Sungai Cicatih dan Citarik di Sukabumi ataupun Cikandang di Garut mungkin sudah familiar di telinga para pecinta olahraga arung jeram dan kayak. Namun tak jauh dari ibukota, tepatnya di Kota Bogor, jeram di Kali Baru tak kalah menantang. Saya memacu dopamin mengarungi jeram-jeram yang menegangkan sepanjang delapan kilometer.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Inilah riverboarding yang menantang dopamin, cara lain untuk bersenang-senang dan menikmati derasnya aliran Kali Baru di Bogor.
  
     Tak ada yang percaya awalnya saya dan Sony mengarungi jeram-jeram di Kali Baru. Sungai kecil yang aliran airnya bersumber dari bendungan Katulampa. Bagaimana mungkin "parit" kecil itu bisa dilalui perahu? Lalu, dari mana pula ada jeram-jeram yang mampu memancing nyali di parit tepian kota?

    Pertanyaaan seperti ini tentu sudah sangat sering menggeluti para pejalan, termasuk saya. Orang-orang kadang memuja terlalu tinggi suatu destinasi meskipun tak jarang juga menyebelah matakan destinasi bahkan yang belum dikunjungi. Kita bisa memberi nilai suatu tempat hanya dari foto yang kita lihat, dari membaca blog perjalanan atau media yang marak menulis tempat-tempat baru tak terjamah belakangan ini, atau mungkin dari cerita seorang kawan yang memamerkan foto di media sosialnya.

    Tak mau dirundung pertanyaan ini terus-menerus. Saya menjawab rasa penasaran saya dengan merangkak melewati selatan Jakarta menuju Bogor. Dari seorang kawan yang gemar bersepeda di akhir pekan melewati Kali Baru, saya dapati nomor telepon pemandu arung jeram. Pesan singkat dan sebuah panggilan saya lakukan sebelum kami berkunjung ke sana. Ini penting untuk memastikan tempat tersebut terbuka untuk umum serta mendapat informasi yang mungkin sangat penting untuk kita kumpulkan sebelum datang ke suatu tempat yang akan kita kunjungi.

      “Iya ini Achmad, Kang. Ini siapa ya?” suara berlogat Sunda menjawab di seberang. Achmad memberikan arah yang cukup membantu kami menemukan lokasi arung jeram ini. Saya tidak terlalu paham Bogor, tetapi Sony, kartografer yang bekerja untuk National Geographic Indonesia cukup mahir menebak lorong-lorong sempit kota hujan ini. Tentu saja kegemarannya bersepeda pulang pergi Jakarta-Bogor membuatnya paham akan lika-liku jalan berlapis emas hitam di kota ini.

      “Kang, kalau naik kereta dari stasiun bisa jalan kaki ke arah Kebun Raya Bogor. Nanti di sana ambil angkot 05 jurusan Cimahpar. Tinggal bilang ke sopirnya, mau turun di Mesjid Gedong,” Achmad menjelaskan transportasi umum menuju ke sana. “Tetapi kalau naik kendaraan sendiri gimana ya, Kang?” saya menimpali. “Nah Akang tau Hotel Novotel, nah Kali Baru persis di belakangnya, Kang” Achmad menjelaskan secara baik.

      Akhir pekan menjadi pilihan bagi saya dan Sony untuk mendatangi tempat ini. Cukup mudah bagi kami menemui tempat ini. Dari tepi jalan kami menuruni anak tangga menuju tepian Kali Baru. Lantunan suara biduan menghibur para pengunjung yang baru saja usai menyisir Kali Baru. Saya menyelinap diantara para pemuda yang masih bergembira sembari menggoyangkan badan seirama dengan lantunan musik.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Bersiap mengarungi Kali Baru, Bogor. Aneka olahraga sungai seperti rafting, kayak, dan riverboarding bisa dilakukan disini.

       “Kang Yudi ya? Saya Achmad, Kang,” pria bertubuh sedang ini akhirnya mengenali kami. “Baru selesai ini arung jeramnya, Kang. Ayo naik ke atas dulu,” Achmad mengajak kami naik ke pendopo. “Kita ngomong santai dulu kang. Sudah makan siang kang?” Achmad menanyakan dengan ramah.

      Para pemandu masih mengeringkan bajunya yang kuyup saat saya singgah ke pendopo. Beberapa diantara merebahkan tubuh. Mayoritas pemandu disini adalah warga lokal, dan beberapa lagi sudah mendayung kayak serta sudah mengarungi jeram sejak lama. Kemampuan mereka sudah tak diragukan lagi dalam menyusur aliran Kali Baru.

      Saya dikenalkan oleh Kang Ahmad dengan pemiliki Kali Baru Adventure. Pria yang gemar berolahraga di luar ruang ini menyambut kami dengan hangat, ialah Kang Dudy. Kami bercerita banyak tentang sungai dan jeram-jeram yang sudah dilalui oleh kawan-kawan pecinta olah raga ini. "Ini saya sama kawan-kawan menyusur aliran Sungai Cisadane. Kita coba river boarding disana, juga rafting dan kayaking. Coba lihat ini saya bikin videonya," sembari Kang Dudy menunjukkan ke kami videonya bermain di derasnya alur Sungai Cisadane.

      Dengan geografi yang beragam, tak salah sungai di Indonesia menjadi salah satu tempat paling pas untuk melakukan olahraga sungai. Di Sumatra Utara, Sungai Asahan sering dijadikan arena untuk kompetisi arung jeram internasional. Atlet-atlet dari berbagai negara dari guna mengarungi derasnya aliran sungai ini. Juga di Pulau Jawa, beberapa sungai seperti Citarik, Citatih,  dan Sungai Serayu juga dijadikan lintasan pemacu dopamin.

      Kami bercerita panjang lebar dengan Kang Dudy, termasuk pula tentang pembersihan Tugu Pancoran yang cukup beresiko untuk dilakukan.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Menumpangi mobil bak terbuka menuju titik permulaan menyusuri Kali Baru.

      Usai makan siang, kami sepakat untuk turun sungai. Dari tempat garis akhir, kami beranjak dengan mobil bak terbuka menuju garis awal arung jeram. Titik permulaan arung jeram ini berada di bawah Tol Jagorawi. Kami membawa perahu yang belum diisi udara menuju garis permulaan arung jeram. Juga beberapa peralatan untuk riverboarding, olahraga air yang sedang naik pamor. Saya bertengger di bak mobil bersama Kang Achmad dan teman-teman dari Kali Baru Adventure. Mari mendayung!

    "Kang pasang dulu pelampung sama helmnya. Penting bagi kita agar tetap aman saat berolahraga seperti ini," ujar Kang Achmad. Saya memasah peralatan keamanan untuk meminimalkan resiko jika terjadi insiden yang tak terduga.

