Kelana Membelah Rimba Jawa Bersama Indonesia Offroad Expedition (IOX)


"Ngooooong...ngooooong...ngooooooooooooong," lengkingan keras tak henti memekakkan telinga. Seorang pria bertubuh tambun memberikan aba-aba, dengan tangan yang sudah bercampur lumpur ia mengisyaratkan cara terbaik untuk bisa terlepas dari jebakan ini. Jalan yang lebih layak disebut parit itu memang menjebak siapa saja yang mengangkanginya. Salah mengambil langkah maka buntunya akan terjerambab, tersungkur, bahkan terbalik. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Jawa adalah pulau dengan topografi yang beragam, dari pesisir hingga pegunungan. Hamparan padang jagung sejauh mata memandang di perbatasan Tulungagung dan Blitar ini akan berakhir di tubir pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)

Lalu lengkingan itu mulai meraung kembali, menggetarkan dahan-dahan pohon pinus yang basah. Suaranya menggema melewati lembah, menembus kabut yang perlahan turun menjilat belantara.

            "Ngooooong....ngooooong....ngooooong," deru panjang itu pun meredup. Lalu "braaaaaak," seketika suasana yang tadinya riuh berganti hening.

            Tidak ada yang bisa saya perbuat selain menatap nanar sosok jingga yang kegagahannya pudar. Lelaki berkepala plontos menaiki tubuhnya yang benderang, tali-temali pun diikatkan. Beberapa orang di tepi parit telah bersiap mengikuti aba-aba. Mereka bahu-membahu menyadarkan kembali si jantan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sosok itu kembali tegak.

            Di balik ruang kendali, sosok lelaki bertubuh kecil dengan rambut panjang penuh uban terkekeh setelah kendaraanya menyelesaikan ujian pertama menuju puncak Gunung Popok. Menunggangi Toyota Fortuner dengan bendera Belanda di kibarkan di belakang mobil, Herman Harsoyo bersama pendampingnya Eru dan Frederik Marinus Krijgsman, jurnalis asing yang sudah berkeliling dunia untuk mengabadikan kegiatan otomotif ekstrem berada di dalam satu mobil. Meraka sudah lama malang-melintang sebagai satu tim off-road, bahkan sejak penyelenggaraan pertama kegiatan ini. 

Saya sedang mengikuti Indonesia Off-road Expedition (IOX) 2016. Inilah perjalanan menyusuri belantara Jawa hingga Bali sejauh 1.977 kilometer ini diikuti oleh 115 mobil selama 16 hari. Syamsir Alam yang bertindak sebagai leader dalam perjalanan ini akan membawa peserta menjelajah Magelang – Selman – Klaten – Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek – Tulungagung – Blitar – Malang – Lumajang – Jember – Banyuwangi – Bali. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Mengendarai mobil berpenggerak empat roda sejauh lebih 1.900 kilometer tak hanya sekedar mengandalkan nyali. Butuh kemampuan dan teknik yang mumpuni dalam melibas setiap trek, seperti saat melewati trek nan memukau di sisa aliran lahar Gunung Merapi ini. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
Saya menumpang mobil jip yang baru disiapkan secara mendadak beberapa minggu sebelum perjalanan. Pada hari pertama, mobil ini harus melipir tak masuk ke dalam jalur sebagaimana mestinya. Setelah dilepas dari titik awal di Keraton Yogyakarta oleh Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso, kami tertinggal rombongan yang melaju dengan semangat menggebu-gebu. Mobil buatan Amerika ini belum dibekali road book dan GPS yang lupa untuk diisi data rute oleh navigator. Alhasil, kami berinisiatif menggunakan aplikasi penunjuk arah yang terinstal di gawai. Aplikasi ini membuat kami terlempar jauh dari rute yang seharusnya, kami malah melewati jalur umum yang biasanya digunakan para wisatawan. "Ya sudah, hari ini kita menikmati kopi dulu dibanding menikmati trek," ujar Elung, pengemudi sekaligus pemilik mobil yang saya tumpangi. "Masih ada 15 hari perjalanan lagi yang akan ditempuh," tambahnya. 

            Kami menyelesaikan perjalanan hari pertama dalam waktu singkat dan hambar. Akhir dari perjalanan hari ini adalah pelataran padang rumput yang akan dijadikan tempat bermalam. Letaknya masih di dalam komplek Candi Borobudur, salah satu candi Buddha tertua yang menjadi kebanggaan Indonesia. Beberapa mobil logistik milik tim off-road sudah tiba terlebih dahulu di tempat ini.

            Kami membongkar semua peralatan untuk memasak dan bermalam. Bagasi mobil belakang laksana dapur berjalan. Saya memanjat pohon untuk mengikat tali penopang utama fly sheet lebar yang mampu memayungi hingga delapan velbed. Semuanya dilakukan secara mandiri. Setiap anggota yang ikut di dalam satu mobil bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan timnya. Dalam IOX tak boleh jadi orang cengeng. "Peserta adalah panitia. Panitia adalah peserta," ujar Dandosi Matram, pria jangkung berkacamata ini. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Mobil dan velbed menjadi rumah yang nyaman selama 16 hari perjalanan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Kami berbincang hangat sembari menunggu senja. Bersama pecinta off-road lainnya seperti Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram mencetuskan ide gila yang diberi nama Indonesia Off-road Expedition. Menempuh perjalanan panjang selama 16 hari menyusuri jalur menantang di berbagai pelosok daerah di Indonesia menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. "Kali pertama penyelenggaraan IOX kami menjelajah Sumatra," ujarnya. "Ini Pak Frans yang membuat jalur bikin kita menggerutu. Ini orang agak kurang waras juga. Jalur dengan kemiringan hampir 90 derajat menyurutkan nyali peserta. Ini beneran mau dinaiki?" ceritanya bersemangat. Frans menghampiri kami. Lelaki asal Pekanbaru yang menunggangi mobil buatan Inggris tahun 1956, Land Rover dengan enam roda menanggapinya dengan rendah hati. "Hanya beberapa mobil yang melewati tebing itu menggunakan winch. Saat mendaki, mobil itu seperti ember yang ditarik dengan katrol untuk menimba air," pungkasnya. 

Pada hari kedua perjalanan IOX 2016, semua peserta melewati single trek. Seluruh mobil berpenggerak empat roda akan melewati jalan yang sama dari titik awal di Candi Borobudur menuju Umbulharjo di lereng Gunung Merapi. Sebelum memasuki jalur aliran lahar Merapi, seluruh mobil peserta berhenti. "Ayo, semua peserta berkumpul. Kali ini kita melakukan penanaman bibit pohon dulu," seru Syamsir.

            IOX memang berbeda dengan kegiatan off-road kebanyakan. Tak sekedar euforia perjalanan belaka, kegiatan seperti penanaman pohon, menyinggahi desa kecil dan panti asuhan untuk memberikan donasi, melibatkan perkumpulan kesenian lokal untuk menampilkan seni dan tradisi mereka di setiap garis awal dan akhir rute, serta mengabarkan kepada masyarakat tentang destinasi yang dilintasi adalah cara sederhana agar kegiatan IOX ini lebih berwawasan dan bermanfaat.  

