Hiu Paus di Teluk Cenderawasih Nabire: National Geographic Traveler Indonesia Januari 2017

Nabire menjadi salah satu gerbang masuk ke kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Taman Nasional seluas 1.453.500 hektare ini memiliki keanekaragaman hayati dan tingkat endemisitas yang tinggi. Sedikitnya ada 456 spesies karang dan 877 spesies ikan karang di kawasan ini. Sekitar 42 satwa berstatus dilindungi. Sebagai taman nasional laut terluas di Indonesia, hampir 90 persen kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih adalah perairan laut.


Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Perairan Kwatisore di Distrik Yaur merupakan satu dari segelintir tempat di dunia yang bisa melihat hiu paus dari dekat. Perjalanan saya ke Teluk Cenderawasih dan menyelam di perairan Kwatisore untuk berjumpa hiu paus Rhincodon typus diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Januari 2017.

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia


Perjalanan ke Teluk Cenderawasih ini adalah dalam rangka penugasan saya dengan National Geographic Indonesia bersama Samsung Indonesia dengan kawan di World Wildlife Fund (WWF). Semoga bisa kembali menyelam di Teluk Cenderawasih. Selamat menikmati, Sahabat!


Black Borneo Expedition, Menembus Puncak Gunung Beriun di Jantung Karst Sangkulirang Mangkalihat

Aliran Sungai Marak yang airnya berwarna merah siang itu tak bersahabat. Saya membangkitkan kenangan beberapa hari lalu saat melintasi sungai ini. Batu tempat kaki saya bertumpu saat perjalanan sebelumnya, tak lagi terlihat permukaannya. Aliran yang tadinya damai, sekarang berganti dengan suara gemuruh yang menakutkan. Dari tempat penyeberangan sebelumnya, saya bergesar ke arah hulu untuk mencari celah tebing agar dapat turun ke tepian sungai.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Salah satu anggota tim Eiger Black Borneo Expedition ke Gunung Beriun melintasi anak Sungai Marak dalam perjalanan dari pintu pendakian menuju Basecamp.

     Hujan beberapa hari ini telah menambah debit air di sungai tersebut. Warnanya yang merah pekat menghasilkan busa saat arus sungai ini terkurung di antara batu besar. Pakis air yang semula menawarkan keindahan, sekarang hanyut diterjang arus. Saya dengan hati-hati menuruni tebing kecil menuju tepian sungai, berpegangan pada batang pohon seukuran paha lelaki dewasa. Batu yang saya injak sungguh licin. Jika tergelincir, ransel yang saya panggul dengan berat 24 kilogram dan peralatan kamera yang saya gendong di bagian depan pastilah akan hanyut.

     Sebilah kayu bisa menjadi pemandu pijakan yang baik. Saya menjulurkannya ke arah permukaan batu, mencari tempat yang tepat untuk menopang badan dan beban yang saya bawa. Dan, dengan satu langkah penuh keyakinan, saya meloncat dari batu pertama ke batu berikutnya. Beberapa kali saya hampir terjerembap ke dalam derasnya aliran sungai. Namun, dengan sangat baik pula saya bisa mengatasinya. Saya berhasil tiba di seberang sungai dengan selamat.

     Perjalanan pulang dari Kemah I menuju barak pangkalan cukup melelahkan. Ini adalah hari kesembilan saya berjalan kaki. Kami sedang menuntaskan misi pencarian titik tertinggi Gunung Beriun, sekaligus meretas jalur menuju singgasananya. Dengan tenaga yang tersisa, saya meloncat dari satu batu ke batu lainnya, juga tanah nan licin akibat hujan. Langkah saya mulai gamang saat jarak menuju barak pangkalan hanya tersisa beberapa ratus meter. Jalan tanah di tepian tebing nan curam sungguh licin.

     Tak ada pegangan yang bisa diandalkan untuk menopang badan saat melewati jalan nan licin itu. Hingga akhirnya, “Brakkk!” tubuh saya jatuh ke permukaan jurang sedalam sepuluh meter. Darah segar mengalir dari siku sebelah kiri akibat tergores akar dan permukaan tanah berbatu. Saya kemudian berdiri dan mengecap bibir yang kebas, ada rasa darah di bibir saya.


***
    
     Siang itu matahari sedang ceria. Teriknya memanggang kulit kami yang sedang larut dalam suasana gembira. Perjalanan membelah jalanan tanah yang biasa digunakan truk pem-bawa kayu gelondongan terasa menantang. Hampir dua jam perjalanan dari Karangan belum juga menemukan titik awal pendakian. Beberapa kali saya melihat burung rangkong terbang melintasi sisa hutan di kawasan Gunung Beriun yang seakan menunggu waktu untuk ditebang.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Biasanya ruas jalan tanah ini digunakan untuk membawa kayu berukuran raksasa hasil penebangan hutan. Jalan ini pula yang ditempuh tim ekspedisi ke Gunung Beriun. Licinnya medan kerap membuat mobil melaju sempoyongan laksana orang mabuk. Merebaknya perambahan hutan merupakan salah satu ancaman Beriun, yang juga merupakan bagian Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat.

     Gunung Beriun memiliki luas kawasan mencapai 25.870 hektare. Hanya sekitar 5.265 hektare kawasan ini yang merupakan hutan lindung, sedangkan sisanya adalah hutan produksi terbatas dengan luas total 20.605 hektare. Jalan yang kami lintasi ini adalah milik PT. Segara Indochem. Perusahan yang mendapat izin pada 1999 untuk menebang hutan di area seluas 10.508 hektare.

     Setelah menempuh perjalanan lebih dari 60 kilometer dari Desa Karangan, Iwan Irawan, Djukardi Adriana, dan Sony Takari terlihat serius memperhatikan peta yang tercetak di kertas seukuran kalender dinding. Beberapa kali mereka mengalihkan fokus dari peta, kompas, dan sistem pemosisi global (GPS).

     Di kejauhan, Karst Tutunambo terlihat tinggi menjulang. Ketinggiannya mencapai 700 meter. Tebing batunya yang terjal mem-berikan kesan megah. Tutunambo adalah salah satu gunung karst yang ada di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat seluas 1,8 juta hektare. Tetapi, kali ini tujuan kami bukanlah Tutunambo, melainkan ke Gunung Beriun, yang memiliki peran penting dalam Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat.

     Rombongan besar ini masih tertahan dalam diskusi alot tentang penentuan titik awal jalur pendakian. Kami hanya berpedoman pada data-data yang belum bisa untuk diandalkan sebagai titik awal pendakian, karena kondisi geografis di lapangan tidak memungkinkan menjadikan koordinat tersebut sebagai titik awal pendakian.

