Kelana Dwipantara : Rubrik Portofolio National Geographic Traveler Indonesia Mei 2017

"Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat,”  tulis Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demons­tran. Sepertinya, ungkapan Gie tadi terlampau mulia, apabila kita membandingkannya dengan kebanyakan tujuan orang dalam menjelajahi Nusantara belakangan ini.

Belitung, Bangka Belitung, Belitung Island, Belitung Tanjung Pandan, Belitung Laskar Pelangi, Belitung Timur, Pulau Lengkuas, Bromo, Raja Ampat, Raja Ampat Papua, Raja Ampat Resort, Raja Ampat Island, Raja Ampat Tour, Raja Ampat Papua Barat, Raja Ampat Dive Lodge, Wayag, Gunung Kerinci, Gunung Kerinci 2017, Gunung Kerinci Sumatra, Pendakian Gunung Kerinci, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kawah Ijen, Ijen Crater, Kawah Ijen Banyuwangi, Fotografer Indonesia, Fotografer Indonesia Terbaik, Fotografer Indonesia di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal, Fotografer Artis Indonesia, Fotografer Alam Indonesia, Fotografer Budaya Indonesia, Travel Blogger Indonesia, Indonesian Travel Blogger, Travel Blogger Indonesia Instagram, Travel Blogger Indonesia 2017, Travel Blogger di Indonesia, Best Travel Blogger Indonesia, Tips Fotografi Lanscape, Tips Fotograi Travel, Tips Fotografi Wisata, Tips Fotografi Smartphone, Wisata Alam Bandung, Wisata Alam Indonesia, Wisata Alam, Wisata Alam Terbaik di Indonesia, Editor Foto, Konsultan Fotografi, Jasa Stock Foto Indonesia, Indonesia Photo Agency, Jasa Fotografi Jakarta, Jasa Fotografi Produk Jakarta, Jasa Fotografi Murah, Jasa Fotografi, Jasa Foto Aerial, Free Stock Photo Indonesia, Indonesia Stock Photo Agency, Stock Photo Indonesia, Yunaidi Joepoet

Semua orang berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat baru yang fotogenik. Sebingkai foto, yang membuat orang menekan tombol “suka” di media sosial, menjadi ujung dari penjelajahan sebuah destinasi. Tempat-tempat yang se­mula lengang, belakangan berubah menjadi tempat yang riuh.

Pemuda berwajah tampan dan gadis berparas cantik ber­pose bak model. Jepret! Foto yang tercipta kemudian dipoles dengan perangkat lunak. Lalu, foto pun diunggah di dunia maya. Bagi sebagian orang, itulah esensi perjalanan.

Tampaknya, kita telah lupa tentang tujuan perjalanan yang mulia. Perihal melihat, menemukan, mengenal, dan mencintai Indonesia dengan lebih dekat. Juga, bagaimana mempelajari segala kebaikan warga dan budayanya yang sungguh beragam, namun tetap hidup berdampingan secara damai.

Negeri ini “dikutuk” memiliki kekayaan alam yang ber­limpah. Di dasar laut terdalamnya, biota nan elok bagaikan lu­kisan berpulas aneka warna. Di daratannya, hidup beragam puspa dan satwa, ribuan sungai, ratusan danau dan telaga, bentangan padang pasir dan sabana nan luas, hingga salju yang menyelimuti pucuk gunung tertingginya.

Negeri ini sungguh luar biasa. Jika setiap hari kita men­jelajahi satu per satu pulaunya, setidaknya kita akan mem­butuhkan 46 tahun untuk menyudahinya. Panjang garis pantainya pun mencapai 99.000 kilometer, atau dua kali panjang lingkar Khatulistiwa  Bumi.

Saya berusaha mengabadikan repihan perjalanan tatkala menyambangi sebuah keindahan tempat yang memiliki kekuatan cerita secara geografis—tak sekadar fotografis.

Belitung, Bangka Belitung, Belitung Island, Belitung Tanjung Pandan, Belitung Laskar Pelangi, Belitung Timur, Pulau Lengkuas, Bromo, Raja Ampat, Raja Ampat Papua, Raja Ampat Resort, Raja Ampat Island, Raja Ampat Tour, Raja Ampat Papua Barat, Raja Ampat Dive Lodge, Wayag, Gunung Kerinci, Gunung Kerinci 2017, Gunung Kerinci Sumatra, Pendakian Gunung Kerinci, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kawah Ijen, Ijen Crater, Kawah Ijen Banyuwangi, Fotografer Indonesia, Fotografer Indonesia Terbaik, Fotografer Indonesia di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal, Fotografer Artis Indonesia, Fotografer Alam Indonesia, Fotografer Budaya Indonesia, Travel Blogger Indonesia, Indonesian Travel Blogger, Travel Blogger Indonesia Instagram, Travel Blogger Indonesia 2017, Travel Blogger di Indonesia, Best Travel Blogger Indonesia, Tips Fotografi Lanscape, Tips Fotograi Travel, Tips Fotografi Wisata, Tips Fotografi Smartphone, Wisata Alam Bandung, Wisata Alam Indonesia, Wisata Alam, Wisata Alam Terbaik di Indonesia, Editor Foto, Konsultan Fotografi, Jasa Stock Foto Indonesia, Indonesia Photo Agency, Jasa Fotografi Jakarta, Jasa Fotografi Produk Jakarta, Jasa Fotografi Murah, Jasa Fotografi, Jasa Foto Aerial, Free Stock Photo Indonesia, Indonesia Stock Photo Agency, Stock Photo Indonesia, Yunaidi Joepoet
Belitung, Bangka Belitung, Belitung Island, Belitung Tanjung Pandan, Belitung Laskar Pelangi, Belitung Timur, Pulau Lengkuas, Bromo, Raja Ampat, Raja Ampat Papua, Raja Ampat Resort, Raja Ampat Island, Raja Ampat Tour, Raja Ampat Papua Barat, Raja Ampat Dive Lodge, Wayag, Gunung Kerinci, Gunung Kerinci 2017, Gunung Kerinci Sumatra, Pendakian Gunung Kerinci, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kawah Ijen, Ijen Crater, Kawah Ijen Banyuwangi, Fotografer Indonesia, Fotografer Indonesia Terbaik, Fotografer Indonesia di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal, Fotografer Artis Indonesia, Fotografer Alam Indonesia, Fotografer Budaya Indonesia, Travel Blogger Indonesia, Indonesian Travel Blogger, Travel Blogger Indonesia Instagram, Travel Blogger Indonesia 2017, Travel Blogger di Indonesia, Best Travel Blogger Indonesia, Tips Fotografi Lanscape, Tips Fotograi Travel, Tips Fotografi Wisata, Tips Fotografi Smartphone, Wisata Alam Bandung, Wisata Alam Indonesia, Wisata Alam, Wisata Alam Terbaik di Indonesia, Editor Foto, Konsultan Fotografi, Jasa Stock Foto Indonesia, Indonesia Photo Agency, Jasa Fotografi Jakarta, Jasa Fotografi Produk Jakarta, Jasa Fotografi Murah, Jasa Fotografi, Jasa Foto Aerial, Free Stock Photo Indonesia, Indonesia Stock Photo Agency, Stock Photo Indonesia, Yunaidi Joepoet