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Meski larut dalam semangat untuk menaklukan setiap trek yang menantang tak membuat para peserta IOX lupa untuk beribadah. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            "Mundur dulu, Cek," aba-aba seorang navigator memaksa pengemudi tersebut memasukkan gigi mundur. Ban kirinya hampir saja terjerembab di jalur Jurang Jero di lereng Gunung Merapi. Al Aththur Muchtar, atau orang akrab menyapanya Bucek. Saya bertemu secara langsung dengannya pertama kali saat upaya pemecahan rekor MURI untuk penerbangan paralayang terbanyak di Bukit Timbis, Bali tahun 2010. Ia bersama Andika Monoarfa, mantan bos maskapai Merpati gagal mengudara akibat angin yang berhempus kencang, upaya pemecahan rekor MURI itupun gagal. Tak banyak yang berubah dari pria ini. Pamornya sebagai seorang lelaki petualang tak redup. Bucek adalah co-leader dari kegiatan IOX bersama Syamsir Alam yang bertindak sebagai leader. Tanpa menggunakan winch, ia sukses melibas jalur penuh batu yang membuat mobil miring hingga 30 derajat. 

            Mahardika Nasution, navigator yang baru pertama kali mengikuti IOX ini mengulur sling dari winch. Saya memperhatikan geraknya dari bibir jurang. Di kejauhan, pohon pinus yang meranggas menjadi bukti keganasan Gunung Merapi. Gunung ini merupakan salah satu gunung paling aktif di Pulau Jawa. Penduduk desa berbondong-bondong menunggu aksi mobil ini melibas setiap tanjakan. Usai menambatkan sling ditempat yang tepat, Mahardika Nasution memberi aba-aba ke Frans. Aksi duet driver dan co-driver dari tanah Melayu ini selalu ditunggu-tunggu dalam setiap handicap. "Eeeengggggggg....kriiiiiiikkk," suara putaran mesin bercampur dengan putaran winch. Kombinasi dari putaran ban dan bantuan tenaga dari winch akan memudahkan para peserta menyelesaikan setiap handicap. Terbukti, dengan mudah mobil dengan enam roda ini menyelesaikan trek Jurang Jero di lereng Merapi ini.

            Matahari tepat di atas ubun-ubun setelah kami menyelesaikan tanjakan yang melelahkan. "Yuk, kita makan siang dulu disini sebelum melanjutkan perjalanan," ujar Herman Harsoyo. Makan siang kali ini kami lakukan di tengah hutan Gunung Merapi.
"Ada yang mau ikan sarden sama telur?" ujar Elung. Siang itu, Elung bertindak sebagai koki. "Lah bawa telur, Lung?" tanya Herman Harsoyo yang raut wajahnya berubah menjadi serius setelah mendengar Elung menawarkan telur.

            Telur menjadi benda yang dilarang untuk dibawa saat ekspedisi IOX. Meskipun tak ada yang bisa menjelaskan alasannya secara ilmiah kejadian mistis yang menimpa beberapa peserta tahun lalu karena membawa telur. "Tapi ya sudah karena terlanjur dibawa kita habiskan saja disini," sarannya. Kami melahap habis telur yang akhirnya digoreng menjadi dadar. "Ya semoga tidak apes seperti tahun lalu," ujar kami sembari mengelus perut yang sudah penuh terisi nasi.

            Perjalanan berlanjut melewati padang rumput nan indah. Beberapa kali laju mobil yang saya tumpangi melambat menghindari bongkahan batu besar dan pohon pinus yang kerontang. Tak banyak orang yang melewati tempat ini jika melihat kondisi jalanan yang masih penuh semak. Keindahannya tersembunyi di balik pamor Gunung Merapi yang semakin terkenal dengan wisata jip di Kaliurang.

            Saya turun dari mobil lalu berjalan dengan hati-hati melewati jalan selebar dua meter yang ukurannya hanya pas untuk satu mobil. Di sisi kiri adalah tebing, sementara di kanan adalah jurang berkedalaman hingga 20 meter. Salah mengambil keputusan, jurang penuh batu menanti para pengemudi untuk terjerembab. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Tidur beralas tikar dan beratap langit. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Saya masih menunggu beberapa mobil lagi yang melintas untuk mengambil beberapa bingkai foto. Pengemudi harus menempatkan roda kirinya di pinggir tebing. "Stop...stop...stop. Jangan dipaksakan," teriak navigator. Mobil yang dikemudikan Saifudin Aswari Rivai dari Lahat ini sudah oleng ke kanan. Salah sedikit, mobil ini akan terjun bebas ke jurang. Laju mobil bergerak mundur, lalu mengambil jalur yang lebih aman. Bebatuan tempat pijakan ban sisi kanan sudah rapuh. Tapi syukurlah, semua kendaraan lewat dengan aman.


            Kami memutuskan untuk tidak masuk ke jalur menuju Basecamp 3 di Gunung Popol. Wakino, warga Kampung Ringin berbaik hati memberikan tumpangan untuk bermalam. Rumah pendoponya sangat nyaman. Tepat dibawah pohon mangga yang terletak di pekarangan rumah terdapat beranda bambu untuk bersantai. Kampung yang terletak di kaki Gunung Popok ini sungguh sepi. Selepas magrib saya mengambil senter, mencari teman saya Andi Ceger yang belum kunjung datang.

Saya menembus gelap malam menuju hutan pinus. Tak tahu berapa jauh jarak yang akan ditempuh untuk tiba di Basecamp 3. Tapi selepas tanjakan yang terdapat sebuah pondok kecil, saya mengurungkan niat. Saya tak melihat apapun di hadapan saya. Suasana sungguh gelap dan pekat. Bulu kuduk saya merinding hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Kampung Ringin. Belakangan saya ketahui, gunung ini jarang dilewati oleh penduduk kampung. “Itu gunung dedemit, Mas,” ujar salah seorang penduduk kampung.

            Saya akhirnya bersua dengan Andi Ceger pada pagi hari, pria yang saya cari tadi malam. "Syukurlah masih hidup, lo Ceger!" saya berteriak. "Gue mau turun tadi malam udah gelap banget. Akhirnya gue numpang tidur aja di atas," ujarnya sembari terkekeh. "Gue turun dulu ya. Mau ganti baju," Andi Ceger berlalu. Kami berjanji untuk bersua di balik gunung ini.

             Sepuluh tahun lalu sebenarnya jalur ini kerap dilewati oleh truk yang membawa kayu milik Perhutani. Selang satu dekade, jalur yang tak pernah lagi digunakan ini menghubungkan dua kabupaten yakni Sukoharjo dan Wonogiri.

            Saya tertatih-tatih penuh dahaga tanpa air dalam perjalanan menembus Gunung Popok. Saya hanya ingin tiba dengan cepat di perkampungan terdekat untuk meminta segelas air putih. Tapi harapan saya pupus saat menjumpai pondok kayu milik petani yang terletak di ujung jalan setapak. "Hanya ada kopi hitam, Mas," ujarnya. Saya sudah kepalang haus, dengan cepat saya menenggak kopi hitam. Airnya yang panas membuat lidah saya melepus. Sial!
           
