Enjoy Bromo Tengger (Roof of the Gods)

4/24/2010 03:45:00 AM Yunaidi Joepoet 1 Comments


Damai meresapi hingga relung paling dalam ketika gerak langkahku menginjak tanah penduduk tengger. Pegunungan Bromo dengan pesona Sunrise, padang pasir luas, keelokan penduduk, dinginya suhu udara dan banyak lagi hal-hal mengesankan. Ya, sebuah destinasi yang telah umum dikunjungi oleh jutaan wisatawan dari berbagai belahan bumi. Tak terhitung lagi data pasti berapa banyak yang telah menginjakkan kakinya ditanah elok Jawa Timur ini. Mungkin aku adalah orang yang kesekian juta sebagai penikmat pesona alam Indonesia yang begitu cantik ini.



Perjalanan ku ke Bromo adalah lanjutan petualanganku di tanah jawa selama 18 hari. Bromo menjadi destinasiku setelah mengunjungi pesona kawah belerang di Bondowoso yaitu kawah ijen. Pada perjalanan ke kawah ijen aku ditemani oleh orang-orang hebat Ayos Purwoaji, Aunurrahman Wibisono dan seorang perempuan Irma Afifatul Aini. Setelah mengunjungi Kawah Ijen aku tinggal beberapa hari di Jember. Kota yang begitu indah menurutku dengan makanan yang sangat enak meski lidahku adalah lidah orang Minang tulen.
Tanggal 21 Februari 2010 aku harus meninggalkan Kota Jember untuk beranjak menuju probolinggo. Pagi itu udara di arjasa sungguh sangat dingin menusuk sendi-sendi rusukku. Niat untuk menarik selimut kuurungkan mengingat kereta ekonomi dari jember – probolinggo berangkat pukul 8 pagi. Arjasa merupakan tempat tinggal Mas Nuran, pria gondrong pecinta traveling yang telah sangat baik kepadaku. Dirumah beliau aku diperbolehkan merebahkan tubuh saat malam dating menyelimuti kota Jember.
Setelah mandi pagi akupun mengemas semua barang-barangku. Tidak terlalu banyak yang aku bawa untuk perjalanan-ku kali ini. Hanya sebuah Carrier 75 liter merk local yang sudah mendunia dan tas kamera untuk 2 body. Loh tidak terlalu banyak untuk 2 tas yang ditopang oleh tubuh kurusku ini?
 Jam 6 aku dan Mas Nuran meninggalkan Arjasa menuju rumah orang tua Mas Ayos untuk pamitan dan berharap aku dapat bertemu beliau lagi kelak. Setelah pamitan aku dan Mas Nuran pun beranjak pergi menyusuri Kota Jember menuju stasiun. Pagi itu Jember tidak terlalu ramai, mungkin karena hari libur. Namun dibeberapa sudut jalan terlihat masyarakat Kota Jember melakukan aktifitas olahraga. Mas Nuran menawarkan ku untuk mengisi perut sebelum ke Probolinggo, okelah kalau begitu. Kamipun berhenti di sudut jalanan kota Jember untuk mengisi perut. Aku pesan Nasi Pecel sedangkan Mas Nuran melahap Nasi Rawon. Puas dan kenyang setelah menikmati sarapan pagi yang begitu nikmat kamipun melanjutkan perjalanan ke arah stasiun. Belum terlalu ramai atau stasiun-nya selalu sepi ? entahlah, yang jelas aku harus membeli selembar tiket menuju probolinggo. Akupun menuju loket penjualan tiket dengan gaya ala backpacker (Gaya betull J ). Selembar tiket sudah kukantongi dengan merogoh kocek 18.000. Kereta Ekonomi Tawang Alun adalah trasnportasi yang akan mengantarkan ku menuju Malang tetapi melewati Probolinggo. Di karcis tertera keberangkatan dari Jember pukul 7.55 dan sampai di Probolinggo pukul 9.20. Inilah indahnya tinggal di Pulau Jawa, akses transportasi kemana-mana begitu mudah. Sangat kontras dengan pulau tempat ku tinggal, di Sumatera untuk kota satu ke kota lainya sulit ditempuh dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. Kadang-kadang aku pun berkhayal kapan ya kota di Sumatera dihubungkan oleh kerata api dari satu kota ke kota lainya. Andaikan hal ini terjadi di pastikan sabtu dan minggu aku tidak akan tidur dirumah.
Akhirnya kereta ku pun datang setelah menunggu beberapa saat di bangku stasiun, akupun pamitan dengan Mas Nuran dan janji ketemuan lagi di Kota Solo untuk pendakian ke Gunung Merapi dengan beberapa orang teman dari Jember. Oh iya sebelum berangkat ke Probolinggo akupun di berikan nomor Mas Alvin, Mas Alvin adalah teman baik Mas Nuran di Universitas Jember. Beliau tinggal di Probolinggo namun kuliah di Universitas Jember.
Kereta Tawang Alun lambat laun meninggalkan stasiun Jember ke arah utara. Sedih juga rasanya meninggalkan Kota yang penuh kenangan ini. Banyak hal yang tidak akan pernah hilang dalam memori otak ku. Dikereta api aku memilih duduk disambungan gerbong dengan beberapa orang pemuda , seorang pemuda kuliah di Brawijaya Malang, satu lagi aku lupa dia kuliah dimana. Yang jelas diskusi kami tentang kampus masing-masing begitu hangat. Tak terasa larut dalam cerita dengan kenalan baru, akupun telah sampai di Probolinggo.