Belitung, Bangka Belitung, Belitung Island, Belitung Tanjung Pandan, Belitung Laskar Pelangi, Belitung Timur, Pulau Lengkuas, Bromo, Raja Ampat, Raja Ampat Papua, Raja Ampat Resort, Raja Ampat Island, Raja Ampat Tour, Raja Ampat Papua Barat, Raja Ampat Dive Lodge, Wayag, Gunung Kerinci, Gunung Kerinci 2017, Gunung Kerinci Sumatra, Pendakian Gunung Kerinci, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kawah Ijen, Ijen Crater, Kawah Ijen Banyuwangi, Fotografer Indonesia, Fotografer Indonesia Terbaik, Fotografer Indonesia di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal di Instagram, Fotografer Indonesia Terkenal, Fotografer Artis Indonesia, Fotografer Alam Indonesia, Fotografer Budaya Indonesia, Travel Blogger Indonesia, Indonesian Travel Blogger, Travel Blogger Indonesia Instagram, Travel Blogger Indonesia 2017, Travel Blogger di Indonesia, Best Travel Blogger Indonesia, Tips Fotografi Lanscape, Tips Fotograi Travel, Tips Fotografi Wisata, Tips Fotografi Smartphone, Wisata Alam Bandung, Wisata Alam Indonesia, Wisata Alam, Wisata Alam Terbaik di Indonesia, Editor Foto, Konsultan Fotografi, Jasa Stock Foto Indonesia, Indonesia Photo Agency, Jasa Fotografi Jakarta, Jasa Fotografi Produk Jakarta, Jasa Fotografi Murah, Jasa Fotografi, Jasa Foto Aerial, Free Stock Photo Indonesia, Indonesia Stock Photo Agency, Stock Photo Indonesia, Yunaidi Joepoet


Foto-foto di atas saya abadikan selama perjalanan mengelilingi Nusantara selama beberapa tahun. Saya mengambil beberapa destinasi yang memiliki karakteristik nan unik. Semua foto tersebut diterbitkan di rubrik Portofolio National Geographic Traveler Indonesia edisi Mei 2017. Semoga bisa dinikmati.

Menyelam Bersama Hiu Paus di Teluk Cenderawasih Nabire

Sosok besar itu tiba-tiba menyelinap secara perlahan dalam laut biru nan gelap. Saya terdiam sejenak sembari menahan agar tak mengeluarkan gelembung udara. Tiba-tiba saya terperangah, dia tidak sendiri. Bersama dua kawannya, tubuh sepanjang empat meter ini meliuk-liuk memecah keheningan laut Kwatisore. Bagaikan tawanan yang sudah dikepung, saya terus bersiaga memperhatikan pergerakannya yang lamban. Sesekali kepalanya mendongak ke permukaan dan mulutnya menganga lebar.

Teluk Cendrawasih; Teluk Cenderawasih; Kwatisore; Nabire; Kalilemon Dive Resort; Kalilemon; Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Biak; Papua; Hiu Paus; Hiu; Bagan; Underwater; Foto Hiu Paus; Musim Hiu Paus; Gurano Bintang; Papua Barat; Ikan Paus; Bawah Laut; Foto Nabire; Foto Taman Nasional Cendrawasih; Foto Laut; Underwater Nabire; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia; Indonesia Photography; Indonesia Travel Photography; Indonesia Travel Photographer; Indonesia Travel Blogger; Indonesia Travel Writer; Travel Fotografer Indonesia; Travel Blogger Indonesia; Travel Blog; Travel Photography; Landscape Photo; Culture of Indonesia; Indonesia Stock Photography; Stok Foto Indonesia; Images of Indonesia; Indonesia Photo Gallery; Tourism Indonesia; Indonesia Photostock; Backpacker Indonesia; Tempat Wisata Indonesia
Dengan panjang mencapai empat meter, seekor hiu paus berenang tak jauh dari bagan nalayan di Kwatisore, Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Tak berbatas musim dan peruntungan, perairan ini telah menjadi rumah, laboratorium, serta jendela untuk mengenal hiu paus lebih dekat. (Yunaidi Joepoet)

Saya berdiam dan berusaha tenang sembari membiarkan tubuh saya mengambang di dalam laut. Saat melihat ke bawah, yang ada hanya lautan biru pekat nan dalam. Saya terus memperhatikan gerak-gerik kawanan ini, hingga akhirnya kehadiran mereka tak lagi menakutkan, melainkan menyenangkan.

Ini pertama kalinya saya berjumpa langsung dengan si raksasa penunggu Teluk Cenderawasih. Pola totol-totol putih dan garis di kulit yang berwarna keabu-abuan, kepalanya lebar namun gepeng, mulutnya akan terbuka lebar saat melahap plankton ataupun ikan kecil, serta garis insang dan sirip punggung pertama yang besar telah menjadi ciri khas ikan terbesar di planet ini.

 “Sejauh ini belum ada hiu paus yang menyerang manusia,” ujar Evi Nurul Ihsan, pemuda yang bekerja di World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. “Meskipun begitu, usahakan agar tetap menjaga jarak dan jangan menyentuh hiu paus,” demikian tambahnya mewanti-wanti.

Kawasan yang masuk ke dalam Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini menerapkan peraturan yang ketat bagi setiap orang yang akan berkunjung dan beraktivitas di kawasan ini. Tujuannya agar kawasan ini tetap lestari, serta memastikan wisatawan yang berkunjung tetap aman dalam melakukan setiap kegiatan.

Teluk Cendrawasih; Teluk Cenderawasih; Kwatisore; Nabire; Kalilemon Dive Resort; Kalilemon; Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Biak; Papua; Hiu Paus; Hiu; Bagan; Underwater; Foto Hiu Paus; Musim Hiu Paus; Gurano Bintang; Papua Barat; Ikan Paus; Bawah Laut; Foto Nabire; Foto Taman Nasional Cendrawasih; Foto Laut; Underwater Nabire; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia; Indonesia Photography; Indonesia Travel Photography; Indonesia Travel Photographer; Indonesia Travel Blogger; Indonesia Travel Writer; Travel Fotografer Indonesia; Travel Blogger Indonesia; Travel Blog; Travel Photography; Landscape Photo; Culture of Indonesia; Indonesia Stock Photography; Stok Foto Indonesia; Images of Indonesia; Indonesia Photo Gallery; Tourism Indonesia; Indonesia Photostock; Backpacker Indonesia; Tempat Wisata Indonesia
Perahu bermesin ganda dengan laju membelah perairan sebening kaca menuju Kwatisore. Desa ini bisa ditempuh melalui jalur darat dan laut dari Kota Nabire, namun pengunjung biasanya lebih memilih menggunakan perahu membelah laut dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan untuk mencapainya. (Yunaidi Joepoet)

Abraham Maruanaya melepas keberangkatan kami dari bibir pantai di Kota Nabire. “Saya tidak bisa bergabung ke Kali Lemon kali ini,” ujarnya ramah. Pria yang akrab disapa Bram ini telah bersentuhan dengan kawasan Teluk Cenderawasih sejak belasan tahun lalu.

”Tahun 2004, saya menemani tim dari National Geographic saat melakukan penyelaman di Teluk Cenderawasih. Saat itu belum ada warga lokal di Kwatisore yang menjadi pemandu bagi para wisatawan ataupun peneliti yang akan masuk ke kawasan Teluk Cenderawasih,” jelasnya. “Dari pengalaman itu tercetuslah ide bagaimana kehadiran para wisatawan maupun peneliti di kawasan ini bisa memberikan dampak positif bagi warga lokal.”

Tahun 2008, upaya Bram itu dimulai dengan mendirikan Papua Pro, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengusung misi konservasi melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan ekowisata. Bersama-sama dengan warga Kwatisore, Bram membangun sebuah homestay yang saat ini telah menjelma menjadi Kali Lemon Dive Resort.

Kali Lemon Dive Resort menjadi rumah singgah bagi para wisatawan ataupun penyelam yang ingin melihat hiu paus lebih dekat. “Yero akan menemani kawan-kawan selama di sana,” ujar Bram sembari memperkenalkan Yero.