            Waduk Gajah Mungkur masih berjarak lima kilometer lagi dari tempat ini. Saya sudah lelah berjalan kaki. Saya percaya bahwa dalam setiap perjalanan pasti selalu ada orang yang baik. Marsudi, petani yang mengendarai motor Astrea tua adalah jawabannya. Marsudi bersedia mengantarkan saya menuju Waduk Gajah Mungkur. Dia membelokkan arah, motor tuanya menderu saat melewati tanjakan "Kita mampir dulu ke Bukit Gantole ya, Mas," ujarnya. "Dari atas bukit ini, Mas bisa memandang waduk secara keseluruhan," tambahnya. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Kabut pagi menyelimuti perbukitan yang mengelilingi Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Waduk yang airnya berhulu dari Bengawan Solo merupakan sumber kehidupan bagi warga Wonogiri. Memandang waduk ini dari Bukit Gantole adalah kenikmatan dalam sebuah keindahan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Saya antusias untuk menaiki anak tangga ke atas bangunan yang biasa dijadikan tempat lepas landas paralayang dan gantole. Beberapa muda-muda sibuk berswafoto. Saya mengabadikan beberapa bingkai foto Waduk Gajah Mungkur dari ketinggian. Air dari waduk ini bersumber dari Bengawan Solo. Selain digunakan sebagai irigasi, pembangkit tenaga listrik, juga sumber air minum, waduk ini menjadi salah satu destinasi primadona di Kabupaten Wonogiri. 

            Pantai Karanggongso berombak tenang dan bebas dari amukan gelombang besar Samudra Hindia. Selain menjadi nelayan, penduduk disini juga memiliki keramba lobster dan kerapu. Saya berjumpa dengan Isa Anshari yang memiliki warung di Pantai Karanggongso. "Saya asli Banjarmasin. Tapi tahun 1993 pindah ke sini setelah bertemu perempuan di Surabaya yang sekarang menjadi istri saya," kisahnya. Isa memiliki berapa tambak lobster dan kerapu di Teluk Prigi. Kerapu dan lobster akan di jual ke Surabaya dan Malang. Harganya pun bervariasi, dari 150 ribu hingga 700 ribu rupiah per kilogram.  

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Riva, nelayan di Pantai Karanggongso membawa rajut penuh ikan karang hasil tangkapannya di wilayah Teluk Prigi. Pantai berlokasi sekitar 50 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Trenggalek. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)
            Mobil yang saya tumpangi kondisinya tak kunjung membaik, saya bersedih karena tidak bisa memasuki trek yang menantang. Namun disisi lain saya bersyukur, karena kerusakan ini membuat kami boleh untuk melambung, istilah yang digunakan para off-roader untuk memilih jalan mulus menuju titik perhentian berikutnya. "Sayang sih sebenarnya tidak bisa masuk ke dalam trek. Tapi kita bisa melipir, Mas Elung," saya memohon ke Elung. Kami berencana untuk pergi ke Kedung Tumpang. 

            Pantai Kedung Tumpang adalah kolam yang tercipta karena proses alami. Beberapa cerukan di batu karang terisi air saat laut pasang. Terdapat beberapa kolam alami yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Saya datang saat siang hari nan panas. Matahari terasa hanya beberapa jengkal saja di atas kepala. Tapi bongkahan batu karang nan besar menjadi benteng pelindung yang mampu menghalangi sengatan matahari.

            Kedung Tumpang hanyalah satu dari sekian potensi wisata pantai yang ada di selatan Pulau Jawa. Tempat saya bermalam hari itu, Pantai Sine yang damai juga menjelma menjadi tempat terindah untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Pantai yang terletak di Tulungagung ini jarang dijamah para wisatawan. 

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Kolam renang alami berbatasan langsung dengan hamparan Samudra Hindia di Kedung Tumpang, Tulungagung. Tiga pantai lainnya, yakni Molang, Lumbuk, dan Glogok masih tampak alami karena jarang dijamah para wisatawan. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)




            "Salah satu hal yang membuat kami sulit untuk mengembangkan pantai-pantai tersebut untuk menjadi destinasi pariwisata karena beberapa akses jalannya dimiliki oleh Perhutani. Perlu ada kerjasama antara pemerintah dengan pihak Perhutani," ujar Syahri Mulyo. Saya menghabiskan waktu sore bersama Bupati Tulungagung ini sembari dihempas semilir angin di Pantai Sine. Pria berkulit coklat ini meyenangi olahraga motorcross. "Tadi saya menunggangi motor masuk lewat jalur dari dari Prigi ke Sini," ujarnya. "Tapi tiba lebih dahulu disini. Mas nya gak ikut masuk jalur?" tanya Syahri. Saya menggeleng, "Mobil kami tak terlalu sehat untuk melibas jalur dari Prigi ke Pantai Sine, Pak. Mungkin besok kami perbaiki dulu kendaraan di Malang," ucap saya.


            Mencintai Indonesia pada dasarnya tidak sekedar hapal Pancasila dan Indonesia Raya. Banyak hal yang bisa saya dapat dan kenal dari perjalanan ini, pun demikian dengan ratusan peserta lainnya. Semua orang aktif mengabarkan kepada lingkungan terdekatnya tentang apa hal yang menarik dan berkesan saat perjalanan. Setiap saat, ratusan foto di unggah dan disebarkan.

Kegiatan inipun mendapat sambuatan positif dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Sejalan dengan misi IOX, Kementerian Pariwisata bergandengan tangan untuk mengenalkan lebih dekat keindahan alam, budaya, makanan, hingga hal menarik dari tempat yang dilalui—Yogyakarta dan Bali merupakan dua destinasi wisata unggulan Indonesia. Bukan hanya Yogyakarta dan Bali saja yang akan diperkenalkan, namun kota-kota yang disinggahi di 15 pos pun mendapatkan kesempatan untuk diekspos ke ranah internasional. Bentuk dukungan itu semakin nyata ketika Noviendi Makalam, Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Pariwisata menyambut rombongan saat singgah di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Selama ini off road mendapat cap kegiatan yang merusak alam,” ujar Dandosi Matram. “Kami jauh dari cap tersebut. Jauh sebelum kegiatan ini dilaksanakan kami sudah mewanti-wanti kepada seluruh peserta. Membuang sampah dan menebang pohon adalah haram hukumnya,” tambahnya. Setiap mobil peserta wajib menggunakan kantong sampah, tidak boleh membakar api unggun saat malam hari, tidak boleh menginjak tanah diluar jalur yang sudah ditentukan, serta tak boleh menebang pohon.

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Fred yang tak pernah absen dalam setiap penyelenggaraan IOX. (Yunaidi Joepoet/Nationa Geographic Traveler Indonesia)


Hari ke tujuh, saya berpindah tumpangan. Frans berbaik hati menumpangi saya dimobilnya. Mobil buatan Inggris berpenggerak enam roda ini  bersiap melibas jalur dari Pantai Sine menuju Malang. Saya bersama Pitak Bhradprueng, direktur GP Channel yang juga merangkap sebagai videografer dari Thailand berbaik hati berbagi kursi. Pria kelahiran Chon Buri, tiga tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini masih kuat berlari mengambil gambar terbaik. Saya lebih cocok untuk memanggilnya sebagai kakek, tapi dia dengan sopan menolak. “Semangat saya tak setua umur saya,” ungkapnya. Saya terpukul, sebagai anak muda saya melempas kapsul waktu 40 tahun yang akan datang. Jika diberi umur panjang, apakah saya bisa seperti Pitak?



