Upacara Penti Waerebo : National Geographic Traveler Indonesia Februari 2016

Puluhan warga beriringan sembari membawa beras, ayam, babi, telur dan berbagai makanan lainnya melewati jalan setapak menuju Waerebo. Mereka adalah orang Waerebo yang mengadu peruntungan dengan merantau ke berbagai kota yang ada di Pulau Flores seperti Bajawa, Ruteng, Labuanbajo, dan Ende.
 Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

Tujuan kepulangan mereka adalah untuk menghadiri upacara Penti yang diadakan tanggal 16 November setiap tahunnya. Upacara ini merupakan sebuah gempita perayaan ungkapan rasa syukur warga Waerebo kepada para roh leluhur dan semesta tatkala tahun baru dalam kalender mereka tiba. Warga berkumpul bersama keluarga dan melarutkan suka cita bersama.

Upacara Penti berpusat di Mbaru Gendang, satu dari tujuh rumah tradisional yang ada di Waerebo. Ritus bermula dari tembang yang didendangkan oleh tetua adat dengan diiringi gendang. Setelah itu barulah prosesi dilanjutkan menuju lingko, sumber air, dan kuburan leluhur. Kemudian, mereka kembali lagi ke

Mbaru Gendang. Prosesi ini dilakukan untuk mengundang arwah leluhur untuk mengikuti upacara Penti. Saat perayaan, tarian caci juga ditampilkan di halaman rumah Mbaru Gendang.
Sore hari, di compang atau altar panembahan, upacara Boa dilakukan oleh tetua adat dengan mempersembahkan ayam untuk menghormati para roh leluhur.

Tatkala malam jatuh, upacara pemberkatan dibarengi dengan mempersembahkan hewan seperti ayam dan babi. Upacara ini dilakukan di masing-masing rumah yang ada di Waerebo. Pada puncaknya, Lantunan tembang adat akan menggema saat malam perayaan Penti.

Berikut beberapa foto perjalanan saya ke Waerebo untuk menghadiri Upacara Penti bersama Geo Avontur yang diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Februari 2016.


 Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

 Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

 Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

 Waerebo, Wae Rebo, Mbaru Niang, Denge, Dintor, Penti, Upacara Penti, Manggarai, Desa Adat Waerebo, Ruteng, Flores Overland, Traditional House of Waerebo, How to get Waerebo, History of Mbaru niang, Award of Exellence World Heritage, Unesco World Heritage, Rumah Adat Manggarai, Rumah Mbaru Niang, Bajawa, Traditional House in Flores, Traditional houses of East Timur, Nusa Tenggara Timut, East Nusa Tenggara, Travel to East Nusa Tenggara, Transportation to Waerebo, Kampung Waerebo, Traditional Village of Waerebo, Indonesia Traditional House, Heritage of Indonesia, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia

Geo Avontur merupakan sebuah perjalanan fotokita.net yang didukung oleh National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler. Trip spesial ini berupaya menangkap keindahan alam dan budaya dalam lensa serta tulisan sekaligus merasakan pengalaman penugasan yang dilakukan oleh awak redaksi. Informasi terkait Geo Avontur bisa menghubungi Dio Dagna Mohamad Telp. (021) 5330150 ext. 32503 e-mail: geoavontur@fotokita.net

Fakta Gereja Katedral Jakarta - Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga

Jika berjalan di kawasan Lapangan Banteng, mata kita akan tertuju ke dua menara menjulang nan indah di seberang jalan. Inilah menara Gereja Katedral Jakarta, bangunan bergaya neo-gotik yang menjadi salah satu bangunan Cagar Budaya di Jakarta. Saya berkesempatan mengabadikan bangunan nan indah ini setelah dari Mesjid Istiqlal. Beberapa fakta terkait pembangunan Gereja Katedral mungkin bisa menambah wawasan kita.

Katedral Jakarta, Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Cathedral, Jakarta Catedral, Foto Gereja Katedral, Foto Katedral Jakarta, Bangunan Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya di Jakarta, Cagar Budaya Katedral, Menara Gereja Katedral Jakarta, Leonardus Petrus de Ghisignies, Foto Jakarta, Gereja Katolik Jakarta, Pastor Antonius Dijkmans, Uskup Mgr. Edmundus Sybradus Lupyen, Menara Angelus Dei, De Kerk van Onze Liece Vrowe ten Hemelopnemin, Paus Paulus VI, Uskup Agung Jakarta, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Matahari sore menyinari Gereja Katedral Jakarta berpayung langit cerah. Gereja bergaya neo-gotik ini diresmikan oleh Vikaris Postolik Jakarta bernama Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ pada 21 April 1901. (Yunaidi Joepoet)

Pelopor pembangunan Katedral Jakarta ini diprakarsai oleh Leonardus Petrus de Ghisignies, komisaris jenderal yang juga penganut Katolik. Pada 1826, ia meminta Ir. Tromp untuk merancang gereja Katolik pertama di Batavia. Namun, dalam perjalanannya bangunan ini rusak parah.

Pembangunan ulang Pada November 1890, ditandatangani kontrak untuk pembelian tiga juta batu bata. Setiap bulannya, perusahaan pembakaran batu bata harus menyerahkan 70.000 batu bata untuk pembangunan gereja baru. Pastor Antonius Dijkmans, SJ ditunjuk sebagai perencana dan arsitek dalam pembangunan gereja ini. Pembangunan sempat terhenti karena kekurangan dana. Namun, Uskup Mgr. Edmundus Sybradus Lupyen, SJ melalui badan pengurus gereja dan para umat berusaha mengumpulkan dana untuk melanjutkan pembangunan gereja.

Arsitektur gereja ini bergaya neo-gotik. Di bagian depannya terdapat tiga Menara Angelus Dei setinggi 45 meter, dan diapit dua menara setinggi 60 meter. Pada bagian dalam terdapat mimbar bercorak gotik buatan firma Te Poel dam Stoltefusz dan tiga buah altar.

Peresmian De Kerk van Onze Liece Vrowe ten Hemelopnemin' atau 'Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga' ini diresmikan oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ. Gereja ini populer dalam masyarakat dengan sebutan Gereja Katedral karena di dalamnya terdapat cathedra yakni takhta uskup.

Museum katedral menyimpan berbagai benda- benda bersejarah seperti alat-alat ibadah, pakaian, lukisan dan foto, patung-patung, buku, dan beberapa benda penting lainnya. Tersimpan pula tongkat Paus Paulus VI yang dihadiahkan kepada Uskup Agung Jakarta kala itu.

Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Kebanggaan Indonesia untuk Warga Ibukota

Meskipun sudah dicanangkan sejak tahun 1985, pengerjaan Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta belum juga terlaksana. Hingga akhirnya pada tahun 2005, Pemerintah menegaskan bahwa proyek MRT Jakarta tersebut merupakan proyek nasional. Pemerintah pusat dan daerah bekerja sama untuk mewujudkan transportasi yang memudahkan mobilisasi warga Ibukota. Pada akhir tahun 2013, pengerjaan konstruksi dimulai. Untuk kesekian kalinya saya begitu optimis dengan kebaikan-kebaikan pembangunan yang akan terwujud di Ibukota Jakarta. Saya berkesempatan untuk melihat ke bawah tanah bagaimana Bor Antareja yang diresmikan penggunaannya  oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 21 September 2015, mesin bor Antareja terus mengeruk bumi untuk membuat terowongan bawah tanah Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Direncanakan MRT Jakarta ini akan membentang sepanjang 110,8 kilometer yang dibagi menjadi dua koridor, yakni Koridor Selatan - Utara (Lebak Bulus - Kampung Bandan) sepanjang 23,8 kilometer dan Koridor Timur - Barat sepanjang 87 kilometer.

Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Pekerja mengoperasikan lori yang mengangkut material tanah hasil pengeboran terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (10/12/2015). Jalur yang ada di terowongan ini hanya sementara sebagai jalur lori.Nantinya akan dipasang jalur untuk MRT. (Yunaidi Joepoet)







"Tangis kami sebagai pekerja di MRT Jakarta ini akan pecah saat MRT Jakarta beroperasi untuk pertama kalinya. Ternyata Kita Bisa,"  ~ Akbar, Pekerja di MRT Jakarta
Patung bercorak legam seorang pria membawa obor itu lebih tinggi beberapa meter dari posisi semula. Pagar seng juga telah menutupi tempat patung ini berdiri. Dulunya, bundaran dengan kolam dan air mancur nan cantik, menjadi tempat berdiri Patung Pemuda Membangun yang dibuat oleh Imam Supardi dan Munir Pamuncak. Namun memang harus ada yang dikorbankan. 

Saya tergopoh-gopoh menyeberang Jalan Sisingamangaraja yang bertemu Jalan Sudirman pagi itu. Lalu-lalang kendaraan baru reda saat lampu merah dari arah Blok M. Saya belum telat atas janji yang dimajukan sejam lebih awal. Dari pagar yang terbuka, saya menerobos masuk ke dalam kawasan proyek MRT Jakarta. Rupanya jalan tersebut terlarang untuk dimasuki, kecuali untuk truk pengangkut bahan materian pengerjaan MRT. 

Saya masuk melalui pintu dari arah Jalan Jenderal Sudirman di Kamis pagi kala itu. Ya, memang MRT Jakarta hanya membuka pintu ke terowongan bawah tanah untuk pengunjung hanya pada hari kamis. Bangunan yang difungsingkan sebagai kantor lapangan berdiri di sebelah kiri. Di dinding bangunan, tertempel semua informasi terkait proyek MRT Jakarta, termasuk pula tentang keselamatan dalam bekerja. Pagi itu bersama kawan-kawan, kami dipandu oleh staf MRT Jakarta kami mendapat brief singkat.


Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Pekerja memasang lem pada perekat untuk segment tunnel (ruas terowongan) saat pengerjaan konstruksi terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Patung Pemuda Senayan. (Yunaidi Joepoet)
Saya mengunjungi terowongan bawah tanah ini beberapa bulan seteleh pengerjaannya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Bor Antareja I kala itu sah untuk beroperasi mengebor terowongan bawah tanah yang akan di jadikan jalur MRT Jakarta setelah diresmikan. Tuntas sudah impian 30 tahun lalu untuk memiliki MRT di Jakarta.
Sebenarnya tak seluruh jalur MRT koridor Lebak Bulus - Bundaran Hotel Indonesia ini menggunakan terowongan bawah tanah. Karena di beberapa tempat, tak dimungkinkan untuk membangun terowongan. Untuk membangun terowongan bawah tanah tentu membutuhkan area kerja yang cukup luas. Hal ini tentu tak memungkinkan jika jalur MRT Jakarta melalui daerah dengan jalur jalanan yang sempit dan kerap macet. Atas pertimbangan tersebut, pihak MRT Jakarta membangun jalur layang atau elevated dari Sisingamangaraja hingga Lebak Bulus. 

Di pintu masuk menuju terowongan bawah tanah, beberapa kertas terkait pengerjaan proyek tertempel. Data terkait pekerjaan proyek, jumlah pekerja yang sedang berada di dalam hingga hal-hal penting lainnya tertempel di papan. Kami tak bergegas masuk, "Ayo Mas kita ke bagian segment tunnel dulu," ujar Akbar mengajak kami menyeberang jalan. 

Tumpukan segment tunnel tersusun rapi. Beton yang diproduksi di Karawang ini menunggu untuk dipasang di dalam terowongan. Beberapa pekerja dengan pelindung diri yang lengkap sibuk memberi melumuri karet perekat segment tunnel. Kami tak berlama-lama disini, lalu kembali lagi ke pintu masuk terowongan bawah tanah. 
Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Pekerja menaiki anak tangga di terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di Kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)

Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Seorang pekerja memantau lori yang mengangkut segment tunnel (ruas terowongan) Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
Saya menuruni anak tangga besi yang dibuat kokoh menuju terowongan bawah tanah. Sebuah lubang bulat yang diameternya sungguh sangat besar membuat saya terharu, bahagia dan berdecak kagum atas apa yang bisa dihadirkan oleh pekerja-pekerja MRT yang berdedikasi hingga saat ini. 

Tak tampak aktivitas pekerja di tempat saya beridiri. Ternyata terowongan ini sudah selesai pengeboran dan pemasangan segment tunnelnya. Bahkan progressnya sudah jauh dari tempat saya berdiri. Untuk masuk lebih jauh menuju tempat dimana Bor Antareja II melakukan pengeboran, kami dibagi menjadi dua kelompok. Karena tak mungkin untuk masuk melebihi empat orang di waktu yang bersamaan. 

Jalur untuk lori pembawa segment tunnel dan lori dibuat di tengah terowongan. Sementara jalur pekerja dibuat disisi kanan arah masuk terowongan menuju Bor Antareja II bekerja. Sebuah pipa kuning berdiamter besar menggantung di tengah terowongan. "Ini jalur oksigen yang akan menyuplai oksigen ke pekerja." ujar Akbar. "Tanpa menyalurkan oksigen, sangat berbahaya bekerja di bawah tanah." tambahnya. 

Hawa panas sudah terasa saat saya pertama kali menginjakkan kaki di dalam terowongan ini. Saya baru paham kenapa tidak boleh terlalu banyak pekerja dan pengunjung di waktu yang bersamaan. 

Saya berhati-hati melewati jalan untuk para pekerja yang dibangun di tepi terowongan menuju tempat Bor Antareja II bekerja. Cukup jauh jarak yang kami tempuh dari tempat turun tangga menuju tempat pengeboran. 

Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Pekerja memeriksa dinding terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Dua pekerja melakukan kontrol penuh untuk bor Antareja II yang sedang bekerja untuk membuat terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
Dua teknisi, dari Indonesia dan dari Jepang terlihat serius dari dalam ruang kendali pengeboran Bor Antareja II. Nantinya bor ini akan mengebor tanah sepanjang 1,2 meter lalu berhenti untuk kemudian dimasukkan beton segment tunnel ke lubang hasil pengeboran. Dibutuhkan 6 beton segment tunnel untuk satu lingkaran penuh terowongan. Selama proses ini, para pekerja aman dan terhindar dari tumpahan material karena terlindung oleh bagian luar mesin bor terowongan. Proses ini akan terus berulang untuk pengeboran terowongan bawah tanah untuk jalur MRT Jakarta. 
Material hasil pengeboran bukanlah tanah hitam, tapi hampir mirip lumpur, seperti adukan semen lebih tepatnya. Lumpur hasil pengeboran ini dibawa menggunakan lori yang jalurnya memanfaatkan landasan terowongan. 
Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Bor Antareja II yang sedang bekerja untuk membuat terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
Saya menyudahi kunjungan di terowongan bawah tanah lalu beranjak ke Stasiun Senayan. Banyak yang beranggapan bahwa pengerjaan MRT Jakarta tak berjalan mulus, tak ada aktivitas pekerja, dan masih banyak lagi. Saya mungkin bisa menyangkal perkataan tersebut, jika dilihat dari atas memang tak tampak pengerjaan MRT Jakarta yang begitu berarti, namun pergilah ke terowonan bawah tanah. Ratusan orang bahu-membahu mengebut penyelesaian jalur transportasi yang sangat membantu warga ibukota nantinya. 

Kami membelokkan kendaaraan ke dalam area pengerjaan Stasiun Senayan yang ada di seberang Ratu Plaza atau sebelum FX Sudirman. Saya menuruni anak tangga masuk menuju Stasiun Senayan. Jaring pelindung dipasang mengelilingi anak tangga. 
Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Sisi belakang dari terowongan yang sedang di bor menggunakan mesin bor Antareja II. Pada 23 Desember 2015, bor Antareja II sudah berhasil menembus terowongan hingga ke Stasiun Senayan. (Yunaidi Joepoet)
Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Aktivitas para pekerja di terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
Stasiun Senayan nantinya akan terdiri dari dua tingkat. Lantai dasar akan dijadikan area tunggu penumpang yang akan menaiki MRT Jakarta. Sedangkan lantai dua akan menjadi area publik, seperti cafe dan fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan di permukaan merupakan pintu masuk menuju stasiun. 

Direncanakan MRT Jakarta ini akan membentang sepanjang 110,8 kilometer yang dibagi menjadi dua koridor, yakni Koridor Selatan - Utara (Lebak Bulus - Kampung Bandan) sepanjang 23,8 kilometer dan Koridor Timur - Barat sepanjang 87 kilometer.

Saat ini pembangunan Tahap I dari MRT Jakarta dengan rute dari Lebak Bulus hingga Bundara HI sepanjang 15,7 kilometer terus dikebut. Penyelesaian proyek MRT Jakarta Tahap I sudah mencapai 50 persen untuk terowongan bawah tanah, dan 22 persen untuk jalur layang. Dan Bor Antareja II sudah menembus Stasiun Senayan pada 23 Desember 2015.

Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Pengerjaan konstruksi yang nantinya akan dijadikan sebagai Stasiun Senayan. Hingga saat ini pengerjaan proyek MRT Jakarta sudah mencapai 50 persen untuk terowongan bawah tanah, dan 22 persen untuk jalur layang. Ditargetkan MRT ini bisa beroperasi untuk melayani warga Jakarta pada tahun 2019. (Yunaidi Joepoet)

Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Material hasil pengeboran yang dilakukan oleh mesin bor Antareja II di kawasan Senayan, Jakarta. (Yunaidi Joepoet)
Mass Rapid Transit Jakarta, MRT Jakarta, Kereta MRT Jakarta, Mass Rapid Transportation, Terowongan MRT, Kereta MRT, Stasiun MRT Senayan, MRT Jakarta Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia, Transportasi Jakarta, Bor Antareja I, Antareja, Joko Widodo, Kereta Bawah Tanah Indonesia, Proyek Kereta Bawah Tanah, Terowongan, Patung Pemuda, Teknisi, Pekerja MRT, Proyek MRT, Jepang, Jakarta, Indonesia, Foto MRT, Indonesia, MRT Japan Indonesia, Jakarta Stock Photo, Jokowi Program, Indonesia 2019
Hingga saat ini pengerjaan proyek MRT Jakarta sudah mencapai 50 persen untuk terowongan bawah tanah, dan 22 persen untuk jalur layang. Ditargetkan MRT ini bisa beroperasi untuk melayani warga Jakarta pada tahun 2019. (Yunaidi Joepoet)

Embara di Tanah Tapal Kuda Probolinggo Bromo : National Geographic Traveler Indonesia Januari 2016

Dingin menyeruak saat saya membuka jendela kendaraan. Tak ada deru mesin selain kendaraan kami yang merengek melintasi jalan menanjak. Hamparan lahan pertanian warga di sisi jalan menyisakan aroma tanah bercampur bahan penyubur nan menusuk hidung. Sementara, rumah di kiri dan kanan jalan menutup pintunya dengan rapat, tak terlihat sesosok tubuh pun yang berkeliaran. Perjalanan ke peraduan malam itu di Bromo laksana menuju kota mati.

Bagi para wisatawan, Gunung Bromo adalah daya pikat. Sedangkan bagi orang Tengger, Gunung Bromo adalah tempat yang sakral, muara dari persembahan dan doa dalam upacara Yadna Kasada.

Mount Bromo, Gunung Bromo, Indonesia Volcano, Tengger, Sunrise Bromo, East Java, Argopuro, Danau Agung, Ranu Agung, Probolinggo, Photography in Bromo, Best Spot in Bromo, Kasada Ceremony, Hindu, Tenggernesse, Fotografi Bromo, Bromo Stock Photo, Foto Indah di Bromo, Bromo Stock Photo, Teletubies Hill, Bukit Teletubis, Sand Dune, Pasir Berbisik, Mount Batok, Sunrise in Pananjakan, Bromo Temple, Upacara Umat Hindu, Masyarakat Tengger, Indonesia Landscape, Landscape Photography, Landscape Stock Photo, Lonely Planet Bromo, Hidden Sunrise, Amazing Bromo, Go To Bromo, Jeep in Bromo, Hostel, Indonesian Photographer, East Java Tourism, Umat Hindu, Bromo via Malang, Tosari, Hunting, Photography Tour in Bromo, Stock Photo Asia, Photography Spot in Bromo, Best Place to See Sunrise, Semeru, Bromo Tengger Semeru National Park, Bromo Eruption, Kasodo

Bromo telah membuat saya terpikat dari segala sisi. Alam nan indah berpadu dengan tradisi dan budaya masyarakat yang selaras dalam menjaga keseimbangan alam. Tulisan singkat saya terkait Kabupaten Probolinggo bisa dibaca di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi 2016. Banyak orang beranggapan bahwa Kabupaten Probolinggo hanya punya Bromo, padahal banyak hal yang masih bisa dikunjungi. Mulai dari air terjun, danau, hingga pantai yang menarik. Selain itu budaya masyarakat yang masih bertahan hingga saat ini bisa menjadi pengalaman berkunjung yang sungguh sangat berharga jika menyambangi kawasan yang masuk dalam kawasan Daerah Tapal Kuda di Jawa Timur ini.

Berikut tulisan dan foto saya yang dipublikasikan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Januari 2016.

Mount Bromo, Gunung Bromo, Indonesia Volcano, Tengger, Sunrise Bromo, East Java, Argopuro, Danau Agung, Ranu Agung, Probolinggo, Photography in Bromo, Best Spot in Bromo, Kasada Ceremony, Hindu, Tenggernesse, Fotografi Bromo, Bromo Stock Photo, Foto Indah di Bromo, Bromo Stock Photo, Teletubies Hill, Bukit Teletubis, Sand Dune, Pasir Berbisik, Mount Batok, Sunrise in Pananjakan, Bromo Temple, Upacara Umat Hindu, Masyarakat Tengger, Indonesia Landscape, Landscape Photography, Landscape Stock Photo, Lonely Planet Bromo, Hidden Sunrise, Amazing Bromo, Go To Bromo, Jeep in Bromo, Hostel, Indonesian Photographer, East Java Tourism, Umat Hindu, Bromo via Malang, Tosari, Hunting, Photography Tour in Bromo, Stock Photo Asia, Photography Spot in Bromo, Best Place to See Sunrise, Semeru, Bromo Tengger Semeru National Park, Bromo Eruption, Kasodo

Mount Bromo, Gunung Bromo, Indonesia Volcano, Tengger, Sunrise Bromo, East Java, Argopuro, Danau Agung, Ranu Agung, Probolinggo, Photography in Bromo, Best Spot in Bromo, Kasada Ceremony, Hindu, Tenggernesse, Fotografi Bromo, Bromo Stock Photo, Foto Indah di Bromo, Bromo Stock Photo, Teletubies Hill, Bukit Teletubis, Sand Dune, Pasir Berbisik, Mount Batok, Sunrise in Pananjakan, Bromo Temple, Upacara Umat Hindu, Masyarakat Tengger, Indonesia Landscape, Landscape Photography, Landscape Stock Photo, Lonely Planet Bromo, Hidden Sunrise, Amazing Bromo, Go To Bromo, Jeep in Bromo, Hostel, Indonesian Photographer, East Java Tourism, Umat Hindu, Bromo via Malang, Tosari, Hunting, Photography Tour in Bromo, Stock Photo Asia, Photography Spot in Bromo, Best Place to See Sunrise, Semeru, Bromo Tengger Semeru National Park, Bromo Eruption, Kasodo

Mount Bromo, Gunung Bromo, Indonesia Volcano, Tengger, Sunrise Bromo, East Java, Argopuro, Danau Agung, Ranu Agung, Probolinggo, Photography in Bromo, Best Spot in Bromo, Kasada Ceremony, Hindu, Tenggernesse, Fotografi Bromo, Bromo Stock Photo, Foto Indah di Bromo, Bromo Stock Photo, Teletubies Hill, Bukit Teletubis, Sand Dune, Pasir Berbisik, Mount Batok, Sunrise in Pananjakan, Bromo Temple, Upacara Umat Hindu, Masyarakat Tengger, Indonesia Landscape, Landscape Photography, Landscape Stock Photo, Lonely Planet Bromo, Hidden Sunrise, Amazing Bromo, Go To Bromo, Jeep in Bromo, Hostel, Indonesian Photographer, East Java Tourism, Umat Hindu, Bromo via Malang, Tosari, Hunting, Photography Tour in Bromo, Stock Photo Asia, Photography Spot in Bromo, Best Place to See Sunrise, Semeru, Bromo Tengger Semeru National Park, Bromo Eruption, Kasodo

Mount Bromo, Gunung Bromo, Indonesia Volcano, Tengger, Sunrise Bromo, East Java, Argopuro, Danau Agung, Ranu Agung, Probolinggo, Photography in Bromo, Best Spot in Bromo, Kasada Ceremony, Hindu, Tenggernesse, Fotografi Bromo, Bromo Stock Photo, Foto Indah di Bromo, Bromo Stock Photo, Teletubies Hill, Bukit Teletubis, Sand Dune, Pasir Berbisik, Mount Batok, Sunrise in Pananjakan, Bromo Temple, Upacara Umat Hindu, Masyarakat Tengger, Indonesia Landscape, Landscape Photography, Landscape Stock Photo, Lonely Planet Bromo, Hidden Sunrise, Amazing Bromo, Go To Bromo, Jeep in Bromo, Hostel, Indonesian Photographer, East Java Tourism, Umat Hindu, Bromo via Malang, Tosari, Hunting, Photography Tour in Bromo, Stock Photo Asia, Photography Spot in Bromo, Best Place to See Sunrise, Semeru, Bromo Tengger Semeru National Park, Bromo Eruption, Kasodo


Mount Bromo, Gunung Bromo, Indonesia Volcano, Tengger, Sunrise Bromo, East Java, Argopuro, Danau Agung, Ranu Agung, Probolinggo, Photography in Bromo, Best Spot in Bromo, Kasada Ceremony, Hindu, Tenggernesse, Fotografi Bromo, Bromo Stock Photo, Foto Indah di Bromo, Bromo Stock Photo, Teletubies Hill, Bukit Teletubis, Sand Dune, Pasir Berbisik, Mount Batok, Sunrise in Pananjakan, Bromo Temple, Upacara Umat Hindu, Masyarakat Tengger, Indonesia Landscape, Landscape Photography, Landscape Stock Photo, Lonely Planet Bromo, Hidden Sunrise, Amazing Bromo, Go To Bromo, Jeep in Bromo, Hostel, Indonesian Photographer, East Java Tourism, Umat Hindu, Bromo via Malang, Tosari, Hunting, Photography Tour in Bromo, Stock Photo Asia, Photography Spot in Bromo, Best Place to See Sunrise, Semeru, Bromo Tengger Semeru National Park, Bromo Eruption, Kasodo
Sampul majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Januari 2016.

Tari Lengger Dieng Wonosobo : National Geographic Traveler Indonesia Oktober 2015

Hujan tak kunjung turun setelah beberapa bulan lamanya menyisakan tanah kering yang meniupkan debu ke udara di antara hawa dingin dataran tinggi Dieng, yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Musim kemarau kali ini menyisakan kesedihan, kentang dan beberapa sayuran yang ditanam para petani gagal panen akibat bun upas (embun es). Para petani buntung berselimut lara. Namun, pelipur sederhana mereka bukanlah rupiah, melainkan rentak kaki para penari yang selaras dengan bunyi gamelan.



  Lahan-lahan pertanian di tubir bukit kosong melompong tanpa ada satu pun petani yang menggarap tanah. Syahdu suara sinden mendayu hingga ke ujung dataran tinggi. Di Dieng, esok setelah hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia adalah hari untuk merayakan kebahagiaan, yang juga berarti waktunya melupakan kesedihan untuk sementara waktu. Beragam pertunjukan kesenian tradisional disajikan kepada para warga yang datang memenuhi kawasan Candi Arjuna nan damai.

  Tari lengger menjadi pamungkas hari itu. Sedari kemarin, Mujiono bersama kerabat di Paguyuban Kesenian Tari Topeng Sri Widodo, Dieng, sudah dibikin sibuk untuk pementasan. Dimulai dari membersihkan puluhan topeng dan gamelan, juga membuat lemari baru tempat topeng-topeng yang digunakan dalam pertunjukan lengger disemayamkan. Sesajen pun disiapkan sebelum pertunjukan. Dari dulu hingga saat ini, tak banyak yang berubah dalam setiap penampilan tari lengger.

  Malam sebelum pertunjukan, Mujiono yang ditahbiskan sebagai pemimpin, dukun, penari, dan pelestari tari lengger berkisah mengenai asal mula tari lengger. Tari ini berawal dari cerita Dewi Galuh Condro Kirono, putri dari Prabu Lembu Ami Joyo yang meninggalkan Kerajaan Jenggolo Manik akibat selir raja yang tak suka dengan perjodohan sang putri dengan Raden Panji Asmoro Bangun. Dalam pelariannya, Dewi Galuh Condro Kirono menyamar sebagai penari lengger. Namun, pada suatu kesempatan pertunjukan tari lengger untuk menghibur para penggawa praja, topeng yang digunakan sang putri tak mampu menghambat perjumpaannya dengan Raden Panji Asmoro Bangun, sang calon suami.

  Sebagai bentuk ekstistensi tarian tradisional yang sudah berusia sepuh, tari lengger setidaknya masih mampu memberikan pertunjukan yang menghibur para pemirsa setianya.

  Seperti para pelestari tari tradisional di seluruh Nusantara, Mujiono serta para penari dan seluruh tenaga yang terlibat dalam tari lengger mengemban beban yang tak bisa dikatakan ringan, di tengah gempuran seni dan budaya asing yang kian vulgar serta lebih mudah diterima oleh generasi kekinian.







Seri foto ini bisa dibaca lengkap di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Oktober 2015. Semoga kesenian tradisional seperti Tari Lengger dari daerah Dieng ini bisa terus dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa Tengah yang juga menjadi kekayaan budaya Indonesia. Terima kasih untuk Paguyuban Kesenian Tari Lengger Sri Widodo yang sudah mengizinkan saya mengabadikan aktivitas pertunjukannya. Semoga bermanfaat, sahabat pembaca.

Pendakian Gunung Kerinci 3.805 M, Berteman Maut Menuju Puncak Api Tertinggi

Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun demikian dengan tas ransel berukuran 85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian yang saya panggul layaknya memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "Duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang saya lewati. Sekarang saya berteman dengan maut, seorang diri di tengah rimba yang semakin suram.


Gunung Kerinci, Danau Kerinci, Danau Gunung Tujuh, Danau Kaca, Danau Kaco, Kersik Tua, Kayu Aro, Desa Pelompek, Tea Plantation, Kebun Teh Kayu Aro, Sungai Penuh, Puncak Indrapura, Orang Pendek, Mount Kerinci, Bukit Barisan; Mount; Hill; Gunung Kerinci; Gunung Tujuh; Mount Kerinci; highest volcano in indonesia; foto gunung; mountain photo; above the clound; kersik tuo; jambi; sumatra; kerinci seblat; taman nasional; layer; morning; sunrise; indonesia; landscape indonesia; travel photo; mounteiner; adventure; aerial photography; city; gunung kerinci; pendakian gunung; gunung tujuh; pegunungan bukit barisan; Indonesia Mountain; Ring of Fire; Cincin Api; Mount; Gunung Indonesia; Mountain in Indonesia; Active Volcano; Eruption; Climber
Pemandangan dari atas puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter dengan latar Danau Gunung Tujuh dan barisan Pegunungan Bukit Barisan. © Yunaidi Joepoet


Ini hari terakhir saya diumur 21, saat saya merasa maut hanya berjarak beberapa depa dari tempat saya berjalan merangkak, hari yang paling menakutkan selama saya terlahir di dunia. Akankah nafas saya berakhir beberapa jam saja sebelum pertambahan umur? Di tempat ini, jalan menuju puncak Gunung Kerinci, titik gunung api tertinggi di Indonesia, saya sadar bahwa hanya tekad, semangat, motivasi dan kepercayaan terhadap diri sendiri serta Sang Pencipta yang mampu memupuskan ketakutan untuk menggapai impian dan sesuatu yang kita percayai bahwa kita bisa melakukannya.

Saya bukan pendaki profesional, bukan pula anggota dari kelompok pecinta alam, juga tak lahir dari keluarga berlimpah materi. Saya hanya pemuda dari desa kecil di pedalaman Sumatra Barat yang berteman dengan alam, sungai, sawah, dan kerbau sedari bocah. Menginjak kaki di perguruan tinggi, saya semakin senang membaca kisah-kisah petualangan. Meskipun fisik saya tak begitu bagus untuk menjadi petualang seperti Edmund Hillary ataupun Colombus, namun tak ada salahnya membaca kisah-kisah mereka. Untuk sebuah perjalananpun kerja serabutan dan menulis serta memotret saya jalankan untuk mendanai pundi-pundi untuk perjalanan berikutnya.




Wawan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet


Saya menyenangi kisah-kisah petualangan yang ditulis oleh Norman Edwin dan juga Soe Hok Gie. Meskipun keduanya bernasib sama, menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung, setidaknya dari kisah mereka saya percaya orang-orang baik dan jatuh cinta akan gunung berpulang di tempat yang dicintainya pula. Gunung adalah salah satu tempat paling baik di muka bumi, beberapa kelompok masyarakat dan kepercayaan di berbagai penjuru dunia mengkultuskan gunung sebagai tempat suci. Lihatlah Gunung Kailash setinggi 6.638, tempat suci empat agama. Pemeluk Buddha Tibet menyebutnya Kang Ripnpoche, Permata yang Mulia. Tapi di gunung ini, tempat petir dan maut berjarak hanya beberapa depa, saya tak berharap nasib saya sama seperti Soe Hok Gie ataupun Norman Edwin.


***

Hamparan kebun teh menjadi sajian utama saat saya keluar dari penginapan pagi itu. Tadi malam setelah menempuh perjalanan panjang dari Pekanbaru, saya bersama seorang kawan yang sudah mendaki Pegunungan Himalaya, Micah Hanson tiba di Kersik Tuo. Desa kecil ini ibarat nirwana, yang kurang hanya aliran sungai. Namun tanpa sungaipun saya tetap merasa kedamaian yang nyata, apa yang surga janjikan kepada umat manusia.


Hamparan kebun teh tua yan juga hampara kebun teh terluas di dengan dengan latar Desa Kersik Tuo di kanan dan Gunung Kerinci di kejauhan. © Yunaidi Joepoet


Begini, penginapan saya terletak di tepi jalan lintas Padang-Sungai Penuh. Beberapa pendaki dari dalam ataupun luar negeri biasanya menginap disini sebelum memulai pendakian, namanya Homestay Paiman. Namun tak jauh dari Homestay Paiman, seorang pemuda Kersik Tuo membuka rumahnya secara sukarela untuk diinapi oleh para pendaki. Untuk mendaki Gunung Kerinci, beberapa pendaki lebih memilih untuk masuk dari Padang dibanding Jambi, alasannya karena jalur yang lebih pendek, pemandangan nan menawan, dan juga langsung tiba di desa terakhir sebelum pintu pendakian ke Gunung Kerinci. Di seberang penginapan saya, hamparan kebun teh yang sungguh sangat luas terhampar bak permadani. Saya berjalan ke bukit kecil yang tak jauh dari penginapan, sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan kebun teh dengan latar Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter menyangga langit.

Kabut pagi menyeruak saat sinar matahari menghangatkan Kersik Tuo yang terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Desa ini berhawa sejuk, atau lebih tepatnya dingin bagi saya yang terbiasa hidup di suhu 33' celcius setiap harinya. Aktivitas warga desa belum berjalan seutuhnya meskipun jarum jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul tujuh. Mayoritas warga desa ini hidup sebagai petani dan juga pekerja di perkebunan teh yang dimiliki oleh PTP Nusantara VI. Lahan kebun teh di Kersik Tuo yang jadi bagian dari Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki luas 2.500 hektare dan menghasilkan daun teh berkualitas juara sejak zaman Belanda masih menduduki Indonesia. Teh terbaik yang dihasilkan dikirim ke Belanda untuk diseduh sebagai minuman sang Ratu Belanda. Perkebunan teh tua ini merupakan perkebunan teh terluas di dunia dalam satu hamparan.

Memenuhi impian dan janji saya untuk mendaki gunung api tertinggi di Indonesia, saya menginjakkan kaki kembali di Kersik Tuo ini. Beberapa waktu lalu, bersama dua orang kawan, saya mendaki Danau Gunung Tujuh yang dikelilingi oleh tujuh puncak gunung. Kami terengah-engah menembus kegelapan malam saat berjalan dari pintu pendakian menuju tempat berkemah di tepi danau. Butuh waktu lima jam bagi kami malam itu untuk tiba di tepi Danau Gunung Tujuh.

Meskipun tak berpengalaman dalam mendaki gunung di atas ketinggian 3.500 meter, namun melihat Kerinci saat perjumpaan kami pertama kali telah menautkan batin saya dengan gunung ini. Kepundannya yang rusak akibat letusan membangkitkan mimpi-mimpi saya sebagai anak muda untuk berlutut di puncaknya. Tapi apa mungkin dengan fisik yang tak perkasa saya bisa mendakinya? Setidaknya, motivasi ini semakin kuat saat saya berjanji untuk bisa melakukannya. Saya orang yang tak suka perayaan, tapi menginjak umur yang ke-22, saya bulatkan tekad untuk mendekatkan diri dengan alam, ibu dari segala kehidupan. Juga Azim, teman pendakian saya ke Gunung Tujuh. Kami sama-sama berjanji untuk mendakinya untuk merayakan apa yang kami yakini sebagai titik terbaik untuk merencakan kehidupan masa depan. Saya memasuki umur baru, Azim dan dua temannya merayakan kelulusan, Micah menggapai puncak api tertinggi di Indonesia sesuai dengan apa yang direncanakannya saat kami bertemu pertama kali di Pekanbaru.

***

"Gimana, kito menginap dulu di pintu rimba?" tanya Azim ke Wawan.
"Bolehlah. Sudah terlalu malam kalau dipaksakan naik ke Shelter II jam segini," Wawan mengiyakan ide Azim untuk mendirikan tenda di Pintu Rimba.

Simpang Tugu Macan dengan latar perkebunan teh dan Gunung Kerinci saat pagi hari. Dari tugu ini, perjalanan harus dilanjutkan menuju Pos Pendakian. Gunung Kerinci merupakan habitat harimau sumatra yang populasinya semakin terancam. © Yunaidi Joepoet


Kami membuka tenda di kiri jalur. Tempat ini lumayan untuk menampung dua tenda. Malam pertama pendakian, kami berjalan tak terlalu jauh, hanya melewati perkebunan penduduk hingga ke pintu rimba. Malam itu, dendeng yang kami beli di warung dicampur mie rebus menjadi penyumpal perut yang mulai keroncongan. Selanjutnya kopi dan teh hangat menemani obrolan kami malam itu, bercerita tentang apa saja yang membuat suasana hangat hingga perbincangan pun ditutup saat rasa kantuk telah tiba.

Malam pertama pendakian ke Gunung Kerinci berjalan lancar. Pukul lima subuh, senandung burung membangunkan kami. Udara sejuk menyambut wajah saya saat membuka tenda, penuh dengan oksigen nan segar saat menghirup udara pagi di bawah pohon nan rimbun. Meskipun tenda sebelah terdengar kisruh, "Oi, siapa yang kentut nih. Busuk!." Saya bersoloroh, "Panggilan alam datang lebih awal ya kalau di gunung, hahaha."

Hari ini target kami adalah tiba di Shelter 3, tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum menuju puncak Gunung Kerinci. Bagi para pendaki, selain Shelter 2 untuk mendirikan tenda, Shelter 3 menjadi salah satu tempat yang sering dijadikan titik berkemah sebelum mendaki menuju puncak Gunung Kerinci. Tepat pukul delapan pagi, kami berdoa dan meminta izin kepada Penguasa alam semesta agar dilindungi dalam pendakian ini.

Kami sekarang meninggalkan ketinggian 1.692 meter, Pos Pintu Rimba. Dari Pintu Rimba, jalan setapak berpayung pepohonan nan rimbun kami lalui dengan nyaman. Jalan landai dengan kontur tanah lembab menemani perjalanan menuju Pos I. Beberapa kali kami berselisih dengan para pemburu burung yang menggunakan senapan. "Sudah tau dilarang menembak, masih saja menembak," ujar Azim sewot saat kami berselisih dengan pemburu yang berusaha menyembunyikan senapan anginnya.

Perburuan burung dan perambahan hutan memang menjadi masalah di kawasan yang masuk ke area Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman nasional seluas 1.386.000 hektar ini adalah rumah bagi 4.000 spesies tumbuhan, termasuk bunga Rafflesia arnoldi dan Titan arum. Disini hidup pula harimau sumatra yang populasinya kian terancam, Badak Sumatra, Gajah, Macan Dahan, Tapir Melayu, Siamang, Beruang Madu, dan sekitar 370 spesies burung berbulu indah dan bersuara merdu. Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kerinci Seblat dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Pos Batu Lumut (kiri). Gunung Kerinci yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat adalah rumah baru sekitar 371 spesies burung. © Yunaidi Joepoet
Cantigi diketinggian 3.600 meter (kiri). Jalur pendakian dari Shelter 3 menuju puncak Indrapura, Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet

Saya merasa beruntung sedang berusaha mewujudkan impian dan angan saya menjelajah tempat ini. Perjalanan kami terhenti di Pos II Batu Lumut, kami beristirahat sejenak. Saya memanfaatkan waktu untuk mengisi botol air minum sembari melipir ke tubir tebing yang berbatasan langsung dengan jurang yang dalam. Suara siamang saling bersahutan saat saya melipir ke tubir jurang. Pos ini menjadi tempat perlintasan Harimau Sumatra yang semaki sulit saja ditemui karena habitat hidupnya yag semakin berkurang.

Dari Pos II menuju Pos III, jalanan mulai menanjak. Perjalanan menuju Pos III ini kami tempuh dalam waktu satu jam. Wawan dan Micah berjalan kencang. Wawan tak membawa barang banyak, hanya tas berukuran 40 liter. Micah Hanson, pria bergelar PhD dari Nortwestern University di Amerika Serikat ini tentu dengan mudah melahap setiap tanjakan mengingat tubuhnya yang hampir setinggi dua meter. Saya terengah-engah memanggul barang bawaan dalam pendakian kali ini. Sementara Azim yang berbadan gempal tertinggal di belakang. Kami berjarak satu sama lain. "Jalur pendakian Gunung Kerinci cuma satu jalur. Tinggal ikuti saja jalur jalan setapak," tutur Azim yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Kerinci.

Kami kembali bertemu di Pos III, di tempat ini sebuah pondok sederhana biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat. Selang beberapa menit kami melanjutkan perjalanan ke Shelter I dengan ketinggian 2.512 meter. Tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi sajian utama untuk kami lewati. Pegal di pundak pun lutut semakin terasa. Dari Pos III menuju Shelter 1, perjalanan kami tempuh sekitar satu jam. Setibanya di Shelter 1, gerimis mulai datang.

Memandangi juram nan dalam saat pendakian di Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet
Dari Shelter 1, kami berusaha memacu langkah dengan cepat. Dalam perjalanan, gerimis sudah mulai berganti dengan butiran hujan. Saya mengeluarkan beberapa perlengkapan untuk menghadapi hujan saat pendakian. Penutup tas ransel dipasangkan, ponco juga sudah disiapkan untuk menghadapi hujan lebat yang segera datang. Kali ini saya tertinggal jauh dari Micah dan Wawan, pun begitu dengan Azim yang berjalan beberapa belas menit di belakang sayang.

Hujan turun semakin beringas. Butiran-butiran sebesar kelereng terasa sakit saat mengenai tubuh saya yang sudah berpenutup ponco. Saya tetap berjalan mengikuti jalanaan setapak ditengah hujan yang kita lebat. Tujuan saya hanya satu, terus melewati jalur setapak dan tetap bergerak. Jika berdiam diri, saya takut gejala dingin menyerang tubuh. Ini sangat berbahaya saat pendakian jika saya mengalami hipotermia.

Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun tas ransel berukuran 85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian saya panggul dengan rasa berat seperti memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang saya lewati.

Saya ketakutan, tubuh saya bergetar. Untuk pertama kalinya saya merasakan ketakutan yang luar biasa dahsyatnya. Tangisan saya pecah diantara deru hujan yang terasa mencekam saat saya melewati hutan yang semakin suram. Petir saling bersahutan dan letupannya hanya berjarak beberapa meter saja dari jalur yang saya lewati. Ini pertama kali dalam hidup, saya merasakan maut begitu dekat. Maut hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya berjalan.

Saya yakin ini pula yang dirasakan para pendaki dan sherpa di Everest saat mendengar avalans bergemuruh menimpa mereka. Bunyinya yang laksana letusan bom atom telah membuat bulu kuduk merinding. Setidaknya saya dan pendaki-pendaki lainnya pernah merasakan rasa takut, mencekam, dan 'gila'-nya kita tau hanya dua kemungkinan yang sedang akan terjadi dalam hidup kita saat pendakian gunung: hidup atau mati.

Saya ingin menyerah, tak ingin melanjutkan perjalanan. Mungkin berdiam diri lalu berbalik arah bagi sebagian orang adalah cara terbaik. Tapi ini tak ada di rencana saya, berdiam diri dan menyerah. Kekuatan saya waktu itu adalah saya sangat percaya saya akan baik-baik saja. Menyusuri jalur ini adalah kenikmatan dalam kesengsaraan. Nikmat bahwa saya bisa mewujudkan impian untuk mendaki gunung yang banyak diidolakan para pendaki di Nusantara, sengsara karena saya terlalu mem-push diri saya. Karena saya yakin, kita harus berusaha untuk menekan batas-batas yang selama ini kita yakini itulah batas yang bisa kita lakukan. Namun, walaupun saya berusaha mem-push diri saya sebegitu keras, saya yakin saya melakukanya dengan toleransi keselamatan. Saya tetap berjalan merskipun dalam hujan lebat serta angin kencang beserta petir, karena saya yakin titik toleransi dalam keselamatan saya masih pada lampu hijau. Penting sekali bagi kita untuk mengetahui hingga titik mana kita boleh mem-push kemampuan. Dalam beberapa pendakian yang berakibat fatal, seringkali orang terlalu menyia-nyiakan keselamatan karena berusaha mem-push diri mereka diluar ambang kemampuan.

 Saya tetap melahap tanjakan demi tanjakan meskipun dalam hujan. Hampir setengah jam perjalanan dirundung hujan lebat, akhirnya butiran air berganti gerimis. Saya tiba di Shelter II dalam kondisi basah kuyup dan kedinginan. Pun begitu dengan teman pendakian saya yang lain.

Perjalanan yang paling menguras tenaga setelah diterpa hujan lebat dan petir yakni melewati celah sempit dari Shelter 2 menuju Shelter 3. © Yunaidi Joepoet

"Wawan, gimana perjalanan naiknya?" tanya saya saat kami sudah berkumpul semua di Shelter II. "Ngeri. Petirnya dekat sekali. Hujannya pun sungguh lebat."

"Wah parah memang. Jalannnya sudah kayak sungai," timpal Azim. Sementara itu Micah berusaha mengeringkan pakaiannya. "Kita berhenti dulu disini. Bisa rebus air dulu untuk seduh kopi," tambah Azim.

Kami beristirahat sembari membuat kopi dan teh hangat. Kabut semakin pekat saja menutup pemandangan. Perlahan-lahan menutupi lembah disisi kiri Shelter 2. Jarak pandang semakin pendek saja.

Kami merasakan dingin mulai menusuk tulang. Semua pakaian yang kami kenakan sudah basah kuyup. Awalnya kami kira akan baik-baik saja ternyata semakin membuat badan kami menggigil. Saya mengganti pakaian, pun begitu dengan teman-teman saya. "Bagaimana masih kuat untuk terus berjalan ke Shelter 3?" tanya Wawan. "Kalau aku sih masih kuat. Lebih baik kita lanjut ke Shelter 3, nenda disana." jawab Azim.

Bagi saya yang pertama kali mendaki gunung ini, "Dari sini ke Shelter 3 berapa lama?"

"Kalau jalan santai mungkin kita bisa sampai paling telat setengah tujuh lah. Masih cukup waktu untuk mendirikan tenda," ujar Azim.

Micah memilih untuk mengikuti kami saja. Wawan pun mengambil pertimbangan jika memikirkan waktu untuk menuju puncak,"Jika kita mendirikan tenda disini. Lama perjalanan menuju puncak mungkin bisa dua setengah jam. Kalau di Shelter 3 mungkin hanya sejam setengah sudah tiba kalau berjalan santai. Kita lanjut saja bagaimana?"

Kesepakatan pun didapat. Kita melanjutkan perjalanan dari Shelter 2 menuju Shelter 3, sesuai dengan rencana semula di Pintu Rimba. Perjalanan paling sengsara adalah dari Shelter 2 menuju Shelter 3. Jalur yang berupa celah parit sangat sempit membuat ransel kami beberapa kali tersangkut. Beberapa kali pula saya memanjat parit karena tidak muat untuk dilewati.

Tanah yang licin setelah hujan juga menjadi kendala kami saat melewati jalur ini. Pada ketinggian ini, vegetasi Gunung Kerinci berupa pohon-pohon yang mayoritas ditemukan pada gunung lain di Sumatra dan Indonesia pada umumnya.

Inilah tempat kami mendirikan tenda yang saya foto pada hari berikutnya. Saat terkena hujan disertai petir mahadahsyat, saya menyimpan rapat kamera dan baru mengeluarkannya saat pendakian Shelter 2 menuju Shelter 3. Lihatlah, jemuran darurat tempat kami menjemur pakaian. Juga payung warna pink milik Wawan. Micah tegak pinggang di kejauhan. Momen ini saya abadikan sebelum berkemas sebelum perjalanan turun. Semua peralatan pendakian yang basah kami jemur. © Yunaidi Joepoet

Kami tiba di Shelter 3 lebih cepat dari perkiraan. Gerak kami diburu oleh senja yang segera tiba. "Kita disini saja mendirikan tendanya. Lebih dekat ke sumber air," ujar Azim.

"Ayolah kita segerakan mendirikan tendanya. Takutnya nanti gelap. Lebih susah lagi kita," timpal Wawan.

Kami bergegas dalam kedinginan yang sangat. Hujan dari Shelter 1 menuju Shelter 2 menyisakan rasa dingin pada tubuh yang belum juga menghangat. "Grrr...rrr...rrr," suara gemetar dari mulut sembari tubuh digoyangkan, juga tangan yang diusap-usap menjadi aktivitas yang menyelingi kegiatan pendirian tenda.

Sungguh, saya merasa sangat kedinginan kali ini. Usai tenda didirikan dengan sempurna saya bersalin baju. Dilapisi baju 4 lapis dan celana 2 lapis tak mampu menghalangi dingin yang saya derita. Dinginnya sudah menusuk ke tulang. Jemari saya merasa sakit luar biasa. "Zim, numpang menghangatkan tangan ya di tendamu," saya memohon izin ke Azim untuk "membakar" tangan saya di atas api.

Segelas teh hangat dan mie instan sedikit memulihkan rasa dingin saya senja itu. Usai makan malam, masing-masing kami beristirahat. Saya satu tenda dengan Micah. Sepertinya tenda yang saya bawa terlalu pendek baginya.

Semakin malam, tubuh saya semakin bergetar karena rasa dingin yang semakin menjadi. Saya sudah melapisi tubuh, menutupi kaki, kuping telinga dan menyelinap dalam sleeping bag. Tapi itu belum juga membantu. "Kamu tak apa-apa?" ujar Micah menanyai saya.

"Micah, saya rasa saya bisa mati kedinginan. Dinginnya sampai ketulang," ucap saya pada Micah.

"Kau jangan bicara seperti itu. Sebentar, aku membawa jaket tebal di dalam ransel. Aku pakai saat pendakian di Himalaya," ujar Micah sembari sembari membongkar ransel seukuran lemari.

"Pakailah jaket ini. Ini sarung tanganku cukup untuk kembali menghangatkan tubuhmu," dia menawarkan saya jaket dan sarung tangan. "Tinggal beberapa jam lagi kau memasuki umur baru. Jadi, lebih baik kau bertahan. Aku tak ingin tidur disebelah orang yang sekarat," candanya.

Panorama Pegunungan Bukit Barisan. Lembayung pertama yang saya lihat pada umur 22 tahun. © Yunaidi Joepoet

Jaket dan sarung tangannya cukup membantu kembali menghangatkan tubuh saya yang sudah lemah. Perlahan saya bisa memejamkan mata dan beristirahat setelah perjalanan panjang melewati berbagai tanjakan dan hujan disertai gemuruh petir.

Ini malam terakhir saya tidur di umur 21. Malam diketinggian 3.320 meter sungguh jauh berbeda dengan malam-malam yang saya lalui sebelumnya. Tak ada kasur yang nyamar, hanya ada matras kusam  sebagai alas tidur. Sebelum tidur, tentu banyak harapan dan doa saya ucapkan dalam hati. Kadang di gunung kita bisa menjadi sangat melankolis. Saya tak tau apa pendaki-pendaki lain juga mengalami hal demikian. Saya terlelap tanpa melihat jarum jam.

Dini hari menjadi saat mengharukan, tak ada lilin ulang tahun, kue, ataupun ucapan selamat dari sang kekasih. Hanya ada secangkir kopi untuk diminum bersama, sahabat pendakian, dan lantunan doa dengan berbagai macam pengharapan. "Doanya yang banyak, mumpung di ketinggian. Jadi Tuhan dengar doanya lebih cepat," seloroh Azim saat saya berusaha memejamkan mata.

Setelah melewati kejadian yang berat di hari terakhir umur ke-21. Saya memulai hari baru dengan impian, doa dan harapan yang lebih besar. Mimpi adalah salah satu senjata terkuat untuk meyakinkan diri kita bahwa kita mampu untuk berbuat, bermanfaat, dan menginspirasi lingkungan-lingkungan terdekat. Dari pendakian ini, banyak pelajaran yang saya dapat. Saya percaya bahwa upaya mewujudkan impian dan cita-cita itu lebih indah dan nikmat dibanding impian dan cita-cita itu sendiri. Saya sangat percaya bahwa proses itu lebih penting dari hasil akhir. Setidaknya upaya-upaya yang saya lakukan baik sebelum dan saat pendakian adalah kisah kecil namun memberikan semangat dan pelajaran yang besar bagi diri saya sendiri. Kita kadang harus yakin dan mem-push diri kita untuk menggapai impian tersebut. Walaupun dimata orang impian saya memang sederhana, bersujud di puncak api tertinggi saat pergantian umur. Namun tak ada ukuran besar atau kecil sebuah mimpi, yang ada adalah seberapa keras usaha kita mewujudkannya. Mungkin ini pula yang dilakukan oleh orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun jatuh beribu-ribu kali dalam usahanya, namun kata menyerah bukanlah akhir dari semuanya.


Matahari baru saja beranjak naik saat halimun menyeruak di atas Pegunungan Bukit Barisan. Dari jalur menuju puncak Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh terlihat merekah diantara lanskap. © Yunaidi Joepoet

Sekarang saya sudah lewat setengah perjalanan untuk mewujudkan impian pendakian. Pagi tiba dengan sangat cepat, berbanding terbalik dengan langkah saya menuju puncak Gunung Kerinci. Terlalu berat mendaki dalam suasana yang teramat dingin seperti ini. Gelap ini hanya berteman dengan sinar senter yang menerangi ayun langkah saya. Sudah terlalu lambat untuk menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci sebelum matahari terbit.

Di tengah perjalanan, semburat matahari telah memunculkan sinarnya. Rona biru yang merekah telah membelah Gunung Tujuh di seberang Gunung Kerinci. Kabutnya tak habis memayungi pegunungan Bukit Barisan. Sungguh, pagi pertama di umur saya yang ke-22 ibarat melihat sepenggal nirwana di dunia. Aduhai, nikmat Tuhan mana lagi yang tak saya dapati di ketinggian ini?

Saya terus berjalan merangkak di jalur yang menanjak curam. Untuk sekali tanah yang lembab membuat langkah saya cukup mudah. Saya tiba di Tugu Yudha saat hari sudah mulai terang. Tugu ini terletak di ketinggian 3.685 meter yang dibuat untuk mengenang pendakian yang hiland di Gunung Kerinci. "Hingga sekarang, Yudha tak pernah ketemu," ujar Azim. Saat saya tiba di Tugu Yudha. Kami berdoa singkat untuk para pendaki yang bersemayam di gunung ini.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan ke puncak. Si Micah sudah tiba di puncak," ujarnya sambil menunjuk micah yang terlihat sangat kecil di atas sana. Dari Tugu Yuddha, satu tanjakan vertikal lagi harus diselesaikan. Terang begini, jalur sudah terlihat jelas, membuat kita semakin berat melangkahkan kaki.

"Ayolah! Saya pasti bisa," semangat saya dalam hati.

Masa-masa yang saya nantikan pun tiba. Puncak Gunung Kerinci hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempat saya berdiri. Saya semakin bersemangat untuk menggapainya.

"Terima kasih Tuhan!," dalam kegembiran yang tak berlebihan saya lirih. Saya langsung bersujud di tanah tertinggi di Pulau Sumatra ini. Rasa syukur ini tiada habisnya saat mencapai puncak. Tak jauh dari tempat saya bersujud, lubang kawah yang dalamnya beberapa ratus meter menganga lebar.

Saya bersujud syukur sesaat menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan mewujudkan mimpi dan mengenal lebih dekat salah satu karya ciptaan-Mu.

Micah Hanson, kawan kami yang menamatkan pascadoktoral-nya di Northwestern University, mewisuda Azim yang sedeang merayakan kelulusan. © Yunaidi Joepoet

Jauh diseberang, Danau Gunung Tujuh terlihat sangat indah. Juga hamparan kebun teh nan luas terlihat samar dari atas. Awan putih nan bersih berarak-arakan menutupi barisan pegunungan Bukit Barisan. Saya memandang kesekeliling, sungguh sangat luas dan indah. Hari pertama dalam umur baru yang sangat berkesan.

Micah mengambil beberapa foto diri saya. Azim pun tak mau kalah, dia bersalin pakaian dengan baju wisuda kebanggaannya. Kami merayakan semuanya dengan suka cita.

Namun dari pendakian ini kami merasa sangat kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan Sang Maha Kuasa. Sungguh, rasa gamang berdiri di tubir kawah yang menganga besar telah menyadarkan saya bahwa inilah hidup. Tak ada yang perlu dibanggakan dengan ketinggian apapun bentuk ketinggian tersebut. Kita hanya butiran debu dibandingkan apa yang ada pada alam semesta. Namun bukan berarti butiran debu tak boleh bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan semua impian.

Dari puncak Gunung Kerinci, saya meninggalkan pesan. Semoga kita bisa berpelukan kembali dengan kisah-kisah yang penuh kenangan pula. Terima kasih telah mengizinkan saya menunaikan ibadah impian saya, 3.805 meter di atas permukaan laut.


Micah berdiri di puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter yang juga tepat di tubir kawah Gunung Kerinci nan menganga besar. Di kejauhan, tepian barat Pulau Sumatra terlihat samar dibalik awan.  © Yunaidi Joepoet

***

Informasi Pendakian Gunung Kerinci
+ Untuk menuju Gunung Kerinci. Tersedia penerbangan dari Jakarta - Jambi dan Jakarta - Padang. Saran saya, ambillah penerbangan Jakarta - Padang untuk waktu tempuh yang singkat.
+ Angkutan umum berupa travel tersedia dari Padang ke Sungai Penuh dengan  tarif berkisar antara Rp 90.000 - Rp 120.000 tergantung musim keberangkatan. Lama perjalanan sekitar 7 jam. Mintalah turun di Kersik Tuo, desa terakhir sebelum pendakian. 

+ Beberapa penginapan tersedia di Kersik Tuo, salah satunya Homestay Paiman. Tarif penginapan sekitar Rp 80.000/malam. 

+ Di Kersik Tuo terdapat beberapa toko dan tempat makanan. Jadi jangan khawatir untuk perbekalan pendakian. Namun jika berangkat dalam rombongan besar, lebih baik membeli perbekalan di Padang.

+ Dari Desa Kersik Tuo menuju Pos Pendakian cukup memakan waktu jika berjalan kaki. Mintalah penduduk lokal untuk mengantarkan hingga Pintu Rimba, selain menghemat waktu juga menghemat tenaga juga ikut memberdayakan perekonomian lokal.

+ Untuk pendakian yang membutuhkan porter, tersedia pula porter dengan tarif bervariasi. Namun tarif normalnya berkisar Rp 250.000/hari. Selain di Homestay Paiman yang menyediakan porter, sekretatriat pendakian yang letaknya tak jauh dari Homestay Paiman juga menyediakan porter pendakian.

+ Hujan hampir turun setiap hari meskipun musim panas. Sebaiknya persiapkan peralatan pendakian yang cukup.

+ Jalur pendakian Gunung Kerinci mayoritasnya adalah pendakian menanjak saat naik dan curam saat turun. Persiapan fisik adalah salah satu cara untuk mengurangi kejadian yang tak diinginkan. Para pendaki luar biasanya menggunakan hiking stick untuk memudahkan saat turun.

+ Karena Gunung Kerinci merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Kerinci dan juga Situs Warisan Dunia UNESCO, maka wajib bagi setiap pendaki untuk menjaga kelestariannya. Hindarkan sifat dan perilaku yang tidak terpuji seperti membuang sampah sembarangan dan mencoret-coret serta merusak alam. Pendaki yang baik selalu bersikap terpuji terhadap segala sesuatu ciptaan Tuhan.

+ Diluar tiket pesawat, biaya yang dihabiskan untuk mendaki Gunung Kerinci berkisar antara Rp 750.000 - Rp 1.500.000 tergantung gaya perjalanan dan lama waktu perjalanan.

Itenerary pendakian ke Gunung Kerinci (per hari) didasarkan pengalaman:
> Jakarta - Padang - lalu dilanjutkan naik travel malam dari Padang menuju Sungai Penuh.
> Mintalah turun di Kersik Tuo kepada supir travel. Biasanya travel melintasi Desa Kersik Tuo saat subuh. Aktivitas hari kedua bisa berkeliling kebun teh dan menyiapkan perbekalan pendakian. 
> Menginap semalam di penginapan ataupun rumah penduduk di Desa Kersik Tuo. 
> Bangunlah lebih awal, lalu mulai bergerak menuju Pos Pendakian untuk melapor. Lalu dilanjutkan treking menuju Shelter 3. Lama pendakian berkisar antara 9-11 jam untuk tiba di Shelter 3 dari Pintu Rimba.

> Pendakian menuju puncak Gunung Kerinci berkisar antara 1-2 jam tergantung kecepatan. Lalu sarapan pagi dan dilanjutkan perjalan turun kembali ke Desa Kersik Tuo. Malam hari bisa menginap kembali di Desa Kersik Tuo, atau bisa langsung mengambil travel kembali ke Padang. Namun harus dipesan terlebih dahulu
> Bisa mengunjungi pabrik pengolahan teh di Kayu Aro atau mengunjungi Kota Sungai Penuh, Ibukota Kabupaten Kerinci. Lalu mengunjungi Danau Kerinci. Jadi perjalanan akan komplit dari Gunung hingga Danau. Dan malamnya mengambil travel jurusan padang.