Teluk Cendrawasih; Teluk Cenderawasih; Kwatisore; Nabire; Kalilemon Dive Resort; Kalilemon; Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Biak; Papua; Hiu Paus; Hiu; Bagan; Underwater; Foto Hiu Paus; Musim Hiu Paus; Gurano Bintang; Papua Barat; Ikan Paus; Bawah Laut; Foto Nabire; Foto Taman Nasional Cendrawasih; Foto Laut; Underwater Nabire; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia; Indonesia Photography; Indonesia Travel Photography; Indonesia Travel Photographer; Indonesia Travel Blogger; Indonesia Travel Writer; Travel Fotografer Indonesia; Travel Blogger Indonesia; Travel Blog; Travel Photography; Landscape Photo; Culture of Indonesia; Indonesia Stock Photography; Stok Foto Indonesia; Images of Indonesia; Indonesia Photo Gallery; Tourism Indonesia; Indonesia Photostock; Backpacker Indonesia; Tempat Wisata Indonesia
Pondok kayu di atas pohon yang condong ke laut ini menjadi tempat terbaik untuk meresapi kedamaian Kali Lemon sembari memandang lautan luas yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik. (Yunaidi Joepoet)

“Tunggu ombak agak besar, barulah kita dorong perahu ini menuju laut,” teriak Daud. Kami menggiring perahu itu menuju laut dengan bantuan ombak yang menghempas tepian pantai. Saat ombak datang, “Ayo dorong,” teriaknya.

Saya buru-buru meloncat saat posisi perahu sudah berada pada posisi aman untuk dinaiki. Siang itu gelombang laut cukup tinggi, namun kondisi tersebut masih aman untuk diarungi. Daud, juru kemudi kapal ini meyakinkan kami, “Nanti kalau sudah di tengah laut, ombaknya biasanya tak setinggi ini,” teriaknya di antara lengkingan dua mesin kapal yang masing-masing berkekuatan 40 PK.

Caranya mengemudikan perahu berhasil mengocok perut, memacu adrenalin, dan sukses membuat kami berteriak karena manuver yang nekat. Dua jam perjalanan laut dari Nabire ke Kali Lemon sungguh sangat menyenangkan.

Laut sedang pasang sore itu. Hempasan gelombang menghantam keras tepian pantai tempat perahu kami akan bersandar. Kami datang di saat bulan sedang penuh. “Saat purnama gelombangnya memang tinggi seperti ini,” ujar Yance, warga Kwatisore yang bertanggung jawab mengelola Kali Lemon Dive Resort.

Teluk Cendrawasih; Teluk Cenderawasih; Kwatisore; Nabire; Kalilemon Dive Resort; Kalilemon; Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Biak; Papua; Hiu Paus; Hiu; Bagan; Underwater; Foto Hiu Paus; Musim Hiu Paus; Gurano Bintang; Papua Barat; Ikan Paus; Bawah Laut; Foto Nabire; Foto Taman Nasional Cendrawasih; Foto Laut; Underwater Nabire; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia; Indonesia Photography; Indonesia Travel Photography; Indonesia Travel Photographer; Indonesia Travel Blogger; Indonesia Travel Writer; Travel Fotografer Indonesia; Travel Blogger Indonesia; Travel Blog; Travel Photography; Landscape Photo; Culture of Indonesia; Indonesia Stock Photography; Stok Foto Indonesia; Images of Indonesia; Indonesia Photo Gallery; Tourism Indonesia; Indonesia Photostock; Backpacker Indonesia; Tempat Wisata Indonesia
Daud dengan lincah memanjat pohon kelapa yang condong ke laut di Desa Kwatisore. Tak jauh dari desa yang terletak di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, hiu paus kerap menyambangi bagan nelayan untuk melahap ikan puri sisa tangkapan yang dibuang kembali ke laut. (Yunaidi Joepoet)

Saat menginjakkan kaki di Kali Lemon, saya mulai terasing dari dunia luar. Satu-satunya cara kami agar tetap tersambung dengan orang-orang adalah menggunakan radio. “Tak ada sinyal telepon seluler di sini,” ujar Yance.

“Tak apa-apa. Hidup lebih tenang dan menyenangkan tanpa sinyal,” saya mensyukuri apa yang Yance ucapkan.

Kali Lemon terlalu mahal untuk disia-siakan. Tempat ini jauh dari ingar-bingar kendaraan yang memekakkan telinga. Alih-alih mendengar desingan knalpot, kuping saya malah dimanjakan oleh hempasan ombak yang pecah di tepian pantai. Udara disini sangat sempurna dibandingkan dengan udara jalanan Jakarta yang penuh dengan racun. Bagi pencari ketenangan dan kedamaian, sepertinya tempat ini boleh diletakkan di urutan teratas setelah Tanah Suci.

Saya melepas penat sembari berbaring di kursi kayu. Di hadapan saya, laut luas yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik menyisakan pemandangan garis tepi bumi.
Nabire menjadi salah satu gerbang masuk ke kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Taman Nasional seluas 1.453.500 hektare ini memiliki keanekaragaman hayati dan tingkat endemisitas yang tinggi. Sedikitnya ada 456 spesies karang dan 877 spesies ikan karang di kawasan ini. Sekitar 42 satwa berstatus dilindungi. Sebagai taman nasional laut terluas di Indonesia, hampir 90 persen kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih adalah perairan laut.

Perairan Kwatisore di Distrik Yaur merupakan satu dari segelintir tempat di dunia yang bisa melihat hiu paus dari dekat. “Hampir sepanjang tahun hiu paus hadir di sini,” ujar Evi Nurul Ihsan. “Saat bulan purnama, hiu paus jarang muncul. Tapi berdoa saja, kadang keberuntungan berbanding terbalik dengan purnama,” tambahnya.

Teluk Cendrawasih; Teluk Cenderawasih; Kwatisore; Nabire; Kalilemon Dive Resort; Kalilemon; Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Biak; Papua; Hiu Paus; Hiu; Bagan; Underwater; Foto Hiu Paus; Musim Hiu Paus; Gurano Bintang; Papua Barat; Ikan Paus; Bawah Laut; Foto Nabire; Foto Taman Nasional Cendrawasih; Foto Laut; Underwater Nabire; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia; Indonesia Photography; Indonesia Travel Photography; Indonesia Travel Photographer; Indonesia Travel Blogger; Indonesia Travel Writer; Travel Fotografer Indonesia; Travel Blogger Indonesia; Travel Blog; Travel Photography; Landscape Photo; Culture of Indonesia; Indonesia Stock Photography; Stok Foto Indonesia; Images of Indonesia; Indonesia Photo Gallery; Tourism Indonesia; Indonesia Photostock; Backpacker Indonesia; Tempat Wisata Indonesia
Nelayan dari Maros bersantai sembari menunggu senja di atas bagan. (Yunaidi Joepoet)

Hiniotanibre adalah sebutan bagi hiu paus dalam Bahasa Yaur, atau warga lokal di Kwatisore biasa menyebutnya dengan gurano bintang karena totol-totol putih pada kulitnya nan gelap bak bintang-bintang di malam hari. Masyarakat lokal menganggap hiu paus sebagai hantu laut.

Sebelum pariwisata marak di Kwatisore, masyarakat lokal sangat takut dengan hiu paus. Tak jarang mereka mematikan mesin perahu atau berdiam saat berpapasan dengan hiu paus di tengah laut. Kearifan lokal berhasil melindungi hiu paus (Rhicodon typus) yang masuk ke dalam daftar merah untuk spesies terancam oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status rentan. Di Indonesia sendiri, hiu paus ini telah dilindungi sejak tahun 2013 sebagai upaya untuk melestarikan dan menjaga populasinya di perairan Indonesia.

Ukuran hiu paus yang hadir di Teluk Cenderawasih pun beragam. Namun dari total 121 hiu paus yang sudah dicatat oleh WWF Indonesia, mayoritas yang hidup di Taman Nasional Teluk Cenderawasih adalah jantan dengan panjang rata-rata 4,4 meter. “Hiu paus ini biasanya mencapai usia matang gonad pada umur 30 tahun. Ukuran jantan pada usia matang biasanya berkisar antara 8-9 meter, sedangkan betina biasanya diatas 10 meter,” ujar Evi menjelaskan. “Namun mereka bisa hidup hingga umur 100 tahun,” tambahnya.