Perjalanan hari ini tak terlalu berat, hanya melewati jalan yang biasa digunakan oleh penduduk untuk membawa hasil panen jagung mereka. Hari itu matahari bersemangat membakar kulit. Tak ada yang bisa kami jadikan payung untuk berlindung dari sengatan matahari selain kolong dan masuk ke dalam mobil. Pun air sungai terasa hangat saat saya melepas sepatu yang sudah penuh lumpur guna menyeberang. Hari ke tujuh kami seperti ikan asin, kelam dan lusuh.

            Kabar berembus dari sesama peserta bahwa jalur dari Malang menuju Banyuwangi akan menguras banyak tenaga. Akan banyak jalur berlumpur di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Akan banyak peluh dan keringat juga air mata yang menetes di jalur yang akan datang. Namun sayang, keikutsertaan saya harus berakhir di Malang. Saya harus kembali ke Jakarta.
           
            Sebuah pesan singkat masuk "Mobil yang kami tumpangi terbakar di jalur menuju Bromo," tulis Faisal Anwari Lubis. "Saya hampir terjebak di dalam mobil," tambahnya. Saya mengusap dada. Mobil yang saya tumpangi tak habisnya menderita. "Mungkin karena telur," gurau kami. Perjalanan telah usai, tapi kami seperti disatukan menjadi saudara baru.[]

Indonesia Off-road Expedition (IOX), Indonesia Offroad Expedtion, Offroad, Indonesia Offroad Federation, IOF, Mobil Offroad, Offroad Expedition, Jip, Mobil Jeep, Mobil Jip, Magelang, Sleman, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bali, Kedung Tumpang, Petualangan, Mobil 4X4, Double Gardan,  stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia, Syamsir Alam, Yogi Yogaswara, Toto Widyarto, Ceri, Iroh, dan Teddy Wibowo, Dandosi Matram
Bakda subuh, penduduk berjalan meniti sisa debur ombak yang menghempas Pantai Sine, di kejauhan perahu nelayan melepas sauh. Di Pantai Sine, Tulungagung matahari terbit dan tenggelamnya sama- sama memberikan kesan nan damai. (Yunaidi Joepoet/National Geographic Traveler Indonesia)

Tulisan ini pernah diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi April 2016. Saya mengikuti perjalanan Indonesia Off-road Expedition 2016 melintasi daratan Pulau Jawa. Untuk berlangganan majalah National Geographic Traveler Indonesia bisa dikunjungi di link berikut ini.

Ketika Mentari Berseri di Sydney : Rubrik Portofolio National Geographic Traveler Indonesia November 2016

Ratusan camar berbaris tak teratur di Pantai Bondi, Sydney, kala mentari mulai menghangatkan pesisir kota. Sedari malam, pesisir ini bersalut dinginnya akhir Juni. Pagi itu kerumunan camar mengalahkan jumlah pengunjung yang sekadar berjalan, berlari, atau menceburkan diri ke Laut Tasman.

Sydney, Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge, Vivid Sydney, Opera House Sydney, Sydney Opera House Images, Landmark of Australia, New South Wales, Australia, Sydney Images, Sydney Photos, Blue Mountains, Bondi Beach, Seagull, State Library of New South Wales, Carriageworks Farmer Market, Bondi Iceberg Baths, Athol Cape, Camphbell Parade, Vivid Sydney, Australia Stock Photos, Australia Photographs

Namun situasi ini tak akan berlangsung lama, jumlah warga yang bertandang ke Bondi semakin semarak mengikuti matahari yang kian meninggi. Kerumunan warga dengan segala macam aktivitasnya lambat laun mengusik dan mengusir camar camar yang masih merindu matahari.

Musim dingin menyelimuti Sydney dari Juni hingga Agustus. Bagi warga yang bermukim di pusat kota, musim dingin tanpa kehadiran salju adalah banal. Jikapun turun salju, itu pun hanya akan menutupi Blue Mountains, kawasan di Barat Laut Kota Sydney, yang sangat memukau karena panorama alam dan kanguru liarnya. Selebihnya, musim dingin di kota ini hanya menyisakan udara beku nan menusuk tulang dan pohon-pohon yang masih berdiri tegar meski tanpa daun.

Selain itu, lamanya matahari menyinari kota ini juga terbilang singkat, sekitar sepuluh jam saja setiap harinya. Warga berkerumun di Carriageworks Farmers di Eveleigh setiap akhir pekan. Mereka mendorong keranjang bayi, beberapa lainnya menggiring anjing kesayangan mereka, sementara musisi jalanan memetik gitar diiringi suara merdu yang membangkitkan suasana ceria. Tampak juga para pejalan yang sibuk memenuhi kesenangan diri lewat berswafoto dengan latar Jembatan Sydney Harbour dan Gedung Opera Sydney. Di beberapa sudut kota, kekasih yang sedang kasmaran menangkal dingin lewat kehangatan senda-gurau dalam balutan renjana.

Inilah Sydney, tempat tatkala musim dingin tiada menghadirkan suasana kelabu, yang ada hanya langit biru. Sama halnya dengan warga kota, mereka tetap bercengkerama dengan hangat dan ceria tanpa terhenti oleh suatu kodrat alam yang bernama musim dingin.[]

Sydney, Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge, Vivid Sydney, Opera House Sydney, Sydney Opera House Images, Landmark of Australia, New South Wales, Australia, Sydney Images, Sydney Photos, Blue Mountains, Bondi Beach, Seagull, State Library of New South Wales, Carriageworks Farmer Market, Bondi Iceberg Baths, Athol Cape, Camphbell Parade, Vivid Sydney, Australia Stock Photos, Australia Photographs

Sydney, Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge, Vivid Sydney, Opera House Sydney, Sydney Opera House Images, Landmark of Australia, New South Wales, Australia, Sydney Images, Sydney Photos, Blue Mountains, Bondi Beach, Seagull, State Library of New South Wales, Carriageworks Farmer Market, Bondi Iceberg Baths, Athol Cape, Camphbell Parade, Vivid Sydney, Australia Stock Photos, Australia Photographs

Sydney, Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge, Vivid Sydney, Opera House Sydney, Sydney Opera House Images, Landmark of Australia, New South Wales, Australia, Sydney Images, Sydney Photos, Blue Mountains, Bondi Beach, Seagull, State Library of New South Wales, Carriageworks Farmer Market, Bondi Iceberg Baths, Athol Cape, Camphbell Parade, Vivid Sydney, Australia Stock Photos, Australia Photographs

Sydney, Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge, Vivid Sydney, Opera House Sydney, Sydney Opera House Images, Landmark of Australia, New South Wales, Australia, Sydney Images, Sydney Photos, Blue Mountains, Bondi Beach, Seagull, State Library of New South Wales, Carriageworks Farmer Market, Bondi Iceberg Baths, Athol Cape, Camphbell Parade, Vivid Sydney, Australia Stock Photos, Australia Photographs

Foto-foto saya saat di Sydney diterbitkan di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi November 2016. Tata letak di atas sesuai dengan yang ada di majalah National Geographic Traveler Indonesia dala rubrik Portofolio. Semoga bisa dinikmati. 