     “Saya biasanya naik dari dekat sungai tadi,” ujar Firmansyah, warga Dayak Basap yang bermukim di Muara Bulan. “Saya menjelajahi Beriun tidak pernah menggunakan alat modern, semuanya serba alami dan manual. Kami mengikuti jalur yang diberikan nenek moyang. Salah satunya adalah mengikuti aliran Sungai Marak,” tambahnya.

     Firmansyah adalah generasi terakhir Dayak Basap yang lahir di gua. “Saya lahir di Karst Ara Raya, KM 15. Desa Karangan Dalam. Baru setelah umur 14 tahun saya keluar dari gua. Itu pun setelah ditemukan oleh sebuah perusahaan yang sedang membuat jalan untuk jalur membawa hasil penebangan hutan.”

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Firmansyah (berkaus hitam) adalah generasi terakhir Dayak Basap yang lahir dan tumbuh di gua kawasan Karst Ara Raya. Lelaki ini menghabiskan hidupnya di dalam gua hingga usianya 14 tahun. Saat ini, tak ada lagi warga Dayak Basap yang tinggal di sana. Namun, kepergian warga membuat tantangan pelestarian karst semakin nyata, terutama menghadapi eksploitasi karst untuk dijadikan bahan baku semen.

     Iwan Irawan, komandan operasi ini, mengambil tindakan yang bijak dengan mem-pertimbangkan beberapa faktor, termasuk cerita dari Firmansyah. “Sekarang kita kembali ke KM 48, dekat pondokan yang berada di tepi Sungai Marak,” ujarnya memberikan komando. Lenguh kendaraan yang membawa anggota tim dan perbekalan yang jumlahnya melimpah, kembali membelah jalanan tanah.

     Tiga pondok kayu yang sudah lama ditinggalkan menjadi tempat bermalam kami sebelum melanjutkan perjalanan panjang mencari puncak Gunung Beriun. Pondok kayu ini menjadi rumah bagi para perambah hutan saat musim tebang berlangsung. Hutan di Gunung Beriun sendiri dikelompokkan menjadi tiga, yakni hutan primer, hutan sekunder, dan belukar tua.

     Pada hutan primer yang memiliki luas 12.272 hektare, tegakan hutan yang mendominasi adalah kelompok Dipterocarpaceae yaitu kelompok meranti (Shorea spp.),  sedangkan kelompok rimba campuran didominasi jenis dedang (Litsea spp.), jambu-jambu (Eugenia spp.), banitan (Polyalthia spp.), dan nyatoh (Palaquium spp.). Tegakan hutan yang mendominasi di hutan sekunder seluas 12.034 hektare adalah kelompok Dipterocarpaceae, yaitu kelompok meranti, sedangkan kelompok rimba campuran didominasi jenis jambu-jambu, nyatoh, dan medang. Kawasan seluas 1.564 hektare merupakan kawasan belukar dengan tegakan hutan yang mendominasi berupa kelompok rimba campuran seperti jenis jambu-jambu, mahang (Macaranga spp.), dan jabon (Anthochephallus spp.).

 ***
    
     Saat senja, firmansyah bersiap menggelar ritual puun. Menggunakan pakaian kulit jomo dan topi petik, tanpa alas kaki, Firmansyah berjalan menuju tepian jalan yang berbatasan langsung dengan hutan yang muram sehabis hujan, dan karena gelap mulai datang. Ritual puun dilakukan untuk memohon perlindungan kepada leluhur penunggu hutan sebelum memasuki hutan Gunung Beriun.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
 Kala senja setelah hujan, Firmansyah, warga Dayak  Basap dari Muara Bulan, memimpin upacara puun untuk memohon perlindungan kepada leluhur penunggu hutan sebelum memasuki hutan Gunung Beriun. Mereka percaya, senja adalah waktu saat roh jahat bergentayangan. Kepercayaan ini masih bertahan meskipun warga sudah memeluk agama.

     Nasi putih diletakkan di atas daun. Lalu, mulutnya komat-kamit melafalkan mantra dalam bahasa Dayak Basap. “Secara bergiliran, ludahi nasi putih ini,” pintanya. Kami meludahi nasi ini secara bergantian sebelum nasi ini dilemparkan ke dalam hutan. Meludahi nasi yang ada di atas daun merupakan bentuk ke-ikut-sertaan dan sebagai bentuk permohonan perlindungan oleh masing-masing individu kepada para penunggu hutan. Bagi masyarakat Dayak Basap, hutan adalah sumber kehidupan dan aset masa depan bagi anak-cucu mereka. Kelestarian hutan adalah mutlak, tak bisa diganggu gugat.

     Kami melewati malam pertama di ruangan yang cukup menampung 10 orang. Mi, sayur rebus, dan nasi putih menjadi penyumbat perut yang sudah keroncongan. Kelak inilah makanan yang akan kami santap saat pagi dan malam beberapa hari ke depan. Hujan dan suasana nan dingin tak mengurangi diskusi hangat kami tentang rencana perjalanan hari berikutnya. Esok hari adalah hari bagi seluruh anggota tim bergerak masuk ke dalam rimba Gunung Beriun. Rencananya, tim mendirikan barak pangkalan untuk mempermudah regu pembuka jalur dan regu pengantar logistik dalam menjalankan tugas masing-masing.

     “Besok pagi, seluruh tim diharapkan sudah bisa bergerak dari tempat ini menuju basecamp. Perjalanan tidak terlalu sulit dan jaraknya tidak terlalu jauh untuk tiba di sana,” ujar Iwan yang juga bertugas merencanakan pergerakan ekspedisi.

     Barak pangkalan kami letaknya tak jauh dari Sungai Marak. Sungai ini merupakan salah satu keunikan yang bisa dijumpai di Gunung Beriun. “Meskipun airnya berwarna merah, rasanya tidak kelat. Di beberapa tempat, air berwarna merah ini rasanya kan kelat,”  ujar Firmansyah. Air sungai ini akan bermuara di Sungai Karangan dan menjadi salah satu sumber air bagi warga yang bermukim di sepanjang alirannya.

     Masing-masing orang sibuk dengan aktivitas-nya masing-masing. Ada yang memasang terpal pelindung, membangun  dapur, mengambil dan memasak air, hingga mencari pohon yang tepat untuk mengikat keranjang tidur gantung. Ekspedisi dalam waktu yang lumayan panjang dan melibatkan anggota yang juga sangat besar tentunya membutuhkan kesadaran masing-masing untuk ikut terlibat dalam setiap hal sekecil apa pun.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Mamay S. Salim meniti batang kayu lapuk saat melintasi Sungai Marak. Tak jauh dari perlintasan ini, pondok para perambah dibiarkan terbengkalai. Dari kawasan Gunung Beriun seluas 25.870 hektare, hanya 20% yang berstatus hutan lindung.