Saya melepaskan udara yang tersimpan dalam Bouyancy Compensator Device (BCD). Perlahan-lahan tubuh saya tenggelam semakin menjauh dari gerombolan hiu paus yang sedang berebut ikan puri dari bagan milik nelayan. Meskipun bertubuh tambun, hiu paus hanya memakan plankton, cumi-cumi kecil, dan ikan kecil.

Kebiasaan nelayan yang membuang sebagian hasil tangkapannya ke laut telah mengundang hiu paus untuk mendekati bagan untuk mencari makan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor kenapa hiu paus mudah ditemukan di perairan Kwatisore. Dari kedalaman 12 meter, saya melihat siluet hiu paus nan indah. Kedalaman yang sempurna untuk melihat hiu paus secara utuh. Saya mempertahankan kedalaman itu selama beberapa saat sebelum kembali ke permukaan.

Buddy diver saya, yang sedari tadi berenang liar, mengacungkan jempol ke atas, pertanda penyelaman sudah harus diakhiri. Namun, saya masih berhutang padanya, sebuah foto dari kedalaman yang menampilkan dirinya dan hiu paus gagal saya abadikan dengan baik.
Alih-alih mengabadikan fotonya bersama hiu paus, saya lebih memilih menikmati suasana nan sempurna di kedalaman laut. Perjumpaan yang mahal ini kadang tak harus diabadikan dalam bingkai foto. Dalam momen tertentu saya hanya ingin menyimpannya dalam ingatan.

Teluk Cendrawasih; Teluk Cenderawasih; Kwatisore; Nabire; Kalilemon Dive Resort; Kalilemon; Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Biak; Papua; Hiu Paus; Hiu; Bagan; Underwater; Foto Hiu Paus; Musim Hiu Paus; Gurano Bintang; Papua Barat; Ikan Paus; Bawah Laut; Foto Nabire; Foto Taman Nasional Cendrawasih; Foto Laut; Underwater Nabire; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia; Indonesia Photography; Indonesia Travel Photography; Indonesia Travel Photographer; Indonesia Travel Blogger; Indonesia Travel Writer; Travel Fotografer Indonesia; Travel Blogger Indonesia; Travel Blog; Travel Photography; Landscape Photo; Culture of Indonesia; Indonesia Stock Photography; Stok Foto Indonesia; Images of Indonesia; Indonesia Photo Gallery; Tourism Indonesia; Indonesia Photostock; Backpacker Indonesia; Tempat Wisata Indonesia
Menyelam adalah salah satu cara terbaik untuk melihat hiu paus. Para pengunjung akan ditemani oleh para pemandu selam berpengalaman yang merupakan penduduk asli Desa Kwatisore. (Yunaidi Joepoet)

Upaya pelestarian dan ekowisata yang berwawasan lingkungan dengan melibatkan seluruh pihak untuk saling bekerja sama bisa menjadi salah satu cara agar hiu paus serta kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini tetap lestari. Setidaknya, generasi setelah kita tidak hanya mengenangnya lewat bingkai foto, tetapi dari pengalaman langsung yang membekas dalam ingatan. Semoga!

Foto Udara, Jakarta - Makassar - Timika - Jayapura - Nabire

Kerap dalam setiap penerbangan saya memilih untuk duduk di jendela. Tergantung keadaan sebenarnya. Kadang saya memilih duduk di lorong untuk memudahkan saat ke toilet maupun untuk turun dari pesawat. Dalam beberapa penerbangan yang mungkin saat saya mengudara ataupun akan mendarat dalam suasana pagi atau senja, saya memilih untuk duduk di jendela – ini hanya tentang memilih.

Aerial Jakarta, Aerial Makassar, Aerial Timika, Aerial Mimika, Aerial Jayapura, Aerial Nabire, Foto Udara Jakarta, Foto Udara Makassar, Foto Udara Timika, Foto Udara Mimika, Foto Udara Cartenzs Pyramid, Foto Udara Papua, Foto Udara Timika, Foto Udara Teluk Cenderawasih, Cenderawasih Bay, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Nabire, Sungai, Laut, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Danau Sentani terlihat saat penerbangan dari Bandar Udara Sentani di Jayapura menuju Bandar Udara Nabire di Papua. Danau Sentani dikelilingi bukit-bukit nan indah jika dilihat dari udara. Salah satu tempat terbaik di Jayapura untuk menikmati senja.
 "It is possible to fly without motors, but not without knowledge and skill." Wilbur Wright  
Duduk di jendela memberikan kita banyak kesempatan untuk berpikir. Maksud saya, merasa nyaman saja berkontemplasi sembari menunggu pesawat berjalan ke landasan pacu lalu melihat semua berlalu dengan sangat cepat – hingga tanpa sadar kita sudah tiba di tujuan.

Dalam penerbangan dengan cuaca cerah, bulir awan bak kapas sungguh cantik. Namun kala cuaca dalam keadaan buruk, semuanya hanya terlihat kelabu. Lalu guncangan-guncangan menggetarkan seluruh penumpang. Kadang saya cemas, tetapi juga bahagia ternyata dalam kondisi berbahaya semua orang kembali ingat bahwa Tuhan menjadi tempat untuk mengadu. Tak jarang, senandung menyebut dan mengingat Tuhan kembali terlontar setelah lama Tuhan menghilang ditelan kesibukan kesaharian.

Saya senang mengabadikan apa yang saya lihat dari jendela. Saya mengabadikan apa saja yang menurut saya menarik untuk diabadikan. Menggunakan smartphone atau DSLR, saya kadang hanya mengabadikan awan. Beberapa waktu lalu, saya memotret beberapa rupa bumi yang menurut saya menarik kala terbang dari Jakarta - Makassar - Timika - Jayapura - Nabire. Oh iya, saya pernah membantu seorang teman saat kami terbang dari Semarang ke Jakarta untuk mengabadikan sebuah ucapan sederhana, "Hello from 35.000 ft." Kemudian pesan tersebut dikirimnya ke sang gadis pujaan. Percintaan memang tak ada yang tahu, tapi itu menjadi salah satu lorong baginya untuk membuka celah hati perempuan tersebut. Saat ini dia sudah berpacaran dengan sang gadis. Lalu setiap saya naik pesawat sayu kembali mengingat kisah tersebut, lalu saya mendoakan semoga dia berjodoh dengan gadis tersebut. Mumpung di jendela pesawat dan di langit yang katanya sungguh dekat jaraknya dengan Tuhan, jadi doa kemungkinan mudah dikabulkan.

Di akhir tulisan ini, kawan bisa membaca tips sederhana bagaimana memotret dari balik jendela pesawat. Berikut beberapa foto yang saya ambil dari balik jendela pesawat.