    Dua perahu yang sudah terisi penuh udara siap untuk melaju menuju hilir. Pelampung sudah terpasang, pelindung kepala pun sudah saya kenakan. Saya mempersiapkan peralatan fotografi untuk mengabadikan kegiatan ini. Saya dan Sony, kartografer di Majalah National Geographic Indonesia berpisah perahu. 

    Mengabadikan kegiatan arung jeram tentu juga beresiko untuk keamanan peralatan foto. Namun hal ini bisa diminimalisir dengan membawa pelindung air untuk kamera. Meskipun saya tidak menggunakan Pelican Case yang jamak digunakan oleh para fotografer olahraga ini, namun pelindung kamera yang saya gunakan mungkin cukup untuk mengamankan kamera.

    Sekarang waktunya beraksi. Perahu saya beranjak lebih dulu meninggalkan garis permulaan disusul dengan para atlit river boarding. Kang Achmad bertindak sebagai skipper, nakhoda perahu karet ini. Saya meminta untuk berhenti di posisi terbaik dalam mengambil foto. "Kang boleh berhenti disini?" saya meminta kepada skipper untuk berhenti sejenak menunggu perahu kedua menerjang jeram.

    Kami lanjut menuruni Kali Baru yang memiliki grade 3. Lepas dari garis awal tempat saya memotret, tubuh saya diguncang hebat oleh jeram ulak-alik. Mengabadikan olehraga arung jeram ini cukup sulit. Perahu yang kurang stabil ditambah lagi dengan percikkan air sungai yang sudah menjadikan diri saya basah kuyup tentu menjadi tantangan untuk tetap menghasilkan foto terbaik.

    Perahu yang saya tumpangi semakin kencang ke hilir. Beberapa kali skipper kami harus berteriak “Booooooom,” lalu kami semua menundukkan badan. Apa gerangan? Ternyata puluhan pipa air warga menjadi salah satu tantangan saat mengarung jeram di Kali Baru ini.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Jeram dam mengocok perut.
    Beberapa kali saya seperti prajurit melewati tantangan merangkak. Bedanya disini, saya harus merebahkan badan kebelakang sejajar dengan perahu agar tak tersangkut di pipa air warga. Namun kadang usaha saya ini tak berhasil mulus, beberapa helm yang gunakan kepentok pipa warga. Kalau sampai pipanya patah, kami bisa dikejar dengan parang oleh warga.

    Beberapa jeram berhasil kami lalui dengan baik. Hingga akhirnya kami harus berhenti dan turun dari perahu.    “Yuk, semua turun dari perahu. Kita angkat dulu perahunya,” ajak Kang Achmad. Persis di depan tempat kami berhenti, gemuruh air terdengar semakin deras. Inilah jeram es besar, salah satu jeram paling mendebarkan saat mengarungi Kali Baru. Tingginya sekitar tujuh meter. Cukup menarik untuk dituruni dengan perahu, namun "Terlalu berbahaya bagi kita untuk menuruni ini dengan perahu, Kang," ujar Kang Achmad.

    Kami beristirahat sejenak sebelum memulai melakukan manuver di Kali Baru. Saya menyisir jalan setapak menuju pohon yang berada tepat di atas sungai. Ini posisi terbaik untuk mengabadikan derasnya jeram es. Sony menjadi pumbuka jalan saat saya mulai menghitung waktu kapan Sony dan ti di perahunya turun menyusur jeram es ini. "Woaaaaaa," teriakan itu disusur dengan suara blasss dari perahu yang menghantam arus deras ini. Saya menekan tombol shutter berkali-kali untuk mendapat frame terbaik.

    Selepas jeram es, saya langsung berpaling ke belakang melihat perahu karet itu membelah sungai yang diapit oleh dukit. Aliran sungai ini hanya bisa memuat satu perahu karet, cukup kecil namun suasananya sangat tenang. Sungai ini memang memiliki ritme laksana film action.

    Jeram es mungkin salah satu jeram yang paling menantang dari semua jeram di Kali Baru. Sebenarnya masih banyak lagi jeram-jeram menarik yang di Kali Baru yang airnya bersumber dari Ciliwung ini. Jeram Dam 3 meter, Penganten, dan Jeram Es Kecil mampu mengocok perut saya dan Sony. 

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Salah satu jeram dengan arus yang cukup keras, yakni jeram dam.

    Selepas dari jeram dam, kami melewati aliran sungai berpayung pepohonan bambu. Ini sudah tiga jam kami mengarungi sungai ini. Badan saya sudah kuyup sedari tadi. Beberapa kali saya harus turun kedalam sungai untuk mendapatkan posisi terbaik dalam pengambilan foto. Juga kamera yang hampir saja tercelup kedalam sungai saat arus bawah sungai cukup deras untuk menggoyang tumpuan kaki saya. Untung saja, teman dari Kali Baru Adventure sigap menangkap badan saya supaya tak hanyut.    
    Arung jeram di Kali Baru ini bisa dikategorikan sebagai arung jeram yang aman. Debit air yang mengalir bisa diatur dari Bendungan Katulampa. Hal ini tidak membuat kakmi terlalu khawatir berarung jeram meskipun musim hujan. "Uniknya kalau di Kali Baru ini, debit air nya bisa kita atur. Jadi aman untuk melakukan olahraga arung jeram disini tanpa khawatir ada bandang," ujar Kang Dudy sesaat sebelum saya turun sungai tadi.

      “Saya selalu menekankan bahwa keselamatan yang paling utama dari setiap kegiatan alam, terutama arung jeram. Bersama anak-anak kami membersihkan jalur arung jeram. Batu dan ranting yang membahayakan kami bersihkan. Juga tiap minggu kita adakan gotong-royong membersihkan sampah di Kali Baru ini,” imbuh Dudy saat ia mencerikan sejarah bagaiman Kali Baru ini aman untuk dilewati bahkan oleh pengarung yang baru sekalipun.

      Dudi tentu tak main-main dengan ucapannya. Pengalamannya di dunia arung jeram dan aktivitas luar ruang tentu menjadi pegangan bagi saya. “Saya ingin semua yang datang menikmati arung jeram di sini tetap dalam kondisi aman. Dan tentu saja, kepuasan para pengunjung menjadi tujuan utama selain keselamatan tadi,” Dudi kembali menimpali.

      Ucapan Dudy ini tentu menjadi nyata saat saya hampir tiba digaris akhir arung jeram ini. Setelah hampir empat jam mengocok perut di atas perahu karet, titim akhirpun sudah jelas terlihat. Ini menjadi akhir dari perjalanan menikmati jeram-jeram.
 
