Orang dan Kehidupan Manggarai, Flores

Dari tepian laut Labuan Bajo hingga dataran tinggi Manggarai yang membelah flores. Dari nelayan hingga pengerajin tato, dari penjual hasil tanaman hingga ke pemetik kopi. Inilah orang-orang Manggarai yang saya dokumentasikan dalam perjalanan saya di daratan Flores, Nusa Tenggara Timur. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari sebuah perjalanan, belajar menjaga warisan budaya dalam pergolakan modernisasi yang tak terbantahkan hingga aksi nyata sang plasticman untuk membersihkan Labuan Bajo. Selamat menikmati foto orang Manggarai dan kehidupannya. Mari ke Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tabik


Bapak Isidorus, seorang tetua di kampung adat Warebo duduk didepan Mbaru Tembong, rumah utama di Waerebo. Desa Waerebo mendapat pengharagaan dari UNESCO atas pelestarian Mbaru Niang, rumah tradisional yang dihuni oleh beberapa keluarga. Penghargaan ini membuktikan bahwa masyarakat Waerebo memiliki kearifan lokal yang tak tergerus oleh perkembangan zaman.


Bapak Suaib (40) seorang nelayan warga Kampung Ujung, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan ikan yang baru dibelinya dari Pasar Labuan Bajo (19/01/2013). Musim barat yang berlangsung dari Desember hingga Maret membuat nelayan mengurungkan niatnya untuk melaut. Gelombang yang tinggi membahayakan para nelayan yang hanya menggunakan perahu ketinting kecil, tak terkecuali Bapak Suaib seorang nelayan yang akhirnya memutuskan untuk membeli ikan untuk dikonsumsi.

Bapak Haji Ambon warga Kampung Ujung, Labuan Bajo beristirahat sejenak disela-sela kegiatannya membangun pondasi rumah ditepian laut Labuan Bajo.

Engkos, pemuda dari Ruteng memperlihatkan batik hasil karyanya ditepian laut Labuan Bajo. Engkos bersama 51 warga dari 4 desa di Labuan Bajo mengikuti pelatihan pembuatan batik yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Setelah mendapatkan pelatihan batik, Engkos berencana untuk mengembangkan batik dengan motif Khas Manggarai.

Siswi SMP Waenakeng menggunakan pakaian Manggarai sesaat sebelum mereka menarikan tarian Petani di Desa Daleng, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat.

Seorang penjual menawarkan dagangannya di Pasar Lembor, dua jam perjalanan dari Kota Labuan Bajo. Mayoritas masyarakat di Lembor hidup dari hasil pertanian.
Bapak Rofinus memetik kopi diperkebunan kopi milikinya di Desa Waerebo, Manggarai. Kopi dan cengkeh menjadi pemasukan utama bagi masyarakat Waerebo. Hasil kopi dan cengkeh dijual ke Pasar Satar Mase, berjarak tiga jam berjalan kaki dari Desa Waerebo.


Papa Djoe (Stefan Rafael) atau The Plasticman, pendiri The Plasticman Institute atau masyarakat lokal Labuan Bajo mengenalnya dengan Bank Sampah berpose dengan latar belakang pepohonan di Desa Waenakeng, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. The Plasticman Institute adalah sebuah organisasi lokal yang berfokus untuk membersihkan kota dan laut Labuan Bajo dari sampah-sampah. Papa Djoe dengan Plasticman Institutenya juga berhasil mengkonversi sampah menjadi bahan bakar solar.

Desa Waerebo, Menjaga Mbaru Niang

Langit jingga baru saja berganti kelam, ronanya hilang seiring datangnya malam. Dari kejauhan bayang bukit menjulang di Pulau Mulas masih setia menemani ombak yang memecah batuan di tepi laut Dintor. Tadi sore saya tiba disini setelah menepuh perjalanan menggunakan ojek tiga jam lamanya dari Ruteng. Jalanan licin, hujan mengguyur kota sedari pagi dan mencapai puncaknya saat siang. Pak Alex warga Desa Cancar berumur 44 tahun, tukang ojek yang saya tumpangi mengendarai motor pelan-pelan, menuruni gunung, melewati jalanan ditengah sawah hingga akhirnya tiba di Dintor.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang di Desa Waerebo saat matahari baru saja beranjak naik. Dikelilingi oleh barisan pegunungan.

    Saya masih duduk dikursi kayu sebuah penginapan milik Pak Martinus Anggo. Saya bermalam di sini, Dintor, sebuah kampung kecil di Desa Satar Lenda. Penginapannya terletak di tengah sawah, tepat didepan kamar, petak sawah baru panen menjadi halamannya sementara dibelakang kamar mengalir sungai kecil yang menjadi sumber air bagi penduduk. Satar Lenda belum pula dialiri listrik PLN, bagi penduduk yang memiliki uang lebih mereka membeli generator untuk penerangan, adapula yang membeli secara patungan dan hasilnya dinikmati secara bersama. Beruntung di penginapan tersedia generator meskipun hanya hidup beberapa jam saja. Walhasil diantara kegelapan malam Satar Lenda, saya masih bisa menikmati penerangan sebelum kantuk mulai mendera.

    Adalah Kampung Waerebo yang akan menjadi persinggahan saya untuk mengenal dan mempelajari budaya lokal negeri ini. Setelah penerbangan panjang dari  Jakarta menuju Labuan Bajo di Pulau Flores, perjalanan dilanjutkan dengan otokol menuju Ruteng lalu ojek untuk tiba di Dintor. Perjalanan belumlah sampai di Waerebo, besok pagi saya akan berjalanan kaki lebih kurang empat jam dari Denge menuju Waerebo, kampung dimana Mbaru Niang masih dipertahankan demi menjaga keberlangsungan peradaban. Sebuah konsistensi menjaga warisan leluhur, Mbaru Niang, mengantarkan nama Indonesia, tanah air kita mendapat penghargaan Award of Excellence, sebuah penghargaan tertinggi di kancah dunia dalam Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage oleh UNESCO.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Matahari terbenam di Dintor dengan latar Nusa Mulas.
***

    Pagi itu Jum'at 23 November 2012, Kasih (19) memacu sepeda motor menuju kampung Denge, di sadel belakang saya duduk dengan was-was. Jalanan Desa Satar Lenda belumlah bagus, dibeberapa bagian lubang menganga. Bahu kanan jalan berbatasan langsung dengan jurang dalam, sementara dikiri petak sawah dibiarkan terbengkalai pertanda musim tanam belum dimulai, tampak pula gerombolan kerbau setia bercengkrama dengan rumput yang makin menutupi petakan sawah. Namun Kasih sepertinya tidak mengerti saya begitu sengsara menumpangi motor ini, terlebih saat roda sepeda motor menghantam bebatuan. Beberapa kali saya mengaduh namun kecepatan motor masih saja dipacu, deru mesinnya bersemangat mengimbangi kicauan Kasih soal perjalanan yang akan kami lewati menuju Waerebo.

    Sepeda motor kami berhenti di Denge, kampung terakhir yang bisa ditempuh dengan kendaraan. Di kampung ini terdapat Sekolah Dasar Katolik Denge yang didirikan tahun 1929 saat Belanda masih menjajah Indonesia. Di sekolah inilah anak-anak dari Waerebo, Denge, Kombo dan kampung sekitar menimba ilmu. Bangunannya terdiri dari dua bagian, paling depan bangunan berdinding bata sedangkan bagian belakang bangunan tua dari kayu mesih setia melindungi murid dari sengatan matahari ataupun tetasan hujan.
    
     Pagi itu para siswi menggunakan sapu lidi sibuk membersihkan pekarangan, Elizabeth (9) murid yang duduk di kelas 3 mendapat bagian untuk membersihkan selokan sementara siswa lainnya mencabut rumput. Hari Jum'at dan Sabtu menjadi hari gotong royong para murid untuk membersihkan sekolah. Kasih menunjuk bangunan tua saat kami berhenti di sekolah "Ini bangunan tua, sudah tua sekali mas. Sejak zaman Belanda, saya dulu bersekolah disini Mas. Di Jakarta mungkin tidak ada lagi yang seperti ini."
    Kasih bercerita kegiatan yang dilakukan saat hari Sabtu tiba bersama kawan-kawannya, Kasih menebang pohon dibelakang sekolah lalu membuat kebun. Kebun itu bertahan hingga beberapa tahun lamanya. "Kebunnya sudah tidak terawat. Murid sekarang jarang mau berkebun. Itu kebun kami dulu mas. Kami tanam kentang, bawang dan sayuran. Tunggul kayu disana, saya yang potong mas. Pohonnya sebesar mas punya badan".
    
       Kasih terus saja bercerita semasa dia mengenyam bangku sekolah dasar di Denge. Kasih kecil harus meninggalkan Waerebo yang berjarak 9 Kilometer dari Denge, berpisah dengan orang tua serta adik-adiknya demi menimba ilmu. Di Waerebo tidak ada sekolah, jadi semua anak Waerebo yang akan menempuh pendidikan mau tidak mau harus meninggalkan Waerebo. Ada dua kemungkinan saat itu terjadi, pertama si anak harus berpisah dengan orang tua, atau orang tua entah bapak atau ibu mereka harus berpisah untuk ikut menjaga si anak saat bersekolah. Kasih memilih berpisah dengan orang tua dan tinggal dengan kerabatnya di Kampung Kombo, sebuah kampung di dekat Denge yang mayoritas warganya adalah keturunan Waerebo. Setelah tamat sekolah dasar, pendidikannya dilanjutkan di Dintor kemudian mengambil jurusan tata boga di salah satu sekolah kejuruan di Ruteng. Tamat sekolah Kasih merantau ke Makasar, hingga akhirnya kembali pulang ke Waerebo sebelum perayaan tahun baru dalam kalender masyarakat Waerebo.
   
Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Tetua adat di Desa Waerebo dengan latar Mbaru Niang.

      Tak terasa perjalanan kami sudah jauh meninggalkan sekolah di Kampung Denge. Kami melewati ladang penduduk, yang paling mencolok adalah batang cengkeh dan damar, dahannya memayungi jalan setapak. Aroma wangi cengkeh semakin menyemangati saya untuk berjalan melahap jalan setapak yang semakin menanjak. Penduduk di Denge mayoritasnya adalah petani, hasil cengkeh menjadi salah satu sumber penghidupan, selain cengkeh ada pula damar serta petak-petak sawah yang akan ditanami secara bergiliran. Petak sawah tidak bisa ditanami sepanjang tahun, air irigasi tidak mampu mencukupi pengairan sawah secara bersamaan. Mau tidak mau, air irigasi harus dibagi. Jika caturwulan ini pengairan hanya untuk pemilik sawah di daerah Dintor, maka caturwulan depan pengairan akan mengaliri sawah penduduk di Denge. Tidak ada kecemburuan, semuanya dengan lapang dada menerima giliran air supaya benih padi bisa disemai, tumbuh dan dipanen serta hasilnya bisa menyambung hidup masyarakat.
    
    Lepas dari ladang penduduk, kami berjalan melintasi sungai Waelomba. Batu-batu besar mengisi separuh aliran sungai. Kami meloncat hati-hati dari satu tumpukan batu ke batu lainnya. Dahulu Waelomba airnya mengalir deras, sulit untuk dilewati apalagi jika musim hujan datang. Namun sekarang aliran airnya sudah tak sederas dulu, kerusakan hutan menjadi penyebab utama berkurangnya debit air sungai ini.
    
    Tempo hari, pembalak liar dari luar desa datang menggunduli hutan di hulu Sungai Waelomba namun usaha mereka tak berjalan lama. Penduduk Waerebo berang, mengancam akan melaporkan pembalak ke Polisi Hutan. Ussaha penduduk berhasil mengusir pembalak. Bagi penduduk Waerebo, hutan adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Hutan juga memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat Waerebo. Beruntung lewat keputusan pemerintah, sekarang hutan ini dikonsesi menjadi kawasan Hutan Lindung Todo Repok luasnya mencakup hingga 10.500 Ha. Setidaknya sudah ada payung hukum yang melindungi hutan ini dari tangan-tangan serakah manusia, tentunya ini angin segar bagi masyarakat di Waerebo maupun masyarakat yang menikmati sumber air Sungai Waelomba.
    
    Perjalanan semakin berat, kami melewati jalanan setapak menyisiri punggungan tebing. Tak jarang kami berjalan dengan batas jurang di tepi jalan, jika hujan turun jalanan menjadi licin dan tebing-tebing di sisi jalan setapak sangat rentan longsor. Meskipun begitu, ini salah satu akses utama bagi masyarakat Waerebo berhubungan dengan dunia luar. Kami melewati Puncak Pocoroko, dari sini saya bisa melihat Selat Sumba. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit, kemudian kebun kopi milik masyarakat Waerebo. Di kejauahan atap Mbaru Niang berbentuk kerucut sudah terlihat. Saya semakin bersemangat menuruni bukit menuju kampung Waerebo.
***
    Terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai. Kampung Waerebo dikelilingi gunung, mencapainya butuh perjuangan waktu dan tenaga. Tak ada sinyal telfon, penerangan hanya ada dimalam hari yang bersumber dari generator. Tak ada kendaraan bermesin yang bisa mencapai Kampung Waerebo, mencapai Kampung Waerebo hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 9 KM dari Desa Denge.

    Setelah berjalam hampir empat jam akhirnya saya melewati Bok, pintu masuk kampung Waerebo yang masih dihiasi anyaman. Minggu lalu, masyarakat Waerebo berpesta menyambut Penti, tahun baru masyarakat Waerebo yang diadakan pada tanggal 15-16 bulan November setiap tahunnya. Acaranya berlangsung meriah, turut pula ditampilkan Caci, tari perang khas Manggarai yang menyimbolkan sosok kepahlawanan dan keperkasaan. Pada acara Penti Semua keturunan dari Waerebo pun hadir, inilah saat dimana warga berpesta, mengingat leluhur dan berkumpul kembali sebagai penjaga warisan Waerebo.

    Kasih mengajak saya menuju Mbaru Tembong, rumah utama di Kampung Waerebo. Mbaru Tembong menjadi induk dari enam Mbaru Niang di Warebo. Saya melepas sepatu, kemudian dengan ramah dipersilahkan masuk kedalam Mbaru Tembong. Didalam, sudah duduk dua orang tetua Kampung Waerebo, Bapak Biatus dan Rafael. Kamipun dipersilahkan duduk diatas tikar pandan yang sudah disediakan.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang dan mendengarkan lantunan lagu pengantar tidur di Mbaru Tembong disuguhi Sopi berkualitas tinggi.


     Menggunakan bahasa lokal, Kasih melakukan Pa'u Wae Lu'u sebagai ungkapan duka cita atas leluhur yang sudah mendahului kita kemudian Kasih meminta izin dan menrangkan kepada tetua kampung bahwa saya akan tinggal di Kampung Waerebo untuk beberapa waktu kedepan. Bapak Biatus memberikan sinyal positif, saya diizinkan untuk tinggal di Kampung Waerebo. Kami bercerita dalam bahasa Indonesia, kadang dibeberapa potong percakapan Kasih menjadi penerjemah kami.

    Perbincangan hangat ini membawa saya bernostalgia ke masa silam. Diskusi hangat yang kami lakukan bersama keluarga, Kakek saya bercerita mengenai budaya alam Minangkabau. Saya cucu tertua dari garis keturunan Matrilineal, sistem keturunan yang dipakai oleh Suku Minangkabau. Ibu saya, anak tertua dari delapan bersaudara, Ibu bersuku Sikumbang, garis suku inilah yang menjadikan saya lahir dengan darah Sikumbang. Dulu, hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah mendengar tambo Minangkabau, Kato Nan Ampek serta Kato Pusako yang masih saya ingat hingga sekarang. Pelajaran hidup dan berbudaya ini sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan. Ajaran yang tertuang, menjadikan alam sebagai sumber ilmu yang paling nyata, dalam kato pusako adat Minangkabau pun disebutkan "Alam Takambang, Jadikan Guru".

    Alam mengajarkan kita banyak hal, dari alam semua berasal. Begitu pula Masyarakat Waerebo yang menggantungkan hidup dari alam. Alam bagi masyarakat Waerebo sudah menjadi sahabat, guru dan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Dari alam semua kehidupan masyarakat Waerebo berasal. Proses menjaga dan melestarikan alam telah mengantarkan masyarakat disini menjadi masyarakat yang tidak lupa akan kodratnya sebagai manusia.

    Disini masih berdiri kokoh Mbaru Niang, rumah berbentuk kerucut. Jumlahnya ada 7, enam rumah ditempati oleh warga Waerebo sedangkan satu rumah diperuntukkan bagi para tamu yang ingin bermalam di Waerebo.

    Dari tujuh rumah, ada satu rumah yang dijadikan tempat tinggal tetua adat keturunan langsung dari para leluhur masyarakat Waerebo. Rumah ini dinamai Mbaru Tembong, bisa menampung 8 keluarga. Masing-masing biliknya dibatasi oleh papan. Sementara Mbaru Niang bisa menampung hingga 7 keluarga. Kesemua keluarga hidup rukun berdampingan, tak ada perselisihan, semuanya bersatu dalam keselarasan hidup keturunan Waerebo.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bekerja hingga senja.

    Di dalam Mbaru Niang saya dibuat kagum oleh arsitektur rumah ini. Rumah dibuat agak tinggi dari tanah, sekitar satu meter diatas permukaan tanah. Didepan pintu masuk Mbaru Niang, terdapat gundukan batu. Sebelum berangkat atau pulang dari ladang, warga biasanya bercengkrama di atas batu. Anak-anak berkejaran  di atas halaman yang ditumbuhi rumput. Aktivitas ini akan terhenti saat gelap mulai datang.

    Mbaru Niang tempat tinggal masyarakat Waerebo memiliki lima lantai dimana masing-masing lantainya mempunyai fungsi yang berbeda. Lantai pertama adalah Tenda,  tempat istirahat, tempat tamu serta tempat melakukan aktivitas memasak. Di lantai ini pula terdapat bilik-bilik yang ditempati masing-masing keluarga, bagian ini dinamai Nolang. Lutur menjadi tempat tamu, pemisahan ini menunjukan adanya budaya saling menghormati antara tamu dan keluarga yang tinggal di Mbaru Niang. Meskipun ada pemisahan, para tamu dan keluarga yang tinggal masih tidur selantai, hal ini menunjukkan persamaan derajat antara tamu dan keluarga di Mbaru Niang.

    Penduduk Waerebo menamai Lobo (Loteng) untuk lantai kedua. Dilantai inilah keluarga yang tinggal di dalam Mbaru Niang menyimpan makanan serta kebutuhan sehari-hari. Lantai ketiga adalah Lentar, dilantai ini disimpan berbagai macam benih untuk berladang. Lantai selanjutnya adalah Lempa Rae, dijadikan tempat untuk menyimpan makanan cadangan sebagai antisipasi apabila terjadi bencana atau kekeringan. Sedangkan lantai paling atas Hekang Kode dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan sesajian kepada leluhur.

    Dinding Mbaru Niang dibuat dari kayu yang diambil dari hutan. Proses penebangan kayu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada prosesi adat yang harus dilewati sebelum dilakukan penebangan. Atapnya dibuat dari ijuk yang ditempatkan diatas bambu utuh. Lantainya pun dibuat dari kayu. Didalam Mbaru Niang, digantung Langkar sebagai sesajen untuk leluhur dan tuhan. Langkar berbentuk petak, dihiasi bulu ayam.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Dapur di Mbaru Niang

    Proses memasak dilakukan di hapo (dapur), masing-masing keluarga mempunyai (likang) tersendiri namun letaknya masih satu tempat dengan keluarga lainnya. Jika ada rezeki berlebih, tak jarang penghuni Mbaru Niang berbagi makanan dengan penghuni lainnya. Pola hidup yang sangat jarang kita temui di kota-kota besar.
***

    Saya dan Kasih berpamitan meninggalkan Mbaru Tembong, kami mengayun langkah ke Mbaru Niang Tirta Gena Maro. Tempat ini disediakan khusus bagi para tamu untuk tinggal dan bermalam.
    Di dapur, Mama Tin dan Mama Nina menyiapkan masakan untuk saya santap. Menu sore ini ada sayur labu, mie instan dan nasi putih. Untuk pelepas haus, mama menyiapkan kopi untuk kami. Perkembangan Waerebo menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Flores turut serta mengangkat perekonomian masyarakat. Untuk menata wisata adat Waerebo, masyarakat membentuk perangkat yang bertanggung jawab untuk mengelola pariwisata Waerebo.

    Mama Tin dan Mama Nina mendapat pekerjaan sebagai juru masak bagi para wisatawan, ada beberapa kelompok juru masak yang bergantian menyediakan makanan. Tamu membayar sejumlah biaya tertentu untuk makan dan menginap di Mbaru Niang. Hasilnya tentu saja akan menambah pemasukan bagi masyarakat Waerebo, selain itu uang yang dibayarkan sebagian disisihkan untuk biaya perawatan Mbaru Niang. Dengan hal ini ada proses wisata berkelanjutan yang dilakukan oleh masyarakat Waerebo, setidaknya uang yang dikeluarkan oleh wisatawan ada dampaknya bagi masyarakat dan proses perawatan Mbaru Niang, warisan leluhur Waerebo.

    Matahari baru saja terbit, Kasih membangunkan saya untuk bersegara ke tempat pemandian warga. Di Waerebo, masyarakat mandi di air pancuran yang jaraknya lebih kurang 200 meter dari kampung. Pemandian antara laki-laki dan perempuan dipisahkan. Tempat mandi selain digunakan untuk kegiatan mandi dan mencuci, juga sebagai sarana berinteraksi  bagi masyarakat. Proses komunikasi antar satu anggota masyarakat dengan anggota lainnya bahkan dijaga meskipun hingga ke pemandian. Kondisi inilah yang menjadikan masyarakat Waerebo tak terusik pengaruh paham individual, ada proses komunikasi dan kebersamaan yang tetap dijaga hingga sekarang.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menjemur kopi yang dipetik dari kebun tak jauh dari Waerebo.

    Bapak Yosef Katu generasi ke-18 Waerebo mengundang kami untuk singgah di Mbaru Niangnya. Secangkir kopi hangat pun disajikan. Pak Yos bercerita mengenai Waerebo dan proses pembangunan ulang sebagian rumah di kampung Waerebo. Pembangunan ulang Mbaru Niang tak lepas dari peran serta masyarakat Waerebo yang didukung penuh oleh para donatur yang menyumbangkan materi untuk pembangunan kembali Mbaru Niang.

    Peran aktif masyarakat dan donatur dalam menjaga warisan Mbaru Niang memberikan banyak manfaat bagi masayarakat Waerebo sendiri. Salah satunya adalah kesempatan bagi generasi baru Waerebo untuk mempelajari proses pembangunan Mbaru Niang.
    "Rumah pertama, kami generasi muda hanya duduk saja melihat proses yang dilakukan tetua dalam membangun Mbaru Niang. Rumah kedua, tetua memberikan kami kesempatan untuk membangun mbaru Niang bersama mereka. Rumah ketiga, kami dipercayakan penuh oleh tetua untuk membangun Mbaru Niang, sedangkan tetua hanya duduk melihat pekerjaan yang kami lakukan". Pak Yos bertutur tentang proses pembangunan ulang Mbaru Niang.

    Pembangunan Mbaru Niang ini tentu saja berhasil dijadikan sebagai sarana transformasi ilmu dari generasi tua ke generasi muda "Jika mendengar cerita saja tanpa praktek, mungkin akan sulit untuk dilakukan. Beruntung atas bantuan para donatur dan masyarakat Waerebo yang bahu-membahu membangun ulang Mbaru Niang kami semua mendapat ilmu yang akan kami wariskan ke anak cucu kami kelak.".

    Waerebo sudah berhasil mentransformasi ilmu pembangunan Mbaru Niang. Hal ini tak lepas dari kemauan keras masyarakat Waerebo untuk menjaga warisan leluhur. Generasi muda punya kemauan besar untuk belajar, sedangkan generasi tua dengan kerendahan hati mewariskan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari generasi sebelumnya. Perasaan untuk saling menjaga inilah yang harus kita tumbuhkan sebagai generasi Indonesia, bangsa besar yang berbudaya.

    Mbaru Niang dan seperti rumah-rumah adat lainnya di Indonesia bukan hanya sebagai tempat tinggal.  Banyak hal yang tercermin dari rumah adat itu sendiri, salah satunya adalah kebudayaan masayarakatnya. Bagaimana lingkungan masyarakat tersebut, sistem kepercayaannya, serta cara hidup komunitas masyarakat setempat. Menjaga rumah adat sama halnya dengan menjaga kebudayaan. Kemajuan peradaban tercermin dari seberapa besar kemauan masyarakat menjada kebudayaan mereka. Inilah yang dilakukan masyarakat Waerebo, menjaga kebudayaan agar peradaban tetap berjalan.
***

    Saya ikut Bapak Rofinus ke kebun untuk memetik kopi. Dari kampung kami mendaki bukit, melewati jalan setapak menuju hutan. Membawa keranjang, saya membantu Bapak Rofinus memetik biji kopi. Biji kopi ini nantinya akan dijual kepasar di Dintor. Sementara itu, istri Bapak Rofinus menenun dirumah.

Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bapak Rofinus memetik kopi dikebun kopi miliknya.


    Rata-rata warga Waerebo hidup dari menjual kopi, kain tenun, serta dari pengelolaan ekowisata Kampung Waerebo. Wisatawan yang mayoritas berasal dari Eropa menjadikan Waerebo sebagai daerah kunjungan, bukan hanya bersenang-senang tetapi juga mempelajari bagaimana sekolompok masyarakat masih bisa mempertahankan pola hidup dan warisan leluhurnya saat modernisasi menyentuh segala aspek kehidupan.

    Tak salah kiranya UNESO memberikan penghargaan tertinggi untuk Mbaru Niang di Waerebo. Bagi masyarakat Waerebo penghargaan tersebut hanyalah bonus dan sebagai bentuk apresiasi, yang terpenting bagi mereka adalah berusaha mempertahan tatanan hidup, ada istiadat, serta warisan leluhur untuk dijaga agar tidak punah sehingga bisa diwariskan ke anak cucu mereka.  Disinilah peradaban bertahan, saat masyarakatnya menjaga kebudayaan. Waerebo mungkin hanyalah kampung kecil nan jauh di atas gunug, tetapi dari kampung kecil tersebut kita belajar banyak hal besar dalam kehidupan. []

Underwater World of Raja Ampat

Siapa yang tak kenal dengan Raja Ampat, salah satu tujuan utama para pejalan baik dalam negeri maupun mancanegara. Bagi para diver, Raja Ampat adalah surga penyelaman yang menawarkan biota laut beraneka ragam. Underwater World of Raja Ampat Menjadi jantung segitiga terumbu karang dunia, memiliki 533 spesies karang dan 1320 spesies ikan (data Nature Concervancy Indonesia).

Di akhir Desember tahun 2012, saya berkesempatan mengunjungi Raja Ampat. Melakukan penyelaman di beberapa titik dan mengambil beberapa frame foto bawah laut Raja Ampat. Semoga bisa menawarkan daya tarik bagi kawan-kawan untuk mengunjungi Raja Ampat, underwater paradise of the world. 

 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Pemandangan iconic Raja Ampat diambil dari Puncak Wayag, menuju Puncak Wayag dapat menggunakan kapal dari Waisai. Perjalanan dari Waisai menuju Wayag dapat ditempuh lebih kurang 2,5 jam.

 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Warna-warni terumbu karang di Raja Ampat. Kawasan ini memiliki spesies ikan dan terumbu karang yang lengkap.

 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Schooling Midnight Snapper dan Schooling Fusliers di dive site Raja Ampat, tak jauh dari Pulau Mansuar.

 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Perkawinan Nudibranch di bawah laut Raja Ampat, menjadi salah satu momen yang sangat berharga saat saya menyelam di perairan Raja Ampat, Papua.

 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Penyu Hijau yang dalam bahasa latin disebut Chelonia Mydas, berenang di atas hardcoral titik penyelaman Mike's Point.

 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Ikan Buntal di perairan Raja Ampat, menjadi salah satu ikan paling beracun di dunia dan bisa ditemukan di bawah laut Raja Ampat.
 Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat
Tube Worm atau cacing tabung saat menyelam di Blue Magic Spot tak jauh dari Pulau Mansuar.

Reef Manta di Manta Point, Raja Ampat. Saat melakukan penyelaman di Manta Point, kami bertemu dengan Manta hingga lima ekor jumlahnya. Pengalaman yang sangat menarik.

Demikian foto-foto bawah laut Raja Ampat, semoga bisa dinikmati dan melepas rindu untuk datang atau kembali mengunjungi Raja Ampat, Papua Barat - Indonesia.

Pink Beach

Kapal berenti tak jauh dari bibir Pantai, orang mengenalnya dengan sebutan Pantai Merah tapi dalam brosur-brosur wisata tertulis Pink Beach. Letaknya di kawasan Taman Nasional Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat. Pesona Pink Beach saya ketahui dari seorang teman yang mengunjungi komodo dua tahun lalu. Dengan antusias dia bercerita tentang terumbu karang indah, pesona bawah laut yang luar biasa, beraneka ragam ikan hidup mendiami bawah lautnya, oh iya tak lupa pula dia berjemur menghitamkan kulitnya. Sekelumit cerita tentang Pink Beach tak seketika membangkitkan gairah saya untuk mengunjunginya, toh rata-rata pantai di Indonesia memang begitu adanya.

Pink beach, Soft Coral, blue Dot Sting Ray, Clown Fish, Labuan Bajo, Flores, Komodo, Rinca, Manggarai, Manta Point, 5.jpg
Bawah laut Pink Beach yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai jenis ikan. 


Kapal melepas jangkar, agak jauh dari tempat terumbu karang. Memang benar, di salah satu sudur pantai di pasang tanda melarang melepas jangkar. Hal ini untuk mengantisipasi patahnya karang akibat terkena jangkar kapal. Ini menjadi masalah utama di Pink Beach. Banyak kapal yang datang, namun ketersedian moring tidak mampu mencukupi kapasitas kapal yang sandar. Moring yang terbatas inilah yang dijadikan alasan mau tidak mau awak kapal melepas jangkar kelaut.

Saya melihat-lihat ke sisi bawah kapal, memastikan dalamnya berapa meter. "Bapak, ini laut punya kedalaman berapa bapak ?" Pak Sergios bercakap hanya dua hingga tiga meter, ini artinya saya tenggelam jika dibandingkan dengan tinggi badan. Safety First, saya memutuskan untuk mengambil pelampung. Terlihat tidak laki memang, berenang di pantai seindah ini menggunakan pelampung. Dan yang paling memalukan bukan soal berenang pakai pelampung, vins atau kaki katak yang tersedia untuk ukuran saya berwarna pink. Sempurna sudah dengan warna pantainya, Pink Beach, Pink Vins and Pink Boy.

Kawan, saya lahir di pegunungan di sebuah kampung kecil di pedalaman Sumatra Barat. Nenek saya berjualan makanan ringan, kakek saya agen komoditi mereka berdua membesarkan saya. Saya kecil jauh dari orang tua, bertemupun mungkin dalam hitungan bulan. Tak ada yang  mau mengajarkan saya berenang apalagi berkuda dan berperang sesuai ajaran Nabi Muhammad. Saya kecil menyeburkan diri di tempat dangkal jika teman-teman mulai berenang ditempat dalam. Kebetulan, setiap sore arena bermain kami adalah sungai. 4 Kilometer jaraknya dari rumah kami tinggal. Airnya mengalir dari hutan-hutan di Gunung Tandikek dan Gunung Singgalang, alirannya membelah Malalak, Tandikek, Gunung Tigo, Nago Baliah, Lubuak Napa, Sungai Sariak dan bermuara di Samudra Hindia. Tak salah jika saya berenang menggunakan pelampung, saya bisa mengapung dan berenang tapi tidak bisa berlama-lama. Saya padahal kurus, tapi berat jika masuk di air. Gaya andalan saya berenang adalah gaya batu, menyebur dan tenggelam.

Pink beach, Soft Coral, blue Dot Sting Ray, Clown Fish, Labuan Bajo, Flores, Komodo, Rinca, Manggarai, Manta Point
Terumbu karang dari genus Acropora menghiasi perairan di Pink Beach. Berbagai jenis terumbu karang hidup dengan nyaman dibawah laut Pink Beach.


Saya berenang menjauh dari kapal yang membawa kami berkeliling di perairan Komodo. Saya melimpir ke arah pantai, melewati berbagi jenis terumbu karang yang ada. Banyak sekali ada Scorpionfish, Blur Ribbon Eels, Crocodile Fish, Nudibranchs dan saya tidak bisa sebutkan satu persatu jenis lainnya. Yang paling menarik adalah soft coral, bergoyang-goyang terkena arus laut. Kadang dari bailik coral tiba-tiba muncul ikan bermulut mewek. Wajah ikan itu lucu tetapi jika diperhatikan kadang-kadang menyeramkan. Matanya membelalak besar, warnanya biru. Panjangnya hanya sekitar 30an senti, tak sebesar Mola-Mola diperairan Bali. Tapi saya senang berenang dengan ikan ini.

Di Pink Beach ini terumbu karang hidup bahkan hingga ketepi pantai. Air disini jernih, pantainya putih, jika dilihat dari kejauhan warnanya biru jernih. Mencapai pantai saya hanya duduk berjemur. Mengambil segenggam pasir yang dari kejauhan terlihat merah. Butiran-butiran merah yang terkandung di pasir menjadikan pantai ini terlihat merah dari kejauhan.

Saya kembali memasang Vins dan Google, berenang menyusuri taman bawah laut. Kali ini saya sedikit leyeh-leyeh. Bergerak ke arah kiri menjauh dari kapal. Perairan komodo memang menjadi habitatnya binatang laut yang bervariasi, dan akhirnya saya menjumpai Bluespotted Stingray. Salah satu jenis ikan berbahaya dan mematikan diperairan. Ekornya ditumbuhi duri-duri serta alat penyengat seperti pisau dibagian ekor. Karena kedangkalan ilmu saya mengenai ikan, saya malah berenang mengejar ikan lucu.

Bluespotted Stingray, Pink beach, Soft Coral, blue Dot Sting Ray, Clown Fish, Labuan Bajo, Flores, Komodo, Rinca, Manggarai, Manta Point
Bluespotted Stingray salah satu jenis ikan yang berbahaya.



Saya berusaha berenang mengejar Bluespotted Stingray, namun usaha itu tidak berbuah hasil. Ikan ini bersembunyi dibawah terumbu karang, pemalu. Saya kembali ke arah kapal. Berteriak kepada Pak Sergios kalau saya menemui Mantai di laut Pink Beach. Meski tidak pergi ke Manta Point yang menjadi spot terbaik untuk menyaksikan Manta. Saya baru mengetahui setelah tiba di Jakarta, saat seorang kawan memberi tahu kalau ini bukan Manta tetapi Bluespotted Stingray dengan ekor berbahaya.

Tiba dikapal saya menyiram diri dengan air tawar yang tersedia di kapa. Rata-rata kapal yang digunakan untuk menegelilingi Komodo didesain sedemikian rupa untuk kenyamanan para penumpangnya. Tersedia kamar tidur untuk yang ingin berkeliling Komodo beberapa hari, air tawar, serta meja makan dan kursi untuk bersantai. Kapal saya terlalu besar untuk ukuran dua orang tamu yang mengelilingi Komodo. Banyak juga pejalan yang berlayar dari Lombok menuju Komodo. Diatas laut selama beberapa hari, tentunya jika mengambil jenis perjalanan ini akan memberikan banyak pengalaman lebih bagi para pejalan.

Dari Pink Beach kapal kami beranjak menuju Pulau Rinca, diperjalanan menuju Pulau Rinca kami menyantap makan siang. Diatas laut Komodo, saya mengucap pisah ke hamparan pasir merahmu.

Pesona Labuan Bajo Komodo

Baling-baling pesawat berputar semakin cepat. Dari kokpit, pilot menambah laju pesawat propoler ATR 72-500 produksi French-Italian Aircraft Manufactures ATR. Saya terpaku saat lajunya meninggalkan daratan Pulau Flores, sementara Bandara Komodo Labuan bajo terlihat semakin kecil saja. Saat pesawat mendongak ke atas, yang tersisa sekarang hamparan pemandangan indah. Perbukitan menguning, jelas saja musim kemarau berkepanjangan menyisakan rumput-rumput kering. Dari kejauhan hamparan keindahan lanskap perbukitan dipadu dengan lautan biru menjadi penyejuk mata sesaat pesawat lepas landas. Saya tidak mau ketinggalam, visual Labuan Bajo Komodo dari udara saya tampilkan untuk pelepas mimpi bagi kawan pejalan yang sudah ataupun akan mengunjungi Pulau Komodo maupun daratan Flores.

Labuan Bajo; Flores; Komodo; Rinca; Manggarai; Manta Point; Pink Beach; Batu Cermin; Cunca Wulan; Cunca Rami; Kota laboan Bajo; Obyek Wisata Labuan Bajo; Pulau Komodo; Pulau Rinca; Gili Laba; Pantai Merah; Manta; Diving Komodo; Sailing Komodo; Flores Overland; Flores From Above; Kanawa; Pulau Bidadari; Resort in Labuan Bajo; Bacpacking to Komodo
Barisan perbukitan yang diapit oleh laut indah menjadi pemandangan sesaat pesawat lepas landas. Data dari Taman Nasional Komodo yang dilansir dilaman Kementerian Kehutanan memperkirakan Taman Nasional Komodo bagian barat terbentuk sekitar 130 juta tahun yang lalu pada era Jurasic.
Flores serta pulau-pulau di Taman Nasional Komodo terbentuk dari proses geologi yang panjang. Geografisnya yang berada antara lempeng Sahul dan Sunda menjadikan kawasan ini rentan akan gesekan. Kejadian letupan vulkanis membuat kawasan disekitar komodo Terangkat. Begitu pula dengan terjadinya proses pengangkatan dasar karang dilautan, proses letupan vulkanis masa silamlah yang menjadikan daerah ini begitu mempesona seperti sekarang ini. Banyak ahli mengatakan kejadian ini terjadi di era jurasic sekitar 130 juta tahun silam, sementara untuk kawasan timur Komodo diperkirakan proses vulkanis terjadi di era eosin sekitar 43 juta tahun silam.

Bukit-bukit di kawasan Komodo menjulang tinggi menyisakan panorama alam yang luar biasa. Perpaduan tanah bebatuan ditumbuhi rerumputan, disebagian aea beberapa pohon tumbuh. Sementara dikedalaman lautnya aneka terumbu karang menghiasi laut jernih, disinilah tempat hidup berbagai satwa laut.

Labuan Bajo; Flores; Komodo; Rinca; Manggarai; Manta Point; Pink Beach; Batu Cermin; Cunca Wulan; Cunca Rami; Kota laboan Bajo; Obyek Wisata Labuan Bajo; Pulau Komodo; Pulau Rinca; Gili Laba; Pantai Merah; Manta; Diving Komodo; Sailing Komodo; Flores Overland; Flores From Above; Kanawa; Pulau Bidadari; Resort in Labuan Bajo; Bacpacking to Komodo
Topografi di Taman Nasional Komodo berupa perbukitan yang ditumbuhi rerumputan. Di beberapa tempat, perbukitan langsung berbatasan dengan laut. Puncak tertinggi di kawasan Taman Nasional Komodo adalah Gunung Satalibo 735 mdpl yang terletak di Pulau Komodo.



Hal lain yang sangat menarik untuk mengamati kawasan Komodo dari udara adalah keindahan lautnya. Dari udara kita bisa melihat hamparan pantai berpasir putih dihiasi laut hijau jernih dan terumbu karang terhampar jelas. Saya mengambil nafas sejenak menyaksikan pemandangan alam ini. Indonesia memang menjadi surga bahari di bumi ini. Di negeri ini, segitiga terumbu karang dunia ada. Data yang dilansir tahun 1999 oleh United Nations Environment Programme (UNEP)-World Conservation Monitoring Centre (WCMC) dan Global Coral Reef Distribution menyebutkan bahwa 18% karang dunia ada di Indonesia. 

Di komodo misalnya, terumbu karang beraneka ragam serta hewan bawah laut yang berbagai macam rupa menjadi daya tarik para peneliti, ilmuwan, pelancong serta penggermar kegiatan bawah laut untuk menghabiskan diri. Lebih kurang ada 35 dive site di kawasan ini berdasarkan informasi dari dive-the-world.com 


Labuan Bajo; Flores; Komodo; Rinca; Manggarai; Manta Point; Pink Beach; Batu Cermin; Cunca Wulan; Cunca Rami; Kota laboan Bajo; Obyek Wisata Labuan Bajo; Pulau Komodo; Pulau Rinca; Gili Laba; Pantai Merah; Manta; Diving Komodo; Sailing Komodo; Flores Overland; Flores From Above; Kanawa; Pulau Bidadari; Resort in Labuan Bajo; Bacpacking to Komodo
Pesona daratan dan laut di Pulau Komodo. Terlihat melintas speed boat ditepi hamparan karang yang berbatasan langsung dengan laut dalam.
Kawasan ini pula mashyur dengan bintang purbanya, Komodo yang masih hidup hingga sekarang. Banyak penelitian yang mengkaji proses evolusi binatang ini. Para ahli berdatangan untuk meneliti proses bertahan komodo dari ribuan tahun silam. Sebagai wisatawan, mengunjungi pulau komodo menjadi salah satu kebanggan. Bukan saja melihat binatang purba yang masih hidup hingga sekarang, tetapi lebih dari itu. Kita mengetahui bahwa negara kita dengan kekayaan yang sangat luar biasa sehendaknya harus dijaga kelestariaanya.

Saya senang sekali bisa mengunjungi dua pulau yang menjadi habitat asli komodo, yakni Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Komodo hidup bebas berkeliaran, jika panas terlalu terik komodo berleyeh-leyeh. Saya mencap binatang ini sebagai binatang pemalas.

Labuan Bajo; Flores; Komodo; Rinca; Manggarai; Manta Point; Pink Beach; Batu Cermin; Cunca Wulan; Cunca Rami; Kota laboan Bajo; Obyek Wisata Labuan Bajo; Pulau Komodo; Pulau Rinca; Gili Laba; Pantai Merah; Manta; Diving Komodo; Sailing Komodo; Flores Overland; Flores From Above; Kanawa; Pulau Bidadari; Resort in Labuan Bajo; Bacpacking to Komodo
Jalan tanah menuju Desa Rangko, membelah bukit tandus. Di kejauhan Pulau Kelapa, Pulau Sebayur Besar, Pulau Sebayur Kecil dan Pulau Kanawa mengapit Labuan bajo.

























Pesawat semakin melaju meninggalkan gugusan pulau Komodo. Lajunya menggeruduk saat menabrak awan. Namun bayangan alam komodo tak ingin terbang meninggalkan pikiran. Saya mencoba mengingat setiap jengkal kenangan disana. Menyimpannya dan berdoa kelak suatu saat saya kembali menginjakkan kaki di tempat Ora, sang komodo, hidup hingga sekarang. []

Labuan Bajo; Flores; Komodo; Rinca; Manggarai; Manta Point; Pink Beach; Batu Cermin; Cunca Wulan; Cunca Rami; Kota laboan Bajo; Obyek Wisata Labuan Bajo; Pulau Komodo; Pulau Rinca; Gili Laba; Pantai Merah; Manta; Diving Komodo; Sailing Komodo; Flores Overland; Flores From Above; Kanawa; Pulau Bidadari; Resort in Labuan Bajo; Bacpacking to Komodo
Awan menutupi sebagian daratan Pulau Rinca. Sementara pesawat ATR 72-500 melaju membelah laut Flores.


Mendaki Gunung Rinjani, Menuju Taman Bumi

      Suatu hari di tahun 1864, terdorong keinginan yang kuat untuk menggapai puncak singasana Dewi Anjani, Zoolinger menembus rimba hutan. Kala itu Rinjani belumlah menjadi kawasan Taman Nasional seperti sekarang. Jalur pendakian yang sangat sulit, rimba belantara yang harus dibuka, serta mitos tempat dimana para jin bersemayam menjadikan pendakian Zoolinger seorang ahli botani kerkebangsaan Belanda tersebut tersendat-sendat. Zoolinger tidak sendiri, bersamanya ikut serta porter lokal yang membawa perlengkapan penelitian. Tak mudah mencapai puncak Rinjani, persediaan air yang tidak memadai menjadikan angan untuk berdiri di puncak Anjani sirna sudah. Namun demikian Zoolinger  tetap tercatat sebagai pendaki pertama di Gunung Rinjani.

Mount Rinjani; Gunung Rinjani; Volcano; Treking to Rinjani; Rinjani Photos; Segara Anak Lake; Danau Segara Anak; Sasak Tribe; Mendaki Gunung Rinjani; Lombok; Nusa Tenggara; Rinjani Base Camp; Taman Nasional Gunung Rinjani; Mount Rinjani National Park; Sembalun Trek; Senaru Trek; Rinjani Trek Management Board; Porter Rinjani; Jalur Senaru; Jalur Sembalun; Treking to Rinjani; Hike to Rinjani; Pemandangan Rinjani; foto Rinjani; Jalur Pendakian Gunung Rinjani; Savana; Cemara; Gunung Api; Volcano; Rute pendakian rinjani; Puncak Rinjani; Vegetasi Rinjani; Nusa Tenggara Barat; Titik Tertinggi; Lombok Guide; Guide to Hike Rinjani; Puncak Anjani; Dewi Anjani; Plawangan Sembalun; Plawangan Senaru; Tengengean; Forest; Lake; Hutan; Hill; Bukit; Camp Site; Fishing; Memancing; Landscape Rinjani; Stone; Batu; Indonesia Volcano; Place to Visit In Indonesia; Mataram; Mountain Photos; Volcanoes Photo; Indonesia Photography; Travel Photography; Best Indonesia Photos
Pemandangan Danau Segara Anak dan Puncak Anjani dilihat dari Plawangan Senaru. Gunung Rinjani dengan ketinggian 3726 mdpl merupakan gunung api tertinggi kedua di Indonesia. Bentang alam akibat proses tektonik vulkanik ribuan tahun silam menyisakan panorama alam yang menawan di gunung yang menjadi tenmpat suci dan keramat masyarakat Suku Sasak serta warga Hindu Bali.
      
      Dua abad setelah pendakian manusia ke Gunung Rinjani, saya bersama empat teman lainnya mendapat peruntungan. Tiket terbang Jakarta - Lombok PP serta hal yang sangat menyenangkan sudah menanti kami. Mengikuti jejak Zoolinger mendaki Gunung Rinjani, targetnya tentu saja Puncak Anjani diketinggian 3726 mdpl. Adalah Loreal Men Expert bersama dengan National Geographic Indonesia mengadakan kegiatan #blacktrail, sebuah program petualangan yang memberi edukasi dan membuka mata para pesertanya untuk mengenal Indonesia lebih jauh, belajar budaya lokal, berinteraksi dengan masyarakat dan melakukan perjalanan cerdik yang tentu saja memberi esensi perjalanan yang selama ini belum sepenuhnya saya dan teman-teman lakukan. Turut pula bersama kami Pak Rifki, dari Indecon (Indonesia Ecotourism Network) sebuah organisasi yang malang-melintang dalam pengelolaan destinasi berbasis ekowisata yang tentu saja memberi banyak manfaat bagi penduduk lokal. Nicholas Saputra, idola saya yang membintangi film Soe Hok Gie, Janji Joni dan sederet film hebat lainnya. Cahyo Alkantana videographer kawakan, karyanya sudah mendunia dan menjadikan pria 49 tahun kelahiran Yogyakarta ini menjadi petualang yang paling diperhitungkan di negeri ini.

***

    Kami membuka pagi pertama di Desa Sembalun, yang menjadi salah satu jalur pendakian yang ada di Rinjani selain Senaru dan Torean. Porter kami pagi ini menyajikan kopi dengan takaran pas, dan tentu saja pancake berstandar internasional dengan cita rasa lezat buatan penduduk Sembalun, sebuah kemajuan besar. Rinjani Trek Management Board (RTMB) adalah pihak yang sangat berjasa dalam mengedukasi para porter yang kesemuanya merupakan warga lokal. Usaha edukasi ini tentu saja membawa dampak besar terhadap pengelolaan kawasan Rinjani, tidak hanya dampak nyata dalam pelestarian kawasan alam, namun juga dampak ekonomi bagi warga lokal.

    "Dulu kalau kita rebus air, atau memasak nasi. Itu semua peralatan harus dijaga. Kalau ditinggalin sebentar, bisa hilang semua peralatan masak, bahkan panci yang lagi dimasak nasipun ikut raib." tutur Cahyo Alkantana mengenang betapa rawannya Rinjani saat pendakiannya tahun 1982.  Cerita-cerita seram itu pun saya dengar saat briefing sebelum keberangkatan menuju Rinjani di kantor Loreak Men Expert, tenda yang hilang dan pemalakan yang dilakukan warga lokal.

    Namun Pak Rifki dari Indecon meyakinkan sekali lagi bahwa Rinjani silam sudah melambung meninggalkan catatan-catatan hitamnya "Rinjani sekarang sudah sangat aman, masyarakat lokal diberdayakan sebagai porter. Pemasukan mereka sebagai porter bisa menghidupi keluarga. Jika musim pendakian ditutup, masyakat memancing ikan atau berladang."

    Cerita mengenai Rinjani pun menguap bersama sinar matahari pagi yang semakin meninggalkan cakrawala timur.  Pukul tujuh, semua porter sudah berkumpul menyiapkan barang bawaanya masing-masing. Kami para peserta blacktrail tentu juga mengambil persiapan untuk pendakian panjang hari ini. Guide kami, Abdul seorang pria lokal lulusan Sastra Inggris dari Universitas Mataram menjelaskan bahwa pendakian hari ini akan ditempuh dalam waktu lebih kurang 10 jam, tergantung kecepatan perjalanan kami.

    Kami menyinggahi kantor Taman Nasional Gunung Rinjani di Desa Sembalun. Guide kami menerangkan jalur pendakian yang akan dilewati hari ini. Kemudian masing-masing kami diberi tanda masuk untuk para pendaki. Tanda masuk ini bertarif Rp 10.000 untuk pendaki domestik dan Rp 150.000 untuk pendaki berkewarganegaraan asing.  Kami menggantungkan tanda masuk ini di tas yang kami bawa. Pendakian-pun dimulai.

***

    Kami melewati jalanan berbatu, perkebunan penduduk. Dikiri-kanan rumput-rumput menguning. Tanah berbatu yang kami lewati menerbangkan debu-nya saat telapak sepatu kami menginjak tanah agak keras. Pohon-pohon mengering, yang tersisa hanya rantingnya saja. Daunnya mungkin sudah menyatu dengan tanah. Kami berjalan semakin cepat beriringan dengan sengatan matahari.

    Kami berjalan mengejar Pos 1 Sembalun diketinggian 1300 mdpl. Dari pintu Sembalun menuju POs 1 perjalanan melintasi padang sabana dan tentu saja sangat menguras tenaga. Meskpiun datar, namun sabana Sembalun menyiksa kulit. Panas matahari menembak kulit kami secara langsung, tanpa ada tempat berteduh mau tidak mau kami harus melangkah lebih cepat. Sebelum matahari tepat diubun-ubun kami sudah menginjakkan kaki di Pos 1 Sembalun sudah dipenuhi para pendaki lain dari berbagai daerah termasuk turis mancanegara .

    Perjalanan beranjak dari ketinggian 1300 mdpl menuju 1500mdpl. Tujuan kami adalah Pos 2 Tengengean. Di pos ini kami beristirahat menunggu makan yang sedang disiapkan porter. Hampir semua para pendaki menjadikan Pos Tengengean sebagai tempat untuk menggelar tikar dan kompor, memasak makanan untuk asupan energi jalur pendakian berikutnya. Jalur pendakian yang menanjak menuju Plawangan Sembalun melewati jalur pendakian yang sangat menyiksa, bukit penyesalan dan bukit penyiksaan.

Mount Rinjani; Gunung Rinjani; Volcano; Treking to Rinjani; Rinjani Photos; Segara Anak Lake; Danau Segara Anak; Sasak Tribe; Mendaki Gunung Rinjani; Lombok; Nusa Tenggara; Rinjani Base Camp; Taman Nasional Gunung Rinjani; Mount Rinjani National Park; Sembalun Trek; Senaru Trek; Rinjani Trek Management Board; Porter Rinjani; Jalur Senaru; Jalur Sembalun; Treking to Rinjani; Hike to Rinjani; Pemandangan Rinjani; foto Rinjani; Jalur Pendakian Gunung Rinjani; Savana; Cemara; Gunung Api; Volcano; Rute pendakian rinjani; Puncak Rinjani; Vegetasi Rinjani; Nusa Tenggara Barat; Titik Tertinggi; Lombok Guide; Guide to Hike Rinjani; Puncak Anjani; Dewi Anjani; Plawangan Sembalun; Plawangan Senaru; Tengengean; Forest; Lake; Hutan; Hill; Bukit; Camp Site; Fishing; Memancing; Landscape Rinjani; Stone; Batu; Indonesia Volcano; Place to Visit In Indonesia; Mataram; Mountain Photos; Volcanoes Photo; Indonesia Photography; Travel Photography; Best Indonesia Photos
Porter melewati padang sabana Sembalun menuju Plawangan Sembalun. Kehadiran porter dibawah naungan Rinjani Trek Management Board sangat membantu serta memudahkan kegiatan pendakian bagi para wisatawan. Melalui edukasi yang diadakan, porter serta guide di Gunung Rinjani sudah memiliki standar pelayanan bagi para pendaki.
 
     Perjalanan dari Pos 2 menuju Plawangan Sembalun menyisakan pelajaran berharga bagi para pendaki. Ini soal alam yang tak mungkin untuk dilawan apalagi ditaklukan. Bayang-bayang bukit menghitam hangus akibat kebakaran lahan menjadi permasalahan baru bagi para pendaki. Di Rinjani, kebakaran adalah hal yang sangat rentan terjadi. Musim panas dalam waktu panjang mengeringkan rumput, mebuat tanah menjadi gersang. Gesekan-gesekan menimbulkan percikan api, membakar lahan dan menyebarkan asap-asap kebakaran yang sangat berbahaya. Alam bisa bersahabat dengan pendaki namun dengan seketika bisa menjadi lawan yang mematikan. Kebakaran perlu diwaspadai jika mendaki Rinjani saat musim panas, hal ini pulalah yang harusnya disadari para pendaki. Para pendaki perokok hendaknya memikirkan kembali efek dari kegiatan merokok yang mereka lakukan, begitu pula pendaki yang membuat unggun.

    Bukit penyesalan belum juga habis di daki, kami beristirahat sejenak di Pada Balong di ketinggian 1800mdpl. Saya tersandar ditumpukan batu, begitupun teman pendakian.

    "Jangan percaya tentang penyesalan yang datang di akhir. Disini penyesalan datang lebih awal, belum juga sampai di puncak Rinjani. Saya sudah menyesal..." seloroh Farli, seorang pendaki yang ikut dalam rombongan pendakian.

    Lewat Pada Balong, jalur semakin menanjak. Kami melewati tanah kering, dikiri kanan rerumputan kering menguning. Vegetasi dpenuhi pohon cemara gunung, paku gunung serta rereumputan. Kabut juga mulai menyentuh pucuk-pucuk kayu, menyisakan pemandangan hampa. Saya mengambil fokus untuk tidak melihat tanjakan tanah yang akan saya lewati. Hanya memandang kebawah, berusaha untuk berkonsentrasi melewati tanjakan-tanjakan. Konon cara ini adalah cara ampuh untuk menghilangkan frustasi melewati tanjakan. Fokus dan tatapan mata kebawah sedikit banyak mengurangi beban perasaan bahwa kita masih harus melewati tanjakan terjal.
   
    Sebelum senja kami menginjakkan kaki di area datar, ini belum Plawangan Sembalun yang menjadi tempat peristirahatan kami malam ini. Matahari senja bersinar kemerah-merahan dari balik gumpalan awan berhasil menghentikan langkah kami kemudian duduk menikmati matahari hilang dari penggungan bukit. "Di balik awan ini, Danau Segara Anak" Adjie menunjuk ke arah awan yang menggumpal menutupi cekungan yang dikelilingi bukit.  Matahari sudah berganti dengan gelap malam, kami mulai memasang jaket, sarung tangan, penutup kepala dan menyalakan senter menuju Plawangan Sembalun. Butuh waktu seitar 20 menit untuk tiba di Plawangan Sembalun.

Mount Rinjani; Gunung Rinjani; Volcano; Treking to Rinjani; Rinjani Photos; Segara Anak Lake; Danau Segara Anak; Sasak Tribe; Mendaki Gunung Rinjani; Lombok; Nusa Tenggara; Rinjani Base Camp; Taman Nasional Gunung Rinjani; Mount Rinjani National Park; Sembalun Trek; Senaru Trek; Rinjani Trek Management Board; Porter Rinjani; Jalur Senaru; Jalur Sembalun; Treking to Rinjani; Hike to Rinjani; Pemandangan Rinjani; foto Rinjani; Jalur Pendakian Gunung Rinjani; Savana; Cemara; Gunung Api; Volcano; Rute pendakian rinjani; Puncak Rinjani; Vegetasi Rinjani; Nusa Tenggara Barat; Titik Tertinggi; Lombok Guide; Guide to Hike Rinjani; Puncak Anjani; Dewi Anjani; Plawangan Sembalun; Plawangan Senaru; Tengengean; Forest; Lake; Hutan; Hill; Bukit; Camp Site; Fishing; Memancing; Landscape Rinjani; Stone; Batu; Indonesia Volcano; Place to Visit In Indonesia; Mataram; Mountain Photos; Volcanoes Photo; Indonesia Photography; Travel Photography; Best Indonesia Photos
Porter menyediakan makanan bagi para pendaki. Keseluruhan porter adalah warga lokal, sehingga kehadiran wisatawan yang mendaki menggunakan jasa porter turut membantu perekonomian masyarakat lokal.


 
    Sesampainya di Plawangan Sembalun, tenda sudah berdiri. Masing-masing tenda sudah terbentang matras dan sleeping bag yang akan menghangatkan kami malam ini. Teh hangat sudah tersedia untuk siap diminum, sementara makanan masih dimasak oleh para porter. Lagi-lagi saya dibuat kagum oleh kinerja porter yang bekerja luar biasa. Porter menjadi peringan beban para pendaki, terutama bagi para pendaki yang ingin menikmati jalur pendakian namun kesulitan untuk menyediakan tenaga lebih untuk membawa bekal maupun memasak makanan.

    Porter di Rinjani ibarat bidadari bagi para menusia yang dilanda asmara. Mereka memberikan totalitas pekerjaan untuk kenyamanan para pendaki. Pengelolaan Rinjani dan ketersedian porter yang berawasan tentunya patut dicontoh oleh gunug-gunung yang sudah dikelola ataupun yang akan dikelola untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata yang turut memberi pemasukan bagi masyarakat lokal. Bagi pendaki tentu saja ini akan sangat membantu, dengan membayar tarif porter maupun pemandu yang berkisar Rp 125.000 - 200.000 pendakian ke Puncak Rinjani bisa dilakukan dengan aman dan nyaman.

***

    Masih dinihari, diluar tenda beberapa tim pendakian sudah terbangun. Beberapa perlengkapan mulai dikemas, logistik, spanduk, perlengkapan pribadi pendakian dipastikan cukup tersedia. Hal yang paling penting tentu saja ketersedian penerangan yang cukup untuk summit kali ini. Pukul 02.30 kami mulai meninggalkan Plawangan Sembalun, tempat kami bermalam di ketinggian 2639 mdpl.

    Dari Plawangan Sembalun menuju puncak Rinjani diperkirakan memakan waktu 3 hingga 4 jam. Lagi-lagi semua tergantung kecepatan kita dalam berjalana. Menggapai puncak Rinjani bukan perkara mudah, tanah berdebu menjadi jalan pembuka perjalanan ke puncak. Belum lagi hembusan udara dingin yang menerpa semakin memberatkan langkah menuju puncak Rinjani. Beberapa diantara kami bahkan harus memupuskan harapannya untuk menggapai puncak Rinjani dan berbalik arah kembali ke Plawangan Sembalun.

    Saya bersama Firman Firdaus menjadi anggota tim yang terakhir menggapai puncak Rinjani. Meskipun tidak bisa menyaksikan matahari terbit di Puncak Anjani setidaknya kami masih bisa menyaksikan permainan warna alam di pagi hari dijalur pendakian menuju puncak. Kami baru menyentuh titik tertinggi di Pulau Lombok lewat pukul 8. Sementara anggota tim Adjie, Farli dan Renly sudah menyandarkan diri di balik batu puncak Rinjani.

    Sekarang kami berdiri di 3726 mdpl, jauh di seberang sana Gunung Agung tampak menjulang di balik awan. Sementara latar depan berupa Danau Segara Anak mulai ditutupi awan tipis. Menjadi kebanggan bagi kami bisa menggapai salah satu puncak tertinggi di negeri ini. Setidaknya kami mendaki lebih tinggi dari Zoolinger, kawan.

    Perjalanan kembali menuju Plawangan Sembalun termasuk cepat. Kami menuruni jalur bebatuan dan tanah dengan berlari. Jika kaki tidak kuat untuk menghentikan laju lari, hal termudah adalah menjatuhkan diri kemudian menahan laju dengan tapak sepatu. Tapi semua itu harus dilakukan dengan hati-hati, jika salah sedikit saja ganjarannya adalah jatuh ke jurang.

Mount Rinjani; Gunung Rinjani; Volcano; Treking to Rinjani; Rinjani Photos; Segara Anak Lake; Danau Segara Anak; Sasak Tribe; Mendaki Gunung Rinjani; Lombok; Nusa Tenggara; Rinjani Base Camp; Taman Nasional Gunung Rinjani; Mount Rinjani National Park; Sembalun Trek; Senaru Trek; Rinjani Trek Management Board; Porter Rinjani; Jalur Senaru; Jalur Sembalun; Treking to Rinjani; Hike to Rinjani; Pemandangan Rinjani; foto Rinjani; Jalur Pendakian Gunung Rinjani; Savana; Cemara; Gunung Api; Volcano; Rute pendakian rinjani; Puncak Rinjani; Vegetasi Rinjani; Nusa Tenggara Barat; Titik Tertinggi; Lombok Guide; Guide to Hike Rinjani; Puncak Anjani; Dewi Anjani; Plawangan Sembalun; Plawangan Senaru; Tengengean; Forest; Lake; Hutan; Hill; Bukit; Camp Site; Fishing; Memancing; Landscape Rinjani; Stone; Batu; Indonesia Volcano; Place to Visit In Indonesia; Mataram; Mountain Photos; Volcanoes Photo; Indonesia Photography; Travel Photography; Best Indonesia Photos
Proses vulkanis tektonis yang terjadi pada Gunung Rinjani  pada zaman tersier menyisakan lanskap yang luar biasa. Mendaki Gunung Rinjani tidak hanya memberikan pengalaman petualangan yang luar biasa, tapi lebih dari itu banyak hal yang dapat kita pelajari baik mengenai bentang alam Rinjani secara geologi, maupun belajar mengenal berbagai macam keanakaragaman hayati yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani ini.


  
Setibanya di Plawangan Sembalun kami membawa cerita bagi anggota tim yang membatalkan diri untuk summit. Cerita tentang kemauan, kerja keras dan kebersamaan. Cerita itu yang menyemangati kami tiba hingga di puncak. Apalagi yang lebih indah dari kebersamaan selain alam Rinjani yang memang benar-benar menawan ? Itu sudah.

***

    Rinjani merupakan Gunung Api bertipe Strato dengan Kaldera Berdanau ini diperkirakan memiliki tinggi 5000 mdpl pada zaman tersier (lebih dari 600.000 tahun lalu). Aktivitas tektonik vulkanik dalam skala besar mengambil andil besar dalam perubahan bentuk Rinjani serta munculnya kerucut Gunung Baru Jari (2376 mdpl). Aktivitas tektonik vulkanik Rinjani juga memunculkan kaldera luas menampung air, masyakat lokal menamainya Danau Segara Anak. Luas Danau ini mencapai 2400 m x 2800 m, dan menjadikan salah satu danau vulkanik aktif terbesar di bumi.

    Kami menuruni lereng bebatuan terjal, dari Plawangan Sembalun tempat kami bermalam tadi malam mata kaki kami bergerak menuju Danau Segara Anak. Sebuah Danau yang terbentuk akibat aktivitas Gunung Rinjani ribuan tahun silam. Menuruni Danau Segara Anak bukan perkara mudah, jalan berbatu yang kami turuni sulit sekali untuk dilewati. Namun kami tiba juga di Segara Anak, tempat kami bermalam kali ini tepat dipinggir Danau Segara Anak.

    Hamparan danaunya biru pekat gelap, di seberang menjulang Gunung Baru Jari lelap tanpa aktivitas. Tapi siapa yang tau diperut Gunung Baru Jari, mungkin saja dapur magmanya sedang mengolah lahar-lahar untuk dimuntahkan dalam waktu yang tidak bisa diprediksi. Bagi masayarakat lokal, Sasak yang hidup dalam Adat Watu Telu serta masrakat Hindu Bali menggangap Gunung Rinjani ini sebagai tempat suci dan tempat keramat dimana para dewa bersemayam. Tak salah jika dibulan tertentu masyarakat membawa sesajen ke Danau Segara untuk dipersembahkan kepada para dewa.

    Bagi para pendaki, Danau Segara Anak menjadi tempat favorit untuk merenggakan otot yang sudah dipaksa bekerja menggapai puncak. Tak terkecuali kami, tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda terdapat sumber mata air panas. Air nya mengalir deras, sumber air panasnya laksana kolam yang akan memanjakan setiap pendaki yang mandi. Kami berendam hingga gelap malam.

Mount Rinjani; Gunung Rinjani; Volcano; Treking to Rinjani; Rinjani Photos; Segara Anak Lake; Danau Segara Anak; Sasak Tribe; Mendaki Gunung Rinjani; Lombok; Nusa Tenggara; Rinjani Base Camp; Taman Nasional Gunung Rinjani; Mount Rinjani National Park; Sembalun Trek; Senaru Trek; Rinjani Trek Management Board; Porter Rinjani; Jalur Senaru; Jalur Sembalun; Treking to Rinjani; Hike to Rinjani; Pemandangan Rinjani; foto Rinjani; Jalur Pendakian Gunung Rinjani; Savana; Cemara; Gunung Api; Volcano; Rute pendakian rinjani; Puncak Rinjani; Vegetasi Rinjani; Nusa Tenggara Barat; Titik Tertinggi; Lombok Guide; Guide to Hike Rinjani; Puncak Anjani; Dewi Anjani; Plawangan Sembalun; Plawangan Senaru; Tengengean; Forest; Lake; Hutan; Hill; Bukit; Camp Site; Fishing; Memancing; Landscape Rinjani; Stone; Batu; Indonesia Volcano; Place to Visit In Indonesia; Mataram; Mountain Photos; Volcanoes Photo; Indonesia Photography; Travel Photography; Best Indonesia Photos
Pagi hari di Danau Segara Anak. Danau ini menjadi salah satu lokasi favorit para pendaki setelah turun dari puncak Rinjani. Danaunya menawarkan ikan segar yang bisa dipancing. Tak jauh dari danau ini terdapat sumber mata air panas alami.

   Danau Segara Anak juga memberi penghidupan bagi penduduk lokal. Di kedalaman danau nya hidup berbagai jenis ikan, penduduk lokal pergi memancing ikan di danau. Hasilnya kemudian dijual di pasar tradisional. Pendaki pun bisa menangkap ikan didanau ini.

***

    Semalam di Danau Segara Anak, esoknya ucapan pisah harus terjadi antara kami dan Danau Segara anak, begitu pula dengan Gunung Rinjani. Perjalanan turun akan ditempuh dalam waktu 10-12 jam melewati jalur Senaru. Dari Danau Segara Anak, kami harus tertatih mendaki tanjakan batu hingga tiba di Plawangan Senaru. Di perjalanan, kami tersenyum miris saat seorang teman hampir saja menginjak kotoran manusia yang ditutupi tisu. Saya berpikir dalam hati, kadang-kadang majunya peradaban tidak ikut serta membuat pikiran manusia maju. Saya yakin kotoran tersebut bukan dihasilkan oleh warga lokal jika melihat ukuran dan tata cara membersihkan kotorannya. Saya yakin ini adalah kotoran pendaki asing yag membuang kotoran sembarangan bahkan ada kotoran yang dibuang di jalur pendakian. Meskipun pendaki asing hidup dalam negara yang maju dalam peradaban, namun ketidak tahuan mereka soal polusi kotoran yang mereka buang serta alat pembersih berupa tisu tentunya sangat mengganggu dan merusak lingkungan. Perlu adanya edukasi yang dilakukan oleh guide maupun porter yang menemani mereka, minimal disetiap porter disediakan alat penggali tanah. Jadi setiap pendaki yang hendak buang air besar harus menggali tanah dan menutupi kotoran mereka.

    Dari Plawangan Senaru perjalanan melewati turunan, awalnya kami berjalan melewati pinggir bukit dengan pemandangan indah bukit teletubies. Kemudian memasuki hutan yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Pendakian Rinjani ini penuh dengan berbagai macam vegetasi, mulai dari padang saban luas saat kami melewati Sembalun, jalur bebatuan dengan taman edelwis yang sangat indah saat mendaki ke puncak Rinjani, Danau Segara Anak yang bisa menjadi perpustakaan yang kaya akan ilmu soal alam, serta hutan rimba saat kami menuruni jalur Senaru.

    Semua itu tersaji indah di Rinjani yang sudah dikelola dengan sangat baik. Rinjani yang menawarkan berbagai macam kesenangan bagi wisatawan, menjadi ruang kelas bagi para pencari ilmu alam, menjadi sumber penghidupan bagi penduduk lokal dan tempat bagi Suku Sasak dan Masayarakt Hindu Bali untuk memberikan sesajen bagi para Dewa Mereka. Sempurna sudah Taman Nasional Gunung Rinjani.

    Tahun 2008, Rinjani pernah diusulkan untuk menjadi Taman Bumi (Geopark) ke UNESCO. Rinjani punya aset untuk menjadi Taman Bumi laksana Batur di Pulau Bali yang sudah lebih dulu menyandang predikat tersebut Bentang alam yang terjadi melalui proses panjang yang sarat akan ilmu pengetahuan, lanskap menawan, masyakat lokal yang menjadikan Rinjani sebagai tempat suci, serta pengelolaan Rinjani yang sudah sangat baik hendaknya membuka mata kita bagaiman suatu destinasi itu dikelola secara baik, bukan hanya untuk keuntungan sekarang tapi juga untuk keuntungan berkelanjutan bukan hanya dari segi ekonomi tetapi juga dari segi pelestarian alam. Rinjani sudah siap melangkah ke Taman Bumi.

Tiba di gerbang Senaru setelah perjalanan turun selama 11 Jam.

    Perjalanan kami mendaki Rinjani berakhir saat malam sudah menggumpal pekat pintu gerbang Senaru. Kami beristirahat sejenak dan mengucap sukur atas pendakian ini. Sampai jumpa lagi Rinjani, semoga kita bisa melangkah ke Taman Bumi. []