Aerial Jakarta, Aerial Makassar, Aerial Timika, Aerial Mimika, Aerial Jayapura, Aerial Nabire, Foto Udara Jakarta, Foto Udara Makassar, Foto Udara Timika, Foto Udara Mimika, Foto Udara Cartenzs Pyramid, Foto Udara Papua, Foto Udara Timika, Foto Udara Teluk Cenderawasih, Cenderawasih Bay, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Nabire, Sungai, Laut, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Pemandangan pagi dari balik jendela pesawat dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin dengan latar Karst Maros dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan. Kepulan asap di kejauhan berasal dari pabrik semen milik Bosowa.
Aerial Jakarta, Aerial Makassar, Aerial Timika, Aerial Mimika, Aerial Jayapura, Aerial Nabire, Foto Udara Jakarta, Foto Udara Makassar, Foto Udara Timika, Foto Udara Mimika, Foto Udara Cartenzs Pyramid, Foto Udara Papua, Foto Udara Timika, Foto Udara Teluk Cenderawasih, Cenderawasih Bay, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Nabire, Sungai, Laut, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Daerah Aliran Sungai (DAS) Kamora berlatar Laut Arafuru merupakan satu dari 19 DAS yang ada di Kabupaten Mimika, Papua. Meskipun kabupaten ini masyhur dengan salah satu puncak gunung tertinggi di dunia yakni Carstensz Pyramid, namun Mimika tak bisa dilepaskan dengan sungai. Dari 19 DAS yang ada di Kabupaten Mimika, empat diantara merupakan DAS penting, yakni DAS Potewal, DAS Jera, DAS Otokwa, DAS Cemara. DAS dan sub DAS memiliki manfaat hidrologi, menjadi sumber kehidupan sejumlah keanekaragaman hayati, dan penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Aerial Jakarta, Aerial Makassar, Aerial Timika, Aerial Mimika, Aerial Jayapura, Aerial Nabire, Foto Udara Jakarta, Foto Udara Makassar, Foto Udara Timika, Foto Udara Mimika, Foto Udara Cartenzs Pyramid, Foto Udara Papua, Foto Udara Timika, Foto Udara Teluk Cenderawasih, Cenderawasih Bay, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Nabire, Sungai, Laut, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Kota Timika Yang berbatasan Langsung DENGAN Sungai Ajkwa di Kabupaten Mimika, Papua terlihat Dari Udara. Sungai Ajkwa Dan Aghawagon difungsikan untuk review mengalirkan Limbah tambang (tailing) wilayah PT Freeport Indonesia Dari tambang mereka di Grasberg Menuju Mod ADA (Modified Ajkwa Deposition Area) Yang dibatasi Oleh Barat Leeve (Tanggul barat) Dan East Leeve (Tanggul timur).
Aerial Jakarta, Aerial Makassar, Aerial Timika, Aerial Mimika, Aerial Jayapura, Aerial Nabire, Foto Udara Jakarta, Foto Udara Makassar, Foto Udara Timika, Foto Udara Mimika, Foto Udara Cartenzs Pyramid, Foto Udara Papua, Foto Udara Timika, Foto Udara Teluk Cenderawasih, Cenderawasih Bay, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Nabire, Sungai, Laut, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Salah satu aliran sungai di Papua. Sungai ini berhulu di Pegunungan Jayawijaya dan mengalir membelah daratan Papua hingga bermuara di Laut Arafuru.
Aerial Jakarta, Aerial Makassar, Aerial Timika, Aerial Mimika, Aerial Jayapura, Aerial Nabire, Foto Udara Jakarta, Foto Udara Makassar, Foto Udara Timika, Foto Udara Mimika, Foto Udara Cartenzs Pyramid, Foto Udara Papua, Foto Udara Timika, Foto Udara Teluk Cenderawasih, Cenderawasih Bay, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Nabire, Sungai, Laut, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Kota Nabire terlihat di kejauhan dengan latar laut nan biru. Kota Nabire merupakan kota kecil di Papua yang menjadi pintu masuk bagi para peneliti ataupun wisatawan yang akan mengunjung Teluk Cenderawasih.

Inilah sebagian foto-foto yang saya abadikan dalam perjalanan panjang dari Jakarta menuju Nabire setelah transit di beberapa kota. Nabire menjadi pintu masuk kala itu sebelum saya melanjutkan perjalanan menggunakan perahu cepat ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Setidaknya, perjalanan panjang itu memberikan saya waktu yang cukup untuk berkontemplasi.
Oh iya, dari pengalaman saya mengabadikan foto di udara, saya berbagi sedikit tips yang mungkin berguna bagi kawan yang juga ingin  mengabadikan rupa bumi dari udara.


Tips Mengabadikan Foto dari balik jendela pesawat:
  1. Pilih tempat duduk strategis. Usahakan untuk tidak duduk di barisan depan hingga barisan sayap pesawat. Saya biasanya memilih duduk di kursi nomor 3 dari barisan paling belakang.
  2. Tak ada salahnya melihat landasan pacu dari Google Earth atau Google Maps untuk melihat suasana di sekitar bandara saat keberangkatan ataupun bandara tujuan.
  3. Lekatkan mulut lensa ke jendela pesawat, sehingga tak ada jarak dari lensa dan jendela. Namun jangan tempelkan terlalu kuat karena getaran pada kaca jendela pesawat akan membuat kamera bergetar dan mempengaruhi ketajaman foto. 
  4. Hindari memakai pakaian yang berwarna cerah untuk menghindari pantulan dari jendela pesawat. Pantulan ini sebenarnya bisa diminimalisir menggunakan kain hitam dengan ditempelkan di sekitar mulut lensa. 
  5. Jangan menggunakan flash. Cahaya dari flash akan memantul dari jendela pesawat. Toh, flash tidak akan mampu menerangi obyek yang difoto. 
  6. Tunggu sampai pesawat menukik atau miring agar mendapat posisi terbaik dalam mengabadikan foto. 
  7. Sebenarnya ini apakah tips atau tidak. Tetapi usahakan untuk memilih waktu terbang saat matahari terbit atau penerbangan pagi. Atau mungkin penerbangan sore dan kala senja.

Hiu Paus di Teluk Cenderawasih Nabire: National Geographic Traveler Indonesia Januari 2017

Nabire menjadi salah satu gerbang masuk ke kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Taman Nasional seluas 1.453.500 hektare ini memiliki keanekaragaman hayati dan tingkat endemisitas yang tinggi. Sedikitnya ada 456 spesies karang dan 877 spesies ikan karang di kawasan ini. Sekitar 42 satwa berstatus dilindungi. Sebagai taman nasional laut terluas di Indonesia, hampir 90 persen kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih adalah perairan laut.


Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Perairan Kwatisore di Distrik Yaur merupakan satu dari segelintir tempat di dunia yang bisa melihat hiu paus dari dekat. Perjalanan saya ke Teluk Cenderawasih dan menyelam di perairan Kwatisore untuk berjumpa hiu paus Rhincodon typus diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Januari 2017. Tulisan lengkapnya bisa dibaca di sini.

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia

Teluk Cendrawasih, Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Nabire, Kalilemon Dive Resort, Kalilemon, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Biak, Papua, Hiu Paus, Hiu, Bagan, Underwater, Foto Hiu Paus, Musim Hiu Paus, Gurano Bintang, Papua Barat, Ikan Paus, Bawah Laut, Foto Nabire, Foto Taman Nasional Cendrawasih, Foto Laut, Underwater Nabire, stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia


Perjalanan ke Teluk Cenderawasih ini adalah dalam rangka penugasan saya dengan National Geographic Indonesia bersama Samsung Indonesia dengan kawan di World Wildlife Fund (WWF). Semoga bisa kembali menyelam di Teluk Cenderawasih. Selamat menikmati, Sahabat!


Black Borneo Expedition, Menembus Puncak Gunung Beriun di Jantung Karst Sangkulirang Mangkalihat

Aliran Sungai Marak yang airnya berwarna merah siang itu tak bersahabat. Saya membangkitkan kenangan beberapa hari lalu saat melintasi sungai ini. Batu tempat kaki saya bertumpu saat perjalanan sebelumnya, tak lagi terlihat permukaannya. Aliran yang tadinya damai, sekarang berganti dengan suara gemuruh yang menakutkan. Dari tempat penyeberangan sebelumnya, saya bergesar ke arah hulu untuk mencari celah tebing agar dapat turun ke tepian sungai.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Salah satu anggota tim Eiger Black Borneo Expedition ke Gunung Beriun melintasi anak Sungai Marak dalam perjalanan dari pintu pendakian menuju Basecamp.

     Hujan beberapa hari ini telah menambah debit air di sungai tersebut. Warnanya yang merah pekat menghasilkan busa saat arus sungai ini terkurung di antara batu besar. Pakis air yang semula menawarkan keindahan, sekarang hanyut diterjang arus. Saya dengan hati-hati menuruni tebing kecil menuju tepian sungai, berpegangan pada batang pohon seukuran paha lelaki dewasa. Batu yang saya injak sungguh licin. Jika tergelincir, ransel yang saya panggul dengan berat 24 kilogram dan peralatan kamera yang saya gendong di bagian depan pastilah akan hanyut.