Setelah turun dari gerbong kereta akupun menghubungi Mas Alvin, ternyata beliau sudah menunggu di depan stasiun. Alhamdulilah sungguh dunia ini diisi oleh orang-orang yang sangat baik. Akupun diajak kerumah mas Alvin, tidak begitu jauh dari stasiun kereta api. Dirumah Mas Alvin aku minta izin untuk titip carrierku sebelum ke Bromo, cukup membawa tas kamera dan sleeping bag saja sudah cukup menurutku.Jam 11 siang akupun diantar oleh mas Alvin ke Bromo. Perjalanan Probolinggo – Bromo tidak begitu jauh mungkin sekitar 70 KM atau 1,5 jam dengan sepeda motor. Jika menggunakan bus dari Probolinggo atau masyarakat disini menyebutnya dengan Taksi, ukuran bis sebesar elf berisi 10 hingga 15 orang. Mungkin bisa 2 jam. Untuk menggunakan Taksi kita bisa naik dari terminal bus bayuangga. Taksi ini akan mengantarkan kita sampai di Cemoro Lawang, disana kita bisa memesan losmen hingga hotel tergantung dompet.





Dalam menempuh perjalanan dari Probolinggo akupun terpesona dengan keelokan alam disini. Saat sampai di Ngadisari permandangan semakin indah. Petani menanam sayur dilereng-lereng bukit yang kemiringanya hingga 75 derajat. Jalanan yang berliku dan kabut-kabut tipis yang mulai menyelimuti perbukitan. Tidak berapa lama aku dan Mas Alvin pun sampai di Cemoro Lawang. Ternyata Cemoro Lawang sangat jauh dari prediksiku. Aku beranggapan bahwa cemoro lawang masih sepi dan rumah penduduk hanya ada dalam radius 100 meter ke 100 meter. Ternyata prediksiku ngacir 9999 %  Cemoro lawang sudah sangat ramai dan padat, dimana –mana tertulis losmen, penginapan, hotel dan jasa penyewaan jeep. Mas Alvin pun memakirkan sepeda motornya di warung kopi tepat di depan Pos Penjagaan. Jam 1 siang saat kulihat jam ditangan, namun udara disini sudah sangat dingin dan menyayat kulit. Di warung kopi kamipun pesan 2 cangkir kopi hangat sekaligus nanya-nanya dengan pemilik warung kopi tentang penginapan murah dan ojek murah. Dari perbincangan itu aku mendapat referensi harga losmen termurah di Cemoro lawang adalah 50.000 rupiah per malam dan untuk penyewaan ojek satu harinya 125.000.
Saat menikmati kopi hangat tiba-tiba seorang pemuda menghampiriku dan  menawarkan ojek utnuk mengantarkan melihat sunrise, pasir berbisik, bukit teletubies, kawah bromo. " Seratus dua puluh lima ribu saja mas"  ujarnya dengan logat tengger. Akupun berkenalan dengan pemuda berumur 23 tahun ini. Catur, penduduk suku tengger asli, seorang Hindu yang taat, baik sekali. Akupun mengobrol banyak dengan dia. Dan menyetujui untuk menginap dan memakai jasa ojeknya untuk menikmati alam tengger. Tak terasa haripun sudah hampir pukul 3, Mas Alvin pun kembali ke Probolinggo karena dia ada urusan, jadilah kusendiri menikmati alam pegunungan tengger. Setelah Mas Alvin meninggalkan cemoro lawang akupun bergegas ke losmen Mas