     Saat matahari mulai condong ke barat, barak pangkalan kami sudah selesai dengan sempurna. Rencana berikutnya adalah per-gerakan membuka jalur. Saya mengikuti Iwan, Djukardi, Oji, Saipul, dan Firmansyah mencari jalur yang akan digunakan untuk perpindahan hari berikutnya. “Hari ini kita coba mencari jalur dan titik perhentian yang memungkinkan untuk dilewati,” ujar Iwan.

     Saya mengikuti Iwan menyeberangi Sungai Marak, meloncat dari satu batu ke batu yang lainnya. Lalu sesekali saya harus memanjat tebing yang vertikal. Tak jauh dari tanjakan tersebut, saya terkesima. Dua sarang orangutan yang tak dihuni menjadi bonus luar biasa. Letaknya sekitar 15 meter dari permukaan tanah. Posisinya berada di antara cabang batang dan di bawah tajuk pohon.

     Survei yang dilakukan oleh The Nature Conservancy dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan bahwa Gunung Beriun, yang merupakan bagian dari Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat, adalah salah satu habitat orangutan di Kalimantan Timur.

     Ekosistem karst merupakan tatanan bentang alam karst dengan semua daya, keadaan, dan makhluk hidup yang merupakan satu-kesatuan menyeluruh dan saling memengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Ekosistem karst sendiri bisa dikelompokkan menjadi tiga zona, yakni Zona Subkarst, Zona Epikarst, dan Zona Perikarst.

     Zona Subkarst mencakup kawasan di bawah batuan karst yang terdiri dari zona gulita, remang, dan terang. Pada zona ini terdapat jaringan gua, juga sungai dan danau bawah tanah. Sedangkan Zona Epikarst mencakup kawasan di atas batuan karst dan merupakan daerah perantara Subkarst dan Peri-karst.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Dilapisi lendir nan bening, namun bagian dalamnya padat seperti jamur pada umumnya, jamur mata sapi adalah salah satu flora yang bisa dijumpai di Gunung Beriun. Terdapat pula anggrek hitam, anggrek kuping gajah, kantong semar, cemara gunung yang memiliki akar seperti pohon bakau, dan beragam jenis lumut.

     Gunung Beriun adalah Zona Peri-karst yang merupakan bentangan non-karst, namun memiliki fungsi yang juga penting dalam kelestarian Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat. Spesies kunci dalam ekosistem karst, yakni walet dan kelelawar yang mayoritas tinggal di dalam gua karst, mencari sumber makanan ke Gunung Beriun. Karst Sangkulirang Mangkalihat juga merupakan habitat bagi sekitar 120 jenis burung, yang mana 30 jenisnya adalah burung migran. Selain itu, dari 90 spesies kelelawar di Kalimantan, 32 spesies di antaranya ada di kawasan Sangkulirang Mangkalihat. Kawasan ini juga memiliki keanekaragaman spesies serangga dan antopoda yang mencapai 200, dengan 1 spesies kecoa raksasa, 50 jenis ikan, dan 400 vegetasi. Tentunya, sebagai satu ekosistem yang menyeluruh, pelestarian satu hal di kawasan akan berdampak terhadap pelestarian hal lainnya pula.


***
    
     Pola pergerakan kami setiap hari adalah meninggalkan tempat berkemah usai sarapan pagi, lalu bergerak membuka jalur. Hutan yang akan kami lalui biasanya sangat rapat. “Hutan begitu rapat dan batu-batu besar pun menghadang,” ujar Iwan. “Ini salah satu hal yang cukup menantang dalam membuka jalur. Terlebih lagi, jalur yang akan kita buka tentunya bisa memudahkan pergerakan seluruh anggota ekspedisi dan regu pengangkut logistik dalam memindahkan barang,” tambahnya sebelum regu pembuka jalur berjibaku mencari jalan terbaik.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Punggur sisa penebangan hutan digunakan untuk melintasi aliran sungai, saat regu pembawa logistik bergerak menuju Camp I. Setiap orang membawa 20-30 kilogram beban. Tak jauh dari Camp I, jalur alat berat untuk mengangkut kayu nyaris menyentuh batas kawasan hutan lindung.

     Regu ini terdiri atas orang-orang yang penuh pengalaman. Oji dan Mahdi, dua pemuda lokal dari Karangan juga dilibatkan. Oji adalah mantan penebang pohon di hutan. Beberapa jalur alat berat untuk membawa kayu hasil penebangan hutan, dibuat oleh pria ini. Jalannya sangat cepat. Saya tak bisa bergerak terlalu kencang untuk mengikuti gerak langkah mereka. Mendokumentasikan kegiatan ini bukan perkara mudah, apalagi dilakukan dalam ritme yang pesat. Kadang saya menyerah untuk mengikuti laju pergerakan regu pembuka jalur, lalu mundur perlahan dan menjadi anggota paling buncit.

     Briyan B. Hendro sangat hati-hati meniti jembatan kayu yang dibuat mendadak. “Berpeganganlah ke kayu yang sudah diikat ini,” teriak Arizona Sudiro. Dua pria ini akan melintasi jembatan yang lebarnya lebih kecil dari telapak kaki. Di bawahnya, menganga jurang sedalam 20 meter. Hujan yang melanda membuat kayu semakin licin saat dilintasi. Saya harap-harap cemas memperhatikan langkahnya. Jika terjerambap, tubuhnya akan langsung terjun bebas ke dasar jurang yang penuh dengan batu dan semak. Untunglah celaka masih jauh dari kami.

     Upaya pencarian dan pembukaan jalur menuju puncak Gunung Beriun selalu menarik. Beberapa kali kami terlempar lumayan jauh dari jalur yang sudah ditetapkan lewat GPS karena tepat di hadapan kami adalah tebing atau jalur yang terjal dan sulit untuk dilalui.
     Beragam cara pula untuk melewati rintangan yang ada di hadapan kami, mulai dari merangkak, melompat, merunduk, memanjat. Hal tersulit tentu saat kami bergerak pada hari ketujuh, menuju puncak Gunung Beriun.
     Pembuktian stamina dan mental sungguh diuji dengan baik oleh jalur, kondisi alam, dan cuaca saat itu. “Kita coba bergerak ke arah pukul dua,” ujar Iwan. Kali ini, batang pohon yang dihadapi lumayan besar untuk perintisan jalur. Butuh stamina yang prima untuk membersihkan jalan yang akan kami lalui. Ditambah lagi hujan mengguyur jalur menuju puncak.
    
     “Ancaman kawasan ini adalah kerakusan,” ujar Pindi Setiawan, peneliti gambar cadas yang telah mendedikasikan 21 tahun hidupnya untuk karst. Raut wajahnya berubah menjadi serius saat mengisahkan tentang tantangan bagi pelestarian kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat malam itu di Camp I. Pindi telah bersinggungan dengan kawasan ini sejak tahun 1995. Kala itu, bersama ahli speleologi, Luc-Henri Fage, dan arkeolog serta spesialis prasejarah Oceania, Jean-Michel Chazine, mereka menemukan gua yang menyimpan gambar cadas.