Menuju Desa Waerebo Demi Menjaga Mbaru Niang

Langit jingga baru saja berganti kelam, ronanya hilang seiring datangnya malam. Dari kejauhan bayang bukit menjulang di Pulau Mulas masih setia menemani ombak yang memecah batuan di tepi laut Dintor. Hanya suara jangkrik yang menyeruak dari balik rerumputan. Daratan Flores memberikan kedamaian hari ini, sebuah pergantian terang ke kelam nan sempurna. Tadi sore saya tiba disini setelah menepuh perjalanan menggunakan ojek tiga jam lamanya dari Ruteng. Jalanan licin, hujan mengguyur kota sedari pagi dan mencapai puncaknya saat siang. Pahlawan saya, Pak Alex, tukang ojek warga Desa Cancar berumur 44 tahun telah mengantarkan saya dengan baik ke Dintor nan damai. Bersamanya saya menempu jalur berliku, menuruni gunung, melewati jalanan ditengah sawah hingga akhirnya tiba di sini.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang di Desa Waerebo saat matahari baru saja beranjak naik. Dikelilingi oleh barisan pegunungan. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Saya masih duduk dikursi kayu sebuah penginapan milik Martinus Anggo. Saya bermalam di sini, Dintor, sebuah kampung kecil di Desa Satar Lenda. "Nanti malam makan disajikan seadanya, Mas. Dengan menu sehari-hari yang kami makan disini," ujar Pak Martin. "Kalau mau beristirahat atau mau mandi, silahkan, Mas," sambungnya dengan ramah. 

   Penginapannya terletak di tengah sawah, tepat didepan kamar, petak sawah baru panen menjadi halamannya sementara dibelakang kamar mengalir sungai kecil yang menjadi sumber air bagi penduduk. Ketenangan seperti ini jamak ditemukan di Pulau Flores. Terbentang sepanjang 350 kilometer, pulau ini menawarkan beragam daya tarik alam, budaya, dan bahari yang mengundang siapapun untuk bertandang, termasuk saya. 

  Satar Lenda belum sepenuhnya dialiri listrik, namun sebagian penduduk membeli generator untuk penerangan, adapula yang membeli secara bersama-sama dan hasilnya dinikmati untuk beberapa kepala rumah tangga. Beruntung di penginapan ini tersedia generator meskipun hanya hidup beberapa jam saja. Walhasil diantara kegelapan malam Satar Lenda, saya masih bisa menikmati penerangan sebelum kantuk mulai mendera.

    Adalah Kampung Waerebo yang akan menjadi persinggahan saya untuk mengenal dan mempelajari budaya lokal negeri ini. Setelah penerbangan panjang dari  Jakarta menuju Labuan Bajo di Pulau Flores, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan antar kota berupa bus kecil menuju Ruteng lalu ojek untuk tiba di Dintor. "Nanti, Kasih akan menemangi perjalanan ke Waerebo," Martin menjelaskan. Besok pagi saya akan berjalanan kaki lebih kurang empat jam dari Denge menuju Waerebo, kampung dimana Mbaru Niang masih dipertahankan demi menjaga keberlangsungan peradaban. Sebuah konsistensi menjaga warisan leluhur, Mbaru Niang, mengantarkan nama Indonesia, tanah air kita mendapat penghargaan Award of Excellence, sebuah penghargaan tertinggi di kancah dunia dalam Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage oleh UNESCO.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Matahari terbenam di Dintor dengan latar Nusa Mulas. (Foto Yunaidi Joepoet)
***

    Kasih (19) memacu sepeda motor menuju kampung Denge, di sadel belakang saya duduk dengan was-was. Jalanan Desa Satar Lenda belumlah bagus, di beberapa bagian lubang menganga. Bahu kanan jalan berbatasan langsung dengan jurang dalam, sementara dikiri petak sawah dibiarkan terbengkalai pertanda musim tanam belum dimulai, tampak pula gerombolan kerbau setia bercengkerama dengan rumput yang makin menutupi petakan sawah. "Ini orang Waerebo, Mas. Sekarang sudah pindah kesini supaya lebih dekat anaknya untuk bersekolah," Kasih menunju salam satu rumah. Laju motor menderu saat melewati tanjakan, sepertinya tenaganya semakin terkuras. Namun Kasih sepertinya tidak mengerti saya begitu sengsara menumpangi motor ini, terlebih saat roda sepeda motor menghantam bebatuan. Beberapa kali saya mengaduh namun kecepatan motor masih saja dipacu, deru mesinnya bersemangat mengimbangi kicauan Kasih soal perjalanan yang akan kami lewati menuju Waerebo.

    Sepeda motor kami berhenti di Denge, kampung terakhir yang bisa ditempuh dengan kendaraan. Di kampung ini terdapat Sekolah Dasar Katolik Denge yang didirikan tahun 1929 saat Belanda masih menjajah Indonesia. Di sekolah inilah anak-anak dari Waerebo, Denge, Kombo dan kampung sekitar menimba ilmu. Bangunannya terdiri dari dua bagian, paling depan bangunan berdinding bata sedangkan bagian belakang bangunan tua dari kayu mesih setia melindungi murid dari sengatan matahari ataupun tetasan hujan.
    
     Pagi itu para siswi menggunakan sapu lidi sibuk membersihkan pekarangan, Elizabeth (9) murid yang duduk di kelas 3 mendapat bagian untuk membersihkan selokan sementara siswa lainnya mencabut rumput. Hari Jumat dan Sabtu menjadi hari gotong royong para murid untuk membersihkan sekolah. Kasih menunjuk bangunan tua saat kami berhenti di sekolah "Ini bangunan tua, sudah tua sekali mas. Sejak zaman Belanda, saya dulu bersekolah disini Mas. Di Jakarta mungkin tidak ada lagi yang seperti ini."
    Kasih bercerita kegiatan yang dilakukan saat hari Sabtu tiba bersama kawan-kawannya, Kasih menebang pohon dibelakang sekolah lalu membuat kebun. Kebun itu bertahan hingga beberapa tahun lamanya. "Kebunnya sudah tidak terawat. Murid sekarang jarang mau berkebun. Itu kebun kami dulu mas. Kami tanam kentang, bawang dan sayuran. Tunggul kayu disana, saya yang potong mas. Pohonnya sebesar mas punya badan".
    