Catur untuk merebahkan diri sembari memompa energi untuk menyaksikan croser dengan motor modifikasi ala penduduk tengger. Aku beruntung sekali menyewa ojek disini, ketimbang menyewa jeep yang harganya membumbung dan bersempit-sempit . Sore itu aku diajak Mas Catur keliling daerah tengger, menyaksikan croser lokal, berkenalan dengan penduduk-penduduk lokal yang sangat ramah. Mengunjungi pura tempat sembahyang masyarakat Hindu, mengenal rumah adat masyarakat tengger dan masih banyak hal lagi yang bisa membuat diriku semakin tenang disini.






Puas menikmati alam tengger akupun kembali ke losmen untuk istirahat dan sholat magrib sebelum makan malam. Udara disini ternyata sangat dingin, mungkin mencapai 10' celcius. untuk menyentuh airpun aku tidak sanggup rasanya. Namun dingin tidak menghalangkan niat untuk beribadah. Usai magrib akupun mencari makan dengan mas catur ke Sukapura, sekitar 10 menit dari cemoro lawang. Dingin-nya minta ampun dan sangat-sangat tidak bersahabat. Meski menggunakan baju berlapis, jaket tebal, sarung tangan tetap saja badanku menggigil oleh alam bromo tengger. Meski dalam kondisi menggigil akhirnya aku sampai juga di warung yang menjual makanan menurut aku paling enak se bromo. Aku pesan wedang jahe untuk menghangatkan tubuh serta nasi dengan sambal ayam untuk mengisi perut. Akupun membuka obrolan malam itu dengan Mas Catur keturunan Tengger diiringi lantunan umat hindu yang melakukan sembahyang.

Obrolan kami tentang suku tengger terasa hangat menurut ku. Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.
Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger".  Wilayah Adat Suku Tengger terbagi menjadi dua wilayah yaitu Sabrang Kulon (Brang Kulon diwakili oleh Desa Tosari Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan )dan Sabrang Wetan ( Brang Wetan diwakili oleh Desa Ngadisari,Wanantara,Jetak Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo ). Perwakilan oleh Desa T osari dan tiga Desa tersebut mengacu pada Prosesi Pembukaan Upacara Karo yang sekaligus membukla Jhodang Wasiat / Jimat Klontong. 
 Masyarakat Suku Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan ,walaupun ada yang namanya Dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat , Suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Petinggi ) yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara Adat. Proses pemilihan seorang petinggi dilakukan dengan cara pemilihan secara langsung oleh masyarakat, melalui proses pemilihan petinggi. Sedang untuk pemilihan Dukun ,dilakukan melalui beberapa tahapan – tahapan ( menyangkut diri pribadi calon Dukun ).yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen ( ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa ) yang waktunya pada waktu Upacara Kasada bertempat di Poten Gunung Bromo.