      Saya dan Sony mengamini tentang kepuasaan mengarungi Kali Baru ini. “Ini sengaja nih. Lagi asyik-asyiknya malah sampai di garis akhir,” Sony dan saya pun sama-sama mengumpat.

    Tapi saya cukup bersenang-senang. Bagaimana tidak? Tak jauh dari ibu kota saya bisa mendapatkan pengalaman aktivitas luar ruang yang mampu memacu dopamin. Mungkin arung jeram di Kali Baru ini bisa menjadi agenda saya berikutnya bersama sahabat dekat. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati olahraga  air jika di selatan Jakarta ada? Selamat membasahi tubuh, kawan.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer

Mengarungi Jeram Kali Baru, Bogor

Nihilnya penggunaan bahan kimia dalam pertanian organik menjadi alasan kenapa hasil tanaman ini diminati. Kesehatan memang tak ternilai harganya, bagi masyarakat perkotaan, pola hidup sehat dengan mengkonsumsi sayuran dari pertanian organik telah mewabah dalam waktu belakangan. Mengkonsumsi sayuran dari pertanian organik mungkin satu dari sekian banyak cara untuk sehat. 
***
Ini menjadi penugasan keempat saya sebagai fotografer untuk National Geographic Magazine Indonesia setelah liputan Rising Sea, Cina Benteng, dan Kapal Selam NAZI U-Boat di Laut Jawa. Secara keseluruhan pengerjaan untuk penugasan liputan pangan organik ini berbeda dengan ketiga penugasan terdahulu. 

Di National Geographic Magazine, visual menjadi salah satu hal terpenting yang dipertimbangkan dalam setiap penugasan. Saya mendapat arahan penting dari editor foto National Geographic Magazine Indonesia, Reynold Sumayku. "Visualnya jangan sampai sama dengan yang sudah dibuat oleh media-media lain. Mungkin salah satu caranya, kita bikin hal detail dari pertanian organik," tutur Om Rey, sapaan akrabnya sehari-hari. Maka beberapa daftar foto turut terlampir dalam proposal liputan pertanian organik ini. Hingga pada akhirnya kemungkinan-kemungkinan foto yang akan dibuat-pun pada akhirnya mengerucut.

Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi
Pengerjaan foto untuk liputan organik ini pun memakan waktu yang singkat-atau mungkin bisa dikatakan dikejar waktu. Untuk foto lapangan, pengambilan foto dilakukan di beberapa tempat seperti di Pasar Modern Serpong, rumah penduduk lokal yang memanfaatkan lahan sempit untuk menanam berbagai macam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari, beberapa supermarket, dan perkebunan organik di Cisarua, Jawa Barat. 

Sedangkan untuk foto konsep pertanian organik, kami bekerja sama dengan Jasman. Kami pernah mengerjakan proyek bersama untuk pembuatan buku Hotel Borobudur Jakarta serta pemotretan iklan terbit produk pria untuk Majalah National Geographic Traveler Indonesia. Bang Jasman, demikian saya memanggilnya selalu menjadi tandem terbaik jika berkaitan dengan peralatan studio. Dalam pengerjaan sebuah cerita, kita tentunya butuh tim yang prima. Kami menyulap ruang rapat redaksi menjadi studio foto memanfaatkan meja dan peralatan foto portable.

Untuk liputan organik, Titania Febrianti berjibaku mengumpulkan data, mewawancara para narasumber untuk kebutuhan penulisannya. Dan liputan ini menjadi penugasan pertama saya dengan editor teks perempuan satu-satunya di National Geographic Magazine Indonesia. Tentu kami berharap para pembaca bisa mendapatkan sajian yang bermanfaat dari liputan ini. Selamat menikmati, kawan.

Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi
Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi

Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi

Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi

Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi

Pangan organik, sayur organik, tanaman organik, kebun organik, organic, teknologi pertanian, sayur-sayuran, tanaman organik, Akuakultur, Akuaponik, Swalayan Organik, Supermarket Organik, Jual Sayur Organik,  Hewan ternak, Hidroponik, Penggembalaan hewan, Perkebunan, Peternakan babi, Peternakan domba, Peternakan susu, Peternakan unggas, Peladangan, sejarah pertanian organik, sejarah pertanian, agribisnis, agroindustri, agronomi

Liputan lengkap tentang tanaman organik ini bisa dibaca di Majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2014. 

Sayuran Organik : National Geographic Indonesia Oktober 2014

BERDIRILAH DI PUNCAK KRISTUS RAJA sembari menyaksikan hamparan laut luas dengan latar Kota Dili. Cara ini adalah teknik berbeda untuk meresapi nyawa tanah Lorosae. Di tempat ini Patung Kristus Raja setinggi 27 meter memayungi bukit di Tanjung Fatucima. Patung karya Mochamad Syailillah ini menjadi salah satu kebanggaan penduduk. Hingga kini, patung masih tegak berdiri di puncak Bukit Fatucama, yang tersusun oleh batu kuat dan terjal. Dalam lawatan ke Timor Leste, saya menyempatkan diri mendaki ratusan anak tangga menuju tempat pelataran patung ini berada. Memandangi kota Dili yang berpagar laut biru.

Berikut saya lampirkan beberapa fakta tentang tempat ini. Semoga bisa menjadi informasi bagi para pejalan yang akan mengunjungi Timor Leste. 


Christo Rei, Statue in Dili, Tourism Dili, Timor Leste, Dili, Bobonaro, Aimara, Aileu, Seloi Lake, Los Palos, Atambua, Cristo Rei, Timor Leste, Dili Port,Tibar Beach, Fatucama, Timor Leste Images
Patung Cristo Rei di Bukit Fatucama,Timor Leste diambil saat matahari mulai beranjak saat saya mengunjungi Dili pada akhir tahun 2013.
PATUNG PERDAMAIAN Ribuan umat Katolik berdatangan saat pemberkatan patung oleh Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo. Patung Kristus Raja ini menjadi simbol bagi warga untuk menggantungkan harapan akan kedamaian, kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik di Tanah Lorosae.

MENJULANG Patung Kristus Raja berada di ketinggian 90 meter di atas permukaan laut. Terletak di Tanjung Fatucama, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Dili. Memiliki ketinggian 27 meter, patung ini menjadi patung tertinggi kedua di dunia setelah patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brasilia (Tingginya, 38 meter).

PERESMIAN Diresmikan pada tanggal 15 Oktober 1996 oleh Presiden Soeharto. Pada masa itu, Dili yang merupakan ibu kota Provinsi Timor Timur masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebelum akhirnya melepaskan diri pada 20 Mei 2002. Pembuatan patung dikerjakan oleh seniman Mochamad Syailillah, yang akrab disapa Bolil. Baginya, inilah karya besar pertama yang pernah dibuat sebagai pematung. Pembuatannya, memakan waktu hampir satu tahun di Sukaraja, Kota Bandung, Jawa Barat.

