Stories and Photos

Malam membungkam bangunan tua yang memenuhi George Town di Penang. Beberapa bangunan terlihat sangat terawat dan masih difungsikan sebagai pertokoan dan juga kantor. Ada pula yang masih ditempati sebagai hunian, pun anak muda yang kreatif menyulapnya menjadi penginapan dan restoran bergaya kekinian. Saya mengayun langkah melewati bangunan-bangunan yang mulai menua. Kawasan ini ditasbihkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Malam itu masih terlalu pagi untuk menikmati kota ini dikeheningan.

Biker boy karya Ernest Zacharevic di Ah Quee Street, George Town Penang. Ini satu dari sekian banyak street art di kota yang sangat nyaman untuk dikunjungi. (Yunaidi Joepoet)

Saat menelisik lebih dekat saya menemui hal-hal menarik dari kota kecil yang sangat nyaman dinikmati dengan bersepeda. Penang memang sudah menjadi magnet baru bagi para backpacker yang mengunjungi Malaysia. Penginapan bertarif terjangkau, juga makanan pas dikantong dari berbagai negara di Asia Tenggara telah menjadi daya pikat negara ini. Penerbangan yang terhubung ke bandara di berbagai negara di Asia Tenggara juga menjadi  faktor yang memudahkan para wisatawan bertandang. Saya menumpang maskapai Air Asia dari Jakarta menuju Bandara Penang dengan waktu tempuh 2 jam 20 menit lalu dilanjutkan ke George Town yang berjarak tempuh sekitar 45 menit dari bandara dengan menggunakan transportasi umum. 

Dari semua pengalaman, yang paling berkesan bagi saya adalah street art di jalanan juga di tembok-tembok rumah yang dikonsep dengan matang. Street art diatas adalah satu dari sekian banyak street yang bisa ditemui di Penang. Hampir semua street art yang ada di George Town sangat ikonik. Pembuatnya adalah seniman berkebangsaan Lithuania yang sekarang menetap di Penang, Ernest Zacharevic. Seniman muda ini menyulap dinding rumah yang terabaikan menjadi sebuah karya seni yang menjual secara visual dan juga sebagai destinasi wisata. 

Proyek merubah dinding kota Ernest ini dimulai saat dia mengikuti George Town Art Festival tahun 2012, sebuah festival seni dan fotografi yang menjadi salah satu tujuan kedatangan saya ke kota ini. Festival ini juga sebagai pelecut kreatifitas anak muda lokal untuk berkolaborasi membangun sebuah kota yang nyaman untuk didiami namun tetap berorientasi terhadap budaya dan perkembangan seni. Puluhan instalasi seni karya Ernest Zacharevic ini bisa ditemui saat berkunjung ke George Town. Street art berujudl "Biker Boy" di Ah Quee Street di atas salah satu yang paling menarik perhatian saya dibanding karya Ernest yang lain. 


Inilah postcards kali ini dari George Town, Penang. 
Jalanan kerikil beratap pohon kering-kerontang menemani laju motor tua pinjaman seorang teman. Putaran rodanya menerbangkan debu-debu jalanan yang sudah lama tak tersiram hujan. Ayam hutan berbulu indah sesekali muncul dari balik semak, kemudian terbang menghilang saat sepeda motor yang saya kendarai melintas. Disini pula saya takjub melihat ayam hutan liar meliuk-liuk bak burung, terbang menukik lalu bertengger di dahan. Inilah Baluran, salah satu taman nasional tertua di Nusantara.



Perkenalan saya dengan Taman Nasional Baluran bernasib naas. Sepeda motor tua pinjaman dari Swiss Winasis, staf pekendali ekosistem hutan ini berbuah petaka. Tangki bensi yang jarang diisi penuh tak saya sadari ternyata sudah bolong. Hasilnya, belahan pangkal paha disiram bahan bakar. Saya mengaduh saat panas mulai menjalar ke sekujur paha. Rekan saya, Agus Prijono yang juga penulis untuk liputan kami di National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler Indonesia tak kuasa menahan tawanya. Saya buru-buru menghentikan laju kendaraan lalu membuka resleting celana. "Wah, ini bisa suram masa depan saya, Mas," ujur saya ke Agus.

Ini satu dari sekian banyak pengalaman yang saya temui dilapangan saat bertandang ke Baluran. Untuk pertama kali pula saya menemui tulang-belulang manusia yang tergeletak di tanah, tak jauh dari kandang Ajag di Lembah Popongan. Saat itu saya sedang mengikuti Pak Arief, peneliti lapangan untuk membongkar kamera jebakan di bibir lembah yang pernah didiami oleh kawanan ajag.

Perjalanan di Baluran ini ditulis dalam dua feature. Satu feature bercerita tentang tantangan Taman Nasional Baluran untuk tetap bertahan sebagai salah satu habitat alami berbagai fauna yang diterbikan di majalah National Geographic Indonesia edisi Januari 2015. Sedangkan feature petualangan saya dan Agus Prijono diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Februari 2015. Baca hasil tulisan dari Agus Prijono dan foto-foto saya di edisi Februari 2015. Semoga bisa menjadi penyemangat bagi sahabat semuanya untuk berwisata dan mengenal negeri ini lebih dekat. Selamat membaca, tabik!


Cover National Geographic Traveler Indonesia edisi Februari 2015 yang memuat salah satu feature mengenai Taman Nasional Baluran di Situbondo Jawa Timur.

Apa rasanya berkeliling ibukota selama 24 jam penuh? Tentu menyenangkan. Kita terlalu memandang sebelah mata ibukota yang tak bisa menawarkan apa-apa kecuali kemacetan dimana-mana. Namun dengan sedikit semangat dan kemauan, destinasi menarik yang menawarkan pengalaman tak terlupakan tentu bisa menjadi petualangan kita di belantara ibukota.