Malam itu aku mendapat begitu banyak cerita dari Mas Catur tentang bromo tengger. Setelah mengisi perut dan ngobrol hangat ditemani wedang jahe dan sebungkus rokok. Malam semakin terasa di Sukapura, akupun diantar kembali ke losmen untuk beristirahat karena besok pagi aku harus bangun pukul 3.30 untuk menyaksikan sunset di Pananjakan. Sekitar 20 menit dari losmen ku melintasi padang pasir, melewati jalan yang begitu ekstrem.Cukup hari ini, aku ingin beristirahat dulu. Semua peralatan ku aku charger agar beterainya tidak nge-drop ditengah dinginya cuaca bromo. Malam itu aku tidur dengan jaket tebal plus sleeping bag plus selimut losmen ukuran 2x3 meter. Lumayan untuk melepas penat seharian. Jam 10-an akupun memejamkan mata untuk rehat sejenak.

Pukul 3.30 akupun tebangun, ini saatnya menikmati sunrise di Pananjakan. Pananjakan konon merupakan tempat melihat sunrise terbaik di Dunia dengan pemandangan jajaran gunung-gunung dan bukit-bukit serta permainan warna pagi yang begitu menawan. Diluar Mas Catur telah menunggu dengan pakaian ala Ninja Sawit (semua badan tertutup, yang terlihat hanya matanya saja). Aku tidak terlalu ambil pusing dengan dingin-nya pagi di Bromo, nafsu untu motret mengalahkan suhu udara di Bromo. Kamipun beranjak dengan sepeda motor ke Pananjakan. Oh Tuhan,, perjalanan ke pananjakan begitu menyiksaku mulai dari tanjakan, turunan, padang pasir, dinginya suhu sungguh membuat tubuhku seperti habis disiksa, Tapi tidak masalah penyiksaan diatas motor hanya 20 menit.





Setelah melewati penyiksaan perjalanan, akhirnya aku sampai juga di Pananjakan. Akupun turun dari motor mas catur dan berjalan sekitar 50 meter ke atas menuju tempat melihat sunrise. Disana terlihat sudah banyak orang, waduh aku paling males melihat keramaian. Disana sini setiap manusia siap dengan "tustel"-nya . Narsis ria, foto bersama, ada juga penjaja postcards alam bromo. Pagi ini aku melihat lumayan banyak wisatawan asing yang menikmati sunrise di Pananjakan. Akupun berkenalan dengan pasangan dari Belgia yang telah 2 minggu berada di Indonesia. Ada juga pak cik dan mak cik dari Malaysia, dengan anak-nya yang seumuran aku. Lumayan cantik namun aku tidak tertarik (loh memangnya anak mereka tertarik sama aku?) hihihi... Ternyata bahasa Inggris nya orang malaysia lucu-lucu juga. Nyampur antara bahasa melayu dan bahasa inggris. Mereka mungkin orang Malaysia yang begitu menikmati keindahan  Indonesia. Sudah banyak destinasi yang mereka kunjungi. Mulai dari Danau Toba, Bukittinggi, Jakarta, Bandung, Bali dan Bromo ini untuk pertama kalinya mereka kunjungi. Akupun bercerita banyak dengan keluarga ini sebelum matahari muncul. 


Akhirnya saat yang ditunggu-tunggupun datang, matahari malu-malu mulai keluar dari sisi timur belahan bumi. Perlahan-lahan akupun mulai membidik beberapa foto sunrise di Bromo. namun tidak terlalu banyak yang aku ambil karena cuaca kurang bagus untuk mengambil foto bromo. Aku lebih memilih menikmati sunrisenya ketimbang memoto bromo. Hampir satu jam aku berada dipuncak tertinggi menyaksikan keindahan sunrise dengan suasana pegunungan bromo.  Setelah puas di pananjakan akupun kembali ke tempat Mas Catur telah menunggu. Mas Catur menunggu di didepan warung yang banyak menyajikan souvenir-souvenir tentang bromo, ada jaket, kaos bertuliskan bromo bahkan ada juga yang menjajakan edelwis.  Namun semuanya tidak menarik  minatku untuk merogeh kocek dipagi itu.