Gagasan pembuatan patung bermula dari Gubernur Timor Timur Jose Osario Soares. Ketika itu, sang gubernur menyampaikan ide itu kepada Soeharto, yang ditujukan sebagai bingkisan ulang tahun integrasi Timor Timur ke Indonesia.  Museum Rekor Indonesia pernah memberikan penghargaan sebagai patung Kristus Raja tertinggi di Indonesia.

OBJEK WISATA Saat ini patung Kristus Raja menjadi salah satu objek wisata rohani popular di Timor Leste. Pada akhir pekan, banyak warga ataupun wisatawan yang datang berkunjung ke tempat ini. Untuk mencapai Puncak Kristus Raja, pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan melewat 14 titik pemberhentian yang melambangkan perjalanan Yesus Kristus.

LANSKAP NAN MENAWAN Dari tempat patung ini didirikan, pengunjung bisa menyaksikan birunya laut tanjung Fatucama yang berbalut pasir putih. Pemandangan matahari tenggelam serta Kota Dili dapat terlihat jelas. Selain itu perbukitan menjulang bisa menjadi elemen yang sempurna dari tempat in.

Fakta Cristo Rei, Patung Kristus Raja di Dili - Timor Leste


Tempat burung surga bersenandung, ikan menari, dan laut berwarna-warni.

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Wisatawan menggunakan kayak menjelajah perairan Raja Ampat (kiri), pemandangan ikonik Raja Ampat dari puncak Wayag (kanan).

Alfred Russel Wallace menyadari kapal yang ditumpanginya tidak berlayar sesuai yang diharapkan. Gurulampoko yang bertindak sebagai juru mudi dan pemandu dalam perjalanan dari Seram menuju Misool berusaha meyakinkan bahwa kapal bisa menyeberang ke Silinta. Namun hembusan angin kencang disertai gelombang laut tinggi mengaduk-aduk lambung kapal. Kapal terbawa arus kembali menuju barat, bukannya bergerak ke arah timur. Para awak kapal berusaha sekeras tenaga untuk menjaga laju kapal, namun sayang angin jua yang menjadi kendala untuk melepas jangkar di Pulau Misool.

Sirna sudah niat Wallace menemui Charles Allen, seorang rekan yang kehabisan bekal makanan di Pulau Misool. Kapal yang ditumpangi Wallace sekarang mengarahkan moncong ke arah utara menuju Waigeo, hembusan angin kencang, gelombang laut tinggi, serta arus yang tidak bersahabat menjadi teman perjalanan Wallace. Namun setelah menempuh perjalanan laut yang berbahaya, Wallace meraih mujur, kapal yang dikemudikan Gurulampoko berlabuh juga di Waigeo (dalam catatannya Wallace menyebutnya: Waigiou).
 Wallace menghabiskan waktu di Waigeo pada Juni – September 1860. Pulau ini adalah salah satu pulau besar meneliti aneka ragam flora dan fauna di wilayah Kepala Burung. Penelitian Wallace di Kepulauan Nusantara diyakini sebagai dasar teori Evolusi Charles Darwin. Surat yang tersohor dengan sebutan Letter from Ternate (surat asli berjudul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinetely from the Original Type) mengemukakan tentang bagaimana sebuah spesies berubah bentuk dari pendahulunya sehingga menjadi lebih kuat dan sempurna. 
Wallace mungkin satu dari beberapa orang ilmuwan yang menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium penelitiannya. Penjelajahannya di Raja Ampat tertulis dalam buku The Malay Archipelago yang banyak dijadikan acuan bagi para ilmuwan dan pejalan untuk mengenal Kepulauan Nusantara lebih dekat. Sebelum meninggalkan kawasan Raja Ampat, Wallace merinci bawaannya: 73 spesies burung, 12 diantaranya jenis baru serta 24 spesimen cenderawasih merah.
Beratus tahun setelah penjelajahan Wallace, Max Ammer mendatangi kawasan ini. Niatnya, mirip-mirip, dan mungkin lebih ‘gila’: mencari jip-jip terlantar dan bangkai pesawat yang tenggelam sisa Perang Dunia II di Raja Ampat. Tahun 1998, delapan tahun setelah kedatangannya di Raja Ampat, Max bertindak sebagai pemandu ahli ikan, Gerry Allen. Rimba laut Raja Ampat membuat sang ahli berdecak kagum "Inilah surga penyelaman dan laboratorium eksplorasi biota laut."

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Kami memilih Desa Arborek sebagai titik penyelaman pertama di hari kedua. Pagi yang cerah berpadu laut jernih serta arus yang tenang.
Perjalanan kami dimulai dari Sorong. Kota di ujung pulau berbentuk kepala burung ini adalah gerbang utama menuju Raja Ampat. Sorong mulai ramai semenjak perusahaan minyak Belanda Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij memulai kegiatannya pada tahun 1935. Belakangan, letaknya yang strategis membuat Sorong menjadi kota utama dalam arus perdagangan di barat Pulau Papua.
Di pelabuhan rakyat tak jauh dari kantor navigasi kelautan Kota Sorong, dua speed boat bermesin dengan daya 200 PK sudah menunggu kami. Rasanya, dengan perahu ini perjalanan laut tak akan memakan waktu lama. Bagi pejalan solo atau backpacker yang ingin bertulang di rimba laut Raja Ampat sebenarnya tak terlalu sulit karena transportasi umum berupa feri dan speed boat melayani rute Sorong - Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat.
Speed boat kami mulai melaju membelah selat Dampier yang memisahkan daratan Papua dengan Kepulauan Raja Ampat. Gelombang pagi itu cukup bersahabat untuk menemani perjalanan kami.
"Raja Ampat ya begini-begini saja di atasnya. Tunggu sampai kita turun ke laut nanti" ujar Nicholas Saputra diantara deru mesin kapal. Nico yang gemar bertualang ke penjuru Nusantara mengiming-imingi suguhan bawah laut keindahan terumbu karang dan ikan yang beraneka warna. Sontak ucapannya membangkitkan imajinasi saya tentang ikan-ikan yang menari gemulai diantara terumbu nan berkilau bak pelangi.
Kami melewati Pulau Kri dan Pulau Mansuar yang dipisahkan oleh Tanjung Kri. Hutan lebat nan hijau memayungi seluruh daratan, ditepian pulaunya pasir-pasir berkilau diterpa sinar matahari. Satu dua rumah mengisi bibir pantainya.  Beberapa eco lodge tampak kosong, mungkin musim ramai kunjungan wisatawan sudah berlalu. Atau mungkin jarang yang berkunjung karena biaya yang mahal ? Sepertinya begitu. Tapi satu yang saya percaya, bahwa tidak ada biaya yang murah menuju surga bukan ?
"Nah itu, yang ada umbul-umbul" Michael Sjukrie, penyelam kawakan dari Jakarta, menunjuk sebuah dermaga ecolodge tempat tinggal kami selama sepekan ke depan. Lima belas menit kemudian kapal kami merapat di dermaga. Kami memindahkan seluruh barang bawaan. Teman seperjalanan sudah duluan menuju dermaga tapi saya urung meninggalkan kapal. Saya menundukkan kepala, lalu menyentuh air laut. Mungkin  agak sedikit berlebihan, saya memercikkan air laut ke wajah berusaha meyakinkan kalau saya di Raja Ampat.
Mengapa saya masih belum percaya tiba di destinasi impian itu? Inilah sekelumit cerita. Saya tengah merayakan pergantian umur ke-22 di pos III, tak jauh dari puncak Gunung Kerinci. Dalam pendakian menuju pos itu, saya nyaris mati tersambar petir. Jaraknya hanya 15 meter dari tempat saya berteduh. Dini hari menjadi saat mengharukan bagi saya, tak ada lilin ulang tahun, kue, atau ucapan dari kekasih. Hanya ada secangkir kopi untuk bertiga, sahabat pendakian, dan lantunan doa. Sebagai seorang pejalan, memasukkan kata Raja Ampat dalam harapan tempat yang harus dikunjungi sebelum mati adalah sebuah keharusan. Begitu pula doa saya dini hari itu, Azim, sahabat saya, berseloroh, “Doanya yang banyak, mumpung kita diketinggian. Jadi, Tuhan dengar doanya lebih cepat.”
“Zim, kau benar kawan!” saya berguman dalam hati kemudian berlalu menuju penginapan kami di Raja Ampat.

