indah...

    BalasHapus
  2. Sungguh terpaku aku menelusuri setiap alur ceritamu yg seakan-akan membuatku merasa di Bagan juga mas Joepoet apalagi disertai dengan karya jepretmu yang sangat menarik & terlihat begitu profesional..luar biasa !

    Mike Ciang

    BalasHapus
  3. whahahahaaa!!!
    saya orang batak,tapi ga pernah kesini,
    jadi malu...
    salam kenal!
    nice shot!

    BalasHapus
  4. @ Aisah
    terima kasih :)
    hehe saya dulu belajar dari Pocket juga Mbak.
    ayo kunjungi Sumatera :)

    @ Bang Mike Ciang
    wah terima kasih sudah mampir di Blog ini Bang, semoga suatu saat bisa mengunjungi bagan siapi-api lagi.
    Masih banyak tempat yang menawan disana yang belum sempat saya ambil fotonya :)

    @ Ian D. Sitompul
    hehe
    ayo kesini :)
    Nanti saya guide in ... hehe

    BalasHapus
  5. seakan diri ini hadir dalam nuansa perjalanan mas yunaidi j ke bagan siapiapi,... fantastis!
    gambar dan alur yang bagus
    trs berkarya, sukses sll

    BalasHapus
  6. Waahgh,... mana nih foto acara Bakar Tongkangnya? Itu yang paling seru.
    Nice post, nice picture!

    Salam kenal mas.
    Senangnya ada orang yang menulis elok tentang provinsi saya. Thank you.

    BalasHapus
  7. Wah mantab blognya Bang. Tapi mana profilenya.

    BalasHapus