Menjelajah destinasi wisata Jakarta.
Akhir pekan adalah saat yang tepat untuk mengunjungi aneka tempat bersejarah dan menarik di Jakarta. Memulai saat Sabtu malam dan berakhir pada Minggu petang akan menjadi pilihan waktu yang tepat. Salah satu kendaraan menarik untuk ditungangi menjelajah ibukota adalah The All New Mazda2 yang merupakan generasi ke-6 yang memiliki sederet teknologi canggih besukan pabrikan Mazda. Mulai dari SKYACTIV Technology, Kodo-Soul of Motion, i-Activsense dan MZD Connect. Indonesia menjadi negara kedua setelah negara asalnya meluncurkan mobil ini dengan nama Mazda Demio untuk pertama kali.

Dengan teknologi SKYACTIV, mesin pada All New Mazda2 dilengkapi dengan mesin SKYACTIV-G yang digabungkan dengan SKYACTIV-MT untuk tipe manual dan SKYACTIV-Drive untuk tipe matic yang dilengkapi dengan sports mode, SKYACTIV-CHASSIS dan SKYACTIV-BODY untuk memaksimalkan kelincahan dan kenyamanan berkendara. Konsumsi BBM pada generasi terbaru ini juga semakin efisien dengan fitur i-Stop yang akan mematikan mesin ketika mobil berhenti karena macet atau lampu merah.

Nah mari kita menjelajah Kota Jakarta dalam perjalanan bertajuk Mazda2 24HRS Take & Go dengan itenerary sebagai berikut.

Sabtu (19.00-07.00) – Kuliner, Bangunan Bersejarah dan Tempat Bersantai

Dimulai dari Bier and Flugel dilanjutkan dengan mencicipi Akok Chinese Food untuk mengisi perut. Perjalanan berikutnya dilanjutkan sembari bersantai di Eleventh Hour Pool and Bar. Tak ada salahnya juga mencoba jamu bukti mentjos untuk mengantisipasi stamina yang menurun. Perjalanan ini akan berakhir di Stasiun Tanjung Priok menikmati salah satu stasiun tertua di Jakarta.

Mencicipi aneka kuliner nan lezat di lidah.

Dengan filosofi “Jinbai Ittai” pada mobil generasi ke-6 dari Mazda yang digunakan untuk menjelajah Jakarta maka menjadikan sang pengemudi menjadi satu dengan mobilnya, sehingga sahabat dapat merasakan respon yang baik serta kenyamanan dalam mengendarai All New Mazda2.

Ingat perjalanan sahabat masih panjang. Hal berikutnya adalah menikmati beragam tempat bersantai yang nyaman di Jakarta. Salah satunya adalah kawasan SCBD. Aneka restoran dan bar di kawasan District 8 SCBD menjadi pilihan menghabiskan malam menjelang Minggu pagi.
Lelah mendengar senandung musik, beranjaklah menikmat aneka kuliner nan lezat yang tersedia di Blok. Ini waktu yang tepat berkendara di jalanan nan lengang. Jajanan ini tersedia di Blok M Square, tak jauh tentunya dari SCBD.

Minggu (07.00-19.00) – Jelajah Kota dan Museum

Agar berkendara tetap aman, bergantianlah dengan rekan sahabat dan ambillah waktu rehat sejenak. Nah kebetuam, All New Mazda2 tak hanya canggih dari segi teknologi. Mobil ditampilkan dengan KODO – Soul of Motion yang merupakan bagian dari Mazda Design. Indah pada bagian eksterior, interior All New Mazda2 juga telah mengadopsi material beerkualitas tinggi.

Kenyamanan berkendara sahabat semakin dibuat nyaman dengan fitur konektivitas terbaru MZD Connect yang akan menghibur sahabat berserta penumpang secara aman. Terintergrasi dengan commander mode yang akan membuat sahabat mengoperasikan MZD Connect tanpa mengganggu konsentrasi selama menyetir.

Minggu pagi saat orang-orang menikmati acara car free day, ada baiknya sahabat menjajal sisi bagian utara kota Jakarta. Berkendaralah ke Muara Angke untuk melihat pembongkaran ikan pagi-pagi, lalu dilanjutkan ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk melihat aktivitas dan aneka kapal yang sedang berlabuh.

Jangan lupakan untuk menikmati sarapan pagi di kawasan Glodok. Aneka jajanan tersedia di Gang Gloria, jagoannya adalah bubur ayam. Perjalanan sahabat bisa dilanjutkan mengunjungi aneka museum yang ada di kawasan Kota Tua Jakarta.

Nah, biasanya jalanan ini agak sesak dengan kendaraan berbobot besar. Untuk itulah keselamatan sahabat saat berkendara harus diperhatikan. Kenyamanan tanpa keamanan tentu membuat fitur-fitur canggih pada mobil seakan mubazir. Oleh karena itu fitur keselamatan aktif pada All New Mazda2, i-Activsense, akan membuat sahabat semakin aman dalam berkendara. Fitur keselamatan aktif ini yaitu, ABS, EBD, EBA, DSC, TCS, ESS, HLA, dan SCBS dilengkapi dengan dual SRS airbags tentunya.

Kunjungi juga aneka museum dan galeri seperti Galeri Antara yang rutin memamerkan karya fotografi, Galeri Nasional yang memamerkan barang-barang seni, juga Taman Ismail Marzuki. Jangan lupa juga untuk menikmati suasana hijau nan menyejukkan di Taman Suropati.

Nah tentu berkendara dengan All New Mazda2 ini akan membuat pengalaman menjelajah Kota Jakarta semakin nyaman. Dengan sederet fitur-fitur canggih yang dibenamkan pada mobil ini, tentu ini akan menjadi pengalaman berkendara yang menarik dengan All New Mazda2 yang meraih pengharagaan Japan Car of The Year 2014-2015. Tertarik?

Menikmati suasana hijau nan menyejukkan di Taman Suropati.


Jika sahabat belum pernah ke Bandung dan mungkin kepergian sahabat kali ini adalah untuk yang pertama kalinya. Mungkin ada baiknya menyiapkan beberapa hal yang sangat berguna saat sahabat mengunjungi kota kreatif ini.