“Selamat datang di Pulau Mansuar. Silakan Mas, ini handuk dan jusnya,” staf di penginapan kami menawarkan keramahan. Di pulau ini, aura keramahan dan ketenangan adalah sajian mutlak. Lupakan ingar-bingar perkotaan yang sesak, tak ada polusi udara dan suara yang membisingkan telinga. Di balik pohon mangrove dan kelapa yang menaungi tepian lautnya, hanya ada ketenangan. Di daratan, sumber suara hanya tiga: manusia yang berbicara, deburan ombak yang pecah di pantai, serta gesekan pohon yang digoyangkan angin.

Kami meregangkan badan sembari bersantai di tepian laut. Beberapa meter dari tempat saya duduk, kegaduhan mulai terlihat. Kawanan ikan berenang ke sana-kemari. Di pulau ini, ingar-bingar baru terasa saat kita berada di bawah laut. Bayangkan saja tempat ini adalah rumah bagi 1.300 spesies ikan dan 75% jenis terumbu karang dunia terhampar di kedalaman lautnya. Hanya di sini keramaian ikan yang melesat di belantara terumbu tersaji indah, kegaduhan yang berkesan.

Di kejauhan, Pulau Waigeo, tempat Wallace meneliti keanekaragaman hayati terlihat jelas. Di situlah Wallace menemukan cenderawasih yang menghebohkan dunia barat kala itu. Burung surga itu mampu memikat siapa saja karena rupanya yang menawan.

Sore ini tim kami akan melakukan penyelaman pertama “Kita dive check dulu ya. Tak jauh-jauh, kita nyelam-nya di dermaga saja.” Ken, divemaster asal Manado yang akan memandu penyelaman memberikan arahan. 

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Cahyo Alkantana, seorang petualang, bersiap lepas landas menggunakan paramotor di Pulau Mansuar.

Saya tidak bergabung dengan penyelaman pertama. Bersama Cahyo Alkantana, seorang petualang dan videografer bawah air, kami beranjak ke perkampungan penduduk di dekat penginapan. Tujuannya, mencari pantai yang bentangannya lumayan panjang sehingga paramotor (paralayang yang ditambahkan mesin) dapat mengudara.

Warga Desa Kurkapa berbondong-bondong melihat kami yang bersusah mayah merentangkan parasut. Setelah tali-temali kusut sudah terjalin benar, sekarang saatnya menunggu angin dari arah berlawanan yang akan membantu parasut mengembang di udara.

“Yud, beri kode ya kalau parasutnya sudah sempurna untuk take off,” Cahyo memberi instruksi lewat radio komunikasi.

“Siap, Mas!” Saya menimpali sembari mengacungkan jempol.

Mesin paramotornya sudah menderu, tapi angin belum cukup kuat menerbangkan parasut. Saya melihat penanda angin yang kami pasang di tepian pantai. Tak seperti menunggu angin biasanya, kali ini menunggu angin datang berembus terasa membosankan. Seharusnya di pantai angin bertiup kencang, tapi tak berlaku di tepian Pulau Mansuar.

Angin yang kami tunggu setelah sekian lama akhirnya datang juga, parasut sudah terbentang sempurna.

Ready, Pak Cahyo.” Saya berteriak melalui radio.

Cahyo pun menggas paramotornya. Lalu, ia berlari menyisir pantai.

Sayang, aksi Cahyo harus pupus. Parasut yang sudah terbentang tersangkut di daun kelapa. Niat untuk terbang sore itu gugur sudah. Kami menarik parasut lalu melipatnya. Dengan raut kecewa, kami kembali ke penginapan.


Perayaan Natal akan berlangsung dalam hitungan hari, dermaga di Desa Arborek dipasangi umbul-umbul serta hiasan yang dibuat dari daun kelapa. Laut di sekitar dermaga Arborek sangat tenang. “Ini laut atau danau sih?” sebut Vitra Widinanda, yang mengurusi urusan pemasaran dan komunikasi majalah ini. Ia yang menjadi rekan perjalanan saya dan sekaligus pengatur acara. Kami memutuskan berkeliling di Desa Arborek, sementara rekan lain telah ‘lenyap’ di kedalaman laut.
Pagi itu, penduduk dari Pulau Waigeo di seberang Arborek bersiap pulang menuju ke desa mereka. Semalam ada kebaktian di Gereja Eben Haezer, satu-satunya gereja yang ada di Arborek. Perahu kayu sepanjang sepuluh meter itu penuh dengan penumpang. Penduduk desa beramai-ramai melepas kepulangan mereka. “Wuuuuu… wuuu… wuu!” Teriakan itu sontak menarik minat saya untuk ikut berteriak dan melambai-lambaikan tangan. Penduduk desa tertawa, saya balik tertawa, hasilnya kami berteriak sembari tertawa melepas kepulangan mereka.

Penduduk Arborek sebagian hidup sebagai pengerajin. Hasil kreasi mereka berupa topi dengan motif baw–sebutan warga untuk manta–menjadi daya tarik dari kerajinan tangan karya penduduk desa. Arborek pun merupakan satu dari beberapa desa wisata yang ada di Raja Ampat.

Sebagian besar masyarakat yang hidup di kawasan Raja Ampat masih menjalankan tradisi-tradisi yang erat kaitannya dengan kelestarian alam. Salah satunya adalah sasi, sebuah tradisi yang melarang warganya untuk menangkap ikan dan aneka hewan laut dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Tujuannya, tentu sudah jelas, upaya pelestarian terhadap kekayaan laut mereka. Dan yang terpenting, bahwa tradisi juga bisa diselaraskan dengan upaya konservasi. 

Usai dari Arborek kami menuju titik selam: Manta Point. Di sini lah tempat favorit bagi para penyelam untuk melihat atraksi ikan-ikan manta dengan sayap hingga tiga meter panjangnya. Kapal kami melepas sauh di perairan dangkal tak jauh dari Manta Point. Setiap orang mulai memasang perlengkapan selam dan memastikan semua bekerja dengan baik.

Kami mulai turun perlahan-lahan menuju dasar laut, beberapa penyelam sudah lebih dulu tiba di cleaning station-nya pari manta di kedalaman 15 meter. Namun bagi penyelam, tempat ini menjadi panggung untuk melihat tarian ikan yang dalam penerawangan saya mirip tokoh hantu dalam film horor. Bagaimana tidak, warnanya kelam di bagian atas tapi putih di bagian bawah. Mulutnya menganga lebar dengan sayap panjang, belum lagi ekornya yang tidak sebanding dengan ukuran badannya.  

Pada penyelaman ini, kami berjumpa tiga manta. Masing-masing berputar mengitari batu karang berukuran kurang lebih dua meter yang ada di permukaan laut. Satu manta dengan lebar sekitar tiga meter berhenti tepat di muka saya. “Hei Bung, jangan melongo saja!” saya seakan mendengar teriakan manta, tubuh saya kaku melihat kepakan sayap manta yang berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah. Benar-benar gila bagi saya yang baru pertama kali melihat manta secara langsung.

Hari ketiga di Raja Ampat, saya seharusnya melakukan pengamatan burung, mengintip aksi si cenderawasih di Pulau Waigeo. Namun kegiatan itu urung saya lakukan, kemudian memilih untuk ikut penyelaman. Titik selam pertama pagi itu adalah Cape Kri. Letaknya tak jauh dari penginapan kami. Ken menjadi yang pertama turun, lalu kami menyusulnya. Di sini kami menemui kawanan ikan barakuda, hiu sirip putih, napoleon, dan lainnya.

Tak jauh dari Cape Kri, kumpulan karang yang tak terlalu luas muncul dari permukaan laut. Inilah titik penyelaman berikutnya, Mike’s Point. Berbeda dengan Cape Kri yang tenang, tempat selam ini arusnya cukup keras.

“Yud, hati-hati arus laut lumayan kuat. Jangan sampai terseret ke karang,” Ken mengingatkan. Saya memberi isyarat dengan telunjuk dan jempol yang dibentuk menyerupai huruf O sebagai pertanda.

Saya melakukan back roll entry dan “Byuuurrr,” Benar saja, arus cukup kuat membawa tubuh saya hanyut ke arah karang, dengan cepat saya berusaha mengendalikan keseimbangan. Saya mengambil jeda, membersihkan lalu memasangkan mask, kemudian mengenakan regulator.

Saya mengurangi udara di BCD secara perlahan-lahan. Tubuh saya mulai tenggelam ke dalam rimba laut Raja Ampat. Inilah titik penyelaman yang membuat saya terkesima, taman bawah laut yang dipenuhi karang lunak ini semakin sempurna dengan hadirnya aneka rupa ikan.

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Warna-warni terumbu karang di titik penyelaman Cape Kri. Ini hanyalah sebagian dari banyak jenis terumbu karang yang dapat ditemukan di perairan ini.
Saya mengikuti penyelam lain, sebelum laju terhenti oleh kehadiran seekor penyu sisik. Di sini pula kami bertemu hiu, ukurannya tidak terlalu besar. Tapi lebih dari cukup untuk menambah pengalaman kami melihat berbagai macam biota yang hidup di perairan ini. Kami mengakhiri penyelaman di Kuburan Reef, saat petang sudah datang. Di tempat ini kami menemui kelinci laut dan kuda laut kerdil.

Suasana makan malam sama hebohnya dengan malam sebelumnya. Namun, kali ini saya adalah pendosa yang harus di sidang atas ‘kejahatan’ yang tidak saya ketahui. Ceritanya begini. Nicholas Saputra mendapati saya menabrak seekor kuda laut kerdil yang ukurannya sangat kecil “Yud, lu harus tanggung jawab. Nyerocos ke sana-kemari. Lu sadar gak, kalau lu udah nabrak pigmy sea horse lagi menyeberang. Sudah renta pula,” Nico menghakimi saya.  

Hujatan demi hujatan dalam suasana bercanda saya terima dengan lapang dada. Rekan perjalanan lainnya, mulai dari Zamroni, Indra, Husni, hingga Ucu rekan turut menimpali. Saya tidak punya kekuatan untuk membela diri. Saya membatin, di perairan dangkal Raja Ampat nan kaya, sulit sekali bagi saya melihat satwa laut sekecil itu.

Raja Ampat memiliki lebih kurang 2.500 pulau dan gugusan karang. Selama pelawatan di Raja Ampat, saya bahkan tak sampai mengunjungi 1% kawasan ini. Terlalu luas dan beraneka ragam biota yang bisa ditemukan di tanah ini. Daerah ini pun dideklarasikan sebagai kawasan perlindungan hiu dan manta, tak main-main luasnya mencapai 46.000 km persegi. Ini bisa menjadi awal untuk mengurangi pembunuhan hiu secara masal yang ditangkap dari perairan Raja Ampat.

Penetapan kawasan pelestarian ini setidaknya membawa angin segar bagi saya yang terpukau oleh hiu sirip putih yang bebas berenang di dermaga Wayag. Hari terakhir dalam perjalanan ke Raja Ampat, kami sempatkan menuju puncak Wayag. Dibutuhkan waktu lebih dari tiga jam menggunakan kapal cepat untuk mencapai gugusan karst yang memukau ini. Jika menggunakan kapal kayu, mungkin akan memakan waktu lebih lama.

Wayag, cenderawasih, serta kekayaan perairan dangkal Raja Ampat telah menjadi daya pikat utama dari tempat ini. Namun upaya pelestarian kawasan yang berkelanjutan adalah hal terpenting dari sekedar menjual keindahan lanskap dan pemandangan bawah laut semata. Dan, saya pun terpikat pada nirwana di timur Indonesia ini. Paling penting, doa saya terkabul! 

Raja Ampat, West Papua, Wayag, Waisai, Waigeo, Dive Spot, Misool, Raja Ampat Dive Spot, Manta Point, Dive in Raja Ampat, West Papua, Coral, World Coral Triangle, Segitiga Karang Dunia, Kalabia, Wobbegong, Schooling Fish, Reef Manta, Mike's Point, Blue Corner, Kuburan Reef, Misool Resort, Place to Sleep in Raja Ampat, Raja Ampat Explorer, backpacking to Raja Ampat, Festival Raja Ampat, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Inilah pemandangan ikonik yang mengangkat pamor Raja Ampat di mata dunia selain bawah lautnya yang kaya oleh ikan dan terumbu karang. Wayag nan indah dipenuhi pulau-pulau karst dikelilingi laut jernih.

Terpikat Raja Ampat


Ayo, lompati Derawan, Kakaban, dan Maratua! Ikuti langkah saya menyusuri keindahan yang tak terduga di ujung tenggara Berau.


Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Saat laut surut, Pantai Teluk Sumbang nan datar menyisakan hamparan pasir putih serta akar-akar yang dipayungi pohon rindang (kiri). Sibung Lepa (80), warga Dayak Kenyah Badeng menjaga tradisi telinga panjang (kanan).
 “Bapak Bupati yang menghormati saya, Bapak Camat yang menghormati saya, dan para tamu yang menghormati saya…” Jasmin menirukan pidato sang kepala desa. Prosesi penyambutan itu belum berhenti menggelitik. Spanduk sambutan yang bertuliskan “Selamat datang Bapak Bupati dan gerombolan” memecahkan hening pagi dengan tawa bahak kami. Guyon kami tak henti, dari landasan pacu pesawat, soal bupati yang jago memanjat pohon, hingga pidato absurd kepala desa yang sangat fasih ditirukan oleh Jasmin.

Sekali lagi kenalkan, namanya Jasmin. Dialah teman baru saya. Namun jangan tertipu, saya berani bersumpah rupanya tidak secantik para personel girlband JKT48 dan yang terpenting teman baru saya ini lelaki sejati. Perawakannya tinggi besar, rambutnya botak, dari kejauhan terlihat seram namun jika berbicara tak akan lepas dari canda tawa. Kata orang-orang, biar tampang sangar tetapi hatinya selembut mawar.

Saya dan Jasmin membuka pagi di warung kopi milik Hj. Saodah. Sebenarnya kami sudah berada di warung ini sedari gelap masih menyergap langit desa. Fajar menjelang, kami pun asyik mendengarkan ayam berkokok. Akhirnya persis satu meter di depan saya seekor sapi mengais makanan di tong sampah. Mentari menyambut pagi, anak-anak berseragam mulai meniggalkan rumah mereka menuju sekolah.

Inilah Desa Bidukbiduk di Kecamatan Labuan Kelambu. Tempat ini menjadi petualangan saya dalam beberapa hari. Letaknya, di pantai timur Pulau Kalimantan dan berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi. Di sini, pasokan listrik tidak akan menjamin penerangan akan menyala semalam suntuk. Ah, bukan masalah. Saya akan dapat keramahan warga desa dan kehidupan yang hangat, jauh dari ingar-bingar kota.

Butuh waktu enam jam perjalanan darat menuju Desa Bidukbiduk dari Tanjung Redeb, ibu kota Berau, Kalimantan Timur. Bagi pejalan, tentunya nama Berau sudah tidak asing lagi dengan pesona baharinya. Pulau-pulau seperti Derawan, Kakaban, Maratua, dan Sangalaki kaya akan biota laut dan lanskapnya. Hal inilah yang memikat para pejalan untuk datang berkunjung. Namun tak banyak yang tahu, selain pulau-pulau tersebut masih ada hal alami dan menarik dari Berau. Inilah nirwana tersembunyi di kaki langit Borneo.

Perahu yang saya tumpangi menjauh meninggalkan dermaga desa. Lengkingan mesinnya membuat marah burung-burung yang bernyanyi di balik pepohonan pagi itu, juga kera-kera berloncatan saat perahu kami menyibak air nan tenang di Teluk Labuan Cermin. Jelas satwa itu merasa terusik dengan kehadiran kami.  
Saya dan beberapa orang teman bergerak menuju tempat yang mebuat kita berdecak. Masyarakat lokal menamainya Danau Labuan Cermin. Saya terkecoh menganggap tempat ini sebuah danau yang sebenarnya merupakan teluk, sama seperti halnya saat saya bertanya kepada warga Tengarong, mereka menyebut sungai dengan sebutan laut.

 
Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Melewati pagi nan hangat di Teluk Labuan Cermin. Mentari memunculkan kabut-kabut dari hutan yang mengelilingi teluk. Di tempat ini alam memeluk siapa saja untuk berdiskusi.
Teluk Lebuan Cermin dikelilingi belantara tropis. Pohon ulin, bengkirai, meranti, dan berbagai jenis pohon khas Kalimantan berdiri kokoh memayungi tepiannya. Pagi ini kami sengaja mengulang kunjungan ke sini, menikmatan kabut pagi yang menguap dari permukaan danau. Lalu menyaksikan pohon-pohon yang bernapas mengeluarkan uap-uap segar. Melihat ke bawah, terlihat jelas ikan-ikan berenang bebas di dalam teluk. Airnya jernih laksana cermin.

Saya melompat ke dermaga apung yang sengaja dibuat sebagai tempat berlabuh perahu. Tak jauh dari tempat ini, dua pohon besar condong ke arah teluk. Di sinilah tempat terbaik untuk melepas pandang ke sekitar area teluk. Meresapi wangi alam yang sebentar lagi melayang bersama hangat surya. Ini kali kedua kelakuan saya seperti bocah, duduk mengangkangi batang pohon sembari melihat dasar teluk yang persis di bawah saya.

Kemarin sore saya dan kawan sudah membenamkan diri di dalam air Teluk Labuan Cermin yang bening. Kami juga sengaja membawa perlengkapan selam dari Berau untuk menikmati dunia bawah air tempat ini. Menyelam di tempat seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Sungguh, sebuah pengalaman tak terlupakan.  