     Sebilah kayu bisa menjadi pemandu pijakan yang baik. Saya menjulurkannya ke arah permukaan batu, mencari tempat yang tepat untuk menopang badan dan beban yang saya bawa. Dan, dengan satu langkah penuh keyakinan, saya meloncat dari batu pertama ke batu berikutnya. Beberapa kali saya hampir terjerembap ke dalam derasnya aliran sungai. Namun, dengan sangat baik pula saya bisa mengatasinya. Saya berhasil tiba di seberang sungai dengan selamat.

     Perjalanan pulang dari Kemah I menuju barak pangkalan cukup melelahkan. Ini adalah hari kesembilan saya berjalan kaki. Kami sedang menuntaskan misi pencarian titik tertinggi Gunung Beriun, sekaligus meretas jalur menuju singgasananya. Dengan tenaga yang tersisa, saya meloncat dari satu batu ke batu lainnya, juga tanah nan licin akibat hujan. Langkah saya mulai gamang saat jarak menuju barak pangkalan hanya tersisa beberapa ratus meter. Jalan tanah di tepian tebing nan curam sungguh licin.

     Tak ada pegangan yang bisa diandalkan untuk menopang badan saat melewati jalan nan licin itu. Hingga akhirnya, “Brakkk!” tubuh saya jatuh ke permukaan jurang sedalam sepuluh meter. Darah segar mengalir dari siku sebelah kiri akibat tergores akar dan permukaan tanah berbatu. Saya kemudian berdiri dan mengecap bibir yang kebas, ada rasa darah di bibir saya.


***
    
     Siang itu matahari sedang ceria. Teriknya memanggang kulit kami yang sedang larut dalam suasana gembira. Perjalanan membelah jalanan tanah yang biasa digunakan truk pem-bawa kayu gelondongan terasa menantang. Hampir dua jam perjalanan dari Karangan belum juga menemukan titik awal pendakian. Beberapa kali saya melihat burung rangkong terbang melintasi sisa hutan di kawasan Gunung Beriun yang seakan menunggu waktu untuk ditebang.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Biasanya ruas jalan tanah ini digunakan untuk membawa kayu berukuran raksasa hasil penebangan hutan. Jalan ini pula yang ditempuh tim ekspedisi ke Gunung Beriun. Licinnya medan kerap membuat mobil melaju sempoyongan laksana orang mabuk. Merebaknya perambahan hutan merupakan salah satu ancaman Beriun, yang juga merupakan bagian Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat.

     Gunung Beriun memiliki luas kawasan mencapai 25.870 hektare. Hanya sekitar 5.265 hektare kawasan ini yang merupakan hutan lindung, sedangkan sisanya adalah hutan produksi terbatas dengan luas total 20.605 hektare. Jalan yang kami lintasi ini adalah milik PT. Segara Indochem. Perusahan yang mendapat izin pada 1999 untuk menebang hutan di area seluas 10.508 hektare.

     Setelah menempuh perjalanan lebih dari 60 kilometer dari Desa Karangan, Iwan Irawan, Djukardi Adriana, dan Sony Takari terlihat serius memperhatikan peta yang tercetak di kertas seukuran kalender dinding. Beberapa kali mereka mengalihkan fokus dari peta, kompas, dan sistem pemosisi global (GPS).

     Di kejauhan, Karst Tutunambo terlihat tinggi menjulang. Ketinggiannya mencapai 700 meter. Tebing batunya yang terjal mem-berikan kesan megah. Tutunambo adalah salah satu gunung karst yang ada di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat seluas 1,8 juta hektare. Tetapi, kali ini tujuan kami bukanlah Tutunambo, melainkan ke Gunung Beriun, yang memiliki peran penting dalam Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat.

     Rombongan besar ini masih tertahan dalam diskusi alot tentang penentuan titik awal jalur pendakian. Kami hanya berpedoman pada data-data yang belum bisa untuk diandalkan sebagai titik awal pendakian, karena kondisi geografis di lapangan tidak memungkinkan menjadikan koordinat tersebut sebagai titik awal pendakian.

     “Saya biasanya naik dari dekat sungai tadi,” ujar Firmansyah, warga Dayak Basap yang bermukim di Muara Bulan. “Saya menjelajahi Beriun tidak pernah menggunakan alat modern, semuanya serba alami dan manual. Kami mengikuti jalur yang diberikan nenek moyang. Salah satunya adalah mengikuti aliran Sungai Marak,” tambahnya.

     Firmansyah adalah generasi terakhir Dayak Basap yang lahir di gua. “Saya lahir di Karst Ara Raya, KM 15. Desa Karangan Dalam. Baru setelah umur 14 tahun saya keluar dari gua. Itu pun setelah ditemukan oleh sebuah perusahaan yang sedang membuat jalan untuk jalur membawa hasil penebangan hutan.”

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Firmansyah (berkaus hitam) adalah generasi terakhir Dayak Basap yang lahir dan tumbuh di gua kawasan Karst Ara Raya. Lelaki ini menghabiskan hidupnya di dalam gua hingga usianya 14 tahun. Saat ini, tak ada lagi warga Dayak Basap yang tinggal di sana. Namun, kepergian warga membuat tantangan pelestarian karst semakin nyata, terutama menghadapi eksploitasi karst untuk dijadikan bahan baku semen.

     Iwan Irawan, komandan operasi ini, mengambil tindakan yang bijak dengan mem-pertimbangkan beberapa faktor, termasuk cerita dari Firmansyah. “Sekarang kita kembali ke KM 48, dekat pondokan yang berada di tepi Sungai Marak,” ujarnya memberikan komando. Lenguh kendaraan yang membawa anggota tim dan perbekalan yang jumlahnya melimpah, kembali membelah jalanan tanah.

     Tiga pondok kayu yang sudah lama ditinggalkan menjadi tempat bermalam kami sebelum melanjutkan perjalanan panjang mencari puncak Gunung Beriun. Pondok kayu ini menjadi rumah bagi para perambah hutan saat musim tebang berlangsung. Hutan di Gunung Beriun sendiri dikelompokkan menjadi tiga, yakni hutan primer, hutan sekunder, dan belukar tua.

     Pada hutan primer yang memiliki luas 12.272 hektare, tegakan hutan yang mendominasi adalah kelompok Dipterocarpaceae yaitu kelompok meranti (Shorea spp.),  sedangkan kelompok rimba campuran didominasi jenis dedang (Litsea spp.), jambu-jambu (Eugenia spp.), banitan (Polyalthia spp.), dan nyatoh (Palaquium spp.). Tegakan hutan yang mendominasi di hutan sekunder seluas 12.034 hektare adalah kelompok Dipterocarpaceae, yaitu kelompok meranti, sedangkan kelompok rimba campuran didominasi jenis jambu-jambu, nyatoh, dan medang. Kawasan seluas 1.564 hektare merupakan kawasan belukar dengan tegakan hutan yang mendominasi berupa kelompok rimba campuran seperti jenis jambu-jambu, mahang (Macaranga spp.), dan jabon (Anthochephallus spp.).

 ***
    
     Saat senja, firmansyah bersiap menggelar ritual puun. Menggunakan pakaian kulit jomo dan topi petik, tanpa alas kaki, Firmansyah berjalan menuju tepian jalan yang berbatasan langsung dengan hutan yang muram sehabis hujan, dan karena gelap mulai datang. Ritual puun dilakukan untuk memohon perlindungan kepada leluhur penunggu hutan sebelum memasuki hutan Gunung Beriun.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
 Kala senja setelah hujan, Firmansyah, warga Dayak  Basap dari Muara Bulan, memimpin upacara puun untuk memohon perlindungan kepada leluhur penunggu hutan sebelum memasuki hutan Gunung Beriun. Mereka percaya, senja adalah waktu saat roh jahat bergentayangan. Kepercayaan ini masih bertahan meskipun warga sudah memeluk agama.