       Kasih terus saja bercerita semasa dia mengenyam bangku sekolah dasar di Denge. Kasih kecil harus meninggalkan Waerebo yang berjarak 9 Kilometer dari Denge, berpisah dengan orang tua serta adik-adiknya demi menimba ilmu. Di Waerebo tidak ada sekolah, jadi semua anak Waerebo yang akan menempuh pendidikan mau tidak mau harus meninggalkan Waerebo. Ada dua kemungkinan saat itu terjadi, pertama si anak harus berpisah dengan orang tua, atau orang tua entah bapak atau ibu mereka harus berpisah untuk ikut menjaga si anak saat bersekolah. Kasih memilih berpisah dengan orang tua dan tinggal dengan kerabatnya di Kampung Kombo, sebuah kampung di dekat Denge yang mayoritas warganya adalah keturunan Waerebo. Setelah tamat sekolah dasar, pendidikannya dilanjutkan di Dintor kemudian mengambil jurusan tata boga di salah satu sekolah kejuruan di Ruteng. Tamat sekolah Kasih merantau ke Makassar, hingga akhirnya kembali pulang ke Waerebo sebelum perayaan tahun baru dalam kalender masyarakat Waerebo.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Tetua adat di Desa Waerebo dengan latar Mbaru Niang. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Tak terasa perjalanan kami sudah jauh meninggalkan sekolah di Kampung Denge. Kami melewati ladang penduduk, yang paling mencolok adalah batang cengkeh dan damar, dahannya memayungi jalan setapak. Aroma wangi cengkeh semakin menyemangati saya untuk berjalan melahap jalan setapak yang semakin menanjak. Penduduk di Denge mayoritasnya adalah petani, hasil cengkeh menjadi salah satu sumber penghidupan, selain cengkeh ada pula damar serta petak-petak sawah yang akan ditanami secara bergiliran. Petak sawah tidak bisa ditanami sepanjang tahun, air irigasi tidak mampu mencukupi pengairan sawah secara bersamaan. Mau tidak mau, air irigasi harus dibagi. Jika caturwulan ini pengairan hanya untuk pemilik sawah di daerah Dintor, maka caturwulan depan pengairan akan mengaliri sawah penduduk di Denge. Tidak ada kecemburuan, semuanya dengan lapang dada menerima giliran air supaya benih padi bisa disemai, tumbuh dan dipanen serta hasilnya bisa menyambung hidup masyarakat.
    
    Lepas dari ladang penduduk, kami berjalan melintasi sungai Waelomba. Batu-batu besar mengisi separuh aliran sungai. Kami meloncat hati-hati dari satu tumpukan batu ke batu lainnya. Dahulu Waelomba airnya mengalir deras, sulit untuk dilewati apalagi jika musim hujan datang. Namun sekarang aliran airnya sudah tak sederas dulu, kerusakan hutan menjadi penyebab utama berkurangnya debit air sungai ini.
    
    Tempo hari, pembalak liar dari luar desa datang menggunduli hutan di hulu Sungai Waelomba namun usaha mereka tak berjalan lama. Penduduk Waerebo berang, mengancam akan melaporkan pembalak ke Polisi Hutan. Ussaha penduduk berhasil mengusir pembalak. Bagi penduduk Waerebo, hutan adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Hutan juga memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat Waerebo. Beruntung lewat keputusan pemerintah, sekarang hutan ini dikonsesi menjadi kawasan Hutan Lindung Todo Repok luasnya mencakup hingga 10.500 Ha. Setidaknya sudah ada payung hukum yang melindungi hutan ini dari tangan-tangan serakah manusia, tentunya ini angin segar bagi masyarakat di Waerebo maupun masyarakat yang menikmati sumber air Sungai Waelomba.
    
    Perjalanan semakin berat, kami melewati jalanan setapak menyisiri punggungan tebing. Tak jarang kami berjalan dengan batas jurang di tepi jalan, jika hujan turun jalanan menjadi licin dan tebing-tebing di sisi jalan setapak sangat rentan longsor. Meskipun begitu, ini salah satu akses utama bagi masyarakat Waerebo berhubungan dengan dunia luar. Kami melewati Puncak Pocoroko, dari sini saya bisa melihat Selat Sumba. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit, kemudian kebun kopi milik masyarakat Waerebo. Di kejauahan atap Mbaru Niang berbentuk kerucut sudah terlihat. Saya semakin bersemangat menuruni bukit menuju kampung Waerebo.
***
    Terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai. Kampung Waerebo dikelilingi gunung, mencapainya butuh perjuangan waktu dan tenaga. Tak ada sinyal telfon, penerangan hanya ada dimalam hari yang bersumber dari generator. Tak ada kendaraan bermesin yang bisa mencapai Kampung Waerebo, mencapai Kampung Waerebo hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sejauh sembilan kilometer dari Desa Denge.

    Setelah berjalam hampir empat jam akhirnya saya melewati Bok, pintu masuk kampung Waerebo yang masih dihiasi anyaman. Minggu lalu, masyarakat Waerebo berpesta menyambut Penti, tahun baru masyarakat Waerebo yang diadakan pada tanggal 15-16 bulan November setiap tahunnya. Acaranya berlangsung meriah, turut pula ditampilkan Caci, tari perang khas Manggarai yang menyimbolkan sosok kepahlawanan dan keperkasaan. Pada acara Penti Semua keturunan dari Waerebo pun hadir, inilah saat dimana warga berpesta, mengingat leluhur dan berkumpul kembali sebagai penjaga warisan Waerebo.

    Kasih mengajak saya menuju Mbaru Tembong, rumah utama di Kampung Waerebo. Mbaru Tembong menjadi induk dari enam Mbaru Niang di Warebo. Saya melepas sepatu, kemudian dengan ramah dipersilahkan masuk kedalam Mbaru Tembong. Didalam, sudah duduk dua orang tetua Kampung Waerebo, Bapak Biatus dan Rafael. Kamipun dipersilahkan duduk diatas tikar pandan yang sudah disediakan.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Mbaru Niang dan mendengarkan lantunan lagu pengantar tidur di Mbaru Tembong disuguhi Sopi berkualitas tinggi. (Foto Yunaidi Joepoet)


     Menggunakan bahasa lokal, Kasih melakukan Pa'u Wae Lu'u sebagai ungkapan duka cita atas leluhur yang sudah mendahului kita kemudian Kasih meminta izin dan menrangkan kepada tetua kampung bahwa saya akan tinggal di Kampung Waerebo untuk beberapa waktu kedepan. Bapak Biatus memberikan sinyal positif, saya diizinkan untuk tinggal di Kampung Waerebo. Kami bercerita dalam bahasa Indonesia, kadang dibeberapa potong percakapan Kasih menjadi penerjemah kami.

    Perbincangan hangat ini membawa saya bernostalgia ke masa silam. Diskusi hangat yang kami lakukan bersama keluarga, Kakek saya bercerita mengenai budaya alam Minangkabau. Saya cucu tertua dari garis keturunan Matrilineal, sistem keturunan yang dipakai oleh Suku Minangkabau. Ibu saya, anak tertua dari delapan bersaudara, Ibu bersuku Sikumbang, garis suku inilah yang menjadikan saya lahir dengan darah Sikumbang. Dulu, hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah mendengar tambo Minangkabau, Kato Nan Ampek serta Kato Pusako yang masih saya ingat hingga sekarang. Pelajaran hidup dan berbudaya ini sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan. Ajaran yang tertuang, menjadikan alam sebagai sumber ilmu yang paling nyata, dalam kato pusako adat Minangkabau pun disebutkan "Alam Takambang, Jadikan Guru".

    Alam mengajarkan kita banyak hal, dari alam semua berasal. Begitu pula Masyarakat Waerebo yang menggantungkan hidup dari alam. Alam bagi masyarakat Waerebo sudah menjadi sahabat, guru dan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Dari alam semua kehidupan masyarakat Waerebo berasal. Proses menjaga dan melestarikan alam telah mengantarkan masyarakat disini menjadi masyarakat yang tidak lupa akan kodratnya sebagai manusia.