Aku dan Mas Caturpun  melanjutkan perjalanan kami kembali menuju kawah bromo. "Bremmmm bremmmm" bunyi khas motor Mas Catur siap membawa kami ke arah kawah bromo. Perjalanan dari Pananjakan ke Kawah Bromo sedikit membuat pantat ku gemetaran. Karena dari pananjakan kepadang pasir jalan menurun dan curam. Kadang-kadang duduk-ku nyosor ke arah mas catur. Kamipun terlihat mesra seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara. Oh Damn !
Saat perjalana turun sebelum memasuki padang pasir aku meminta mas catur untuk menghentikan kendaraanya. Aku sudah tidak tahan untuk pipis . Tak ada pohon, tak ada penutup akupun menyiram bumi dengan bantuan air seni ku. Lumayan juga rumput-rumput di bromo mendapat asuman gizi pagi-pagi. Setelah puas membuang sisa sia air seni aku pun memotret beberapa bagian bromo sebelum melanjutkan ke kawah bromo. 
Mas Catur pun kembali menggeber motornya seperti para Crosser profesional. Beberapa kali aku hampir tunggang langgang akibat ugal-ugalan mas catur. Tapi tidak masalah aku suka gaya dia membawa motor. Semakin aku bilang hati-hati, maka semakin kencang mas catur menggeber motornya. 
***
Tidak berapa lama akhirnya aku sampai juga di gerbang sebelum masuk ke kawah bromo. Tepat diseberang gerbang ada toilet, mobil jeep pun setia menunggu para penumpangnya yang sedang menyaksikan pesona keindahan bromo, di pintu sebelum ke kawah bromo banyak penjaja kuda yang menawarkan kudanya untuk kekawah. Dari Gerbang ke Kawah Bromo berjarak sekitar 1 KM lumayan juga untuk jalan kaki. Tapi 1 km tidak akan terasa karena panorama yang ditawarkan oleh alam bromo sungguh- sungguh menakjubkan dan sangat sayang untuk tidak dinikmati perjalanan ke kawah dengan berjalan kaki. Lagian jika aku menggunakan kuda dengan tarif sekitar 20-40 rb PP kawah bromo - gerbang kawah akan sedikit membuat kantong boros. Apalagi bagi pecinta perjalanan murah seperti aku. Selembar uang seribu sungguh sangat berarti.
Dari gerbang hingga ke kawah aku ditawari untuk menunggang kuda oleh para penjual jasa kuda. Namun aku tolak dengan tampang polos ku. Takut mereka tersinggung, aku jawab saja " Sudah mas saya berjalan kaki saja, saya mau menikmati alam mas dengan berjalan kaki. Saya doakan orang dibelakang saya akan memakai kuda mas :) " . 
 Dalam perjalanan ke kawah ijen aku melewati sebuah pura tempat pelaksanaan upacara kasada. Pura ini merupakan salah satu pura terbesar tempat peribadahan masyarakat Hindu Tengger. Pura ini sunguh sangat menawan dengan latar belakang Gunung Bromo.




Akupun mengeluarkan kamera ku dan mengambil beberapa frame foto. Kemudian kulanjutkan perjalananku menuju kawah bromo. Semakin indah kusaksikan kawasan ini, dengan cahaya matahari yang mulai hangat kulihat inilah mungkin Indahnya Indonesia. Aku semakin semangat untuk sampai segera di kaki tangga menuju kawah. Memang dari kejauhan tangga ini adalah yang paling mencolok. Tangga menuju kawah yang jumlah anak tangganya mungkin ratusan ini terlihat semakin bagus. Sebelum menaiki tangga akupun membeli sebotol air mineral melepas dahaga setelah berjalan hampir 1 km dari gerbang. Banyak ibu-ibu yang menggelar daganganya di kaki tangga. Air mineral yang kubeli terasa begitu dingin seperti ditaruh di kulkas. 
Mendaki tangga di Bromo menurutku bukan perkara mudah, aku harus pandai mengatur nafas supaya tidak ngos-ngosan. Benar saja, inti dari mendaki tangga yang tinggi adalah kekampuan untuk mengatur nafas. Akupun sampai di bibir kawah dengan santainya. Sungguh pemandangan yang menakjubkan ketika aku sampai dipinggir kawah. Semburan asap belerang dikelilingi dengan hamparan pegunungan yang indah. Sejauh apapun mata memandang yang kudapati hanya keindahan pegunungan tengger yang begitu menawan. Akupun terpesona untuk hamparan alam ini. 
Dari atas aku bisa melihat indahnya padang pasir Bromo, Tekstur Gunung Batok, Kawah Bromo dan kepingan-kepingan aliran lava yang membentuk tekstur indah di hamparan kejauhan.



Puas menikmati alam bromo dari bibir kawah bromo akupun kembali turun menuju gerbang. Sungguh perjalanan ini mebuat akupun berkesan. Akupun melanjutkan perjalanan ke bukit teletubies dan ranu pane. Sebuah pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Sebelum kembali ke losmen aku dan mas catur menyempatkan diri berhenti di Pasi Berbisik. Akupun heran mengapa dinamakan Pasir berbisik. Apakah ini menyangkut pasirnya yang jika tertiup anngin seperti bunyi orang berbisik atau tempat ini pernah menjadi syuting salah satu film yang sangat bagus menurutku berjudul " Pasir Berbisik". hmhm entahlah.
Jam ditanganku sudah menunjukan pukul setengah sebelas siang, aku meminta mas catur untuk menggeber motornya ke losmen untuk mengambil beberapa peralatan ku sebelum meninggalkan bromo menuju probolinggo.
Akupun meminta Mas Catur untuk mengantar ke sukapura untuk menumpang Taksi (Angkutan yang melayani rute dari bromo - probolinggo). Setelah sampai sukapura dan mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kebaikan kepada Mas Catur selama aku di bromo, mas catur pun kembali ke Cemoro Lawang.


Hampir setengah jam aku menunggu taksi ke probolinggo, namun tidak ada satupun yang lewat. Akhirnya kuputuskan berjalan kaki dari sukapura ke Probolinggo sejauh 60 KM. 2 KM pertama aku masih bersemangat dan kuat untuk berjalan kaki. Aku ditemani anak sekolah yang baru pulang sekolah, akupun berusaha melambaikan tangan kepada setiap kendaraan yang lewat namun tidak ada tanda-tanda mereka berhenti.
Hampir 5 kendaraan yang lewat aku lambaikan tangan untuk menumpang ke Probolinggo namun tidak ada satupun yang berhenti. Akhirnya ada seorang bapak yang kutaksir umurnya sudah 60 tahu mengendarai Astrea Grand tahun 90an menurutku tiba tba setelah ku lambaikan tangan beliau berhenti. dan alhamdulilah tujuanya ke Kota Probolinggo. Akhirnya akupun bisa menumpang dengan beliau hingga ke Kota Probolinggo. 


Sungguh perjalanan yang begitu berkesan mengunjungi bromo. Suatu saat semoga aku bisa menginjakan kaki disini lagi. AMIN

1 komentar:

  1. halo mbak, bisa dikasih tahu penginapannya apa? dan nomer kontaknya mas catur? saya mau kesana sendiri soalnya. tks

    BalasHapus