     “Semuanya diambil. Ada yang membuka hutan untuk diambil kayunya, ada juga untuk alih fungsi lahan untuk sawit, dan yang hangat, adalah rencana pembukaan pabrik semen. Mayoritas, mereka memiliki banyak uang. Tapi kerakusan juga melanda masyarakat lokal yang mengambil semuanya,” sambungnya. Ia mencontohkan soal walet. “Walet itu banyak, jika hutannya heterogen. Warga yang mengambil walet di gua, akan terus mengambil walet tersebut. Si penebang hutan akan terus menebang hutan.” Saat hutan tempat walet mencari makan musnah, walet pun turut binasa.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Anak burung murai yang baru menetas ditemukan tak jauh dari barak pangkalan. Selain anggrek hitam, saat dewasa burung ini menjadi incaran para pemburu untuk diperdagangkan di pasar gelap. Gunung Beriun juga menjadi habitat bagi orangutan.

     Upaya eksploitasi kawasan ini untuk kepentingan sesaat tentu akan menjadi ancaman nyata dalam pelestarian Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat. Upaya-upaya untuk melindungi kawasan ini terus dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, para peneliti, hingga pemuda lokal. “Ide besarnya adalah, jika alamnya terlindungi, secara otomatis budaya di dalamnya pun terlindungi.”

     Upaya untuk peduli terhadap kawasan di Gunung Beriun dan kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat telah mendorong para pemuda untuk berjuang melestarikannya. Salah satunya adalah Forum Karst Kutai Timur. “Kami ingin menyosialisaikan karst ini kepada masyarakat yang langsung berkaitan dengan karst. Kami mengedukasi bagaimana pentingnya karst untuk kehidupan mereka, sehingga nanti ke depannya mereka aktif untuk melindungi serta mendapat manfaat secara langsung dari karst,” ujar Irwan, Ketua Forum Karst Kutai Timur yang ikut ambil bagian dalam ekspedisi ke Gunung Beriun ini.

     “Kami juga mengampanyekan Save Karst untuk melindungi karst dari eksploitasi menjadi pabrik semen,” tambahnya. “Tambang mungkin akan memberi pemasukan yang signifikan kepada kas daerah dan negara. Namun, rakyat juga butuh sejahtera. Jika karst dan alamnya lestari, masyarakat bisa mendapat manfaat juga secara langsung lewat pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dikelola langsung oleh masyarakat,” tambahnya. “Kami terus mengawal karst dari sisi kebijakan ruang. Kalau sudah dilindungi, ya tidak boleh di eksploitasi.”

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Walau berwarna merah, air Sungai Marak memiliki rasa yang segar. Gunung Beriun menjadi hulu bagi lima sungai besar yang mengalir di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Selain berwarna merah, sungai-sungai yang berhulu di Gunung Beriun juga memiliki warna hitam dan  bening.

     Isu pembangunan pabrik semen sedang hangat melanda kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat. Meskipun kawasan ini sudah diajukan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, manfaat eksploitasi kawasan dan keuntungan sesaat nampaknya lebih menarik bagi para pemilik modal dan penguasa, sehingga mengesampingkan alasan-alasan kelestarian.



***
    
     Keringat bercucuran saat saya memacu langkah menuju puncak Gunung Beriun Raya. Pohon-pohon berselimut lumut nan tebal menjadi payung saat saya mengayun kaki melewati tanah nan gembur. Puncak Beriun Raya dengan ketinggian 1.261 meter sudah semakin dekat. Dari jauh saya sudah bisa mendengar suara bising anggota tim ekspedisi. Langkah saya semakin beringas.

     Puncak gunung ini adalah gugusan hutan nan rimbun tempat batang pohon sepenuhnya berselimut lumut. Saya melepas pandang jauh ke depan. Di hadapan saya, hamparan karst nan megah menjadi panorama yang menyejukkan mata. Sejauh mata memandang, hutan-hutan nan lebat terlihat seperti permadani yang terbentang luas.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Karst Tondoyan tampak megah saat difoto dari Puncak Beriun Raya di ketinggian 1.261 meter. Gunung Beriun yang merupakan bagian dari Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat, memiliki peran penting dalam pelestarian flora dan fauna di kawasan ini. Selain flora dan fauna, di kawasan ini terdapat puluhan gua yang menyimpan ribuan gambar cadas yang salah satunya diduga berusia sekitar 40.000 tahun.

     Dalam keheningan, saya tertegun. Tiba-tiba, lengkingan suara mesin mobil terdengar di kejauhan. Saya berusaha mencari sumber suara, ternyata sebuah truk yang membaya kayu hasil penebangan hutan di kawasan Gunung Beriun, membelah jalanan tanah di antara hutan nan indah.

     Seketika, ketakutan saya menjadi nyata. Apa mungkin gunung ini masih akan lestari saat saya tua nanti?

Ekspedisi ini merupakan bagian dari kegiatan Eiger Black Borneo Expedition, bekerja sama dengan National Geographic indonesia.



Gunung Beriun Nan Gamang : National Geographic Indonesia Desember 2016

Gunung Beriun adalah salah satu gunung di Pulau Kalimantan yang belum pernah dijamah oleh para petualang. Perjalanan saya untuk National Geographic Indonesia dalam Black Borneo Expedition selama 18 hari membelah belantara Kalimantan telah menyisakan pengalaman berharga.

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Gunung Beriun terletak di Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Untuk mencapai titik awal pendakian, para pendaki bisa melewati Tanjung Redeb di Kabupaten Berau atau Sangatta di Kabupaten Kutai Timur.

Perjalanan saya bersama Eiger ini diterbitkan di majalah National Geographic Indonesia edisi Desember 2016. Berikut saya tampilkan beberapa cuplikan fotonya. Semoga bisa menambah informasi bagi para Sahabat pejalan. Terima kasih

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

 Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia


5 Tips Paling Mudah Cek Tiket Pesawat Murah

Sahabat, tentunya perjalanan atau yang jamak sekarang dilaflkan traveling sudah menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Berjalanlah, maka kau akan tahu lebih banyak tentang apa yang tak kau ketahui di luar sana, pepatah sering mengibaratkan perjalanan sebagai bangku pendidikan yang tak mengenal batas usia. Appakah susah mewujudkan impian buat jalan-jalan keliling Nusantara atau pun luar negeri? Jawabanya, tidak. Semua orang bisa melakukannya!  Di jaman sekarang ini, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat impian menjelajah Nusantara dan Dunia tersebut menjadi nyata. Salah satunya adalah rajin cek tiket pesawat termurah.


Wisatawan menikmati matahari terbit di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Yunaidi Joepoet)


Tentu, dengan melakukan hal ini, Sahabat bisa melakukan penghematan biaya perjalanan. Lalu apa saja tips untuk mendapatnya? Berikut cara-cara terbaik untuk melakukannya.