     Nasi putih diletakkan di atas daun. Lalu, mulutnya komat-kamit melafalkan mantra dalam bahasa Dayak Basap. “Secara bergiliran, ludahi nasi putih ini,” pintanya. Kami meludahi nasi ini secara bergantian sebelum nasi ini dilemparkan ke dalam hutan. Meludahi nasi yang ada di atas daun merupakan bentuk ke-ikut-sertaan dan sebagai bentuk permohonan perlindungan oleh masing-masing individu kepada para penunggu hutan. Bagi masyarakat Dayak Basap, hutan adalah sumber kehidupan dan aset masa depan bagi anak-cucu mereka. Kelestarian hutan adalah mutlak, tak bisa diganggu gugat.

     Kami melewati malam pertama di ruangan yang cukup menampung 10 orang. Mi, sayur rebus, dan nasi putih menjadi penyumbat perut yang sudah keroncongan. Kelak inilah makanan yang akan kami santap saat pagi dan malam beberapa hari ke depan. Hujan dan suasana nan dingin tak mengurangi diskusi hangat kami tentang rencana perjalanan hari berikutnya. Esok hari adalah hari bagi seluruh anggota tim bergerak masuk ke dalam rimba Gunung Beriun. Rencananya, tim mendirikan barak pangkalan untuk mempermudah regu pembuka jalur dan regu pengantar logistik dalam menjalankan tugas masing-masing.

     “Besok pagi, seluruh tim diharapkan sudah bisa bergerak dari tempat ini menuju basecamp. Perjalanan tidak terlalu sulit dan jaraknya tidak terlalu jauh untuk tiba di sana,” ujar Iwan yang juga bertugas merencanakan pergerakan ekspedisi.

     Barak pangkalan kami letaknya tak jauh dari Sungai Marak. Sungai ini merupakan salah satu keunikan yang bisa dijumpai di Gunung Beriun. “Meskipun airnya berwarna merah, rasanya tidak kelat. Di beberapa tempat, air berwarna merah ini rasanya kan kelat,”  ujar Firmansyah. Air sungai ini akan bermuara di Sungai Karangan dan menjadi salah satu sumber air bagi warga yang bermukim di sepanjang alirannya.

     Masing-masing orang sibuk dengan aktivitas-nya masing-masing. Ada yang memasang terpal pelindung, membangun  dapur, mengambil dan memasak air, hingga mencari pohon yang tepat untuk mengikat keranjang tidur gantung. Ekspedisi dalam waktu yang lumayan panjang dan melibatkan anggota yang juga sangat besar tentunya membutuhkan kesadaran masing-masing untuk ikut terlibat dalam setiap hal sekecil apa pun.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Mamay S. Salim meniti batang kayu lapuk saat melintasi Sungai Marak. Tak jauh dari perlintasan ini, pondok para perambah dibiarkan terbengkalai. Dari kawasan Gunung Beriun seluas 25.870 hektare, hanya 20% yang berstatus hutan lindung.

     Saat matahari mulai condong ke barat, barak pangkalan kami sudah selesai dengan sempurna. Rencana berikutnya adalah per-gerakan membuka jalur. Saya mengikuti Iwan, Djukardi, Oji, Saipul, dan Firmansyah mencari jalur yang akan digunakan untuk perpindahan hari berikutnya. “Hari ini kita coba mencari jalur dan titik perhentian yang memungkinkan untuk dilewati,” ujar Iwan.

     Saya mengikuti Iwan menyeberangi Sungai Marak, meloncat dari satu batu ke batu yang lainnya. Lalu sesekali saya harus memanjat tebing yang vertikal. Tak jauh dari tanjakan tersebut, saya terkesima. Dua sarang orangutan yang tak dihuni menjadi bonus luar biasa. Letaknya sekitar 15 meter dari permukaan tanah. Posisinya berada di antara cabang batang dan di bawah tajuk pohon.

     Survei yang dilakukan oleh The Nature Conservancy dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan bahwa Gunung Beriun, yang merupakan bagian dari Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat, adalah salah satu habitat orangutan di Kalimantan Timur.

     Ekosistem karst merupakan tatanan bentang alam karst dengan semua daya, keadaan, dan makhluk hidup yang merupakan satu-kesatuan menyeluruh dan saling memengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Ekosistem karst sendiri bisa dikelompokkan menjadi tiga zona, yakni Zona Subkarst, Zona Epikarst, dan Zona Perikarst.

     Zona Subkarst mencakup kawasan di bawah batuan karst yang terdiri dari zona gulita, remang, dan terang. Pada zona ini terdapat jaringan gua, juga sungai dan danau bawah tanah. Sedangkan Zona Epikarst mencakup kawasan di atas batuan karst dan merupakan daerah perantara Subkarst dan Peri-karst.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Dilapisi lendir nan bening, namun bagian dalamnya padat seperti jamur pada umumnya, jamur mata sapi adalah salah satu flora yang bisa dijumpai di Gunung Beriun. Terdapat pula anggrek hitam, anggrek kuping gajah, kantong semar, cemara gunung yang memiliki akar seperti pohon bakau, dan beragam jenis lumut.

     Gunung Beriun adalah Zona Peri-karst yang merupakan bentangan non-karst, namun memiliki fungsi yang juga penting dalam kelestarian Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat. Spesies kunci dalam ekosistem karst, yakni walet dan kelelawar yang mayoritas tinggal di dalam gua karst, mencari sumber makanan ke Gunung Beriun. Karst Sangkulirang Mangkalihat juga merupakan habitat bagi sekitar 120 jenis burung, yang mana 30 jenisnya adalah burung migran. Selain itu, dari 90 spesies kelelawar di Kalimantan, 32 spesies di antaranya ada di kawasan Sangkulirang Mangkalihat. Kawasan ini juga memiliki keanekaragaman spesies serangga dan antopoda yang mencapai 200, dengan 1 spesies kecoa raksasa, 50 jenis ikan, dan 400 vegetasi. Tentunya, sebagai satu ekosistem yang menyeluruh, pelestarian satu hal di kawasan akan berdampak terhadap pelestarian hal lainnya pula.


***
    
     Pola pergerakan kami setiap hari adalah meninggalkan tempat berkemah usai sarapan pagi, lalu bergerak membuka jalur. Hutan yang akan kami lalui biasanya sangat rapat. “Hutan begitu rapat dan batu-batu besar pun menghadang,” ujar Iwan. “Ini salah satu hal yang cukup menantang dalam membuka jalur. Terlebih lagi, jalur yang akan kita buka tentunya bisa memudahkan pergerakan seluruh anggota ekspedisi dan regu pengangkut logistik dalam memindahkan barang,” tambahnya sebelum regu pembuka jalur berjibaku mencari jalan terbaik.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Punggur sisa penebangan hutan digunakan untuk melintasi aliran sungai, saat regu pembawa logistik bergerak menuju Camp I. Setiap orang membawa 20-30 kilogram beban. Tak jauh dari Camp I, jalur alat berat untuk mengangkut kayu nyaris menyentuh batas kawasan hutan lindung.

     Regu ini terdiri atas orang-orang yang penuh pengalaman. Oji dan Mahdi, dua pemuda lokal dari Karangan juga dilibatkan. Oji adalah mantan penebang pohon di hutan. Beberapa jalur alat berat untuk membawa kayu hasil penebangan hutan, dibuat oleh pria ini. Jalannya sangat cepat. Saya tak bisa bergerak terlalu kencang untuk mengikuti gerak langkah mereka. Mendokumentasikan kegiatan ini bukan perkara mudah, apalagi dilakukan dalam ritme yang pesat. Kadang saya menyerah untuk mengikuti laju pergerakan regu pembuka jalur, lalu mundur perlahan dan menjadi anggota paling buncit.