“Wah di dalam menarik, ini saya sudah beberapa kali menyelam disini tapi gak puas-puas,” ungkap Arief salah seorang teman dari Berau Coal Diving Club. Apa yang diungkapkan Arief memang benar, bukan terumbu karang berwarna-warni yang bisa dinikmati dari aktivitas penyelaman disini, tapi sensasi menyelam di air dua rasalah yang membuatnya istimewa. Air asin bersumber dari air laut yang mungkin masuk dari celah daratan saat pasang surut, sementara air tawar berasal dari mata air yang ada di sekeliling teluk serta Danau Labuan Kelambu yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat ini.  


Lihatlah, di depan saya tebing curam setinggi 20 meter. Di tengah tebing, air mengucur deras. Orang lokal menyebut tempat ini dengan nama Air Terjun Bidadari. Tak ada bidadari hari itu, kecuali saya dan teman-teman. Kami bersenang-senang,  awalnya sekedar berenang, tapi ide untuk terjun bebas memompa adrenalin untuk melakukan sesuatu yang menantang.

Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Fiona Callaghan menyisir tebing Air Terjun Bidadari untuk menuju titik loncat yang menantang. Pantai hanya berjarak 100 meter dari air terjun ini.
Teman perjalanan saya, Fiona Callaghan, menjadi bintang siang itu. Tanpa ragu, dara ini meniti tepian tebing sembari memegangi akar pepohonan. Ini akan menjadi momen yang menarik, menyaksikannya meloncat dari ketinggian. Hasrat petualangan Fiona membuat kami para lelaki berdecak. “Oaaaa…” teriakanya kemudian menghilang beberapa detik sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan air. “That’s was so fun...” suaranya memecah keheningan kami. Kami semua terkekeh, lalu ikut terjun satu persatu.

Air terjun ini mengalir ke Pantai Teluk Sumbang. Alirannya membelah pasir putih, menyisakan semacam sungai kecil yang menghilir hingga laut. Saya mengunjungi pantai ini saat surut, dan beruntung bisa berjalan hingga ke tengah.

Mayoritas penduduk yang mendiami Desa Teluk Sumbang adalah orang Banjar yang menghuni bagian pesisir dan Dayak Basab yang tinggal lebih ke arah perbukitan. Bagi saya ini sudah cukup memberikan gambaran tentang mata pencaharian masyarakat. Orang Banjar hidup sebagai nelayan, dan orang Dayak Basab bekerja sebagai petani.

Bersama beberapa kawan, saya mengarahkan langkah menuju perkampungan Dayak Basab. Dari bibir pantai, kami berjalan kaki setengah jam untuk tiba di tempat tujuan. Sebuah perkampungan yang tak terlalu luas, hanya ada beberapa rumah yang mengelilingi lapangan hijau nan luas. Di perkampungan Dayak Basab ini, rumah ditinggikan satu hingga dua meter dari permukaan tanah, dibawah rumah dijadikan kandang untuk hewan ternak.


Jembatan kayu sepanjang 100 meter membentang di atas Teluk Labuan Kelambu. Beberapa pondasi sudah mulai miring dan lapuk dimakan usia. Gemuruh kayu menggema saat kendaraan melintas di atas badan jembatan. Namun itu tak membuat ciut nyali warga desa untuk melintas menuju seberang.

Dari atas jembatan, saya melepas pandang ke arah laut melihat puluhan kapal melepas sauh. “Gelombang lagi tinggi mas, melautnya ditunda dulu,” ujar Hamid seorang nelayan yang mengurungkan niatnya mencari ikan. Masalah cuaca menjadi salah satu kendala bagi warga yang hidup di pesisir dalam mencari nafkah.  

Mayoritas warga Desa Bidukbiduk berprofesi sebagai nelayan. Untuk mengisi waktu senggang saat tidak melaut, beberapa kelompok nelayan memperbaiki jaring yang rusak, memoles lambung kapal, dan tentu saja bercengkrama dengan keluarga.

Saya menemui Said Abu dan anaknya Supri, orang Mandar yang sudah lama tinggal di Desa Bidukbiduk. Suku Mandar mahsyur sebagai penjelajah laut nan ulung. Namun kali ini saya tidak menemuinya sebagai pelaut, tapi sebagai pembuat kapal tradisional.

Abu telah menekuni pekerjaan sebagai pembuat kapal sejak 40 tahun silam. Keahlian membuat kapal tradisional ini didapati secara turun-temurun. Kapal yang dibuatnya diperuntukkan sebagai kapal penangkap ikan, namun ada juga yang digunakan untuk berlayar. “Semuanya tergantung pesanan, Mas. Kalau ada gambar kita bisa bikinkan tapi tetap pengerjaannya secara tradisional,” ujar Abu saat saya tanyai tentang siapa yang memesan kapal darinya. “Kapal ini sudah sebulan saya kerjakan, mungkin tiga bulan lagi selesai,” Abu menjelaskan lama pengerjaan untuk satu kapal hingga bisa dibawa melaut.

Saya memperhatikan tangan-tangan telaten Abu dan Supri memahat kayu kapal. Orang-orang Mandar di Desa Bidukbiduk, ataupun orang Dayak di Teluk Sumbang adalah satu dari beberapa suku yang mendiamin pesisir Berau. Hidup selaras dengan alam dan tetap menjaga tradisi adalah salah satu pelajaran yang bisa saya dapati selama perjalanan ke desa ini. 

Berau; Kalimantan Timur; Danau Labuan Cermin; Desa Biduk-biduk; Teluk Sulaiman; Tanjung Redeb; Dayak Basab; Teluk Sumbang; Air Terjun Bidadari; Derawan; Wisata Kalimantan Timur; Wisata Berau; Berau Tourism; Borneo; Maratua; Sangalaki; Kakaban; Derawan Island; Penginapan di Berau; transportasi menuju bear; Berau Photos; Foto Labuan Cermin; Wisata Indonesia; Indonesia Tourism; East Borneo; East Kalimantan; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menjelang senja, sekelompok pemuda menjaring ikan di Teluk Sulaiman, tak jauh dari Pos TNI AL. Di seberangnya, kawasan mangrove Sigending menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Tanpa diminta dan tanpa imbalan materi, masih banyak masyarakat kita yang menjadi tradisi dan nilai-nilai luhur mereka. Keramahan, toleransi, dan konsistensi menjaga alam dan warisan leluhur setidaknya mengajarkan kita bahwa seharusnya kita belajar dari mereka yang tidak mengeluh dan menyesali hal-hal buruk tentang manusia dan kehidupannya. Nah, inilah saatnya kita kemasi bekal, datangi, dan lindungi surga yang masih tersisa di kaki langit Kalimantan ini. Setuju, kawan?

Berau, Senandung Alam Tanah Borneo