1. Cari tahu dan pelajari tren promo murah
Kalau sudah tahu kira-kira seperti apa tren promo tiket pesawat yang murah, maka sahabat akan lebih mudah menemukan tiket pesawat.  Selain itu, sahabat pun jadi bisa mengatur budget buat liburan supaya tidak terlalu mahal. Ikutin newsletter semua maskapai dan juga follow serta like media sosial maskapai. Dengan begitu, sahabat lebih peka dengan tren promo yang ada.

2. Pastikan sudah memilih tanggal keberangkatan
Setidaknya, sahabat sudah tahu kapan sahabat bisa ambil cuti buat liburan. Jadi, begitu sudah tahu ada promosi, sahabat  sudah bisa langsung pilih tanggal yang paling dekat sama rencana sahabat liburan. Dengan begitu, sahabat tidak perlu lagi banyak pikir saat melakukan pembayaran. Jika perlu, buat kalender kapan saja hari libur dan perkirakan juga waktu untuk ambil cuti dari kerja ataupun kegiatan lainnya. Namun, jangan lupa juga untuk memeriksa hari pergi dan pulangnya. Ada hari-hari tertentu yang harganya selalu mahal seperti, berangkat Jumat, pulang Minggu atau Sabtu ke Senin. Paling aman, pilih hari-hari biasa antara lain, Sabtu ke Selasa atau Senin ke Rabu.

3. Catat perbedaan harga antar maskapai
Ini hal yang paling penting. Beda sedikit saja harganya, sudah bisa mempengaruhi budget liburan sahabat nih. Sahabat perlu mencatat secara detail, dari harga saat berangkat dan juga kembali, agar bisa menjadi perbandingan maskapai yang paling murah. Sahabat pun bisa menimbang apakah lebih baik memakai maskapai yang sama atau yang berbeda. Biasanya, setiap maskapai memiliki harga yang sangat bersaing, ada yang lebih murah saat berangkat, atau waktu pulang. Pilihlah secara bijak dan pastinya yang pas dengan budget buat jalan-jalan.

4. Buat Kartu Kredit dan manfaatkan promonya

Sudah punya pekerjaan tetap dan gaji yang memadai untuk memiliki kartu kredit? Tidak perlu ragu untuk membuat kartu kredit. Soalnya, ada banyak promo kartu kredit yang bisa sahabat dapatkan. Tapi, pilih kartu kredit yang paling sering bekerja sama dengan maskapai ataupun online travel. Jadi, sahabat bisa memanfaatkan fasilitas promonya dengan maksimal.

5. Hindari memilih Bandara Reguler
Kalau kota tujuan yang sahabat pilih memiliki dua bandara, maka lebih baik pilihlah bandara yang sekunder. Seperti, Kota Jakarta yang memiliki Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara regular dan Bandara Halim Perdana Kusuma, sebagai bandara sekunder. Sahabat bisa memilih pesawat yang turun di Bandara Halim Perdana Kusuma. Biasanya, harga yang diberikan jauh lebih murah. Soalnya, maskapai penerbangan yang mendaratkan pesawatnya di bandara regular perlu membayar lebih mahal. Makanya, harga tiketnya pun akan jadi lebih mahal.

Hal terakhir yang sahabat perlukan setelah cek tiket harga pesawat adalah langsung booking. Apalagi kalau sudah ada promo, tahu kapan bisa berangkat, dan sudah cek ke semua online travel harganya, maka tidak perlu lagi ragu-ragu. Langsung booking saat itu juga. Dengan begitu, impian sahabat buat menjelajah Nusantara semakin nyata. Selamat berkelana, Sahabat!

Kelana Membelah Rimba Jawa Bersama Indonesia Offroad Expedition (IOX)


"Ngooooong...ngooooong...ngooooooooooooong," lengkingan keras tak henti memekakkan telinga. Seorang pria bertubuh tambun memberikan aba-aba, dengan tangan yang sudah bercampur lumpur ia mengisyaratkan cara terbaik untuk bisa terlepas dari jebakan ini. Jalan yang lebih layak disebut parit itu memang menjebak siapa saja yang mengangkanginya. Salah mengambil langkah maka buntunya akan terjerambab, tersungkur, bahkan terbalik. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Jawa adalah pulau dengan topografi yang beragam, dari pesisir hingga pegunungan. Hamparan padang jagung sejauh mata memandang di perbatasan Tulungagung dan Blitar ini akan berakhir di tubir pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)

Lalu lengkingan itu mulai meraung kembali, menggetarkan dahan-dahan pohon pinus yang basah. Suaranya menggema melewati lembah, menembus kabut yang perlahan turun menjilat belantara.

            "Ngooooong....ngooooong....ngooooong," deru panjang itu pun meredup. Lalu "braaaaaak," seketika suasana yang tadinya riuh berganti hening.

            Tidak ada yang bisa saya perbuat selain menatap nanar sosok jingga yang kegagahannya pudar. Lelaki berkepala plontos menaiki tubuhnya yang benderang, tali-temali pun diikatkan. Beberapa orang di tepi parit telah bersiap mengikuti aba-aba. Mereka bahu-membahu menyadarkan kembali si jantan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sosok itu kembali tegak.

            Di balik ruang kendali, sosok lelaki bertubuh kecil dengan rambut panjang penuh uban terkekeh setelah kendaraanya menyelesaikan ujian pertama menuju puncak Gunung Popok. Menunggangi Toyota Fortuner dengan bendera Belanda di kibarkan di belakang mobil, Herman Harsoyo bersama pendampingnya Eru dan Frederik Marinus Krijgsman, jurnalis asing yang sudah berkeliling dunia untuk mengabadikan kegiatan otomotif ekstrem berada di dalam satu mobil. Meraka sudah lama malang-melintang sebagai satu tim off-road, bahkan sejak penyelenggaraan pertama kegiatan ini. 

Saya sedang mengikuti Indonesia Off-road Expedition (IOX) 2016. Inilah perjalanan menyusuri belantara Jawa hingga Bali sejauh 1.977 kilometer ini diikuti oleh 115 mobil selama 16 hari. Syamsir Alam yang bertindak sebagai leader dalam perjalanan ini akan membawa peserta menjelajah Magelang – Selman – Klaten – Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek – Tulungagung – Blitar – Malang – Lumajang – Jember – Banyuwangi – Bali. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Mengendarai mobil berpenggerak empat roda sejauh lebih 1.900 kilometer tak hanya sekedar mengandalkan nyali. Butuh kemampuan dan teknik yang mumpuni dalam melibas setiap trek, seperti saat melewati trek nan memukau di sisa aliran lahar Gunung Merapi ini. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
Saya menumpang mobil jip yang baru disiapkan secara mendadak beberapa minggu sebelum perjalanan. Pada hari pertama, mobil ini harus melipir tak masuk ke dalam jalur sebagaimana mestinya. Setelah dilepas dari titik awal di Keraton Yogyakarta oleh Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso, kami tertinggal rombongan yang melaju dengan semangat menggebu-gebu. Mobil buatan Amerika ini belum dibekali road book dan GPS yang lupa untuk diisi data rute oleh navigator. Alhasil, kami berinisiatif menggunakan aplikasi penunjuk arah yang terinstal di gawai. Aplikasi ini membuat kami terlempar jauh dari rute yang seharusnya, kami malah melewati jalur umum yang biasanya digunakan para wisatawan. "Ya sudah, hari ini kita menikmati kopi dulu dibanding menikmati trek," ujar Elung, pengemudi sekaligus pemilik mobil yang saya tumpangi. "Masih ada 15 hari perjalanan lagi yang akan ditempuh," tambahnya. 

            Kami menyelesaikan perjalanan hari pertama dalam waktu singkat dan hambar. Akhir dari perjalanan hari ini adalah pelataran padang rumput yang akan dijadikan tempat bermalam. Letaknya masih di dalam komplek Candi Borobudur, salah satu candi Buddha tertua yang menjadi kebanggaan Indonesia. Beberapa mobil logistik milik tim off-road sudah tiba terlebih dahulu di tempat ini.

            Kami membongkar semua peralatan untuk memasak dan bermalam. Bagasi mobil belakang laksana dapur berjalan. Saya memanjat pohon untuk mengikat tali penopang utama fly sheet lebar yang mampu memayungi hingga delapan velbed. Semuanya dilakukan secara mandiri. Setiap anggota yang ikut di dalam satu mobil bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan timnya. Dalam IOX tak boleh jadi orang cengeng. "Peserta adalah panitia. Panitia adalah peserta," ujar Dandosi Matram, pria jangkung berkacamata ini. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Mobil dan velbed menjadi rumah yang nyaman selama 16 hari perjalanan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Kami berbincang hangat sembari menunggu senja. Bersama pecinta off-road lainnya seperti Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram mencetuskan ide gila yang diberi nama Indonesia Off-road Expedition. Menempuh perjalanan panjang selama 16 hari menyusuri jalur menantang di berbagai pelosok daerah di Indonesia menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. "Kali pertama penyelenggaraan IOX kami menjelajah Sumatra," ujarnya. "Ini Pak Frans yang membuat jalur bikin kita menggerutu. Ini orang agak kurang waras juga. Jalur dengan kemiringan hampir 90 derajat menyurutkan nyali peserta. Ini beneran mau dinaiki?" ceritanya bersemangat. Frans menghampiri kami. Lelaki asal Pekanbaru yang menunggangi mobil buatan Inggris tahun 1956, Land Rover dengan enam roda menanggapinya dengan rendah hati. "Hanya beberapa mobil yang melewati tebing itu menggunakan winch. Saat mendaki, mobil itu seperti ember yang ditarik dengan katrol untuk menimba air," pungkasnya. 

Pada hari kedua perjalanan IOX 2016, semua peserta melewati single trek. Seluruh mobil berpenggerak empat roda akan melewati jalan yang sama dari titik awal di Candi Borobudur menuju Umbulharjo di lereng Gunung Merapi. Sebelum memasuki jalur aliran lahar Merapi, seluruh mobil peserta berhenti. "Ayo, semua peserta berkumpul. Kali ini kita melakukan penanaman bibit pohon dulu," seru Syamsir.

            IOX memang berbeda dengan kegiatan off-road kebanyakan. Tak sekedar euforia perjalanan belaka, kegiatan seperti penanaman pohon, menyinggahi desa kecil dan panti asuhan untuk memberikan donasi, melibatkan perkumpulan kesenian lokal untuk menampilkan seni dan tradisi mereka di setiap garis awal dan akhir rute, serta mengabarkan kepada masyarakat tentang destinasi yang dilintasi adalah cara sederhana agar kegiatan IOX ini lebih berwawasan dan bermanfaat.  

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Meski larut dalam semangat untuk menaklukan setiap trek yang menantang tak membuat para peserta IOX lupa untuk beribadah. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            "Mundur dulu, Cek," aba-aba seorang navigator memaksa pengemudi tersebut memasukkan gigi mundur. Ban kirinya hampir saja terjerembab di jalur Jurang Jero di lereng Gunung Merapi. Al Aththur Muchtar, atau orang akrab menyapanya Bucek. Saya bertemu secara langsung dengannya pertama kali saat upaya pemecahan rekor MURI untuk penerbangan paralayang terbanyak di Bukit Timbis, Bali tahun 2010. Ia bersama Andika Monoarfa, mantan bos maskapai Merpati gagal mengudara akibat angin yang berhempus kencang, upaya pemecahan rekor MURI itupun gagal. Tak banyak yang berubah dari pria ini. Pamornya sebagai seorang lelaki petualang tak redup. Bucek adalah co-leader dari kegiatan IOX bersama Syamsir Alam yang bertindak sebagai leader. Tanpa menggunakan winch, ia sukses melibas jalur penuh batu yang membuat mobil miring hingga 30 derajat. 

            Mahardika Nasution, navigator yang baru pertama kali mengikuti IOX ini mengulur sling dari winch. Saya memperhatikan geraknya dari bibir jurang. Di kejauhan, pohon pinus yang meranggas menjadi bukti keganasan Gunung Merapi. Gunung ini merupakan salah satu gunung paling aktif di Pulau Jawa. Penduduk desa berbondong-bondong menunggu aksi mobil ini melibas setiap tanjakan. Usai menambatkan sling ditempat yang tepat, Mahardika Nasution memberi aba-aba ke Frans. Aksi duet driver dan co-driver dari tanah Melayu ini selalu ditunggu-tunggu dalam setiap handicap. "Eeeengggggggg....kriiiiiiikkk," suara putaran mesin bercampur dengan putaran winch. Kombinasi dari putaran ban dan bantuan tenaga dari winch akan memudahkan para peserta menyelesaikan setiap handicap. Terbukti, dengan mudah mobil dengan enam roda ini menyelesaikan trek Jurang Jero di lereng Merapi ini.

            Matahari tepat di atas ubun-ubun setelah kami menyelesaikan tanjakan yang melelahkan. "Yuk, kita makan siang dulu disini sebelum melanjutkan perjalanan," ujar Herman Harsoyo. Makan siang kali ini kami lakukan di tengah hutan Gunung Merapi.
"Ada yang mau ikan sarden sama telur?" ujar Elung. Siang itu, Elung bertindak sebagai koki. "Lah bawa telur, Lung?" tanya Herman Harsoyo yang raut wajahnya berubah menjadi serius setelah mendengar Elung menawarkan telur.