Bandung, Jawa Barat, West Java, Ciwalk, Garut, Distro, Taman Kota Bandung, Wisata Kota Bandung, Hotel Murah di Bandung, tempat wisata di bandung, Ciwidey, Kawah Putih, Trans Studio, Pasar Baru, Kuliner Bandung, Jalan Riau Bandung, Gedung Sate, Jalan Asia Afrika, Foto Bandung, Taman Jomblo, Hotel Bandung, Backpacker Bandung,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menikmati salah satu daya tarik Kota Bandung, Ciwalk. Aneka makanan dan toko fashion menjadi peneduh bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke kota kembang ini. (Yunaidi Joepoet)

Tentu berwisata ke Bandung dan menghabiskan waktu senggang bersama keluarga ataupun pasangan, tentu harus direncanakan terlebih dahulu agar sahabat bisa mendapatkan liburan yang sempurna. Terlebih lagi kota yang semakin naik pamornya belakangan ini menawarkan beragam tempat wisata menarik. Menikmati beraneka kuliner nan lezat dilidah, menyambangi industri kreatif hasil karya anak muda, aneka produk fashion yang fenomenal, dan juga galeri seni tentu akan memanjakan wisatawan. Tak lupa pula alam Bandung nan menawan turut mengantarkan kota ini sebagai kota yang wajib dikunjungi di Indonesia.

Nah untuk memastikan bahwa perjalanan sahabat lancar dan mampu mendapatkan kesan yang tak akan dilupakan. Tak ada salahnya sahabat menimbang beberapa tips berwisata ke Bandung terlebih dahulu.

Inilah tips berwisata ke Bandung pilihan kami:

1. Diskusi
Ada banyak tujuan serta objek wisata yang bisa sahabat akses di Bandung. Oleh sebab itu, cobalah untuk mendiskusikan dengan pasangan sahabat atau dengan keluarga lokasi atau tempat wisata mana saja yang akan didatangi. Setelah sahabat menentukan tujuan wisata mana saja yang akan sahabat datangi, barulah sahabat bisa memesan hotel di bandung yang memiliki tempat strategis, atau hotel yang setidaknya memiliki fasilitas sesuai dengan keinginan sahabat.

2. Hotel
Booking hotel di Bandung merupakan salah satu rencana yang harus Sahabat persiapkan jauh hari sebelum berangkat. Namun terlebih dahulu sahabat harus memiliki daftar hotel di Bandung yang memiliki tempat strategis serta sesuai dengan budget yang sahabat miliki.
Dengan cara ini, sahabat akan menghemat banyak biaya. Selain itu, pemesanan hotel dengan cara online melalui situs terpercaya, akan memberikan banyak keuntungan. Salah satunya adalah situs Go Indonesia. Mulai dari, efektif dan efisien, hemat waktu, serta hemat biaya dan meminimalisir resiko kehabisan tempat menginap. Selain itu, memesan hotel di Bandung jauh-jauh hari akan membuat Sahabat memiliki tujuan yang lebih jelas.
Jika Sahabat akan berkunjung bersama keluarga, pastikan bahwa sahabat memilih hotel yang menyediakan family room atau hotel yang cocok untuk keluarga.

3. Barang bawaan
Tinggalkan barang yang tidak sahabat butuhkan dan hanya bawa barang-barang yang sangat sahabat butuhkan. Ini adalah metode tepat ketika seseorang akan berkunjung ke suatu tempat untuk berwisata. Karena pada umumnya, setelah berada di tempat wisata akan membeli banyak oleh-oleh atau buah tangan yang akan dibawa pulang. Dengan tidak membawa barang yang terlalu banyak ketika berangkat, tentu akan memudahkan sahabat nanti ketika pulang.

4. Selalu persiapkan obat obatan
Jika sahabat memiliki penyakit atau alergi, jangan lupa untuk selalu membawa obat yang Sahabat butuhkan terutama ketika sahabat melakukan perjalanan ke sebuah kota yang belum sahabat kenal.

5. Minimalisir uang tunai
Perencanaan yang baik dan tepat akan membuat perjalanan sahabat menjadi lebih nyaman dan aman. Cobalah untuk tidak membawa terlalu banyak uang tunai dan sesuaikan dengan kebutuhan di perjalanan saja. Selebihnya tetaplah simpan uang Sahabat di tempat berbeda serta gunakanlah atm atau kartu kredit pada saat-saat tertentu saja.

6. Baju hangat
Jika sahabat berwisata di Bandung, maka baju hangat mutlak sahabat butuhkan karena suhu udara di Bandung yang dingin. Jadi, cobalah untuk membawa satu atau dua potong baju hangat atau baju yang memiliki ketebalan tertentu dan bisa menahan hawa dingin. Karena beberapa tempat wisata di Bandung seperti di Tangkuban Perahu, Pemandian Air Panas Cieater, atau tempat-tempat main di Bandung memiliki suhu udara yang cukup dingin.
Bagi Sahabat yang tidak terbiasa dengan suhu udara dingin, baju hangat merupakan solusi tepat. 

Bandung, Jawa Barat, West Java, Ciwalk, Garut, Distro, Taman Kota Bandung, Wisata Kota Bandung, Hotel Murah di Bandung, tempat wisata di bandung, Ciwidey, Kawah Putih, Trans Studio, Pasar Baru, Kuliner Bandung, Jalan Riau Bandung, Gedung Sate, Jalan Asia Afrika, Foto Bandung, Taman Jomblo, Hotel Bandung, Backpacker Bandung,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menikmati Kota Bandung. (Yunaidi Joepoet)
7. Travel agent
Jika sahabat memiliki dana lebih dan tidak memiliki informasi yang banyak tentang objek wisata di Kota Bandung, tidak ada salahnya untuk menggunakan jasa travel agent. Selain itu, mempertimbangkan beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh hotel Bandung tempat Sahabat menginap. Karena biasanya fasilitas yang ditawarkan oleh hotel di Bandung jauh lebih murah dibandingkan dengan travel agent di luar.

