Jember Unfogettable Journey (I)

3/07/2010 01:09:00 PM Yunaidi Joepoet 0 Comments

Pagi memang saya harus membuka kembali mata untuk menatap indahnya dunia. Dunia yang dibentangkan dari bumi utara hingga bumi selatan dengan segala kesempurnaan tiada tara ciptaan maha kuasa. Memang dunia itu terlalu indah untuk tidak dinikmati rugilah bagi mereka yang bunuh diri.



***

Udara pagi di Arjasa dingin dingin hangat membuat pagi saya semakin bersemangat. Pagi ini tubuh saya terasa segar untuk melanjutkan perjalanan setelah tadi malam berkeliling kota Jember dengan Aunurrahman Wibisono mencicipi makanan khas Jember.
Ya, Jember bagi saya adalah bonus perjalanan terindah. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang “familystly”. Banyak hal baru yang saya dapati di kota terbesar ke-3 di Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang. Kota yang membawa saya kerelung kenangan paling indah. Tidak menyesal saya diajak Ayos Purwoaji ke kota ini.

Perjalanan ke Jember sebenanya diluar dugaan saya, itenary perjalanan saya pun tidak tertulis kota Jember. Bahkan saya hanya mengetahui kota ini dari internet tentang karnaval fashion nya yang bertajuk JFC (Jember Fashion Carnval). Sebuah karnval fashion yang digelar dijalanan kota Jember sebagai salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Jember. Namun semuanya tiba – tiba berubah dan anugrah mungkin telah mengantarkan saya ke kota ini saat Ayos Purwoaji menyarankan saya untuk ke Jember sebelum ke Kawah Ijen. Baiklah kalau begitu sungguh kebahagiaan yang tak ternilai bertemu dengan Ayos.

Setelah menikmati nasi Krawu dan rencana perjalanan ke Jember, Ayos membawa saya ke kost beliau untuk beristirahat sebelum perjalanan sore nanti. Kost yang asri, bersih dan damai. Ibu kost dan penghuninya baik-baik, saya pun dikenalkan dengan Hanif mahasiswa ITS sahabat Ayos. Hanif juga yang telah memberi saya makan gratisan di warung makan Manado, jalan-jalan ke Fakultas Teknik Arsitektur dan keliling kampus ITS. Terima kasih Mas Hanif. Saya tunggu kedatanganya d Pekanbaru.



Sore hari semakin menjelang, perjalanan ke Jember yang direncanakan Ayos sepertinya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan. Saya dan Ayos meninggalkan kostnya ke arah stasiun gubeng dengan si “Kebo” sebutan untuk motor Ayos yang sudah menjelajah tanah Jawa hingga Flores dengan pasangan hidup Ayos yakni Aunurrahman Wibisono. Sekitar 15 menit perjalanan kamipun akhirnya sampai di Stasiun Gubeng. Tanpa basa basi 2 tiket ekonomi kereta Logawa segera kami rampas dari Counter tiker. Muantap… di tiket tertera keberangkatan ke Jember pukul 16.52 sedangkan sekarang masih pukul 16.10. Masih ada waktu untuk memberi si lambung energi untuk menggendong ransel. Tujuan utama kami adalah warung di belakang stasiun, sepertinya ini akan menjadi tempat makan yang enak semoga. Diwarung makan tersebut Ayos memesan Lele goring 2 ekor dengan the hangat, saya pesan the hangat dan seduhan energen untuk penambah tenaga.

***



Puas mengisi lambung dengan sumpalan energi, kamipun kembali ke Stasiun Gubeng menunggu si Logawa datang membawa kami ke Jember, Lalu lalang penumpang kereta di stasiun ini tak kami hiraukan, saya sibuk foto-foto narsis dan Ayos menyibukkan tanganya yang lentik dengan ketikan keypad. Peace Mas Ayos.
Jarum jam di stasiun ini menunjukan pukul 16.45, terdengar dari pengeras suara petugas stasiun menginformasika bahwa kereta logawa akan segera dating dari arah barat. Sayapun bersiap-siap dengan gendongan ransel saya. Benar saja tidak beberapa lama setelah pengeras dan bel khas stasiun berbunyi, dari jauh terlihat si Logawa mendekat akhirnya saya akan menginjakkan Jember…Horeee :D

Perjalanan kereta api ke Jember ditempuh sekita 4 jam 10 menit. Jadi ya lumayan memenatkan pantat diperjalanan ini. Setelah berjalan akhirnya kamipun memilih gerbong sepi penumpang, digerbong ini bergabung 2 teman Ayos sesama Mahasiswa dari Jember. Faiz kuliah di ITS dan Irma kuliah di Airlangga. Saya pun berkenalan dengan 2 pemuda-pemudi baru ini. Obrolan hangat tentang Kawah Ijen terlontar dari mulut Mas Ayos serta tentang teman SD nya yang sakit liver dan kompilasi. Saya berdoa semoga beliau cepat sembuh. Amin

to be continued chapter II

0 komentar: