Menuju Desa Waerebo Demi Menjaga Mbaru Niang

Langit jingga baru saja berganti kelam, ronanya hilang seiring datangnya malam. Dari kejauhan bayang bukit menjulang di Pulau Mulas masih setia menemani ombak yang memecah batuan di tepi laut Dintor. Hanya suara jangkrik yang menyeruak dari balik rerumputan. Daratan Flores memberikan kedamaian hari ini, sebuah pergantian terang ke kelam nan sempurna. Tadi sore saya tiba disini setelah menepuh perjalanan menggunakan ojek tiga jam lamanya dari Ruteng. Jalanan licin, hujan mengguyur kota sedari pagi dan mencapai puncaknya saat siang. Pahlawan saya, Pak Alex, tukang ojek warga Desa Cancar berumur 44 tahun telah mengantarkan saya dengan baik ke Dintor nan damai. Bersamanya saya menempu jalur berliku, menuruni gunung, melewati jalanan ditengah sawah hingga akhirnya tiba di sini.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang di Desa Waerebo saat matahari baru saja beranjak naik. Dikelilingi oleh barisan pegunungan. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Saya masih duduk dikursi kayu sebuah penginapan milik Martinus Anggo. Saya bermalam di sini, Dintor, sebuah kampung kecil di Desa Satar Lenda. "Nanti malam makan disajikan seadanya, Mas. Dengan menu sehari-hari yang kami makan disini," ujar Pak Martin. "Kalau mau beristirahat atau mau mandi, silahkan, Mas," sambungnya dengan ramah. 

   Penginapannya terletak di tengah sawah, tepat didepan kamar, petak sawah baru panen menjadi halamannya sementara dibelakang kamar mengalir sungai kecil yang menjadi sumber air bagi penduduk. Ketenangan seperti ini jamak ditemukan di Pulau Flores. Terbentang sepanjang 350 kilometer, pulau ini menawarkan beragam daya tarik alam, budaya, dan bahari yang mengundang siapapun untuk bertandang, termasuk saya. 

  Satar Lenda belum sepenuhnya dialiri listrik, namun sebagian penduduk membeli generator untuk penerangan, adapula yang membeli secara bersama-sama dan hasilnya dinikmati untuk beberapa kepala rumah tangga. Beruntung di penginapan ini tersedia generator meskipun hanya hidup beberapa jam saja. Walhasil diantara kegelapan malam Satar Lenda, saya masih bisa menikmati penerangan sebelum kantuk mulai mendera.

    Adalah Kampung Waerebo yang akan menjadi persinggahan saya untuk mengenal dan mempelajari budaya lokal negeri ini. Setelah penerbangan panjang dari  Jakarta menuju Labuan Bajo di Pulau Flores, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan antar kota berupa bus kecil menuju Ruteng lalu ojek untuk tiba di Dintor. "Nanti, Kasih akan menemangi perjalanan ke Waerebo," Martin menjelaskan. Besok pagi saya akan berjalanan kaki lebih kurang empat jam dari Denge menuju Waerebo, kampung dimana Mbaru Niang masih dipertahankan demi menjaga keberlangsungan peradaban. Sebuah konsistensi menjaga warisan leluhur, Mbaru Niang, mengantarkan nama Indonesia, tanah air kita mendapat penghargaan Award of Excellence, sebuah penghargaan tertinggi di kancah dunia dalam Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage oleh UNESCO.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Matahari terbenam di Dintor dengan latar Nusa Mulas. (Foto Yunaidi Joepoet)
***

    Kasih (19) memacu sepeda motor menuju kampung Denge, di sadel belakang saya duduk dengan was-was. Jalanan Desa Satar Lenda belumlah bagus, di beberapa bagian lubang menganga. Bahu kanan jalan berbatasan langsung dengan jurang dalam, sementara dikiri petak sawah dibiarkan terbengkalai pertanda musim tanam belum dimulai, tampak pula gerombolan kerbau setia bercengkerama dengan rumput yang makin menutupi petakan sawah. "Ini orang Waerebo, Mas. Sekarang sudah pindah kesini supaya lebih dekat anaknya untuk bersekolah," Kasih menunju salam satu rumah. Laju motor menderu saat melewati tanjakan, sepertinya tenaganya semakin terkuras. Namun Kasih sepertinya tidak mengerti saya begitu sengsara menumpangi motor ini, terlebih saat roda sepeda motor menghantam bebatuan. Beberapa kali saya mengaduh namun kecepatan motor masih saja dipacu, deru mesinnya bersemangat mengimbangi kicauan Kasih soal perjalanan yang akan kami lewati menuju Waerebo.

    Sepeda motor kami berhenti di Denge, kampung terakhir yang bisa ditempuh dengan kendaraan. Di kampung ini terdapat Sekolah Dasar Katolik Denge yang didirikan tahun 1929 saat Belanda masih menjajah Indonesia. Di sekolah inilah anak-anak dari Waerebo, Denge, Kombo dan kampung sekitar menimba ilmu. Bangunannya terdiri dari dua bagian, paling depan bangunan berdinding bata sedangkan bagian belakang bangunan tua dari kayu mesih setia melindungi murid dari sengatan matahari ataupun tetasan hujan.
    
     Pagi itu para siswi menggunakan sapu lidi sibuk membersihkan pekarangan, Elizabeth (9) murid yang duduk di kelas 3 mendapat bagian untuk membersihkan selokan sementara siswa lainnya mencabut rumput. Hari Jumat dan Sabtu menjadi hari gotong royong para murid untuk membersihkan sekolah. Kasih menunjuk bangunan tua saat kami berhenti di sekolah "Ini bangunan tua, sudah tua sekali mas. Sejak zaman Belanda, saya dulu bersekolah disini Mas. Di Jakarta mungkin tidak ada lagi yang seperti ini."
    Kasih bercerita kegiatan yang dilakukan saat hari Sabtu tiba bersama kawan-kawannya, Kasih menebang pohon dibelakang sekolah lalu membuat kebun. Kebun itu bertahan hingga beberapa tahun lamanya. "Kebunnya sudah tidak terawat. Murid sekarang jarang mau berkebun. Itu kebun kami dulu mas. Kami tanam kentang, bawang dan sayuran. Tunggul kayu disana, saya yang potong mas. Pohonnya sebesar mas punya badan".
    
       Kasih terus saja bercerita semasa dia mengenyam bangku sekolah dasar di Denge. Kasih kecil harus meninggalkan Waerebo yang berjarak 9 Kilometer dari Denge, berpisah dengan orang tua serta adik-adiknya demi menimba ilmu. Di Waerebo tidak ada sekolah, jadi semua anak Waerebo yang akan menempuh pendidikan mau tidak mau harus meninggalkan Waerebo. Ada dua kemungkinan saat itu terjadi, pertama si anak harus berpisah dengan orang tua, atau orang tua entah bapak atau ibu mereka harus berpisah untuk ikut menjaga si anak saat bersekolah. Kasih memilih berpisah dengan orang tua dan tinggal dengan kerabatnya di Kampung Kombo, sebuah kampung di dekat Denge yang mayoritas warganya adalah keturunan Waerebo. Setelah tamat sekolah dasar, pendidikannya dilanjutkan di Dintor kemudian mengambil jurusan tata boga di salah satu sekolah kejuruan di Ruteng. Tamat sekolah Kasih merantau ke Makassar, hingga akhirnya kembali pulang ke Waerebo sebelum perayaan tahun baru dalam kalender masyarakat Waerebo.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Tetua adat di Desa Waerebo dengan latar Mbaru Niang. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Tak terasa perjalanan kami sudah jauh meninggalkan sekolah di Kampung Denge. Kami melewati ladang penduduk, yang paling mencolok adalah batang cengkeh dan damar, dahannya memayungi jalan setapak. Aroma wangi cengkeh semakin menyemangati saya untuk berjalan melahap jalan setapak yang semakin menanjak. Penduduk di Denge mayoritasnya adalah petani, hasil cengkeh menjadi salah satu sumber penghidupan, selain cengkeh ada pula damar serta petak-petak sawah yang akan ditanami secara bergiliran. Petak sawah tidak bisa ditanami sepanjang tahun, air irigasi tidak mampu mencukupi pengairan sawah secara bersamaan. Mau tidak mau, air irigasi harus dibagi. Jika caturwulan ini pengairan hanya untuk pemilik sawah di daerah Dintor, maka caturwulan depan pengairan akan mengaliri sawah penduduk di Denge. Tidak ada kecemburuan, semuanya dengan lapang dada menerima giliran air supaya benih padi bisa disemai, tumbuh dan dipanen serta hasilnya bisa menyambung hidup masyarakat.
    
    Lepas dari ladang penduduk, kami berjalan melintasi sungai Waelomba. Batu-batu besar mengisi separuh aliran sungai. Kami meloncat hati-hati dari satu tumpukan batu ke batu lainnya. Dahulu Waelomba airnya mengalir deras, sulit untuk dilewati apalagi jika musim hujan datang. Namun sekarang aliran airnya sudah tak sederas dulu, kerusakan hutan menjadi penyebab utama berkurangnya debit air sungai ini.
    
    Tempo hari, pembalak liar dari luar desa datang menggunduli hutan di hulu Sungai Waelomba namun usaha mereka tak berjalan lama. Penduduk Waerebo berang, mengancam akan melaporkan pembalak ke Polisi Hutan. Ussaha penduduk berhasil mengusir pembalak. Bagi penduduk Waerebo, hutan adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Hutan juga memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat Waerebo. Beruntung lewat keputusan pemerintah, sekarang hutan ini dikonsesi menjadi kawasan Hutan Lindung Todo Repok luasnya mencakup hingga 10.500 Ha. Setidaknya sudah ada payung hukum yang melindungi hutan ini dari tangan-tangan serakah manusia, tentunya ini angin segar bagi masyarakat di Waerebo maupun masyarakat yang menikmati sumber air Sungai Waelomba.
    
    Perjalanan semakin berat, kami melewati jalanan setapak menyisiri punggungan tebing. Tak jarang kami berjalan dengan batas jurang di tepi jalan, jika hujan turun jalanan menjadi licin dan tebing-tebing di sisi jalan setapak sangat rentan longsor. Meskipun begitu, ini salah satu akses utama bagi masyarakat Waerebo berhubungan dengan dunia luar. Kami melewati Puncak Pocoroko, dari sini saya bisa melihat Selat Sumba. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit, kemudian kebun kopi milik masyarakat Waerebo. Di kejauahan atap Mbaru Niang berbentuk kerucut sudah terlihat. Saya semakin bersemangat menuruni bukit menuju kampung Waerebo.
***
    Terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai. Kampung Waerebo dikelilingi gunung, mencapainya butuh perjuangan waktu dan tenaga. Tak ada sinyal telfon, penerangan hanya ada dimalam hari yang bersumber dari generator. Tak ada kendaraan bermesin yang bisa mencapai Kampung Waerebo, mencapai Kampung Waerebo hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sejauh sembilan kilometer dari Desa Denge.

    Setelah berjalam hampir empat jam akhirnya saya melewati Bok, pintu masuk kampung Waerebo yang masih dihiasi anyaman. Minggu lalu, masyarakat Waerebo berpesta menyambut Penti, tahun baru masyarakat Waerebo yang diadakan pada tanggal 15-16 bulan November setiap tahunnya. Acaranya berlangsung meriah, turut pula ditampilkan Caci, tari perang khas Manggarai yang menyimbolkan sosok kepahlawanan dan keperkasaan. Pada acara Penti Semua keturunan dari Waerebo pun hadir, inilah saat dimana warga berpesta, mengingat leluhur dan berkumpul kembali sebagai penjaga warisan Waerebo.

    Kasih mengajak saya menuju Mbaru Tembong, rumah utama di Kampung Waerebo. Mbaru Tembong menjadi induk dari enam Mbaru Niang di Warebo. Saya melepas sepatu, kemudian dengan ramah dipersilahkan masuk kedalam Mbaru Tembong. Didalam, sudah duduk dua orang tetua Kampung Waerebo, Bapak Biatus dan Rafael. Kamipun dipersilahkan duduk diatas tikar pandan yang sudah disediakan.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang dan mendengarkan lantunan lagu pengantar tidur di Mbaru Tembong disuguhi Sopi berkualitas tinggi. (Foto Yunaidi Joepoet)


     Menggunakan bahasa lokal, Kasih melakukan Pa'u Wae Lu'u sebagai ungkapan duka cita atas leluhur yang sudah mendahului kita kemudian Kasih meminta izin dan menrangkan kepada tetua kampung bahwa saya akan tinggal di Kampung Waerebo untuk beberapa waktu kedepan. Bapak Biatus memberikan sinyal positif, saya diizinkan untuk tinggal di Kampung Waerebo. Kami bercerita dalam bahasa Indonesia, kadang dibeberapa potong percakapan Kasih menjadi penerjemah kami.

    Perbincangan hangat ini membawa saya bernostalgia ke masa silam. Diskusi hangat yang kami lakukan bersama keluarga, Kakek saya bercerita mengenai budaya alam Minangkabau. Saya cucu tertua dari garis keturunan Matrilineal, sistem keturunan yang dipakai oleh Suku Minangkabau. Ibu saya, anak tertua dari delapan bersaudara, Ibu bersuku Sikumbang, garis suku inilah yang menjadikan saya lahir dengan darah Sikumbang. Dulu, hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah mendengar tambo Minangkabau, Kato Nan Ampek serta Kato Pusako yang masih saya ingat hingga sekarang. Pelajaran hidup dan berbudaya ini sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan. Ajaran yang tertuang, menjadikan alam sebagai sumber ilmu yang paling nyata, dalam kato pusako adat Minangkabau pun disebutkan "Alam Takambang, Jadikan Guru".

    Alam mengajarkan kita banyak hal, dari alam semua berasal. Begitu pula Masyarakat Waerebo yang menggantungkan hidup dari alam. Alam bagi masyarakat Waerebo sudah menjadi sahabat, guru dan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Dari alam semua kehidupan masyarakat Waerebo berasal. Proses menjaga dan melestarikan alam telah mengantarkan masyarakat disini menjadi masyarakat yang tidak lupa akan kodratnya sebagai manusia.

    Disini masih berdiri kokoh Mbaru Niang, rumah berbentuk kerucut. Jumlahnya ada 7, enam rumah ditempati oleh warga Waerebo sedangkan satu rumah diperuntukkan bagi para tamu yang ingin bermalam di Waerebo.

    Dari tujuh rumah, ada satu rumah yang dijadikan tempat tinggal tetua adat keturunan langsung dari para leluhur masyarakat Waerebo. Rumah ini dinamai Mbaru Tembong, bisa menampung 8 keluarga. Masing-masing biliknya dibatasi oleh papan. Sementara Mbaru Niang bisa menampung hingga 7 keluarga. Kesemua keluarga hidup rukun berdampingan, tak ada perselisihan, semuanya bersatu dalam keselarasan hidup keturunan Waerebo.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bekerja hingga senja. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Di dalam Mbaru Niang saya dibuat kagum oleh arsitektur rumah ini. Rumah dibuat agak tinggi dari tanah, sekitar satu meter diatas permukaan tanah. Didepan pintu masuk Mbaru Niang, terdapat gundukan batu. Sebelum berangkat atau pulang dari ladang, warga biasanya bercengkrama di atas batu. Anak-anak berkejaran  di atas halaman yang ditumbuhi rumput. Aktivitas ini akan terhenti saat gelap mulai datang.

    Mbaru Niang tempat tinggal masyarakat Waerebo memiliki lima lantai dimana masing-masing lantainya mempunyai fungsi yang berbeda. Lantai pertama adalah Tenda,  tempat istirahat, tempat tamu serta tempat melakukan aktivitas memasak. Di lantai ini pula terdapat bilik-bilik yang ditempati masing-masing keluarga, bagian ini dinamai Nolang. Lutur menjadi tempat tamu, pemisahan ini menunjukan adanya budaya saling menghormati antara tamu dan keluarga yang tinggal di Mbaru Niang. Meskipun ada pemisahan, para tamu dan keluarga yang tinggal masih tidur selantai, hal ini menunjukkan persamaan derajat antara tamu dan keluarga di Mbaru Niang.

    Penduduk Waerebo menamai Lobo (Loteng) untuk lantai kedua. Dilantai inilah keluarga yang tinggal di dalam Mbaru Niang menyimpan makanan serta kebutuhan sehari-hari. Lantai ketiga adalah Lentar, dilantai ini disimpan berbagai macam benih untuk berladang. Lantai selanjutnya adalah Lempa Rae, dijadikan tempat untuk menyimpan makanan cadangan sebagai antisipasi apabila terjadi bencana atau kekeringan. Sedangkan lantai paling atas Hekang Kode dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan sesajian kepada leluhur.

    Dinding Mbaru Niang dibuat dari kayu yang diambil dari hutan. Proses penebangan kayu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada prosesi adat yang harus dilewati sebelum dilakukan penebangan. Atapnya dibuat dari ijuk yang ditempatkan diatas bambu utuh. Lantainya pun dibuat dari kayu. Didalam Mbaru Niang, digantung Langkar sebagai sesajen untuk leluhur dan tuhan. Langkar berbentuk petak, dihiasi bulu ayam.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Dapur di Mbaru Niang. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Proses memasak dilakukan di hapo (dapur), masing-masing keluarga mempunyai (likang) tersendiri namun letaknya masih satu tempat dengan keluarga lainnya. Jika ada rezeki berlebih, tak jarang penghuni Mbaru Niang berbagi makanan dengan penghuni lainnya. Pola hidup yang sangat jarang kita temui di kota-kota besar.
***

    Saya dan Kasih berpamitan meninggalkan Mbaru Tembong, kami mengayun langkah ke Mbaru Niang Tirta Gena Maro. Tempat ini disediakan khusus bagi para tamu untuk tinggal dan bermalam.
    Di dapur, Mama Tin dan Mama Nina menyiapkan masakan untuk saya santap. Menu sore ini ada sayur labu, mie instan dan nasi putih. Untuk pelepas haus, mama menyiapkan kopi untuk kami. Perkembangan Waerebo menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Flores turut serta mengangkat perekonomian masyarakat. Untuk menata wisata adat Waerebo, masyarakat membentuk perangkat yang bertanggung jawab untuk mengelola pariwisata Waerebo.

    Mama Tin dan Mama Nina mendapat pekerjaan sebagai juru masak bagi para wisatawan, ada beberapa kelompok juru masak yang bergantian menyediakan makanan. Tamu membayar sejumlah biaya tertentu untuk makan dan menginap di Mbaru Niang. Hasilnya tentu saja akan menambah pemasukan bagi masyarakat Waerebo, selain itu uang yang dibayarkan sebagian disisihkan untuk biaya perawatan Mbaru Niang. Dengan hal ini ada proses wisata berkelanjutan yang dilakukan oleh masyarakat Waerebo, setidaknya uang yang dikeluarkan oleh wisatawan ada dampaknya bagi masyarakat dan proses perawatan Mbaru Niang, warisan leluhur Waerebo.

    Matahari baru saja terbit, Kasih membangunkan saya untuk bersegara ke tempat pemandian warga. Di Waerebo, masyarakat mandi di air pancuran yang jaraknya lebih kurang 200 meter dari kampung. Pemandian antara laki-laki dan perempuan dipisahkan. Tempat mandi selain digunakan untuk kegiatan mandi dan mencuci, juga sebagai sarana berinteraksi  bagi masyarakat. Proses komunikasi antar satu anggota masyarakat dengan anggota lainnya bahkan dijaga meskipun hingga ke pemandian. Kondisi inilah yang menjadikan masyarakat Waerebo tak terusik pengaruh paham individual, ada proses komunikasi dan kebersamaan yang tetap dijaga hingga sekarang.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menjemur kopi yang dipetik dari kebun tak jauh dari Waerebo. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Bapak Yosef Katu generasi ke-18 Waerebo mengundang kami untuk singgah di Mbaru Niangnya. Secangkir kopi hangat pun disajikan. Pak Yos bercerita mengenai Waerebo dan proses pembangunan ulang sebagian rumah di kampung Waerebo. Pembangunan ulang Mbaru Niang tak lepas dari peran serta masyarakat Waerebo yang didukung penuh oleh para donatur yang menyumbangkan materi untuk pembangunan kembali Mbaru Niang.

    Peran aktif masyarakat dan donatur dalam menjaga warisan Mbaru Niang memberikan banyak manfaat bagi masayarakat Waerebo sendiri. Salah satunya adalah kesempatan bagi generasi baru Waerebo untuk mempelajari proses pembangunan Mbaru Niang.
    "Rumah pertama, kami generasi muda hanya duduk saja melihat proses yang dilakukan tetua dalam membangun Mbaru Niang. Rumah kedua, tetua memberikan kami kesempatan untuk membangun mbaru Niang bersama mereka. Rumah ketiga, kami dipercayakan penuh oleh tetua untuk membangun Mbaru Niang, sedangkan tetua hanya duduk melihat pekerjaan yang kami lakukan". Pak Yos bertutur tentang proses pembangunan ulang Mbaru Niang.

    Pembangunan Mbaru Niang ini tentu saja berhasil dijadikan sebagai sarana transformasi ilmu dari generasi tua ke generasi muda "Jika mendengar cerita saja tanpa praktek, mungkin akan sulit untuk dilakukan. Beruntung atas bantuan para donatur dan masyarakat Waerebo yang bahu-membahu membangun ulang Mbaru Niang kami semua mendapat ilmu yang akan kami wariskan ke anak cucu kami kelak.".

    Waerebo sudah berhasil mentransformasi ilmu pembangunan Mbaru Niang. Hal ini tak lepas dari kemauan keras masyarakat Waerebo untuk menjaga warisan leluhur. Generasi muda punya kemauan besar untuk belajar, sedangkan generasi tua dengan kerendahan hati mewariskan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari generasi sebelumnya. Perasaan untuk saling menjaga inilah yang harus kita tumbuhkan sebagai generasi Indonesia, bangsa besar yang berbudaya.

    Mbaru Niang dan seperti rumah-rumah adat lainnya di Indonesia bukan hanya sebagai tempat tinggal.  Banyak hal yang tercermin dari rumah adat itu sendiri, salah satunya adalah kebudayaan masayarakatnya. Bagaimana lingkungan masyarakat tersebut, sistem kepercayaannya, serta cara hidup komunitas masyarakat setempat. Menjaga rumah adat sama halnya dengan menjaga peradaban dan kebudayaan. Kemajuan peradaban tercermin dari seberapa besar kemauan masyarakat menjada kebudayaan mereka. Inilah yang dilakukan masyarakat Waerebo, menjaga kebudayaan agar peradaban tetap berjalan.
***

    Saya ikut Bapak Rofinus ke kebun untuk memetik kopi. Dari kampung kami mendaki bukit, melewati jalan setapak menuju hutan. Membawa keranjang, saya membantu Bapak Rofinus memetik biji kopi. Biji kopi ini nantinya akan dijual kepasar di Dintor. Sementara itu, istri Bapak Rofinus menenun dirumah.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bapak Rofinus memetik kopi dikebun kopi miliknya. (Foto Yunaidi Joepoet)


    Rata-rata warga Waerebo hidup dari menjual kopi, kain tenun, serta dari pengelolaan ekowisata Kampung Waerebo. Wisatawan yang mayoritas berasal dari Eropa menjadikan Waerebo sebagai daerah kunjungan, bukan hanya bersenang-senang tetapi juga mempelajari bagaimana sekolompok masyarakat masih bisa mempertahankan pola hidup dan warisan leluhurnya saat modernisasi menyentuh segala aspek kehidupan.

    Tak salah kiranya UNESO memberikan penghargaan tertinggi untuk Mbaru Niang di Waerebo. Bagi masyarakat Waerebo penghargaan tersebut hanyalah bonus dan sebagai bentuk apresiasi, yang terpenting bagi mereka adalah berusaha mempertahan tatanan hidup, ada istiadat, serta warisan leluhur untuk dijaga agar tidak punah sehingga bisa diwariskan ke anak cucu mereka.  Disinilah peradaban bertahan, saat masyarakatnya menjaga kebudayaan. Waerebo mungkin hanyalah kampung kecil nan jauh di atas gunug, tetapi dari kampung kecil tersebut kita belajar banyak hal besar dalam kehidupan. Kampung dengan tujuh rumah ini hanya satu dari sekian banyak desa adat yang ada di Pulau Flores yang masih hidup dalam tatanan adat dan budaya yang tetap lestari. Flores memang memberikan inspirasi bagi setiap pejalan yang bertandang ke tanahnya. Pesonanya abadi, mendamaikan jiwa, dan memberikan kenangan abadi. Flores...tetaplah abadi dalam pesona alam dan budaya-Mu.

***


Cara Menuju Kampung Waerebo
- Transportasi dari Labuanbajo menuju Ruteng ditempuh selama 5-6 jam perjalanan. Transportasi dari Labuanbajo berupa elf, biasanya berangkat dari Labuanbajo saat pagi dan tiba di Ruteng siang hari. 
- Dari Ruteng perjalanan dilanjutkan menuju Dintor ataupun Denge. Jika datang siang hari, maka alternatif transportasi adalah ojek. Karena otokol, berupa truk yang dijadikan transportasi umum sudah tidak tersedia saat siang hari. Otokol terakhir dari Ruteng tersedia pukul 10.00 pagi. 
- Tarif ojek dari Ruteng menuju desa Dintor atau Denge bervariasi. Perjalanan akan ditempuh sekitar 1 hingga 2 jam melewati jalur berkelok-kelok.
Tersedia penginapan di Dintor dan Denge untuk bermalam sebelum memulai perjalanan menuju Waerebo. 
- Perjalanan dari Denge (saat ini sedang dibangun jalan hingga Waelomba/ update November 2015) bisa ditempuh menuju Waerebo selama 2-3 jam. 
- Tersedia satu Mbaru Niang yang khusus digunakan sebagai tempat menginap para tamu. Para pengunjung bisa menginap disini dengan memberikan iuran yang akan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat Kampung Waerebo. Iuran itu sudah mencakup uang makan dan biaya tinggal semalam di Waerebo. 
- Untuk treking menuju Kampung waerebo, pergilah dengan pemandu lokal. Hal ini untuk memudahkan perjalan menuju Waerebo. 
 
 Kapan Waktu Terbaik Mengunjungi Waerebo
    - Waerebo bisa dikunjungi setiap waktu. Namun pada musim penghujan, rumput yang tumbuh di halaman kampung akan tampak lebih hijau. Bagi pecinta fotografi, waktu hujan mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendapat suasana Waerebo nan alami. 
    - Setiap bulan November, tepatnya pada tanggal 16/17, para warga mengadakan upacara Penti. Upacara ini merupakan perayaan tahun baru yang dilakukan oleh masyarakat Waerebo. Upacara ini berlangsung selama sehari semalam. Aneka tari-tarian, senandung, upacara sakral, dan pertunjukkan caci dilangsungkan dalam suasana suka cita. Para pengunjung bisa mencicipi sopi, arak khas Manggarai nan nikmat. 
    - Pada musim hujan, biasanya para petani bisa memanen kopi. Kopi Waerebo adalah salah satu kopie terbaik di Pulau Flores.




    Upacara Penti Waerebo : National Geographic Traveler Indonesia Februari 2016

    Puluhan warga beriringan sembari membawa beras, ayam, babi, telur dan berbagai makanan lainnya melewati jalan setapak menuju Waerebo. Mereka adalah orang Waerebo yang mengadu peruntungan dengan merantau ke berbagai kota yang ada di Pulau Flores seperti Bajawa, Ruteng, Labuanbajo, dan Ende.
     Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

    Tujuan kepulangan mereka adalah untuk menghadiri upacara Penti yang diadakan tanggal 16 November setiap tahunnya. Upacara ini merupakan sebuah gempita perayaan ungkapan rasa syukur warga Waerebo kepada para roh leluhur dan semesta tatkala tahun baru dalam kalender mereka tiba. Warga berkumpul bersama keluarga dan melarutkan suka cita bersama.

    Upacara Penti berpusat di Mbaru Gendang, satu dari tujuh rumah tradisional yang ada di Waerebo. Ritus bermula dari tembang yang didendangkan oleh tetua adat dengan diiringi gendang. Setelah itu barulah prosesi dilanjutkan menuju lingko, sumber air, dan kuburan leluhur. Kemudian, mereka kembali lagi ke

    Mbaru Gendang. Prosesi ini dilakukan untuk mengundang arwah leluhur untuk mengikuti upacara Penti. Saat perayaan, tarian caci juga ditampilkan di halaman rumah Mbaru Gendang.
    Sore hari, di compang atau altar panembahan, upacara Boa dilakukan oleh tetua adat dengan mempersembahkan ayam untuk menghormati para roh leluhur.

    Tatkala malam jatuh, upacara pemberkatan dibarengi dengan mempersembahkan hewan seperti ayam dan babi. Upacara ini dilakukan di masing-masing rumah yang ada di Waerebo. Pada puncaknya, Lantunan tembang adat akan menggema saat malam perayaan Penti.

    Berikut beberapa foto perjalanan saya ke Waerebo untuk menghadiri Upacara Penti bersama Geo Avontur yang diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Februari 2016.


     Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

     Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

     Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

     Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

    Geo Avontur merupakan sebuah perjalanan fotokita.net yang didukung oleh National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler. Trip spesial ini berupaya menangkap keindahan alam dan budaya dalam lensa serta tulisan sekaligus merasakan pengalaman penugasan yang dilakukan oleh awak redaksi. Informasi terkait Geo Avontur bisa menghubungi Dio Dagna Mohamad Telp. (021) 5330150 ext. 32503 e-mail: geoavontur@fotokita.net

    Fakta Gereja Katedral Jakarta - Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga

    Jika berjalan di kawasan Lapangan Banteng, mata kita akan tertuju ke dua menara menjulang nan indah di seberang jalan. Inilah menara Gereja Katedral Jakarta, bangunan bergaya neo-gotik yang menjadi salah satu bangunan Cagar Budaya di Jakarta. Saya berkesempatan mengabadikan bangunan nan indah ini setelah dari Mesjid Istiqlal. Beberapa fakta terkait pembangunan Gereja Katedral mungkin bisa menambah wawasan kita.

    Katedral Jakarta, Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Cathedral, Jakarta Catedral, Foto Gereja Katedral, Foto Katedral Jakarta, Bangunan Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya di Jakarta, Cagar Budaya Katedral, Menara Gereja Katedral Jakarta, Leonardus Petrus de Ghisignies, Foto Jakarta, Gereja Katolik Jakarta, Pastor Antonius Dijkmans, Uskup Mgr. Edmundus Sybradus Lupyen, Menara Angelus Dei, De Kerk van Onze Liece Vrowe ten Hemelopnemin, Paus Paulus VI, Uskup Agung Jakarta, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
    Matahari sore menyinari Gereja Katedral Jakarta berpayung langit cerah. Gereja bergaya neo-gotik ini diresmikan oleh Vikaris Postolik Jakarta bernama Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ pada 21 April 1901. (Yunaidi Joepoet)

    Pelopor pembangunan Katedral Jakarta ini diprakarsai oleh Leonardus Petrus de Ghisignies, komisaris jenderal yang juga penganut Katolik. Pada 1826, ia meminta Ir. Tromp untuk merancang gereja Katolik pertama di Batavia. Namun, dalam perjalanannya bangunan ini rusak parah.

    Pembangunan ulang Pada November 1890, ditandatangani kontrak untuk pembelian tiga juta batu bata. Setiap bulannya, perusahaan pembakaran batu bata harus menyerahkan 70.000 batu bata untuk pembangunan gereja baru. Pastor Antonius Dijkmans, SJ ditunjuk sebagai perencana dan arsitek dalam pembangunan gereja ini. Pembangunan sempat terhenti karena kekurangan dana. Namun, Uskup Mgr. Edmundus Sybradus Lupyen, SJ melalui badan pengurus gereja dan para umat berusaha mengumpulkan dana untuk melanjutkan pembangunan gereja.

    Arsitektur gereja ini bergaya neo-gotik. Di bagian depannya terdapat tiga Menara Angelus Dei setinggi 45 meter, dan diapit dua menara setinggi 60 meter. Pada bagian dalam terdapat mimbar bercorak gotik buatan firma Te Poel dam Stoltefusz dan tiga buah altar.

    Peresmian De Kerk van Onze Liece Vrowe ten Hemelopnemin' atau 'Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga' ini diresmikan oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ. Gereja ini populer dalam masyarakat dengan sebutan Gereja Katedral karena di dalamnya terdapat cathedra yakni takhta uskup.

    Museum katedral menyimpan berbagai benda- benda bersejarah seperti alat-alat ibadah, pakaian, lukisan dan foto, patung-patung, buku, dan beberapa benda penting lainnya. Tersimpan pula tongkat Paus Paulus VI yang dihadiahkan kepada Uskup Agung Jakarta kala itu.

    Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Kebanggaan Indonesia untuk Warga Ibukota

    Meskipun sudah dicanangkan sejak tahun 1985, pengerjaan Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta belum juga terlaksana. Hingga akhirnya pada tahun 2005, Pemerintah menegaskan bahwa proyek MRT Jakarta tersebut merupakan proyek nasional. Pemerintah pusat dan daerah bekerja sama untuk mewujudkan transportasi yang memudahkan mobilisasi warga Ibukota. Pada akhir tahun 2013, pengerjaan konstruksi dimulai. Untuk kesekian kalinya saya begitu optimis dengan kebaikan-kebaikan pembangunan yang akan terwujud di Ibukota Jakarta. Saya berkesempatan untuk melihat ke bawah tanah bagaimana Bor Antareja yang diresmikan penggunaannya  oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 21 September 2015, mesin bor Antareja terus mengeruk bumi untuk membuat terowongan bawah tanah Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Direncanakan MRT Jakarta ini akan membentang sepanjang 110,8 kilometer yang dibagi menjadi dua koridor, yakni Koridor Selatan - Utara (Lebak Bulus - Kampung Bandan) sepanjang 23,8 kilometer dan Koridor Timur - Barat sepanjang 87 kilometer.

    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Pekerja mengoperasikan lori yang mengangkut material tanah hasil pengeboran terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (10/12/2015). Jalur yang ada di terowongan ini hanya sementara sebagai jalur lori.Nantinya akan dipasang jalur untuk MRT. (Yunaidi Joepoet)







    "Tangis kami sebagai pekerja di MRT Jakarta ini akan pecah saat MRT Jakarta beroperasi untuk pertama kalinya. Ternyata Kita Bisa,"  ~ Akbar, Pekerja di MRT Jakarta
    Patung bercorak legam seorang pria membawa obor itu lebih tinggi beberapa meter dari posisi semula. Pagar seng juga telah menutupi tempat patung ini berdiri. Dulunya, bundaran dengan kolam dan air mancur nan cantik, menjadi tempat berdiri Patung Pemuda Membangun yang dibuat oleh Imam Supardi dan Munir Pamuncak. Namun memang harus ada yang dikorbankan. 

    Saya tergopoh-gopoh menyeberang Jalan Sisingamangaraja yang bertemu Jalan Sudirman pagi itu. Lalu-lalang kendaraan baru reda saat lampu merah dari arah Blok M. Saya belum telat atas janji yang dimajukan sejam lebih awal. Dari pagar yang terbuka, saya menerobos masuk ke dalam kawasan proyek MRT Jakarta. Rupanya jalan tersebut terlarang untuk dimasuki, kecuali untuk truk pengangkut bahan materian pengerjaan MRT. 

    Saya masuk melalui pintu dari arah Jalan Jenderal Sudirman di Kamis pagi kala itu. Ya, memang MRT Jakarta hanya membuka pintu ke terowongan bawah tanah untuk pengunjung hanya pada hari kamis. Bangunan yang difungsingkan sebagai kantor lapangan berdiri di sebelah kiri. Di dinding bangunan, tertempel semua informasi terkait proyek MRT Jakarta, termasuk pula tentang keselamatan dalam bekerja. Pagi itu bersama kawan-kawan, kami dipandu oleh staf MRT Jakarta kami mendapat brief singkat.


    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Pekerja memasang lem pada perekat untuk segment tunnel (ruas terowongan) saat pengerjaan konstruksi terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Patung Pemuda Senayan. (Yunaidi Joepoet)
    Saya mengunjungi terowongan bawah tanah ini beberapa bulan seteleh pengerjaannya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Bor Antareja I kala itu sah untuk beroperasi mengebor terowongan bawah tanah yang akan di jadikan jalur MRT Jakarta setelah diresmikan. Tuntas sudah impian 30 tahun lalu untuk memiliki MRT di Jakarta.
    Sebenarnya tak seluruh jalur MRT koridor Lebak Bulus - Bundaran Hotel Indonesia ini menggunakan terowongan bawah tanah. Karena di beberapa tempat, tak dimungkinkan untuk membangun terowongan. Untuk membangun terowongan bawah tanah tentu membutuhkan area kerja yang cukup luas. Hal ini tentu tak memungkinkan jika jalur MRT Jakarta melalui daerah dengan jalur jalanan yang sempit dan kerap macet. Atas pertimbangan tersebut, pihak MRT Jakarta membangun jalur layang atau elevated dari Sisingamangaraja hingga Lebak Bulus. 

    Di pintu masuk menuju terowongan bawah tanah, beberapa kertas terkait pengerjaan proyek tertempel. Data terkait pekerjaan proyek, jumlah pekerja yang sedang berada di dalam hingga hal-hal penting lainnya tertempel di papan. Kami tak bergegas masuk, "Ayo Mas kita ke bagian segment tunnel dulu," ujar Akbar mengajak kami menyeberang jalan. 

    Tumpukan segment tunnel tersusun rapi. Beton yang diproduksi di Karawang ini menunggu untuk dipasang di dalam terowongan. Beberapa pekerja dengan pelindung diri yang lengkap sibuk memberi melumuri karet perekat segment tunnel. Kami tak berlama-lama disini, lalu kembali lagi ke pintu masuk terowongan bawah tanah. 
    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Pekerja menaiki anak tangga di terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di Kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)

    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Seorang pekerja memantau lori yang mengangkut segment tunnel (ruas terowongan) Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
    Saya menuruni anak tangga besi yang dibuat kokoh menuju terowongan bawah tanah. Sebuah lubang bulat yang diameternya sungguh sangat besar membuat saya terharu, bahagia dan berdecak kagum atas apa yang bisa dihadirkan oleh pekerja-pekerja MRT yang berdedikasi hingga saat ini. 

    Tak tampak aktivitas pekerja di tempat saya beridiri. Ternyata terowongan ini sudah selesai pengeboran dan pemasangan segment tunnelnya. Bahkan progressnya sudah jauh dari tempat saya berdiri. Untuk masuk lebih jauh menuju tempat dimana Bor Antareja II melakukan pengeboran, kami dibagi menjadi dua kelompok. Karena tak mungkin untuk masuk melebihi empat orang di waktu yang bersamaan. 

    Jalur untuk lori pembawa segment tunnel dan lori dibuat di tengah terowongan. Sementara jalur pekerja dibuat disisi kanan arah masuk terowongan menuju Bor Antareja II bekerja. Sebuah pipa kuning berdiamter besar menggantung di tengah terowongan. "Ini jalur oksigen yang akan menyuplai oksigen ke pekerja." ujar Akbar. "Tanpa menyalurkan oksigen, sangat berbahaya bekerja di bawah tanah." tambahnya. 

    Hawa panas sudah terasa saat saya pertama kali menginjakkan kaki di dalam terowongan ini. Saya baru paham kenapa tidak boleh terlalu banyak pekerja dan pengunjung di waktu yang bersamaan. 

    Saya berhati-hati melewati jalan untuk para pekerja yang dibangun di tepi terowongan menuju tempat Bor Antareja II bekerja. Cukup jauh jarak yang kami tempuh dari tempat turun tangga menuju tempat pengeboran. 

    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Pekerja memeriksa dinding terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Dua pekerja melakukan kontrol penuh untuk bor Antareja II yang sedang bekerja untuk membuat terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
    Dua teknisi, dari Indonesia dan dari Jepang terlihat serius dari dalam ruang kendali pengeboran Bor Antareja II. Nantinya bor ini akan mengebor tanah sepanjang 1,2 meter lalu berhenti untuk kemudian dimasukkan beton segment tunnel ke lubang hasil pengeboran. Dibutuhkan 6 beton segment tunnel untuk satu lingkaran penuh terowongan. Selama proses ini, para pekerja aman dan terhindar dari tumpahan material karena terlindung oleh bagian luar mesin bor terowongan. Proses ini akan terus berulang untuk pengeboran terowongan bawah tanah untuk jalur MRT Jakarta. 
    Material hasil pengeboran bukanlah tanah hitam, tapi hampir mirip lumpur, seperti adukan semen lebih tepatnya. Lumpur hasil pengeboran ini dibawa menggunakan lori yang jalurnya memanfaatkan landasan terowongan. 
    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Bor Antareja II yang sedang bekerja untuk membuat terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
    Saya menyudahi kunjungan di terowongan bawah tanah lalu beranjak ke Stasiun Senayan. Banyak yang beranggapan bahwa pengerjaan MRT Jakarta tak berjalan mulus, tak ada aktivitas pekerja, dan masih banyak lagi. Saya mungkin bisa menyangkal perkataan tersebut, jika dilihat dari atas memang tak tampak pengerjaan MRT Jakarta yang begitu berarti, namun pergilah ke terowonan bawah tanah. Ratusan orang bahu-membahu mengebut penyelesaian jalur transportasi yang sangat membantu warga ibukota nantinya. 

    Kami membelokkan kendaaraan ke dalam area pengerjaan Stasiun Senayan yang ada di seberang Ratu Plaza atau sebelum FX Sudirman. Saya menuruni anak tangga masuk menuju Stasiun Senayan. Jaring pelindung dipasang mengelilingi anak tangga. 
    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Sisi belakang dari terowongan yang sedang di bor menggunakan mesin bor Antareja II. Pada 23 Desember 2015, bor Antareja II sudah berhasil menembus terowongan hingga ke Stasiun Senayan. (Yunaidi Joepoet)
    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Aktivitas para pekerja di terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
    Stasiun Senayan nantinya akan terdiri dari dua tingkat. Lantai dasar akan dijadikan area tunggu penumpang yang akan menaiki MRT Jakarta. Sedangkan lantai dua akan menjadi area publik, seperti cafe dan fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan di permukaan merupakan pintu masuk menuju stasiun. 

    Direncanakan MRT Jakarta ini akan membentang sepanjang 110,8 kilometer yang dibagi menjadi dua koridor, yakni Koridor Selatan - Utara (Lebak Bulus - Kampung Bandan) sepanjang 23,8 kilometer dan Koridor Timur - Barat sepanjang 87 kilometer.

    Saat ini pembangunan Tahap I dari MRT Jakarta dengan rute dari Lebak Bulus hingga Bundara HI sepanjang 15,7 kilometer terus dikebut. Penyelesaian proyek MRT Jakarta Tahap I sudah mencapai 50 persen untuk terowongan bawah tanah, dan 22 persen untuk jalur layang. Dan Bor Antareja II sudah menembus Stasiun Senayan pada 23 Desember 2015.

    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Pengerjaan konstruksi yang nantinya akan dijadikan sebagai Stasiun Senayan. Hingga saat ini pengerjaan proyek MRT Jakarta sudah mencapai 50 persen untuk terowongan bawah tanah, dan 22 persen untuk jalur layang. Ditargetkan MRT ini bisa beroperasi untuk melayani warga Jakarta pada tahun 2019. (Yunaidi Joepoet)

    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Material hasil pengeboran yang dilakukan oleh mesin bor Antareja II di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
    Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
    Hingga saat ini pengerjaan proyek MRT Jakarta sudah mencapai 50 persen untuk terowongan bawah tanah, dan 22 persen untuk jalur layang. Ditargetkan MRT ini bisa beroperasi untuk melayani warga Jakarta pada tahun 2019. (Yunaidi Joepoet)