8. Oleh-oleh
Jangan lupa untuk membeli oleh oleh khas Bandung baik itu berupa pakaian, jajanan atau kuliner, dan beberapa buah tangan lainnya. Bandung selalu memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri terlebih pada wisata belanja berupa pakaian khususnya jeans, yang mungkin Sahabat tertarik untuk membelinya.

9. Transportasi
Di Bandung Sahabat bisa pergi kemanapun dengan menggunakan angkutan umum, akan tetapi menggunakan angkot akan memakan banyak waktu sehingga alternatif terbaik bagi sahabat yang ingin mengunjungi banyak tempat dalam waktu yang singkat adalah menyewa kendaraan roda empat atau jika Sahabat datang sendiri Sahabat bisa menyewa sepeda motor dengan harga yang relatif lebih murah. Sahabat tak perlu khawatir, karena ada banyak tempat penyewaan sepeda motor maupun kendaraan roda empat di Bandung.

Nah itu tadi adalah beberapa tips sebelum Sahabat berwisata ke Bandung agar perjalanan Sahabat terlaksana sesuai rencana
Tak dapat dipungkiri bahwa rempah telah menjadi salah satu penyebab berbondong-bondongnya bangsa Eropa ke Nusantara, terutama ke kawasan timur Indonesia. Portugis mencatatkan sejarah untuk hal yang berkaitan dengan perdagangan rempah. Ini terjadi karena adanya permintaan akan rempah Asia yang meningkat di Eropa, khususnya rempah dari Maluku. Sebagai satu-satunya negara pengekspor rempah dari kawasan ini pada awal abad ke-16, Portugis mengestimasi bahwa ia bisa mengekspor rempah dengan kisaran 50.000-70.000 kwintal.  
Niat pun muncul, Portugis berencana untuk menguasai Maluku juga beberapa daerah penghasil rempah lainnya seperti Banda dan Ambon untuk komoditas pala, Jawa untuk komoditas jahe, Banten dan Jawa untuk komoditas merica yang merupakan komoditas dengan harga paling tinggi saat itu. Namun saat ini nilai pasar rempah Indonesia tak semahsyur dahulu kala. 

Pedagang; Penjual Sayur; Rempah; Jalur Rempah; Pedagang Rempah; Pasar Santa; Pasar Tradisional; Pasar Modern; Kunyit; Bumbu; Suasana Pasar; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Haryanto (40), pedagang rempat dan berbagai macam bumbu masak di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Foto oleh Yunaidi Joepoet) 
Ini adalah posting pertama kami untuk kanal PostcardPostcard adalah kanal baru di www.ranselkosong.com yang menampilkan visual dengan informasi yang berkaitan dengan sejarah, cerita, maupun kejadian menarik atas foto tersebut. Kedepannya Postcard diharapkan menjadi sebuah cara bercerita dan mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat hal-hal sekitar dari selembar foto. 
My recent work for National Geographic Magazine-Indonesia about Baluran National Park. This is one of oldest National Park in Indonesia beside Gede Pangrango National Park in West Java, Leuser National Park in Aceh, Ujung Kulon National Park in Banten, and Komodo National Park in East Nusa Tenggara.

For this assignment, i worked with Agus Prijono, a writer and bird sketcher. I traveled arround Baluran National Park about 10 days. Please enjoy some of photos about Baluran National Park in National Geographic Magazine-Indonesia January 2015.









Dari jalanan berkerikil, mobil yang saya tumpangi merangkak melewati tanjakan. Terik siang itu membakar kulit penduduk pun saya yang berdiam di kursi belakang kendaraan ini. Keringat masih bercucuran membasahi baju saya. Dari rumah Lina Ribero di Ermera kami saya kembali ke Bobonaro.

Belak, Dili, Timor Leste, Intangible Cultural Heritage, East Timor, UNESCO, South East Asia, Jewelery, Heritage, Malina District, Bobonaro, Atambua, Art, Wedding Traditional, People of East Timor, Timor Leste Images, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer, South East Asia Stock Photo
Belak yang baru selesai dikerjakan (kiri). Penduduk Timor Leste pada sebuah perayaan di Istana Presiden Timor Leste (kanan).

Jika di Indonesia, tempat ini terlalu kecil untuk menjadi sebuah kota provinsi. Tak banyak kendaran yang lalu lalang. Melewati kota ini, nostalgia saya malah bangkit akan pusat kecamatan di Flores. Kala itu beberapa hari saya tinggal di sebuah penginapan sederhana tak jauh dari pusat kesehatan masyarakat. Kota ini pun serupa, waktu berjalan lambat di Bobonaro. 

Hampir satu minggu sudah perjalanan saya berkeliling Timor Leste untuk pembuatan buku warisan budaya negeri ini untuk lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO. Kali ini tempat yang saya tuju belumlah jelas. Pemandu lokal menyarankan kami untuk bergerak ke selatan menjauh dari Bobonaro untuk menemui pembuat belak.

“Sebentar, kita mau isi bensin dulu di pangkalan,” Zelia, staf lokal UNESCO yang menemani perjalanan saya saat itu. Kami berhenti dibangunan kecil seperti warung pemberhentian sederhana di jalan lintas timur Sumatra. Dindingnya dari seng, tembok yang sudah mau runtuh di depan pangkalan minyak ini dibiarkan terbengkalai. Ini salah satu stasiun pengisian minyak sederhana di kota kecil ini. 

Petugas pengisian mengatakan jenis bahan bakar yang dijual disini masuk dari Atambua. Memang jarak antara tempat ini ke Atambua lebih dekat jika dibanding ke Dili. Tapi saya tak menanyakan lebih jauh bagaimana alur masuknya bahan bakar tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan menjauh dari kota. Melewati pos pasukan keamanan, mobil kami bergerak melambat. Di tengah jalan ban-ban bekas dibiarkan menjadi penghalan guna memperlambat laju kendaraan yang lewat. Jalanan disini sangat lengang. 

Saya memasuki jalanan tak beraspal. Melewati sebuah gereja, sebatang pohon dengan lonceng tergantung menghiasi halamannya. Anak-anak ramai bermain dihalaman. Tepat diseberang, suasana duka menyelimuti sebuah rumah. Peti berukir salib sudah bersiap diberangkatkan dari teras rumah duka. Kami melanjutkan perjalanan hingga ujung jalan tanah ini. 

Zelia bilang, kita sudah sampai. Di depan saya, rumah berdinding kayu dan lantainya belum sepenuhnya disemen menjadi pemberhentian. Inilah rumah pembuat belak. 

Perawakan lelaki Timor bernama Jose Noronha ini sungguh kekar. Dari Zelia yang fasih berbahasa lokal, saya berkenalan dan memohon izin untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan belak.

Belak, Dili, Timor Leste, Intangible Cultural Heritage, East Timor, UNESCO, South East Asia, Jewelery, Heritage, Malina District, Bobonaro, Atambua, Art, Wedding Traditional, People of East Timor, Timor Leste Images, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer, South East Asia Stock Photo
Proses pengerjaan belak dan alat-alat yang dibutuhkan.

Belak merupakan perhiasan yang digunakan saat upacara besar juga hari besar di Timor Leste, negeri yang dulu pernah menjadi bagian dari Indonesia. Selain digunakan dalam upacara adat, belak juga digunakan saat acara lamaran. Biasanya laki-laki membawa belak kepada pihak perempuan saat acara lamaran. Jika pihak laki-laki tidak membawa, maka akan dikenakan denda berupa uang. Ya, denda tersebut lumayan. 

Mungkin di Indonesia, negara dengan beraneka ragam suku tentunya hal seperti sudah tak asing lagi. Ibarat keris, atau mungkin sanggul khas suku Minangkabau yang tak bisa lepas dari adat suatu daerah. 

Saya datang kesini untuk mendokumentasikan proses pembuatan Belak. Pembuatan belak ini biasanya dilakukan oleh para pengarajin yang menekuni kepandaian ini dari turun-temurun. Salah satu pengerajinnya adalah Jose Noronha di Kampung Tunubibi, Desa Tapomemo, Malina, Distrik Bobonaro tempat saya mengabadikan foto ini.

“Orang tua mengajari saya membuat belak. Ini kepandaian turun temurun,” ujar Jose yang diterjemahkan oleh Zelia ke bahasa Indonesia.Alat yang digunakan dalam pembuatan belak pun masih menggunakan alat yang digunakan generasi sebelumnya. 

Proses pembuatan belak ini dimulai dengan memasak perak yang dibeli dari Atambua. Ya mungkin memakan waktu lebih kurang enam jam perjalanan darat dengan angkutan umum dari pusat kota ini.

Potongan perak ini kemudian dibakar hingga mencair didalam wadah yang sudah dibuat sedemikian rupa. Dengan suhu maksimal potongan perak yang mencair kemudian dituang kedalam batu cetakan atau acnu

Belak, Dili, Timor Leste, Intangible Cultural Heritage, East Timor, UNESCO, South East Asia, Jewelery, Heritage, Malina District, Bobonaro, Atambua, Art, Wedding Traditional, People of East Timor, Timor Leste Images, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer, South East Asia Stock Photo
Proses pembuatan motif pada belak.

Batu cetakan ini dibuat sendiri oleh Jose. Bahan pembuatan batu cetakan biasanya didapat dari daerah sekitar tempat tinggal, kemudian dengan menggunakan bahan dari besi, batu dilubangi sedemikian rupa sesuai keinginan. Cairan kepingan perak yang sudah dituangkan ke dalam cetakan tadi kemudian dibiarkan mengeras hingga kembali menjadi kepingan perak yang sudah berbentuk. 

Hal selanjutnya yang dilakukan adalah memipihkan potongan perak tersebut dengan memukulnya hingga pipih dan membentuk potongan tertentu, seperti bulat atau petak. 

Pada proses akhir, Belak ditambahkan motif-motif tertentu sesuai dengan kreasi dari pengerajin belak. Belak yang sudah selesai dibuat, biasanya dijual dengan harga $200-300. Pembeli biasanya datang langsung ke pengerajin belak, tak jarang juga pengerajin belak memasarkannya di pasar setempat.

Jose menjelaskan, kepandaian pembuatan belak yang dimilikinya ini akan diturunkan kepada salah satu anaknya. Jika hal ini tidak dilakukan, Jose percaya tuah akan berlaku. “Kalau tidak saya turunkan kepandaian ini, ada-ada saja yang terjadi. Biasanya keluarga akan sakit,” tuturnya. 

Kerajinan Belak ini sendiri merupakan salah satu warisan budaya dari masyarakat Timor Leste yang masih bertahan dan digunakan dalam kegiatan adat hingga sekarang. Penting sekali untuk melestarikan kepandaian pembuatan belak ini bagi generasi penerus di Timor Leste. 


Sore sebelum matahari tenggelam kami berpamitan lalu melanjutkan perjalanan menuju Dili. Perjalanan panjang!

Belak, Dili, Timor Leste, Intangible Cultural Heritage, East Timor, UNESCO, South East Asia, Jewelery, Heritage, Malina District, Bobonaro, Atambua, Art, Wedding Traditional, People of East Timor, Timor Leste Images, Backpackers Hostel, Dili Backpackers, Cathedral of Dili, Best Place of Timor Leste, Timor Leste Photography, Dili Photo, Image of Dili, Timor leste Image, Foto Timor Leste, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, Indonesian Travel Photographer, South East Asia Stock Photo
Pembakaran belak dengan cara sederhana.
Mendung bergelayut di atas langit saat saya menumpang mobil bak terbuka menuju Calang. Beberapi kali mobil milik Palang Merah Indonesia ini berjalan lambat menghindari tumpukan tanah longsor yang memutus jalur utama Banda Aceh - Meulaboh. Beberapa hari lalu, jalur ini tak bisa dilewati. Namun saya beruntung, kemarin jalur ini sudah kembali dibuka untuk kendaraan roda empat.


Tujuan utama saya adalah Calang. Bersama kawan dari Palang Merah Indonesia Pusat, saya berkesempatan untuk menghadiri peringatan 10 tahun Tsunami di Banda Aceh. Namun, tujuan utama kami tak hanya mengenang tsunami tapi melihat upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat guna menghadapi bencana yang tidak tahun kapan tibanya.

    Calang adalah satu dari sekian banyak daerah di Aceh yang mengalami kerusakan parah. Kota di pesisir barat Pulau Sumatra ini langsung berhadapan dengan pusat gempa yang menyebabkan tsunami dengan korban jiwa sebanyak 221.005 pada akhir Desember 2004. Salah satu bencana dengan korban jiwa terbesar dalam sejarah Indonesia.

    Tsunami memporak-porandakan puluhan ribu rumah di pesisir barat Sumatra, ribuan orang menjadi yatim piatu, terpisah dari sanak keluarga, dan menimbulkan luka yang teramat dalam bagi Aceh. Namun dibalik itu semua, hikmah tsunami telah menimbulkan kesadaran bagi banyak orang dibelahan bumi ini akan suatu bencana yang berbahaya dan paling rawan terjadi terutama di negara yang sering mengalami aktivitas tektonik.

    Bersama kawan-kawan dari Palang Merah Indonesia Calang, kami mengunjungi Krueng Sayeung yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Di tempat ini, sungai mengalir dengan jerni, tempat ikan hidup, juga berbagai macam kepiting, udang dan hewan air lainnya. Namun tsunami 2004 menghancurkan tempat ini, menjadikannya rawa kerontang menyisakan pohon-pohon menjulang yang sudah mati.

    Krueng Sayeung, satu dari banyak tempat yang patut kita jadikan pelajaran bagaimana sebuah bencana tidak membuat masyarakat menyerah begitu saja untuk merawat alam guna menghadapi masa depan yang tidak diketahui ujungnya. Disini, siaga bencana berbasis masyarakat disingkat dengan SIBAT bentukan Palang Merah Indonesia mengambil peran besar dalam mereboisasi kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan bibir pantai. Puluhan ribu batang bakau ditanam untuk menahan laju abrasi.

    Saya memanjat pohon yang sudah mati,juga lapuk di tempat ini untuk menghasilkan visual dalam penugasan untuk National Gegraphic Indonesia. Meskipun kamera saya terjebur kedalam rawa, namun ini sudah menjadi resiko pekerjaan yang memang akan demikian adanya.

    Liputan ini menjadi penugasan saya berturut-turut sejak Oktober (pangan organik), November (kalender tanam terpadu), dan Desember (tsunami) untuk majalah ini dengan penulis Titania Febrianti yang juga editor teks di National Geographic Magazine Indonesia.

    Secara khusus untuk liputan tsunami ini, saya senang sekali bisa bekerja dengan Arif Ariadi dari BRR Institute. Arif Ariadi dan saya menjadi dua fotografer yang mengisi foto dalam memenuhi kebutuhan visual untuk feature Tsunami Aceh di majalah National Geographic Indonesia edisi Desember 2014. Selamat membaca sahabat.



Sungai Cicatih dan Citarik di Sukabumi ataupun Cikandang di Garut mungkin sudah familiar di telinga para pecinta olahraga arung jeram dan kayak. Namun tak jauh dari ibukota, tepatnya di Kota Bogor, jeram di Kali Baru tak kalah menantang. Saya memacu dopamin mengarungi jeram-jeram yang menegangkan sepanjang delapan kilometer.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Inilah riverboarding yang menantang dopamin, cara lain untuk bersenang-senang dan menikmati derasnya aliran Kali Baru di Bogor.

     Tak ada yang percaya awalnya saya dan Sony mengarungi jeram-jeram di Kali Baru. Sungai kecil yang aliran airnya bersumber dari bendungan Katulampa. Bagaimana mungkin "parit" kecil itu bisa dilalui perahu? Lalu, dari mana pula ada jeram-jeram yang mampu memancing nyali di parit tepian kota?

    Pertanyaaan seperti ini tentu sudah sangat sering menggeluti para pejalan, termasuk saya. Orang-orang kadang memuja terlalu tinggi suatu destinasi meskipun tak jarang juga menyebelah matakan destinasi bahkan yang belum dikunjungi. Kita bisa memberi nilai suatu tempat hanya dari foto yang kita lihat, dari membaca blog perjalanan atau media yang marak menulis tempat-tempat baru tak terjamah belakangan ini, atau mungkin dari cerita seorang kawan yang memamerkan foto di media sosialnya.

    Tak mau dirundung pertanyaan ini terus-menerus. Saya menjawab rasa penasaran saya dengan merangkak melewati selatan Jakarta menuju Bogor. Dari seorang kawan yang gemar bersepeda di akhir pekan melewati Kali Baru, saya dapati nomor telepon pemandu arung jeram. Pesan singkat dan sebuah panggilan saya lakukan sebelum kami berkunjung ke sana. Ini penting untuk memastikan tempat tersebut terbuka untuk umum serta mendapat informasi yang mungkin sangat penting untuk kita kumpulkan sebelum datang ke suatu tempat yang akan kita kunjungi.

      “Iya ini Achmad, Kang. Ini siapa ya?” suara berlogat Sunda menjawab di seberang. Achmad memberikan arah yang cukup membantu kami menemukan lokasi arung jeram ini. Saya tidak terlalu paham Bogor, tetapi Sony, kartografer yang bekerja untuk National Geographic Indonesia cukup mahir menebak lorong-lorong sempit kota hujan ini. Tentu saja kegemarannya bersepeda pulang pergi Jakarta-Bogor membuatnya paham akan lika-liku jalan berlapis emas hitam di kota ini.

      “Kang, kalau naik kereta dari stasiun bisa jalan kaki ke arah Kebun Raya Bogor. Nanti di sana ambil angkot 05 jurusan Cimahpar. Tinggal bilang ke sopirnya, mau turun di Mesjid Gedong,” Achmad menjelaskan transportasi umum menuju ke sana. “Tetapi kalau naik kendaraan sendiri gimana ya, Kang?” saya menimpali. “Nah Akang tau Hotel Novotel, nah Kali Baru persis di belakangnya, Kang” Achmad menjelaskan secara baik.

      Akhir pekan menjadi pilihan bagi saya dan Sony untuk mendatangi tempat ini. Cukup mudah bagi kami menemui tempat ini. Dari tepi jalan kami menuruni anak tangga menuju tepian Kali Baru. Lantunan suara biduan menghibur para pengunjung yang baru saja usai menyisir Kali Baru. Saya menyelinap diantara para pemuda yang masih bergembira sembari menggoyangkan badan seirama dengan lantunan musik.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Bersiap mengarungi Kali Baru, Bogor. Aneka olahraga sungai seperti rafting, kayak, dan riverboarding bisa dilakukan disini.

       “Kang Yudi ya? Saya Achmad, Kang,” pria bertubuh sedang ini akhirnya mengenali kami. “Baru selesai ini arung jeramnya, Kang. Ayo naik ke atas dulu,” Achmad mengajak kami naik ke pendopo. “Kita ngomong santai dulu kang. Sudah makan siang kang?” Achmad menanyakan dengan ramah.

      Para pemandu masih mengeringkan bajunya yang kuyup saat saya singgah ke pendopo. Beberapa diantara merebahkan tubuh. Mayoritas pemandu disini adalah warga lokal, dan beberapa lagi sudah mendayung kayak serta sudah mengarungi jeram sejak lama. Kemampuan mereka sudah tak diragukan lagi dalam menyusur aliran Kali Baru.

      Saya dikenalkan oleh Kang Ahmad dengan pemiliki Kali Baru Adventure. Pria yang gemar berolahraga di luar ruang ini menyambut kami dengan hangat, ialah Kang Dudy. Kami bercerita banyak tentang sungai dan jeram-jeram yang sudah dilalui oleh kawan-kawan pecinta olah raga ini. "Ini saya sama kawan-kawan menyusur aliran Sungai Cisadane. Kita coba river boarding disana, juga rafting dan kayaking. Coba lihat ini saya bikin videonya," sembari Kang Dudy menunjukkan ke kami videonya bermain di derasnya alur Sungai Cisadane.

      Dengan geografi yang beragam, tak salah sungai di Indonesia menjadi salah satu tempat paling pas untuk melakukan olahraga sungai. Di Sumatra Utara, Sungai Asahan sering dijadikan arena untuk kompetisi arung jeram internasional. Atlet-atlet dari berbagai negara dari guna mengarungi derasnya aliran sungai ini. Juga di Pulau Jawa, beberapa sungai seperti Citarik, Citatih,  dan Sungai Serayu juga dijadikan lintasan pemacu dopamin.

      Kami bercerita panjang lebar dengan Kang Dudy, termasuk pula tentang pembersihan Tugu Pancoran yang cukup beresiko untuk dilakukan.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Menumpangi mobil bak terbuka menuju titik permulaan menyusuri Kali Baru.

      Usai makan siang, kami sepakat untuk turun sungai. Dari tempat garis akhir, kami beranjak dengan mobil bak terbuka menuju garis awal arung jeram. Titik permulaan arung jeram ini berada di bawah Tol Jagorawi. Kami membawa perahu yang belum diisi udara menuju garis permulaan arung jeram. Juga beberapa peralatan untuk riverboarding, olahraga air yang sedang naik pamor. Saya bertengger di bak mobil bersama Kang Achmad dan teman-teman dari Kali Baru Adventure. Mari mendayung!

    "Kang pasang dulu pelampung sama helmnya. Penting bagi kita agar tetap aman saat berolahraga seperti ini," ujar Kang Achmad. Saya memasah peralatan keamanan untuk meminimalkan resiko jika terjadi insiden yang tak terduga.

    Dua perahu yang sudah terisi penuh udara siap untuk melaju menuju hilir. Pelampung sudah terpasang, pelindung kepala pun sudah saya kenakan. Saya mempersiapkan peralatan fotografi untuk mengabadikan kegiatan ini. Saya dan Sony, kartografer di Majalah National Geographic Indonesia berpisah perahu. 

    Mengabadikan kegiatan arung jeram tentu juga beresiko untuk keamanan peralatan foto. Namun hal ini bisa diminimalisir dengan membawa pelindung air untuk kamera. Meskipun saya tidak menggunakan Pelican Case yang jamak digunakan oleh para fotografer olahraga ini, namun pelindung kamera yang saya gunakan mungkin cukup untuk mengamankan kamera.

    Sekarang waktunya beraksi. Perahu saya beranjak lebih dulu meninggalkan garis permulaan disusul dengan para atlit river boarding. Kang Achmad bertindak sebagai skipper, nakhoda perahu karet ini. Saya meminta untuk berhenti di posisi terbaik dalam mengambil foto. "Kang boleh berhenti disini?" saya meminta kepada skipper untuk berhenti sejenak menunggu perahu kedua menerjang jeram.

    Kami lanjut menuruni Kali Baru yang memiliki grade 3. Lepas dari garis awal tempat saya memotret, tubuh saya diguncang hebat oleh jeram ulak-alik. Mengabadikan olehraga arung jeram ini cukup sulit. Perahu yang kurang stabil ditambah lagi dengan percikkan air sungai yang sudah menjadikan diri saya basah kuyup tentu menjadi tantangan untuk tetap menghasilkan foto terbaik.