     Briyan B. Hendro sangat hati-hati meniti jembatan kayu yang dibuat mendadak. “Berpeganganlah ke kayu yang sudah diikat ini,” teriak Arizona Sudiro. Dua pria ini akan melintasi jembatan yang lebarnya lebih kecil dari telapak kaki. Di bawahnya, menganga jurang sedalam 20 meter. Hujan yang melanda membuat kayu semakin licin saat dilintasi. Saya harap-harap cemas memperhatikan langkahnya. Jika terjerambap, tubuhnya akan langsung terjun bebas ke dasar jurang yang penuh dengan batu dan semak. Untunglah celaka masih jauh dari kami.

     Upaya pencarian dan pembukaan jalur menuju puncak Gunung Beriun selalu menarik. Beberapa kali kami terlempar lumayan jauh dari jalur yang sudah ditetapkan lewat GPS karena tepat di hadapan kami adalah tebing atau jalur yang terjal dan sulit untuk dilalui.
     Beragam cara pula untuk melewati rintangan yang ada di hadapan kami, mulai dari merangkak, melompat, merunduk, memanjat. Hal tersulit tentu saat kami bergerak pada hari ketujuh, menuju puncak Gunung Beriun.
     Pembuktian stamina dan mental sungguh diuji dengan baik oleh jalur, kondisi alam, dan cuaca saat itu. “Kita coba bergerak ke arah pukul dua,” ujar Iwan. Kali ini, batang pohon yang dihadapi lumayan besar untuk perintisan jalur. Butuh stamina yang prima untuk membersihkan jalan yang akan kami lalui. Ditambah lagi hujan mengguyur jalur menuju puncak.
    
     “Ancaman kawasan ini adalah kerakusan,” ujar Pindi Setiawan, peneliti gambar cadas yang telah mendedikasikan 21 tahun hidupnya untuk karst. Raut wajahnya berubah menjadi serius saat mengisahkan tentang tantangan bagi pelestarian kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat malam itu di Camp I. Pindi telah bersinggungan dengan kawasan ini sejak tahun 1995. Kala itu, bersama ahli speleologi, Luc-Henri Fage, dan arkeolog serta spesialis prasejarah Oceania, Jean-Michel Chazine, mereka menemukan gua yang menyimpan gambar cadas.

     “Semuanya diambil. Ada yang membuka hutan untuk diambil kayunya, ada juga untuk alih fungsi lahan untuk sawit, dan yang hangat, adalah rencana pembukaan pabrik semen. Mayoritas, mereka memiliki banyak uang. Tapi kerakusan juga melanda masyarakat lokal yang mengambil semuanya,” sambungnya. Ia mencontohkan soal walet. “Walet itu banyak, jika hutannya heterogen. Warga yang mengambil walet di gua, akan terus mengambil walet tersebut. Si penebang hutan akan terus menebang hutan.” Saat hutan tempat walet mencari makan musnah, walet pun turut binasa.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Anak burung murai yang baru menetas ditemukan tak jauh dari barak pangkalan. Selain anggrek hitam, saat dewasa burung ini menjadi incaran para pemburu untuk diperdagangkan di pasar gelap. Gunung Beriun juga menjadi habitat bagi orangutan.

     Upaya eksploitasi kawasan ini untuk kepentingan sesaat tentu akan menjadi ancaman nyata dalam pelestarian Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat. Upaya-upaya untuk melindungi kawasan ini terus dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, para peneliti, hingga pemuda lokal. “Ide besarnya adalah, jika alamnya terlindungi, secara otomatis budaya di dalamnya pun terlindungi.”

     Upaya untuk peduli terhadap kawasan di Gunung Beriun dan kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat telah mendorong para pemuda untuk berjuang melestarikannya. Salah satunya adalah Forum Karst Kutai Timur. “Kami ingin menyosialisaikan karst ini kepada masyarakat yang langsung berkaitan dengan karst. Kami mengedukasi bagaimana pentingnya karst untuk kehidupan mereka, sehingga nanti ke depannya mereka aktif untuk melindungi serta mendapat manfaat secara langsung dari karst,” ujar Irwan, Ketua Forum Karst Kutai Timur yang ikut ambil bagian dalam ekspedisi ke Gunung Beriun ini.

     “Kami juga mengampanyekan Save Karst untuk melindungi karst dari eksploitasi menjadi pabrik semen,” tambahnya. “Tambang mungkin akan memberi pemasukan yang signifikan kepada kas daerah dan negara. Namun, rakyat juga butuh sejahtera. Jika karst dan alamnya lestari, masyarakat bisa mendapat manfaat juga secara langsung lewat pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dikelola langsung oleh masyarakat,” tambahnya. “Kami terus mengawal karst dari sisi kebijakan ruang. Kalau sudah dilindungi, ya tidak boleh di eksploitasi.”

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Walau berwarna merah, air Sungai Marak memiliki rasa yang segar. Gunung Beriun menjadi hulu bagi lima sungai besar yang mengalir di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Selain berwarna merah, sungai-sungai yang berhulu di Gunung Beriun juga memiliki warna hitam dan  bening.

     Isu pembangunan pabrik semen sedang hangat melanda kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat. Meskipun kawasan ini sudah diajukan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, manfaat eksploitasi kawasan dan keuntungan sesaat nampaknya lebih menarik bagi para pemilik modal dan penguasa, sehingga mengesampingkan alasan-alasan kelestarian.



***
    
     Keringat bercucuran saat saya memacu langkah menuju puncak Gunung Beriun Raya. Pohon-pohon berselimut lumut nan tebal menjadi payung saat saya mengayun kaki melewati tanah nan gembur. Puncak Beriun Raya dengan ketinggian 1.261 meter sudah semakin dekat. Dari jauh saya sudah bisa mendengar suara bising anggota tim ekspedisi. Langkah saya semakin beringas.

     Puncak gunung ini adalah gugusan hutan nan rimbun tempat batang pohon sepenuhnya berselimut lumut. Saya melepas pandang jauh ke depan. Di hadapan saya, hamparan karst nan megah menjadi panorama yang menyejukkan mata. Sejauh mata memandang, hutan-hutan nan lebat terlihat seperti permadani yang terbentang luas.

Gunung Beriun, Beriun, Kutai Timur, Karst Sangkulirang Mangkalihat, Puncak Beriun, Beriun Raya, Puncak Gunung Beriun, Karst Sangkulirang, Karst Mangkalihat, Sungai Marak, Karst Ara Raya, Karst Tutunambo, Kabupaten Berau, Sangatta, Epikarst, Perikarst, Kalimantan Timur, Subkarst, Karst, Hutan Kalimantan, Hutan Tropis, Karst Tondoyan, Puncak Gunung Beriun, Black Borneo Expedition, Eiger, Merabu, Karst Merabu, Karst, Pindi Setiawan, Mamay S Salim, Djukardi Adriana, Kang Bongkeng, Kang Mamay, Iwan Irawan, Kwecheng, iwan Kwecheng, Yunaidi Joepoet, Galih Donikara, Dayak Basap
Karst Tondoyan tampak megah saat difoto dari Puncak Beriun Raya di ketinggian 1.261 meter. Gunung Beriun yang merupakan bagian dari Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat, memiliki peran penting dalam pelestarian flora dan fauna di kawasan ini. Selain flora dan fauna, di kawasan ini terdapat puluhan gua yang menyimpan ribuan gambar cadas yang salah satunya diduga berusia sekitar 40.000 tahun.

     Dalam keheningan, saya tertegun. Tiba-tiba, lengkingan suara mesin mobil terdengar di kejauhan. Saya berusaha mencari sumber suara, ternyata sebuah truk yang membaya kayu hasil penebangan hutan di kawasan Gunung Beriun, membelah jalanan tanah di antara hutan nan indah.

     Seketika, ketakutan saya menjadi nyata. Apa mungkin gunung ini masih akan lestari saat saya tua nanti?

Ekspedisi ini merupakan bagian dari kegiatan Eiger Black Borneo Expedition, bekerja sama dengan National Geographic indonesia.