    Disini masih berdiri kokoh Mbaru Niang, rumah berbentuk kerucut. Jumlahnya ada 7, enam rumah ditempati oleh warga Waerebo sedangkan satu rumah diperuntukkan bagi para tamu yang ingin bermalam di Waerebo.

    Dari tujuh rumah, ada satu rumah yang dijadikan tempat tinggal tetua adat keturunan langsung dari para leluhur masyarakat Waerebo. Rumah ini dinamai Mbaru Tembong, bisa menampung 8 keluarga. Masing-masing biliknya dibatasi oleh papan. Sementara Mbaru Niang bisa menampung hingga 7 keluarga. Kesemua keluarga hidup rukun berdampingan, tak ada perselisihan, semuanya bersatu dalam keselarasan hidup keturunan Waerebo.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bekerja hingga senja. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Di dalam Mbaru Niang saya dibuat kagum oleh arsitektur rumah ini. Rumah dibuat agak tinggi dari tanah, sekitar satu meter diatas permukaan tanah. Didepan pintu masuk Mbaru Niang, terdapat gundukan batu. Sebelum berangkat atau pulang dari ladang, warga biasanya bercengkrama di atas batu. Anak-anak berkejaran  di atas halaman yang ditumbuhi rumput. Aktivitas ini akan terhenti saat gelap mulai datang.

    Mbaru Niang tempat tinggal masyarakat Waerebo memiliki lima lantai dimana masing-masing lantainya mempunyai fungsi yang berbeda. Lantai pertama adalah Tenda,  tempat istirahat, tempat tamu serta tempat melakukan aktivitas memasak. Di lantai ini pula terdapat bilik-bilik yang ditempati masing-masing keluarga, bagian ini dinamai Nolang. Lutur menjadi tempat tamu, pemisahan ini menunjukan adanya budaya saling menghormati antara tamu dan keluarga yang tinggal di Mbaru Niang. Meskipun ada pemisahan, para tamu dan keluarga yang tinggal masih tidur selantai, hal ini menunjukkan persamaan derajat antara tamu dan keluarga di Mbaru Niang.

    Penduduk Waerebo menamai Lobo (Loteng) untuk lantai kedua. Dilantai inilah keluarga yang tinggal di dalam Mbaru Niang menyimpan makanan serta kebutuhan sehari-hari. Lantai ketiga adalah Lentar, dilantai ini disimpan berbagai macam benih untuk berladang. Lantai selanjutnya adalah Lempa Rae, dijadikan tempat untuk menyimpan makanan cadangan sebagai antisipasi apabila terjadi bencana atau kekeringan. Sedangkan lantai paling atas Hekang Kode dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan sesajian kepada leluhur.

    Dinding Mbaru Niang dibuat dari kayu yang diambil dari hutan. Proses penebangan kayu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada prosesi adat yang harus dilewati sebelum dilakukan penebangan. Atapnya dibuat dari ijuk yang ditempatkan diatas bambu utuh. Lantainya pun dibuat dari kayu. Didalam Mbaru Niang, digantung Langkar sebagai sesajen untuk leluhur dan tuhan. Langkar berbentuk petak, dihiasi bulu ayam.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Dapur di Mbaru Niang. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Proses memasak dilakukan di hapo (dapur), masing-masing keluarga mempunyai (likang) tersendiri namun letaknya masih satu tempat dengan keluarga lainnya. Jika ada rezeki berlebih, tak jarang penghuni Mbaru Niang berbagi makanan dengan penghuni lainnya. Pola hidup yang sangat jarang kita temui di kota-kota besar.
***

    Saya dan Kasih berpamitan meninggalkan Mbaru Tembong, kami mengayun langkah ke Mbaru Niang Tirta Gena Maro. Tempat ini disediakan khusus bagi para tamu untuk tinggal dan bermalam.
    Di dapur, Mama Tin dan Mama Nina menyiapkan masakan untuk saya santap. Menu sore ini ada sayur labu, mie instan dan nasi putih. Untuk pelepas haus, mama menyiapkan kopi untuk kami. Perkembangan Waerebo menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Flores turut serta mengangkat perekonomian masyarakat. Untuk menata wisata adat Waerebo, masyarakat membentuk perangkat yang bertanggung jawab untuk mengelola pariwisata Waerebo.

    Mama Tin dan Mama Nina mendapat pekerjaan sebagai juru masak bagi para wisatawan, ada beberapa kelompok juru masak yang bergantian menyediakan makanan. Tamu membayar sejumlah biaya tertentu untuk makan dan menginap di Mbaru Niang. Hasilnya tentu saja akan menambah pemasukan bagi masyarakat Waerebo, selain itu uang yang dibayarkan sebagian disisihkan untuk biaya perawatan Mbaru Niang. Dengan hal ini ada proses wisata berkelanjutan yang dilakukan oleh masyarakat Waerebo, setidaknya uang yang dikeluarkan oleh wisatawan ada dampaknya bagi masyarakat dan proses perawatan Mbaru Niang, warisan leluhur Waerebo.

    Matahari baru saja terbit, Kasih membangunkan saya untuk bersegara ke tempat pemandian warga. Di Waerebo, masyarakat mandi di air pancuran yang jaraknya lebih kurang 200 meter dari kampung. Pemandian antara laki-laki dan perempuan dipisahkan. Tempat mandi selain digunakan untuk kegiatan mandi dan mencuci, juga sebagai sarana berinteraksi  bagi masyarakat. Proses komunikasi antar satu anggota masyarakat dengan anggota lainnya bahkan dijaga meskipun hingga ke pemandian. Kondisi inilah yang menjadikan masyarakat Waerebo tak terusik pengaruh paham individual, ada proses komunikasi dan kebersamaan yang tetap dijaga hingga sekarang.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Menjemur kopi yang dipetik dari kebun tak jauh dari Waerebo. (Foto Yunaidi Joepoet)

    Bapak Yosef Katu generasi ke-18 Waerebo mengundang kami untuk singgah di Mbaru Niangnya. Secangkir kopi hangat pun disajikan. Pak Yos bercerita mengenai Waerebo dan proses pembangunan ulang sebagian rumah di kampung Waerebo. Pembangunan ulang Mbaru Niang tak lepas dari peran serta masyarakat Waerebo yang didukung penuh oleh para donatur yang menyumbangkan materi untuk pembangunan kembali Mbaru Niang.

    Peran aktif masyarakat dan donatur dalam menjaga warisan Mbaru Niang memberikan banyak manfaat bagi masayarakat Waerebo sendiri. Salah satunya adalah kesempatan bagi generasi baru Waerebo untuk mempelajari proses pembangunan Mbaru Niang.
    "Rumah pertama, kami generasi muda hanya duduk saja melihat proses yang dilakukan tetua dalam membangun Mbaru Niang. Rumah kedua, tetua memberikan kami kesempatan untuk membangun mbaru Niang bersama mereka. Rumah ketiga, kami dipercayakan penuh oleh tetua untuk membangun Mbaru Niang, sedangkan tetua hanya duduk melihat pekerjaan yang kami lakukan". Pak Yos bertutur tentang proses pembangunan ulang Mbaru Niang.