    Perahu yang saya tumpangi semakin kencang ke hilir. Beberapa kali skipper kami harus berteriak “Booooooom,” lalu kami semua menundukkan badan. Apa gerangan? Ternyata puluhan pipa air warga menjadi salah satu tantangan saat mengarung jeram di Kali Baru ini.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Jeram dam mengocok perut.
    Beberapa kali saya seperti prajurit melewati tantangan merangkak. Bedanya disini, saya harus merebahkan badan kebelakang sejajar dengan perahu agar tak tersangkut di pipa air warga. Namun kadang usaha saya ini tak berhasil mulus, beberapa helm yang gunakan kepentok pipa warga. Kalau sampai pipanya patah, kami bisa dikejar dengan parang oleh warga.

    Beberapa jeram berhasil kami lalui dengan baik. Hingga akhirnya kami harus berhenti dan turun dari perahu.    “Yuk, semua turun dari perahu. Kita angkat dulu perahunya,” ajak Kang Achmad. Persis di depan tempat kami berhenti, gemuruh air terdengar semakin deras. Inilah jeram es besar, salah satu jeram paling mendebarkan saat mengarungi Kali Baru. Tingginya sekitar tujuh meter. Cukup menarik untuk dituruni dengan perahu, namun "Terlalu berbahaya bagi kita untuk menuruni ini dengan perahu, Kang," ujar Kang Achmad.

    Kami beristirahat sejenak sebelum memulai melakukan manuver di Kali Baru. Saya menyisir jalan setapak menuju pohon yang berada tepat di atas sungai. Ini posisi terbaik untuk mengabadikan derasnya jeram es. Sony menjadi pumbuka jalan saat saya mulai menghitung waktu kapan Sony dan ti di perahunya turun menyusur jeram es ini. "Woaaaaaa," teriakan itu disusur dengan suara blasss dari perahu yang menghantam arus deras ini. Saya menekan tombol shutter berkali-kali untuk mendapat frame terbaik.

    Selepas jeram es, saya langsung berpaling ke belakang melihat perahu karet itu membelah sungai yang diapit oleh dukit. Aliran sungai ini hanya bisa memuat satu perahu karet, cukup kecil namun suasananya sangat tenang. Sungai ini memang memiliki ritme laksana film action.

    Jeram es mungkin salah satu jeram yang paling menantang dari semua jeram di Kali Baru. Sebenarnya masih banyak lagi jeram-jeram menarik yang di Kali Baru yang airnya bersumber dari Ciliwung ini. Jeram Dam 3 meter, Penganten, dan Jeram Es Kecil mampu mengocok perut saya dan Sony. 

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer
Salah satu jeram dengan arus yang cukup keras, yakni jeram dam.

    Selepas dari jeram dam, kami melewati aliran sungai berpayung pepohonan bambu. Ini sudah tiga jam kami mengarungi sungai ini. Badan saya sudah kuyup sedari tadi. Beberapa kali saya harus turun kedalam sungai untuk mendapatkan posisi terbaik dalam pengambilan foto. Juga kamera yang hampir saja tercelup kedalam sungai saat arus bawah sungai cukup deras untuk menggoyang tumpuan kaki saya. Untung saja, teman dari Kali Baru Adventure sigap menangkap badan saya supaya tak hanyut.    
    Arung jeram di Kali Baru ini bisa dikategorikan sebagai arung jeram yang aman. Debit air yang mengalir bisa diatur dari Bendungan Katulampa. Hal ini tidak membuat kakmi terlalu khawatir berarung jeram meskipun musim hujan. "Uniknya kalau di Kali Baru ini, debit air nya bisa kita atur. Jadi aman untuk melakukan olahraga arung jeram disini tanpa khawatir ada bandang," ujar Kang Dudy sesaat sebelum saya turun sungai tadi.

      “Saya selalu menekankan bahwa keselamatan yang paling utama dari setiap kegiatan alam, terutama arung jeram. Bersama anak-anak kami membersihkan jalur arung jeram. Batu dan ranting yang membahayakan kami bersihkan. Juga tiap minggu kita adakan gotong-royong membersihkan sampah di Kali Baru ini,” imbuh Dudy saat ia mencerikan sejarah bagaiman Kali Baru ini aman untuk dilewati bahkan oleh pengarung yang baru sekalipun.

      Dudi tentu tak main-main dengan ucapannya. Pengalamannya di dunia arung jeram dan aktivitas luar ruang tentu menjadi pegangan bagi saya. “Saya ingin semua yang datang menikmati arung jeram di sini tetap dalam kondisi aman. Dan tentu saja, kepuasan para pengunjung menjadi tujuan utama selain keselamatan tadi,” Dudi kembali menimpali.

      Ucapan Dudy ini tentu menjadi nyata saat saya hampir tiba digaris akhir arung jeram ini. Setelah hampir empat jam mengocok perut di atas perahu karet, titim akhirpun sudah jelas terlihat. Ini menjadi akhir dari perjalanan menikmati jeram-jeram.
 
      Saya dan Sony mengamini tentang kepuasaan mengarungi Kali Baru ini. “Ini sengaja nih. Lagi asyik-asyiknya malah sampai di garis akhir,” Sony dan saya pun sama-sama mengumpat.

    Tapi saya cukup bersenang-senang. Bagaimana tidak? Tak jauh dari ibu kota saya bisa mendapatkan pengalaman aktivitas luar ruang yang mampu memacu dopamin. Mungkin arung jeram di Kali Baru ini bisa menjadi agenda saya berikutnya bersama sahabat dekat. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati olahraga  air jika di selatan Jakarta ada? Selamat membasahi tubuh, kawan.

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer

Rafting, Arung Jeram, Riverboarding, Kayak, Bogor, Kalibaru, Kali Baru, Rafting Citatih, Rafting Citarik, Rafting Cikandang, Cisadane, Sungai Untuk Arung Jeram, Sungai Asahan, Sungai Alas, Rafting Serayu, Foto Rafting, Foto Arung Jeram, Wisata Rafting, Olahraga Sungai, Bogor, Wisata Bogor, Perahu Karet, stock photo, culture stock photo, indonesia stock photo, indonesia photo, foto wisata, daerah wisata indonesia, tourism indonesia, amazing place indonesia, place to visit in indonesia, travel photographer, assignment for photographer, culture photo of indonesia, indonesia travel photographer