            Telur menjadi benda yang dilarang untuk dibawa saat ekspedisi IOX. Meskipun tak ada yang bisa menjelaskan alasannya secara ilmiah kejadian mistis yang menimpa beberapa peserta tahun lalu karena membawa telur. "Tapi ya sudah karena terlanjur dibawa kita habiskan saja disini," sarannya. Kami melahap habis telur yang akhirnya digoreng menjadi dadar. "Ya semoga tidak apes seperti tahun lalu," ujar kami sembari mengelus perut yang sudah penuh terisi nasi.

            Perjalanan berlanjut melewati padang rumput nan indah. Beberapa kali laju mobil yang saya tumpangi melambat menghindari bongkahan batu besar dan pohon pinus yang kerontang. Tak banyak orang yang melewati tempat ini jika melihat kondisi jalanan yang masih penuh semak. Keindahannya tersembunyi di balik pamor Gunung Merapi yang semakin terkenal dengan wisata jip di Kaliurang.

            Saya turun dari mobil lalu berjalan dengan hati-hati melewati jalan selebar dua meter yang ukurannya hanya pas untuk satu mobil. Di sisi kiri adalah tebing, sementara di kanan adalah jurang berkedalaman hingga 20 meter. Salah mengambil keputusan, jurang penuh batu menanti para pengemudi untuk terjerembab. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Tidur beralas tikar dan beratap langit. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Saya masih menunggu beberapa mobil lagi yang melintas untuk mengambil beberapa bingkai foto. Pengemudi harus menempatkan roda kirinya di pinggir tebing. "Stop...stop...stop. Jangan dipaksakan," teriak navigator. Mobil yang dikemudikan Saifudin Aswari Rivai dari Lahat ini sudah oleng ke kanan. Salah sedikit, mobil ini akan terjun bebas ke jurang. Laju mobil bergerak mundur, lalu mengambil jalur yang lebih aman. Bebatuan tempat pijakan ban sisi kanan sudah rapuh. Tapi syukurlah, semua kendaraan lewat dengan aman.


            Kami memutuskan untuk tidak masuk ke jalur menuju Basecamp 3 di Gunung Popol. Wakino, warga Kampung Ringin berbaik hati memberikan tumpangan untuk bermalam. Rumah pendoponya sangat nyaman. Tepat dibawah pohon mangga yang terletak di pekarangan rumah terdapat beranda bambu untuk bersantai. Kampung yang terletak di kaki Gunung Popok ini sungguh sepi. Selepas magrib saya mengambil senter, mencari teman saya Andi Ceger yang belum kunjung datang.

Saya menembus gelap malam menuju hutan pinus. Tak tahu berapa jauh jarak yang akan ditempuh untuk tiba di Basecamp 3. Tapi selepas tanjakan yang terdapat sebuah pondok kecil, saya mengurungkan niat. Saya tak melihat apapun di hadapan saya. Suasana sungguh gelap dan pekat. Bulu kuduk saya merinding hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Kampung Ringin. Belakangan saya ketahui, gunung ini jarang dilewati oleh penduduk kampung. “Itu gunung dedemit, Mas,” ujar salah seorang penduduk kampung.

            Saya akhirnya bersua dengan Andi Ceger pada pagi hari, pria yang saya cari tadi malam. "Syukurlah masih hidup, lo Ceger!" saya berteriak. "Gue mau turun tadi malam udah gelap banget. Akhirnya gue numpang tidur aja di atas," ujarnya sembari terkekeh. "Gue turun dulu ya. Mau ganti baju," Andi Ceger berlalu. Kami berjanji untuk bersua di balik gunung ini.

             Sepuluh tahun lalu sebenarnya jalur ini kerap dilewati oleh truk yang membawa kayu milik Perhutani. Selang satu dekade, jalur yang tak pernah lagi digunakan ini menghubungkan dua kabupaten yakni Sukoharjo dan Wonogiri.

            Saya tertatih-tatih penuh dahaga tanpa air dalam perjalanan menembus Gunung Popok. Saya hanya ingin tiba dengan cepat di perkampungan terdekat untuk meminta segelas air putih. Tapi harapan saya pupus saat menjumpai pondok kayu milik petani yang terletak di ujung jalan setapak. "Hanya ada kopi hitam, Mas," ujarnya. Saya sudah kepalang haus, dengan cepat saya menenggak kopi hitam. Airnya yang panas membuat lidah saya melepus. Sial!
           
            Waduk Gajah Mungkur masih berjarak lima kilometer lagi dari tempat ini. Saya sudah lelah berjalan kaki. Saya percaya bahwa dalam setiap perjalanan pasti selalu ada orang yang baik. Marsudi, petani yang mengendarai motor Astrea tua adalah jawabannya. Marsudi bersedia mengantarkan saya menuju Waduk Gajah Mungkur. Dia membelokkan arah, motor tuanya menderu saat melewati tanjakan "Kita mampir dulu ke Bukit Gantole ya, Mas," ujarnya. "Dari atas bukit ini, Mas bisa memandang waduk secara keseluruhan," tambahnya. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Kabut pagi menyelimuti perbukitan yang mengelilingi Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Waduk yang airnya berhulu dari Bengawan Solo merupakan sumber kehidupan bagi warga Wonogiri. Memandang waduk ini dari Bukit Gantole adalah kenikmatan dalam sebuah keindahan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Saya antusias untuk menaiki anak tangga ke atas bangunan yang biasa dijadikan tempat lepas landas paralayang dan gantole. Beberapa muda-muda sibuk berswafoto. Saya mengabadikan beberapa bingkai foto Waduk Gajah Mungkur dari ketinggian. Air dari waduk ini bersumber dari Bengawan Solo. Selain digunakan sebagai irigasi, pembangkit tenaga listrik, juga sumber air minum, waduk ini menjadi salah satu destinasi primadona di Kabupaten Wonogiri. 

            Pantai Karanggongso berombak tenang dan bebas dari amukan gelombang besar Samudra Hindia. Selain menjadi nelayan, penduduk disini juga memiliki keramba lobster dan kerapu. Saya berjumpa dengan Isa Anshari yang memiliki warung di Pantai Karanggongso. "Saya asli Banjarmasin. Tapi tahun 1993 pindah ke sini setelah bertemu perempuan di Surabaya yang sekarang menjadi istri saya," kisahnya. Isa memiliki berapa tambak lobster dan kerapu di Teluk Prigi. Kerapu dan lobster akan di jual ke Surabaya dan Malang. Harganya pun bervariasi, dari 150 ribu hingga 700 ribu rupiah per kilogram.  

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Riva, nelayan di Pantai Karanggongso membawa rajut penuh ikan karang hasil tangkapannya di wilayah Teluk Prigi. Pantai berlokasi sekitar 50 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Trenggalek. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Mobil yang saya tumpangi kondisinya tak kunjung membaik, saya bersedih karena tidak bisa memasuki trek yang menantang. Namun disisi lain saya bersyukur, karena kerusakan ini membuat kami boleh untuk melambung, istilah yang digunakan para off-roader untuk memilih jalan mulus menuju titik perhentian berikutnya. "Sayang sih sebenarnya tidak bisa masuk ke dalam trek. Tapi kita bisa melipir, Mas Elung," saya memohon ke Elung. Kami berencana untuk pergi ke Kedung Tumpang. 