    Pembangunan Mbaru Niang ini tentu saja berhasil dijadikan sebagai sarana transformasi ilmu dari generasi tua ke generasi muda "Jika mendengar cerita saja tanpa praktek, mungkin akan sulit untuk dilakukan. Beruntung atas bantuan para donatur dan masyarakat Waerebo yang bahu-membahu membangun ulang Mbaru Niang kami semua mendapat ilmu yang akan kami wariskan ke anak cucu kami kelak.".

    Waerebo sudah berhasil mentransformasi ilmu pembangunan Mbaru Niang. Hal ini tak lepas dari kemauan keras masyarakat Waerebo untuk menjaga warisan leluhur. Generasi muda punya kemauan besar untuk belajar, sedangkan generasi tua dengan kerendahan hati mewariskan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari generasi sebelumnya. Perasaan untuk saling menjaga inilah yang harus kita tumbuhkan sebagai generasi Indonesia, bangsa besar yang berbudaya.

    Mbaru Niang dan seperti rumah-rumah adat lainnya di Indonesia bukan hanya sebagai tempat tinggal.  Banyak hal yang tercermin dari rumah adat itu sendiri, salah satunya adalah kebudayaan masayarakatnya. Bagaimana lingkungan masyarakat tersebut, sistem kepercayaannya, serta cara hidup komunitas masyarakat setempat. Menjaga rumah adat sama halnya dengan menjaga peradaban dan kebudayaan. Kemajuan peradaban tercermin dari seberapa besar kemauan masyarakat menjada kebudayaan mereka. Inilah yang dilakukan masyarakat Waerebo, menjaga kebudayaan agar peradaban tetap berjalan.
***

    Saya ikut Bapak Rofinus ke kebun untuk memetik kopi. Dari kampung kami mendaki bukit, melewati jalan setapak menuju hutan. Membawa keranjang, saya membantu Bapak Rofinus memetik biji kopi. Biji kopi ini nantinya akan dijual kepasar di Dintor. Sementara itu, istri Bapak Rofinus menenun dirumah.


Waerebo; Wae Rebo; Mbaru Niang; Denge; Dintor; Manggarai; Desa Adat Waerebo; Ruteng; Flores Overland; Traditional House of Waerebo; How to get Waerebo; History of Mbaru niang; Award of Exellence World Heritage; Unesco World Heritage; Rumah Adat Manggarai; Rumah Mbaru Niang; Bajawa; Traditional House in Flores; Traditional houses of East Timur; Nusa Tenggara Timut; East Nusa Tenggara; Travel to East Nusa Tenggara; Transportation to Waerebo; Kampung Waerebo; Traditiona Village of Waerebo; Indonesia Traditional House; Heritage of Indonesia; stock photo; culture stock photo; indonesia stock photo; indonesia photo; foto wisata; daerah wisata indonesia; tourism indonesia; amazing place indonesia; place to visit in indonesia; travel photographer; assignment for photographer; culture photo of indonesia
Bapak Rofinus memetik kopi dikebun kopi miliknya. (Foto Yunaidi Joepoet)


    Rata-rata warga Waerebo hidup dari menjual kopi, kain tenun, serta dari pengelolaan ekowisata Kampung Waerebo. Wisatawan yang mayoritas berasal dari Eropa menjadikan Waerebo sebagai daerah kunjungan, bukan hanya bersenang-senang tetapi juga mempelajari bagaimana sekolompok masyarakat masih bisa mempertahankan pola hidup dan warisan leluhurnya saat modernisasi menyentuh segala aspek kehidupan.

    Tak salah kiranya UNESO memberikan penghargaan tertinggi untuk Mbaru Niang di Waerebo. Bagi masyarakat Waerebo penghargaan tersebut hanyalah bonus dan sebagai bentuk apresiasi, yang terpenting bagi mereka adalah berusaha mempertahan tatanan hidup, ada istiadat, serta warisan leluhur untuk dijaga agar tidak punah sehingga bisa diwariskan ke anak cucu mereka.  Disinilah peradaban bertahan, saat masyarakatnya menjaga kebudayaan. Waerebo mungkin hanyalah kampung kecil nan jauh di atas gunug, tetapi dari kampung kecil tersebut kita belajar banyak hal besar dalam kehidupan. Kampung dengan tujuh rumah ini hanya satu dari sekian banyak desa adat yang ada di Pulau Flores yang masih hidup dalam tatanan adat dan budaya yang tetap lestari. Flores memang memberikan inspirasi bagi setiap pejalan yang bertandang ke tanahnya. Pesonanya abadi, mendamaikan jiwa, dan memberikan kenangan abadi. Flores...tetaplah abadi dalam pesona alam dan budaya-Mu.

***


Cara Menuju Kampung Waerebo
- Transportasi dari Labuanbajo menuju Ruteng ditempuh selama 5-6 jam perjalanan. Transportasi dari Labuanbajo berupa elf, biasanya berangkat dari Labuanbajo saat pagi dan tiba di Ruteng siang hari. 
- Dari Ruteng perjalanan dilanjutkan menuju Dintor ataupun Denge. Jika datang siang hari, maka alternatif transportasi adalah ojek. Karena otokol, berupa truk yang dijadikan transportasi umum sudah tidak tersedia saat siang hari. Otokol terakhir dari Ruteng tersedia pukul 10.00 pagi. 
- Tarif ojek dari Ruteng menuju desa Dintor atau Denge bervariasi. Perjalanan akan ditempuh sekitar 1 hingga 2 jam melewati jalur berkelok-kelok.
Tersedia penginapan di Dintor dan Denge untuk bermalam sebelum memulai perjalanan menuju Waerebo. 
- Perjalanan dari Denge (saat ini sedang dibangun jalan hingga Waelomba/ update November 2015) bisa ditempuh menuju Waerebo selama 2-3 jam. 
- Tersedia satu Mbaru Niang yang khusus digunakan sebagai tempat menginap para tamu. Para pengunjung bisa menginap disini dengan memberikan iuran yang akan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat Kampung Waerebo. Iuran itu sudah mencakup uang makan dan biaya tinggal semalam di Waerebo. 
- Untuk treking menuju Kampung waerebo, pergilah dengan pemandu lokal. Hal ini untuk memudahkan perjalan menuju Waerebo. 
 
 Kapan Waktu Terbaik Mengunjungi Waerebo
    - Waerebo bisa dikunjungi setiap waktu. Namun pada musim penghujan, rumput yang tumbuh di halaman kampung akan tampak lebih hijau. Bagi pecinta fotografi, waktu hujan mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendapat suasana Waerebo nan alami. 
    - Setiap bulan November, tepatnya pada tanggal 16/17, para warga mengadakan upacara Penti. Upacara ini merupakan perayaan tahun baru yang dilakukan oleh masyarakat Waerebo. Upacara ini berlangsung selama sehari semalam. Aneka tari-tarian, senandung, upacara sakral, dan pertunjukkan caci dilangsungkan dalam suasana suka cita. Para pengunjung bisa mencicipi sopi, arak khas Manggarai nan nikmat. 
    - Pada musim hujan, biasanya para petani bisa memanen kopi. Kopi Waerebo adalah salah satu kopie terbaik di Pulau Flores.