            Pantai Kedung Tumpang adalah kolam yang tercipta karena proses alami. Beberapa cerukan di batu karang terisi air saat laut pasang. Terdapat beberapa kolam alami yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Saya datang saat siang hari nan panas. Matahari terasa hanya beberapa jengkal saja di atas kepala. Tapi bongkahan batu karang nan besar menjadi benteng pelindung yang mampu menghalangi sengatan matahari.

            Kedung Tumpang hanyalah satu dari sekian potensi wisata pantai yang ada di selatan Pulau Jawa. Tempat saya bermalam hari itu, Pantai Sine yang damai juga menjelma menjadi tempat terindah untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Pantai yang terletak di Tulungagung ini jarang dijamah para wisatawan. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Kolam renang alami berbatasan langsung dengan hamparan Samudra Hindia di Kedung Tumpang, Tulungagung. Tiga pantai lainnya, yakni Molang, Lumbuk, dan Glogok masih tampak alami karena jarang dijamah para wisatawan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)




            "Salah satu hal yang membuat kami sulit untuk mengembangkan pantai-pantai tersebut untuk menjadi destinasi pariwisata karena beberapa akses jalannya dimiliki oleh Perhutani. Perlu ada kerjasama antara pemerintah dengan pihak Perhutani," ujar Syahri Mulyo. Saya menghabiskan waktu sore bersama Bupati Tulungagung ini sembari dihempas semilir angin di Pantai Sine. Pria berkulit coklat ini meyenangi olahraga motorcross. "Tadi saya menunggangi motor masuk lewat jalur dari dari Prigi ke Sini," ujarnya. "Tapi tiba lebih dahulu disini. Mas nya gak ikut masuk jalur?" tanya Syahri. Saya menggeleng, "Mobil kami tak terlalu sehat untuk melibas jalur dari Prigi ke Pantai Sine, Pak. Mungkin besok kami perbaiki dulu kendaraan di Malang," ucap saya.


            Mencintai Indonesia pada dasarnya tidak sekedar hapal Pancasila dan Indonesia Raya. Banyak hal yang bisa saya dapat dan kenal dari perjalanan ini, pun demikian dengan ratusan peserta lainnya. Semua orang aktif mengabarkan kepada lingkungan terdekatnya tentang apa hal yang menarik dan berkesan saat perjalanan. Setiap saat, ratusan foto di unggah dan disebarkan.

Kegiatan inipun mendapat sambuatan positif dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Sejalan dengan misi IOX, Kementerian Pariwisata bergandengan tangan untuk mengenalkan lebih dekat keindahan alam, budaya, makanan, hingga hal menarik dari tempat yang dilalui—Yogyakarta dan Bali merupakan dua destinasi wisata unggulan Indonesia. Bukan hanya Yogyakarta dan Bali saja yang akan diperkenalkan, namun kota-kota yang disinggahi di 15 pos pun mendapatkan kesempatan untuk diekspos ke ranah internasional. Bentuk dukungan itu semakin nyata ketika Noviendi Makalam, Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Pariwisata menyambut rombongan saat singgah di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Selama ini off road mendapat cap kegiatan yang merusak alam,” ujar Dandosi Matram. “Kami jauh dari cap tersebut. Jauh sebelum kegiatan ini dilaksanakan kami sudah mewanti-wanti kepada seluruh peserta. Membuang sampah dan menebang pohon adalah haram hukumnya,” tambahnya. Setiap mobil peserta wajib menggunakan kantong sampah, tidak boleh membakar api unggun saat malam hari, tidak boleh menginjak tanah diluar jalur yang sudah ditentukan, serta tak boleh menebang pohon.

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Fred yang tak pernah absen dalam setiap penyelenggaraan IOX. (Yunaidi Joepoet/Nationa Geographic Traveler Indonesia)


Hari ke tujuh, saya berpindah tumpangan. Frans berbaik hati menumpangi saya dimobilnya. Mobil buatan Inggris berpenggerak enam roda ini  bersiap melibas jalur dari Pantai Sine menuju Malang. Saya bersama Pitak Bhradprueng, direktur GP Channel yang juga merangkap sebagai videografer dari Thailand berbaik hati berbagi kursi. Pria kelahiran Chon Buri, tiga tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini masih kuat berlari mengambil gambar terbaik. Saya lebih cocok untuk memanggilnya sebagai kakek, tapi dia dengan sopan menolak. “Semangat saya tak setua umur saya,” ungkapnya. Saya terpukul, sebagai anak muda saya melempas kapsul waktu 40 tahun yang akan datang. Jika diberi umur panjang, apakah saya bisa seperti Pitak?



Perjalanan hari ini tak terlalu berat, hanya melewati jalan yang biasa digunakan oleh penduduk untuk membawa hasil panen jagung mereka. Hari itu matahari bersemangat membakar kulit. Tak ada yang bisa kami jadikan payung untuk berlindung dari sengatan matahari selain kolong dan masuk ke dalam mobil. Pun air sungai terasa hangat saat saya melepas sepatu yang sudah penuh lumpur guna menyeberang. Hari ke tujuh kami seperti ikan asin, kelam dan lusuh.

            Kabar berembus dari sesama peserta bahwa jalur dari Malang menuju Banyuwangi akan menguras banyak tenaga. Akan banyak jalur berlumpur di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Akan banyak peluh dan keringat juga air mata yang menetes di jalur yang akan datang. Namun sayang, keikutsertaan saya harus berakhir di Malang. Saya harus kembali ke Jakarta.
           
            Sebuah pesan singkat masuk "Mobil yang kami tumpangi terbakar di jalur menuju Bromo," tulis Faisal Anwari Lubis. "Saya hampir terjebak di dalam mobil," tambahnya. Saya mengusap dada. Mobil yang saya tumpangi tak habisnya menderita. "Mungkin karena telur," gurau kami. Perjalanan telah usai, tapi kami seperti disatukan menjadi saudara baru.[]

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Bakda subuh, penduduk berjalan meniti sisa debur ombak yang menghempas Pantai Sine, di kejauhan perahu nelayan melepas sauh. Di Pantai Sine, Tulungagung matahari terbit dan tenggelamnya sama- sama memberikan kesan nan damai. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)

Tulisan ini pernah diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi April 2016. Saya mengikuti perjalanan Indonesia Off-road Expedition 2016 melintasi daratan Pulau Jawa. Untuk berlangganan majalah National Geographic Traveler Indonesia bisa dikunjungi di link berikut ini.